.

Title: Run Devil Run

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

Pairing: SasukexHinata, SaiXHinata, SaiXIno

Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll

.

Run Devil Run

Chapter 9

.

.

Happy reading

.

.

Uchiha Sai tidak pernah merasakan kekesalan yang teramat sangat seperti saat ini. Bahkan saat pertama kali bertemu Hinata—dimana ia dikira sebagai Sasuke dan Hinata menamparnya— ia tidak semarah ini. Sai pintar mengendalikan emosinya, oleh karena itu selama ini ia dikenal sebagai orang yang jarang marah.

Mood pemuda bermarga Uchiha tersebut memang tidak terlalu bagus sejak pagi. Semua bermula dari kejadian semalam, saat ia meminta jawaban atas pernyataannya pada Hinata.

Flashback

Hinata meremas-remas rok seragam yang dikenakannya. Gadis itu tampak gugup. Mereka berada di sebuah taman yang tak jauh dari kediaman Hyuuga. Dari melihat kedatangan Hinata yang ternyata diantar oleh Sasuke, Sai sudah merasakan firasat kurang baik.

"Ada apa, Hinata?" tanya Sai lembut, namun rupanya membuat gadis itu sedikit terlonjak.

"UhSenpai… akuaku menyukaimu tapitapi tidak seperti itu," jelas Hinata dengan susah payah, membuat Sai mengernyit.

"Maksudmu?" tanyanya hati-hati.

"G-gomenasai, Senpai. Akusaat ini menurutkubukan waktu yang tepat untuk berpacaran." Hinata menunduk. Ia sedikit merasa bersalah saat mengatakan hal itu. Tapi memang benar, menurutnya ini bukan waktu yang tepat. Hubungan antara Sai dan Sasuke yang masih bermusuhan membuat gadis itu terpaksa menolak senpai favoritnya tersebut. Selama kurang lebih satu minggu memikirkannya, Hinata semakin yakin. Ia harus membuat kakak beradik itu berdamai terlebih dulu.

"Aku tahu." Sai menghela napas saat mengatakannya, senyumannya belum pudar. "Tapi… apa aku masih punya kesempatan?"

Hinata menengadah, menemukan Sai yang menatapnya penuh harap. Gadis itu lantas tersenyum sembari mengangguk. "Tentu, Senpai."

End of flashback

Sai menghela napas untuk meredam kekesalannya. Sasuke tiba-tiba muncul di tengah-tengah latihan tenis hanya untuk mengejeknya. "Hinata tidak menolakku, Sasuke. Dia hanya bilang kalau saat ini ia bukan waktunya untuk berpacaran."

Sasuke memutar matanya—mencibir jawaban kakak tirinya tersebut. "Apa kau tau—kalau sebelum menemuimu Hinata sempat ke apartemenku?"

"Aku tak peduli." Sai menjawab dengan acuh. Ia melanjutkan aktivitasnya yang tertunda—bermain tenis dengan salah satu anggota klubnya. Itu lebih baik daripada terus-terusan mendengarkan ejekan dari adik tirinya tersebut.

"Hei," panggil Sasuke lagi.

"Apa—" Sai dengan cepat menangkap sebuah kaleng minuman yang dilemparkan Sasuke padanya. "Apa ini?" tanyanya heran.

"Tanda prihatin karena kakakku patah hati," ucap Sasuke sarkastik. Seringai masih menghiasi wajahnya.

"Kau ini—"

"Sai-senpai! Sasuke!" Teriakan itu membuat kedua pemuda tersebut menoleh, mendapati Sakura tengah berlari ke arah keduanya. "Syukurlah—aku menemukan kalian," kata gadis itu terengah-engah.

"Ada apa?" tanya Sasuke padanya.

Sakura tampak panik dan kebingungan. "Hinata—dia—dia dalam masalah besar !"

.

-RDR-

.

"Eh, cewek cupu! Maksudmu merebut perhatian Sasuke dan Sai dari kami apa?" tantang Karin, murid tahun terakhir yang terkenal galak.

Hinata hanya diam, masih memproses apa yang terjadi padanya. Seingatnya, gadis itu tadi baru menunggu Sakura dan tiba-tiba ada beberapa orang yang menyuruhnya mengikuti mereka. Hinata yang memang polos mengikuti tanpa curiga. Dan kini, gadis itu sedang dikepung di belakang gedung sekolah yang sepi oleh Karin beserta ajudan-ajudannya.

Karin adalah salah satu senior yang ditakuti di Konoha Gakuen. Penampilannya yang ke-harajuku-an dan wajah cantik yang sadis membuat kohai-kohai—terutama perempuan— malas berurusan dengannya. Sudah rahasia umum kalau gadis berkacamata tersebut menaruh hati pada Uchiha Sai. Setelah kedatangan Sasuke, kembali beredar rumor kalau Karin berpindah haluan pada Uchiha bungsu tersebut.

"Iya! Cewek kuper sepertimu tidak pantas dekat-dekat dengan mereka!" lanjut Tayuya tidak mau kalah. Sama seperti Karin, gadis itu juga menyukai duo Uchiha yang tampan tersebut.

"A-aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan…" ucap Hinata sangat pelan hingga lebih mirip sebuah cicitan.

Sambil mendecih, Karin melangkah maju hingga jarak mereka semakin dekat. "Kau ini tidak sekalem penampilanmu, ya? Kau bahkan merayu kakak beradik itu. Aku harus menyadarkan siapa dirimu yang sebenarnya," desis wanita berambut merah berantakan tersebut.

Mencoba untuk tenang, Hinata menghela napas. " A-aku tidak merayu mereka. A-aku 'kan tidak sepertimu." Hinata langsung menutup mulutnya begitu sadar apa yang baru saja ia katakan. Tapi memang benar, Hinata tidak pernah merayu Sai maupun Sasuke.

Karin semakin marah. Matanya berkilat tajam di balik kacamata yang dipakainya—menatap Hinata penuh kebencian. Karin mendorong Hinata dengan keras ke dinding, membuat tubuh mungil gadis berambut indigo tersebut terhempas begitu keras.

'Sakit…' Hinata merintih dalam hati.

Tayuya yang tak mau kalah segera maju dan mengangkat kerah baju seragam Hinata. Ia kemudian menamparnya tanpa belas kasihan hingga pipi putih Hinata menjadi sangat merah.

Karin menepuk bahu Tayuya, memberi sinyal agar temannya itu menyingkir. Dengan terpaksa Tayuya melepaskan cengkramannya. Hinata baru saja bernapas lega karena mengira mereka melepaskannya dan ternyata dugaannya salah. Karin menghimpitnya ke dinding untuk kedua kalinya. Tangannya tergerak menjambak rambut Hinata yang panjang sampai gadis itu meringis kesakitan.

'Tolong, Sasuke…' batin Hinata mengharap.

"Setelah ini, jangan harap kau bisa merayu mereka lagi!"

Hinata diam, tidak mengangguk maupun mengiyakan perkataan ancaman yang dilontarkan Karin. Apa hanya karena kejadian ini ia harus menjauhi Sasuke serta Sai? Hinata tak bisa melakukannya. Ia tidak mau menjadi seorang pengecut.

Dalam segala ketidakberdayaannya melawan Karin cs, samar-samar Hinata mendengar suara Sakura. "Sasuke-kun! Sai-senpai! Itu Hinata!"

"Hinata!" Sai berseru begitu mereka menemukan Hinata, kemudian berlari ke arahnya. Karin cs langsung pucat pasi, tak mengira kalau ulah mereka akan tertangkap basah oleh dua Uchiha tersebut.

"Apa maksud semua ini, hah?" tanya Sasuke sambil mendorong Karin yang masih menghimpit Hinata. Ia meraih tubuh Hinata ke dalam dekapannya, menenangkan gadis tersebut. Karin cs bergidik ketakutan saat Sasuke menatap mereka dengan pandangan membunuh. "Aku akan membawa Hinata ke ruang kesehatan. Kau urus mereka, Sai."

Sai mengangguk. Sasuke dan Sakura kini memapah Hinata menuju ke ruang kesehatan, meninggalkan masalah Karin cs padanya. Setelah Hinata tak lagi terlihat, pandangan Sai beralih pada Karin beserta teman-temannya. Gadis-gadis itu menelan ludah dengan susah payah.

"Jadi, apa maksud kalian mengeroyok Hinata?" tanyanya tenang.

"I-i-ini tidak seperti yang kau lihat, Sai-kun—" Karin berusaha menjelaskan, tapi Sai mengisyaratkan agar gadis itu menghentikan omong kosongnya.

Sai menghampiri sebuah tiang kayu tak terawat yang berada tak jauh dari tempat itu.

Brak!

Sai menendang tiang itu hingga hancur tak berbentuk. Karin langsung gemetar melihatnya. Baru kali ini Uchiha Sai memperlihatkan amarahnya.

"Kalian lakukan sekali lagi dan aku tidak segan-segan mengirim kalian semua ke rumah sakit." Sai mengatakannya dengan senyum mengerikan. Suaraya begitu dalam dan terdengar sangat tajam. "Pergi!"

Karin cs mengangguk, tanpa menunggu lagi mereka segera lari ketakutan.

.

-RDR-

.

Setetes airmata meluncur—membasahi pipi Hinata yang terasa perih. Tidak pernah ada di bayangannya akan dilabrak oleh senior-seniornya yang galak tersebut. Ia pikir adegan-adegan seperti itu hanya ada di opera-opera sabun yang sering ditonton oleh para pelayannya di rumah. Ia juga tidak menyangka kedekatannya dengan Sasuke maupun Sai harus mendapat konsekuensi seperti ini.

"Maaf."

"Huh?" Hinata memandang Sasuke penuh tanya.

Sasuke membelai rambut Hinata, melupakan kalau tidak hanya mereka berdua yang ada di sana. "Gara-gara aku—kau jadi begini." Pemuda berambut raven tersebut menghela napas. "Mulai sekarang, kemana-mana kau harus selalu bersamaku!"

"Eh?" Sasuke terdiam untuk melihat ekspresi terkejut Hinata.

"Aku tak mau mengulanginya. Kalau kau tak mau seperti ini, kau harus selalu bersamaku. Gadis lemah," ucap Sasuke dingin. Hinata hanya diam mendengar kata-kata Sasuke. Gadis itu tak tahu kalau sebenarnya sikap dingin pemuda itu hanya untuk menutupi rasa malunya.

'Lemah? Dia—dia benar-benar Lucifer.'

Hinata menunduk, airmatanya semakin turun. "Aku—aku tidak lemah," ujarnya dengan lirih. Kata-kata Sasuke menusuk hatinya. Ia tidak suka jika dikatakan lemah.

Kedua manik hitam Sasuke melirik gadis di sampingnya yang makin terlihat sendu itu. Dalam hati Sasuke mengutuk dirinya yang hanya bisa mengucapkan kata-kata pedas. Ia mengalihkan pandangan, mendapati Sakura yang melotot padanya dan mengatakan 'bodoh' tanpa bersuara.

"Aku suka kau yang lemah. Karena itu, aku akan melindungimu. Makanya, jangan jauh-jauh dariku. Kau mengerti?"

Sakura memutar kedua bola matanya dengan bosan saat mendengar ucapan Sasuke. Sepertinya otak cerdas yang dimiliki Sasuke tak membantu sama sekali jika berhubungan dengan romansa. Gadis berambut pink bubblegum itu berusaha keras menahan tawa karena mendengar ucapan Sasuke.

Sesampainya di ruang kesehatan, Sakura langsung membaringkan Hinata dan mengobati pipi sahabatnya tersebut. Sasuke mengamati dalam diam.

"Hinata, sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada urusan di klub judo. Maaf tidak bisa menemanimu, Hinata," jelas Sakura sambil memasang wajah bersalah. Sebenarnya gadis itu hanya ingin membiarkan Sasuke dan Hinata sendirian. "Uchiha Sasuke, kau jaga dia!"

"Hn."

Sakura memeluk Hinata sebelum melesat pergi, meninggalkan gadis itu sendirian dengan Sasuke.

"Tidur," ucap Sasuke singkat sambil menarik sebuah kursi dan duduk di samping Hinata.

"A-aku tidak mengantuk." Hinata menyahut dengan pelan tanpa memandang Sasuke. Gadis itu kemudian memiringkan badannya hingga memunggungi Sasuke.

"Badanmu pasti sakit-sakit 'kan? Tidurlah, aku akan menjagamu." Sasuke membelai rambut midnight blue milik Hinata. Rambut itu terasa sangat pas di tangannya, membuat Sasuke lebih ingin menyentuhnya.

Hinata tersenyum tipis. Rasanya nyaman saat Sasuke membelai rambutnya. Gadis itu pun mulai memejamkan matanya.

Tidak butuh waktu lama sampai Hinata tertidur pulas. Sasuke bisa mendengar dengkuran halus gadis itu. Pemuda itu beranjak mengambil selimut yang tergeletak di ujung tempat tidur. Ia menutupi tubuh Hinata dengan selimut itu perlahan—berhati-hati agar Hinata tak terbangun.

"Hinata tidur?" Sasuke menoleh ke belakang, mendapati kakak tirinya sedang berjalan ke arahnya.

"Hn."

Sai mendekati Hinata yang tertidur. Ia memandang gadis itu dengan perasaan bersalah. "Kau pulanglah. Biar aku yang menjaganya dan mengantarnya pulang," ucap Sai.

"Tidak mau," bantah Sasuke dengan tegas.

Sai menatap adiknya, berusaha meyakinkan. "Neji adalah sahabatku. Akan lebih mudah jika aku yang menjelaskan masalahnya. Lagipula, hubungan kalian juga tak terlalu baik 'kan?"

Mendengus kesal, akhirnya Sasuke mengalah. "Terserah kau," ujarnya seraya menatap kakaknya dengan sinis. 'Menyebalkan.' Tak ingin berlama-lama satu ruangan dengan orang yang dibencinya, Sasuke beranjak pergi.

"Sasuke…"

Baik Sai maupun Sasuke terdiam mendengar erangan halus tersebut. Keduanya menoleh, mengira kalau Hinata sudah bangun yang ternyata salah. Hinata masih tertidur lelap, hanya saja posisinya kini berubah menjadi telentang.

Sasuke menyeringai. "Aku rasa—kau yang harus pulang, Aniki," katanya dengan sarkastik.

"Kau yakin bisa menghadapi Neji?" tanya Sai lagi. Neji memang overprotective jika menyangkut adiknya.

"Tidak masalah," sahut Sasuke acuh.

Sai hanya mengangkat bahu dan menghela napas. "Baiklah. Jaa—"

.

-RDR-

.

Uchiha Sai berjalan menyusuri jalan di sekitar kediaman Uchiha. Seperti kata pelukis Van Gogh, malam hari terasa lebih hidup dan menarik dibanding siang hari. Bulan yang bercahaya seperti memberi warna keperakan di permukaan bumi. Suara-suara khas yang terdengar membuat kesan misterius malam hari semakin terasa. Pemuda berumur 17 tahun tersebut baru sekali ini menikmati sunyinya malam di luar rumah yang ternyata mampu memberinya kenyamanan.

Sai duduk di tengah rumput taman kompleks kediamannya. Kepalanya menengadah—menikmati bintang-bintang yang malam ini terlihat lebih jelas.

"Bukankah di sini dingin?"

Suara yang familiar di telinga Sai tak membuat pemuda itu menengok. Pandangannya masih terarah ke atas, tidak terlalu mempedulikan kehadiran gadis cantik yang mengambil tempat duduk di sebelahnya.

Hatsyi!

Mendengar gadis di sampingnya bersin, Sai langsung menoleh. Ino tampak kedinginan—gadis itu memang hanya memakai pakaian tipis. Pemuda itu segera membuka jaket bulu yang dipakainya, kemudian menyampirkannya ke pundak Ino yang menggigil.

"Terima kasih, Sai." Ino memberikan sebuah senyum hangat yang hanya disambut dengan anggukan oleh Sai. Ino menunduk sedih, mantan kekasihnya tersebut masih bersikap dingin jika berhadapan dengannya. "Kau—masih memikirkan perjodohan itu?"

Bahu Sai menegang saat mendengar kata-kata Ino. Pikirannya melayang pada beberapa saat lalu. Karena alasan itu pula lah ia enggan ada di rumah. Perjodohan…

Perusahaan Uchiha—yang dulunya dipimpin oleh Uchiha Fugaku mengalami kemunduran yang drastis. Jumlah saham menurun dengan tajam. Krisis yang terjadi membuat perusahaan terancam bangkrut. Untuk mencegah kebangkrutan itu, Konan—ibu Sai meminta bantuan pada keluarga Yamanaka. Konan memang bersahabat dengan keluarga tersebut. Tapi ada syarat yang harus dipenuhi untuk menjamin kalau perjanjian tersebut saling menguntungkan. Uchiha Sai harus bertunangan dengan Yamanaka Ino.

Seandainya saat ini mereka masih menjadi sepasang kekasih, pasti Sai akan menerima dengan senang hati. Mereka memang tidak akan langsung menikah, tapi tetap ini merupakan hal yang berat untuk pemuda tersebut. Keadaan sekarang sudah berbeda. Perasaannya pada Ino tidak lagi seperti dulu. Ada gadis lain yang sudah mengisi hatinya. Sai memutuskan akan mengejar gadis itu sepenuh hati—tapi rasanya kini tidak mungkin.

Sai menghela napas panjang. Ia tak mungkin menolak keinginan ibu yang sangat disayanginya. Ia tahu ibunya ingin mempertahankan perusahaan Uchiha. Tapi perjodohan terasa terlalu berat baginya.

"Kenapa kau tidak menolak?" tanya Ino sambil menatap wajah Sai.

"Apa aku punya pilihan?" Sai balik bertanya dengan dingin. Benar, ia seperti tak punya pilihan. Kalau Sai menolak perjodohan itu, keluarga Yamanaka akan membatalkan perjanjian. Perusahaan Uchiha akan bangkrut, dan Sai yakin kesehatan ibunya akan terganggu karena semua itu. Ia tidak bisa melihat ibunya sakit.

"Kalau begitu, aku akan membuatmu berpaling lagi padaku!" ujar Ino dengan yakin.

Sai menatap gadis di sampingnya tersebut penuh ketidakpercayaan. Bagaimana mungkin Ino bisa mengatakannya dengan gampang setelah apa yang ia lakukan pada Sai. "Kenapa kau selalu menyakitiku, Ino?" Sai mencengkram pergelangan tangan Ino hingga membuat gadis itu kesakitan.

"Akh—"

Pekikan tertahan itu membuat mata obsidian Sai melebar. Satu-satunya yang terbersit di pikirannya adalah tanda tanya besar. Cengkramannya di pergelangan tangan Ino tidak cukup keras hingga membuat gadis itu kesakitan, ia yakin itu. "Ino… tanganmu—"

"Tidak! Aku tidak apa-apa." Ino menggeleng cepat sambil berdiri—bersiap-siap pergi. "Akh!" Ino kembali menjerit kecil karena Sai masih menggenggam tangannya erat.

Reaksi Ino yang tiba-tiba membuat Sai refleks semakin meremas tangan gadis itu. "Tanganmu—kenapa?"

Ino tak menjawab. Gadis itu hanya mengalihkan pandangannya ke samping, berusaha menutupi kesedihan yang terbaca jelas di wajahnya. "Aku cidera," lirihnya kemudian.

Genggaman tangan Sai pada Ino meregang hingga akhirnya lepas. "Apa?" tanyanya tak percaya. Tapi melihat ekspresi Ino, Sai tahu gadis itu tak becanda. "Bagaimana bisa?"

"Kecelakaan." Ino berusaha menyembunyikan kegetiran saat mengatakannya, yang ternyata gagal.

Pandangan Sai pada gadis itu melembut. Rasa marahnya perlahan hilang. Mungkin Ino memang tak bersalah dalam perjodohan ini. "Ino—"

Tangan gadis itu terangkat, memotong ucapan Sai. Senyuman hadir di wajahnya yang cantik. "Jangan mengasihaniku karena ini. Aku tidak apa-apa."

Sai mengelus rambut pirang Ino yang panjang, merengkuh gadis itu ke dalam dekapannya. Menyesal atas sikap dinginnya selama ini, Sai berucap lirih, "maaf."

.

-RDR-

.

The next day…

" Fun camp di pegunungan?" tanya Hinata. "Tapi—aku baru tahu," lanjut gadis itu kemudian mengangguk pada pramusaji yang membawakan pesanan mereka.

"Lho, si Neji itu tidak memberitahumu?" tanya Naruto sambil mengangkat alisnya.

Hinata menggeleng. Agar tak mengganggu saat menikmati sweet rose creamery caramel ice cream yang dipesannya, Hinata mengikat rambut panjangnya dengan sebuah ikat rambut sederhana berwarna hitam. Beberapa helai rambutnya terselip keluar dan menjuntai di keningnya yang putih.

Beberapa saat yang lalu, Hinata, Sakura dan Tenten berencana mencoba menu baru di kafe dekat Konoha Gakuen tersebut. Kejadian labrak-labrakan tempo hari membuat Sasuke bersikeras menyuruh Hinata agar tetap bersamanya. Karena gadis itu sangat ingin mencoba menu es krim baru tersebut, Sasuke terpaksa ikut. Tidak ada kegiatan lain, Naruto juga memutuskan untuk ikut. Kalau ada Naruto, bisa dipastikan Gaara juga ada di tempat itu. Jadilah mereka berenam sekarang berada di kafe.

"Kau ikut 'kan Hinata-chan? Sepertinya Neji-senpai jadi panitia." Sakura menatapnya penuh harap. Fun camp yang diadakan Konoha Gakuen memang tidak wajib, tapi jarang ada murid yang absen ikut karena event seperti itulah yang ditunggu-tunggu.

"Um… aku akan tanya pada Neji-nii dulu," jawab Hinata sembari menikmati es krimya lagi.

Naruto mengerutkan kening, memikirkan bagaimana Hinata yang lembut memiliki kakak seorang yang angkuh dan dingin seperti Neji. "Ah! Dari dulu aku heran. Kenapa kau bisa bersaudara dengan Neji yang menyebalkan itu, ya?"

"Well, orang menyebalkan itu ingin kau jauh-jauh dari adikku, Uzumaki Naruto!" Naruto langsung terlonjak begitu suara Neji terdengar. Rupanya kakak Hinata itu sudah berada tepat di belakang Naruto. Pemuda berambut pirang tersebut hanya meringis menanggapi deathglare yang diberikan Hyuuga Neji.

"Kau ngapain ke sini?" tanya Sasuke sewot. Mereka memang tak pernah akur.

"Memangnya ini tempat ini punyamu hingga aku tak boleh ke sini?" balas Neji dengan sengit. Pemuda itu kemudian duduk di sebelah Tenten yang kosong, tanpa sadar membuat kohai-nya merona.

"Tch." Sasuke memutar matanya, lalu kembali meneguk minumannya. Pembicaraan anak-anak muda itu pun berlanjut seputar fun camp yang akan diadakan sekitar satu minggu lagi. Terlalu serunya pembicaraan tersebut hingga tak ada satu pun yang menyadari ada beberapa pasang mata yang tengah mengamati kegiatan mereka.

.

-RDR—

.

Karin mengetuk-ngetukkan kuku jemarinya yang panjang ke meja kayu di hadapannya. Berbagai hidangan yang tersaji tak dihiraukannya. Matanya menatap lurus ke pintu kaca sebuah kafe di seberang jalan, mengawasi Hinata yang sedang bersama Sasuke dan teman-temannya. Melihat wajah Hinata yang ceria, Karin semakin panas. Ia merasa Hinata tidak pantas dikelilingi oleh cowok-cowok popular seperti Sasuke cs.

"Gadis itu benar-benar menyebalkan," gumam Karin sambil mengepalkan tangannya.

"Hei, Karin. Sekolah mengadakan fun camp untuk kelas tahun kedua." Karin berpaling pada Tayuya yang duduk berseberangan dengannya. "Aku dan kau adalah panitia. Kau tau apa yang ada di pikiranku?" Tayuya tersenyum licik. Pandangannya juga terarah pada Hinata yang tak menyadari sedang diperhatikan.

Bibir Karin tertarik ke atas, membentuk sebuah seringai kejam. "Kita akan memberi pelajaran pada Hyuuga itu," gumam Karin dengan niat jahatnya.

'Lihat saja, Hyuuga. Aku akan membuatmu menyesal.'

.

.

.

To be continued

.

Emm… bagaimana chap ini? membosankan ngga? Sebenarnya agak ngga pede publish chap ini, coz kayanya datar banget. Hehe :D

Untuk Karin n Tayuya FC, saya mohon maaappp . entah kenapa, mikirin tokoh jahat yg kepikir cuman mereka :DD. Mereka ntar juga berperan buat Hinata sadar akan perasaannya yg sebenarnya soalnya. Ehehe :D . n jangan dikira Sai bakal nyerah di sini. ^.~

Jadi… baca terus yaaaa ^^

Untuk balesan review… di sini aja yaa :D

Mizuki Kana: yap, Hina emang loading lama di sini. Gapapa yah? Biar sasu ngga cepet bahagia *plak*. Hoho, tunggu chap depan yaa. ini lumayan kilat ka? Hhe. Keep reading yaaa. Arigatouuu :*

Animea Lover Ya-ha: wah, tebakan animea-san bener banget , . well, sasu belum nyampein eksplisit sih. ohoho :D. emm, mungkin 15. Keep reading yaa. arigatouu :*

SuHi-18: ahahahaa.. sasu lover yah? Dia gak patah hati kok, cumin sakit ati *plak*. Ehehee :DD. Keep reading yaaa :3. Arigatouu :*

uchihyuu nagisa: oho, ide itu padahal muncul begitu aja ,. Tapi aku ngga bisa bikin adegan mesra gitu, jadi gomen kalau ngga greget TT. Okee, keep reading yaa. arigatouu :*

Lollytha-chan: wah.. kok ngga ada yg belain sai sih? hina ngga nolak kok… tapi ngga nrima juga. :P. oke, keep reading yah. Arigatouuu :*

Yuri: ah typo parah . . gomeennn,, ngga sempet edit soalnya. Hehe :D. keep reading yaaa ^^. Arigatouu :*

Thi3x: aaa.. ia ia. Maklum, ngetik malem2 jadi jereng gitu dah. *alesan* ehehe. Aku juga mau mobilnyaaa . No no nooo… gaje apa coba. Keren2 gitu , okee keep reading ya say :3. Arigatouu :*

Yamanaka Emo: wakakak. Sabar sabaarr… aih, scene nya mirip amat. Ohoo~ . keep reading ya jeng! Arigatouuu :*

Nakashima Yumi: ahaha~~ ngga papa kok ^^. Iaa, keep reading yah. Arigatouu :*

Seiran: ya ampun, gomeeenn.. pasti gara2 lama bgt apdetnya ya. Ahaha~~~ ngga papa kok . Gomen jadi baca dari awal lagi. hoho~ tidak secepat itu. keke. ^^ yup, keep reading yaa. arigatou :*

Z: eh? Gak kok, yang jahat Karin. Wkwk. Okee, keep reading yaa :D. arigatouu :*

Jimi-li: wah, salam kenal juga ^^. Wah makasih . Hmm,, oke deh nanti slight gitu. Mungkin Narusaku. Yup, keep reading yah. Arigatouu :*

Yukio Hisa: sebenernya lama kok, semingguan gitu. Tapi biar ngga kepanjangan, ngga di deskripin. Ehehe :D. SaiIno? Sai nya masi suka ama hinaa , . tapi nanti ada kok. mungkin 15 ^^. keep reading yaaa, arigatouu :*

Hyou Hyouichiffer: hoho… Hina ngga nolak kok :P. bole laaa . Yup, Keep reading yaa. arigatouu :*

Meiru Uchiffer: gak papa kok . Eh, benarkah? Hm, aku pribadi ngga terlalu suka ama sasu yg sempurna banget. Wkwk. Lagipula ini awalnya terinspiras ama komik yg pemeran cowonya menderita secara batin gitu. Hehe :D suka scene pelukan itu? ahaa~ baguslah. Aku juga suka itu. tapi susah deskripnya, jadi cuman dikit. Wah, malah suka kalo komennya banyak. :3. Favo? Aaa maaciihhh *hug hug*. Oke, Keep reading yaa. arigatouuu :*

SiLLiequeenth: wah, kok tau kalo saya baik hati n ngga sombong? *plakk*. Iya, ini kilat kan? keke :DD. Hmm.. flashbacknya ntar ya, kalo konflik sai n sasuke dan memuncak. ^^. Oke, keep reading yaa. arigatouu :*

Yaa,,, makasih semua yg sudah baca n review… silent reader juga, makasiiiih :D. jangan bosan-bosan yaaa ^,^

Seperti biasa, kritik, komen, saran, dll sangat dinantikan author. ^^

Jaa~~~~

Regards.

Ayuzawa Shia

Click down there please ^.~ !

(O)

Y

ll

/.l.\

\.|./

V