.

Title: Run Devil Run

Disclaimer: NarutoMasashi Kishimoto

Pairing: SasukexHinata, SaiXHinata, SaiXIno

Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll

.

Run Devil Run

Chapter 10

.

.

Happy reading

.

.

Kedua alis hitam Sasuke bertaut, wajahnya menampakkan ekspresi bosan bercampur kesal. Beberapa kali bisa terdengar helaan napas dari si pemuda. Kalau ditanya salah satu tempat yang paling malas ia datangi, itu adalah supermarket, tempat perbelanjaan atau semacamnya. Dan sekarang Sasuke malah berada di salah satu pusat perbelanjaan di Konoha, sedang mendorong troli yang setengahnya dipenuhi berbagai macam makanan. Ya, pemuda Uchiha tersebut sedang menemani seorang gadis bersurai indigo panjang berbelanja di Konoha Hypermarket.

Tapi Sasuke bukan kesal karena menemani gadis bermarga Hyuuga tersebut. Tidak —Hinata sama sekali tidak membuat suatu kesalahan yang membuat Sasuke kesal. Seseorang yang membuat pemuda dingin itu kesal tidak lain adalah sahabatnya sendiri, yang juga tetangga apartemennya, yang juga merupakan schoolmate-nya. Ia adalah putra dari pasangan Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, Namikaze Naruto.

Kalau bukan karena Naruto, saat ini Sasuke pasti sedang tidur, bersantai atau bahkan memainkan game di apartemennya seperti yang biasa dilakukannya saat akhir pekan. Hanya karena fun camp yang akan diadakan dua hari lagi, Naruto ribut mencari teman untuk menemaninya berbelanja. Dan Sasuke adalah salah satu korbannya.

Flashback

"Ayolah Temeee … temani aku belanja!" pinta Naruto sambil menarik selimut yang dipakai Sasuke. Jam dinding yang ada di kamar Sasuke menunjukkan angka sembilan, tapi pemilik ruangan tersebut masih tidur dengan nyenyak. Hari sabtu memang jadwalnya untuk libur, dan Sasuke ingin melewatinya dengan bermalas-malasan.

Tapi tidak jarang juga Naruto mengganggu peristirahatannya seperti sekarang ini. Pemuda hiperaktif itu selalu saja memiliki acara yang entah penting atau tidak di akhir pekan yang selalu melibatkan Sasuke maupun Gaara.

"Ajak Gaara!" bentak Sasuke masih dalam posisi tidurnya, sama sekali tidak terganggu dengan hembusan udara dingin yang menusuk tubuhnya.

"Dia ada janji dengan Kankurou. Ayolaaah~ …" Naruto terus merajuk.

Melihat kalau temannya itu sama sekali tak berniat untuk bangun, Naruto menarik kedua kaki Sasuke hingga pemuda itu jatuh dari tempat tidurnya. Dan apa yang terjadi selanjutnya bisa dipastikan.

"DOBE SIALAN! KAU CARI MATI, HAH?"

Sasuke menatap Naruto kelewat tajam hingga pemuda bermatasapphireitu mundur perlahan. Naruto balas menatap Sasuke denganhorror. Naruto tahu kalau temannya itu bukanlah orang yang mudah dibangunkan dan sangat sensitif di pagi hari, tapi ia tidak punya pilihan lain.

Sasuke masih men-deathglareNaruto sambil mengambil selimutnya yang tergeletak di lantai dan kembali pada posisinya semula, berbaring di atas tempat tidur. Sebelum menutupi seluruh badannya dengan selimut, Sasuke mengancam Naruto yang masih berada di kamarnya .

"Berani menggangguku lagi dan kau akan kukirim ke rumah sakit." Ancaman itu membuat Naruto mengerucutkan bibirnya. Tatapan penuh harap yang ia tunjukkan pada Sasuke sama sekali tidak mempan.

'Si Teme menyebalkan!'

Tapi bukan Naruto kalau ia menyerah begitu saja. Cowok itu selalu punya akal untuk mengelabuhi teman-temannya. Sambil menyerigai, putra tunggal Namikaze Minato tersebut mengambil ponsel dari saku piyamanya. Setelah menemukan nama yang dicari, seringai pemuda berambut jabrik itu makin lebar. Ia melirik Sasuke yang sepertinya sudah terlelap lagi.

"Hello, Hinata-chan!" Naruto sengaja mengatakannya keras-keras, dengan tujuan supaya Sasuke mendengarnya. "Kau luang tidak hari ini? Temani aku belanja, ya? Untuk keperluanfun camp. Ayolah, nanti aku akan menraktirmu ramen yang sangat enak!"

Dari balik selimut, Sasuke langsung menajamkan pendengarannya saat nama Hinata disebut. Naruto mengajak Hinata? Setelah beberapa bulan mengenal gadis itu, Sasuke tahu kalau Hinata adalah gadis yang memiliki kesulitan dalam menolak sesuatu. Kemungkinan besar ia akan menerima permintaan Naruto.

"Benarkah? Hinata-chaaaan… kau memang yang terbaik! Chuu …" seru Naruto sambil mengecup ponselnya.

'Tuh, kan?'

Sasuke langsung bangkit. Ia menatap Naruto dengan galak, karena berani-beraninya memanfaatkan gadisinnocent seperti Hinata.

"Dobe," panggilnya.

"Apa?" sahut Naruto cepat, sama sekali tidak gentar dengan tatapan maut sahabatnya tersebut.

"Batalkan janjimu dengan Hinata!" perintah Sasuke.

"Jangan mimpi!" tukas Naruto dengan seringai jahilnya. "Lagipula kalau dipikir-pikir, lebih enak belanja dengan Hinata. Dia kan manis, imut dan seksi. Pasti orang-orang akan mengira kami pasangan. Lumayan, kan? Lah, kalau denganmu? Bisa-bisa aku dikira homo."

Teliga Sasuke memanas mendengar celotehan panjang dikali lebar dari Naruto. Ia bersiap-siap melempar bantal, tapi Naruto sudah lari duluan.

Flashback off

Itulah alasan yang terpaksa membuat seorang Uchiha Sasuke berada di pusat perbelanjaan yang tidak pernah ia sukai bahkan sejak masih kecil. Rencananya untuk bermalas-malasan jadi musnah. Sejak tiba di Konoha Hypermarket, Sasuke hanya mengikuti kemana Naruto dan Hinata berjalan. Pemuda itu juga hanya diam, sama sekali tidak mengeluarkan suara sejak mereka memasuki hypermarket tersebut.

Bukan hanya karena tidak menyukai keramaian, tapi ada alasan yang membuat Sasuke tidak terlalu suka pergi ke mall maupun semacamnya. Suasana khas pusat perbelajaan seperti ini hanya mengingatkan Sasuke pada sang ibu yang dulu sering mengajaknya dan Itachi berbelanja.

Dan Sasuke kembali mengutuk dalam hati untuk kesekian kalinya karena perbuatan Naruto yang seenaknya meninggalkannya berdua dengan Hinata di sini tigapuluh menit setelah mereka sampai di Konoha Hypermarket.

Flashback

"Maaaaaf. Papa Minato menyuruhku segera ke kantor. Ada urusan yang sangat penting katanya. Aku harus pergi." Naruto mengeluarkan semua juruspuppy eyesyang ia punya, yang rupanya malah membuat Sasuke ingin menonjoknya.

"Terus?" tanya Sasuke tak berminat. Ia sudah bisa menduga apa yang diinginkan Naruto.

"L-lanjutkan belanjanya, dong. Toloooonng~…" rayu Naruto sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.

Sasuke mengatupkan giginya menahan kesal. "Tidak sudi!" balasnya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Naruto langsung beralih kepada Hinata. Ia menggenggam kedua tangan gadis tersebut, menatapnya penuh harap. "Hinata-chaaan… tolonglah temanmu ini," rayunya.

Hinata yang berhati lembut tentu tidak tega melihat Naruto sampai memohon seperti itu. Sasuke menatap Hinata tajam, mengisyaratkan agar gadis itu menolak. Tapi Hinata malah balas menatapnya dengan pandangan meminta maaf.

"I-iya, Naruto-kun. Tidak apa, lagipula aku luang, kok."

Sasuke mendesah. Naruto berteriak kegirangan dan langsung memeluk Hinata, tapi belum sampai sedetik Sasuke sudah mencengkram kerah bajunya dan menariknya agar menjauh.

Flashback off

'Dobe … aku akan membalasmu!' gerutu Sasuke dalam hati sambil memijit pelipisnya. Mereka berbelanja sudah hampir satu setengah jam. Ia sendiri heran apa mungkin semua makanan dan minuman yang dibelinya itu benar-benar bisa dibawa Naruto saat fun campnanti, mengingat jumlahnya yang sangat banyak.

Sasuke sedikit bernapas lega saat menyadari kalau Hinata berjalan menuju kasir. Penderitaannya akan segera berakhir. Well, sebenarnya tidak menderita sepenuhnya. Setidaknya dengan ini Sasuke jadi bisa melewatkan waktu bersama Hinata.

"Kau tunggu di sana saja, Sasuke. Biar aku saja yang antre." Hinata menunjuk bangku yang ada di luar arena swalayan. Ia tahu kalau Sasuke terpaksa menemaninya. Gadis itu tidak enak melihat Sasuke yang semakin bosan jika harus antre bersamanya.

Menuruti saran Hinata layaknya anak kecil yang dinasehati oleh ibunya, Sasuke berjalan menuju deretan bangku untuk menunggu gadis tersebut. Bangku itu hanya menyisakan sedikit tempat kosong, sedangkan yang lain telah terisi oleh sebagian besar lelaki dewasa yang sepertinya sedang menunggu istri mereka berbelanja.

Hah…

Satu helaan napas terdengar lagi dari bibir Sasuke. Diarahkan pandangannya ke gadis bersurai indigo yang masih mengantre. Iris onyx-nya mengamati gerak-gerik putri sulung Hyuuga tersebut dengan seksama. Gerakan yang lembut, sangat feminin. Tanpa sadar bibir Sasuke membentuk sebuah senyuman tipis.

'Pantas untuk jadi Nyonya Uchiha …'

Khayalan Sasuke semakin menjadi hingga senyumannya berubah menjadi seringai. Di dalam pikirannya kini muncul bayangan Hinata yang sedang memasak untuknya, kemudian Sasuke diam-diam akan menggodanya hingga gadis itu blushing tak karuan.

'Pasti seksi sekali,' batinnya.

Tapi khayalan serta seringai Sasuke langsung pudar begitu dilihatnya Hinata mengeluarkan beberapa lembar uang yang dititipkan oleh Naruto tadi. Ia segera menghampiri gadis itu, bermaksud membawakan barang belanjaan yang tidak bisa dibilang sedikit.

"Terima kasih, Sasuke," ucap Hinata sambil melemparkan senyum manisnya. Sasuke hanya menyisakan kantong belanja kecil untuk dibawa Hinata, yang rupanya berisi peralatan mandi milik Naruto.

"Hn."

Saat menunggu uang kembali dari petugas kasir, beberapa ibu rumah tangga yang masih antre terlihat berbisik-bisik cukup keras hingga Hinata serta Sasuke bisa mendengarnya.

"Wah … pasangan yang sangat serasi. Imut sekali, ya?" ucap ibu pertama.

"Iya! Lihat, cowoknya membawakan hampir semua belanjanya," sahuy ibu kedua.

Ibu pertama menatap Sasuke kagum. "Beruntung sekali gadis itu," katanya yang dibalas dengan anggukan kepala dari ibu kedua.

Komentar-komentar itu membuat Hinata blushing saking malunya. 'P-pasangan? Aku dan S-Sasuke?' Membayangkan mereka menjadi pasangan kekasih membuat jantung Hinata berdetak semakin kencang. Wajahnya juga semakin memerah, menyamai buah kesukaan Sasuke.

Sedangkan Sasuke sendiri … pemuda itu justru menyeringai tipis. Tidak bisa dipungkiri kalau ia senang mendengar komentar para ibu rumah tangga tersebut. Sasuke berdeham untuk menutupi rasa senangnya.

Sasuke lalu melirik ke arah Hinata. Menyadari gadis itu terlihat malu, ia memutuskan untuk segera pergi.

"Ayo," ajaknya. Hinata hanya mengangguk sambil berlalu mengikuti langkah Sasuke.

…RDR…

Ino menyandarkan badannya di kursi mobil. Pandangannya menerawang ke luar jendela, setengah melamun. "Apa kau benar-benar harus pergi selama empat hari? Itu lama sekali …" tanyanya pelan pada Sai yang sedang menyetir di sampingnya.

"Mm."

Mendengar jawaban itu Ino menghela napas. Terlihat jelas kalau gadis itu sedikit kecewa. "Apa aku benar-benar tidak bisa ikut?"

Sai terdiam sejenak, mata obsidian-nya masih fokus menatap jalanan. "Ini kegiatan intrasekolah, jadi orang luar tidak bisa ikut, Ino. Mengertilah."

"Tapi aku akan kesepian …" keluh Ino sambil memejamkan matanya sejenak. "Biasanya kalau bosan aku akan bermain tenis. Tapi … sekarang tidak bisa lagi." Nada suara Ino mendadak terdengar sedih.

"Sebenarnya, bagaimana kau bisa kecelakaan?" tanya Sai seraya melirik Ino sejenak.

Ino membuka matanya, lalu menatap pemuda di sampingnya. "Ah—itu karena kecerobohanku," gumamnya pelan sambil tersenyum masam.

Sai melirik Ino lagi sebelum membalas. "Ino, kau pikir kita baru kenal sebentar? Aku tahu kau bukan tipe orang yang ceroboh seperti itu."

Perkataan Sai membuat Ino bergerak tak nyaman. "Um … yah, aku khilaf," jawab Ino sambil kembali menatap luar jendela, menghindari kontak mata dengan Sai. Sayangnya pemuda itu tahu kalau Ino sedang menyembunyikan sesuatu.

"Ceritakan padaku," kata Sai lagi. Entah mengapa ia punya firasat tidak enak tentang cidera yang dialami Ino.

"Ah, Sai. Tolong berhenti di sana sebentar. Aku mau beli sesuatu." Ino menegakkan duduknya seraya menunjuk bangunan bertuliskan Konoha Hypermarket. Sebenarnya itu hanya alasan untuk menghindari topik pembicaraan mereka.

Sai menyerah, tidak ingin memaksa Ino menceritakan masalahnya. Ia akan menunggu hingga gadis itu siap memberitahunya. "Hm."

Sai mengurangi kecepatan mobil dan berbelok, menuju tempat parkir Konoha Hypermarket.

…RDR…

Karena kebiasaan lama Hinata —menunduk saat sedang malu walaupun sedang berjalan dengan poni menutupi bagian atas wajahnya— gadis itu tidak menyadari jika Sasuke sudah berjalan jauh di depan. Hinata bahkan tak melihat kalau di depannya ada seseorang yang terlihat terburu-buru sedang berjalan ke arahnya.

BRUK!

"Akh …" pekikan kecil itu muncul dari bibir Hinata. Bahunya tak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga kantong belanja yang dibawanya terjatuh dan isinya berserakan di lantai.

"Oh! Maafkan aku, aku sedang buru-buru," ujar gadis yang bertabrakan dengan Hinata sembari mengambilkan barang-barang yang terjatuh dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Gadis itu kemudian menyerahkan tas plastik putih itu ke tangan Hinata.

"A-aku juga minta maaf," sahut Hinata sambil mengamati gadis tersebut.

'Cantik sekali …'

Hinata sedikit terpana dengan gadis di hadapannya tersebut. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut blonde panjang yang diikat tinggi.

"Sekali lagi maaf."

Hinata menggeleng pelan sembari tersenyum. "Um, tidak apa," ucapnya kemudian.

Gadis berambut blonde tersebut membalas senyuman, kemudian buru-buru pergi. Hinata melihat punggung gadis tersebut yang menjauh dengan pandangan kagum.

"Ada apa?"

Suara maskulin milik Sasuke membuat Hinata menoleh. "Umm … tidak apa. Hanya tak sengaja bertabrakan."

"Kau ini ceroboh, sih," cibir Sasuke.

Hinata menggembungkan pipinya, namun sesaat kemudian mata lavender-nya menangkap sebuah objek mengkilat tergeletak di lantai. "Eh? Apa itu?"

Sasuke mengikuti pandangan Hinata, lalu memungut benda yang ternyata adalah sebuah kalung. Kalung perak serta liontin senada dengan model bunga yang sangat cantik.

"Ah, itu pasti milik orang tadi. Bagaimana ini, Sasuke?" Hinata mulai panik.

"Calm down," ujar Sasuke menenangkan. Ia meneliti liontin tersebut. "Di dalamnya ada sesuatu," gumamnya sambil membuka liontin perak itu. Sedikit sulit, namun akhirnya terbuka dan menampakkan dua buah foto di masing-masing sisi liontin. Foto di sisi kiri adalah foto gadis cantik yang ia duga adalah orang yang baru saja bertabrakan dengan Hinata. Sedangkan foto kedua adalah …

Kedua onyx Sasuke melebar menyadari siapa yang ada di foto itu. Itu adalah orang yang sangat dikenalnya.

"Lihat, Sasuke!" ucap Hinata berusaha melihat isi liontin itu.

Sasuke berusaha menutup lagi liontin itu sebelum Hinata melihatnya, tapi terlambat. Kalung itu kini telah berada di tangan Hinata sebelum Sasuke menutup liontinnya.

"Hinata, kemarikan!" perintahnya, namun Hinata tak menghiraukan. Ia membalikkan badannya, menghindari Sasuke yang hendak mengambil lagi liontin itu.

"Aku mau lihat foto i—" Ucapan Hinata langsung terputus saat melihat sebuah foto pemuda tersimpan di dalam liontin. Mata lavender-nya melebar dan ia terkejut. Wajah cerianya kini perlahan menghilang, berganti ekspresi kaget serta bingung.

Beberapa saat berlalu dan Hinata masih terpaku menatap kedua foto yang ada di dalam liontin itu. Sasuke hanya mendesah.

"Ah! Liontinku!"

Hinata dan Sasuke menoleh secara bersamaan begitu mendengar suara feminin tersebut. Rupanya gadis yang ada dalam foto liontin itu. Ia melangkah tergesa-gesa, berjalan mendekat ke tempat Hinata berdiri.

"Oh, hai. Itu kalung milikku," ujar si gadis sambil tersenyum. Jemarinya menunjuk pada kalung yang dipegang Hinata.

Tahu kalau Hinata masih belum pulih dari keterkejutannya, Sasuke segera mengambil kalung yang dipegang gadis tersebut lalu menyerahkannya pada si gadis blonde. "Ini tadi jatuh," katanya singkat dengan raut datar.

Si gadis tersenyum lebar. "Terima kasih. Kalung ini sangat berharga." Gadis itu tampak meneliti kalungnya, seakan takut kalau barang tersebut rusak. "Ah, kalian melihat foto di dalamnya, ya?" tanyanya saat menyadari liontinnya terbuka.

"Hn." Sasuke menjawab sekenanya. Ia sebenarnya ingin segera membawa Hinata pergi, namun karena penasaran akhirnya ia memutuskan untuk bertanya dulu. "Orang di foto itu pacarmu?"

Gadis yang ditanya itu terlihat sedikit terkejut, tapi sedetik kemudian ia tersenyum. "Dia bukan pacarku. Tapi dia tunanganku," jawabnya sedikit tersipu. "Ah, aku permisi dulu. Terima kasih." Gadis tersebut kemudian pergi, meninggalkan Sasuke yang masih memasang wajah datar dan Hinata yang terlihat semakin terkejut.

Hinata bergeming, terlalu syok mendapati kenyataan bahwa senpai yang beberapa minggu lalu menyatakan perasaannya padanya ternyata memiliki kekasih—bukan, lebih tepatnya tunangan. Memang benar ia telah menolak Sai, tapi bukankah pemuda itu bilang akan menunggu Hinata sampai gadis itu siap menjadi kekasihnya?

Hinata percaya pada Sai. Sangat percaya. Selama mengenal senpai-nya tersebut, Hinata bisa tahu kalau Sai bukanlah cowok playboy yang suka mempermainkan perasaan wanita. Ia yakin Sai adalah orang yang baik. Tapi … kenapa tiba-tiba ada orang yang mengaku sebagai tunangannya?

Tidak tahan melihat perubahan raut wajah Hinata yang semakin murung, Sasuke langsung menggenggam tangan gadis itu, menariknya agar beranjak. Tangan besarnya menggenggam erat tangan mungil Hinata, membawanya pergi.

…RDR…

Ino berjalan sambil memandangi foto di dalam liontinnya. Itu adalah liontin pemberian Sai saat mereka masih berpacaran. Ino tersenyum geli mengingat bagaimana gugupnya Sai saat itu.

Tiba-tiba bayangan orang yang tadi bertabrakan dengannya muncul. Ino baru sadar, gadis tersebut sangat mirip dengan Hinata, gadis yang disukai oleh Sai. Ino memang belum pernah bertemu langsung dengan Hinata. Ia hanya pernah melihat gadis itu dari jauh.

Dan satu kenyataan lagi yang membuat Ino terperangah kaget.

'Pemuda yang bersama gadis tadi … jangan-jangan dia adik tiri Sai?'

Ino sedikit menyesal karena tidak terlalu memerhatikan keduanya karena terlalu fokus pada liontinnya.

Sekarang Ino mengerti kenapa gadis bermata pucat itu terlihat terkejut saat pemuda di sampingnya menanyakan siapa orang di dalam liontin ini. Ya, itu membuat Ino yakin kalau dua orang tadi adalah gadis yang diajak Sai ke taman hiburan beberapa waktu lalu dan adik tiri Sai yang bernama Sasuke.

Masih tetap memandangi foto Sai, Ino tersenyum getir. Hatinya terasa perih mengingat bagaimana cara Sai menatap Hinata. Itu adalah tatapan yang dulu pernah Sai berikan padanya.

Fun camp selama tiga hari yang dibicarakan Sai membuat Ino menjadi resah. Mereka akan bersama selama tiga hari tanpa ia bisa mengawasi dan itu membuatnya was-was. Mereka memang bertunangan, tapi itu karena paksaan dari ibu Sai. Ino menggigit bibirnya, menatap foto di tangannya cemas.

'Apa yang harus kulakukan?'

…RDR…

Keduanya berdiri bersebelahan dalam diam, bersandar pada Lamborgini hitam Sasuke. Sejak keluar dari Konoha Hypermarket, tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. Yang terdengar hanya suara deru mobil yang terkadang lewat, mengingat mereka masih berada di area parkir.

Mereka berdua memang sama-sama bukan tipe orang yang banyak bicara, tapi keheningan di antara mereka selalu terasa nyaman. Berbeda dengan sekarang. Keheningan saat ini membuat Sasuke sedikit khawatir akan keadaan Hinata. Sasuke bukan orang yang peduli dengan orang di sekitarnya, tapi berbeda untuk Hinata.

Sasuke tahu gadis itu tidak baik-baik saja. Ia juga tahu Hinata masih menyukai Sai. Tangan Sasuke terkepal kuat menyadari kenyataan itu. Kenyataan kalau gadis yang ia sukai malah menyukai kakak tirinya yang brengsek. Kakak tiri yang sangat dibencinya. Kakak tiri yang selalu merebut orang-orang yang ia cintai.

"Foto tadi … sepertinya diambil sudah lama," suara pelan Hinata memecah kesunyian di antara mereka.

"Hn." Wajah Sasuke masih datar, namun dalam hati ia menahan keras keinginan untuk langsung pergi menemui Sai dan menghajar kakaknya tersebut.

"A-apa Sasuke … mengenal gadis tadi?" suara yang dikeluarkan Hinata semakin pelan, tapi Sasuke masih bisa mendengarnya.

"Aku tidak pernah dekat dengan Sai, jadi mana kutahu." Sasuke sama sekali tidak berniat kasar, bahkan ia bermaksud untuk menghibur Hinata. Ia sendiri tidak tahu kenapa kalimat itu muncul begitu saja. Sasuke melirik Hinata, sedikit cemas kalau gadis itu semakin murung gara-gara perkataannya. Ia lega karena sepertinya Hinata tidak menghiraukan ucapannya.

"Cantik sekali …" gumam Hinata lirih.

"Hah?"

"Gadis tadi, cantik sekali. Feminin, fashionable, tinggi lagi. Benar-benar cocok dengan Sai-senpai," lanjut Hinata seraya tersenyum masam.

Rasanya Sasuke ingin berteriak di depan wajah Hinata kalau ia jauh lebih cantik dari si gadis blonde, tapi egonya melarang semua itu. Sasuke beralih ke depan Hinata. "Kalau kau menyukai Sai, kenapa menolaknya?" tanya Sasuke dengan nada serius.

Hinata tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia menggeleng pelan. "Entahlah,"

Sasuke menarik dagu Hinata hingga gadis itu menatapnya. Mata onyx-nya menatap mata lavendergadis tersebut. "Apa … gara-gara aku?"

Hinata terdiam. Matanya menyiratkan kebimbangan.

'Benar, kenapa aku menolak Sai-senpai? Apa hanya karena Sasuke dan Sai-senpai belum akur?' berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya, namun tak ada satu pun yang bisa ia jawab.

Tangan Sasuke yang berada di dagu Hinata kini beralih pada pipi gadis tersebut, mengelusnya pelan. "Menangislah kalau itu membuatmu lega."

"Aku tidak akan menangis," ucap Hinata, menggeleng mantap. Hatinya memang terasa sakit, tapi Hinata tidak ingin menangis hanya karena tahu Sai memiliki tunangan. Ia tidak ingin lemah, apalagi di depan Sasuke.

Sasuke menangkupkan kedua tangannya di pipi Hinata dan menatapnya dengan serius. "Cepat keluarkan semuanya, kemudian berpalinglah padaku. Aku tidak akan membuatmu menangis." Setelah itu Sasuke membawa Hinata ke dalam dekapannya.

Hinata berusaha memberontak, namun Sasuke semakin mempererat pelukannya. Ia menenggelamkan kepala Hinata di dadanya. Sedetik kemudian, Sasuke merasakan tubuh Hinata bergetar menahan tangis. Ia mengusap pelan puncak kepala gadis itu.

Melihat gadis yang ia sukai menangis membuat hatinya sakit. Tapi yang Sasuke rasakan lebih menyakitkan karena orang yang membuat Hinata menangis adalah Sai, orang yang sangat dibencinya.

Satu yang sangat disayangkan, Sasuke tidak tahu kalau alasan Hinata menangis bukan hanya karena Sai, tapi juga karena dirinya.

…t.b.c…

h-halo semua … *nyapa dari balik tembok, takut dilemparin*

gomen lama banget updatenya .

gomen juga chap ini pendek. Kelamaan hiatus bikin WB, dan lagi file2 fic saya entah hilang kemana T_T

ditambah lagi saya lupa fic2 saya ceritanya ampe mana. jadi mohon maklum yaa~

saya usahakan update chap depan bakal kilat. Insya Allah, mumpung liburan. Keke :DD

Tentang gimana rencana jahat Karin n sasuhinasai di funcamp ada di chap depan yaa. Keke. Duh, tapi kok fic ini semakin mendrama banget ya? Haha. gomeeenn, tontonan saya drama korea mulu soalnya ,

Terima kasih banyak supportnya yaa, special for::

Mizuki Kana, Kezya-sama, uchihyuu nagisa, Animea Lover Ya-ha, ruNny4one, Hyou Hyouichiffer, Kertas Biru, n, Jimi-li, blue night-chan, Yukio Hisa, Rosecchi, Hizuka Miyuki, Meiru Uchiffer, Yamanaka Emo, ZamBetJalKecTuDuKanBer, Nakashima Yumi, widiwMin, Uchiha Mania, Hasegawa Nanaho, SasuHina Lovers, astiamorichan, Guest and all silent reader.

Tanpa support teman-teman ga tau nasib fic ini gimana. Hehe. Seperti biasa, kritik, komen, saran, dll sangat dinantikan oleh author.

Oke… sekian dulu ya. Sampai jumpaa~. Terimakasih semuaa~ :*

Please, leave a review ^.~ !

(O)

Y

ll

/.l.\

\.|./

V