.
Title: Run Devil Run
Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
Pairing: SasukexHinata, SaiXHinata, SaiXIno
Warning: AU, OOC, crack pair [hope not], misstype, dll
.
Run Devil Run
Chapter 11
.
.
Happy reading
.
.
.
Jumat pagi.
Halaman depan Konoha Gakuen dipenuhi murid-murid tahun kedua yang berpakaian bebas—dengan tas-tas ransel besar maupun koper di samping mereka. Pun percakapan dan gurauan terdengar dimana-mana.
Excited.
Satu kata yang paling cocok untuk menggambarkan apa yang dirasakan oleh anak-anak muda tersebut. Terbukti dari wajah-wajah sumringah mereka. Penyebabnya tak lain karena sekarang ini adalah saat pemberangkatan untuk acara tahunan Konoha Gakuen—fun camp.
Fun camp adalah salah satu event yang paling dinantikan oleh murid-murid Konoha Gakuen—tidak diragukan lagi. Selama tiga hari, mereka tidak harus berkutat dengan urusan akademik yang tak jarang membuat pusing kepala. Acara ini memang dirancang untuk membantu para murid melepas penat di tengah-tengah kesibukan sekolah.
Di salah satu sudut halaman sekolah, ada Hinata dan Sakura yang tampak sedang berbincang-bincang. Hinata duduk di atas bangku kayu, sedangkan Sakura berdiri di sebelahnya. Sakura terlihat fresh dan cantik dengan t-shirt berlengan panjang warna kuning yang dipadukan dengan celana jeans selutut serta sandal gunung. Rambut merah mudanya diikat belakang. Ia adalah tipe gadis yang suka dengan petualangan. Tak heran jika Sakura benar-benar mengantisipasi fun camp ini.
Sedangkan Hinata memilih cardigan biru yang menutupi tanktop putihnya dan celana panjang untuk membalut tubuhnya. Berbeda dengan Sakura, Hinata memakai sneakers berwarna biru tua. Penampilannya memang lebih casual dari biasanya, namun tetap ada kesan anggun dan feminin yang melekat. Rambutnya diikat satu, menyamping ke kanan.
Sebenarnya Hinata tidak terlalu antusias menyambut acara ini. Semenjak pertemuannya dengan gadis cantik yang mengaku sebagai tunangan Sai, Hinata malas untuk melakukan kegiatan apapun yang ada hubungannya dengan senpai yang ia sukai tersebut.
"Hinata—jujur saja," Sakura berkata, "kupikir memang lebih baik kau melupakan Sai-senpai."
Hinata menunduk, memainkan kerikil di tanah dengan kakinya. Ia baru saja menceritakan masalahnya pada Sakura. Dan reaksi Sakura sama seperti yang Hinata tebak.
Sakura melipat kedua tangannya sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kudengar, dulu saat dia masih berpacaran dengan cewek bernama Ino itu, mereka adalah pasangan paling serasi. Keduanya sama-sama atlet tenis. Keluarga mereka juga saling mengenal dekat."
Telinga Hinata seakan memanas mendengar penuturan Sakura. Tapi mungkin memang benar seperti itu. Meskipun Sakura suka bergosip, tapi ia adalah orang yang berhati-hati dalam menyampaikan informasi sepenting ini.
"Ino pulang ke Jepang belum lama ini. Kemungkinan, mereka bertunangan juga belum lama. Tapi Hinata—akan lebih baik kau menanyakannya pada Sai-senpai langsung."
Hinata menghela napas sembari mengangguk lesu. "Mm … mungkin …"
Pikiran Hinata kembali melayang pada apa yang dialaminya belakangan ini. Mulai dari Sai yang menyatakan perasaannya, Sasuke yang marah dan dirinya yang akhirnya menolak pernyataan Sai. Hingga saat ini, gadis itu belum menemukan alasan yang tepat mengapa dirinya merasa menjadi pacar Sai untuk sekarang ini bukanlah yang paling tepat. Apa benar karena Sasuke? Kalau memang karena Sasuke, kenapa saat mengetahui Sai punya tunangan hatinya juga sakit? sebenarnya… bagaimana perasaannya pada dua kakak-beradik itu?
Lamunan Hinata buyar ketika mendapati sebuah tepukan dari Sakura. Hinata memandang sekeliling. Ia melihat orang-orang mulai berdiri dan mengambil tas mereka. Pandangannya kemudian beralih lagi pada teman berambut merah muda di sampingnya.
"Sudah-sudah galaunya. Ayo naik ke bus, Hinata." Sakura mengangkat tas ransel besarnya tanpa kesulitan. Terkadang Hinata heran bagaimana sahabatnya yang memiliki tubuh langsing dan ramping itu malah punya tenaga yang kuat.
"Iya."
Hinata juga langsung menarik kopernya yang berukuran kecil. Barang-barang yang ia bawa memang tidak terlalu banyak. Keduanya pun langsung berjalan keluar halaman sekolah, menuju tempat bus diparkir.
"Halo cewek-cewek~~"
Suara familiar yang tiba-tiba muncul itupun membuat langkah Hinata dan Sakura sontak terhenti. Saat mereka menoleh, mereka mendapati sebuah mobil sport yang terlihat mewah bergerak mendekat.
Ada Naruto yang memasang cengiran inosen seperti biasa, sedang melongok dari dalam mobil.
"Hai juga …" Membalas sapaan pemuda pirang tersebut sambil tersenyum, Hinata bisa melihat Gaara duduk di kursi kemudi—di samping Naruto.
Sedikit menengok, Hinata mendapati Sasuke yang sedang duduk di kursi belakang. Tampaknya Sasuke sedang mendengarkan musik. Terlihat dari matanya yang terpejam dan earphone yang menempel di telinga pemuda Uchiha tersebut. Dan saat tiba-tiba Sasuke membuka oniks-nya, Hinata buru-buru berpaling. Tiba-tiba bayangan saat Sasuke sedang memeluknya kemarin muncul. Dan itu membuat Hinata sangat malu.
"Kalian ngapain bawa mobil?" tanya Sakura sambil mengerutkan dahi.
"Aku mabuk kalau naik bus, jadi harus bawa mobil sendiri. Sakura-chan, ayo ikut kami! Hinata-chan juga!" ajak Naruto dengan sangat sumringah. Padahal alasan sesungguhnya membawa mobil bukan hanya itu.
Sakura tidak bisa menahan diri untuk memutar manik hijaunya. Naruto benar-benar kekanak-kanakan, pikirnya. Tapi entah mengapa tiba-tiba gadis bermata hijau itu menganggap kelakuan Naruto juga terlihat imut. Sakura menggeleng keras.
"Tsk. Sok aristocrat!" cibir Sakura seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Naruto hanya mengerucutkan bibir dan menekuk wajah manisnya mendengar ejekan gadis pink itu.
"Hinata—ayo naik." Kini Gaara yang mengajak. Disertai dengan senyuman merayu khas Sabaku Gaara yang membuat Hinata merona.
"Ta-tapi kan … bukannya kita harus berangkat bersama yang lain?"
Naruto mengibaskan tangannya. "Aku sudah minta izin sama Tsunade-baachan, kok."
"Yakin? Aku tidak percaya!" Sakura lagi-lagi menimpali sinis.
"Sakura-chan! Kenapa selalu tidak percaya padaku, sih?"
Selagi Sakura terlibat pembicaraan—atau perdebatan dengan Naruto seperti dunia milik keduanya, kedua manik lavender Hinata mencuri-curi pandang ke arah Sasuke lagi. Dan sialnya Sasuke saat itu juga tengah memandanginya. Inginnya memalingkan muka, tapi Sasuke malah membuka kaca mobil, lalu mengisyaratkan Hinata agar mendekat.
"Sini."
"H-huh?" Hinata memiringkan kepalanya. Namun gadis itu tetap melangkah maju. Ia lalu merendahkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan Sasuke.
Sasuke mengisyaratkan agar Hinata semakin mendekat. Tanpa rasa curiga sedikitpun, Hinata menuruti kemauan Sasuke. Dan saat wajah ayu nan polos Hinata hanya berjarak beberapa senti, Sasuke langsung mengecup pipi gadis itu. Perbuatan yang sukses membuat sang gadis mematung.
"Itu hukumanmu karena curi-curi pandang padaku." Sasuke berbisik disertai seringai kepuasan.
"Dasar mesum!" Sakura yang tersadar perbuatan nista Sasuke langsung berlari menghampiri sahabatnya. Ia buru-buru menarik mundur Hinata dan memeluknya, seolah-olah melindungi sahabatnya itu dari terkaman serigala.
"Wah. Kau pintar, Teme!" Naruto pun mendapat deathglare dari Sakura karena seruannya. Sedangkan Gaara hanya tertawa.
Diakhiri dengan seringai jahil, Sasuke langsung menutup lagi kaca mobil hingga wajah tampan itu menghilang. Gaara pun mulai menginjak pedal gas, dan Porsche Panamera putih tersebut menjauh. Meninggalkan Hinata yang pipinya telah merona dengan jantung berdebar tak karuan serta Sakura yang masih sewot memaki trio troublemaker Konoha Gakuen.
.
.
…RDR…
.
.
Kompleks villa yang dipilih sebagai tempat menginap benar-benar indah. Penginapan itu bernama Koukyuu Inn. Sebuah penginapan dengan gaya artistik dan unik yang mewah, serta dikelilingi oleh asrinya pepohonan khas suasana pegunungan.
Pemandangan pertama yang bisa terlihat adalah sebuah halaman luas depan villa yang dihiasi oleh taman-taman kecil dengan berbagai bunga. Area cukup luas di kiri bangunan villa digunakan sebagai tempat parkir kendaraan beroda dua dan empat. Sedangkan parkir untuk kendaraan besar berada di depan kompleks villa.
Memasuki Koukyuu Inn lebih dalam, ada bangunan bertingkat sebagai ruang penginapan utama—dengan model unik yang terbuat dari batubata dan kayu-kayu. Selain itu ada lapangan multiguna di halaman samping yang bisa dipakai untuk bermacam kegiatan. Di halaman belakang terdapat kolam renang outdoor. Bangunan villa dengan taman utama yang ada di bagian tengah kompleks dipisahkan oleh lorong terbuka yang dirimbuni oleh tanaman merambat dengan sulur-sulur akar menggantung serta dihiasi berbagai tanaman bunga. Di samping kiri lorong ini terdapat aula yang juga multifungsi.
Kira-kira pukul sebelas siang, Koukyuu Inn masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang di sana, mengenakan pakaian yang hampir sama—yaitu kaus berwarna hijau dengan bawahan hitam serta tanda pengenal bertuliskan comitte di dada.
Tak berapa lama, sebuah mobil terlihat memasuki kompleks penginapan. Mobil sport mewah berwarna putih yang sangat menarik perhatian para panitia itu terus melaju pelan menuju area parkir. Neji serta Sai yang kebetulan sedang berada di halaman depan pun segera mendekat ke tempat parkir— mengira itu adalah mobil guru.
Setelah mesin Porsche putih itu mati, pintu depan terbuka dan keluarlah seorang pemuda berambut blonde. Wajahnya tampak mengantuk. Ia bahkan menguap keras sambil meregangkan tubuhnya yang berkulit tan. Selanjutnya tampak cowok berambut merah dengan model sama berantakan dengan di pirang. Wajahnya datar seperti biasa. Namun melihat ekspesi kesal yang terpancar di wajah Neji, pemuda itu menyeringai.
Dan terakhir yang keluar dari mobil mewah tersebut adalah cowok bertubuh tinggi dengan rambut raven. Oniks pemuda itu menatap pearl milik Neji tanpa ekspresi, lalu beralih menatap iris kelam Sai dengan pandangan dingin. Namun sebelum Sai balas memandang, oniks itu sudah beralih kembali menatap Neji.
"Kalian naik mobil?!"seraya menanyakan kedatangan tiga peserta fun camp yang tidak biasa itu, alis Neji bertaut heran.
"Kan kau sudah lihat sendiri. Bagaimana, sih?" Naruto menjawab sedikit sewot. Ia benar-benar mengantuk dan ingin segera tidur. Membantu urusan perusahaan ayahnya membuat Naruto kurang tidur.
"Siapa yang mengijinkan? Yang boleh membawa mobil hanya panitia dan guru. Kalian kan peserta!"jawab Neji tak kalah sengit. Neji memang orang yang sangat menjunjung tinggi suatu aturan. Ia tidak suka pada orang yang seenaknya melanggar aturan yang telah dibuat.
"Oh, Neji! Ayolah! Kita sudah di sini, untuk apa berdebat lagi? Cepat katakan dimana ruanganku! Aku benar-benar lelah."
"Tapi tetap sa—" sebelum Neji bisa melanjutkan, Sai menahan pemuda itu.
"Peserta yang lain sudah datang. Lebih baik kau ke sana. Biar masalah di sini aku yang urus." Neji memalingkan pandangannya ke luar villa. Benar saja. Tiga buah bus yang ditumpangi peserta fun camp terlihat sedang parkir di depan kompleks Koukyuu Inn.
Laki-laki bersurai coklat panjang itupun mendengus. Sekali lagi Neji memandang ketiga junior pembuat onar di Konoha Gakuen itu dengan kesal. "Tsk. Kalian benar-benar menyebalkan!" Lalu pergi menjauh.
Setelah Neji pergi, Sai kembali menatap ketiga laki-laki di depannya. Sai bukan orang yang strict terhadap suatu peraturan. Sebagai orang yang pandai membaca suasan dan kondisi, Sai tahu ketiga kouhai-nya itu sedang tidak dalam mood untuk berdebat. Daripada membuat masalah baru, lebih baik ia tidak memperpanjang urusan ini.
"Mintalah kunci kamar pada resepsionis. Pembagian bebas, satu kamar ditempati empat orang. Tapi anak laki-laki ditempatkan di lantai bawah," jelas Sai. "Setelah menaruh barang-barang, kalian bergabunglah dengan yang lain di lapangan untuk penyambutan."
"Thanks, Sai!" Naruto menepuk pundak laki-laki bermata gelap tersebut sebelum berlalu pergi tanpa membawa kopernya terlebih dulu.
Yang membuat Sai heran adalah karena adik tirinya yang belum juga beranjak. Gaara sedang mengeluarkan beberapa koper dari bagasi, namun Sasuke sejak tadi hanya diam saja. Bola mata kelam milik Sai lalu beralih menatap Sasuke.
"Ada hal lain yang belum jelas, Sasuke?"
Bukannya menjawab, Sasuke malah menatap Sai dengan pandangan muak. Hal ini membuat Sai mengerutkan dahinya heran. Sasuke memang dingin padanya, tapi Sasuke tidak pernah memandangannya seperti itu. Seakan-akan baru saja ada kesalahan fatal yang ia perbuat hingga membuat Sasuke sangat marah.
Tak kunjung mendapat respon, Sai berusaha mengabaikan pikiran negatifnya. Mungkin Sasuke hanya sedang kelelahan.
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
Sasuke terus menatap punggung Sai dengan pandangan menusuk. Tangannya terkepal erat. Rasa benci yang berkecamuk di dadanya terasa semakin besar. Tidak hanya membuat ibu dan kakaknya menderita, Sai juga membuat satu-satunya gadis yang ia kasihi menangis.
.
.
…RDR…
.
.
Sasuke memandangi selembar kertas berisi jadwal kegiatan fun camp dengan wajah masam. Laki-laki bersurai kehitaman itu tengah berbaring dengan kepala bersandar pada kepala tempat tidur —di kamar yang ia tempati bersama Gaara dan Naruto. Kedua manik oniks-nya menelusuri barisan kata-kata di hadapannya tanpa minat yang jelas.
Hari Pertama
11.00 – 11.30 : penyambutan
11.30 – 12.30 : makan siang
12.30 – 14.00 : waktu bebas
14.00 – 16.00 : games
16.00 –18.00 : istirahat, mandi
18.00 – 19.00 : makan malam
19.00 – selesai : night outbond
"Tch. Membosankan!" Gerutuan meluncur mulus dari bibir Sasuke. Dan selembar kertas tak berdosa itu pun terlempar begitu saja ke lantai.
Well … jika diingat-ingat, tidak ada yang tidak membosankan bagi pemuda penyuka tomat tersebut. Kecuali jika berhubungan dengan Hinata—mungkin.
Gaara yang sedang mengeluarkan barang-barangnya dari koper untuk ditaruh di lemari pun menoleh. Ditatapnya Sasuke dengan alis imajiner yang bertaut. Ia heran. Sejak pulang dari belanja bersama Hinata kemarin, sepertinya Sasuke sedang berada dalam mood yang buruk. Dan jika Sasuke berada dalam mood jeleknya, laki-laki itu akan bertingkah sangat menyebalkan hingga pada tahap Gaara malas dekat-dekat.
"Hanya perasaanku saja atau kau memang lagi galau?" tanya Gaara dengan nada sedikit bergurau. Tak lupa seringai menghiasi wajah cowok berambut merah itu.
Tanpa memalingkan wajahnya, Sasuke menjawab dengan kosa kata abstrak andalannya. "Hn."
Jawaban khas seorang Uchiha, namun juga tak jelas. Alis imajiner Gaara makin bertaut. Sasuke memang pendiam. Tapi jika ada masalah, Sasuke akan selalu membicarakan dengannya. "Karena Hinata?" Nada pertanyaan Gaara berubah menjadi lebih serius, namun masih tak ada jawaban. "Atau Sai?"
Sasuke langsung menatap Gaara dengan tajam, seolah-olah pemuda bermarga Sabaku itu telah mengucapkan kata-kata terlarang.
"Jangan pernah menyebut nama si brengsek itu di depanku. Kecuali kau mau wajah tampan berhargamu itu lebam."
Tuh, kan? Begitulah Uchiha Sasuke jika berada dalam bad temper modenya. Dan sekali lagi —karena berurusan dengan Sasuke yang sedang badmood ada di urutan terakhir, Gaara memilih untuk diam. Lagipula ia tidak terlalu suka ikut campur urusan orang lain.
Gaara memalingkan wajahnya, kembali pada kegiatannya yang sempat tertunda hanya karena rasa penasaran.
.
.
…RDR…
.
.
Sai benar-benar tidak bisa mengenyahkan pikiran-pikiran negatif di benaknya. Terlalu banyak hal-hal ganjil yang terjadi—dan tidak bisa ia abaikan begitu saja. Pertama adalah sikap dingin Sasuke yang seolah sama sekali tidak ingin berinteraksi dengannya. Dan yang kedua adalah Hinata yang tak beda jauh, bersikap seolah sedang menghindarinya.
Awalnya Sai mengira gadis tersebut hanya sedang sibuk. Telepon maupun pesan singkat tidak mendapat respon seperti biasanya. Bahkan sejak penyambutan fun camp, Hinata selalu menghindari kontak mata dengan Sai.
Sai tidak biasa diabaikan seperti ini. Diacuhkan merupakan perlakuan yang lebih buruk daripada dimaki atau dimarahi—terutama oleh Hinata.
Jam bebas sore hari, kebetulan Sai tidak ada tugas. Laki-laki itu pun bermaksud untuk mencari Hinata. tadi ia sudah mencari di halaman depan, namun nihil. Kini tujuannya adalah taman tengah villa.
Sai sedang menyusuri lorong terbuka saat kedua manik kelamnya menangkap sosok gadis yang ia cari. Gadis itu terlihat sedang becanda bersama kedua temannya di salah satu gazebo. Tanpa sadar, bibir Sai tertarik membentuk senyuman. Ia pun menghampiri perlahan agar tak menarik perhatian.
Kebetulan Hinata duduk membelakanginya, sehingga Sai lebih bisa menguasai diri. Ia sangat merindukan senyuman lembut Hinata. Seandainya hanya ada mereka berdua, mungkin Sai sudah memeluk gadis bersurai indigo tersebut.
"Hinata."
Meskipun hanya satu nama yang dipanggil, namun ketiga gadis itu menoleh. Sebuah suara yang sudah sangat mereka kenali.
Hinata berbalik dan tampak terkejut. Namun gadis itu berusaha agar tetap tenang. Walaupun begitu Hinata tak menjawab. Ia hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Dulu ia merasakan debaran tersendiri saat Sai memanggil namanya. Tapi kini yang Hinata rasakan hanya kekesalan.
Sebagai gadis cerdas Sakura langsung bisa membaca suasana. Ia langsung menarik Tenten untuk pergi menjauh. "Kami mau jalan-jalan dulu, ya? Senpai, tolong temani Hinata!"
Dan sebelum Hinata bisa menjawab, kedua temannya itu sudah kabur duluan. Hinata hanya bisa menghela napas pasrah.
Sai memposisikan dirinya duduk di hadapan Hinata. Maniknya tak lepas sedikitpun dari gadis tersebut. Terus mengamati gerak-gerik dan ekspresi si gadis.
"Apa kabar, Hinata?" Mungkin terdengar basa-basi, tapi Sai benar-benar bingung harus memulai pembicaraan darimana. Hinata selalu bisa mengacaukan dirinya—seorang Uchiha Sai yang tenang dan selalu bisa dengan mudah menghadapi situasi sulit.
"Baik, Senpai."
Senyum belum menghilang di wajah Hinata, menyembunyikan kegelisahannya—sayang tak cukup sempurna. Dan Sai bisa menangkap hal itu.
"Semalam kau tak membalas pesanku. Kenapa?"
Hinata sedikit mendongak—tapi cepat-cepat menunduk lagi. Seperti lebih memilih untuk memandangi lantai gazebo daripada bertatapan dengan oniks Sai. "Ah … g-gomen. Aku sudah tidur."
Sai menghela napas dengan berat. Apa yang ia duga benar adanya. Hinata memang sedang menghindarinya. Tidak mau melakukan kotak mata serta menjawab pertanyaan dengan sangat singkat, seakan tidak ingin berlama-lama terlibat pembicaraan dengannya. Tapi Sai tak mengerti. Apa yang sudah ia lakukan hingga Hinata yang berhati lembut bisa mengabaikannya seperti ini?
"Hinata … aku merasa kau sedang menghindariku. Kenapa?" Sai sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya—tapi ia masih mempertahankan nada tenangnya.
Manik lavender Hinata membulat. Pertanyaan Sai yang tanpa basa-basi membuatnya terkejut. Gadis itu tampak ragu. Namun sesaat kemudian Hinata menggeleng, menyangkal dugaan Sai yang sebenarnya tidaklah salah. "Ti-tidak…"
Satu helaan napas dari Sai—lagi. Irisnya memandang Hinata semakin intens. "Kau tahu Hinata… kau ini tidak pintar menyembunyikan sesuatu."
Sekali lagi Hinata nampak terkejut. Tapi meskipun tampak panik, gadis itu memilih untuk tak menjawab pertanyaan Sai. Hening mengisi selama beberapa saat.
Sai berdiri—mendekati Hinata— lalu memegang bahu mungil gadis itu. Ia mulai frustasi. "Hinata, apa salahku?!"
Hinata langsung menepis kedua tangan Sai dengan tegas—reaksi yang cukup untuk membuat topeng tenang di wajah Sai menjadi hancur. Sai tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya. Begitu juga dengan Hinata. Wajahnya memerah, namun bukan karena merona seperti biasanya—melainkan karena marah.
"Hinata…"
Hinata berusaha keras tak goyah saat kedua maniknya bertemu pandang dengan manik kelam pemuda di hadapannya. Sambil terbata-bata, Hinata memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang dirasakannya.
"Aku… a-aku tak menyangka… S-senpai adalah laki-laki yang bisa … menyatakan s-suka padaku padahal sudah punya tunangan. K-karena itu… jangan m-mendekatiku lagi, Senpai." Segera setelah mengatakan itu, Hinata melangkah pergi. Tanpa menoleh sedikitpun.
Kini giliran Sai yang tidak bisa berkata apapun. Napasnya terasa tercekat. Tubuhnya mematung. Detak jantungnya berpacu lebih cepat. Ia bisa melihat jelas punggung kecil nan rapuh Hinata yang semakin menjauh, namun ada yang menahan tubuhnya agar tak bergerak—entah apa itu. Dan sampai sosok gadis itu tak lagi tertangkap oleh kedua manik gelapnya, Sai baru menyadari kesalahan fatal yang telah ia lakukan.
.
.
…RDR…
.
.
Waktu sudah menunjukkan malam hari, dimana matahari telah bersembunyi rapat hingga langit menjadi gelap. Suasana menjadi semakin gelap karena awan mendung yang membuat bintang-bintang tak terlihat. Tetapi hal itu tidak menghalangi kegiatan malam yang telah dijadwalkan oleh panitia fun camp.
Night Outbond.
Itulah acara yang sedang berlangsung malam ini. Seperti namanya, Night Outbond merupakan kegiatan tracking melalui jalur outbond sekitar Koukyuu Inn yang dilakukan pada malam hari. Sebuah acara camp tidak akan lengkap tanpa tracking—tentu saja. Selain itu, acara ini bertujuan untuk melatih keberanian murid-murid dalam kegelapan, mental yang kuat dan tidak pengecut.
Konsep acara Night Outbond ini tidak berbeda jauh dengan outbond pada umumnya. Peserta camp akan dibagi menjadi kelompok-kelompok, dimana masing-masing kelompok terdiri dari dua orang. Setiap kelompok harus berjalan sesuai rute yang telah ditentukan dan berhenti pada pos-pos yang tersebar di rute tracking—dengan jumlah 7 pos. Jika peserta mampu melaksanakan semua misi di tiap pos dan kembali ke basecamp —yaitu Koukyuu Inn— dengan tepat waktu, maka peserta dikatakan sukses. Waktu keberangkatan dan tiba di basecamp akan dicatat, dan kelompok dengan waktu tercepat akan mendapatkan reward di akhir acara fun camp.
Sekarang pukul tujuh malam, menandakan acara akan segera dimulai. Di halaman Koukyuu Inn dapat terlihat para peserta camp yang sedang duduk rapi, menunggu panitia memanggil nama mereka untuk berangkat tracking. Untuk menambah antusiasme peserta, urutan pemberangkatan dan pembagian kelompok berdasarkan pada undian yang dilakukan saat ini juga. Di depan sudah ada sebuah toples besar yang berisi kertas undian berisi nama-nama peserta.
"Aduh, semoga aku nggak dapat jackpot, yah." Sakura menangkupkan kedua tangannya, harap-harap cemas karena takut mendapat pasangan yang tidak sesuai kehendak hatinya.
Hinata yang duduk di samping Sakura menoleh ke arah sahabatnya itu. "J-jackpot? Memang siapa, Sakura-chan?" Alis Hinata sedikit berkerut karena tak tahu maksud sahabatnya tersebut.
Sakura menghela napas. Teringat pada seseorang yang akhir-akhir ini sering sekali mengganggunya. "Itu, si temannya Sasuke yang rambutnya kuning." Sakura sengaja tidak ingin menyebut langsung nama cowok itu.
Bibir Hinata sedikit membulat setelah mendengar jawaban Sakura. meskipun ia kurang setuju dengan Sakura yang menyebut Naruto dengan jackpot. Menurut Hinata, walaupun Naruto sering membuat onar, sebenarnya ia pemuda yang baik.
"Awas lho, nanti kau jatuh cinta padanya." Tenten yang duduk di sebelah Hinata ikut menanggapi.
Sakura menunjukkan ekspresi tak percaya pada apa yang dikatakan Tenten. Tapi baru saja Sakura akan membalas, namanya sudah dipanggil oleh Shikamaru.
"Haruno Sakura..."
Sakura menahan napas. Kedua tangannya saling bertaut erat, seraya terus berdoa.
Shikamaru membuka kertas undian satunya, dan membacakan dengan gaya malas seperti biasa."… dan Namikaze Naruto."
Sakura langsung membuang napas sambil merengut. Sedangkan Hinata dan Tenten malah tertawa geli.
"Jodoh, tuh." Goda Tenten sekali lagi, menghasilkan jitakan dari Sakura sebagai balasannya.
Walaupun tersenyum dan mencoba untuk terlihat tenang, namun sebenarnya dalam hati Hinata sangat gelisah. Ia bukan gadis yang menyukai tempat gelap. Bahkan Hinata tidak pernah mematikan lampu kamarnya saat tidur. Gelap membuat Hinata merasa ruangan di sekitarnya menyempit. Ia juga tidak bisa melihat apapun dalam gelap. Karenanya, sejak dulu Hinata kurang suka mengikuti acara tracking malam seperti ini. Hinata hanya berharap namanya segera dipanggil sehingga tidak harus tracking hingga dini hari.
Sayangnya harapan sederhana Hinata tidak terkabul. Hanya sisa beberapa orang hingga akhirnya nama Hinata dipanggil juga. Padahal waktu sudah menunjukkan jam 9 lebih. Pasangannya adalah Igarashi Aya dari kelas sebelah.
"Yang harus kalian lakukan hanya mengikuti jalan sesuai arah panah yang telah diletakkan di titik-titik seperti peta ini," Shikamaru menyerahkan sebuah peta, kemudian melanjutkan," dan selesaikan misi di tiap pos secepat mungkin, karena kalian hampir menjadi kelompok terakhir."
Hinata mengangguk. Setelah menerima senter, gadis itu mulai melangkah bersama pasangannya. Selama perjalanan tracking mereka tidak banyak berbincang. Aya ternyata gadis yang lebih pemalu dari Hinata. Pantas saja Hinata jarang melihat gadis itu.
Tugas yang diberikan di pos-pos awal tidak terlalu sulit, sehingga mereka dapat melaluinya dengan lancar. Hanya misi-misi melalui permainan sederhana seperti halnya acara outbond. Masalah datang saat mereka berada di pos keenam.
Misi.
Salah satu orang harus mengambil pena di atas meja yang ada di kabin tengah hutan. Satu orang lainnya menghitung waktu. Jika peserta tidak dapat mengambil pena pada batas waktu maksimal, maka misi dinyatakan gagal.
Misi yang paling Hinata takutkan. Disuruh mengambil sesuatu di tempat sepi dan gelap seorang diri. Bahkan membayangkannya saja sudah membuat Hinata sulit bernapas.
Hinata perlahan melirik teman kelompoknya—sedikit berharap ia mendapat tugas sebagai penghitung waktu saja. Tapi yang ia dapati adalah wajah Aya yang terlihat sangat cemas. Dan Hinata tahu keinginannya itu sia-sia.
Tidak tega melihat ekspresi tertekan teman outbond-nya, Hinata mencoba untuk berani dan tidak pengecut. "Biar aku saja yang pergi."
Aya menatap Hinata ragu. "Apa tidak apa-apa, Hinata-san?"
Hinata mengangguk mantap. "Mm. Tidak apa." Kemudian tersenyum ketika wajah teman kelompoknya itu menjadi cerah.
"Hanya tinggal mengukuti jalan setapak itu dan berjalan sekitar 200 meter, maka kau akan menemukan sebuah kabin." Salah seorang panitia yang berjaga di pos tersebut memberi penjelasan. Hinata mengangguk mengerti.
Tak disadari oleh Hinata, Tayuya sebagai penjaga pos lainnya tengah tersenyum licik. Wajahnya memancarkan kepuasan—karena rencananya berjalan mulus. Dengan nada bicara yang dibuat semanis mungkin, Tayuya berkata, "kalau begitu… silahkan dimulai." Ia melanjutkan kalimatnya dalam hati.
'Dan silahkan nikmati sepanjang malam ini sendirian di tengah hutan, cewek munafik!'
.
.
…RDR…
.
.
Dengan jantung yang berdebar-debar, Hinata melangkah cepat-cepat menembus pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi. Ia bisa merasakan tubuhnya sedikit bergetar dan tegang. Takut, tentu saja. Kanan kirinya begitu gelap, sama sekali tak ada penerangan. Cahaya bulan pun tak membantu karena tertutupi oleh mendung. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari senter yang dibawanya.
Setelah beberapa saat berjalan memasuki hutan lebih dalam, akhirnya Hinata bisa melihat sebuah kabin. Namun jarak yang jauh membuat Hinata ragu kalau jarak kabin dari pos hanya sekitar 200 meter.
Menghirup napas dalam-dalam—sembari berdoa dalam hati— Hinata mendekati kabin yang juga gelap tersebut. Hinata mengarahkan senternya, dan ia bisa melihat pintu kabin yang terbuka. Tak ingin membuang waktu dan ingin segera pergi dari tempat menegangkan tersebut, Hinata sedikit berlari memasuki kabin untuk mencari pena yang dimaksud.
Kabin itu berukuran kecil. Di dalamnya tidak ada apa-apa. Hanya sebuah meja yang telah reyot. Dengan penerangan dari senternya, Hinata bisa melihat pena terletak di atas meja tersebut. Segera saja Hinata mendekati meja yang terletak di sudut ruangan kabin.
Kriett
Suara derit pintu yang ditutup tiba-tiba terdengar, membuat langkah Hinata terhenti.
Hinata menoleh. Panik langsung menyerangnya saat mendapati pintu kabin yang telah tertutup rapat. Gadis itu cepat-cepat berlari untuk membuka pintu itu, namun tidak bisa. Seperti ada menahannya di luar.
'Apa ini bagian dari misi? Apa panitia benar-benar tega mengerjai junior-juniornya seperti ini?'
Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Hinata, membuatnya semakin panik. Namun yang Hinata tahu, ia harus segera keluar dari kabin sekarang juga.
"To-tolong. B-buka pintunya! S-senpai? Tolong… j-jangan seperti ini."
Sambil menahan airmata saking takutnya dengan gelap, Hinata masih berusaha membuka pintu itu. ia mengetuk-ngetuk, meminta agar pintu segera dibuka. Tapi hanya suara kekehan yang ia dapatkan.
"Maaf, Nona. Aku hanya disuruh seseorang. Kau bermalamlah yang nyaman di sini. Selamat tinggal."
Suara orang asing yang tidak Hinata kenali. Dan bersamaan dengan selesainya kalimat itu, Hinata mendengar langkah kaki yang menjauh.
Tubuh Hinata mendadak lemas. Gadis bersurai indigo itupun jatuh terduduk di lantai. Airmatanya tidak bisa ditahan lagi. Hinata juga tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada alat komunikasi dan ia berada di tengah hutan. Sendirian.
'Kami-sama… sekarang apa lagi?'
.
.
.
t.b.c
.
.
Fiuh~ akhirnya selesai. :D
Sebelumnya author minta maaf sebesar-besarnya … author ngga sadar kalo ternyata udah hampir satu tahun ngga update fic ini sebenarnya mulai nulis udah 2bulan lalu, tapi urusan kampus ngga bisa ditunda. Jadi mohon maklum yaaa ^^
Oia,, tokoh Aya itu OOC ya. Karena saya bingung mau siapa . . dan untuk typo yg bertebaran, tolong abaikan saja. keke.
Terimakasih sebesar-besarnya bagi yang sudah menyempatkan mampir, juga ngasih review. :D
Special thanks to : nazuka hanami , FaffaHany , Akemi M.R , Neerval-Li , Sabaku No'Ruki-Chan , harunaru chan, Bonbon 0330 , ck mendokusei , jenaMaru-chan , YUPI love SasuHina , Cheryl19 , astia morichan , Ryu Matsuda , neng gaara , Hasegawa Nanaho , Noira Hikari , rosecchin , Suzu Aizawa Kim , Kertas Biru , Hyou Hyouichiffer silahkan cek PM yaa. buat Moderato, IndigOnyx , yuuaja , Mamoka , Naomi JA , HyuUchi May , gomenneee update nya baru bisa sekarang . SpaKyuHae elf yuuup saya sone dan exofans. Haha :D . iyaaa moekaree, ganteng banget cowoknya :D . n wadu, jangan dibuang. Kasih aku aja sini XD.
Yap … biar ngga kepanjangan, sekian dari sayaa~
Semoga chapter ini ngga mengecewakan. Kritik review saran sangat diharapkan author, tapi author tidak menerima flame pairing! :D
Jaaa~
Kiss&hug,
Ayuzawa Shia
.
.
.
.
RnR please, minna-chama? ^^
.
.
