.
Title: Run Devil Run
Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
Pairing: SasukexHinata, SaiXHinata, SaiXIno
Genre: Romance; Drama
Warning: AU, OOC, crack pair [hope not], misstype, dll
.
Run Devil Run
Chapter 12
.
.
Happy reading
.
.
Uchiha Sasuke tidak pernah menyukai acara-acara semacam ini. Study tour, outbond, fieldtrip maupun camping. Tidak suka. Jika ada orang yang mengajaknya mengikuti acara-acara itu, jawaban Sasuke hanya satu.
Hell no!
Bukannya Sasuke benci. Ia hanya malas, karena outing-outing yang demikian hanya akan mengingatkannya pada kenangan saat dirinya masih kecil. Uchiha Mikoto—mendiang ibunya—selalu membawakan banyak bekal jika ada acara outing maupun hanya outbond sehari. Lalu, Itachi yang akan mengepak baju-bajunya dan peralatan yang ia bawa. Itachi akan memastikan bahwa tidak ada satupun barang yang tertinggal.
Kenangan yang manis sebenarnya. Namun jika mengingatnya, hati Sasuke bagai diiris sembilu. Perih sekali. Karena kedua orang yang paling ia sayangi, kini tidak ada lagi di sampingnya.
Oleh sebab itu, Sasuke selalu menghindari acara-acara tersebut. Dulu saat ia masih berada di London, ia akan membuat berbagai alasan agar bisa men-skip acara-acara itu. Entah berpura-pura sakit atau ada acara keluarga yang sangat penting.
Namun karena sekarang ada Naruto di sekitarnya, berbagai alasan yang telah ia susun agar bisa kabur dari acara fun camp menjadi tak berguna. Naruto memang pintar dalam memainkan kata-kata, membujuk dan menghasut orang lain. Entah Sasuke harus senang atau kesal akan hal itu. Yang jelas, saat ini Sasuke sedang merasa bosan. Sangat bosan.
Melihat bahwa sejauh ini belum ada kegiatan fun camp yang menarik, ia memutuskan untuk tidak membuang waktu hanya untuk mengikuti night outbond. Apalagi setelah tahu bahwa pembagian kelompok dilakukan dengan undian. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa Sasuke bisa sekelompok dengan Hinata. Dan sampai saat ini, dewi fortuna jarang berpihak padanya. Jadi, daripada dirinya berpasangan dengan orang yang tidak dikehendakinya, lebih baik ia tidak ikut.
Dan sekarang Sasuke sedikit menyesal akan keputusan yang ia buat.
Koukyuu Inn terlihat sepi. Begitu lengang. Hanya ada segelintir panitia yang bertugas menjaga basecamp ditambah dengan pegawai-pegawai Koukyuu Inn sendiri. Tadinya ia ingin tidur, tapi rasa kantuk tidak mau datang dan malah menjadi bosan sendiri. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk berkeliling Koukyuu Inn. Siapa tahu ada sesuatu menarik yang dapat mengatasi rasa bosannya.
"Mereka sudah berhasil menjebak si Hyuuga itu. Bukankah menyenangkan?"
Saat menyusuri lorong terbuka, sebuah suara terdengar di sela-sela kesunyian Koukyuu Inn. Suara seorang perempuan. Tadinya Sasuke ingin mengabaikan, tapi begitu menangkap kata 'Hyuuga', ia mengurungkan niatnya. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Ada sedikit kecemasan. Hyuuga yang mana yang sedang perempuan-perempuan itu bicarakan?
"Memang begitu seharusnya." Suara lain terdengar. Kali ini suara yang sedikit melengking.
Dan suara pertama menyahut lagi. "Setelah ini, dia tidak akan dekat-dekat dengan Sai maupun Sasuke lagi. Cewek belagu, sih."
Sasuke merasakan amarahnya naik. Matanya menyala-nyala. Ia pun segera berbelok, berjalan cepat dengan tangan terkepal erat mendekati sumber suara.
"Dimana Hinata?" tanya Sasuke dengan suara rendah dan dingin.
Kedua perempuan yang mengenakan pakaian khas panitia itu menoleh. Sasuke tidak tahu siapa nama kedua wanita itu, tapi yang jelas, mereka adalah teman-teman wanita yang pernah mem-bully Hinata.
Mata mereka terbelalak saat menyadari siapa yang tengah mereka hadapi. Ketakutan menjalari kedua perempuan tersebut. "A-apa maksudmu?" tanya salah satu dari mereka, sambil bergerak mundur pelan-pelan.
"DIMANA HINATA?!" bentak Sasuke. Ia tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Orang-orang di depannya itu benar-benar membuatnya muak. Sasuke benci orang-orang yang sok berpura-pura inosen.
Dan bentakan Sasuke sukses membuat kedua perempuan itu berjengit kaget. Dengan cepat, salah satu dari mereka menjawab. "K-kabin … tengah h-hutan."
Sasuke segera berbalik. Ia tidak ingin membuang waktu. Namun sebelum berlalu, Sasuke mengucapkan kalimat dengan nada mengancam yang berbahaya.
"Kupastikan kalian akan membayar semua ini."
.
.
~RDR~
.
.
Sasuke berlari. Menembus pepohonan dan semak-semak, yang kadang memiliki sisi daun yang tajam dan berduri. Namun ia tidak peduli dengan semua itu. Hal yang ada di kepalanya saat ini hanyalah menemukan Hinata.
Saat ia melewati di pos-pos outbond malam, sudah tidak ada orang di sana. Menurut jadwal, acara night outbond memang seharusnya sudah selesai. Ia ingin menanyakan dimana letak kabin pada Naruto, tapi tidak ada sinyal yang berhasil ditangkap ponselnya. Dan Sasuke memilih untuk tidak memberitahu Neji terlebih dulu, karena laki-laki tersebut memiliki sister-complex. Sasuke tidak bisa dan tidak mau membayangkap kalapnya Neji kalau tahu adiknya dijahati.
Sasuke mendecih. Pasti semua ini sudah direncanakan dengan licik. Ia melupakan fakta bahwa perempuan-perempuan yang melabrak Hinata itu termasuk orang-orang yang ditakuti di sekolah.
Sasuke semakin memasuki hutan. Dadanya bergemuruh. Kecemasan semakin merasuki dirinya. Ia benar-benar takut bila ada sesuatu terjadi pada gadis yang ia kasihi. Apalagi Hinata adalah tipe gadis yang mudah panik.
Kedua manik hitam Sasuke tiba-tiba menangkap sebuah bangunan, seperti rumah namun kecil, berjarak tak jauh dari tempatnya berdiri. Langit terlihat semakin gelap, cahaya bulan pun kini ditutupi awan. Satu-satunya sumber cahaya hanya berasal dari senter di ponselnya.
Sasuke berjalan cepat mendekati kabin itu. Ia mengarahkan ponselnya ke pintu, dan terlihat bahwa pintu kabin dikunci dengan gembok.
"Hinata. Hinata? Kau di dalam?"
Hiks… Hiks…
Isakan tangis itu cukup membuktikan kalau Hinata memang ada di dalam. Sepertinya gadis itu terlalu larut dalam kepanikannya hingga tidak bisa mendengar panggilan Sasuke.
Sasuke melihat sekeliling. Mengarahkan cahaya senter yang tidak seberapa terang untuk mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk membuka pintu. Tidak menemukan apapun, Sasuke lalu bersiap-siap untuk mendobrak pintu tersebut.
BRAK!
Tidak terbuka. Namun Sasuke bisa mendengar teriakan kecil Hinata.
"Hinata, tenang. Ini aku." Seru Sasuke, tidak ingin membuat Hinata bertambah ketakutan.
"S-Sasu-Sasuke?"
Setelah mendengar suara Hinata yang penuh harap, Sasuke kembali mendobrak pintu. Lagi dan lagi, sampai beberapa kali. Sasuke mengembuskan napas kesal. Ia mengumpulkan kekuatannya, lalu mengarahkan kakinya untuk mendobrak dengan keras.
BRAKH!
Pintu berhasil terbuka.
Sasuke memasuki kabin. Ponselnya ia arahkan ke seluruh ruangan. Ia mendapati Hinata tengah meringkuk di pojok kabin. Seperti seekor kelinci yang ketakutan. Dan itu membuat dadanya serasa ditusuk-tusuk. Sakit. Baru seminggu yang lalu dia berjanji akan selalu melindungi Hinata, tapi kini gadis itu kembali disakiti.
"S-Sasuke…" Hinata memandangnya dengan mata basah sehabis menangis. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Tanpa pikir panjang, Sasuke menghampiri Hinata. Ia berlutu didepan gadis itu, kemudian menarik tubuh Hinata dan merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan.
"Sudah… sekarang ada aku di sini."
Tapi Hinata malah kembali terisak di dada Sasuke, sambil memegangi bagian depan baju laki-laki tersebut dengan kencang. Kenyataan yang membuat hati laki-laki bersurai gelap itu semakin sakit. Ini kesekian kali Hinata menangis di depannya, dan Sasuke tidak bisa melakukan apapun. Ia melakukan kesalahan. Seandainya ia lebih peka, seandainya ia menyadari lebih awal, pasti Hinata tidak akan mengalami hal ini.
Sasuke mengusap kepala Hinata perlahan, bermaksud untuk menenangkan. Laki-laki itu tidak mengucapkan apapun. Ia bukan orang yang pandai menghibur. Hanya dalam diam, Sasuke mengutarakan maksudnya dengan gerakan.
Setelah isakan Hinata mulai reda, Sasuke melepaskan pelukannya. Dalam keremangan, dipandanginya wajah Hinata yang masih berkaca-kaca.
"Ayo kembali ke penginapan."
Hinata mengangguk. Tangannya terangkat, menghapus jejak-jejak airmata di pipi tembamnya. Sasuke sudah berdiri, dan pemuda itu mengulurkan tangannya.
Sebuah senyum akhirnya menghiasi wajah Hinata. Dia meraih tangan Sasuke dan bangkit berdiri. Namun saat ada sebuah suara menggelegar terdengar,
"KYAA!"
Hinata refleks memeluk Sasuke. Suara petir terdengar menyambar-nyambar. Disusul bunyi gelegar lainnya. Juga ada kilatan yang besar yang terasa seperti tepat berada di atas kabin, hingga membuat Hinata menjerit dan semakin mengeratkan tubuhnya pada tubuh Sasuke.
Hinata sebenarnya tidak takut dengan hujan. Dia hanya mudah kaget oleh suara petir. Apalagi sekarang ia berada di kegelapan dan ruang sempit yang tertutup. Hal itu tidak membantu sama sekali.
Hujan kemudian menyusul. Dimulai dari rintik-rintik kecil, kemudian intensitasnya semakin besar dan hujan lebat pun terjadi tak lama setelahnya.
"Kita tidak bisa pulang sekarang," ucap Sasuke sambil memandang keluar. Hujan deras sekali. Ia tidak mau mengambil resiko. Selain mereka berdua berpotensi besar terkena demam, jalan menuju penginapan banyak yang cukup terjal dan licin.
Cahaya yang ada di ponselnya mati, dan Sasuke bisa merasakan tubuh Hinata semakin tegang. Laki-laki tersebut menyeringai. Ia baru menyadari kalau sejak tadi Hinata memeluknya begitu erat. Sasuke bahkan bisa merasakan seluruh tubuh Hinata menempel ketat di tubuhnya.
"Sebegitu nikmatnya berada di pelukanku, eh?" bisik Sasuke, sambil melingkarkan tangan ke tubuh Hinata.
Ada jeda hening sejenak. Sebelum akhirnya otak Hinata bekerja kembali untuk mencerna kalimat Sasuke. Tersadar, gadis bersurai midnight blue tersebut buru-buru melepaskan diri dari Sasuke.
"S-Sasuke~…" rengek Hinata ketika Sasuke tak mau melepaskan dekapannya. Kedua tangan Hinata mengepal, lalu memukul-mukul pelan dada bidang Sasuke.
"L-lepaskan…"
Cicitan Hinata justru membuat Sasuke semakin menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Menyeringai. Seandainya mereka tidak berada di tempat yang sangat gelap ini, pasti ia bisa melihat wajah Hinata yang menyaingi warna rambut Sabaku Gaara.
Akhirnya setelah puas mengerjai Hinata, Sasuke membebaskan gadis itu. Dia hidupkan lagi senter di ponselnya, lalu berjalan untuk menutup pintu yang kini tuas atasnya telah rusak. Setidaknya pintu itu bisa menghalangi masuknya udara dingin.
Ia lalu duduk di sudut kabin, dan mengisyaratkan Hinata agar duduk di sampingnya. Hinata menurut.
Mereka berada dalam keheningan selama beberapa saat. Lalu terdengar Hinata bersuara lirih. "Sasuke… sepertinya tidak menikmati fun camp. Um… kenapa?"
Terdengar helaan napas kemudian. Hinata menunduk, sedikit menyesali pertanyaannya. Ia hanya bermaksud agar Sasuke tidak bosan dengan keheningan ini.
"Karena… aku jadi teringat ibu dan kakakku." jawab Sasuke singkat.
Atmosfer di sekitar mereka mendadak jadi berat. Hinata kini benar-benar merutuki dirinya yang ceroboh. Membayangkan betapa kesepiannya Sasuke yang hidup seorang diri membuat dadanya sesak. "Maaf…" lirihnya.
"Hn. Makanya, kau harus selalu menemaniku biar aku tidak kesepian." ujar Sasuke, seolah bisa mengetahui apa yang sedang di pikirkan Hinata.
Hinata tidak menjawab, hanya menunduk malu. Akhir-akhir ini ia merasa semakin tidak bisa membalas kejahilan Sasuke. Ia tahu Sasuke main-main dengan ucapannya, tapi tetap saja hal itu membuat hatinya berdebar-debar.
Hujan di luar semakin deras. Angin semakin dingin. Tubuh Hinata mulai menggigil. Awalnya tidak terlihat, namun lama-lama Sasuke merasakan tubuh Hinata gemetar. Laki-laki tersebut memandang sekeliling. Tidak ada harapan. Di kabin kecil tengah hutan yang tidak terawat ini, tidak mungkin ada selimut. Sasuke mendesah. Tidak ada piihan lain.
Sasuke membuka baju lengan panjangnya, yang membuat Hinata langsung membelalakkan mata.
"S-Sa-Sasuke? Ka-kau mau apa?" Tanyanya lirih. Ada kepanikan di suaranya.
"Aku cuma tidak mau dibunuh Neji gara-gara kau mati kedinginan. Cepat kemari." Sasuke menjawab masih dengan mempertahankan wajah datarnya.
"Huh?"
Sasuke memutar matanya. "Tidak ada cara lain, Hinata. Satu-satunya cara menghangatkan diri di situasi seperti ini hanyalah dengan saling memberi kehangatan dari tubuh kita."
Mata besar beiris putih keunguan itu semakin melebar. Dengan tubuh? Pikiran Hinata melayang pada bayangan mereka berdua sedang menghangatkan diri dengan tubuh. Pipi Hinata memanas. Ia semakin panik. "Ta-ta-tapi—"
"Pilih tidur di pelukanku atau mati kedinginan?" sela Sasuke tidak sabar.
Wajah Hinata sudah seperti kepiting rebus sekarang. Kata-kata vulgar Sasuke membuatnya malu setengah mati. Hinata menelan ludah dengan susah payah. Benar, ia memang tidak tahan dingin. Dan kini ia benar-benar butuh sesuatu yang hangat. Tapi … masa iya dengan tubuh Sasuke? Apalagi sejak pertama kali mengenal Sasuke, laki-laki itu sudah menunjukkan bakat mesumnya.
Sasuke meletakkan bajunya di atas lantai kabin yang dingin. Lalu ia menarik Hinata yang terlihat masih sibuk berpikir, dan mendekap tubuh gadis itu erat.
Hinata terkejut. Ia mencoba melepaskan diri, namun lagi-lagi tenaganya tidak sebanding dengan milik Sasuke. "S-Sasuke… tapi—"
"Tsk! Aku tidak akan menyentuhmu. Tubuhmu kan tidak menggoda. Lagipula ini bukan pertama kalinya kita tidur bersama."
Bullshit. Tentu saja bohong. Sasuke sadar sepenuhnya kalau tubuh Hinata itu amat sangat menggoda. Tapi jika situasinya seperti ini, ia tidak mungkin jujur, kan?
Tanpa sadar Hinata mengerucutkan bibirnya. Kecewa dengan kata-kata Sasuke yang bilang ia tidak menggoda. Padahal sebelum ini, Sasuke sering bilang kalau dia itu seksi. Jadi selama ini Sasuke hanya bohong, begitu?
Tapi kemudian Hinata tidak lagi meronta-ronta. Gadis itu hanya menurut saat Sasuke membawa tubuhnya untuk berbaring. Kemeja Sasuke dijadikan sebagai alas. Mereka berhadapan, dengan Sasuke yang mendekap Hinata.
Hinata merasakan kehangatan menjalari tubuhnya. Dingin yang tadi menerpa kini berkurang. Tubuh Sasuke benar-benar hangat. Gadis lembut itupun mencoba memejamkan mata. Rapat-rapat. Menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Hal yang selalu dilakukan untuk menenangkan diri, karena dadanya bergemuruh kacau.
Namun tidak bisa. Cara itu tidak berhasil. Setelah beberapa saat, jantungnya malah berdegup semakin kencang. Dalam hati ia menjerit-jerit. Kalau bisa, ia ingin pingsan saja. Meskipun ia merasa nyaman berada di pelukan Sasuke, tetap saja hal ini membuatnya malu.
Tanpa diketahui Hinata, laki-laki yang sedang memeluknya itupun mengalami hal yang sama. Sasuke berusaha memejamkan matanya rapat, namun banyangan Hinata tidak mau hilang dari kepalanya. Apalagi dengan tubuh gadis itu yang menempel ketat di tubuhnya. Sasuke benar-benar berusaha keras mengenyahkan pikiran tidak-tidak yang tiba-tiba melintang. Dan menahan mati-matian agar sesuatu di bawah sana tidak bereaksi karena excited.
"S-Sasuke?"
"Hn?"
"K-kamu... deg-degan?"
"Berisik! Cepat tidur! Kalau tidak, aku benar-benar akan menciummu."
Hinata langsung bungkam, namun ia mengulum sebuah senyuman. Ya, ia bisa mendengar detak jantung Sasuke dengan posisi seintim ini. Gadis itu senang, karena ternyata bukan hanya dia yang berdebar-debar tidak karuan.
.
.
~RDR~
.
.
Koukyuu Inn
Suasana penginapan di pagi hari dipenuhi oleh kegemparan akan hilangnya Hinata. Baru saja Sakura melaporkan pada panitia —yaitu Neji— kalau Hinata tidak pulang semalam. Karena kelelahan, teman-teman sekamar Hinata yang sudah tepar tidak sadar kalau anggota kamar tersebut berkurang satu. Dan reaksi Neji sudah bisa ditebak.
Membatu senejak. Sebelum akhirnya berteriak, hingga menimbulkan keributan seperti sekarang.
Mata Neji berkilat-kilat karena kepanikan yang luar biasa. Ia merutuki dirinya yang semalam tidak sempat mengecek kondisi Hinata. Neji kalap. Bingung. Sampai ia tidak sadar kalau ia hanya mondar-mandir kesana kemari, menggumamkan kalimat kalau Hinata telah hilang. Juga, Neji melupakan hal penting yang harus ia curigai. Bagaimana mungkin ada peserta yang tidak pulang tanpa diketahui oleh panitia, padahal keberangkatan dan kepulangan dari night outbond harus melalui absen?
Di salah satu sudut Koukyuu Inn, berdiri dua orang laki-laki berambut mencolok. Yang satu berwarna kuning, yang satunya lagi berwarna merah. Si rambut kuning terlihat serius berpikir. Sedangkan si rambut merah bersandar di dinding, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Ekspresinya datar.
"Gaara."
"Hm?"
"Hinata hilang."
"Hm."
"Sasuke juga tidak ada."
"Lalu?"
Naruto menatap Gaara dengan tatapan horor. "Jangan-jangan… S-S-Sasuke yang menculik Hinata dan melakukan tipu da—hmmph"
Belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Gaara sudah membekap mulut laki-laki tersebut. Naruto yang sedang panik seperti itu memang jadi tidak bisa berpikir normal. Tidak beda jauh dengan Neji.
"Diam, Naruto. Kau bisa memperburuk keadaan!"
Masih dengan membekap mulut Naruto, Gaara menyeret putra tunggal Namikaze tersebut menjauhi sumber keributan. Naruto meronta, tapi Gaara tidak peduli dan tetap menyeretnya. Setelah mereka berada di sisi belakang Koukyuu Inn yang sepi, barulah Gaara melepaskan Naruto.
"Hish! Kau ini!" Naruto protes dengan sewot, tapi lagi-lagi Gaara mengabaikannya.
"Kita harus mencari mereka lebih dulu."
Naruto mengangguk-angguk. "Tapi kita tidak tahu dia ada dimana," gumam Naruto kemudian. Kepalanya tertunduk lesu.
"Ada yang aneh. Bagaimana mungkin ada yang semalam tidak pulang dari night outbond tapi panitia tidak tahu?" Gaara menyipitkan mata. Semua kejadian ini memang janggal. Ada yang tidak beres.
Naruto berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Yang bertugas mencatat absen night outbond adalah cewek yang rambutnya merah dan berkacamata. Aku lupa siapa namanya."
"Cewek yang melabrak Hinata minggu lalu?" tebak Gaara.
Kedua bola mata Naruto melebar, lalu ia menjentikkan jari. "Benar, Gaara! Dan panitia yang ada di pos terakhir adalah yang sering bersama cewek itu!"
Gaara menaikkan bagian dimana alisnya seharusnya berada, lalu menyeringai. "Kita hanya perlu mencari mereka."
Keduanya segera pergi untuk mencari orang-orang yang diduga bertanggung jawab atas semua ini. Mereka berjalan dengan langkah cepat, menyusuri halaman belakang Koukyuu Inn. Saat akan berbelok, tepatnya dari arah tempat parkir terlihat beberapa orang mencurigakan.
Ada seorang gadis yang terlihat sedang terpojok, dengan dikelilingi beberapa orang. Dan Naruto maupun Gaara mengenal beberapa dari orang tersebut.
"Itu mereka," bisik Naruto. Ia dan Gaara melangkah diam-diam, agar tidak menimbulkan suara. Mendekat hingga pada jarak mereka bisa mendengar percakapan wanita-wanita tersebut.
"Kalau kau berani membocorkan hal ini pada orang lain, kupastikan kau akan dikeluarkan dari sekolah ini!" Seorang perempuan dengan rambut merah panjang dan berkacamata tampak sedang mengancam. Sedangkan gadis yang diancam terlihat ketakutan. Naruto mengenali gadis tersebut sebagai pasangan Hinata saat outbond.
Karin bergerak maju, kedua tangannya bersilangan di depan dada. "Ini hanya rahasia diantara kita. Mengerti?"
"Rahasia apa?"
Naruto keluar dari tempat persembunyiannya. Ia sudah tidak tahan melihat acara pem-bully-an semacam itu. Juga, Naruto tidak mau semakin membuang waktu. Gaara mengikuti di belakangnya.
Karin dan teman-temannya tampak terkejut. Sama sekali tidak menyangka, kalau perbuatan mereka akan dipergoki oleh orang lain. Padahal mereka sudah memilih tempat yang sepi, di saat semua orang sedang sibuk membicarakan hilangnya Hinata.
"Hei… Kau!" tangan Naruto terangkat, menunjuk ke arah Karin. Memangnya siapa dirimu sampai bisa mengeluarkan dia dari sekolah ini, hm?" Ekspresi Naruto terlihat serius. Suaranya terdengar dingin, tidak seperti biasanya.
Karin diam. Tidak menjawab. Ia hanya menatap Naruto dengan wajah memerah karena kesal.
Naruto melangkah maju. Sampai di depan Karin, ia mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya berada di depan wajah wanita tersebut."Kau tahu siapa penyumbang dana terbesar di yayasan sekolah ini? Itu adalah Namikaze. Dan kau tau marga yang jarang kupakai saat memperkenalkan diri? Namikaze."
Karin menelan ludah, namun ia tetap mempertahankan tatapan galaknya. Mencoba sekuat tenaga untuk tidak gentar. Berusaha tidak menunjukkan ketakutannya—bagaimanapun dirinya ini adalah seorang senpai yang ditakuti— jadi Karin tidak akan membiarkan image-nya jatuh.
Naruto menegakkan kembali tubuhnya. Matanya menyipit. Ia melanjutkan dengan nada dingin dan mengancam. "Kalau urusan siapa mengeluarkan siapa, akulah yang paling berkuasa melakukan itu."
Kalimat itu cukup membuat Karin beserta teman-temannya pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Naruto menghela napas. Laki-laki itu lalu menoleh ke samping. Ekspresinya tidak melembut, karena ia tahu gadis lemah ini juga bersalah. Bagaimanapun takutnya, tidak seharusnya gadis itu membiarkan peristiwa ini terjadi. Setidaknya ia bisa melapor pada panitia secara diam-diam, atau pada teman-teman dekat Hinata.
"Jadi, ada dimana Hinata sekarang?"
.
.
~RDR~
.
.
Tak berapa lama, Gaara dan Naruto berhasil menemukan dimana Hinata berada. Setelah tiba di kabin tua, mereka buru-buru membuka pintu. Namun kedua pemuda tersebut tidak menyiapkan diri atas apa yang akan mereka lihat.
"UWAH!" Naruto berteriak keras, sampai bergerak mundur ke belakang dan menutupi mata dengan tangannya. Seakan-akan pemandangan yang baru saja ia lihat adalah sesuatu yang haram.
Sedangkan Gaara, pemuda berambut merah itu juga sama terkejutnya dengan Naruto, namun ia lebih pandai mengatur emosinya. Gaara dengan cepat kembali pada ekspresi datarnya, lalu memerhatikan dua sosok yang masih tertidur sambil berpelukan itu.
Di sudut kabin, terdapat dua sosok yang masih tertidur dengan lelap. Sasuke memeluk Hinata dengan posesif, sedangkan Hinata balas memeluk Sasuke layaknya guling. Gaara menggeleng pelan. Hinata masih memakai pakaian lengkap. Rasanya, mereka belum melakukan 'H' seperti yang dipikirkan Naruto tadi.
"Naruto." Panggil Gaara tenang.
Naruto masih memasang wajah syok. Lalu seperti teringat sesuatu, laki-laki itu hendak berbalik. "Aku mau ke penginapan, menghubungi Neji."
Gaara mengalihkan pandangannya pada Naruto. "Kau mau Sasuke mati?"
Gerakan Naruto terhenti, lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar juga, kalau Neji tahu apa yang dilakukan Sasuke pada adik tercintanya, pasti Neji akan mengeluarkan jurus andalan karate yang sering dibanggakannya. Sebutannya gentle fist, tapi Naruto jelas tahu kalau pukulan itu sama sekali tidak gentle. Ia pernah merasakannya.
"Terus bagaimana?" Raut wajah Naruto kini mirip anak kecil yang sedang bingung.
Gaara menghela napas, sedikit frustasi pada temannya yang mendadak seperti orang bodoh. Naruto tidak pintar memang, tapi dia juga tidak seidiot ini.
"Bangunkan mereka."
Naruto menggeleng. "Kau saja."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena kau temannya Sasuke, Naruto."
"Gaara! Memangnya kau bukan temannya?!"
Rupanya, keributan itu cukup mengganggu tidur nyenyak si putri Hyuuga. Terlihat dari Hinata yang bergerak untuk melepaskan pelukan laki-laki di sampingnya, kemudian duduk perlahan. Ia lalu melenguh, menguap, serta mengusap-usap matanya. Saat kelopak matanya terbuka, kedua manik putih keunguan itu bertemu pandang dengan dua pasang mata—sapphire serta jade— yang tengah balas memandangnya.
Hinata mengernyit, lalu menoleh ke samping hanya untuk mendapati Sasuke yang masih tertidur dengan setengah telanjang. Otaknya belum sepenuhnya bekerja, jadi Hinata hanya memandangi dengan polos. Hening, tidak ada yang bersuara. Sampai akhirnya Hinata bisa berpikir normal lagi.
Sasuke masih tidur —dengan tangan masih melingkari perutnya.
Matanya terbelalak, lalu beralih menatap dua pasang mata tadi. Beralih ke sosok laki-laki di sampingnya, kemudian berganti lagi ke arah Gaara dan Naruto.
"Hinata?" Itu suara Naruto yang mencoba memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Pasalnya setelah terbangun, Hinata belum mengucapkan apapun. Hanya memandangi dengan… bingung?
Tatapan Hinata melebar. Ia menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Gaara dan Naruto melihatnya tidur bersama Sasuke?
Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Hinata. Tidak mau menghilang, tapi terus berputar hingga kepalanya pusing dan akhirnya semua menjadi gelap seketika. Hinata masih bisa mendengar teriakan Naruto, namun kegelapan semakin mendekapnya.
.
.
~RDR~
.
.
Uchiha Sai duduk terdiam, mengamati seorang gadis yang tengah tertidur di atas ranjang. Mereka berada di sebuah ruangan yang digunakan sebagai ruang kesehatan selama fun camp.
Beberapa jam yang lalu, tepatnya setelah Hinata kembali ke Koukyuu Inn, Hyuuga Neji langsung menyuruh adiknya beristirahat di ruang kesehatan. Terutama karena penampilan Hinata terlihat kusut dan wajahnya sangat pucat. Neji juga memaksa Hinata menceritakan apa yang terjadi, tapi jawaban Hinata kurang meyakinkan. Gadis itu bilang, ia tersesat lalu terjebak hujan di kabin tengah hutan. Dan karena kelelahan, Hinata pun tertidur.
Sai sendiri, sejak mengetahui kalau Hinata hilang baru setelah gadis itu kembali ke base. Sejak pagi buta, Sai berada di luar Koukyuu Inn untuk mengurus beberapa keperluan fun camp, sehingga ia tidak tahu perihal keributan yang terjadi. Dan Sai menyalahkan dirinya atas hal itu. Ia sudah gagal melindungi Hinata.
Sama seperti Neji, Sai juga tidak percaya dengan ucapan Hinata. Namun karena yang terpenting saat ini adalah keadaan Hinata baik-baik saja, mereka memutuskan untuk menunda masalah tersebut. Nanti setelah Hinata pulih, mereka akan mencari tahu kebenaran di balik menghilangnya Hinata.
"Eung…"
Suara lenguhan itu berhasil menembus pikiran Sai, membuyarkan lamunannya.
Hinata terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan dengan cahaya yang begitu terang. Setelah merasa lebih baik, Hinata menggeser tubuhnya agar duduk bersandar pada kepala ranjang. Gadis berambut panjang itu belum menyadari akan kehadiran orang lain di sana.
"Kau baik-baik saja?"
Hinata berjengit kaget. Kepalanya langsung menoleh ke samping, dan matanya terbelalak saat berhadapan dengan seseorang yang sedang tidak ingin ia temui. Hinata cepat-cepat menunduk.
Hening menyusul. Hinata tidak mau mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan Sai. Ia juga menolak bertatapan dengan senpai-nya tersebut. Satu kenyataan yang membuat Sai merasakan nyeri di dadanya.
"Kau masih marah padaku?" Sai mencoba menahan suaranya agar tetap terdengar tenang. Sebenarnya, dirinya juga marah. Marah karena sikap Hinata yang membuatnya bingung. Gadis itu marah dan menghindarinya setelah tahu ia bertunangan dengan Ino. Padahal sebelumnya, Hinata sudah menolak pernyataan cintanya.
Kalau memang Hinata marah karena cemburu dan merasa dikhianati olehnya, kenapa Hinata tidak mau jujur dengan perasaannya? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Sai. Ia benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran Hinata. Sikap Hinata membingungkan, sulit ditebak.
"Ini tidak adil, Hinata. Bagaimana denganmu sendiri? Kenapa kau menolakku?"
Sai bangkit berdiri. Nada suaranya menaik. Ditatapnya Hinata yang masih menunduk dengan tajam. "Kalau kau marah saat tahu aku punya tunangan, lalu kenapa kau menolakku?" lanjutnya lagi.
"Karena Sasuke?" Ada nada pahit di suara itu. Sai tahu —dengan pasti— kalau Uchiha Sasuke juga menyukai Hinata. Ada suatu ketakutan di dalam dirinya jika Hinata ternyata juga menyukai Sasuke.
Tapi Hinata tidak kunjung memberi jawaban. Ia masih diam. Tidak membalas satupun pertanyaan dari Sai. Bukannya tidak mau menjawab, tapi dirinya sendiri tidak tahu akan jawaban itu. Hinata belum menemukan jawabannya. Benarkah karena Sasuke? Tapi kenapa dirinya juga merasa marah saat tahu Sai punya tunangan? Mengapa ia merasa seperti dikhianati?
Sai menghela napas dalam-dalam dan menunduk sejenak. Selanjutnya, ia mendekat dan meraih bahu Hinata. Memegangnya, dan menyuruh Hinata agar mengangkat wajah.
Mata hitam Sai menatap Hinata tajam, menyelami, berusaha membaca apa yang ada di pikiran perempuan tersebut.
"Bukankah kau lebih kejam? Aku bertunangan bukan karena kemauanku. Aku hanya menyukaimu. Tapi kau? Kau menggantungkan perasaanku, Hinata!"
Terluka, itulah yang dapat Hinata lihat dari sorot mata obsidian milik Sai. Ia sudah melukai senpai-nya. Menyakiti laki-laki yang selalu membantunya, yang selalu bersikap lembut padanya.
"Se-Senpai …"
Kini, manik obsidian Sai berubah memancarkan kesungguhan. Keseriusan yang berbeda dari biasanya, yang belum pernah Hinata lihat.
"Kalau kau menerimaku, aku akan melakukan apapun untuk membatalkan pertunangan itu. Aku bersumpah."
Sai tidak membiarkan Hinata untuk menjawab. Ia menarik tubuh gadis itu, kemudian secepat kilat memajukan wajahnya. Menempelkan bibirnya pada bibir merah Hinata. Bukan ciuman yang lembut, tapi ciuman yang penuh dominasi dan dalam.
Kedua manik cerah Hinata melebar penuh keterkejutan. Sebelum otaknya mencerna apa yang terjadi, Sai sudah melepaskan ciumannya dan memeluknya sangat erat. Hinata berusaha melepaskan diri, namun Sai tidak membiarkannya.
Tanpa keduanya sadari, ada seorang laki-laki yang tanpa sengaja memerhatikan semua kejadian itu. Laki-laki dengan mata kelamnya yang kini berkilat marah. Laki-laki yang tadinya, bermaksud menemui Hinata dengan segenap harapan, dan kini harapan itu seakan runtuh di depan matanya.
.
.
-t.b.c-
.
.
Yak. Ini chapter 12 Run Devil Run!
Sekedar curcol, nulis ini jadi inget jaman SMP. Saat temen-temen deketku ngelabrak adik kelas yang kecentilan, dan aku Cuma bisa nonton dg cengo. Setengah pengen ngakak liet temen-temen pada galak, setengah kasian juga sama itu kohai. Hihi. Jahat sekaliii masalaluku dulu , tapi ngga sampe ngerjain begitu sih (n_n)
Well, pokoknya, buat yang masih sekolah, jangan pada bully-bullyan yaa~ Ngga baeek. Carilah teman sebanyak-banyaknya.
Adegan-adegan ini, banyak yang terinspirasi dari drama-drama korea. hhe
Big thanks for :: Haruna Yukira, Hasegawa Nanaho, Hyou Hyouichiffer, ryuu matsuda, jenaMaru-chan, Sasazaki mami, flowers lavender, Hyuuga Aika, Na'cchan Tsuki No Me, Riz Riz 21, nazuka hanami, ck mendokusei, Neerval-Li, Sabaku No'Ruki-Chan, FP GUDANG FANFIC SasuHina-Indo, Minions, kensuchan, D.W. Uchiha, Stacie Kaniko, Hyuuga W. Haruka ; silahkan cek PM ya cemans :3
IndigOnyx: gomen~, tolong maklum yaa. onpu azuka :eh? Makasih banyak! Maaf gabisa kilat . Yafa mut: aduh, gomen . gapapa, saya sendiri juga lupa-lupa, kok. hehe. Ayunsoraya: salam kenal juga. Makasih yaa~ ^^. Unicornz: makasih ^^. Iya, ini sudah update. Hhe . naruhimeazura: ini sudah update ^^. Guest: iyaa~ ini sudah diupdate :D . Guest (ke2): iyaa~ nanti dilanjut sampai tamat kok. sabar yah . sahyu-chan: makasih. Kamu pasti bisa bikin yg lebih keren! Semangat ^^ Princess Poetry : iyaa, ini udah dilanjut ^^. Guest (paling atas): well, duh! Di sini pairing sasuhina, ya. Dari awal saya ngga pernah nyantumin sakura lho. Thanks.
Yak. Itu tadi balasannya. Kritik komen saran dll selalu saya trima dg terbuka, tapi sekali lagi, saya ngga nrima complain pairing loh ya. ^^ dan review dari kalian, sangat berharga karena saya jadi semangat buat update. :D
Oke, sekian dulu. jaa~ minna-chama ^^
XOXO,
Ayuzawa Shia
