.

Hidup memang seringkali tidak adil. Terutama bagi mereka yang seakan diterbangkan terlalu tinggi, lalu dihempaskan dengan keras. Seperti yang dirasakan Sasuke.

.

Title: Run Devil Run

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

Pairing: SasukexHinata, SaiXHinata, slight SaiXIno

Genre: Romance; Drama

Warning: AU, OOC, crack pair [hope not], misstype, dll

.

Run Devil Run

Chapter 13

.

.

Happy reading

.

.

Setelah akhir-akhir ini ia berpikir kehidupannya mulai membaik, ternyata sebuah kenyataan pahit harus kembali Sasuke rasakan.

Dengan kehadiran dua sahabatnya, Naruto dan Gaara, serta gadis yang ia sukai, Hinata, kehidupan Sasuke sedikit demi sedikit mulai berwarna. Yang semula hanya abu-abu, sekarang warna-warna lain mulai hadir. Lelaki yang menjalani kehidupannya dengan monoton itupun mulai berani berharap. Berharap bahwa akhirnya tiba dimana dirinya bisa merasakan kebahagiaan…

dan cinta.

Tapi sekarang, Sasuke merasa bahwa takdir yang ia dapatkan benar-benar tidak adil. Terutama bila dibandingkan dengan Uchiha Sai, kakak tirinya. Berbanding terbalik, itulah gambaran keadaan mereka. Meskipun fisiknya mirip, namun kehidupan mereka benar-benar bertolak belakang. Sai selalu mendapatkan kebahagiaan, sementara Sasuke selalu kehilangan kebahagiaan itu.

Yang Sasuke rasakan saat ini, adalah ia seolah-olah dibawa terbang dengan sangat tinggi. Melambung, melayang, sampai-sampai terlena. Setelah itu, dengan cepat ia dihempaskan dengan keras. Terjatuh dan sakit.

Baru saja semalam ia merasa sangat bahagia, karena melewati malam dengan memeluk gadis kesukaannya telah membuat hatinya yang dingin menghangat. Aura yang dimiliki Hinata memang selalu bisa membuat dirinya merasa lebih baik. Sangat berkebalikan dengan aura dingin milik Sasuke. Sasuke bahkan berpikir itu adalah salah satu malam paling menyenangkan dalam hidupnya.

Dan respon Hinata yang cenderung malu-malu mau membuat Sasuke berharap lebih. Berharap kalau gadis itu juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Tapi rupanya, semua memang selalu berjalan tidak lancar.

Tadinya, Sasuke berjalan menuju ruang kesehatan dengan membawa segenap harapan. Dia berniat untuk menengok Hinata, untuk melihat senyuman menenangkan si gadis. Tetapi, Sasuke justru mendapatkan hal yang mengejutkan.

Tanpa sengaja, ia mendengarkan percakapan mereka berdua, Hinata dan Sai. Sasuke bukan orang yang gemar menguping. Jika saja pembicaraan tidak berhubungan dengan Hinata dan Sai, cowok itu pasti sudah pergi. Tapi seakan membatu, Sasuke pun hanya berdiri diam di balik dinding, sembari menajamkan pendengarannya. Tidak dapat menahan rasa penasarannya.

Percakapan itu rupanya berisi pertanyaan, mengapa Hinata marah dan menghindari Sai. Mengapa Hinata bersikap seperti itu setelah tahu bahwa Sai bertunangan. Sasuke bisa mendengar semuanya. Juga, mengapa Hinata menolak pernyataan Sai.

"Karena Sasuke?"

Dada Sasuke bergemuruh saat Sai mengucapkan pertanyaan itu. Ia juga bisa merasakan, kalau jantungnya berdetak makin kencang. Dalam hati, ia sangat berharap Hinata akan mengatakan ya.

Jeda beberapa saat. Dan ketika tak mendengar jawaban dari Hinata, Sasuke pun memutuskan untuk sedikit melihat ke dalam.

Namun, pemandangan yang ia dapati malah menghancurkan harapannya seketika. Pemandangan itu membuat salah satu sisi gelapnya yaitu kemarahan, muncul. Seperti déjà vu. Lagi-lagi Sasuke merasakan kebahagiannya direnggut oleh orang yang sama. Kakak tirinya. Uchiha Sai.

Kenapa harus dia? Kenapa selalu Sai?

Disaat melihat tidak ada perlawanan berarti dari Hinata, ketika itu juga Sasuke tahu, bahwa sekali lagi, sesuatu yang ia sayangi dan seharusnya menjadi miliknya, direbut oleh Sai.

Selalu seperti itu. Sai yang punya segalanya, dan akhirnya hanya Sasuke yang tertinggal tanpa memiliki apapun.

Jika seperti itu, bagaimana mungkin Sasuke tidak membenci Sai?

.

.

~RDR~

.

.

Beberapa saat setelah Sai pergi, Hinata merenung dalam diam. Kedua manik lavender-nya menatap lurus ke depan, kosong. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Semua terasa begitu rumit. Perasaannya campur aduk. Terkejut, bimbang, cemas, bingung, malu dan sedih semua jadi satu.

Sedih?

Laki-laki yang ia sukai memberinya ciuman dengan sangat lembut dan Hinata justru merasa sedih? Bukankah seharusnya ia merasa senang?

Hinata mencari-cari alasan kenapa perasaannya demikian. Mungkinkah karena apa yang barusaja mereka lakukan memang salah? Mengingat kalau Sai telah memiliki tunangan. Seorang gadis yang sangat cantik. Yang Sai lakukan tadi tentu sebuah bentuk pengkhianatan. Tapi, apa benar hanya alasan itu yang membuat Hinata malah merasa sedih?

Hinata menggelengkan kepalanya pelan, sembari menghela napas. Dia tak mengerti pada dirinya sendiri. Dia tidak tahu bagaimana hatinya sekarang. Hinata bahkan tak mengerti perasaannya saat ini. Semua ini membuatnya bimbang.

Klek.

Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, dan sepenuhnya mengalihkan perhatian Hinata. Kedua manik pucatnya mengawasi, mengantisipasi siapakah gerangan pengunjungnya.

Seorang laki-laki berdiri di sana, dengan memakai kaos hitam polos berkerah serta celana jeans sebatas lutut. Penampilan casual yang tiba-tiba saja dimata Hinata terlihat lebih menarik daripada biasanya.

"S-Sasuke!"

Hinata tertegun, kedua matanya melebar. Ia pikir, yang mengunjunginya adalah Neji. Melihat penampilan Sasuke yang baik-baik saja, Hinata tanpa sadar menyunggingkan senyum lega. Dan pipinya pun langsung dihiasi semburat merah karena tiba-tiba teringat kejadian pagi tadi, saat Naruto dan Gaara menemukan mereka. Kejadian yang sangat memalukan.

Namun ketika menyadari tatapan Sasuke yang terasa lebih tajam dari biasanya, membuat Hinata menunduk dan bergerak tak nyaman dalam duduknya. Ia selalu tidak tahan ditatap lama-lama oleh pemuda tersebut. "Bagaimana kabarmu, Sasuke?"

Pertanyaan klasik yang cenderung basa-basi, tapi Hinata tulus menanyakannya. Semalam hujan deras, dan dengan kondisi yang sangat dingin Sasuke melindunginya, menghangatkan tubuhnya yang menggigil kedinginan. Tentu Sasuke berpotensi terserang flu atau demam.

Hinata mengangkat wajahnya, tiba-tiba teringat kalau ia belum mengucapkan hal yang seharusnya ia ucapkan sejak tadi. "Terima kasih banyak untuk semalam, Sasuke."

Hinata kembali menundukkan pandangannya, selama beberapa saat. Ia menunggu jawaban dari Sasuke, meskipun hanya satu kosa kata 'hn' seperti biasa. Namun beberapa saat berlalu dan Sasuke tetap membisu. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir pemuda Uchiha tersebut.

Ada yang aneh, pikir Hinata. Sasuke memang pendiam, tapi tidak seperti ini. Bahkan biasanya cowok itu sudah menggodanya, apalagi saat hanya berdua. Makanya, Hinata mengangkat wajahnya lagi. Dan tiba-tiba saja, Hinata merasa udara di sekitarnya menjadi berat. Kedua maniknya menatap Sasuke, yang ternyata masih menatapnya tajam. Lelaki itu belum berpindah, masih berdiri di ambang pintu.

"Sasuke?" Hinata memutuskan untuk memanggil pemuda itu kembali.

Sasuke bergerak, melangkah masuk sambil membanting pintu dengan keras.

BLAM!

Hinata berjengit kaget. Ia mengalihkan perhatiannya pada pintu tak bersalah, lalu kembali lagi ke Sasuke. "S-Sasuke, ada apa?" kecemasan jelas terdengar dari nada bicara Hinata. Manik lavender-nya memandang penuh tanya.

Benar-benar ada yang salah.

Sasuke tetap diam. Pandangannya semakin dingin dan menusuk. Ekspresi wajahnya tidak lagi stoic. Kini ada gurat kemarahan yang terpancar. Keheningan menyelimuti, sementara yang terdengar hanya suara langkah kaki Sasuke yang mendekat ke arah Hinata.

Dalam jarak dekat, Hinata bisa melihat kemarahan yang begitu besar di dua oniks Sasuke.

Dengan Sasuke semakin mendekati ranjang, Hinata tanpa sadar beringsut menjauh. Pandangan dingin yang dilayangkan Sasuke sanggup menimbulkan ketakutan tersendiri. Selama mengenal lelaki tersebut, baru kali ini Hinata melihat kondisi Sasuke yang begini. Bahkan ketika Sasuke marah beberapa waktu lalu, ia tidak setakut ini.

Tapi, kenapa Sasuke tiba-tiba begitu murka? Apa ada yang salah dengan ucapannya?

Tanpa aba-aba, Sasuke langsung mendorong tubuh mungil Hinata hingga terbaring dan menindihnya. Saking terkejutnya, Hinata tak bisa memroses apa yang tengah terjadi. Tahu-tahu, bibir Sasuke sudah menempel pada bibirnya.

Hinata berontak sekuat tenaga, berusaha menyingkirkan Sasuke. Tetapi, tubuh lelaki itu berat dan cengkramannya sangat kuat. Gerakan yang bisa Hinata lakukan pun sangat terbatas.

Mula-mula hanya kecupan, namun lama-lama Hinata merasakan bibir Sasuke menyesap bibirnya. Seperti pemuda itu ingin mencicipi rasa bibirnya. Semakin dalam, Sasuke menyatukan bibir mereka semakin ketat. Dengan satu tangan Sasuke memegangi kepala Hinata.

Merasa usahanya untuk membebaskan diri sia-sia, Hinata pun pasrah. Namun lama-lama, ciuman dalam yang diberikan Sasuke membuatnya lupa diri. Ciuman itu membuat sekujur tubuhnya panas dan seolah kehilangan tenaga.

Perlahan, tanpa bisa dikontrol oleh otaknya, Hinata membalas ciuman Sasuke. Tapi begitu Hinata bermaksud melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke, pemuda itu justru melepas ciuman mereka.

Hinata terengah-engah, merasa bingung dan sangat malu. Wajahnya memerah. Saat Hinata menunduk untuk menyembunyikan wajahnya, tangan Sasuke memegang dagunya, seolah menyuruh agar tetap bertatapan.

"Kau benar-benar gadis yang mengerikan, Hyuuga." Desisan yang diucapkan dengan nada dingin itu membuat Hinata terkesiap kaget. Dan ketika Hinata melihat mata oniks Sasuke, mata gelap itu kembali penuh dengan amarah. Amarah yang dibalut luka. Hinata ingin bergerak menjauh, namun tubuhnya terperangkap oleh Sasuke.

BUAGH!

"Kyaa!" Hinata menjerit, refleks menutup kedua kelopak matanya. Tinju yang secara tiba-tiba dilayangkan Sasuke memang tak mengenai wajahnya, tapi mengenai dinding di belakangnya. Dan hal itu membuat Hinata semakin panik dan bingung. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Barusaja Sasuke menciumnya, dan sekarang pemuda itu marah tanpa alasan yang jelas?

"A-ada apa, Sasuke?" dengan suara pelan, Hinata mencoba menyuarakan keheranannya.

"Enak, ya? Dicium kakak beradik dalam selang waktu singkat?"

Kedua bola mata Hinata melebar, tubuhnya menegang. Ia menatap lelaki di depannya dengan begitu syok. Dan seringai ironis menyeramkan yang tersungging di wajah Sasuke tidak membantu sama sekali.

Apa yang barusan diucapkan Sasuke? Dicium kakak beradik? Oh, Tuhan. Kini Hinata tahu kenapa Sasuke begitu marah.

Wajah Hinata memucat ketika dirinya menyadari tuduhan Sasuke. "I-itu—"

"Sebenarnya apa maumu, Hyuuga?!" belum sempat Hinata menyahut, Sasuke telah memotong ucapannya, dan buru-buru melanjutkan, "Kenapa kau selalu membuatku berharap?! Kenapa selalu membuatku melambung, lalu kau hempaskan dengan keras. Apa kau tahu bagaimana rasanya?!"

Hinata tercekat, pengakuan Sasuke menyusup ke dalam pikirannya. Satu persatu ucapan Sasuke ditelaah oleh kepalanya. Benarkah apa yang sudah dilakukannya? Apa dia membuat Sasuke melayang lalu menjatuhkan begitu saja? Apa sikapnya selama ini begitu? Dan sorot mata itu… Hinata bisa melihat luka yang dalam di kedua oniks Sasuke.

Melihat keadaan Sasuke yang tampak sangat terluka seperti ini, Hinata mendapati hatinya seakan diremas-remas. Udara yang menguar di sekitar pun semakin membuat Hinata sesak.

Hinata menggeleng lemah. "Bukan begitu… bukan, Sasuke."

"Lalu, apa kau menginginkanku? Antara Sai dan aku, apa kau memilihku?"

Tatapan Sasuke semakin tajam, begitu menusuk. Pandangannya seakan menuntut agar Hinata segera menjawab pertanyaan itu.

Hinata memejamkan mata untuk mengatur kegelisahan sekaligus mengurangi rasa perihnya. Lalu ia mengambil napas dalam-dalam. "Aku… tida—

"CUKUP!"

Menyela dengan keras, Sasuke bangkit berdiri secara tiba-tiba. Hingga mengagetkan Hinata dan membuat ucapan gadis tersebut terhenti. Hinata membuka matanya dengan cepat, memandang Sasuke penuh tanya. Sedangkan Sasuke membalas tatapan Hinata dengan pandangan putus asa. Sejenak hening, lalu Sasuke membalikkan badan. Ia mengangkat satu tangannya.

"Baiklah. Aku menyerah. Aku tidak akan menganggumu lagi."

Bersamaan dengan itu, Sasuke melangkah keluar, menghilang di balik pintu. Tanpa berkata apa-apa lagi. Tanpa berbalik ke belakang.

Sementara Hinata yang belum menyelesaikan kalimatnya, hanya mampu terdiam. Ia ingin menahan kepergian Sasuke, kemudian menjelaskan semua kesalahpahaman ini. Tapi bibirnya kelu dan tubuhnya mendadak beku.

Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.

Tahu-tahu, airmata jatuh membasahi pipinya. Tangan Hinata memegang dadanya erat. Dan hatinya terasa pedih. Mendengar kata-kata terakhir Sasuke, pemuda yang sering ia sebut Lucifer itu, membuat hatinya perih.

Ya… Hinata merasa sesak dan sakit sekali.

.

.

~RDR~

.

.

Naruto sedang berbaring santai di tempat tidur, sembari membaca komik yang sengaja dibawanya untuk mengisi waktu. Tangannya sesekali meraih camilan yang tergeletak di atas nakas, di sebelah tempat tidurnya. Sesekali, terlihat Naruto terkikik geli.

Bila melihat ke sisi lain ruangan, nampak Gaara juga sedang berada dalam pose setengah berbaring di ranjangnya sendiri. Bedanya dengan Naruto, di tangan Gaara ada sebuah tablet. Gaara lebih memilih bermain game daripada membaca komik. Entah permainan apa yang dimainkannya. Yang jelas, raut wajah Gaara masih saja tak berubah. Datar dan tenang. Tak menunjukkan banyak emosi.

Saat ini adalah waktunya istirahat siang, waktu dimana peserta fun camp bebas menggunakan waktu sesuai keinginan masing-masing. Tentu saja hal ini digunakan Naruto dan Gaara untuk bermalas-malasan. Tadi, mereka harus bangun pagi-pagi buta karena kehebohan menghilangnya Hinata. Dan ketika menyadari bahwa Sasuke juga tak terlihat jejaknya, keduanya pun kembali merambah hutan. Meskipun fisik kedua pemuda tesebut tergolong bagus, tetap saja mereka merasakan lelah. Maka dari itu, sekarang adalah saatnya untuk bersantai penuh.

Beberapa saat telah berlalu dengan atmosfer yang sama, yaitu hening dan tenang. Hingga tiba-tiba pintu dibuka dengan keras, cukup untuk mengagetkan Naruto. Lelaki itu bahkan sampai berjingkat dan duduk. Gaara tak menunjukkan reaksi berlebihan, tapi aktivitasnya juga terhenti. Pandangan kedua lelaki tersebut kini tertuju pada pintu yang terbuka lebar.

BLAM.

Pintu dibanting hingga tertutup. Alis Naruto terangkat heran, matanya menatap sosok tak asing yang berdiri di sana.

"Kau tidak pernah diajari sopan santun, Teme?" protes Naruto karena kegiatannya terganggu.

Sasuke diam, mengabaikan protesan Naruto. Ia justru melewati temannya itu, berjalan menuju sebuah almari besar di sudut ruangan. Sasuke membuka pintu almari dengan kasar, lalu mengeluarkan tas serta baju-bajunya dengan tergesa-gesa. Hal ini tak urung membuat Naruto serta Gaara keheranan.

"Kau mau kemana?" Gaara bersuara. Ia berdiri, tab-nya diletakkan begitu saja di atas ranjang. Sekarang yang menjadi fokus perhatiannya adalah Sasuke.

Tanpa menoleh dan masih memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, Sasuke menjawab singkat. "Pulang."

"Hah? Tapi ini baru hari kedua, Teme. Apa-apaan kau ini?" Naruto pun terbelalak. Lelaki berambut pirang tersebut buru-buru berdiri dan mendekati sahabatnya.

Setelah memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper, Sasuke menatap kedua temannya bergantian, dan hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya. Lalu seakan tak ingin membuang waktu, Sasuke segera menyambar kunci mobil milik Naruto yang terletak di atas nakas. Tanpa memedulikan reaksi tercengang pemilik kunci itu.

Melihat perilaku tak jelas Sasuke, Naruto pun menghadang langkah Sasuke yang hendak keluar ruangan. "Jangan seenaknya, Teme! Kau ini kenapa?" Kedua iris biru Naruto kemudian tertuju pada kunci di tangan Sasuke. "Lagipula itu punyaku."

Hening sesaat. Tak ada jawaban yang dikeluarkan oleh Sasuke. Dan ketika iris safir Naruto kembali menatap iris gelap sahabatnya, saat itu Naruto tahu kalau Sasuke sedang dalam kondisi yang tidak bisa dibantah. Terlebih ekspresi wajah Sasuke yang seolah mengatakan ia sedang tidak main-main.

"Minggir."

Perkataan singkat Sasuke mau tak mau membuat Naruto bergerak menyamping, seakan-akan mempersilahkan Sasuke untuk lewat. Bukan karena Naruto takut.

Dan lelaki berambut raven itupun segera keluar ruangan dengan langkah cepat. Meninggalkan Naruto serta Gaara dengan berbagai pertanyaan.

.

.

~RDR~

.

.

Jika beberapa saat lalu suasana hening yang menyelimuti ruangan adalah hening yang menenangkan, maka sekarang kebalikannya. Suasana kamar yang dihuni Sasuke, Naruto serta Gaara itu masih hening, tetapi hening yang tak nyaman.

Naruto kembali pada kegiatannya yaitu membaca komik. Berusaha tak terganggu dengan apa yang baru saja terjadi. Meski tentu saja kenyataannya tidak demikian. Ekspresi yang ditunjukkan Sasuke tadi sungguh mengganggu pikirannya. Itu bukan ekspresi marah yang biasa. Itu adalah ekspresi yang sudah lama sekali tidak Naruto lihat. Raut seseorang yang frustasi dan putus asa, sekaligus murka.

Naruto melirik ke arah Gaara, yang sekarang telah berbaring penuh. Naruto tahu Gaara hanya berpura-pura tidur. Tapi toh, untuk saat ini memang tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk Sasuke. Sebenarnya, bisa saja tadi ia menghentikan Sasuke. Tetapi, meskipun tanpa berkata-kata, Naruto jelas paham kalau Sasuke sedang ingin sendiri.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Naruto. Ia melirik pintu kayu yang kini diketuk lagi dengan buru-buru. Alis Naruto melengkung. Dengan gerakan malas, cowok jabrik itu bangkit dan melangkah untuk membukakan pintu.

Seorang gadis berambut indigo serta iris lavender langsung memenuhi pandangannya begitu pintu terbuka.

"Na-Naruto-kun!"

"Hinata?" Naruto tersenyum canggung. Rupanya benar dugaannya. Tentu saja, subyek permasalahan Sasuke adalah Hinata. Mengingat sejak kembali ke kota Konoha, kehidupan Sasuke selalu berputar di sekeliling gadis Hyuuga tersebut. Juga, Naruto tahu betul bagaimana perasaan Sasuke pada gadis di depannya itu.

"Dimana Sasuke?" tanya Hinata tergesa, dengan raut wajah menyiratkan kecemasan dan kepanikan.

Naruto memerhatikan penampilan Hinata saat ini. Matanya masih berair, dan di pipinya masih ada jejak-jejak airmata. Pasti habis menangis, batin Naruto.

"Beberapa saat yang lalu dia merebut kunci mobilku, mungkin sekarang sudah ada di jalanan."

"A-apa?"

Tubuh Hinata yang seakan langsung lemas, serta mata berkaca-kaca seolah siap menumpahkan airmatanya lagi kapan saja membuat Naruto ikut panik.

Naruto pun segera menarik Hinata masuk ke dalam kamar, demi privasi. Mengingat di Konoha Gakuen gosip dapat menyebar dengan sangat brutal. Kalau sampai ada yang melihat Hinata menangis di depan kamarnya, bisa-bisa ada berita tidak-tidak yang beredar. Bisa gawat kalau Neji tahu. Naruto enggan bila harus menghadapi Neji yang terkenal overprotektif itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" tanya Naruto begitu keduanya telah berada di dalam kamar.

Hinata yang tadinya menunduk kini mendongak. Ia menatap Naruto sedikit ragu.

Seakan tahu apa yang ada di pikiran Hinata, Naruto mengangguk, sebagai tanda bahwa ia bisa menjaga rahasia.

"A-Aku me—"

"Tuan Putri,"

Belum sempat Hinata melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba telah ada suara lain yang menyela. Dan rupanya pemilik suara tersebut adalah Sabaku Gaara. Naruto sampai heran kapan Gaara bangun, karena tahu-tahu cowok berambut merah itu sudah berdiri di sampingnya.

"Gaara?" Naruto menatap Gaara dengan alis terangkat, bingung dengan panggilan tuan putri yang diucapkan dengan nada dingin itu.

Sorot iris hijau Gaara menajam, kini tertuju pada satu-satunya gadis di ruangan tersebut. Gaara lalu maju mendekat, menyejajarkan wajahnya agar berada di depan wajah Hinata. "Kupikir Tuan Putri harus belajar bagaimana caranya agar tidak plin plan dan tidak menggantungkan harapan seseorang terlalu tinggi."

Serentetan kalimat dengan nada ketus yang diucapkan Gaara membuat Hinata menunduk dalam. Apalagi panggilan 'tuan putri' yang ditekankan secara Naruto menarik lengan Gaara agar menjauh.

"Hei, Gaara! Kau kenapa, sih?" Naruto memberikan isyarat agar Gaara menarik ucapannya, karena ini bukanlah saat yang tepat untuk saling menyalahkan. Namun sepertinya usaha Naruto tidak mempan. Bahkan kalimat yang selanjutnya keluar dari mulut Gaara benar-benar di luar prediksi.

"Aku hanya muak melihat orang yang bersembunyi di balik topeng inosennya." Setelah mengatakan itu, Gaara keluar dari kamar dengan membanting pintu.

BLAM!

Naruto menghela napas panjang. Satu tangannya terangkat, memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa berat. Ia melirik Hinata, yang menunduk dalam. Hinata tidak menangis, atau setidaknya belum. Tapi Naruto tahu, gadis di depannya itu sudah berada di ambang batas kerapuhannya.

"Hinata-chan, Gaara tak bermaksud begitu."

"Tidak, Naruto-kun…" Hinata berujar pelan, kepalanya menggeleng. Gadis itu tampak mencoba untuk tetap tenang. Meskipun jelas terlihat tinggal sebentar lagi si putri sulung Hyuuga tersebut akan meledak dalam tangis. Hinata lalu melanjutkan, "Gaara-kun benar. Aku memang salah."

Naruto mengembuskan napas lagi, entah untuk keberapa kalinya. Ia kemudian menghela Hinata agar duduk di atas salah satu tempat tidur terdekat.

"Sifat Gaara dan Sasuke itu mirip. Mereka juga sama-sama punya masalah dengan ayah mereka. Makanya, reaksi Gaara seperti itu."

"Ya… aku mengerti."

Naruto menarik sebuah kursi plastik, lalu mendudukkan dirinya hingga berhadap-hadapan dengan Hinata. "Sekarang, maukah Hinata menceritakan yang sebenarnya terjadi? Barangkali aku bisa membantu."

Awalnya ragu-ragu, tapi kemudian Hinata mengangguk. Dan mengalirlah cerita bagaimana semua kesalahpahaman ini berawal.

.

.

~RDR~

.

.

Di hari kepulangan rombongan fun camp Konoha Gakuen, Hinata hanya duduk termenung di dalam bus. Tatapannya sejak tadi tertuju ke luar jendela. Entah apa yang diperhatikannya. Yang pasti, Hinata bahkan terlihat malas untuk menanggapi pembicaraan di sekitarnya.

Sejak peristiwa yang terjadi antara dirinya dengan Sasuke, Hinata merasakan hatinya tidak tenang. Ia terus saja gelisah. Meskipun Naruto mengatakan bahwa nanti semua akan baik-baik saja, tapi hatinya mengatakan sebaliknya. Ini tidak baik-baik saja.

Hinata juga mendapati dirinya tidak lagi mengharapkan fun camp ini. Acara-acara fun camp yang seharusnya menyenangkan, jadi terasa begitu hampa. Sisa waktu fun camp dijalani Hinata dengan begitu tak nyaman. Ia bahkan tidak peduli lagi pada orang-orang yang sengaja menjebaknya saat night outbond. Hinata hanya ingin acara ini segera selesai. Ia ingin cepat-cepat pulang ke Konoha, lalu bertemu dengan Sasuke. Supaya ia bisa menjelaskan kesalahpahaman ini. Supaya Sasuke tidak marah lagi padanya.

Di sisi lain, Hinata cemas karena ia tidak tahu bagaimana kondisi Sasuke sekarang. Ia sudah mencoba menghubungi Sasuke, mengirim pesan maupun menelponnya. Tapi tidak ada reaksi yang diberikan Sasuke. Semua pesannya tidak dibalas. Panggilannya tidak diangkat. Hinata hanya berharap, Sasuke tidak melakukan hal-hal bodoh yang merugikan.

Belum lagi Gaara yang bersikap dingin padanya. Ya, Hinata sadar memang dirinya yang patut disalahkan. Jadi ia pun menerima perlakuan Gaara dengan lapang. Setidaknya masih ada Naruto yang masih mau berbaik hati padanya.

Tapi ada satu hal lagi yang sangat menghantui pikiran Hinata.

Kenapa kau selalu membuatku berharap?! Kenapa selalu membuatku melambung, lalu kau hempaskan dengan keras. Apa kau tahu bagaimana rasanya?!

Suara Sasuke yang berkali-kali muncul di kepalanya. Dan setiap kali suara itu ada, hatinya seakan disayat-sayat. Perih sekali. Hinata tidak menyadari kalau sikapnya selama ini akan berdampak buruk bagi Sasuke. Memikirkan Sasuke dan kebersamaan mereka selama ini, rasanya begitu sakit. Apa itu berarti dirinya sebenarnya menyayangi Sasuke, bukan Sai?

Kalau kau marah saat tahu aku punya tunangan, lalu kenapa kau menolakku?

Muncul suara lainnya, kali ini milik Sai. Suara yang seolah-olah ingin membantah kesimpulan Hinata sebelumnya. Suara yang mengingatkannya, akan rasa sesak ketika mendapati Uchiha Sai telah memiliki tunangan. Juga mengingatkannya akan jantungnya yang berdebar tak tentu tiap kali berada di dekat pemuda tersebut.

Jadi, siapa yang Hinata pilih?

Tidak bisa… karena dirinya tidak tahu. Ia belum bisa memilih. Hinata belum tahu siapa yang sebenarnya ia sayangi sebagai seorang laki-laki. Sasuke yang sering membuatnya kesal, ataukah Sai yang sering membuat hatinya berbunga. Ia butu sesuatu untuk meyakinkan perasaannya sendiri. Tapi apa?

Dada Hinata bergemuruh, marah. Ia marah pada dirinya sendiri. Pantas saja Gaara menyebutnya plin plan. Karena bahkan, Hinata tidak bisa membedakan rasa sayangnya pada Sai maupun Sasuke.

Tapi kalaupun ia memilih Sai, apakah mereka punya kesempatan? Bukankah senpai-nya itu jelas-jelas sudah out of the market?

Jadi… apa yang harusnya Hinata lakukan?

"Ta… Hinata!" panggilan cukup nyaring dari Sakura menyadarkan Hinata.

Hinata mengerjapkan mata. "Oh… ya?"

"Kita sudah sampai, lho. Ayo turun," sahut Sakura sembari berdiri.

Hinata memandang sekelilingnya. Hampir semua orang sudah berdiri dan bersiap untuk turun. Rupanya mereka telah sampai di depan sekolah. "Iya… kamu duluan aja, Sakura-chan."

Hafal akan kebiasaan Hinata yang tidak suka beramai-ramai, Sakura pun mengangguk. "Aku tunggu di bawah, ya?" Kemudian Sakura berlalu, bergabung dengan siswa-siswa lain yang berhamburan turun dari bus.

Hinata menatap temannya yang menjauh dalam diam. Dia tidak suka berdesak-desakan. Lebih baik ia turun paling akhir. Sakura itu lincah dan kuat, jadi tidak masalah kalau menghadapi situasi seperti itu. Sedangkan dirinya, bisa dibilang clumsy. Kalau ikutan berdesak-desakan, yang ada Hinata hanya akan jatuh. Jadi, lebih baik menunggu hingga semua orang sudah turun dari bus.

Masih memerhatikan teman-temannya yang tampak lucu, Hinata merasakan seseorang duduk di sampingnya. Wangi maskulin yang familiar pun tertangkap indra penciumannya.

Deg.

Hinata tahu siapa lelaki yang duduk di dekatnya. Lelaki yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikirannya. Dan Hinata belum mempersiapkan diri untuk bertemu orang tersebut. Ia sama sekali tidak tahu, kalau lelaki bersurai gelap tersebut akan mendatanginya di saat seperti ini.

"Tatap aku, Hinata." Suara bariton itu tenang, namun Hinata bisa merasakan kecemasan di dalamnya.

Hinata mencoba menahan kegugupannya dan tetap tenang. Ia menolehkan manik lavender-nya diarahkan untuk balas menatap manik kelam di depannya.

"Jangan menghindariku lagi, Hinata." Pemuda berkulit putih itu bersuara lagi, dengan sedikit nada memohon.

Hinata menunduk dan berujar lirih. "Gomen…"

"Aku tidak bisa menunggu lagi… katakan, apa kau juga menyukaiku?" Nada ucapan Sai benar-benar tak sabar.

"Kalaupun iya, apa itu akan mengubah keadaan, Senpai?"

Satu helaan napas menyusul. Detik berikutnya Sai telah berdiri. "Jadi kau akan bersamaku, asal aku membatalkan pertunanganku?"

Hinata ternganga. Membatalkan pertunangan? Oh, tentu itu bukan hal yang mudah. Lagipula, bahkan meski Sai single, ia belum tentu bisa menemukan pilihannya. Hinata menggeleng cepat-cepat. "Tidak… karena akan ada lagi yang terluka. Ino-san dan Sasuke… mereka akan terluka."

"Lalu bagaimana dengan kita?"

"Berkorban, Senpai." Hinata tersenyum getir. Meskipun tidak mengenal tunangan Sai dan hanya pernah bertemu sekali, tapi Hinata bisa merasakan bagaimana gadis tersebut sangat menyayangi Sai. Hinata tidak berhak mengambil Sai dari tunangannya. Belum tentu Hinata bisa mencintai Sai seperti itu.

Keheningan yang menyesakkan itu lalu diusik oleh sebuah suara.

"Sai."

Panggilan cukup nyaring itu mengejutkan baik Sai maupun Hinata. Hinata bergegas berdiri. Ketika menoleh, dirinya terperangah melihat sosok cantik yang pernah ia temui, sedang berdiri di pintu masuk bus.

.

.

~RDR~

.

.

Yamanaka Ino sedang menikmati keindahan bunga-bunga yang ada di halaman Konoha Gakuen. Halaman yang sangat indah menurut Ino, karena adanya berbagai tanaman bunga di sana. Bunga aster, carnation, mawar, lili dan banyak lagi. Ia bersama dengan orang-orang lain yang juga berada di halaman sekolah, sedang menunggu kedatangan rombongan fun camp. Menurut salah satu petugas keamanan, rombongan akan datang sebentar lagi.

Sejak kecil, Ino sangat menyukai bunga. Dia selalu membantu mamanya merawat tanaman-tanaman bunga yang ada di rumah kaca kediaman Yamanaka. Hanya dengan melihat bunga-bunga segar yang berwarna-warni, mood-nya selalu menjadi lebih baik. Selain bermain tenis, Ino juga hobi mengoleksi berbagai jenis tanaman bunga.

Tenis?

Ah… Ino lupa kalau sekarang dia tidak bisa lagi bermain olahraga kesayangannya. Mimpinya untuk menjadi pemain tenis profesional pun harus kandas. Dan itu semua terjadi karena emosi labilnya.

Kejadian tersebut terjadi beberapa bulan yang lalu. Saat itu sedang liburan akhir pekan. Ino sangat merindukan Sai. Ino tahu Sai sangat kecewa padanya sampai-sampai memutuskan segala koneksi diantara mereka. Padahal Ino selalu berusaha menghubungi pemuda tersebut.

Ino selalu mencari waktu dan berusaha pulang ke Jepang untuk menemui Sai. Ia hanya ingin meminta maaf atas kesalahannya, serta meyakinkan Sai kalau perasaannya belum berubah. Sayangnya keluarganya tidak memperbolehkan. Mereka ingin Ino fokus pada latihannya menjadi pemain tenis pro.

Maka, Ino mencari segala cara agar bisa diam-diam berkunjung ke negara kelahirannya. Ia sudah menyusun rencana sejak lama, seraya mengumpulkan keberaniannya. Akhirnya tiga bulan yang lalu, waktu itu tiba juga. Ino nekad pergi ke Jepang seorang diri.

Ino memakai alibi pergi camping bersama teman-temannya untuk beberapa hari, sehingga orangtuanya tidak curiga. Tapi rupanya terkadang rencana yang telah disusun dengan sangat rapi pun bisa tidak berjalan dengan lancar.

Mungkin karena kegugupan akibat tak sabar berjumpa dengan Sai, Ino lalai dan tidak memerhatikan sekitarnya. Ia sudah hampir sampai bandara. Hanya berjarak beberapa ratus meter dari pemberhentian bus yang ia tumpangi, maka Ino akan sampai. Sayangnya ketika menyeberang, Ino tak tahu bahwa saat itu ada sebuah mobil melaju ke arahnya. Kecelakaan pun tidak dapat dihindari.

Ino sempat koma meski tidak dalam waktu lama. Organ vitalnya baik-baik saja,namun tidak demikian dengan tangan kanannya. Tangannya tidak bisa kembali seperti semula. Mimpi buruk rasanya, saat dokter bilang akan sulit bagi Ino untuk menjadi pemain tenis.

Menghela napas, raut wajah cantik Ino menjadi muram karena kepingan-kepingan ingatan menyakitkan itu hadir kembali.

"Mereka sudah datang!"

Seruan di belakangnya mengalihkan perhatian Ino. Gadis itu lantas menolehkan kepala, dan mendapati beberapa bus besar berhenti di depan halaman sekolah. Senyum pun hadir di wajah cantik yang barusaja murung tersebut. Dengan langkah anggun, Ino berjalan mendekati bus untuk menemui laki-laki pujaannya.

"Permisi. Apa kau tahu Sai ada di bus yang mana?" Ino menanyai seorang pemuda yang memakai badge committee, yang sekiranya pasti mengenal Sai.

"Oh, dia sedang di bus 2."

Ino menawarkan senyum jelitanya sambil mengucapkan terima kasih, yang membuat si pemuda merona. Setelah itu, Ino bergegas melanjutkan langkahnya. Ia menuju bus nomor 2, menunggu di dekat pintu keluar. Diperhatikannya hiruk pikuk para murid yang turun dari bus, dengan wajah-wajah lelah namun ceria. Tanpa sadar, Ino tersenyum lagi.

Setelah beberapa lama, orang yang ditunggu tak juga muncul. Padahal kelihatannya bus telah kosong. Ino mengerutkan dahi, menghela napas. Sebenarnya apa yang dilakukan Sai sampai belum turun juga? Atau jangan-jangan cowok yang ia tanyai tadi salah memberi informasi?

Akhirnya Ino memutuskan untuk mengecek langsung, daripada menebak-nebak tanpa pasti. Ia lalu menaiki tangga masuk ke bus. Di dalamnya terlihat sepi, tapi ketika naik lebih dalam, Ino bisa melihat lelaki yang dicarinya sedang berdiri di sela-sela bangku.

Sai seperti sedang berbicara dengan seseorang. Wajahnya tampak serius. Tapi… siapa? Atau jangan-jangan…

"Sai."

Ino mengeraskan suaranya, meski tak sampai berteriak. Ia berhasil menarik perhatian Sai. Ino tersenyum, namun tidak bertahan lama ketika kedua maniknya menangkap siapa lawan bicara Sai.

Oh, Tuhan…

Rasanya apa yang ditakutkan Ino memang terjadi. Kecurigaannya benar. Sai memang sedang terlibat pembicaraan dengan Hinata! Dan astaga… aroma ketegangan seketika bisa Ino rasakan, membuatnya penasaran.

Apa yang mereka bicarakan? Kenapa begitu serius?

"Ino."

Sahutan dari Sai, membuat Ino melangkahkan kakinya mendekat. Mengatasi keterkejutannya, Ino langsung memasang senyum cerah.

"Hai, kita pernah bertemu saat di mall." Ujarnya ramah, ditujukan pada Hinata. Ino lalu mengulurkan tangan. "Yamanaka Ino."

Hinata menerima uluran tangan tersebut, membalas dengan senyum canggung. "Hyuuga Hinata, senang berkenalan dengan Yamanaka-san."

"Kalian kenal?" Sai menatap kedua gadis di hadapannya bergantian, dengan bingung.

"Ya. Ingat saat aku minta mampir ke Konoha Hypermarket, Sai? Nah, aku bertemu nona ini di sana. Dia yang menemukan liontinku," jelas Ino. Ia bercerita dengan antusias. Selanjutnya, Ino menoleh ke Hinata lagi. "Waktu itu terima kasih banyak, ya."

"Sama-sama." Hinata menganggukkan kepalanya. "Ah… maaf, saya sudah ditunggu teman-teman. Permisi, Senpai, Yamanaka-san." Hinata terlihat buru-buru melingkarkan tas di pundaknya, dan menyingkir pergi. Tak lupa menunduk sebagai tanda pamit.

Sai diam, tidak mengejar Hinata, hanya menatap sosok mungil itu menjauh. Tanpa menyadari bahwa telah ada sepasang mata yang mengamati gerak-geriknya.

Jantung Ino berdebar keras. Matanya memanas dan dadanya sesak. Tapi Ino tidak akan menunjukkan kelemahannya di sini. Tidak akan. Ia gadis yang pintar bersikap pada situasi yang tak menyenangkan. Mencoba tegar, perlahan Ino mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di sisi tubuh Sai.

"Aku merindukanmu." Ucap Ino dengan suara sedikit bergetar, kepalanya ditenggelamkan pada dada bidang Sai.

Sai memegang kedua lengan Ino, bermaksud melepaskan pelukannya. "Ino—"

"Tidak!" Ino justru mempererat dekapannya. "Biarkan begini… kumohon," pintanya lirih. Kedua maniknya dipejamkan karena pedih. Setiap kali Sai tidak berada dalam jangkauan pandangannya, Ino benar-benar cemas. Dan ia tidak mau mimpi buruknya terjadi. Mimpi buruk dimana Sai akan pergi meninggalkannya, demi perempuan lain.

Mungkin, Ino benar-benar harus memaparkan semuanya, penyebab kenapa tangannya terluka. Sai memiliki hati yang sangat baik dan rasa tanggung jawab besar. Jika Sai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, lelaki itu pasti akan berada di sisinya, kan?

"Nanti, aku mau cerita… bagaimana tanganku bisa terluka." Kini suara Ino benar-benar bergetar dan terdengar rapuh.

Sai mengangguk sebagai jawabannya.

Dan Ino merasa benar-benar jahat… curang. Perbuatannya ini, apa bisa dibilang demi cinta?

Tapi bukankah , pengertian cinta itu sendiri relatif?

.

.

TBC

.

.

Ingin mengucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankan ^^

Mohon maaf sebesar-besarnya, ya saya menelantarkan fic" multichapter saya. Tapi sungguh nggak bermaksud. Beberapa teman author/reader bahkan kadang saya curhatin gimana bingungnya saya, ingin lanjutin fic tapi kegiatan kuliah tidak bisa ditinggal. Jadi sekali lagi saya mohon maaf.

Special thanks to ::

Me Yuki Hina, Guest , Rhe Muliya Young, guest , momo, Stupid Panda23, .7, Katsumi, naina-chan, Hyou Hyouichiffer, Riz Riz 21, indigohimeSNH, Sana Uchiga, uchiha bungsu, 1, ari-chan, guest , n, guest , flowers lavender, Stacie Kaniko, ms. X, Audhitaputri, xxxaryn, Kyr Neji, nazuka hanami, hinatauchiha69, Hasegawa Nanaho, Uchiha Itaara, guest , Olaf13, Nara Tobi, altadinata, Renita Nee-Chan, Jasmine DaisynoYuki, Guest, any yashifun, lestari sarichan, hyuugahime.

Balasan buat yg nggak login... update kilat: maafkaan saya ngga bisa update kilat. Tapi kedepannya, saya akan fokus ke RDR dan The Rhapsody biar tahunini bisa tamat. Doakan ya . Mengecewakan pembaca: maaf sekali. Tapi fic ini nggak akan discontinued kok, selama saya masih idup. Hehee. Hinata pilih Sai apa Sasuke : emm... makanya tetep baca ya ^,~ hihi. Bete sama hinata yg plinplan : iyaa aku jugaa. Tapi tokoh utama ngga harus selalu menyenangkan, kan? *alesan :D. Author kpop lover: errr haha iya. Tapi sekarang udah jarang main nih, paling Cuma masih sukanya sama snsd. Exo pun berkurang karna ngga OT12 lagi :D. Mereka bisa lebih kejam: mereka siapa ya? Hhe. Sasuke first kissnya hinata: sepertinya iya :D. fic-nya pernah dipost di kyuyoungshipperindo : aduh saya baru tahu juga gegara dikasih tau di grup, haha ngga nyangka ada yg mau copas fic ini .

Buat yg login silahkan cek pm yaa. Buat silent reader makasih jugaaa :*

Akhir kata, bagi yang masih berkenan memberikan komentar, saya terima dengan hati terbuka. Terima kasih banyak ….

XOXO,

Ayuzawa Shia