Saint Seiya © Masami Kurumada

Puzzle Pieces in Culpability © Shimmer Caca

Kepingan-kepingan memory mulai tersusun acak di kepalanya, laksana teka-teki yang siap dipecahkan. Sementara lilin kehidupan hampir padam, waktunya semakin sedikit. / "Dia … selalu ada di sini. Melindungi kalian."/ "Kegelapan kini kan membelunggumu, ikuti jejak sang Dewa Dunia Bawah atau tersesat selamanya dalam kepedihan abadi."/ "Kali ini saja. Dengarkan aku."

Warnings : OOC, Typo(s), Marry sue OC, dan segala kegajean lainnya. DLDR. Anti OC? Mending jangan baca deh.


Ia merasakan dirinya tenggelam, perlahan namun pasti ia berusaha mengumpulkan kembali jiwanya. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan kakinya dirantai, Shizen membuka matanya lebar-lebar dan langsung saja air membuat matanya perih, kembali ia tutup iris apinya. Dia tidak sedang bermimpi, dirinya sungguhan tenggelam. Memastikan apa yang terjadi, Shizen membuka matanya perlahan-lahan. Pertama yang ia lihat adalah kaca yang memisahkannya dengan underworld, lalu di balik kaca itu ada Minos, membelakanginya dan sepertinya tak tau kalau ia sudah sadar. Diam beberapa detik, baru ia sadar bahwa di mulutnya terpasang tabung oksigen dan tempatnya tenggelam itu adalah tabung raksasa yang kira-kira muat dua orang di dalamnya.

Ia meggedor kaca elastis di depannya.

"Shizen?" pria itu terkejut melihat Shizen yang kini sudah sadar namun jelas sekali masih sangat lemah. Ia mendekat ke tabung Shizen, mengusapnya. "Shizen, kau dengar aku?" ia mengangguk. "Maafkan aku," tak ada reaksi dari Shizen, tampaknya gadis itu masih mencerna apa yang dikatakan Minos.

Dengan mulut yang penuh dengan selang itu, tentu saja Shizen tak dapat berbicara. Ia menggunakan kemampuan sandi morsenya dan mulai mengetuk-ngetuk dari dalam tabung. Minos mengetahui itu sebagai, "Apa yang terjadi?" namun ia tak langsung menjawab pertanyaan Shizen. Jeda agak lama memenuhi waktu mereka.

"Ini salahku, Shizen. Aku tak keberatan jika kau membenciku sekarang."

"Aku tak mungkin membencimu," jawab Shizen dengan ketukan-ketukan yang kurang-lebih bunyinya seperti itu. Namun Minos tetap menggeleng, ia tampak kacau sekali di sana.

"Oke begini, Kronos, Dewa Hades, kau. Argh! Semuanya membuatku hampir gila."

Minos mondar-mandir dan menggerutu sendiri, Shizen mengernyit bingung. 'Siapa ajalah, gimana caranya aku memberitau semua ini?!' frustasi, Minos mencoba menendang apa saja yang dekat dengannya. Wanita anggun dengan rambut gelap masuk perlahan, "Ada apa?" dan Minos tampak semakin jengkel saat melihatnya.

Tersenyum sinis, Pandora memperhatikan Shizen, "Jika kau tak bisa menceritakannya, aku saja," namanya Pandora, batin Shizen, ia berjalan semakin dekat dengan Minos. "Tak kusangka kau bisa secepat ini sadar. Kronos benar-benar memberkatimu," Minos memutar bola matanya, dan tanpa suara berkata pada Shizen bahwa semuanya akan berjalan lancar –bukan berarti akan baik-baik saja.

Ingin rasanya Shizen berteriak, "JANGAN SEBUT-SEBUT NAMANYA DI HADAPANKU!" kepada wanita ini.

"Nah, Nona Shizen, masalahnya adalah para Titan itu sudah mencuri hampir seluruh energi serta kekuatan yang tersegel pada dirimu," Shizen teringat kembali saat Rhea mencekiknya. Ia sadar bahwa saat itu terasa seperti dunia terserap keluar dari tubuhnya. "Tanpa bantuan alat itu kau tak akan hidup sampai sekarang," Pandora mendengus, "Kau ini bodoh ya? Rhea sudah menanamkan cosmonya dalam dirimu, dalam waktu singkat ini kau akan mati, dan kami hanya bisa memperlambat proses kematianmu," Shizen shock bukan main, ia menempelkan jarinya di dahinya, masih terasa hangat, ia ingat sekarang.

Pandora melirik Minos, "Jika kau tetap ingin hidup kami mempunyai solusinya," Minos menggeleng pada Shizen dan Pandora menjentikkan jarinya, langsung saja Rhadamanthys masuk sambil membawa peti krystal yang berisikan anak kecil berusia sekitar enam atau tujuh tahun, terlihat dari ekspresinya, Rhadamanthys mati-matian membawa krystal beku itu. Shizen makin shock melihatnya, anak kecil dengan rambut merah panjang dan mata yang tertutup, ia yakin di dalam kelopak itu ada iris yang serupa dengan iris matanya. Shizen menangis dan menggedor kaca itu makin keras.

"Tenang Shizen," Minos mengusap-usap permukan kaca namun Shizen tak bisa tenang begitu saja, ia memejamkan matanya erat-erat.

"Tubuh baru yang sempurna, bukan?"

"Kau…" Minos menggeram.

"Ada apa, Minos?"

Ingin rasanya ia mengeluarkan Shizen dari sana lalu memeluknya.

Rhadamanthys mensejajarkan krystal itu di hadapan Shizen. 'Shiera …' batinnya teriris.

Areleous Shiera, kembaran yang sangat identik dengannya; mata, hidung, bibir, bahkan warna kulit pun. Yang membedakan hanyalah bekas luka panjang di lengan Shizen. Shiera, adiknya yang meninggal enam tahun lalu. Ia tak ingat pasti, memorinya seakan mengabur bersamaan dengan luka yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Tapi satu hal yang tak terlupakan adalah ketika orang-orang berbaju hitam itu berusaha menyakiti dirinya dan Shiera datang, lalu entahlah, mungkin saat itu tubuh Shiera yang tergelak di tanah sudah tak bernyawa lagi, atau mungkin saat itu Shiera masih bernapas namun tak dapat bergerak, sementara Shizen tak memanfaatkan kesempatan yang ada. Kini dirinya didera oleh rasa bersalah yang dalam.

Andai saat itu ia tidak memberontak ketika orang-orang itu menarik dirinya, andai saat itu ia tidak meneriaki nama Shiera untuk meminta bantuan, andai saat itu ia tak membiarkan Shiera berkelahi sendiri, atau andaikan yang pasti saat itu ia tidak selalu bergantung pada orang. Keterlaluan. Mereka masih kecil saat itu, mereka tidak mengetahui apapun, atau … siapa orang tua mereka, siapa yang telah membiayai mereka hidup di Kasino Lotus. Mungkin tidak sepenuhnya memang salah dia atau mungkin sisanya takdir yang diberikan dewa-dewi terlalu berat untuk mereka yang sebatang kara dan kecil.

Shizen tak peduli lagi jika selangnya di mulutnya lepas. Dia ingin berteriak sekencang mungkin sekarang.

"Bagus gadis pintar,"

Rhadamanthys menempelkan alat yang sama di krystal Shiera, semacam alat pendeteksi detak jantung namun Shizen tau bahwa alat itu diselimuti kekuatan mistis dari para dewa. Pandora menghitung mundur, ketika angka mencapai satu, yang ia tau tubuhnsya terasa dikejutkan oleh listrik dan semuanya menjadi gelap


Shizen berjalan terseok di atas tanah, matanya berpendar terang di bawah sinar matahari seolah ikut terbakar di dalamnya. Badannya kotor penuh dengan bekas-bekas tanah dan bau, sudah satu hari ia mencari sungai untuk mandi dan minum, namun di Kyoto … daerah yang kecil dan ramai ini sangat sulit rasanya berjalan leluasa agar tak terekspos publik. Ia berhenti di depan suatu kuil, tidak terlalu besar, tetapi memiliki arsitektur taman yang rindang dan cantik.

Gadis itu membetulkan gulungan rambutnya, juga mencari tempat teduh. Sesekali ia seka keringat yang mulai membanjiri pelipis serta dahinya.

Shizen teringat, pertama kali ia terbangun adalah di sebuah rumah kecil dengan bau-bau kue kering, manis sekali. Yang ia pikirkan adalah ayah dan ibunya sedang bekerja di toko roti milik mereka. Yang ia ingat adalah ketika ia bermain dengan kucing coklat bersih miliknya. Namun tak pernah terpetik di pikirannya jika semua itu hanyalah akting palsu dari mereka.

Perlahan semuanya berubah ketika umurnya mencapai tiga belas tahun. Saat itu, Ayah dan Ibunya jarang kembali ke rumah. Ia duduk di kursi dan menonton acara televisi kesukaannya. Suara ketukan sopan terdengar dari depan, dan lekas saja gadis kecil itu berlari untuk membukakan pintu. Ketika yang ia lihat bukanlah kedua orang tuanya, melainkan seorang wanita cantik … sangat cantik hingga ia tersadar bahwa kini mereka tak berada lagi di rumah.

Shizen sedang duduk di atas rerumputan dingin kala wanita itu menatap pantulannya di atas riak sungai. Malam itu, bulan bersinar sangat redup.

"Kau tau Sayang, banyak sekali yang kau lupakan selama ini," wanita itu memulai pembicaraan. Sedangkan Shizen tidak bergerak sedikit pun, ia tau, dekat-dekat dengan wanita itu tak akan bagus. "Kau membawa malapetaka bagi setiap makhluk."

Oke, ini mulai membingungkan bagi Shizen.

"Apa kau baru menghinaku, Nona?"

Wanita itu tertawa, sekilas menatap Shizen lalu mendongakkan kepalanya menatap bulan. "Cih, anak tiriku yang menyebalkan itu membuat bulan tampak jelek sekali malam ini."

"Maksud Anda?"

"Ah iya, iya. Shizen, intinya kehidupanmu itu membawa malapetakan bagi para dewa dan demigod," ia menyeringai kecil. Rasanya Shizen ingin cepat-cepat lari dari sana. "Tapi ternyata kau tidak sebodoh yang kupikirkan. Kau menolak Rhea, itu bagus sekali. Kau membuatku bertepuk tangan dari Olympus."

"Olympus? Maksud Anda hal kuno itu masih ada sampai sekarang? Kebenarannya saja diragukan."

Untuk kesekian kalinya wanita itu tertawa, sangat anggun bagaikan seorang ratu. "Ya, memang ada. Dewa-Dewi Olympia masih ada sampai sekarang untuk mengatur kehidupan kalian. Memangnya kau pikir siapa yang telah membuatmu sampai di sini?"

"Eh, kau?"

"Bukan. Dia Hades. Lebih tepatnya, anak buah Hades."

Shizen membelalakan matanya. "Pembohong!"

"Ckck … Sayang, dengarkan aku," wanita itu mendekat pada Shizen dan menyentuh kepalanya. "Aku secara resmi ingin berterima kasih padamu karena kau, yaa … setidaknya tidak membuat Kronos benar-benar bangkit saat itu. Tapi tetap saja tidak. Dewa-dewi tetap menganggapmu sebagai malapetaka, mungkin bukan saat itu. Tapi suatu hari nanti."

Mereka diam atau tepatnya Shizen tak tau harus membalas seperti apa. Ia semakin bingung oleh omongan ngelantur wanita ini. Banyak pertanyaan di kepalanya yang ingin Shizen sampaikan kepadanya, namun ia tetap memilih untuk diam.

"Tetapi aku tidak. Aku berpikir, jika kau bisa dipergunakan dengan baik, kau tak akan membawa malapetaka bagi kami semua … melainkan menjadi senjata yang sangat ampih dan modern."

Ini kelewatan, batin Shizen. Tentu saja ia tak sudi menjadi senjata untuk dewa-dewi. Tidak. Ia tak percaya pada dewa-dewi, karena yang selama ini ia tau adalah mereka hanya ada di dalam dongeng anak-anak, atau cerita kuno Yunani. Terserah wanita ini mau berkata apa lagi, karena ia tetap tidak tidak akan percaya.

"Sepertinya kau belum mempercayaiku, Shizen,"

Shizen mengangguk mantap.

"Baiklah, biar kutunjukan tentang masa lalumu."

Shizen seakan terlempar kembali ke sebuah dimensi. Lambat laun, pikirannya mulai membayang-bayang kejadian kapan saja yang terlintas di benaknya. Saat itu, pencitraan yang ia lihat adalah pantulan dirinya dalam versi yang lebih dewasa, tampak anggun dan cantik, namun bersamaan juga terlihat sangat menyedihkan, seolah-olah ia telah dititipkan langit oleh Atlas.

Kepalanya kembali terasa sakit, dan ketika ia membuka mata adalah dirinya (lagi) yang sedang menunduk di depan sebuah kuil. Seorang pria biru, oke, pria ini memang memiliki rambut biru dan mata biru, tampak menghiburnya meski usaha itu gagal. Mau tak mau, membuat Shizen –yang sedang melihat kejadian itu– tersenyum. Merasakan rasa hangat serta rindu yang tiba-tiba menjalar di hatinya.

Lalu yang ketiga, ini mengerikan. Bangunan-bangunan runtuh tersebar di mana-mana. Sanctuary. Shizen membatin seolah ia pernah ke sana sebelumnya. Di depannya ada dirinya yang juga tengah berjuang mati-matian melawan sekelompok Dewi –atau Titan. Dirinya terlihat sangat menyedihkan dengan luka di mana-mana. Napasnya putus-putus seolah langit yang diberikan oleh Atlas akan menimpanya sebentar lagi.

Shizen tersadar dengan rasa takut tak kira-kira. Kini ia ingat semuanya. Siapa dirinya sebenarnya, kenapa ia ada di sini. Dan sekarang yang ia tanyakan adalah, mengapa? Mengapa ia dibiarkan hidup dengan menggunakan tubuh adiknya dan menjadi kecil lagi. Kini ia tau bahwa semua baying-bayang dan memori tentang kehidupan kecil yang menyenangkan bersama ayah dan ibunya palsu. "Kau!"

Shizen ingin menangis namun ia tak sanggup. Dia terlalu shock dan bingung harus bereaksi seperti apa, karna ia hanya ingin semua yang ia lihat barusan itu adalah suatu kebohongan. Ia hanya ingin Dewi di hadapannya ini tertawa lagi sambil berkata, "Trick or treat. Rasakan tipuanku." Tapi ia tau bahwa semuanya kini menjadi nyata ketika sang Dewi hanya tersenyum angkuh di atas kebingungannya.

"Ya, aku adalah…"

To Be Continued

A/N

Chap dua. Fyuhh … maaf atas keterlambatan update (gak ada yang mau baca oi) Well, kayaknya gak perlu dibilang juga sudah tau kan wanita cantik jelita ini siapa. Liat aja kelanjutannya. Chap 3 menyusul … em, entah deh kapan menyusulnya. Kalau ada waktu senggang yaa lanjutin. Oke. Sebelumnya, arigatou~