Suara tawa anggun dari seorang gadis kecil memecah kesunyian taman malam itu. Gaun tidur putih berbahan sutranya kotor akibat rumput-rumput kering yang sedang ia duduki. Entah sudah berapa kali ia menguap, namun tetap dikesampingkannya karena anak kucing mungil berbulu coklat bersih dengan belang putih di kaki-kakinya berhasil mencuri seluruh perhatian gadis itu.
Meong~
Ah, bahkan suaranya tidak berhasil menahan pekikan gemas dari mulut anak tersebut. Dipeluknya erat kucing liar yang ditemukannya sedang berjalan-jalan di teras mansion. Lalu, ada hal apa yang membuatnya mengikuti kucing kecil itu sampai ke sini?
Kucing tersebut menggosokkan wajahnya ke rumput dan mengeong ketika tangan gadis itu mengelusnya, seolah memberinya sebuah jawaban. Ia terkekeh dan menatap mata kucing yang terlihat … redup? Mungkin hanya pengaruh malam yang semakit larut sehingga kedua bola mata kucing yang tadinya bersinar-sinar seperti sorot bintang itu menggelap. Gadis tersebut justru mendongakan kepalanya ke atas dan menatap ribuan bintang yang membentuk satu kesatuan konstelasi, "bagaimana rasanya hidup sendirian tanpa pegangan?"
Dia tampak menikmati hembusan angin malam yang mengetuk-ngetuk di pori-pori kulitnya. Tentu saja dengan tangan yang masih mendekap kucing di pangkuannya. Berlama-lama di alam terbuka seperti ini ternyata berhasil membuat ngantuk. Perlahan, namun pasti iris yang bagaikan pecahan zamrud tersebut menutup, tentu saja ketika ia telah berbaring.
Sementara itu, anak kucing yang awalnya berada di pangkuannya berpindah ke samping dan ikut berbaring dengannya.
Saint Seiya © Masami Kurumada
Puzzle Pieces in Culpability © Shimmer Caca
Kepingan-kepingan memory mulai tersusun acak di kepalanya, laksana teka-teki yang siap dipecahkan. Sementara lilin kehidupan hampir padam, waktunya semakin sedikit. / "Sudah lama sekali ya, Kak …" / "Kurasa aku tidak kehilangan apapun./
Warnings : OOC, Typo(s), Marry sue OC. DLDR. Anti OC? Mending jangan baca deh.
Shizen menendang kerikil di hadapannya, kesal. Setelah insiden itu dia harus terombang-ambing di jalanan lagi. Memuakkan. Cukup p
ara dewa memainkannya sampai di sini, ketika ia berhasil menemukan Sekolah Demigod, tidak ada lagi acara meratapi nasib sambil berjalan dengan pakaian kumal. Tidak ada lagi acara penyerangan tiba-tiba saat malam hari seperti pecundang! Jika ingin menghajarnya, ayo, datang saja langsung ke hadapannya saat ini. Dia akan membuktikan bahwa kakinya cukup kuat untuk menendang bokong mereka satu per satu.
Ayolah Shizen, menyerah saja.
Mengehela napas –lelah– akhirnya ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di tepi sebuah sungai . Saat itu sore datang membawa mendung. Badai seperti akan datang dari arah utara. Angin berhentak kasar dan pepohonan sudah seperti sekumpulan yang sedang menari hip hop. Ia menatap lurus ke sebrang jembatan –mungkin lebih tepatnya memperhatikan riak-riak air sungai yang berjalan deras. Senyap seperti ini membuat Shizen teringat masa-masanya di Sanctuary. Milo, Ringo, Camus, ah, sedang apa kakaknya saat ini? Apa mereka masih mengingat Shizen? Atau justru menunggu kepulangan gadis itu? Omong-omong soal kakak, ia jadi merindukan kedua kakaknya yang lain.
Sudah lama sekali ya, Kak …
Angin yang menusuk-nusuk tidak dapat membuat perasaannya lebih baik. Ia mendongak ke atas dan menatap langit dengan gumpalan-gumpalan kelabu. Tidak ada seorangpun yang mengingatnya setelah semua, lalu mengapa Shizen harus memikirkan mereka?
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Suara hatinya terus berkata. Seolah mendorong diri Shizen untuk tidak membiarkan hal seperti ini terjadi selamanya. Apakah gadis itu mau dilupakan kakak-kakaknya setelah semua yang dialami mereka –kasih sayang, cinta, kebahagiaan, kemarahan, tentu saja sejuta rasa yang terus mengisinya hingga ia tidak merasa kosong sampai sekarang. Apakah Shizen sudi dilupakan oleh Sanctuary atas segala yang ia perbuat, pengabdiannya? Kesetiaannya?
Meski hati kecilnya lelah, meski hati tersebut kerap kali menghasutnya untuk menyerah atas kehidupan, dia akan terus bertahan. Membuat jalannya sendiri sampai jalan tersebut berakhir.
Dan untuk kesekian kalinya dalam hari itu, ia menghela napas. Melemparkan batu terakhir ke sungai sebelum memutuskan untuk beranjak dari tempat itu. Namun belum selesai ia berbalik—
"Hullo!"
"Whoa!"
Shizen malah tersentak dan terjengkang ke belakang ketika mendapati seorang pria dewasa dengan kemeja kotak-kotak dan topi cowboy tepat berada di hadapan wajahnya. Pria itu memiliki rambut coklat kayu dan mata emas matahari, Shizen mengerjapkan matanya beberapa kali dan menyadari bahwa dia tampan –sangat tampan.
"Kau tidak apa-apa? Maafkan aku, tidak bermaksud membuatmu jatuh, hanya ingin mengagetkanmu saja." Ia mengulurkan tangannya pada Shizen, tapi gadis itu justru mengacuhkannya dan berdiri sendiri, tak lupa membersihkan bajunya dari debu-debu di tanah.
"Terima kasih. Anda berhasil mengagetkan saya." Dalam satu tarikan kalimatnya saja Shizen sudah menyadari bahwa pria tersebut bukan teman yang baik diajak berbincang. Tdak perlu repot menyadari setiap kerlingan jahilnya karena Shizen tau akan betapa menyebalkannya dia. Dapat Shizen lihat bahwa ekspresi pria ini berubah menjadi masam dan … terhina. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan maju beberapa langkah melewati Shizen.
"Musim panas memang yang terbaik!" dan belum sempat lagi Shizen mengambil langkah meninggalkan tempat itu, ia sudah berseru kencang, mau tak mau Shizen kembali berbalik badan untuk menatapnya –sebagai tanda hormat pada yang lebih tua (Electra mengajari banyak hal tentang kesopan-santunan setiap harinya, Shizen berpikir wanita itu harus membuka les private bagi Tuan Putri Kerajaan).
"Maksudmu dengan badai ini?"
Pria itu terkekeh dan merentangkan tangannya. "Badai? Tidak, tidak akan ada badai sampai akhir musim panas mendatang."
"Lalu ini apa?—"
"Lihat," ia menunjuk ke atas langit dan awan-awan kelabu tadi sudah bergeser, menampakkan langit cerah yang membentang sombong di atas. Matahari juga mulai terlihat kembali, meski sedikit-sedikit angin masih berhembus kencang. Shizen terperangah di tempatnya. "Sudah kubilang tidak akan ada badai, kan?" dia menyunggingkan senyum angkuh dan memainkan poni seperti cowok-cowok di manga shoujo. Shizen mengendus geli –atau jijik?– melihatnya.
"Jangan kau pasang ekspresimu lagi, itu menghinaku, tau."
Gadis itu terkekeh ramah. Oke, sudah cukup untuk membalas pak tua satu ini. "Maaf. Tidak akan terulang lagi."
"Kau tau, terkadang para dewa juga bosan jika hanya duduk diam di singgasananya dan mengawasi manusia," dia berbicara dengan nada yang seolah-olah tau akan segala hal. "Dan saking membosankannya, beberapa memilih turun ke bumi langsung. Maksudku, hei, apa enaknya sih hidup serta tumbuh besar di tanah seperti ini?"
"Mereka memang merepotkan."
Pria tersebut justru tertawa keras. Benar-benar tidak tau diuntung gadis ini, pikirnya. Syukur-syukur masih hidup sampai sekarang –masih disisakan oksigen, masih disisakan ingatan, lalu dengan kurang ajarnya berkata seperti itu –di depan Zeus yang baru saja lewat pula. Untuk beberapa dekade, dia hampir tidak mempercayai ramalan itu lagi. Ramalah yang mengatakan tentang seorang anak dengan kekuatan saktinya –yang akan memilih sebuah kebijaksanaan atau memberikan musibah bagi Olympian.
Dia pikir ramalan tersebut hanya ucapan iseng Apollo.
Atau mungkin para Anemoi benar, dia sudah menjadi sinting.
"Kau sedang kehilangan sesuatu, ya?"
Butuh waktu sepersekian detik untuk Shizen sebelum menyadari bahwa pria itu berbicara dengannya, butuh waktu juga bagi Shizen untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak berbicara dengan orang gila –maksudnya, tidak ada orang yang satu detik lalu tertawa dengan keras seolah melihat sirkus kawakan, lalu detik selanjutnya memasang wajah serius seakan dunia akan lenyap esok pagi.
Dahinya mengkerut bingung, "kurasa aku tidak kehilangan apapun."
"Tidak, aku bisa melihatnya dengan jelas, di dalam matamu."
Shizen menutup matanya. Mencari apa saja yang sudah ia lewati selama ini, mungkin ada yang terlewat, atau sesuatu yang belum disadari olehnya.
"Mengapa kau di sini? Bagaimana mungkin kau bisa mencapai tempat ini? Apa yang membuatmu menjejakan kaki di sini. Ingatlah, Shizen,"
Iris matanya yang seiring dengan ruby —jejak-jejak yang tertinggal dari Kronos sejak ia lahir, yang tak terpungkiri lagi bahwa mau tak mau gadis itu mengaku menyukai matanya ini— perlahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah seberkas cahaya menyilaukan di hadapannya.
Cahaya tersebut menelan mereka.
"Tujuanmu yang sebenarnya bukan untuk mencari Sekolah Demigod, percayalah. Sekolah itu hanya satu dari sekian banyak permulaannya. Jangan lupakah bahwa kau sedang dalam perjalanan mencari dirimu –itulah yang kau hilangkan sejak beberapa tahun terakhir ini—
–Yang kau lupakan. Yang kau hilangkan. Yang membuatmu buta arah."
Perlahan-lahan cahaya itu mengabur, bersamaan dengan angin kencang yang datang, dan tiba-tiba saja pria dewasa tersebut sudah menghilang dalam kedipan mata. Menyisihkan dia seorang, dengan angin yang penuh semangat dan udara yang semakin gencar panasnya.
Shizen tak urung dibuat shock lagi-lagi oleh para makhluk dewata. –meskipun insiden didatangi Hera membuat ketakutan tersendiri untuknya–
Dia diam sejenak, baru sadar bahwa ada sebuah belati yang jatuh di antara rumput-rumput. Shizen pun membungkuk untuk mengambil benda tersebut. Ketika tangannya terulur, surai merahnya jatuh mengiring ke samping akibat para angin nakal yang barusan lewat–
–itu ventus!
Tidak membuang waktu, Shizen mengejar angin-angin tersebut, namun kini dengan perasaan yang lebih lepas.
Semangat muda.
Pikir Notus dari atas sana.
Malam sudah berarak mendekati puncaknya. Penglihatan Shizen hanya sebatas lentera dan lampu taman saja, sulit untuk menemukan ventus malam-malam begini. Ia putuskan untuk mengambil istirahat hingga pagi nanti. Dan juga, rumah-rumah tidak terlihat di sekitar sana, oh ini bagus.
Omong-omong, belati yang ditinggalkan oleh orang tadi masih digenggamnya –dan bahkan ia tidak mengenal pria itu sama sekali.
Shizen memejamkan matanya, merasakan semilir angin yang ia biarkan menabrak helaian rambutnya. Suasana ini sunyi, terlampau sunyi malah. Padahal ia cukup yakin saat ini belum larut-larut amat.
Meski bintang bertaburan, dan bulan terlihat besar, ada perasaan menjanggal di hatinya.
Dia bukannya kepo untuk mencari kejanggalan itu. Shizen tidak tahan, sungguh, dia begitu tidak tenang hingga melawan mati-matian kantuknya. Selain itu, ada yang bilang bahwa –hampir– setiap demigod menderita GPPH –Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas. Dan Shizen bersumpah dia tidak mengidap itu, toh dia juga tidak mengakui ayah dewatanya. Kenyataannya, ia bergerak dari tempatnya saat ini karena gangguan tersebut.
Lelah memutari taman, ia justru tidak mendapatkan hasil apapun. Gadis itu memutuskan untuk kembali ke tempatnya semula. Tapi baru semenit saja Shizen membalikkan badan, baru sedetik saja ia akan mengambil langkah, sebuah teriakan menggema dari ujung.
Derap langkah Shizen bergetar di sepanjang tanah, ia terengah meski tidak bisa berhenti dari lari. Anak itu yakin sebentar lagi ia akan sampai di tempat muasal teriakan tadi. Kenapa bisa seyakin itu? Entahlah, mungkin karena prediksinya hampir selalu benar.
Jika Shizen memiliki insting yang bagus, maka sebalikannya, keberuntungan yang ia miliki sungguh buruk. Pertama, dengan bodohnya ia melompat ke tengah-tengah hamparan rumput itu. Kedua, Shizen bahkan memohon kepada Dewa bahwa ia lebih memilih menemukan aksi kejahatan daripada melihat makhluk ini. Dan terakhir, uu–oh, teriakan itu berasal dari seorang anak kecil! Astaga Demi Kronos, apa yang dilakukan gadis sekecil itu berada di taman malam-malam begini? Ke mana orang tuanya!?
"Kau tidak apa?" rasanya ada sedikit dejavu saat mengatakan itu. Ada dejavu ketika Shizen menarik tangan gadis cilik tersebut untuk lari mengikutinya. Anak itu memiliki mata zamrud biru kehijauandan rambut yang serupa dengan lavender. Kulitnya putih seperti kebanyakan orang jepang, dia sungguh anggun di balik balutan sutranya. Bahkan dalam kondisi seperti ini, dia memiliki aura kewibawaan yang begitu pekat.
Shizen memilah memorinya yang kacau, karena dia merasa pernah melihat gadis itu sebelumnya.
Tanpa diduga-duga, monster yang berbentuk seperti kucing –jika Shizen tidak salah lihat, sudah menumbangkan satu pohon yang menjadi tempat mereka bersembunyi. Napasnya membuat bulu kuduk sang putri Waktu meremang, dan mereka refleks berbalik badan.
Shizen terengah di tempat, sementara gadis kecil di dekapannya menggigil ketakutan. Untuk beberapa saat ia terpana, menatap mata kucing yang berapi hitam. Pikirannya bergelut, mencari-mencari monster Yunani apa makhluk ini.
Kucing itu seperti jelmaan iblis, sungguh. Mendadak suasana di sekitar mereka menjadi kelam. Shizen merasa ia sedang tidak berada di tempatnya berdiri, melainkan di sebuah dimensi waktu yang sangat ditakutinya sejauh ini –Perang Titan. Suhu udara menaik dan ia merasa seperti tersedot ke delam.
Apa, tersedot?
Oh itu buruk.
Shizen mundur perlahan. Keringat dingin membanjiri wajah serta lehernya. Tetapi tangan kecil gadis tersebut memberinya kekuatan. Ia melirik ke samping –betapa terkejutnya Shizen ketika mendapati ruang sekitar mereka bercahaya dan menghangat. Air mata gadis kecil tersebut seperti membawa kemarahan pada alam.
Dan meski ia terpaku di tempatnya, gadis pemilik surai merah alami itu tidak bisa berdiam diri di sana lebih lama lagi.
Sambil berlari, ia meyakinkan dirinya bahwa monster tersebut bukan monster dari Yunani.
"Nekomata."
Suara lirih itu menghentikan langkah Shizen. Ketika ia menoleh lagi, gadis kecil tersebut sudah memeluknya ketakutan.
Sebuah pelukan yang membuat ia sadar akan segala hal tentang dosanya selama ini –ketika ia menyembunyikan fakta bahwa kakaknya berkhianat, ketika ia membohongi mereka yang mempercayainya, dan bahkan ketika ia melakukan sendiri pengkhianatan itu.
"Sebelah sini!" Shizen tetap berlari sambil menggandeng anak itu. Kakinya terasa amat perih karena berlari sejak tadi, bahkan langkahnya sudah mulai melambat.
"Belati itu!"
Bahkan Shizen melupakan senjatanya. Dia memutar otak, berhubung belatinya terjatuh ketika ia melompat tadi, dan monster buas di belakang mereka terlihat sangat bergairah untuk mencincang-cincangnya, maka pasrahkan saja pada dewa.
Oh ayolah, aku sudah mengalami yang lebih buruk dari ini. Ia membatin.
Tiba-tiba saja gadis itu mendapat ide. Jika yang diincar adalah dirinya maka akan lebih muda untuk memancing Nekomata mengikutinya.
"Nah nona kecil, pada hitungan ketiga, mari kita berpencar. Kau ke kanan dan aku ke kiri, oke?" Shizen berharap monster itu tidak mengerti apa yang diucapkannya.
Sementara si surai ungu terlihat tidak yakin.
"Percaya saja padaku," dia berusaha terlihat meyakinkan, "satu, dua, tiga!"
Sesuai yang diperintahkan, mereka berpencar. Dan sesuai yang direncanakan pula, monster itu mengikutinya. Diam-diam Shizen berdoa dalam hati agar kucing tersebut tersandung, menabrak pohon, atau apa sajalah, karena gawat sekali ketika ia berhasil mengejar Shizen sementara kakinya sudah seperti akan lepas.
Ia menyugesti dirinya sendiri. Tarik napas, keluarkan, tarik napas—
Mana bisa aku tenang dalam keadaan begini!
Shizen melihat seberkas kilauan di ujung. Tersenyum, ia pun sebisa mungkin mempercepat larinya. Namun, Nekomata seakan mengerti, ketika Shizen mendapatkan belatinya, ia membelok. Berhenti mengejar gadis itu dan sepertinya mulai tertarik pada gadis kecil di sana. Dan sepertinya juga, jiwa sang pemilik iris zamrud tersebut lebih 'bersih.
Oh tidak.
"Hei Pecundang Besar, aku di sini!"
"Kejar aku!"
Mereka berlari lagi, sesaat membuat monster itu bingung. Mungkin jika Nekomata tersubut bisa berbicara, ia akan mengatakan, "umm, mana yang lebih enak untuk makan malam, ya?"
Dan syukurlah, dia tidak bisa bicara.
Tapi sepertinya ia telah selesai memutuskan yang mana untuk disantap terlebih dahulu. Karena ketika ia berpaling akan mengejar Shizen, gadis tersebut sudah menerjang ke arahnya dengan belati yang terhunus dan segenap cosmo yang tersisa. Bukannya melebih-lebihkan, tapi, bayangkan saja jika seharian ini kau berjalan terus tanpa istirahat, dan berlari tidak henti selama satu jam terakhir, memangnya, sebesar apa sih cosmo yang tersisa itu?
FUUHH!
Shizen berhasil menghunus belatinya tepat di salah satu mata sang kucing yang omong-omong kini tengah mengeluarkan darah hitam menjijikan. Dia mengeluarkan suara seperti meraung dan gadis itu sadar monster ini belum akan musnah.
Dengan kemarahan yang berapi-api, Shizen tanpa ampun menghunuskan belatinya berulang-ulang. Biarkan saja wajahnya dikotori darah makhluk tersebut, toh, dia marah bukan karena makhluk ini saja, tapi karena ingin membuktikan pada para dewa yang sedang tercengang di atas sana bahwa dia akan terus bertahan hidup.
"Kau berhasil!" rasanya damai sekali melihat senyum haru gadis yang kini sedang berlari ke arahnya. –dan Shizen tidak akan tau bahwa diam-diam gadis kecil itu mengatainya psikopat.
"Nona kecil—"
"Saori. Namaku Kido Saori, namamu?"
"Saori, ya … … namaku Shizen."
Dan malam itu adalah malah di mana seharusnya Shizen bunuh diri untuk menebus dosa-dosanya.
TBC
Niatnya mau dilanjutin, tapi kayaknya terlalu banyak deh. Jadi kupikir lebih baik untuk chap depan saja. Ah, btw, I'm too sleepy to reply—
Shizen: Ayo balas review! ^^
#pasrah
–Gianti-Faith
Shizen: Benarkah? Yah aku ingin cepat-cepat sampai ke Sekolah Demigod
Caca: Kau tau, tidak akan semudah seperti yang kau bayangkan
Shizen: Do'a kan saja aku tetap selamat, minna ^^; *aslinya lagi merana*
Yumi: Terima kasih sudah –hoam review … *langsung ketiduran*
–AmuletWin777
Caca: Dia kan ada di Jepang~
Shizen: Sebenarnya aku ingin pulang ke Sanctuary
Caca: Tenang saja
Shizen: Omong-omong Jasper tidak ada mirip-miripnya seperti seorang ayah. Dan soal segel itu, entahlah, dia menghabiskan ratusan tahun hidupnya untuk mempelajari segel-segel tersebut, kurasa
Caca: Aku tidak ingin comment apa-apa tentang pemburu Artemis …. 'Mereka itu yang terhebat..' terima atas reviewnya~
RnR?
