Hope u like it!
Heheheh!
Honestly adalah secara jujur; terus terang;
dengan tulus ikhlas; serta dengan tulus hati
Amegakure, 07:35 PM
Akhirnya, mobil yang menumpang tim wawancara sudah sampai di depan hotel yang menurut mereka 'kelewat megah'. Ino turun belakangan dari mobil, lalu ia menghampiri Tenten.
"Ten, Ten!" panggilnya lirih.
Tenten menoleh. "Kenapa, Ino-chan?" tanyanya heran.
Ino tidak langsung menjawab, melainkan menyeret koper 'sang pembimbing' dengan hati yang tabah. "Tolongin, aku deh…" desisnya saat menyeret benda laknat itu yang beratnya melebihi king kong.
Tenten segera membantu Ino. "Ayo sini!"
Ino dan Tenten bersamaan menyeret koper tersebut masuk ke ballroom. Mereka menyumpahi pembimbing mereka, yaitu Mister Kakashi. Karena apa? Karena Mister Kakashi, Sasuke, Sakura, dan juga Gaara santai-santai saja berjalan menuju meja petugas hotel.
Sungguh, ini terasa tidak adil bagi Tenten dan Ino. Ayolah, siapa yang tidak kesal kalau barang orang lain yang sangat berat malah kita yang membawanya? Sedangkan, mereka hanya bersantai, seperti tidak ada masalah.
Ino berdecak. "Ten, kok pembimbing kita nyebelin ya?"
"Yah, mau gimana lagi, Ino. Kita gak bisa memerintah beliau," ucap Tenten setengah berbisik.
Setelah berkeringat menyeret koper, mereka sampai juga dimeja petugas yang dipenuhi oleh kunci-kunci kamar.
Ino menghela napas, dan mendorong bahu Sakura pelan.
Sakura tersentak. "Kenapa, Ino?"
"Kamu tahu? Hampir saja aku sama Tenten encok gara-gara koper pembimbing!" semprot Ino galak.
Sakura meringis. "Gimana mau tahu No, kamu nggak nyuruh aku."
Ino yang mendengar kata-kata Sakura tersebut hanya bisa meremas tangannya kesal, dan Tenten tampak menggertakan giginya.
"Ish, jangan galak-galak!" seru Sakura masih dengan kekehannya yang menyebalkan.
Otomatis Tenten menginjak kaki Sakura.
"Aw, sakit!"
"Rasain!" Tenten menjulurkan lidahnya, mengejek Sakura.
"Heh, diam! Ini bukan taman bermain!" sentak Gaara dengan aksen deathglare terhorornya.
Sasuke yang sedari tadi melihat mereka bertiga membuat keributan, memandang para wanita itu dengan tatapan tidak mengenakkan.
Sakura melihat paras wajah Sasuke, tentu langsung terdiam kaku. Ia berbisik pada Tenten, "Ten, diem deh. Si Sasuke daritadi ngelirik kita marah,"
Tenten langsung merinding, kemudian ia mencubit lengan Ino. "Hei, Ino, jangan ribut." Ia menunjuk Sasuke dengan hati-hati.
Ino mengikuti arah yang ditunjuk Tenten, terlihat Sasuke sedang berbincang dengan petugas hotel mengenai kamar yang nyaman. "Kenapa, sih? Kamu duluan kok yang bikin ribut!"
Tenten terperanjat. "Lho? 'Kan tadi kamu yang duluan nyemprot Sakura?"
"Eh, iya sih."
"Hahaha,"
"Jangan membuat keributan!" sekali lagi Gaara memperingati mereka bertiga.
Gaara melirik kesal pada sang pembimbing karena ia daritadi belum selesai bertanya pada petugas hotel. Oh, please.
"Hei, kalian! Ayo, kita ke lift!"
Suara teriakan dari Mister Kakashi menyentakkan mereka dari lamunan. Mereka bergegas mengikuti Mister Kakashi dari belakang.
Setelah sampai di lantai 3, Mister Kakashi membagikan kunci pada Tenten.
"Ini," Mister Kakashi memberikan kunci. "Kalian bertiga satu kamar, ya!" ujarnya sambil tersenyum pada Tenten, Ino, dan Sakura.
Mereka bertiga langsung berteriak senang.
"Yaudah, Gaara, kamu satu kamar sama saya dan Sasuke, ya?"
"Iya, tidak apa-apa, Mister." gumam Gaara.
Amegakure, 08:50 PM
"Yeay!"
Tenten, Sakura, dan Ino.
Ya, mereka sedang bermain perang bantal.
"Haha, kamu kena, Sakura!"
"Hei, Tenten curang!"
"Yeay, Tenten menang!"
BUGH
Tenten mendapat hukuman karena curang. Sakura dan Ino tampak leluasa menampar Tenten memakai guling.
"Hahahaha,"
Seketika, mereka tertawa secara bersamaan.
"Aduh, sakit perutku gara-gara ketawa!" sahut Sakura.
"Sama, Saku-chan!" kata Ino.
Mereka tertawa karena Tenten terjatuh dari kasur saat Sakura menampar terlalu keras menggunakan guling.
Tenten menghampiri mereka. "Ih, aku bisa kena patah tulang ini!"
"Kasihan, deh!"
Tenten mengerucutkan bibirnya.
"Stage 2 yuk, belum puas nih!" ajak Ino.
"Pake lagu, ya No!"
Ino mengangguk senang.
Sakura menyalakan lagu Twice dari speakers laptopnya. Terdengar lagu OOH-AHH mengema dikamar mereka.
Tenten yang lebih dulu mengayunkan bantalnya, tepat dikepala Sakura.
"Aku belum ngasih aba-aba, keles!"
Tenten tertawa renyah. "Terserah aku dong,"
Mereka bertiga melanjutkan permainan.
"Eotteohke naega umjigil su eopge
Ten Ooh Ahh Ooh Ahh hage mandeureojwo
Gajja gajja jinsim eomneun gajja
Jal ga jal ga Huh (OOH-AHHhage)
Eotteohke ije deo halmari eopge
Ten Ooh Ahh Ooh Ahh hage mandeureojwo
Bla La La La malmanhaji malgo
Neukkyeojige Huh (OOH-AHHhage)"
Sakura lari dari kejaran Tenten dan Ino yang membawa dua bantal sekaligus. Faktanya, ia masih sayang pada kepalanya.
"Aw!"
Ups, ternyata Sakura tidak sengaja menginjak sesuatu lalu terjatuh.
"Ahahaha," Tenten dan Ino puas tertawa karena Sakura.
"Malah diketawain, bantuin aku bisa kali! Sakit, nih!"
Dengan berat hati, Ino membantu Sakura berdiri.
"Uh, mungkin ini karma, Ten." gumam Sakura sembari memijit kakinya.
"Sukurin!"
Ino tersenyum, kemudian ia menengok pada jam dinding. Oh, astaga!
"Guys, kita terlalu asik sampai-sampai kita nggak tahu jam."
Tenten dan Sakura tersentak, lalu ikutan menengok jam dinding.
Wtf?
"Anu, aduh… Yaudah, kita tidur yuk!" Tenten langsung loncat ke kasur yang ada dipojok kanan ruangan.
Ino dan Sakura juga begitu, dengan tergesa-gesa mereka meraih selimut dan tidur.
Besok adalah hari mereka bekerja. Dan ya, sekarang waktu menujukkan pukul setengah sebelas malam.
Setelah melihat jam, pasti mereka membatin like this :
Pfft, you kidding me?!
Percayalah, itu benar dan fakta.
Amegakure, 08:00 AM
Semua orang berlalu lalang tergesa-gesa untuk mendapatkan pengobatan dari tim medis yang dikirim untuk membantu para rakyat yang terkena penyakit akibat longsor kemarin.
Ya, disinilah tempat mereka akan wawancara.
Tenten mencoba mencari saksi untuk ia wawancarai.
Sakura juga begitu, berlari-lari dari sana kesini.
Gaara sibuk dengan para tim medis untuk mengobati anak-anak.
Mister Kakashi sibuk membantu para orang tua yang terluka.
Ino duduk terdiam dikursi kayu yang berada disebelah mobil tim mereka. Sekali-kali, ia menatap iba kepada anak-anak yang menangis karena menahan sakit, dan juga lapar yang melanda mereka.
Ino menghembuskan napas. "Hhh… aku cukup lelah membantu, tetapi kasihan mereka."
Inopun bersikeras untuk melanjutkan aktivitas mengobati pasien.
"Apakah anda tahu pada jam berapa longsor ini datang?"
"Gak tau saya ya, saya waktu itu tidur habis pulang dari pos. Terus saya tiba-tiba terbangun pas denger suara. Tapi, kayaknya saat itu pas pada pukul 4 dini hari,"
"Keluarga anda ada yang terluka pak?"
"Ada, istri sama anak saya."
Ino ikutan mendengarkan wawancara dari Tenten. Bapak yang diwawancarai oleh Tenten terlihat takut, karena trauma dengan kejadian kemarin.
Setelah Tenten selesai mewawancarai bapak itu, Ino menghampirinya. "Ten, istirahat yuk?" tawarnya.
Tenten mengangguk. "Ayo,"
Mereka berdua duduk dikursi kayu sambil memakan roti persediaan yang ada dimobil mereka.
Tenten membuka catatannya, sambil memakan rotinya. "Hmmm…" ia bergumam.
"Udah selesai ya, Ten?" tanya Ino.
"Belum sih, No. Tapi, saya capek, heheh," katanya masih dengan aktivitas membuka catatan. "Kalo kamu Ino, udah selesai nih ngobatin warga?"
Ino menggeleng. "Lumayan banyak warga yang ada di desa ini, Ten. Bahkan aku cukup lelah," Ino tersenyum miris.
"Haduh Ino, aku ngelihat mereka tuh kayak ikutan sakit,"
"Halah, kamu nggak pernah ngerasain sih! Kamu taunya makan mulu!" canda Ino.
"Ih, Ino!" Tenten melempar pulpen kearah Ino.
"Aduh, jangan ngelemparin pulpen dong, Ten."
"Biarin,"
Tiba-tiba, Gaara datang membawa satu bingkisan.
"Apa itu, Gaar?" tanya Tenten keheranan ingin melihat isi bingkisan tersebut.
"Kepo."
Tenten mengembungkan pipinya kesal.
"Kalau itu makanan, bagi dong, Gaar! Jangan pelit," ujar Ino terkekeh pelan.
Gaara membuka bingkisan, kemudian meletakkannya dimeja yang ada di depan kedua wanita itu.
Donat.
Itulah isinya.
Ino tersenyum kecut. "Ternyata seleramu donat, ya Gaar?" tanya Ino dengan hati-hati, yah takut ditampol.
"Kenapa? Aku udah bilang, kalau aku ini juga aneh." Katanya datar.
"Iya deh, terserah." Ino mengambil donat yang atasnya keju.
Tenten juga ikutan mengambil, ia mengambil yang ada selai strawberry.
"Btw, orang aneh itu nggak akan menyebutkan dirinya aneh. Tetapi, orang lain yang menyebutnya aneh." jelas Tenten disela-sela makannya.
"Bukannya kamu juga aneh?" Gaara melirik tajam ke Tenten.
Tenten, skakmat.
"Haah… iya terserah, aku menyerah." Tenten melanjutkan membuka catatannya daripada berdebat dengan Gaara yang tidak akan ada habisnya.
Sakura berjalan gontai, lalu duduk dikursi sebelah Ino.
Ino menaikkan satu alisnya. "Kenapa?"
Sakura menoleh pelan. "Capek, Ino-chan,"
"Yaudah sih, makan ini dulu!" ucap Gaara garang.
"Gak usah galak bisa sih!" semprot Sakura.
Ino berdiri dari kursinya.
"Mau kemana?" Tenten yang melihat Ino, mengajukan pertanyaan dengan wajah serius.
"Mm, mau jalan-jalan aja."
"Oh, okay. Jangan lama-lama, Ino,"
"Iya."
Amegakure, 10:22 AM
Ino menendang kerikil yang ada disudut jalan, sesekali ia menyanyikan lagu kesukaannya.
BRAK
Ino buru-buru menoleh ke asal suara.
Sasuke.
Ino berlari menghampiri Sasuke, ia sedang merapikan barang-barang warga.
"Buku-buku ini… jatuh, ya?" tanya Ino tidak jelas.
"…"
Tidak ada jawaban dari Sasuke, Ino lalu membantu membersihkan tanah yang menempel dibuku.
Ino melirik Sasuke, sekali ia melirik, lalu membersihkan, melirik lagi, membersihkan lagi. Yah, begitu aja terus.
Damn, kok jadi canggung ya? Batin Ino grogi karena di depannya ada Sasuke yang sedang membersihkan peralatan warga.
"Kenapa kesini?" tanya Sasuke datar.
Ino tersentak kaget. "Anu, tadi aku nggak sengaja mendengar ada suara benda jatuh."
"Kamu kira UFO?"
Ino menelengkan kepalanya. Apaan? UFO?
"Maksudnya?"
"Abaikan saja," kata Sasuke.
Sesudah membersihkan, Sasuke mengajaknya ke mobil tim medis. Apa boleh buat, Ino cuman bisa menurut saja kalau diajak dengan pria tampan.
"Ini," Sasuke menyodorkan botol air mineral padanya.
Ino tertegun, lalu mengambil botol itu. "Makasih," ucapnya.
Sasuke hanya mengangguk satu kali. Kemudian, ia sibuk membantu tim medis mengobati warga.
"Sasuke, tolong kamu kasih tau polisi yang ada disebrang jalan sana ya! Ada warga yang terkena penyakit parah!"
Ino yang mendengar itu otomatis memandang kearah Sasuke.
Sasuke melengang pergi, ia pergi ke sebrang jalan.
Perasaan tidak enak menghampiri hati Ino, entah itu perasaan takut dan cemas.
Ino melamun, masih memegang botol air mineral yang diberikan oleh Sasuke.
CITTT DUAG
Ino membelalakan matanya.
Semua tim medis berlari ke jalan.
Ada apa ini? Kenapa ada mobil terjembab ke parit? Batin Ino.
Ia segera menyusul para tim medis.
Satu objek yang menjadi perhatiannya sekarang ini.
Satu objek.
Orang yang selalu membuatnya grogi.
Sasuke.
Pria itu tergeletak dijalanan, ditangannya ada darah mengalir.
Ini… bukan lelucon, kan?
Ino termenung.
Gaara sekilas melihatnya, lalu membantu tim medis mengangkat tubuh Sasuke masuk ke dalam mobil ambulan. Sedangkan, pelaku memakai sedan hitam yang menabrak Sasuke sudah menghilang. Polisi mengejar mobil sedan hitam itu.
Sakura ikut membantu.
Tenten menepuk pundak Ino.
"Ino, ayo…"
Tenten menuntun Ino ke mobil tim wawancara mereka, tujuan untuk menenangkan Ino.
Tenten tahu, kalau Ino… menyukai pria itu. Ia bisa membaca wajah Ino saat didalam pesawat.
"Ten," Ino mengengam tangan Tenten.
"Ada apa, Ino?"
"Aku…" Ino terdiam sesaat. Lalu berkata, "Aku melihatnya…" lanjutnya dengan nada lirih.
"Iya Ino, aku tau kok." Tenten mencoba menenangkan Ino, tetapi susah.
"Ten, aku…" Ino masih saja bergumam tidak jelas.
"Sudahlah, Ino. Kamu tenang aja dulu, terus kalau udah nanti kita menengok keadaannya. Ya?"
Ino mengangguk.
Amegakure, 09:44 AM
Hari ini, mereka akan pulang ke Konoha. Wajah mereka terlihat sayu, terlebih Ino. Ia sedari tadi berdiri terdiam, menabrak orang saat berjalan, dan juga tidak sengaja menjatuhkan benda yang ia bawa.
Sakura menatap Ino miris. "Ini pertanda buruk, suhu berubah dingin."
"Maksudmu Ino jadi lebih dingin gitu?" tanya Tenten yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sakura.
"Iya, dodol!" Sakura menjitak kepala Tenten pelan.
"Hh, sebegitukah kehilangan orang yang disukainya?" Gaara menghela napas.
Sakura menendang kaki Gaara. "Heh, coba kamu sekarang ada diposisi Ino. Terus kamu kehilangan cewek yang kamu anggap adek sendiri itu, sakit gak?" sahut Sakura.
"Iya, iya." Gaara mengangguk malas.
Mister Kakashi menghampiri mereka dengan wajah sedih. "Ino… apa dia tidak apa-apa?"
"Kita hanya berharap saja pak, semoga setelah sampai di Konoha, ia menjadi hiper kembali." ucap Sakura meyakinkan Mister Kakashi.
"Saya juga berharap begitu. Walaupun saya sedih juga kalau Sasuke harus dirawat dulu,"
Ya, Sasuke akan dirawat dirumah sakit kota Amegakure ini. Ia tidak ikut pulang ke Konoha sebelum ia siuman. Sekitar seminggu ia akan menjalani pengobatan.
"Kita berdoa saja pak supaya Sasuke lekas sembuh," kata Gaara.
Mister Kakashi tersenyum. "Gaara bisa saja ya? Nanti saya kasih bando warna pink lho!" godanya.
"Sejak kapan saya suka warna merah muda, pak?" Gaara tampak kesal mendengar rayuan pembimbingnya yang emang menjijikan itu.
"Kali aja Gaar, kamu kan tipe cowok imut." Sakura ikut nimbrung.
"Iya, cocok lho," Tenten juga ikut nimbrung.
Sementara Ino, ia duduk diam memandang kopi yang ia beli dikedai tadi.
'Your attention please, penumpang pesawat Braver Air dengan nomor HN-922 tujuan Konoha, dimohon untuk ke pintu nomor 4-A. Terima kasih.'
Mereka berlima, dan para penumpang lainnya buru-buru melesat ke pintu 4-A yang dimaksud petugas tadi.
Mister Kakashi cepat-cepat menyeret koper beratnya, trio wanita membawa ranselnya, lalu Gaara membawa backpack kesayangannya.
Waktunya pulang ke Konoha!
Hayoloh, masih chap 3 aja Sasu udah dirintangan hidup-mati wkwk.
Masa iya saya menistakan bang Sasu? GAAKAN! /plak
Sprti biasa, kalau ada nama/embel yang ASING kasih tau ya dikotak review.
Ini masih chap pertama, so.. romancenya ditunda dulu ya paling cuman nyempil
Terima kasih. Maaf, saya gak konsen mengetik chap ini.
Min to Review?
