Electra merasa tubuhnya bergetar di balik pakaian yang ia kenakan saat ini. Di depannya ada dua monster anjing khas dunia bawah yang sangat besar dan masing-masing memiliki tiga buah kepala. Mereka terlihat lapar dan buas –tentu saja– kabar baiknya, ada dua penjaga yang menggunakan zirah serba hitam berdiri di samping anjing-anjing itu. Sementara kabar buruknya, kedua penjaga tersebut tampak tidak niat untuk merantai anjing-anjing mereka.
Wanita itu terlihat kacau sekarang. Ia meraba saku belakangnya, berharap benda yang menjadi satu-satunya penyelamat tetap ada di sana. Namun terlambat, ketika ia akan mengeluarkan benda tersebut dari sakunya, salah satu Cerberus sudah menerjang ke depan.
Ledakan besar bergulung berturut-turut di hadapannya tepat ketika ia melempar sebuah kartu heart. Keringat dingin menetes sedikit demi sedikit di pelipisnya. Masih ada lima puluh satu kartu lagi untuk meledakkan tempat ini –setidaknya begitulah. Hanya masalah waktu untuk membuat Electra bertahan.
Saint Seiya © Masami Kurumada
Puzzle Pieces in Culpability © Shimmer Caca
Kepingan-kepingan memory mulai tersusun acak di kepalanya, laksana teka-teki yang siap dipecahkan. Sementara lilin kehidupan hampir padam, waktunya semakin sedikit.
/ "Aku tidak ingin mati." /
Warnings : Typo(s), OC bertebaran. DLDR
Berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang cerah, kali ini bulan kelihatan tak bersemangat mengudara. Awan pekat berarak-arak menutupi cahaya keperakan tersebut, dan udara yang dibawanya seperti menyongsong maut. Mencengkam, tidak –mungkin menegangkan lebih efektif untuk mendeskripsikan malam ini.
Aku terduduk di antara rerimbunan batang pohon. Napasku bergetar tiap kali dihembuskan, satu set kartu remi berada di genggamanku dan tanpa sadar telah kucengkram terlalalu kuat sehingga membuat mereka berpendar kebiruan. Masih tiga puluh kartu yang tersisa. Aku punya pilihan; menghabiskan kedua puluh sembilan kartu lainnya atau menggunakan joker sekarang.
Sebenarnya, kedua pilihan itu tidak ada yang menyenangkan. Jika aku menggunakan kartu-kartu ini maka sama saja dengan meluluh-lantahkan tanah kami sampai ke akar-akarnya. Tapi jika yang kugunakan adalah joker maka diriku lah yang terkena imbasnya.
Aku tau segala hal memiliki resiko. Mungkin ini konsekuensi yang harus kutanggung, tapi tetap saja memasrahkan diri pada keadaan membuatku jadi tidak tenang. Oke, tarik napas, Electra, pasti ada cara lain. Biasanya bintang-bintang membantuku untuk mengendalikan diri, namun mengingat malam yang suram ini –bahkan Bulan pun tidak terlihat senang menampakkan diri– membuatku tambah tidak tenang.
Bukan hanya diriku yang jadi permasalahannya. Jasper, di depan sana entah bertarung dengan siapa dan aku yakin kondisinya sangat tidak baik. Sementara Shizen, ya, aku lebih mengkhawatirkannya sekarang –jika aku adalah orang dengan teknik bela diri yang buruk, maka dia lebih buruk dariku. Dan kenyataan itu membuatku takut.
Bagaimana jika dia tertangkap?
Bukannya aku tidak percaya dengan gadis tersebut, hanya saja ada rasa jauh di dalam sana yang diam-diam membuatku takut untuk kehilangannya. Hal ini kerap terjadi pada orang yang paranoid, namun kurasa tidak ada salahnya jika kita takut kehilangan saudara sendiri, bukan?
"Akhirnya aku menemukanmu, nona."
Napasku tercekat.
"Sudah selesai main-mainnya?"
Bagaimana bisa dia— oke, ini sepenuhnya salahku yang sejak tadi terlalu meributkan tetang betapa sebenarnya aku ketakutan.
"Biar kujelaskan sedikit padamu," aku memberikan senyum terbaik pada orang yang tengah mencengkram bahuku saat ini. "Aku tidak pernah mengaggap prajurit dunia bawah yang dengan tiba-tiba datang ke rumahku dan menyerang membabi buta seperti ini adalah sebuah permainan."
Aku merasakan ekspresi orang ini menggelap di dalam mahkota pelindungnya.
" … Tapi jika kau ingin bermain, sini, kuberitau satu permainan yang tidak kalah serunya dari membunuh seorang wanita." Secepat kilat dan dengan sedikit meninju dadanya dengan tanganku yang bebas, salah satu kartu ace heart melekat pada hatinya. Aku memberontak mundur sebelum ia sempat sadar dari keterkejutannya. Siapa sangka cengkramannya ternyata sekuat itu hingga membuat luka yang tadi sempat kering meneteskan darah kembali.
Aku meringis dan berlari ketika suara teriakan terdengar. Kini energi kehidupanku seperti dicabut paksa. Lambat laun kakiku bergetar dan napasku tersengal. Oke, aku bukan petarung yang baik karena memang seperti itulah. Jasper tidak terlalu semangat mengajariku teknik bela diri, dan aku tidak pernah meminta lebih darinya. Di samping itu, yang kugunakan tadi adalah kartu ace, tentu saja membutuhkan cosmo lebih untuk membuatnya berfungsi.
Tiba-tiba suhu udara terasa menurun drastis, aku mulai berpikir bahwa ini adalah efek ilusi dari kartu tadi. Seakan tidak cukup sampai di sini, seekor anjing besar dengan liurnya yang menetes-netes menerjang ke arahku dari samping. Tanganku spontan melempar salah satu kartu diamond, cepat-cepat kuucapkan sesuatu dari bahasa Jerman kuno yang berarti, "hidup."
Cakarnya seinci di hadapan wajahku, jika saja aku tidak tepat waktu mengaktifkan dinding pelindung dari kartu diamond, aku tidak yakin masih bernapas saat ini.
"Begitu rupanya cara kerja kartumu," seorang pria dengan cloth bersayap berjalan mendekatiku. Senyumnya mengandung banyak makna, dan aku tau ada maksud buruk terselubung di dalamnya. Dia memiliki rambut gelap yang senada dengan malam ini –begitu pula dengan matanya yang menusuk. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, mengenyahkan bintang-bintang yang membuat mataku setengah kabur.
Aku mengenalnya. Dia –salah satu hakim neraka, Sang Garuda.
Aku terdiam beberapa saat untuk memastikan bahwa aku masih hidup –setidaknya sampai saat ini. Aku menarik salah satu tanganku dan tepat saat itu ia mendorongku ke dinding yang ada di belakang. Dorongannya sangat keras hingga aku memuntahkan sesuatu bewarna kemerahan yang membuat tenggorokanku perih.
"Bagaimana jika aku memberimu penawaran," selama dua ratus tahun lebih aku hidup, yang kutahu yaitu sebuah penawaran adalah permainan kata yang menjeratmu ke dalam rencana musuh. Dan satu hal yang kupelajari yakni jangan percaya semudah itu. "Kau hanya tinggal menyerahkan gadis itu, maka kuselamatkan nyawamu. Bagaimana?"
Sebuah senyum culas merekah di bibirku. "Nyawa dibayar nyawa, hm?"
Keheningan mendadak menjadi teman terbaik di antara kami. Aku menghembuskan napas berat, dia bisa saja menahan lengan kiriku, dan aku bersyukur dia tak menyadari kehadiran kartu-kartu lainnya di genggaman tangan kananku.
Kukerahkan sisa-sisa energiku pada kartu king club. Selang beberapa detik, kurasakan kartu tersebut bertransformasi menjadi bilah berujung tajam yang mematikan. Aku tersenyum.
Darah merembes dari dada kirinya. Aiacos tercengang untuk beberapa saat, mulutnya terbuka seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi yang keluar malah erangan yang tertahan.
Aku memuntahkan darah, bukan karena cosmoku yang lagi-lagi tersedot, melainkan karena pedang ini. Kusanagi. Pedang berkekuatan mistis yang keluar dari salah satu kepala Yamata no Orochi –sayangnya, ketika pedang ini terlahir dari kepalanya, maka, matilah ular tersebut.
Kalian tau, senjata makan tuan, harafiahnya, seperti itulah keadaanku sekarang.
"Kau pikir aku akan semudah itu dikalahkan oleh teknik murahanmu?" dia tersenyum, hanya saja tangannya terangkat dan mencekik leherku.
Cengkramannya terlalu kuat. Aku tidak bisa bernapas.
"Aku tidak mengerti mengapa kau mempertaruhkan nyawa untuk gadis itu."
"Padahal … kau punya keluarga, kan?"
Keluarga. Kucoba mengerahkan sisa-sisa kekuatanku untuk berbicara –hanya saja, suara tersebut keluar menjadi erangan. Aku berusaha memberontak, yang ada rasa sakitnya semakin menjadi. Mataku perlahan menjadi sayu, semua yang terlihat hanyalah benda kabur dan menyakitkan.
Keluarga…
Mendadak di sekitarku bercahaya, atau hanya aku yang melihatnya –karena setelah itu aku merasakan tubuhku terhempas ke tanah yang dingin, dan Aiacos meninggalkanku dengan suatu kepuasan yang tidak kumengerti.
Dapat kurasakan pipiku basah karena air mata, cahaya ini seperti membutakan mataku. Namun perlahan, pantulan warna putihnya membentuk warna-warna lain dari kehidupan, menjadi suatu bayangan nyata yang membuat napasku putus-putus.
Memori-memori itu akan datang menjemputmu, membuatmu menyesali dosa-dosa yang pernah kau perbuat. Saat itulah kau sadar bahwa kau tak lagi berada di dunia.
Tapi yang kulihat bukanlah sesuatu yang membuatku kalap atau menyesal setengah mati –bukan. Namun sesuatu yang membuatku tidak ingin meninggalkan dunia ini. Aku tau, manusia itu serakah. Manusia itu makhluk paling serakah yang pernah diciptakan dewa.
…Bukankah orang-orang yang serakah adalah mereka yang bekerja lebih keras?
Aku berusaha membuka mataku lebih lebar.
Sepasang mata emas bercahaya seperti keluar dari kenangan ini… tidak hanya matanya –namun senyumnya, setiap perkataannya, seluruh yang ada pada dirinya yang selalu membuat eksistensiku bergetar bahkan di detik-detik seperti ini sekali pun. Tidak, dia tak sendiri, sepasang wajah serupa dengan bola mata belang dan senyuman polos itu –mereka yang selalu kurindukan tiap hari, kumimpikan tiap malam, yang berusaha kujaga mati-matian.
"Aku sudah berusaha.
Aku telah berusaha keras.
Aku tidak ingin mati."
Kalimat itu akhirnya meluncur bebas seperti pantulan suara dalam goa, menggema di pikiranku. Semakin keras, semakin banyak, semakin jauh. Aku sadar malam ini jauh lebih dingin dari sebelumnya –atau hanya aku kah yang merasakannya? Angin tidak mendesau keras, namun mereka menusuk beriringan.
"Apa kau masih ingin hidup, Electra?"
Siapa…?
"Aku bisa menyembuhkanmu dalam sekejap."
Siapa yang berbicara…?
"Namun tentu saja, melihat keadaanmu yang begini … tentu saja ada bayarannya."
…
Aku berusaha sekuat tenaga untuk melihat seorang gadis kecil yang berjongkok di sampingku. Senyumnya tulus, namun secara bersamaan terlihat dingin. Ia melebur dalam kegelapan. Butuh waktu bagiku untuk meyakinkan diri bahwa ia bukan Persephone –apalagi Hades. Mendadak kabut hitam menyelimuti kami.
"Hecate…." Mungkin suaraku terdengar seperti bisikan parau yang dipaksakan.
"Ya. Aku Hecate –Dewi Sihir, Kabut, dan Persimpangan."
Hecate merentangkan tangannya. "Kau punya tiga pilihan."
"…Tiga?"
"Saat kau berada di persimpangan kau akan menemukan sekurang-kurangnya tiga jalan," aku tau dia sedang tersenyum di sana. "Hidup itu pilihan, Sayang … kau bisa memilih untuk tinggal di sini, berbaring dan menyongsong maut bersama sepupumu itu. Atau bangkit, mencoba melawan, dan pada akhirnya terbunuh."
Itu dua pilihan. Aku ingin mengatakan itu jika saja aku sanggup.
Hecate terkekeh. "Aku ingat baru saja mengatakan bahwa aku dapat menyembuhkanmu … dan bayarannya."
Angin mendesau semakin keras, seperti ombak yang menghantam kapal. Rasanya aku ingin muntah.
"Oke. Aku berubah pikiran. Kau tak punya pilihan."
Kabut hitam tadi membungkusku –benar-benar membungkusku dalam kegelapannya. Ketika aku keluar dari sana, rasanya seperti baru pertama kali menginjak dunia. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum menyadari bahwa aku bergerak lebih cepat bahkan dari biasanya.
"Baiklah. Kau harus memenuhi bayarannya."
Gadis kecil ini benar-benar licik. "Apa yang kau inginkan?"
"Tidak mahal. Hanya grimoire Areleous yang pria itu simpan –atau curi." Dia menyeringai.
"Kau tak memiliki urusan denganku kalau begitu."
"Tentu saja ada. Jika kau yang kujadikan tawarannya, maka ia tak akan punya pilihan lain selain mengembalikan grimoire itu padaku."
Meski garis-garis keperakan masih sangat dini untuk menampakkan dirinya, namun malam ini tak bisa untuk tidak lebih terang lagi oleh cahaya-cahaya biru yang meledak di sekitar kami. Dalam hati aku bersyukur kabut Hecate menelan cahaya tersebut.
Di ranting tertinggi dari pohon pinus, aku bersembunyi di balik daun-daunnya yang lebat. Memegang sebuah busur dan panah yang bertransformasi dari kartu ace club yang tersisa.
Jasper sudah babak belur, dan pemandangan di bawah membuatku muak setengah mati. Tapi aku tau Jasper tidak akan semudah itu untuk dikalahkan, atau setidaknya dia tak akan pasrah dipukuli begitu. Dia punya rencana. Dan kenyataan ini harus kuhadapi mentah-mentah. Kenyataan bahwa rencananya selalu membahayakan semua orang.
"Jika aku mati, maka aku akan membawa mereka mati bersamaku. Lebih baik kalah bersama, kan."
Kali terakhir ia mengucapkan kalimat itu adalah ketika ia pulang ke Kuil dalam keadaan luka parah dan beberapa tulang yang patah.
"Dia itu bodoh ya?" sebuah suara menyadarkanku dari bayangan saat itu. Hecate mengamati Jasper dengan tatapan yang membosankan. Aku tidak bisa untuk tidak menahan senyumku.
"Begitulah. Tapi dia selalu punya jalan keluar," aku kembali menatapnya waspada. Meposisikan busurku pada posisi siap tempur.
Sang Dewi menyipitkan matanya beberapa saat, tiba-tiba tangannya sudah mencengkram ranting pohon dengan erat. "Jalan keluar …." Suaranya lebih dingin dari sebelumnya. "Kau lihat itu," tangannya yang kurus menunjuk ke arah Jasper yang sudah terkapar.
Bahuku menegang. "Aku tau."
Dari sini, kulihat kedua hakim neraka –yang salah satunya Aiacos– mendekat ke arah sang pemilik surplice griffin. Mereka terlihat sedang mendebatkan sesuatu. Dalam hati, aku menghitung mundur. Menunggu kapan pedang magis tadi akan memberinya efek. Tanpa kusadari keringat dingin menetes di pelipisku.
Tepat ketika Aiacos meninju sang Griffin, ia tumbang. Memuntahkan darah dan membuat kedua saudaranya terpaku kaget –dengan cepat mereka mendekatinya. Aku tersenyum. Senyuman itu berganti dengan rengutan ketika kualihkan pandanganku pada Jasper yang menatap ke arah kami sambil menyeringai. Sebagian tubuhnya dipenuhi tato hitam yang berbentuk abstrak.
Tidak.
Jangan yang itu.
Kumohon.
Kabut bergulung di sekitarnya. Dia megacuhkan tatapanku dan dengan wajahnya yang lebam, kembali ia menyeringai, hanya saja kini tertuju pada ketiga hakim neraka yang tengah menatapnya terkejut. Kabut tersebut kemudian berputar membentuk sesuatu tak berupa namun berkekuatan agung.
"Apa itu?" Hecate bertanya dengan nada menusuk. Aku tidak bisa menjawabnya karena lidahku terasa kelu.
Dia menarik napas. "Apapun makhluk itu, kita harus menghentikannya karena aku mempunya firasat buruk dia akan menelan kita."
'Siapa kah yang memanggilku ke sini melintasi relung-relung dunia?'
Suaranya yang bagaikan gelas pecah menggema ke seluruh arah.
"Electra." Hecate telah merubah wujudnya menjadi wanita dewasa, kini dapat kurasakan aura intimidasi yang lebih kuat dan nyata dari sebelumnya.
Aku mengangguk lalu menahan napas sebelum kuarahkan anak panahku pada Jasper. Ini menyakitkan, namun aku tak bisa berbuat apapun lagi –selain untuk menyelamatkan diri, aku lebih khawatir padanya. Dia sudah … melewati masa-masa yang sangat kelam, aku selalu mengkhawatirkannya kalau-kalau ia akan berbuat sesuatu yang di luar batas. Seperti sekarang.
…
…
…
"Aku tidak bisa," Kataku akhirnya. Dapat kudengar suaraku bergetar. "Aku tidak bisa Dewi …."
Aku tau aku ini pengecut. Tapi hei, siapa yang sanggup memanah keluarganya sendiri, memanah orang yang sudah mendarah daging denganmu?
Hecate menatapku tajam. "Apa maksudmu tidak bisa?" dia mendekat, "aku sudah menyelamatkan nyawamu dan jangan membuatku melakukan itu untuk kedua kalinya."
"Aku hanya… aku…" dengan sekuat tenaga aku menahan agar aku tidak terdengar lemah.
Ia memegang tanganku yang sudah dingin. "Kau akan melukainya lebih jauh lagi jika kau tetap diam di sini." Tangannya memancarkan kekuatan hitam yang mengembalikan keyakinan diriku lagi. "Makhluk itu masih di dalam pentagramnya. Kita tidak tau apa yang akan ia lakukan ketika ia terbebas."
"…Electra, kita hanya perlu satu momen untuk membuat sesuatu yang besar."
Satu momen untuk sesuatu yang besar.
Kembali kutatap busur di tanganku. Setelah membuat keputusan, aku mengarahkan busur ini lagi. Asap mengepul di depan mulutku ketika aku menghembuskan napas.
Sebuah panah meluncur begitu saja, terbang melintasi ruang dan semuanya kembali hitam. Maksudku, benar-benar hitam seperti saat kabut Hecate menelanku. Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.
Namun yang kutau, semuanya berakhir.
*Grimoire: Buku sihir
Ah, kayaknya lama juga aku tak update yah ^^;;
Yah, ada beberapa hal yang buat aku harus mikir ulang lagi saat akan melanjutkannya. So enjoy this filler. Tiba-tiba jadi kebayang adegan di balik chapter tiga kemarin… jadi apa salahnya coba-coba buat? :3
Ah, saatnya balas review~
#Gianti-Faith
Shizen: Tenang saja, aku tak apa kok ^^; 'walaupun mendebarkan sih…'
Caca: Atla, tolong latih anak ini benar-benar ketika ia sampai nanti ;_;
Shizen: Aku jadi tambah takut… /;
Lynn: Terima kasih sudah mampir mereview!~
#AmuletWin777
Shizen: … … …Apa maksudnya dengan "pertunjukan yang hebat"? -_-
Caca: Ah, kalau begitu Mitsuki… mohon bantuannya :3
Shizen: Akan lebih mudah jika kau memunculkan Mitsu-chan di chapter mendatang
Caca: Aku juga sedang berusaha, nak…
Laverna: Terima kasih atas reviewnya… *senyum*
RnR?
