Hanya sebuah cerita romansa yang terinspirasi dari 50 Shades of Grey, Beautiful Disaster, Enraptured, The Hart Family Series, dan With me in Seattle Series.

.

.

.

Dalam fict ini saya menggunakan gaya bahasa novel terjemahan, dan jika ada di antara readers yang tidak dapat feel dalam membaca fict ini karena gaya bahasa saya, sebaiknya hentikan membaca fict saya daripada kalian kecewa, karena saya sama sekali tidak akan merubah gaya bahasa saya. thanks :)

.

.

.

Balasan reviews:

GapunyaAkun, Yoochun: Thank yooou udah suka sama PJ :D

RainyDe: Hahaha ya begitulah, sepertinya passion ku emang di hal-hal yang berbau erotis yaa XD

Dan untuk yang log in , silahkan check PM yaaa ;)

.

.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : M

Warning:

OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (banyak), dan banyak cacat lainnya.

Tidak untuk anak dibawah umur (17 plus only)

Mengandung kata-kata kasar dan vulgar.

Tidak disarankan bagi readers penyuka/penikmat Canon dan bagi readers yang tidak menyukai Erotic Novel;)

Attention:

Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang benar-benar berasal dari imajinasi saya sendiri yang terinspirasi dari beberapa Erotic Novel (dimohon untuk tidak mengcopy fict ini dalam bentuk apapun). Saya mohon maaf bila kebetulan ada kemiripan dalam cerita ini dengan cerita yang lain.

Selamat membaca…

.

.

.

.

.

.

.

Aku duduk di salah satu kursi perpustakaan, pandangan ku lurus ke arah salah satu jendela besar perpustakaan dan menatap pepohonan yang daun-daun nya mulai menguning bahkan ada beberapa yang telah memerah. Dapat kulihat di sana beberapa daun maple terlepas jatuh dari pohonnya dan kemudian ikut terbang kesana kemari mengikuti arah tiupan angin khas musim gugur. Walau ini baru pertengahan September, namun dari dalam sini aku dapat merasakan hawa dingin yang di bawa oleh musim gugur tahun ini. Sejenak aku alihkan pandanganku dari jendela untuk kembali menatap buku-buku jurnalistik yang ada di mejaku, pandanganku tertuju pada salah satu judul buku The Words karangan Rene J. Cappon yang berisi tips-tips mengenai bagaimana mencari serta menyeleksi berita dan cerita yang baik dan benar, buku ini merupakan salah satu buku wajib dibaca bagi orang-orang yang bergelut di bidang jurnalistik.

Sekitar setengah jam yang lalu aku masih fokus membaca di bagian pertengahan buku ini hingga pada akhirnya pikiran ku melayang menuju kejadian beberapa hari yang lalu di The Chidori.

"Excuse me, masalah baru? Maksudmu?"

"Ya, kau membawa masalah baru dalam hidupku, tatapan mu beberapa waktu lalu memang tidak menggangguku, tapi justru membuat ku tertarik padamu."

"Maaf? Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan, dan ku pikir aku sudah terlalu lama di sini hanya untuk membicarakan hal yang tidak aku pahami. Jadi tolong lepaskan aku sekarang."

Malam itu aku berlalu dari hadapannya dengan menyentakkan tanganku. Namun aku dapat mendengar jelas apa yang dia katakan sebelum melepaskan tanganku.

"Sampai bertemu lagi Sakura."

Semua kejadian itu masih terekam jelas di telinga dan pikiranku, entah mengapa saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya itu aku merasa bahwa suatu saat nanti kami memang akan bertemu lagi. Seharusnya aku tidak perlu memikirkan soal kalimatnya itu, mengingat Ino sempat menceritakan reputasi Sasuke padaku ketika kami semua dalam perjalanan pulang dimalam itu. Dengan wajahnya yang bak Adonis, Sasuke merupakan salah satu pria dengan daya tarik di atas rata-rata, ya aku pun mengakui itu. Ditambah dengan dual profesi yang dia jalani dan dalam dua dunia yang berbeda pula. Ini adalah salah satu informasi yang membuatku terkejut, karena ternyata dia bukan hanya sekedar DJ, melainkan pemilik dari The Chidori sekaligus CEO dari Amaterasu Enterpises Inc, perusahaan yang bergerak hampir di semua aspek bisnis, seperti property, telekomunikasi, hiburan, bahkan otomotif, dan semua itu pasti nya tidak lepas dari yang namanya wanita.

Tampan, kaya, sexy, playboy , Dia pria berbahaya.

Ino sempat memperingati ku mengenai reputasi Sasuke dalam hal wanita, para wanita itu akan berderet melebihi antrian diskon besar-besaran di akhir tahun dan dengan senang hati mereka akan membuka lebar kedua kaki nya untuk Sasuke.

"Aku tidak akan membuka lebar kedua kaki ku untuk dia Ino.". Aku merasa ada nada tidak yakin saat mendengar suaraku sendiri kala itu, dan terbesit rasa aneh di dadaku saat membayangkan berapa banyak wanita yang telah membuka lebar kaki jenjang mereka untuk dipersembahkan kepada Sasuke? Haaah sepertinya aku harus menghentikan pikiran konyol ku ini, apa urusanku dengan gaya hidup pria itu? Jawabannya adalah TIDAK ADA. Aku menggelengkan kepalaku dan kembali kepada buku-buku ku yang seolah-olah merajuk bahkan ada yang hampir meneteskan air matanya karena sudah lebih dari setengah jam mereka di telantarkan. Sebelumnya aku tidak pernah mengacuhkan buku-buku ku seperti sekarang ini, aku selalu fokus, terutama dalam kuliah dan pekerjaan ku, namun sejak bertemu dengan pemilik mata sekelam malam beberapa hari lalu itu, sepertinya irama kehidupan ku mulai tidak beraturan. See? Apa yang kubilang mengenai dia yang akan mengacaukan hidupku? Sekarang sudah mulai terbukti kan?.

Aku menghela nafas panjang dan mulai merapikan buku-buku di hadapanku satu persatu. Percuma aku duduk diam disini, konsentrasi ku telah menghilang entah kemana, aku pun tidak tahu, namun ku harap dia kembali secepatnya karena aku sangat membutuhkannya.

Aku melangkahkan kaki ku di sepanjang koridor yang menghubungkan gedung perpustakaan dengan bangunan utama universitas yang berisi ruangan-ruangan kelas. Hari ini aku tidak ada jadwal bekerja di Hatake's Journal, Kakashi memberikan ku satu hari libur diantara Senin-Jumat mengingat sebentar lagi aku akan dihadapkan pada ujian untuk memasuki tahun berikutnya di bangku perkuliahan, dan aku memilih hari Jumat sebagai hari libur ku, ya hitung-hitung long weekend.

Ah ngomong-ngomong soal weekend, malam ini Ino mengajak ku untuk makan malam di apartment nya Dei. Dia bilang Dei baru saja mendapatkan promosi di perusahaan tempatnya bekerja, karena keluarga nya yang ada di Konoha hanya adik semata wayangnya itu, dan mereka bilang tidak menarik jika hanya makan malam berdua, jadilah Ino mengajakku turut serta juga.

Kini aku telah melangkahkan kaki menuju pelataran parkir tempat dimana C63 AMG ku terpakir, ah melihat C63 putih ku ini mengingatkan ku akan Ayah dan Ibu, ini kado termahal yang pernah mereka berikan padaku saat usiaku menginjak angka 20 di tahun lalu.

Begitu masuk kedalam mobil, aku meraih ponselku dari dalam tas dan melakukan panggilan ke rumahku.

"Hello sweet heart." Suara hangat ibu ku terdengar dari seberang sana, dan seperti biasa, suaranya selalu terdengar riang.

"Hello Mum, bagaimana kabar mu dan Ayah?"

"Seperti biasa, aku selalu baik Saki, begitu pula ayahmu, hari ini dia sedang ke Kiri untuk melihat langsung proyek di sana. Bagaimana kabar mu Saki? Kuliah mu lancar?"

Ayahku adalah seorang arsitek, dia sangat menggilai dan mencintai pekerjaannya sehingga sering meninggalkan rumah untuk beberapa hari bahkan pernah juga berminggu-minggu untuk meninjau langsung proyek yang Ia rancang. Ibu pernah bercerita padaku bahwa dulu Ia kerap sekali protes karena merasa ayah lebih mencintai arsitektur dibandingkan dirinya, namun lama-kelama'an Ibu mulai terbiasa dengan itu dan menyadari bahwa jika kita menyayangi dan mencintai seseorang, maka sayangi dan cintailah semua bagian dari orang tersebut. Mereka pasangan yang sangat manis bukan ?, dan dari situlah aku mengetahui darimana jiwa workholic ku berasal.

"Aku baik Mum, akhir bulan depan aku akan menghadapi ujian, dan setelah itu aku libur panjang hingga akhir tahun."

"Oh how nice, itu berarti kau akan menghabiskan Natal di rumah kan?"

"Ya, sepertinya begitu, aku merindukan Mu dan juga Ayah, oh dan juga pie apple mu Mum." Ibu ku terkekeh di seberang sana, pie apple adalah hidangan wajib di saat natal dalam keluarga ku.

"Oh, tenang saja, ibu akan membuatkanmu berloyang-loyang Saki, dan akan ku pastikan bobot badanmu akan bertambah beberapa pounds setelah liburan mu selesai."

"Oh Mum, itu berarti aku akan menghabiskan bulan pertama ku pasca liburan untuk berkencan dengan treadmill!." Kami tertawa setelah kalimat terakhir meluncur dari bibir ku.

"Well Mum, sepertinya sampai di sini dulu pembicaraan kita, aku ada janji makan malam bersama Ino dan Dei, Dei dapat promosi di kantor nya, dan dia butuh teman untuk merayakan hal itu."

"Okay Saki, hati-hati di jalan. Sampaikan salam ku untuk Ino dan Dei. Take care okay. Love you."

"Okay, love you too Mum, sampaikan juga salam ku pada Ayah nanti. See ya Mum."

"Okay, see ya."

Aku kembali memasukkan ponsel ku kedalam tas, menekan tombol on pada music player yang ada di mobil, dan mulai terdengar lah nada intro dari lagu Sing for Absolution milik Muse, band terfavorite ku. Lalu aku melilitkan seatbelt di tubuhku dan menghidupkan mesin mobil, dan beriringan dengan terdengarnya suara khas dari Matthew Bellami, aku mulai melajukan mobilku keluar pelataran parkir menuju gerbang utama Konoha University.

C63 AMG ku melaju lancar di jalanan utama Kuchiyose Road yang pada hari ini terlihat lebih lengang dari biasanya, mungkin orang-orang sedang malas keluar sore ini dan lebih memilih bergulung di dalam selimut masing-masing yang terasa hangat dan nyaman mengingat musim gugur kali ini lebih dingin dari biasanya. Matthew Bellami menyanyikan Starlight ketika aku mulai memasuki pelataran parkir gedung apartment Dei.

Aku mengeratkan cardigan ku saat angin musim gugur menerpa tubuhku ketika aku melangkahkan kaki keluar mobil. Ku lirik Chopard di pergelangan tangan kiriku, jarum pendek pada arloji ku telah mengarah ke angka 7, itu artinya sudah mendekati jam makan malam, aku segera bergegas memasuki gedung apartment dan menaiki lift untuk menuju lantai 32, lantai dimana Ino dan Dei menungguku.

Disinilah aku berada sekarang, di depan meja makan berbentuk oval yang diatasnya telah dipenuhi oleh berbagai macam masakan Itali yang cukup untuk memberi makan lebih dari lima orang, padahal hanya kami bertiga yang akan makan, dan aku yakin ini semua hasil pesanan dari salah satu restaurant karena kedua orang yang sedang asik menonton serial kriminal Lie to Me di sofa sana memiliki reputasi yang amat sangat buruk dalam urusan dapur dan masak-memasak, terutama Ino. Aku masih ingat beberapa bulan ke belakang ketika Dei sakit karena terserang flu dan Ino berusaha membuatkan soup untuk kakaknya itu, namun bukan semangkuk soup yang Ia dapatkan, melainkan asap mengepul dari dapur yang membuat Dei harus beranjak dari tempat tidurnya dengan keadaan flu berat, karena Ino lupa bahwa Ia sedang memasak dan malah asik dengan Ipad nya. Sejak itu lah baik aku maupun Dei selalu menjauhkan Ino dari yang namanya dapur.

"Kapan kita mulai acara makannya guys? Para cacing di perutku sudah menari-nari kelaparan, sepertinya hawa dingin musim gugur membuat perutku lebih cepat lapar dari yang seharusnya."

Aku mengerang memegangi perutku yang berbunyi seperti guntur halus dan ikut menjatuhkan bokongku di sisi Ino.

"Oh, sorry Saki, bisakah kau meminta cacing-cacing itu menunggu sebentar lagi? Aku mengundang kedua temanku untuk bergabung dengan kita malam ini, kurasa sekitar lima belas menit lagi mereka akan tiba disini."

Dei menegak kan badannya dari senderan sofa untuk berbicara padaku yang kini tengah merebahkan punggungku di sandaran sofa yang hangat ini. Terjawab sudah mengapa makanan yang ada diatas meja makan Dei porsi nya melebihi porsi makan untuk tiga orang.

"It's okay, Dei, kurasa jika hanya lima belas menit mereka masih bisa di jinakan ." Aku mengusap perutku lagi dan memberikan cengiranku pada Dei, dan di balas cengiran juga olehnya.

"Nih, untuk sementara kau sumpal saja mulut cacing-cacing mu dengan ini."

Ino yang matanya masih tertuju pada layar di depan sana menyerahkan bungkus marshmallow yang setengah isinya nya sudah meluncur ke dalam perutnya. Aku meraih marshmallow dari tangan Ino dan ikut terlarut dengan adegan investigasi yang sedang dilakukan oleh DR. Cal Lightman yang diperankan oleh Tim Roth yang juga memerankan Emil Blonsky dalam film The Incredible Hulk . Aku sangat menyukai dimana DR. Cal menganalisa wajah dan gerak tubuh seseorang untuk mengetahui apakah dia berbohong, takut, gembira, jijik sehingga pada akhirnya dapat memberikan petunjuk untuk kasus yang sedang mereka hadapi. Sekitar sepuluh menit kemudian tatapan kami bertiga pada layar LED di depan sana teralihkan oleh suara dentingan bell pintu Apartment Dei.

"Ah, sepertinya itu mereka."

Dei beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu depan, sedangkan aku dan Ino kembali asik dengan adegan di dalam TV. Aku mendengar sedikit suara ricuh khas para pria yang menandakan bahwa Dei telah mempersilahkan tamu nya untuk masuk. Aku mendengar salah satu tamu tersebut menyapa Ino yang pandangannya masih tertuju pada TV, begitu juga dengan ku.

"Yo Itachi. Sebentar, ini sedang seru-serunya." Ino hanya melambaikan tangan kanannya tanpa menolehkan kepala. Dan aku sendiri masih mengunyah marshmallow yang tadi diberikan Ino.

"Hello Ino, Sakura."

Suara ini... "Sampai bertemu lagi Sakura". Tidak salah lagi! Dengan kecepatan yang mengalahkan kecepatan shinkansen, kereta tercepat di Jepang, aku segera menolehkan kepala ku ke belakang, dan benar saja apa yang terbesit dipikiranku. Sasuke, pria dengan surai birunya berdiri tegap disana dengan kaos biru gelap yang selaras dengan rambutnya, dan tangan kanan yang di masukan ke saku jeans nya, tidak lupa, senyuman maut yang terukir di bibir sexy nya, dan Oh tuhan, tatapan ku tertuju pada lengan kiri atasnya yang kekar dan hanya tertutupi oleh lengan kaosnya yang pendek, aku dapat melihat sebuah garis hitam melengkung yang membentuk sebuah pola tertentu di sana, tribal tattoo. Aku bertanya-tanya dalam hati, sampai mana tribal tattoo itu terlukis di atas permukaan kulit sang Adonis ini?

"Lho, kau sudah mengenal gadis itu Sasuke?"

Lamunan ku terbuyarkan oleh suara baritone pria yang wajahnya hampir mirip dengan Sasuke dan berdiri tepat diantara Sasuke dan Dei.

"Hn. Dia Sakura, temannya Ino, Aku bertemu dengannya di The Chidori bebeberapa hari lalu." Sasuke menjelaskan awal pertemuan kami dan hanya di tanggapi anggukan dan oh oleh Dei dan pria di sampingnya.

"Hi, Sakura, aku Itachi, kakaknya Sasuke." Pria yang mempunyai nama Itachi itu mengulurkan tangannya padaku, dan aku segera menyambut jabatan tangannya dengan senyuman.

"Hi, aku Sakura." Dia tersenyum, menggoyangkan jabatan tangannya sebentar, lalu melepasnya.

"Yeah, dan kau mencoba menggoda teman baikku ini kan Sa-su-ke?" Ino yang kini sudah berdiri dari sofa karena acara yang kami tonton telah selesai tiba-tiba ikut angkat bicara dan menyeringai kepada Sasuke, sedangkan yang di hadiahi seringai Ino hanya terkekeh menanggapinya.

"Well, aku tidak menggoda teman mu Ino, lebih tepatnya aku tertarik pada teman mu ini."

"Ya ya ya, terserah lah, silahkan kau bersaing dengan kertas-kertas dan segala macam jenis berita untuk mendapatkan teman ku ini, karena bagaimana pun Sakura lebih mencintai mereka dibandingkan apapun, haaah kadang aku khawatir padanya jangan-jangan temanku ini tidak berkencan selama kurang lebih setahun dikarenakan dia sudah tidak menyukai pria lagi, tapi sudahlah, ayo makan, aku sudah lapar."

Aku mendelik mendengar penuturannya, bergelut dengan kertas dan berita dan tanpa menjalani kencan dengan siapapun bukan berarti aku tidak normal kan? Aku mendengus pada Ino dan Ino hanya mengangkat kedua bahunya acuh, sedangkan yang lainnya hanya terkekeh melihat tingkah kami berdua, termasuk Sasuke.

Makan malam kami di isi dengan obrolan ringan, segala macam candaan termasuk candaan mengenai para wanita Sasuke yang di juluki Sasu's Barbies oleh Dei dan Itachi karena menurut cerita mereka yang aku dengar di meja makan ini rata-rata dari wanita-wanita itu memiliki tubuh langsing bak model dengan dada dan bokong yang luar biasa menonjol , kaki yang jenjang dan rambut blonde atau brunette , semua itu adalah gambaran sesosok barbie bukan? yang entah kenapa membuat perut ku mulas ketika mendengar nya.

Setelah acara makan malam selesai, sementara para pria asik mengobrol di sofa, MTT (Men's Talk Time), aku dan Ino membersihkan segala perkakas makan yang tadi kami gunakan dan mencucinya, kulihat ada beberapa sisa makanan di atas meja yang hampir Ino buang, gadis itu benar-benar tidak berjiwa seorang 'Kitchen Women' seperti ibu ku , itu julukan yang aku berikan kepada para wanita yang gemar berkutat di dapur dan memanfaatkan segala jenis bahan makanan untuk di buat menjadi sesuatu yang enak dan tidak begitu saja membuang sisa makanan yang masih layak makan.

Tahukah kau berapa juta orang-orang yang kelaparan di luar sana karena tidak mampu membeli makanan, bahkan mereka harus memakan makanan yang sudah tidak layak lagi sedangkan di sini kita membuang-buang makanan yang masih layak makan?.

Kalimat ibu ketika memergoki ku yang akan membuang sisa pizza yang masih tersisa seperempat loyang selalu terngiang jelas di kedua telingaku, bayangan orang-orang kelaparan di luar sana langsung masuk kedalam pikiranku layak nya cuplikan-cuplikan film pendek yang di putar di otak ku, oleh karena itu aku segera bergerak cepat ke arah Ino untuk mengambil alih tugas Ino, dan menyuruhnya untuk bergabung duluan dengan yang lain.

Aku memindahkan makanan-makanan sisa itu kedalam wadah-wadah kecil yang aku peroleh dari salah satu lemari dapur milik Dei, aku tidak mecampur semuanya, aku memisahkan makanan itu sesuai jenis nya. Ketika aku mulai memasukkan wadah-wadah itu kedalam kulkas Dei, aku merasakan adanya langkah kaki yang menuju ke arahku.

"Ada yang bisa aku bantu?"

Sasuke menyandarkan pinggulnya di dekat bak cucian piring, ketika aku menolehkan kepala ku kearah nya, lagi-lagi dia menyunggingkan senyumanya yang mampu membuat para wanita histeris , itu kata Dei dan Itachi. Dia menyilangkan kedua kakinya membentuk huruf X, dengan kaki kanan yang bertumpu diatas kaki kiri, tidak lupa juga dia menyidekapkan kedua lengan di perut ratanya, dan hal itu membuat kedua lengannya terlihat semakin kekar, ditambah dengan tribal tattoo yang kini dapat ku lihat jelas di depan mataku. Dia sempurna. Mengingat usia Ino yang terpaut sekitar enam tahun dari Dei, berarti Sasuke juga seharusnya berumur 26 atau 27 tahun. Namun penampilannya di depanku, baik beberapa hari yang lalu di club maupun pada saat sekarang ini, dia nampak seperti anak muda yang masih mengenyam bangku perkuliahan.

"Aku bisa sendiri, lagi pula ini hampir selesai, kau kembali saja pada mereka."

Aku kembali memasukan wadah-wadah yang ada di sisi ku kedalam kulkas, dan berusaha mengacuhkan keberadaan Sasuke.

"Kau sebegitu sebalnya padaku ya?"

Aku memutar bola mataku bosan dan menengok ke arahnya, "Tidak juga, tapi jika kau kesini hanya untuk menggodaku dan berharap aku akan membuka lebar kedua kaki ku untuk mu, maka sebaiknya kau pergi sekarang juga sebelum aku melempar mu dengan pisau dapur milik Dei."

Bukannya kesal atau marah mendengar penuturan ku, Ia malah tertawa geli seraya menggelengkan kepalanya.

"Siapa bilang aku ingin kau melebarkan kedua kaki mu untuk ku hm?"

Ada nada geli dalam kalimatnya ketika dia menyebutkan kata "melebarkan" seraya membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya di pinggir telinga. Aku kembali memutar kedua bola mataku, dan berdiri dari hadapan kulkas untuk berhadapan dengan nya sembari menyidekapkan kedua tanganku di bawah dada.

"Tapi kau memang mengharapkan para wanita untuk melebarkan kaki mereka bukan?"

"Well, sebenarnya bukan aku yang mengharapkan mereka melebarkan kaki nya untuk ku, bahkan aku sama sekali tidak pernah meminta itu pada mereka, tapi mereka sendiri yang melakukan itu di hadapanku."

"Dan kau menerima nya dengan senang hati." Ucapanku bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan, dan dia terkekeh lagi menanggapi ucapan ku.

"Kenapa sepertinya aku merasa ada nada cemburu dalam ucapan-ucapan mu Sakura?"

Sial , dia menampilkan seringai nya lagi. Aku tidak menanggapi ucapannya, karena aku rasa pembicaraan ini tidak akan habisnya. Aku hanya mendengus kesal dan membalikkan badan ku untuk melangkah ke arah ruang dimana yang lainnya sedang berkumpul, namun seperti beberapa hari yang lalu di The Chidori, dia menarik tanganku agar aku menghadap ke arahnya.

"Aku benar-benar tertarik padamu, dan aku tidak terbiasa dengan penolakan. Jadi untuk sementara ini... "

Dia melepaskan genggaman tangannya dan menggantungkan kalimatnya, kemudian Ia menatapku seraya tersenyum, kali ini bukan senyum menggoda atau pun seringai, melainkan senyum sungguh-sungguh, namun ada nada intimidasi dalam kalimat nya barusan. Beberapa detik kemudian dia mengulurkan tangannya pada ku untuk berjabat tangan.

"Teman?"

Aku menatap uluran tangannya, teman ? Apakah aku bisa menahan diriku untuk tetap berpikiran waras dan normal selama aku menjadi teman dari seorang pria tampan nan sexy yang ada di hadapan ku ini? Sedangkan di bawah tatapannya saja aku merasa bahwa kulitku mudah sekali terbakar. Aku menatap kedua matanya, dan baru kusadari ternyata mata kelam nya yang kini sedang menatap ku itu juga mengirimkan hal yang sama seperti suaranya, mengintimidasi . Tatapan nya kembali membuatku merasakan gelenyar aneh di seluruh tubuh ku, aku tahu pria ini tidak akan mudah untuk di tolak, jadi aku memutuskan untuk mengulurkan tangan ku padanya dan menyambut jabatan tangannya. Dia meremas kecil jari jemari ku dan membuatku menahan napas karena merasakan gelenyar yang lebih di dalam tubuhku. Sebelum aku berpikiran yang tidak-tidak, aku segera menarik tanganku dan menghela nafas lega.

"Sebaiknya kita bergabung dengan yang lain, nanti mereka berpikir yang tidak-tidak."

"Maksudmu berpikir tentang kau yang membuka kedua kaki mu lebar untuk ku di dapur minimalis milik Dei ini? Wow, membayangkannya saja sudah membuatku panas Sakura."

Aku kembali memutar mataku dan mendengus, setelah itu aku melangkahkan kaki ku duluan menuju ruang TV dan meninggalkan Sasuke dengan kekehannya yang masih dapat kudengar walau kini aku sudah melangkah beberapa meter dari dapur.

Acara makan malam di apartment Dei berakhir dengan lancar, kami berlima mengobrol dan bercanda kesana kemari hingga larut, hal baru lagi mengenai Sasuke yang ku dapat malam ini, dan lagi-lagi itu membuatku tercengang, tribal tattoo yang melekat pada lengan kirinya di peroleh ketika dia melibatkan diri dalam pertarungan MMA (Mixed Martial Arts) pada jaman kuliah dulu, aku bergidik ngeri membayangkan Sasuke sedang bergulat dalam sebuah pertandingan MMA yang merupakan pertandingan tersadis menurutku, karena para peserta benar-benar mengerahkan seluruh kekuatan tubuhnya untuk memiting, memukul, bahkan membanting lawan. Tidak heran jika Sasuke memiliki tubuh seatletis itu.

.

.

.

.

.

.

.

Beruntung ini adalah hari sabtu, aku tidak harus susah-susah bangun pagi untuk pergi kuliah. Semalam aku dan Ino pulang sangat larut, belum lagi aku masih terus terjaga hingga pukul satu dini hari karena memikirkan kejadian di dapur Dei semalam, aku masih dapat merasakan sengatan listrik statis yang di alirkan oleh genggaman tangan Sasuke hingga menjelang tidur, dan sekarang semua itu membuat ku sangat lelah dan malas untuk beranjak dari tempat tidur hangat ku. Aku menggeliat sebentar untuk mengecek ponselku, tidak ada pesan maupun missed called . Setelah itu aku kembali menutupi tubuhku dengan selimut, bergelung didalamnya, menutup mataku erat dan berniat untuk melanjutkan masa hibernasi ku hingga akhirnya Ino masuk kedalam menerebos pintu kamar ku dan duduk di pinggiran tempat tidurku, namun itu tidak membuatku keluar dari dalam selimut.

"Saki, aku ada kencan hari ini, sepertinya akan sampai malam, kau mau keluar tidak? Jika iya, aku akan membawa kunci cadangan, takutnya kau tidak ada saat aku pulang nanti."

Aku mengeluarkan kepalaku, hanya kepalaku, dari dalam selimut, dan membuka mataku berat untuk menatap Ino.

"Aku hanya akan tidur di kamarku ini. Ngomong-ngomong kali ini kau kencan dengan siapa?" Tanyaku setengah mengantuk.

"Kau masih ingat bartender di club Sasuke?"

"Hmm... Jadi kau berkencan dengan pria berwajah datar itu? Baiklah, jangan lupa bawakan aku makanan ketika pulang, rasanya aku malas kemana-mana hari ini, dan seperti yang kau tahu, aku selalu lapar ketika dingin." Aku kembali memasukan kepalaku kedalam selimut.

"Haah kau ini, tingkah lakumu benar-benar seperti se-ekor beruang!"

Dia melempar satu bantal kearah ku dan hanya di jawab oleh gumaman tidak jelas yang keluar dari mulutku. Setelah itu aku tidak tahu apa lagi yang Ia katakan, karena aku sudah mulai memasuki alam bawah sadarku.

oOo

Aku bergerak-gerak di dalam selimutku, meraba-raba kesana kemari hingga akhirnya tanganku menggapai ponsel milikku, mataku sedikit silau melihat cahaya yang dipancarkan oleh iphone ku. Astaga! Jam 5 sore?! Benar kata Ino, aku benar-benar mirip beruang. Aku tertidur 16 jam! Pantas saja sekarang aku merasa amat sangat merasa lapar. Aku butuh makan as soon as possible, namun sebelum itu aku harus mandi dulu, aku merasa tidak nyaman untuk beraktifitas tanpa mandir terlebih dahulu.

Aku membuka selimutku dan menurunkan kedua telapak kaki ku memasuki sandal rumah ku yang berbentuk kucing. Kemudian dengan langkah gontai, mungkin karena pengaruh lapar dan tidur yang terlalu lama, aku melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi yang ada di sisi sebelah kiri bagian kamarku.

Aku memutuskan untuk mandi di bawah pancuran shower, karena aku butuh mandi cepat untuk kemudian mengisi cacing-cacing di perutku ini. Haaah hangat nyaa ... Aku benar-benar menikmati mandi air hangat ku ini yang dengan cepat mengembalikan kesegaranku. Tidak sampai setengah jam aku menghabiskan waktu di kamar mandi, segera kuraih handuk dan melilitkannya disekitar tubuhku.

Aku kembali melangkahkan kaki ke kamarku ketika tiba-tiba aku mendengar suara dentingan bell di pintu flat ku. Sepertinya itu Ino, kuharap dia membawa makanan, aku benar-benar lapar. Aku segera keluar dengan handuk yang masih melilit di tubuhku menuju kearah pintu flat dan membukanya. Detik berikutnya mataku membeliak terkejut karena yang ada dihadapanku saat ini bukan Ino, melainkan ... Sasori!

"Apa kabar Saki? Tubuhmu masih se-indah dan se-sexy saat aku terakhir kali menyentuhmu."

Aku mengeratkan handuk ku ketika seringai muncul di bibir pria yang satu tahun lalu masih berstatus sebagai kekasihku. Masih teringat jelas di memori ku ketika dia berkunjung kemari berbarengan dengan keluarnya Ino seperti sekarang ini, Ia menyentuhkan tangan kotor nya pada tubuhku dan memaksaku untuk bercinta dengannya, beruntung pada waktu itu Ino pulang dan membawa Dei tepat pada saat Sasori merobek blouse ku, Dei segera melayangkan tinju nya ke wajah Sasori, bahkan Dei sempat menyuruh Ino untuk menghubungi polisi, namun ku larang karena aku tidak ingin masalah ini menjadi panjang, aku kasihan pada Ibu Sasori yang begitu membanggakan anaknya, dia pasti akan sangat terluka jika mengetahui anaknya mempunyai tabiat seperti sekarang ini, itulah alasanku melarang Dei dan Ino untuk melapor pada pihak berwajib, dan sekarang aku amat sangat menyesali keputusanku itu.

Tidak mungkin aku mendapat keberuntungan hingga dua kali di dalam masalah yang sama, perlahan Sasori mulai melangkahkan kaki nya masuk ke dalam flat ku dan pintu flat ku perlahan menutup, aku ingin berteriak tapi pita suaraku seakan membeku saat ini, aku mengambil langkah mundur dengan kedua tangan tetap memegang erat ujung handuk ku didepan dada hingga pada akhirnya aku terjatuh kebelakang karena kaki kiriku yang terkait oleh kaki kananku ketika aku melangkah mundur lebih jauh.

Kini Sasori terasa menjulang di hadapanku, karena posisi ku yang terduduk seperti ini. Dia menggapaikan tangannya untuk menyentuhku, inikah akhirnya? Air mata mulai mengisi sudut-sudut kedua mataku, aku menutup kedua mataku pasrah saat pria berambut merah dihadapanku ini mulai mencengkram pergelangan tanganku. Sakit. Badanku mulai gemetar karena takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya, namun beberapa detik kemudian cengkraman itu tidak lagi terasa dipergelangan tanganku dan justru sekarang indera pendengaranku yang bekerja saat mendengar suara berdebam ringan kemudian di susul suara berdebam berat.

"Pergi kau dari hadapanku atau aku akan membunuhmu sekarang juga."

Suara itu lagi! Aku membuka kedua mataku dan di depanku telah berdiri tegap pria yang tidak dapat membuatku tidur semalam, dia menatap tajam kearah Sasori yang sudah tergeletak di depannya, meringis kesakitan dengan darah yang menetes dari hidung dan sudut bibirnya. Aku yakin rahang Sasori patah mengingat dia baru saja di hantam oleh kepalan tangan sang mantan petarung MMA. Sepertinya tidak ada alasan lagi bagi Sasori untuk berada disini lebih lama lagi, karena beberapa detik setelah Sasuke meluncurkan ancaman dari bibirnya, pria berambut merah itu langsung angkat kaki dari tempat ku, dan hanya menyisakan aku dan Sasuke di dalam flat.

Aku berdiri dari posisi jatuhku, dan sedikit meringis karena rasa ngilu di kedua bokongku, aku yakin besok akan ada memar di sana . Aku menengok kebelakang Sasuke, pintu flat ku kini telah menutup sempurna, lalu kualihkan tatapanku ke wajah Sasuke, tatapan mata nya tajam, dan dapat kulihat rahangnya yang mengatup dan menegang. Aku memberanikan diriku untuk bersuara.

"Thanks ..." Suaraku bergetar.

Dia menutup wajahnya menggunakan tangan kanan dan kemudian menggeram.

"Mau sampai kapan kau berdiri di hadapanku hanya dengan sehelai handuk sialan yang hampir membuatmu di perkosa itu Sakura? Kau memang mengatakan tidak akan membuka lebar kedua kaki mu untuk ku, tapi melihat penampilan mu yang sialan sexy saat ini, jika kau tidak bergegas pergi dan berganti pakaian dalam sepuluh menit, maka aku yang akan membuka lebar kedua kaki mu dan kupastikan aku akan berada tepat di pusat mu!."

Dia berbicara tanpa jeda dan kini matanya semakin menyala karena... gairah? Entahlah, namun begitu dia menyelesaikan ucapannya dengan nada membentak di akhir kalimat, aku segera meloncat dan melesat secepat mungkin menuju kamar ku untuk segera berpakaian.

.

.

.

.

.

.

-T.B.C-

Hokaaaay Ch2 kelaaar :D.

Untuk yang masih nunggu K.S.A di mohon untuk bersabar yaa, kalo saya maksain nulis dengan ide pas-pas'an, takutnya hasilnya malah gak bagus dan mengecewakan :(

Seperti biasa, untuk yang sudah meninggalkan reviews, para silent readers, dan yang memfollow maupun menjadikan Fict ini sebagai Fave, saya ucapkan banyak terima kasih pada semuanya :)

Mind to review? ;)

Hope you enjoy Minna.

Warm Regards,

Scotty Fold a.k.a Shinichi Haruko.