Hanya sebuah cerita romansa yang terinspirasi dari 50 Shades of Grey, Beautiful Disaster, Enraptured, The Hart Family Series, dan With me in Seattle Series.
.
.
.
Dalam fict ini saya menggunakan gaya bahasa novel terjemahan, dan jika ada di antara readers yang tidak dapat feel dalam membaca fict ini karena gaya bahasa saya, sebaiknya hentikan membaca fict saya daripada kalian kecewa, karena saya sama sekali tidak akan merubah gaya bahasa saya. thanks :)
.
.
.
Balasan reviews:
Karena yg reviews nya pada log in , jadi silahkan check PM masing-masing yaaah ;)
.
.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : M
Warning:
OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (banyak), dan banyak cacat lainnya.
Tidak untuk anak dibawah umur (17 plus only)
Mengandung kata-kata kasar dan vulgar.
Tidak disarankan bagi readers penyuka/penikmat Canon dan bagi readers yang tidak menyukai Erotic Novel;)
Attention:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang benar-benar berasal dari imajinasi saya sendiri yang terinspirasi dari beberapa Erotic Novel (dimohon untuk tidak mengcopy fict ini dalam bentuk apapun). Saya mohon maaf bila kebetulan ada kemiripan dalam cerita ini dengan cerita yang lain.
Selamat membaca…
.
.
.
.
.
.
.
"Sasuke tidak pernah menjalani hubungan serius dengan siapa pun sejak wanita itu meninggalkannya dalam kondisi yang masih terpuruk setelah kematian Tuan dan Nyonya Uchiha, dan sejak saat itu hubungan yang Sasuke jalani sampai saat ini hanya sebatas hubungan di tempat tidur. Mungkin kau akan tertawa mendengar ini, dulu aku sempat menaruh hati pada Sasuke, namun Dei memperingatiku, sama seperti saat ini aku memperingatimu. Dei tidak menjelaskan secara gamblang padaku, namun setelah aku perhatikan, aku memang tidak pernah melihat Sasuke berkencan dengan wanita mana pun."
Ini sudah seminggu setelah pembicaraan empat mataku dengan Ino, namun kata-kata Ino di pagi itu selalu terngiang di telingaku hingga saat ini. Well, aku tidak terlalu terkejut mengetahui Ino pernah menyukai Sasuke, bahkan aku akan sangat menyangsikan kenormalan seorang wanita jika wanita tersebut tidak terpikat oleh pesona Sasuke, namun soal wanita itu...
Aku ingin mengetahui lebih banyak soal wanita itu. Aku tahu Ino memperingatiku karena Ia terlalu menyayangiku, namun aku pun tidak dapat melupakan bagaimana cara Sasuke menatapku, kedua matanya yang sekelam malam menyiratkan keseriusan ketika Ia mengucapkan 'aku tertarik padamu', dan aku sendiri? Ya aku telah tertarik padanya bahkan sebelum dia mengatakannya. Aku harus mencari tahu sendiri jawaban dari pertanyaan yang selalu berputar dikepalaku. Aku harus ke The Chidori malam ini juga. Bangkit dari tempat tidurku, aku melangkahkan kaki menuju lemari untuk berganti pakaian.
Disinilah aku saat ini, berbeda dengan beberapa minggu lalu ketika aku datang untuk pertama kalinya karena di seret oleh teman-temanku, kali ini aku berdiri disini atas keinginanku sendiri. Kali ini penjaga didepan sana tidak mencurigaiku sebagai anak sekolahan seperti tempo hari, mungkin karena hari ini aku sedikit berdandan dan berpakaian lumayan dewasa. Aku mengedarkan pandanganku ke segala sisi club ini, masih sama seperti pertama kali aku kesini, semua orang sedang menikmati alunan house music yang dimainkan oleh DJ, dan didepan sana ada juga aktivitas lain yang tidak harus aku datangi lagi karena terakhir kali aku melihatnya, aku hampir memuntahkan makan malamku. Mengingat soal DJ, Siapa yang ada diatas singgasana DJ saat ini? Sasuke kah? Aku tidak dapat melihat siapa yang ada di atas sana, jadi aku memutuskan untuk mendatangi Sai dilantai atas.
"Hello Sakura."
"Hi Sai."
Aku melepas mantel ku dan menghempaskan bokongku disalah salah satu kursi bar.
"Margarita?"
"Oh, yes please." Sepertinya Sai sudah mencatat pesananku tempo hari didalam kepalanya. Aku kembali mengedarkan pandanganku seraya menunggu Sai yang membuatkan minuman untukku.
"Silahkan."
"Thanks." Aku meraih gelas margaritaku kemudian menyesapnya.
"Apa Ino tahu kau kesini malam ini?"
Aku menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Sai.
"Ino bukan babysitter ku Sai, dan aku bukan anak kecil yang harus melapor jika ingin pergi kemana-mana. Mungkin kau sudah tahu jika malam ini Ino tidak tidur dirumah, dia ada acara dengan teman-teman di kelas modeling nya, dan kurasa tanpa memberitahu Ino pun, nanti dia akan tahu sendiri darimu kan?"
Aku menaikkan satu alisku dan menyeringai kecil ketika bertanya padanya, Sai terkekeh menanggapi ucapanku.
"Aku juga bukan babysittermu Sakura, jadi aku tidak akan membuat laporan apa-apa. Tapi kau tahu sendiri kan jika temanmu itu sangat mengkhawatirkanmu?"
"Yeah, I know."
Aku termenung sesaat dan memikirkan cerita Ino yang selalu setia berputar dan menari-nari di sel-sel kepalaku
"Sai, apakah aku boleh bertanya padamu mengenai masa lalu Sasuke?" Aku membuka suara dan Sai terdiam sesaat mendengar pertanyaanku.
"Well, aku bukannya tidak ingin memberitahumu, tapi bukankah lebih baik kau mendengarnya dari mulut Sasuke langsung Sakura?"
Aku menatap pria didepanku ini beberapa saat untuk memikirkan perkataannya, mungkin Ia benar, seharusnya aku bertanya dan mendengar jawabannya langsung dari Sasuke, bukan bertanya diam-diam seperti ini.
"Kau benar." Aku mengangguk kecil dan bergumam.
"Kau datangi saja dia disana."
Aku mengikuti arah tangan Sai yang menunjuk ke ruang DJ.
"Apa tidak apa-apa?" Ini sudah seminggu sejak kejadian minggu lalu dan aku belum melihat Sasuke lagi sejak saat itu. Ino mengatakan padaku bahwa Ia sudah meminta maaf pada Sasuke, jadi seharusnya sudah tidak ada masalah lagi, tapi aku merasa agak canggung sekarang.
"Oh, kau tidak tahu saja betapa tersiksanya sepupuku itu menahan rasa rindunya padamu."
"Sepupu?"
"Dari munculnya simbol tanda tanya di wajahmu sepertinya Ino belum menceritakan padamu ya?"
Aku mengangguk menanggapi ucapan Sai, dan Ia terkekeh. Sekarang aku tahu kenapa wajah Itachi, Sasuke dan Sai mempunyai kesamaan. Mungkin karena itu juga Ino memutuskan berkencan dengan Sai, tidak jadi berkencan dengan Sasuke, sepupunya pun jadi. Errr... tiba-tiba aku jadi bergidik geli mengingat suara yang berasal dari kegiatan mereka berdua minggu lalu.
"Sebaiknya kau pergi kesana sekarang, aku sudah lelah jika harus menangani dia yang mabuk dan meracau tidak jelas tentangmu hampir disetiap malam selama seminggu ini." Sai meringis diakhir kalimatnya.
"Mabuk?"
"Yeah, kau memberikan efek yang luar biasa terhadap sepupuku itu. Sepupuku yang selama ini hanya mabuk sesekali, akhir-akhir ini hampir setiap malam setelah dia selesai diruang DJ dia akan menghampiriku disini untuk meminum bergelas-gelas scotch yang pada akhirnya mengharuskanku mengantarkannya hingga tempat tidur karena dia sudah tidak sanggup berjalan karena mabuk berat." Sai kembali meringis, dan melanjutkan ceritanya.
"Dan dia telah memuntahiku beberapa kali. Cepatlah pergi dan bawa kembali Sasuke dalam keadaan yang normal, sehingga akupun bisa terbebas dari muntahannya." Kali ini Sai mendengus kesal, rasa-rasanya aneh membayangkan pria seperti Sasuke mabuk berat dan berakhir dengan adegan memuntahi seseorang.
Aku menuruti perkataan Sai dan melangkahkan kaki ku meninggalkan bar untuk pergi ke ruangan yang ada di ujung sana. Aku gugup sekaligus berdebar membayangkan reaksi Sasuke jika Ia melihatku tiba-tiba muncul diruangannya.
Saat ini aku berada di depan pintu kaca yang menjadi salah satu akses menuju tempat Sasuke berada, dari pintu ini aku bisa melihatnya yang membelakangiku dalam balutan kemeja hitam dengan lengan baju yang digulung sesikut, aku merindukan tribal yang ada dibalik lengan kemeja itu. Ia hanya sendiri didalam sana, kemana para wanita yang pernah Ino katakan itu? Ini kali pertamaku melihat Sasuke yang sedang memainkan segala macam peralatan DJ yang ada dihadapannya.
"Maaf nona, jika kau berniat memasuki ruangan yang ada dihadapanmu, sebaiknya kau mengurungkan niatmu itu, Sasuke menjadi sangat tempramental beberapa hari ini dan dia mengusir semua wanita yang memasuki ruang DJ?"
Pria berambut nanas yang sedang duduk di sofa dekat pintu kaca memperingatiku. Aku sempat ragu untuk melangkahkan kaki menuju pintu kaca itu, tapi perkataan Sai beberapa saat yang lalu seperti sebuah team cheerleaders yang menyemangatiku untuk masuk kesana. Aku melanjutkan langkahku untuk meraih handle pintu kaca, dan si Pria yang tadi memperingatiku hanya mengangkat bahunya acuh seperti berkata aku sudah memperingatimu.
Aku mendorong pintu kaca itu perlahan, dan melangkahkan kakiku kedalam. Kubiarkan pintu kaca menutup lagi dengan sendirinya. Ruangan ini di desain dengan terbuka di bagian depan meja DJ sehingga orang-orang dibawah sana pasti dapat telihat dari atas sini. Kusandarkan punggungku di tembok yang ada di sisi pintu kaca Sepertinya Sasuke belum menyadari kehadiran seseorang didalam zona nya, aku memutuskan untuk tetap diam hingga Sasuke selesai nanti, kulirik arlojiku yang menunjukan bahwa sebentar lagi Sasuke akan mengakhiri performanya diatas sini, masih sekitar lima belas menit lagi., kuperhatikan punggung tegap pria yang kini ada dihadapanku. Tahukah kau bahwa dewi batinku ingin sekali menerjang punggungmu untuk dipeluknya saat ini?.
Tujuh belas menit berlalu dan pria dihadapanku telah melepas earphone nya. Detik-detik yang berlalu disaat Sasuke membalikan badannya membuat jantungku kembali berdebar, dan nyaris berhenti berdetak ketika mata kelamnya mengunci mataku. Mata hitamnya seperti awan pekat yang di iringi petir, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal, ekspresi yang sama yang Ia tunjukan ketika Ia melihatku dalam balutan handuk. Astaga, aku lupa mantelku yang kuletakan di meja bar! Tatapan Sasuke menelusuriku mulai dari little black dress, opaque stocking, hingga boots semata kaki milikku yang kesemuanya serba hitam. Dengan kecepatan kilat dia menyambar pergelangan tanganku dan membuka pintu kaca kasar.
"Shika, giliranmu."
Sasuke berhenti sebentar berkata singkat pada pria yang tadi memperingatiku, kemudian menyeretku kembali menuju ke arah bar, tapi tidak untuk berhenti disana, melainkan hanya melewatinya saja. Sai sempat melihat kearahku yang masih berada didalam cengkraman tangan Sasuke, kemudian terkekeh dan melambai kecil padaku sebelum aku menghilang di balik rak minuman. Sial sepertinya pria berwajah pucat itu menikmati sekali pemandangan aku yang setengah diseret seperti ini.
Sasuke membawaku melewati tangga yang ada dibalik lemari minuman. Dia sama sekali tidak bersuara hingga Ia membawaku memasuki salah satu ruangan yang sepertinya ini adalah ruang kerja Sasuke, terlihat dari interior di dalamanya, lemari yang dipenuhi buku-buku, sofa, serta kursi dan meja kerja yang membelakangi sebuah kaca besar. Sasuke belum juga melepaskan tanganku, Ia kembali membawaku menuju kaca besar yang ada di belakang kursi kerja.
Sasuke menempatkanku di depannya sehingga punggungku yang terbuka karena backless dress yang kugunakan, menempel didadanya. Ia meletakan telapak tangan kirinya pada kaca sedangkan tangan kanannya masih memegang pergelangan tanganku. Dari atas sini aku bisa melihat seluruh kegiatan yang dilakukan dilantai bawah.
"Kau lihat dibawah sana Sakura?"
Sasuke berbisik di telinga kiriku, dan itu membuat buku kudukku meremang seketika. Aku berusaha membasahi tenggorokanku yang kering dengan cara menelan ludah, dan kemudian mengangguk kecil. Aku tidak tahu pasti apa maksud dari perkataan pria yang ada dibelakangku ini, aku hanya mengikuti naluriku untuk mengangguk dalam menanggapi pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulutnya.
"Dibawah sana banyak pria yang kelaparan akan wanita sepertimu, dan malam ini kau datang kesini mengenakan pakaian ini? Kemana sweater yang biasa kau kenakan sayang?"
Dia marah. Aku dapat mendengar nada tajam dalam suaranya. Aku merasakan tangan kanan Sasuke yang tadi mencengkeram tanganku kini sudah beralih kepinggangku.
"Malam ini aku tidak membawa sweater, melainkan mantel." Aku berbicara nyaris seperti sebuah bisikan.
"Well, dan dimana mantelmu itu?"
Sasuke berbicara disekitar perpotongan leherku, dan beberapa detik kemudian dia membalikkan tubuhku untuk menghadap padanya, kedua tangannya posesif mencengkram pinggangku dan matanya kembali mengunci mataku.
"Aku meninggalkannya di meja bar."
Sasuke menghela nafasnya berat dan menutup kedua matanya sejenak.
"Kau membuatku gila." Kini matanya telah kembali terbuka dan menampilkan kedua iris kelamya.
"Kenapa bisa begitu?"
Perlahan-lahan jarak diantara kami menyempit, mulutnya berada tepat didepan mulutku, aku kembali merasakan hembusan nafasnya. Kali ini aku mengharapkan lebih daripada yang terjadi didapurku tempo hari.
Dan apa yang kuharapkan beberapa detik lalu kini menjadi kenyataan. Hatiku berdebar kencang saat Ia menekankan bibirnya di bibirku dan melumatnya. Perutku merasakan geli yang berasal dari kepakan sayap kupu-kupu yang sedang menari-nari didalam sana ketika bibir Sasuke menghisap bibir bawahku, sesekali lidahnya menyapu permukaan bibirku, menggodanya untuk membuat bibirku mencari-cari bibirnya.
"Karena aku sangat menginginkanmu."
Dia meninggalkan bibirku yang masih setengah terbuka karena masih terengah, dan menurunkan mulutnya kearah leherku, tangan kanannya menjelajahi punggung telanjangku, mengusapnya perlahan, menyalurkan kehangatan melalui tangannya. Kedua kakiku melemas dibawah sentuhannya, dan sepertinya Sasuke menyadari itu karena detik berikutnya Ia membimbingku kearah meja kerjanya dan menyandarkanku dipinggiran meja dengan kedua tangannya yang Ia letakan dipinggiran meja disisi tubuhku.
"Kau tahu, apa efek dari bajumu ini?"
Aku berusaha mencerna pertanyaannya karena pikiranku masih terasa kosong akibat ciumannya beberapa saat lalu. Namun ketika Sasuke merapatkan tubuh depannya pada tubuhku, aku terkesiap merasakan bukti gairahnya yang menonjol tepat diatas perutku.
"Oh!"
"Ya, aku yakin kau tahu apa efek dari bajumu ini."
Ia menyelipkan jari telunjuknya dibawah tali dress di pundak kiriku dan menurunkannya perlahan hingga melewati bahuku, matanya kini beralih kepundak telanjangku, jemarinya membelai tulang selangkaku kemudian Ia menurunkan mulutnya kesana, mengecupnya inci demi inci, hingga bibirnya kembali kebibirku, dan melumatnya keras. Tangannya kembali menjelajahi punggungku. Aku nyaris terbuai dengan semua perlakuannya, namun aku masih ingat apa tujuanku kesini. Aku mendorong dadanya perlahan dan bibir kami terlepas.
"Tunggu. Apakah aku akan berakhir menjadi salah satu koleksi barbie mu?"
Tangannya berhenti seketika, dan rahangnya kembali mengeras, kali ini bukan karena bergairah, tetapi lebih kepada... marah.
"Harus berapa kali kukatakan bahwa aku benar-benar tertarik padamu?" Suaranya dalam dan matanya menatapku tajam.
"Tapi kau tidak pernah benar-benar berkencan sejak wanita itu..."
Tadinya aku tidak ingin melanjutkan kalimatku karena dapat kurasakan bahwa tubuh Sasuke menegang mendengar kata 'wanita itu' dan menjauh dari tubuhku, namun aku harus mengetahuinya saat ini juga.
"Ceritakan padaku."
Aku membetulkan tali dress ku dan mencoa bersikap santai walau didalam hati aku sudah sangat tegang mendengar penuturannya.
"Kenapa? Kenapa kau ingin tahu?"
Dia menatapku dalam.
"Karena aku juga tertarik padamu, dan aku terlalu egois untuk membagimu dengan wanita lain, aku tidak mau berakhir seperti para barbie mu, aku ingin menjadi milikmu sebagaimana aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri. Oleh karena itu aku harus tahu dan memastikan, apa sebenarnya definisi tertarik yang kau maksudkan, aku tidak mau jika hanya menjadi wadah bagi kejantananmu hanya karena aku memiliki vagina."
Sasuke berkedip beberapa detik dan menatapku tidak percaya, dan beberapa saat kemudian Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya.
"Astaga, aku tidak tahu kau bisa berbicara sevulgar itu sayang." Ada nada geli didalam suaranya. Kali ini giliran aku yang mengedipkan mataku heran. Dia menghampiriku kembali dan mebawaku kedalam dekapannya.
"Dengarkan aku baik-baik, aku tahu Ino telah menceritakan sekilas tentang masa laluku, dan mengenai wanita itu, dia berkencan dengan temanku tepat pada saat aku berduka atas kehilangan kedua orang tuaku. Aku tidak akan berbohong padamu tentang perasaanku yang teramat kecewa pada saat itu, tentu aku merasakan sakit atas kehilangan orang lain yang aku sayangi, tapi itu tidak berlangsung lama. Aku tidur dengan wanita bukan untuk membalas dendam atas masa laluku, kekesalan masa laluku telah terlampiaskan melalu MMA yang aku geluti. Aku hanya belum menemukan orang yang tepat, hingga aku bertemu denganmu beberapa minggu lalu, dan mengusik kehidupanku."
Begitu pula kehadiranmu yang mengusik kehidupanku dan membawa serta badai yang bernama gairah kedalam kehidupanku.
"Kau pikir aku orang yang tepat?"
Dia terkekeh mendengar pertanyaanku. Dan mendorong bahuku perlahan untuk menatapku. Tatapan matanya menyalurkan kehangatan.
"Yeah, you are. Aku tahu kau masih meragukanku. Bagaimana jika untuk saat ini kita berkencan dengan normal? Aku janji tidak akan menyentuhmu lebih dari sebuah ciuman, kecuali kau sendiri yang meminta, bagaimana?"
"Apa ini semacam percobaan?" Aku menatapnya bingung.
"Astaga, darimana pikiran bodohmu itu berasal? Aku tidak sedang coba-coba denganmu, aku serius. Kau sama sekali tidak mempercayaiku ya?"
Aku mengangkat kedua bahuku seolah memberi tanda padanya bahwa aku tidak yakin, namun didalam lubuk hatiku aku yakin bahwa pria dihadapanku ini serius terhadap ucapannya. Dia mencium bibirku sekilas.
"Jadi mulai saat ini kau adalah kencanku okay." Dia menyeringai padaku.
"Okay."
"Ngomong-ngomong, sekali kau memintaku, maka itu adalah sebuah kunci bagiku untuk memasuki pintumu, dan jangan harap aku akan berhenti."
Ia kembali menarikku kedalam ciuman panjang, dan tidak memberiku kesempatan untuk mengomentari perkataannya. Hmm aku menyukai cara pria ini menciumku.
.
.
.
.
.
Aku menghela nafas lega didepan meja kuliahku. Ini hari terakhir dari ujianku, dan minggu depan libur semeter dimulai. Aku membereskan peralatan tulisku dan beranjak dari kursi untuk meninggalkan kelas. Lega rasanya ujian telah berakhir, dan kini aku bisa menikmati waktuku untuk bekerja di The Chidori tanpa gangguan kuliah untuk sementara waktu.
Aku melangkahkan kakiku menuju pelataran parkir, namun sebelum aku tiba disana aku dikejutkan oleh kehadiran R8 yang berjarak hanya beberapa meter didepanku. Sasuke? Aku menatap kearah kaca mobil yang berwarna gelap, beberapa saat kemudian pria yang namanya aku sebutkan didalam hati beberapa detik yang lalu melangkahkan kakinya keluar mobil, dan jalan menghampiriku.
"Hello baby." Dia mengecup pipiku singkat dan tersenyum.
"Kenapa kau ada disini?"Aku mengerutkan alisku heran.
"Hey, apa itu caramu menyapa seorang kekasih yang tidak bertemu denganmu lebih dari seminggu hanya gara-gara ujian sialanmu itu?" Dia memasang ekspresi wajah merajuk.
"Berhenti memberikan umpatan pada ujianku. Itu masa depanku kau tahu?" Aku mencoba memasang tampang kesal walau sebenarnya aku geli mendengarnya menggerutu seperti tadi.
"Dan kau adalah masa depanku Sayang."
Sial! Kali ini aku yang mengumpat dalam hati, kekasihku ini selalu tahu bagaimana cara membuatku merona. Rasanya sangat menjanjikan ketika dia mengucapkan kalimatnya barusan. Sasuke mendekatkan bibirnya kesalah satu sisi kepalaku.
"Wajahmu yang merona membuatku ingin melumatmu, tapi aku tahu kau akan menghabisiku jika aku melakukannya disini. Bisakah kita segera pergi dari sini please? Aku membutuhkan bibirmu untuk berada didalam mulutku."
Aku menepuk bahunya dan memelototinya, dia hanya meringis kecil kemudian menyeringai, aku tahu pukulanku tidak ada artinya bagi tubuh atletisnya. Sepertinya aku harus meninggalkan mobilku hari ini. Aku bergerak mengikuti langkah Sasuke menuju mobilnya, dan begitu masuk mobil kekasihku ini benar-benar melampiaskan hasratnya padaku, belum ada lima detik aku menutup pintu mobil, dia sudah menarikku kedalam ciumannya.
"Aku tidak akan pernah merasa bosan dengan bibirmu." Dia melepaskan ciumannya dan kembali duduk dikursinya dengan posisi yang benar.
"Dan sialnya kau juga selalu membuatku merasa tegang dibawah sini." Dia menyenderkan kepalanya di jok kursi, mengerang dan menghela nafas berat.
Aku hanya terkekeh mendengar penuturannya, merasa geli sekaligus senang karena dia selalu menginginkanku.
.
.
.
.
.
.
.
Sore ini aku menghabiskan waktuku berkencan dengan Sasuke, pergi kebioskop walau kenyataannya aku tidak pernah fokus menonton karena bibir kekasihku tidak suka dibiarkan menganggur, makan malam dan berakhir dengan Sasuke yang mengantarku hingga pintu depan flat. Ketika Sasuke akan memberikanku ciuman selamat malam, kami dikejutkan oleh terbukanya pintu flat, dan dari arah dalam keluar Ino bersama pria yang aku kenal.
"Hi Sai."
"Hi Pink." Sai menghampiriku untuk mengecup pipiku singkat.
"Kau lihat kan, sepupuku tidak seburuk yang kau pikirkan." Sai berbicara pada Ino yang kini berada didalam rangkulannya. Ino menatapku dan Sasuke secara bergantian, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun hingga kurang lebih tiga puluh detik.
"Jadi kalian sungguh berkencan?" Ino mengeluarkan suaranya.
"We are." Sasuke mengiyakan pertanyaan Ino, dan aku mengangguk.
Ino terdiam lagi beberapa detik dan menghela nafas.
"Well, sepertinya peringatanku tidak kau gubris uh Saki? Tapi ya sudahlah. Dan kau Sasuke, jika kau berani menyakiti sahabatku, aku akan membunuhmu."
"Aku akan membantumu membereskan mayatnya dear." Sai menyahuti ucapan kekasihnya. Aku hanya menggeleng tidak percaya, mereka benar-benar pasangan serasi, bahkan dalam hal perencanaan pembunuhan. Sedangkan sang target pembunuhan hanya terkekeh mendengarnya.
Setelah pembicaraan kecil yang sdikit tegang didepan tadi, kami berempat memutuskan untuk minum dan mengobrol sebentar didalam. Aku merasa lega bahwa Ino dapat menerima Sasuke sebagai kekasihku. Kemarin-kemarin aku masih merasa cemas mengenai Ino dan Sasuke, namun sekarang melihat mereka berdua saling mengejek didepanku seperti ini, sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus aku khawatirkan.
Setelah Sasuke dan Sai pulang, aku dan Ino mengobrol sebentar disofa.
"Apa?! Kau serius? Dia sama sekali belum menidurimu?!"
"Yeah, bukankah sudah kukatakan padamu tadi bahwa Sasuke sungguh-sungguh padaku? Dan bisakah kau kecilkan suara nyaringmu itu? Kau nyaris membuatku tuli Ino." Aku memutar kedua bola mataku bosan.
"Um, sorry. Well, aku hanya tidak menyangka dia seserius itu padamu, aku tidak tahu jika Sasuke sanggup mengistirahatkan kejantannya dari sebuah vagina selama hampir satu bulan! Wow!"
Well, aku juga tidak menyangka Sasuke benar-benar menepati janjinya untuk tidak menyentuhku lebih dari sekedar sebuah ciuman, aku tahu betapa sengsaranya Sasuke dalam menahan dirinya, aku bisa melihat itu didalam matanya disetiap kali Ia menciumku. Sepertinya sudah saatnya aku memberikan dia kunci.
.
.
.
.
.
.
.
-T.B.C-
Hooooi... I'm baaack! \O/
Gomen ne baru sempet update , minggu ini sibuuuk sangaaaat, gak ada celah sedikiiiit pun buat ngetik PJ huhuhu T_T.
Kaget pas baca jumlah reviews, viewers sama yg kasih fave n follow, arigatou ne minna *kisses n big hugs (inilah alasan yg ngebuat satya semangat 45 pengen update walau badan masih ringsek gara2 seminggu ini kerja diluar kantor terus hahaha).
Jia : arigatou :)
Gapunyaakun: thank yooou, I'll do my best ;)
Nadiracherry : salam kenal jg Nadira-san :) thank you yaaaaaa :*
Theodoa : yeees! He is so damn hot! Hahaha
Kitsune, Faala : Ini ch4 muncuuul, thank yooou ;)
Guest-1 : Siaaaap lanjutkan! *pose hormat XD
Bluecherry90 : Yeeep setujuuu, pesona Uchiha itu nge-Jleeeb! Masa lalu nya ga sekelam Grey ato Dante (Hart Series) kook XD
Shivano : Thank you so much :* #warm smile too for you Shivano-san :)
Yuki : Thank you for waiting dear :)
Rasa : Arigatooou , Kalo lg ga sibuk saya akan berusaha kilaaat :D
Q-ren : arigatooou , saya akan semangaaat :D
Guest-2 : biar penasaran jd di cut pas di situ hahaha, padahal mah gak ada sesuatu yg terlalu buruk siih XD cm alasan klasik aja ntar yg muncul XD.
RainyDe : Jiaaaach baru sadar toh hahaha . KSA nanti ya Rainy-san, hari ini PJ dulu :)
ChityaMalfoy : thank yooou :) yooosh ganbarimaaasu!
YukiAiko : Boleeh, Shin-Haru-Scott, dore de mo ii yo ! (yg mana aja boleh :D). Hahaha, gomen neee saya lagi seneng yg slow XD
Silent Reader : yooosh ganbarimaaasu ! arigatooou :)
Sslover : waaah arigatooou :)
Obin : ini juga saya hampir mimisan pas lg berimajinasi hahahaha XD. Yoooosh ganbarimaaasu, arigatou ne! :)
NKN0624 : Hahaha, it's okay XD, mungkin krn basic saya itu erotic novel kali ya, jadinya PJ lebih natural, ngalir gitu aja gak maksa hahaha, berasa juga sih pas ngetik buat KSA n PJ XD.
Piko : thank yooou :)
PinkyMouse : thank yooou :) ini Ch 4 up :D
CrystallizedBlossom : Salam kenal juga Crys, okaaaay akan diusahakan :D
Bluestar2604 : arigatoooou :D
Guest-3 : hehehe thank you saran nya, sebagian besar bahkan hampir semua erotic novel menggunakan POV dari salah satu tokoh :) dan PJ memang dr situ kan inspirasi nya :) but,saran kamu bagus kok, mungkin bisa saya
coba di next fic :)
Yg reviews pake log in, seperti biasa yaaa, check PM nya ;)
Saya ingin meluruskan mengeni salah satu review yang membahas mengenai PLAGIAT.
Plagiat = mengakui karya org lain sebagai karya sendiri tanpa menyebutkan sumber. (Diringkas dari: Utorodewo, Felicia, dkk. 2007. "Bahasa Indonesia : Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah". Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.)
Sepertinya Reviewer tsb terlalu mencintai atau bahkan terobsesi dg Trilogy 50 Shades of Grey ya, soalnya yg dibahas oleh yg bersangkutan hanya mengenai 50 Shades of Grey. -.-'
Mari kita lihat poin2 "plagiat" yg dilihat oleh reviewer tsb:
Poin untuk karakter Sasuke:
1. Same profile : konglomert, sexy, protective, possesive
Coba kamu baca erotic novel lain: With me in Seattle Series & Loving Chara (Kristen Proby), Sleep with the Devil-Unvorgiven Hero-Romantice Story about Serena dll (Santhy Agatha), Anything He wants (Sara Fawkes), atau kamu bisa check di erotic novel terbitan Harlequin.
Sebagian besar tokoh prianya PASTI punya poin yg kamu sebutin. Kesimpulannya, itu udah mainstream dalam erotic novel.
2. Same age (27)
Sama seperti diatas, coba kamu baca novel lain. Kamu pikir yg pny umur 27 cm Grey? Sempit sekali pola pikir-mu -.-'
3. Audi R8
Soal brand mobil yg satu ini, saya rasa siapapun berhak menyebutkannya dalam sebuah cerita (Sekalian ngiklan, sapa tau dapet mobil gratis dari Audi :p, love this car so muuuch XD *kedipin mata ke Mr. Ferdinans Piech & Mr. Martin Winterkorn XD.)
Poin untuk karakter Sakura :
1. Bidang Jurnalistik & Punya best friend sekaligus room mate.
- Annastasia Steele jelas dia jd interviewer dadakan, tp Sakura? -.-'
- Anna kuliah jurusan Sastra, sedangkan Sakura jurusan jurnalistik.
- Rata2 tokoh utama wanita biasanya punya sahabat cewek yg beberapa diantaranya merupakan room mate nya juga (sy gak akan bosen untuk bilang : Coba kamu baca erotic novel yg lain, jng terpatok sm satu novel).
2. Same profile
Jawaban sy sama kaya poin nya Sasuke yg no 2.
3. Berhadapan sama percobaan pemerkosaan
Haddeee... LAGI sy harus mengatakan, COBA KAMU BACA EROTIC NOVEL YG LAIN!-.-'
Satu hal yang harus saya beritahu di sini, saya menulis PJ bukan karena NAFSU dadakan pengen nulis akibat baru baca novel 50 shades of Grey, sonofabi*ch sy baca itu novel udh dr thn 2012!-.-'.
Sy bkn pendatang baru dalam hal baca-membaca erotic novel (Sebagian reviewers yg sering PM'an sama sy mungkin sudah tau yaa sejak kapan dan sudah berapa tahuuuuuun saya melanglang buana ngebaca erotic novel XD).
Sekarang soal PLOT. Sy akan kasih pertanyaan balik ke reviewer yg bilang kalo PJ plagiat :
1. Sejak kapan Christian Grey jadi DJ ?
2. Sejak kapan Christian Grey MEROKOK ?
3. Sejak kapan Christian Grey punya NIGHT CLUB?
4. Sejak kapan Christian Grey BISA DI SENTUH di awal2 cerita?
5. Sejak kapan Christian Grey punya TRIBAL TATTOO?
6. Sejak kapan Christian Grey MENEKUNI MMA (Mixed Martial Art)?
7. Sejak kapan Christian Grey punya KAKAK COWOK KANDUNG ?
Goooosh... Mba mba... yg pernah baca 50 Shades of Grey itu bukan cuma kamu aja, reviewers/readers yg lain juga banyak yg udah baca, tapi mereka bisa lihat dan tahu dimana perbedaan PJ sm 50 Shades of Grey. -.-'
Oya, satu lagi, 50 Shades of Grey itu novel yang ngebahas soal BDSM, hingga saat ini saya belum terpikir untuk kasih BDSM dalam PJ, tapi kalo pun kedepannya nanti memang muncul BDSM, itu bukan berarti sy ngambil dari 50 Shades of Grey, masih banyaaaaaaaaaaaaak novel yg bahas BDSM, so sekali lagi sy akan bilang :
COBA BACA EROTIC NOVEL LAIN!
Karena hal-hal yang kamu jadiin protes itu adalah hal yang AMAT SANGAT MAINSTREAM dalam erotic novel.
Wooops kepanjangan inih curhatan saya XD hahaha, gomen ne minna XD.
Seperti biasa, untuk yang sudah meninggalkan reviews, para silent readers, dan yang memfollow maupun menjadikan Fict ini sebagai Fave, saya ucapkan banyak terima kasih pada semuanya :)
Mind to review? ;)
Hope you enjoy Minna.
Warm Regards,
Scotty Fold a.k.a Shinichi Haruko.
