Hanya sebuah cerita romansa yang terinspirasi dari 50 Shades of Grey, Beautiful Disaster, Enraptured, The Hart Family Series, dan With me in Seattle Series.
.
.
.
Dalam fict ini saya menggunakan gaya bahasa novel terjemahan, dan jika ada di antara readers yang tidak dapat feel dalam membaca fict ini karena gaya bahasa saya, sebaiknya hentikan membaca fict saya daripada kalian kecewa, karena saya sama sekali tidak akan merubah gaya bahasa saya. thanks :)
.
.
.
Balasan reviews:
Untuk yang log in silahkan check PM masing2 yah ;)
Guest 1 : Yap bisa dibilang begitu, sy kombinasiin sedikit2 dari novel2 tsb :) tp ceritanya beda kok ;) dan kalo kamu jg penggemar erotic novel, kamu pasti tau kemiripan kya gtu udh mainstrem sekali ;)
Qren : Thank you :)
NKN0624 : Hehehe, it's okay, flame kya gtu gak ngaruh kok buat sy :D thanks yaa :)
Gapunyaakun : Hahaha, sepertinya untuk konflik akan mainstream, tapi kita lihat nanti aja ya :)
Crystallizedblossom : Ini udah lanjut :) selamat membaca ya :D
Nadiracherry : hahaha, sepertinya sih begitu. Sayang yg ngeflame tsb gak log in, klo log in kan Haru bisa ksh referensi novel yg banyaaak, klo perlu sy emailin deh itu semua epub yang sy punya hahaha :D
Aiko : Sama2 Aiko-san :)
Fanseyo : Hahaha, sepertinya "kunci-gembok" masih sy pending XD
Mio : Yap, I think so :)
Mysaki : Dikantor semakin sibuk menjelang akhir tahun, jadi cm bisa ngetik di weekend :)
Sheren : Ini udah lanjut :)
Namuichi : Hehe, belum kok "kunci-gemboknya", masih nyariiiiis :D
Sslover : Sama2 :) thank you :)
Silentreader : Hahaha XD ini udah lanjut :)
Obin : Kuncinya ntar dulu yah XD
FujiSeiro : Thanks Fuji-san :)
Medusa13 : Hehehe begitulah XD yooosh ganbarimaasu. Arigatou :)
Bluestar6204 : Waaah nakal nih yaa blm cukup umur udah mampir ke PJ! XD. Nanti klo udah pas umurnya baru sy kasih sumbernya ya :p
.
.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : M
Warning:
OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (banyak), dan banyak cacat lainnya.
Tidak untuk anak dibawah umur (17 plus only)
Mengandung kata-kata kasar dan vulgar.
Tidak disarankan bagi readers penyuka/penikmat Canon dan bagi readers yang tidak menyukai Erotic Novel;)
Attention:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang benar-benar berasal dari imajinasi saya sendiri yang terinspirasi dari beberapa Erotic Novel (dimohon untuk tidak mengcopy fict ini dalam bentuk apapun). Saya mohon maaf bila kebetulan ada kemiripan dalam cerita ini dengan cerita yang lain.
Selamat membaca…
.
.
.
.
.
.
.
Hujan di pagi hari ini membuat cuaca menjadi lembab dan dingin, perpaduan antara cuaca musim gugur dan rintikan hujan merupakan kombinasi yang sempurna untukku. Aku menyukai hujan. Perasaanku terasa nyaman saat mendengar rintikan hujan dan mencium aroma tanah yang menguap akibat terbasahi hujan.
Aku mengerang dan menggeliat dalam selimut hangatku. Aku harap ini adalah akhir pekan karena tubuhku masih terasa berat dan amat sangat tidak rela untuk meninggalkan kehangatan tempat tidurku. Namun jarum jam yang kini mengarah ke angka tujuh seolah memelototiku dan mengharuskan aku untuk segera bangkit dari tempat tidur karena jam sepuluh ini aku ada pertemuan dengan Kakashi dan anggota redaksi. Bangkit dari posisi nyamanku, aku merenggangkan tubuhku sebentar dan segera bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap.
"Morning."
Aku menyapa Ino yang sedang menikmati oatmeal nya dimeja makan, dan mendudukan bokongku di salah satu kursi pantry.
"Morning, hari ini penentuan siapa yang akan diberangkatkan untuk mewawancarai Pak Menteri yang akan mengadakan kegiatan sosial di Iwa kan?"
"Yap." Aku mengambil sehelai roti dan mengoleskan selai strawberry diatasnya.
"Dan karena aku sangat mengenalmu yang mencintai tugas lapangan, aku yakin kau ingin mendapatkan tugas tersebut." Ino menyeringai menatapku.
"Hm, sebetulnya iya, tapi kau tahu sendiri kan aku ini masih anak magang, pasti mereka yang sudah tetap yang akan di prioritaskan." Aku mendesah lemah dan mengangkat kedua bahuku pasrah kemudian mulai mengigit kecil ujung rotiku. Hmm, Selai strawberry memang selalu enak dan bersahabat di lidahku.
"Well, Mengingat Kakashi yang begitu menyayangimu, kurasa kau akan mendapatkan tugas itu teman." Ino bangkit dari kursi untuk mencuci gelas dan mangkuknya yang telah kosong.
"Eeew kenapa aku merasa bahwa kalimatmu seperti menunjukan adanya indikasi nepotisme antara aku dengan Kakashi sih." Aku mengambil satu gigitan lagi dan memandang Ino sebal, dan temanku itu hanya menaikan bahunya acuh.
"Taruhan, jika kau mendapat tugas itu, salah satu koleksi victoria secret yang baru kau beli kemarin akan menjadi milikku." Ino menyeringai dengan senang sedangkan aku memutar mataku dan mendengus kesal.
"Kau ada pemotretan lagi hari ini?" Aku memasukan gigitan terakhir dari rotiku, dan beranjak ke kulkas untuk mengambil segelas susu.
"Yap. Ini kan sudah memasuki liburan, daripada aku menganggur dirumah, lebih baik aku mencari kegiatan kan. Lagipula uang yang kuhasilkan bisa buat shopping dan bersenang-senang nantinya." Yeah, selalu menyenangkan memang jika sudah berurusan dengan yang namanya shopping.
"Well, aku berangkat duluan ya." Ino mengecup kedua pipiku sebelum melangkah ke meja untuk mengambil tas nya dan berlari kecil menuju pintu.
"Hati-hati dijalan."
"Ya. Jangan lupa taruhannya!" Aku kembali memutar mataku mendengar kata-katanya.
Aku menghabiskan susu yang masih terisisa setengah dan segera mencuci gelasku. Sebelum melangkahkan kakiku menuju pintu keluar, aku meraih mantel ku yang bertengger dikursi makan kemudian memeriksa penampilanku dulu di cermin besar yang ada diruang TV. Ino sengaja meletakannya disitu dengan alasan wanita selalu butuh cermin dimanapun. Alasan konyol memang, tapi inilah gunanya sekarang, aku tidak perlu kekamar lagi. Hari ini aku mengenakan rok A-Line berwarna ungu tua, kemeja satin berwarna ungu pucat, dan sepatu white pumps. Okay, penampilanku hari ini lumayan. Aku melirik kunci mobil yang ada di atas meja, namun ku urungkan niatku untuk mengambilnya dan beralih menyambar payung yang ada di sisi meja, hari ini aku ingin menikmati rintikan hujan.
Aku berjalan di bawah naungan payung menuju stasiun yang hanya berjarak beberapa blok dari sini. Ditelingaku terpasang headset yang memperdengarkan suara Matthew Belami yang sedang menyanyikan Madness. Ini salah satu lagu favoriteku, Matt benar-benar musisi yang brilian, dengar saja semua penyesuaian komposisi musik didalam lagu-lagunya, semuanya 'sangat Matt', dan memiliki karakter yang khas. Ingatkan aku untuk menonton konser MUSE tahun depan.
.
.
.
.
.
.
.
Well, ucapan Ino tadi pagi sepertinya menjadi doa mujarab untukku karena keputusan dalam pertemuan hari ini menyatakan bahwa aku yang akan terbang ke Iwa untuk mewawancarai dan meliput langsung kegiatan amal yang akan dilakukan oleh Menteri selama satu minggu. Dan itu berarti aku harus merelakan salah satu victoria secret yang baru aku beli minggu kemarin.
Oh ngomong-ngomong keputusan Kakashi bukan karena nepotisme, seharusnya yang berangkat adalah Konan, tapi karena tanggal tersebut Konan sudah mengajukan libur dari jauh-jauh hari, tugas ini di delegasikan kepadaku, dan tentu saja aku menerimanya dengan senang hati. Dan seperti yang sahabatku katakan tadi pagi, aku mencintai kerja lapangan, selalu.
"Baiklah, pertemuan hari ini selesai. Silahkan kembali pada pekerjaannya masing-masing, dan Sakura, kau dijadwalkan untuk berangkat awal November, berkoordinasilah dengan Gaara dan Neji. Kalian satu team dalam tugas ini." Kakashi mengarahkan pandangannya pada Gaara. Hari ini Neji tidak ikut dalam pertemuan karena ada tugas lapangan, dia merupakan salah satu Fotografer terbaik di Hatake's Journal. Sedangkan Gaara mengisi posisi Editor disini.
"Okay Sir."
"Mohon kerjasamanya Sakura." Gaara mengembangkan senyumannya, begitu pula denganku. Gaara adalah seorang pria dengan tubuh yang tinggi, putih, bermata hazel, dengan rambut merahnya yang khas, dan dia sangat tampan untuk ukuran para lelaki. Bahkan para karyawan wanita disini banyak yang mengingkan dan memimpikannya untuk berada didalam selimut mereka. Kecuali aku tentunya, satu-satunya pria yang aku inginkan untuk berada didalam selimut bahkan didalam celana dalamku adalah Uchiha Sasuke.
Sebelumnya aku pernah terlibat pekerjaan baik dengan Gaara maupun Neji dan tidak pernah menemukan masalah, mereka berdua sangat profesional dalam pekerjaannya. Aku yakin pekerjaan kami nanti akan berjalan lancar seperti biasanya.
"Kapan kita mulai menyiapkan dan mendiskusikan isi pertanyaan untuk Pak Menteri nanti?"
Aku bertanya pada Gaara yang berjalan bersisian denganku saat berjalan menuju ruangan kami. Ruanganku sebagai penulis tepat berada di sebelah ruang editor.
"Ini masih akhir September, aku rasa bulan Oktober saja kita memulainya, lagipula aku masih ada beberapa naskah dari penulis lepas yang harus aku koreksi. Atau kau buat saja dulu sesuai apa yang ada dipikiranmu, nanti jika pekerjaanku yang ini sudah selesai kau bisa mendiskusikannya denganku." Gaara menampilkan kembali senyum yang menurut para wanita tergolong maut.
"Hm, okay. Thanks Gaara." Kami sudah berada didepan pintu ruangan masing-masong saat ini.
"Dengan senang hati." Dia kembali tersenyum, dan kami berdua memasuki pintu masing-masing.
Terdengar lantunan suara Matthew Bellami yang sedang melantunkan lagu madness. Aku segera meraih tas yang ada diatas meja untuk mencari ponselku. Sasuke's calling. Melihat namanya yang tertera di layar ponselku sudah dapat membuat irama jantungku meningkat.
"Hi baby." terlebih setelah mendengar suara baritonenya yang sexy.
"Hi."
"Kau sudah makan siang?"
"Belum, aku baru selesai meeting. Lagipula ini masih jam 11:45, masih tersisa 15 menit lagi untuk bekerja."
"Wow, gadisku ini benar-benar workholic huh?"
"Kau orang kesekian yang berkata seperti itu." Aku mendudukan bokongku di singgasana kerjaku beriringan dengan terdengarnya kekehan kekasihku diseberang sana. Kekasihku... aku senang melantunkan kata itu.
"Aku merindukanmu."
Begitupula denganku.
"Kita baru bertemu beberapa hari yang lalu, apa kau lupa?"
"Tidak, aku tidak akan pernah lupa saat bersamamu, terutama kegiatan kita di mobil dan bioskop itu." Aku memutar kedua bola mataku saat mendengar godaannya.
"Aw, aku tahu kau sedang memutar bola matamu, dan itu melukai perasaanku sayang." Dia menggodaku lagi, oh dan darimana dia tahu aku memutar bola mataku? Seperti mengetahui pertanyaan yang ada dikepalaku, dia melanjutkan kembali ucapannya.
"Aku tahu semua kebiasaanmu. Memutar bola mata ketika kau jengah atau sebal, meremas tangamu dan mengigiti bibirmu ketika kau gugup atau cemas, tapi aku paling suka ketika kau mengigiti bibirmu, itu terlihat sangat sensual dan seperti yang kau tahu, aku selalu ingin memakanmu." Pria ini benar-benar memberi efek luar biasa padaku, hanya dengan perkataannya barusan sudah dapat membuatku sesak nafas.
"Kau menyebalkan." Aku menjaga suaraku tetap normal. Dan dia terkekeh di seberang sana.
"Yeah, aku tahu. Oya sore ini aku akan menjemputmu untuk makan malam. Tinggalkan saja mobilmu seperti kemarin. Apa perlu aku menyuruh orangku mengantarnya ke flatmu?" Wow mudah sekali bagi orang sepertinya untuk menyuruh salah satu karyawannya melakukan tugas sepele seperti itu.
"Tidak perlu, aku tidak bawa mobil hari ini."
"Good. Aku akan tiba disana jam 5. See you baby."
"See you." Telepon terputus. Sepertinya aku akan menunggu dengan tidak sabar hingga sore nanti.
.
.
.
.
.
.
.
Aku sedang berdiri di luar lobi ketika melihat Audi SUV berwarna hitam berhenti tepat di depanku. Alisku berkerut melihat seorang pria yang tidak kukenal turun dari kursi pengemudi dan menghampiriku.
"Sore Nona, mari."
Dia membukakan pintu belakang dan disisi jendela sebelah sana nampaklah priaku yang dibalut setelan jas berwarna hitam, dengan dua kancing teratas kemejanya yang terbuka tanpa dasi yang entah sudah di taruh dimana, dan ditambah sepatu the black oxford yang mengiasi kakinya. Ini kali pertamaku melihatnya dalam balutan busana formal, dan pemandangan didepanku ini sungguh sangat mempesona. Oh Tuhan, aku tidak tahu dia bisa sangat panas dalam balutan busana seperti ini.
"Hey." Sapaanya membuyarkan lamunan liarku. Ia menatapku dengan seringaian nakal di wajahnya seolah berkata aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu baby.
"Oh, hey. Kau menggunakan supir hari ini?" Aku bertanya dan tersenyum kikuk ketika mobil mulai melaju.
"Yeah, aku sedikit lelah hari ini. Jadi aku membawa Asuma bersamaku." Ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tanganku dan membawanya kebibirnya. Mengecupnya lama.
"Aku merindukanmu." Ia menatapku hangat.
"Begitu pula denganku." Aku memberikan senyum terbaikku padanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku yang kuyakin bahwa ia berniat menciumku seperti yang sudah-sudah, namun sebelum Ia mendekatkan wajahnya kearahku, aku memperingatinya.
"Jangan menciumku di tempat umum." Aku mendesis padanya, Ia menatapku sejenak dan terkekeh.
"Ini kali pertama ada seorang wanita yang mendesis padaku, dan biarkan aku meralat ucapanmu. Ini di dalam mobilku Sayang, bukan tempat umum," Ia menarik pinggangku agar mendekat kearahnya untuk mempermudah tujuan awalnya, namun delikan mautku menghentikan niatnya.
"Baiklah, kita lanjutkan nanti." Ia menghela napas pasrah dan beralih mengecup sisi kepalaku.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi kau akan meninggalkanku selama satu minggu?" Rahangnya mengeras dan suaranya dingin. Sial, dia marah. Beruntung aku memberitahunya setelah makan malam kami selesai, jika aku memberitahunya diawal makan malam, sudah pasti nafsu makan kami berdua akan menguap dan menghilang terbawa angin.
"Um, begitulah." Aku harus mengumpat lagi karena suaraku yang gugup. Sial. Aku mulai mengigiti bibirku cemas.
"Dan kau pergi dengan dua rekan pria-mu." Kalimatnya terdengar cemburu, dan aku senang mengetahui dia cemburu.
"Begitulah." Kini aku berusaha untuk bersikap santai, walau suaraku masih terdengar sedikit bergetar. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, dia hanya menatapku namun aku tahu dia amat kesal.
"Aku menyukai pekerjaanku." Aku bergumam.
"Aku tahu."
"Tapi melihat ekspresimu saat ini sepertinya kau membenci pekerjaanku."
"Tidak, aku hanya tidak suka membayangkan kau akan pergi selama seminggu bersama dua orang pria." Dia mendesah gusar.
"Aku akan baik-baik saja." Aku mencoba menenangkannya, tapi sepertinya itu tidak berefek banyak pada kekasihku ini. Wajahnya masih kesal.
Suasana setelah makan malam kami masih terbawa hingga didalam mobil, kami duduk ersebelahan dalam diam. Sesekali aku melirikan mataku kearahnya, aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang ada didalam kepalanya saat ini. Mungkin sebaiknya aku mendiamkannya saja. Aku pun mengalihkan pandanganku ke jendela mobil.
Seperti biasa, Sasuke ikut bersamaku keatas untuk mengantarku hingga depan pintu. Ketika kami melangkahkan kaki keluar lift, aku melihat pintu flat ku terbuka dan ada securty yang sedang berdiri didaun pintu flat ku. Firasatku mulai merasakan hal yang tidak beres disini.
"Aku mencium bau tidak beres dari sini." Priaku sependapat dengan perasaanku. Ia menggenggam tanganku dan menariku menuju flat.
"Selamat malam Nona." Security yang ada didepan pintu menyapaku yang tengah berdiri didepan pintu.
"Malam." Aku mengangguk dan melangkahkan kakiku kedalam, diikuti oleh Sasuke yang berjalan bersisian denganku. Di sofa ruang TV nampak Ino yang sedang berbicara dengan dua orang pria yang mengenakan seragam kepolisian.
"Ada apa ini?" Aku menyela pembicaraan mereka.
"Oh Tuhan, ada penyusup masuk kedalam tempat kita." Ino yang melihatku segera menghampiri dan memelukku. Aku masih mencerna perkataan Ino. Penyusup? Itu terdengar mengerikan.
"Bagaimana bisa?" Suaraku terdengar seperti bisikan.
"Dia merusak kunci pintu kita, dan begitu aku tiba disini aku langsung melapor ke security dan menelepon kepolisian." Ino melepaskan pelukannya.
"CCTV?" Sasuke langsung masuk kedalam pembicaraan, dan Ia kembali menggenggam tanganku.
"Maaf sir, CCTV di lantai ini sedang dalam perbaikan, sehingga kami tidak bisa melihat siapa yang masuk kedalam sini." Security yang ada didepan tadi kini telah berada diantara kami.
"Orang kami sudah meminta dan mengumpulkan keterangan dari beberapa penghuni yang ada dilantai ini, namun belum semua penghuni yang dapat kami tanyai karena beberapa diantaranya tidak ada didalam, kami akan kembali melakukan investigasi besok." Salah satu polisi menjelaskan padaku.
"Ada keanehan disini, dia menerobos masuk tapi tidak ada barang yang hilang, dan Miss Ino sudah mengecek nya sendiri, bahkan kamar Miss Ino masih sangat rapi dan tidak ada tanda-tanda ada orang lain dikamarnya, bukan begitu Miss?" Polisi yang satu lagi menambahkan dan diberi anggukan oleh Ino.
"Tadi aku sudah memeriksa kamarmu, tapi aku tidak tahu apakah ada barang yang hilang atau tidak, coba kau cek lagi." Ino menyuruhku untuk memeriksanya sendiri. Aku mengangguk dan melangkah kekamar bersama Sasuke, di ikuti oleh Ino.
Sasuke membantuku memeriksa kesegala sudut kamar, dan Ino mengecek kekamar mandi. Aku memeriksa bawah tempat tidurku dan laci-laci, semua barang didalamnya aman. Aku mengalihkan pandanganku ke lemari oak ku, kubuka kedua pintunya dan tubuhku seketika menegang, dua laci lemariku terbuka! Laci pertama tempatku menyimpan koleksi victoria secret ku, dan yang kedua tempatku menyimpan beberapa album fotoku! Seingatku aku selalu menutup semua bagian dari lemariku ketika sudah selesai berganti pakaian. Aku mengecek kedua laci tersebut, di laci pertama rasanya tidak ada yang hilang, namun begitu aku memeriksa laci yang kedua, aku kehilangan salah satu fotoku yang diambil oleh Ino ketika dia sedang mencoba kamera LSR nya dan aku dipaksa untuk menjadi modelnya. Dia mengincarku!
"Ada apa?" Sasuke yang sudah ada dibelakangku nampaknya memperhatikanku yang terdiam didepan lemari, dan diikuti oleh Ino yang telah selesai dengan kamar mandiku.
"Dia masuk kesini." Aku berbisik dan nafasku tercekat. Aku masih memegang salah satu album dengan kaku.
"Oh Tuhan!" Ino menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Kemasi pakaian kalian. Kalian tidak aman disini terutama Sakura." Ada nada geram dalam suara Sasuke.
"Ada kamar kosong di apartment Dei, aku dan Sakura bisa tinggal disana sementara waktu. Sebentar aku akan meneleponnya." Ino bergegas keluar dari kamarku untuk menghubungi Dei.
Aku sedang mengambil beberapa bajuku dan memasukkannya kedalam koper dibantu oleh Sasuke ketika Ino masuk lagi kedalam kamarku.
"Dei sedang tugas luar kota selama seminggu aku sudah menghubungi Sai, dia dalam perjalanan kesini dan menawari kita untuk tinggal ditempatnya." Ino mendudukan bokongnya di tempat tidurku.
"Um, apa tidak apa-apa?" Aku menatap Ino ragu, bagaimana pun aku belum mengenal Sai dengan baik, pasti akan sangat canggung nanti.
"Kau tinggal ditempatku." Sasuke menyahutiku sebelum Ino sempat menjawab pertanyaanku, dan aku menolehkan kepalaku kearahnya.
"Tidak ada penolakan. Kau lebih aman bersamaku." Aku tahu ucapannya tidak dapat dibantah, kalimat yang Ia lontarkan seperti sebuah maklumat yang wajib dipatuhi olehku. Setelah melontarkan kalimatnya Sasuke berlalu menuju ruang TV, tempat dimana para polisi sedang berbincang.
Aku telah selesai berkemas, dan ketika aku keluar dari kamar, nampak Sasuke yang sedang berbicara serius dengan kedua polisi dan disana juga sudah ada Sai. Lengan kemeja kerja Sasuke kini sudah digulung melebihi sikut dan menampakan tribal tatto nya, kedua lengannya disilangkan di dada dan tatapannya fokus pada kedua polisi secara bergantian.
"Aku sudah selesai."
Aku menginterupsi pembicaraan mereka. Sasuke menolehkan kepalanya dan meraih tanganku untuk digenggamnya.
"Kabari aku secepatnya." Sasuke berbicara kepada kedua polisi tersebut.
"Okay Sir." Salah satu polisi menyahuti ucapan kekasihku.
"Sai, aku titip Ino ya." Aku menolehkan kepalaku pada Sai.
"Hei, aku bukan anak kecil yang harus dititipkan tahu, lagipula bukan aku yang diincar disini, seharusnya aku yang menitipkanmu pada Sasuke." Ino yang muncul dengan kopernya langsung menyambar ucapanku, sedangkan aku hanya memberikannya cengiran khasku.
"Jika aku berada dalam posisimu, aku tidak akan punya kekuatan mengeluarkan cengiran seperti itu." Ino menatapku tidak percaya.
"Well, ini sudah malam, sebaiknya kita pergi sekarang." Sai membawa Ino dalam rangkulannya, dan di angguki oleh Sasuke yang kini juga tengah merangkulku.
.
.
.
.
.
.
.
Di sinilah aku sekarang, membereskan barang-barangku disalah satu kamar tamu di apartment Sasuke. Oh tidak, tempat ini mungkin lebih cocok aku sebut kondo melihat luas dan mewahnya tempat tinggal Sasuke. Disini terasa sangat nyaman sejak aku memasuki pintu di depan sana. Warna dinding diruang depan didominasi oleh putih dengan beberapa ornamen berwarna biru tua dan biru muda. Sedangkan dikamar yang aku tempati dindingnya berwarna biru muda bergradasi putih, dan tempat tidur dikamar ini diselimuti oleh bedcover berwarna biru muda.
Aku baru selesai mandi dan berganti pakaian ketika kudengar pintu kamarku diketuk.
"Boleh aku masuk?" Kadang aku merasa aneh dengan kekasihku ini, terkadang dia bersikap seenaknya, tapi kadang bisa sangat sopan seperti sekarang ini, menanyakan boleh masuk atau tidak? Aku seperti tidak mengenalnya jika dia sedang dalam mode yang sopan.
"Ya, silahkan."
Sasuke masuk dan menghampiriku yang baru menutup pintu lemari, wajahnya terlihat lebih fresh dan aku bisa mencium aroma sabunnya dari sini. I like his smell. Dia memakai celana piama dan kaos putih. Dan seperti biasa, tatapanku langsung fokus ke lengan kirinya. Pola diatas lengan kirinya benar-benar memberikan candu bagi mataku. Sampai saat ini aku masih belum tahu sampai mana tribal itu terlukis di tubuhnya.
"Kau tidak mengunci pintu kamarnya?" Sasuke menatapku dengan alis mengkerut.
"Perlukah?" Aku bertanya balik padanya, dan dapat kulihat ujung bibirnya tertarik kesalah satu sisi. Dia menyeringai.
"Kau memberikan kesempatan padaku untuk menyerangmu, terlebih lagi sekarang rambutmu basah, dan tahukah kau bahwa membiarkan rambut terurai seperti itu membuatmu terlihat panas? " Aku memutar kedua bola mataku, sedangkan Dewi batinku menjerit senang mendengar kata 'menyerang'.
"Oya, aku tidak melihat Itachi disini, apakah dia sedang keluar?" Aku melangkah ketempat tidur dan duduk disalah satu sisinya.
"Dia di apartmentnya."
"Oh kalian tidak tinggal bersama?" oh, jadi kami benar-benar hanya berdua disini.
"Kami berdua sudah dewasa Sayang, dan membutuhkan privasi masing-masing." Sasuke menghampiriku dan mengambil duduk disebelahku, aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
Kami duduk dalam diam untuk beberapa saat, aku masih memikirkan kejadian di flat ku, siapa orang yang menyusup itu dan kenapa dia mengincarku?. Aku bergidik ngeri membayangkan bagaimana jika aku sedang berada didalam flat ketika penyusup itu masuk.
"Kau tidak apa-apa?"
Aku menolehkan kepalaku kearah Sasuke, tatapan matanya khawatir. Aku mengangguk.
"Hanya sedikit takut dan bertanya-tanya, apa tujuan si penyusup itu." Aku menghela nafas resah.
"Setelah investigasi kepolisian selesai, aku akan menyuruh orangku untuk mengawasi flatmu satu kali dua puluh empat jam."
"Mengawasi tempatku?" Aku membulatkan kedua mataku mendengar pernyataannya. Mengawasi? Kenapa terdengarnya seperti aku ini seorang saksi yang di lindungi dari kejaran para pembunuh sih?
"Ya, aku harus memastikan kau tetap aman selama aku tidak ada bersamamu. Mereka, orang-orangku adalah seorang yang profesional dibidangnya, dan dapat dipastikan kau aman dari penyusup sialan itu." Matanya masih marah ketika menyebutkan kata penyusup. Aku ternganga mendengar perkataannya. Sikap over protective nya semakin terlihat gila sekarang.
"Kau bercanda kan?" Aku menegakan tubuhku dan menatapnya tidak percaya.
"Kau pikir aku akan main-main dengan keselamatanmu?" Aku menatap wajahnya sejenak, Okay, dia benar-benar serius. Aku mulai jengah sekarang.
"Tidak, itu tidak perlu, dan aku tidak mau." Aku bersikeras.
"Kau harus mau." Wajahnya mengeras. Oh jadi priaku ingin mengajakku mengadu kepala batu? Baiklah mari kita lihat aku atau dia yang akan menang.
"Tidak akan." Aku menantangnya.
"Aku tidak menerima penolakan." Matanya semakin gelap karena marah. Aku menggeram kesal.
"Well, aku akan mengemasi kembali pakaianku dan bergabung dengan Ino di tempat Sai, atau jika perlu aku akan mencari penginapan." Ia membelalakan matanya melihat aku berbicara dengan nada marah dan cepat. Tanpa menunggu respon darinya aku berdiri dari tempat tidur dan akan mulai melangkah ketika tangannya meraihku.
Aku melihat kearahnya, yang kini tengah berdiri juga. Matanya melembut dari yang tadi dan sekarang tersirat rasa khawatir didalam sana
"Kau marah." Itu pernyataan, bukan pertanyaan.
"I am." Aku masih menatapnya dengan galak.
"Aku hanya ingin memastikan kau aman." Ia melembutkan nada suaranya.
"Tidak dengan cara seperti itu, aku tahu kau bahkan bisa mengerahkan satu pleton petugas untuk berjaga di setiap sudut gedung apartment ku, tapi demi Tuhan tidak harus sampai begitu. Aku akan merasa sangat terganggu dalam hal privasi, dan itu tidak membuatku nyaman." Aku mengeluarkan isi hatiku dan berakhir dengan erangan frustasi yang keluar dari tenggorokanku.
Sasuke menarikku kedalam pelukannya, dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leherku.
"Aku tidak dapat membayangkan jika penyusup itu masuk disaat kau ada di dalam." Suaranya begitu khawatir dan resah.
"Aku akan baik-baik saja. Aku janji akan meneleponmu jika ada hal yang mencurigakan di tempatku." Aku berusaha menenangkannya. Ia hanya mengela nafas dan menciumi rambutku, kemudian menarik kepalanya dari leherku.
"Aku tidak suka berdebat denganmu kau tahu." Ia menempelkan keningnya dikeningku.
"Begitu pula denganku." Aku mendesah lelah. Ia membimbingku kembali untuk duduk di sisi tempat tidur.
"May I kiss you?"
Aku tidak salah dengar kan? Dia meminta ijin lagi padaku?Aku mengerutkan alisku dan menatapnya heran.
"Kau meminta ijin?" Suara ku benar-benar terdengar takjub dan heran mengingat Ia selalu menciumku di setiap ada kesempatan tanpa permisi, dan seketika atmosfer diantara kami langsung mencair ke keadaan yang lebih baik dengan pertanyaan bodohku barusan.
"Yeah, I did." Ia terkekeh.
"Jika aku mengatakan tidak?" Aku mengangkat satu alisku, menantangnya. Dia menyeringai dan kobaran api langsung tercermin dalam matanya.
"Untuk hal yang ini aku tidak akan mengalah seperti tadi, jadi aku akan tetap mencium-mu."
Bibirnya telah menempel di bibirku ketika kalimatnya berakhir. Dia memajukan tubuhnya ke arahku, kedua telapak tangannya membingkai kepalaku, bibirnya mengecupi bibirku perlahan-lahan, kemudian dilumatnya dan dikecupi lagi. Tanganya mulai berpindah ke punggung dan pinggangku, meremasnya lembut. Aku mulai merasakan panas yang menjalar keseluruh wajahku. Aku menyukai remasannya. Tanganku bergerak dari pangkuanku menuju kebelakang kepalanya dan mengaitkan jemariku ditengkuknya. Aku mendengar suara geraman yang berasal dari kerongkongan priaku ini.
Dia melepas ciuman kami tanpa melepaskan tangannya dari tubuhku dan menatapku dengan mata yang menyala. Aku balas menatapnya sesaat dan kualihkan pandanganku ke lengan kirinya, kuturunkan jemariku dari tengkuknya dan beralih ke lengan kirinya, berlama-lama menyentuhkan jemariku di sana untuk mengikuti pola tribal yang menempel di kulitnya.
"Boleh aku lihat sampai mana tribal ini menghiasi kulitmu?" Aku berbisik dan menatapnya. Aku dapat melihat tenggorokan priaku bergerak untuk menengguk ludahnya dan menatapku tidak percaya. Aku pun tidak percaya aku telah bertanya seperti itu padanya.
"Please." Aku memohon padanya. Ia menutup matanya dan mengerang frustasi. Beberapa detik kemudian Ia melepas tangannya dari tubuhku dan berdiri menjauh dariku, Ia akan pergi.
Namun dugaanku salah, Ia menarik keluar kaos putihnya melalui kepala dan menjatuhkannya, rambutnya sedikit acak-acakan akibat dari melepas kaosnya tadi, dan Oh Tuhan...
Aku berdiri dari dudukku dan menghampirinya. Tubuhnya kekar dan berotot, tidak terlalu besar seperti Fedor Emalianenko, namun terlihat sangat kuat dan tegap, otot perutnya kencang, oh tuhan aku ingin mengecupnya di sana. Seketika perutku mengencang membayangkan hal tersebut. Tribal nya terlukis dari atas sikut lengan kiri, menjalar ke atas bahu, menutupi seluruh bagian kiri dada nya, perutnya dan menjalar terus hingga pinggul depannya, dan menghilang dibalik celana piyama yang Ia kenakan. Indah.
"Apa itu juga terlukis dibagian belakang tubuhmu?" Suaraku masih terdengar seperti bisikan dan parau. Aku mengalihkan pandanganku ke matanya yang juga sedang menatapku kosong. Dia tidak menjawab pertanyaanku, sebagai gantinya, dia membalikan tubuhnya dan benar prediksiku, tribal itu menutupi bahu nya, pola tribal dibagian atas punggungnya menjorok sedikit ke arah kanan, namun tidak untuk pola yang menuju kebawah. Pola tribal yang menuju kebawah seperti diatur untuk lurus mengikuti tulang punggungnya. Dan lagi tribal itu menghilang dibalik celana piyamanya. Sempurna.
Aku menjulurkan tanganku untuk meraba bagian belakang tubuhnya, dan ketika jemariku berhasil menyentuh kulitnya, tubuhnya menegang sesaat, namun ketika aku mulai merabakan jemariku, perlahan tubuhnya kembali relax. Aku menelusuri semua pola dengan jemariku mulai dari atas hingga bawah. Perlahan aku mendekatkan wajahku untuk mengecup salah satu pola yang terdapat di bagian atas punggung kirinya, dan aku kembali mendengar erangan frustasi yang lolos dari mulut manisnya.
"Kau benar-benar akan membunuhku." Suaranya menggeram tertahan namun tubuhnya masih tetap diam. Well seperti biasa aku merasa senang melihat betapa berpengaruhnya diriku terhadap dirinya. Aku menghentikan jelajahanku dibagian belakang tubuhnya dan melangkah kembali ke bagian depan tubuhnya, matanya menggelap ketika aku menatapnya.
Seperti dibelakang tadi, kusentuhkan jemariku di atas pola tribal nya, berlama-lama di sana dan beralih meraba perutnya yang berotot, menikmati texture ototnya yang mengencang dan kuyakin itu adalah responnya terhadap sentuhan dari jari-jemariku. Aku mendongkakan kepalaku dan melihat kobaran api yang semakin besar di dalam kedua matanya, Aku berjinjit dan melingkarkan tanganku di lehernya untuk mencium bibirnya sekilas.
"Mereka indah." Aku berbisik didepan mulutnya dan dapat kurasakan nafasnya yang memburu. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggangku sehingga membuat tubuhku menempel di tubuhnya, kali ini gilirannya yang membawa bibirku ke bibirnya. Satu tangannya berpindah ke tengkukku bersamaan dengan lidahnya yang memasuki mulutku, aku menyukai lidahnya yang terasa hangat didalam mulutku. Lidahnya mengecap isi mulutku dan mengajak lidahku menari, bukan tarian lemah lembut seperti dansa atau bahkan balet, melainkan seperti krump dance yang berirama cepat, agresif dan menuntut. Sesaat kemudian dia melepas bibirnya untuk memandangku, dan mengembalikan lagi bibirnya ke bibirku untuk mengecupinya beberapa saat sebelum melepaskannya.
Sasuke menyentuhkan keningnya ke keningku tanpa melepaskan lengannya dari tubuhku. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan aku dapat merasakan hasratnya yang menempel di perutku. Sensasi ini membuat perutku mengencang dan organ intimku berkedut nyeri. Oh tuhan, seluruh tubuhku terasa terbakar oleh hasratnya. Dewi batinku di dalam sana tersenyum lebar menampilkan barisan gigi putihnya karena senang, dan tubuhnya menyala di bakar gairah. Aku mencoba bergerak menggesekan tubuhku yang menempel di tubuhnya dan Ia mengerang. "Kau membuatku gila." Bisiknya. Ia mengecupi tepian wajahku hingga mencapai cuping telingaku.
"Aku menginginkanmu." Ia berbisik dan menggodaku melalui gigitan kecil yang Ia tinggalkan ditelingaku, Ia tahu disana adalah salah satu bagian sensitifku karena erangan yang lolos dari bibirku. Ia terus-menerus memanjakan telingaku dan aku memiringkan kepalaku menikmati sensasi menggelitik yang mengirimkan rasa nikmat ke seluruh bagian tubuhku.
"Baby, katakan kau juga menginginkanku."
.
.
.
.
.
.
.
-T.B.C-
Bulan ini akan sibuk sekali dikantor, biasalah menjelang akhir tahun banyak yg harus dikerjakan buat close book nanti :)
Haru akan usahakan untuk update PJ seminggu sekali (akan lebih sering di akhir pekan), tapi kalo PJ gak update2 itu tandanya Haru bnr2 gak punya waktu buat berimajinasi dan ngetik :( semoga para readers bisa maklum :)
Seperti biasa, untuk yang sudah meninggalkan reviews, para silent readers, dan yang memfollow maupun menjadikan Fict ini sebagai Fave, Haru ucapkan banyak terima kasih pada semuanya :)
Mind to review? ;)
Hope you enjoy Minna.
Warm Regards,
Scotty Fold a.k.a Shinichi Haruko.
