CH6 Up berbarengan dengan sedikit revisian di CH3 (tepatnya di scene ketika Sasu ngajak Saku dinner setelah Saku nyaris di perkosa), jika readers berkenan silahkan baca ulang CH3. Namun jika malas, abaikan saja karena memang editannya hanya sedikit XD

Hanya sebuah cerita romansa yang terinspirasi dari 50 Shades of Grey, Beautiful Disaster, Enraptured, The Hart Family Series, dan With me in Seattle Series.

.

.

.

Dalam fict ini saya menggunakan gaya bahasa novel terjemahan, dan jika ada di antara readers yang tidak dapat feel dalam membaca fict ini karena gaya bahasa saya, sebaiknya hentikan membaca fict saya daripada kalian kecewa, karena saya sama sekali tidak akan merubah gaya bahasa saya. thanks :)

.

.

.

Balasan reviews:

Qren – Obin – Dewaz – Guest : Ch6 up :) thx repiu nyaaa :D

Nadira cherry : Nah lhoo sapa yaa hahaha, nanti dulu soal penyusupnya, kita ngelemon dulu yaaa XD

Ivochan - Flavia: Wah niatnya memang gak ngaret, tp apa daya, dunia nyata lebih banyak nuntut waktu T_T

Bluestar : hahaha, ch6 ini lumayan lemonnya. Jadi klo ga suka, skip ajah yaah XD . PJ cm fokus di SasuSaku. Untuk tokoh lainnya mungkin akan di teruskan di lain cerita :)

Mumu – Ayamz – Silent reader – mysaki – Ryuuzaki26 – HawtSasuCuteSaku: Up niih ch6 with lemooon XD Panduk mana anduuuk

Corrielyx : Hahaha, iya suka bngt sama erotic novel XD

Blacktwin : Arigatooou

Miichanchan2 – Sheren – Chintyamalfoy – NKN0624 - Aiko – Guest – Rie megumi – Lynn – Namuchi – Ayamzzhiha – Iea – Mickeymiki – Chichak deth - Shanaara: Gomenne telaaat. Ch6 up guuuys, lengkap sm lemon XD

Haruchan : hahaha sejauh novel yang saya baca sih emang gitu yaa bahasanya XD jadi bagi yg ga kuat lemon mending skip ajah kali yaah XD

Liyana : Waduuuh, seminggu tiga kali ga sangguuup T_T, ini aja udh telat update hampir 2 bulan dan udh diprotes sana sini huhuhu.

Guest : Wah, arigatou sekali buat yg udah jadiin PJ bookmark hahahaha

Giechan: huhuhu gomenne baru buka FFn lagi T_T. Kalo bisa saya ngebelah dua deh kaya amoeba biar bisa fokus dunia nyata sama FFn hahahaha.

Cherrynyan: Hahaha, iya seharusnya jade ya XD tapi sepertinya belum akan dirubah, liat nanti dlu yaaa *misterious smile

Dan untuk yang log in , silahkan check PM yaaa ;)

.

.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : M

Warning:

OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (banyak), dan banyak cacat lainnya.

Tidak untuk anak dibawah umur (17 plus only)

Mengandung kata-kata kasar dan vulgar.

Tidak disarankan bagi readers penyuka/penikmat Canon dan bagi readers yang tidak menyukai Erotic Novel;)

Attention:

Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang benar-benar berasal dari imajinasi saya sendiri yang terinspirasi dari beberapa Erotic Novel (dimohon untuk tidak mengcopy fict ini dalam bentuk apapun). Saya mohon maaf bila kebetulan ada kemiripan dalam cerita ini dengan cerita yang lain.

Selamat membaca…

.

.

.

.

.

.

.

Tubuhku memberikan respon yang luar biasa terhadap segala macam sentuhan-sentuhan mulut indahnya yang sedari tadi bermain disekitar wajah dan daun telingaku. Reaksi dari tubuhku mengirimkan getaran menuju pita suaraku sehingga beberapa kali mulutku meloloskan erangan berkali-kali. Oh Tuhan, itu baru bibirnya dan aku seakan tidak mengenali eranganku sendiri.

Aku kembali mengerang ketika lidahnya mengajak lidahku menari, seperti sebuah tarian sensual nan panas yang di iringi oleh lagu erotis yang memikat. Sebelah tangannya yang berada dipinggangku menarikku untuk menempel di dada telanjangnya.

Dia menarik diri sesaat untuk menatapku, mata hitamnya memancarkan gairah seperti api yang berkobar di tengah kegelapan malam. Dan api itu menyambarku dengan cepat sehingga kupu-kupu dalam perutku semakin lincah menari-nari mengirimkan gelenyar panas keseluruh sel-sel dalam tubuhku ketika sekali lagi Sasuke menciumku dengan lebih bergairah, dan saat aku menghisap lidahnya dalam mulutku, tangannya meremas pinggulku kuat beriringan dengan lolosnya erangan liar dari dalam tenggorokannya. Ya Tuhan, aku tidak sanggup lagi berdiri. Kakiku bertransformasi menjadi jelly!

Aku menguatkan kaitan tanganku di leher kekarnya, mencoba untuk tidak jatuh dari posisiku. Dan seperti mengetahui bahwa kekuatan kakiku hanya tersisa sekitar beberapa persen lagi, Sasuke mengangkat tubuhku tanpa melepaskan bibirnya dari bibirku dan merebahkanku dengan lembut di atas tempat tidur dengan tubuhnya yang menindih tubuhku. Tangannya sibuk membuka kancing-kancing piamaku dan berusaha menanggalkannya dari tubuhku dengan mulutnya yang masih sibuk mengecapi mulut hingga tulang selangkaku. Aku membantu semampuku dengan mengangkat tubuhku dari tempat tidur untuk membantunya dalam melepas piamaku, dan ketika pada akhirnya hanya tersisa bra berenda berwarna hijau pucat yang melindungi kedua dadaku Sasuke menghentikan cumbuannya dan memandang kearah ke dua payudaraku.

Sial, seharusnya tadi aku mengenakan bra hitamku, hijau tosca bukan warna yang bagus untuk moment seperti ini. Aku jengah dengan pikiranku sendiri. Namun belum selesai aku berpikir Sasuke telah menggerakan jemarinya untuk melepas pengait yang ada diantara payudaraku Tatapan matanya semakin liar, ketika kedua payudaraku telah terlepas dari pelindungnya. Matanya semakin liar! Oh Tuhan, okay lupakan soal hijau tosca itu.

"Indah." Sasuke berbisik di atas salah satu puncak payudaraku, napasnya yang hangat menyapa permukaan payudaraku dan itu membuat putingku mengeras nyaris terasa nyeri.

"Oh Tuhan, Sasuke... " Aku mendesah dan melengkungkan punggung ketika salah satu putingku telah berada di dalam mulut seksi sialannya. Aku meremas tengkuknya dan menariknya lebih dekat untuk menghisapku lebih, lidahnya bergerak-gerak membentuk pola melingkar di sekitar putingku sedangkan sebelah tangannya meremas dan memilin putingku yang lain.

Mulutnya kembali pada mulutku, mencumbuku seperti tadi. Tangannya menelusuri tubuhku, membelaiku mulai dari pipi, tulang selangka, payudara, berlama-lama dibagian perutku hingga akhirnya aku sedikit terkejut dan perutku mengejang seketika saat tangannya menyelusup ke dalam celana piayamaku dan memasuki celana dalamku yang ku tahu sudah mulai basah sejak pertama kali dia mencumbuku. Aku mengerang ketika mulutnya terlepas dari mulutku dan jarinya menemukan organ seksku..

"Oh Tuhan Baby, kau begitu basah dan panas di bawah sini. Dan kuyakin kau akan sangat siap beberapa saat lagi. " Sasuke menggeram dalam kalimatnya. Itu terdengar liar dan aku menyukainya.

Wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahku membuatku merasakan nafas hangat beraroma mint yang memabukkanku. Aku mendongkakan kepalaku kebelakang ketika Ia menyelipkan jarinya di organ seksku, menggeseknya perlahan, memainkan clitku dan membuatku mengeluarkan cairan lebih dan lebih yang semakin menambah sensasi tersendiri di organ seksku. Mulutnya kembali mencumbuku keras ketika permainan jemarinya semakin cepat dibawah sana, hingga akhirnya aku mengerang liar didalam mulutnya. Orgasme pertamaku dengan seseorang.

Ketika Sasuke melepaskan cumbuannya, mataku terasa berkabut oleh sensasi yang baru saja aku rasakan beberapa detik yang lalu. Sensasi yang selama ini hanya aku peroleh dari permainan yang kuciptakan sendiri dengan perpaduan imajinasi liarku. Tapi sungguh demi apapun kenikmatan yang aku peroleh beberapa saat yang lalu amat sangat jauh berbeda dari kenikmatan yang pernah kuciptakan sendiri. Sasuke menatapku lembut dan tersenyum.

"Aku butuh merasakanmu sekarang." Sasuke menjilati jarinya yang nampak berkilau basah oleh cairanku, dia terlihat sangat nakal sekaligus menggairahkan secara bersamaan.

Sasuke melumat bibirku sesaat sehingga aku dapat merasakan cairanku sendiri dari dalam mulutnya. Aku memperhatikannya dalam diam ketika Ia menurunkan cumbuannya kearah bawah tubuhku seperti yang tadi di lakukan oleh jari-jemari ajaibnya. Setelah berada di wilayah tujuannya, tangannya bekerja untuk melepas celana piayama dan celana dalamku, Ia menyeringai nakal ketika melemparkan celana dalamku ke belakang melewati bahu kekarnya. Sial! Bahkan seringai sialannya nya saat ini justru malah membuatku semakin merasa panas!

"Baby, kau benar-benar sempurna." Sasuke melebarkan kedua kakiku dan memposisikan kepalanya di antara selangkanganku. Ibu jarinya menyibak organ seksku, menahannya untuk tetap lebar hingga lidahnya menempati celah terbukaku. Aku mendongkakan kepalaku saat lidah panasnya bersentuhan dengan organ seksku.

"Oh Tuhan, oh Tuhan, ya ya disitu..." Pinggulku bergerak liar. Dari sini aku dapat melihat betapa indah dan panasnya posisi kami saat ini. Ini sungguh luar biasa.

"Kumohon jangan berhenti. Aku.. Oh Tuhan.." Aku memejamkan mataku menikmati sensasi panas ini. Dan itu semua semakin bertambah panas ketika aku membuka kedua mataku dan menatap pemandangan dimana Sasuke tengah memakanku. Sasuke menatapku dari bawah sana, matanya liar dan penuh gairah.

"Ya, keluar untukku baby. " Beriringan dengan kalimat terakhirnya Sasuke semakin mempercepat gerakan di bawah sana, Ia kembali menggiringku menuju tepian kenikmatan seperti taadi. Kenikmatan yang dapat membuat sel-sel tubuhku bergelenyar. Aku melengkungkan punggungku saat kenikmatan itu menerpaku.

"Oh Tuhan..."Aku masih mencoba mengatur nafasku saat kurasakan Sasuke bergerak keatas tubuhku. Ia kembali menyatukan mulutnya dengan mulutku.

"Aku butuh berada dalam dirimu sekarang." Sasuke berbicara di sela-sela cumbuannya. Suaranya terdengar berat menahan gairah.

"Aku menginginkanmu..." Satu kalimat yang aku tahu merupakan hal yang sedari tadi dinantikan oleh priaku dan akan membawa kami pada ikatan yang lebih intens dan emosional. Sasuke menghentikan ciumannya, dan tubuhnya sedikit menegang.

Sasuke beranjak dari atas tubuhku dan meraih tubuh telanjangku kedalam gendongannya. Aku memberikannya tatapan heran, aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya.

"Kukira kita akan..."

"Ya, kita akan dan itu tidak diragukan lagi, kita pasti akan bercinta beberapa saat lagi, namun kita memerlukan kondomku nona, dan itu ada di kamarku." Ada nada geli dalam ucapannya, namun itu tidak dapat menghilangkan kobaran api gairah di kedua matanya.

Tubuhku seakan tidak memiliki bobot bagi Sasuke, Ia dapat dengan mudah membawaku melangkah menuju tangga, dan aku merasa canggung saat ini, bagaimana tidak, aku yang dalam kondisi telanjang seperti ini tengah berada di dalam gendongan seorang pria yang beberapa saat ke depan akan menjadikanku seorang wanita. Oh Tuhan membayangkannya saja sudah membuatku tegang. Aku bergerak sedikit dalam gendongan Sasuke untuk menyamankan posisiku yang tegang.

"Aku ingin kali pertama memasukimu adalah di kamarku, bukan di kamar tamu. Dan berhentilah membuat gerakan seperti itu karena reaksi tubuhmu dapat menghancurkan pertahananku yang akan membuatku tidak sanggup melangkah lagi menuju kamar yang itu berarti kita akan bercinta di anak tangga ini." Aku berhenti bergerak dan kembali kurasakan panas di kedua piiku saat mendengar kalimat-kalimat vulgar dari bibir sialannya.

Kamar Sasuke di dominasi oleh warna biru tua, sedangkan untuk interior di dalam kamarnya di dominasi oleh warna putih. Tempat tidur king size terletak di dekat jendela yang menyuguhkan pemandangan kota Konoha di malam hari. Sasuke merebahkanku di atas bedcover berwarna biru tua namun Ia tidak langsung bergabung denganku.

Aku menopang tubuhku dengan kedua siku untuk menatap Sasuke yang tengah melepas celana tidurnya, dan aku terkesiap saat Ia benar-benar telanjang di hadapanku. Ini memang bukan kali pertamaku melihat seorang pria tanpa sehelai busana pun, aku telah melihat mereka dalam beberapa video dewasa, namun kali ini adalah nyata dan itu Sasuke! Kekasihku, priaku! Dan tatapanku beralih ke kejantanannya, Oh my... Aku sedikit bergidik ngeri membayangkan bahwa itu akan memasuki, sedangkan dewi batinku di dalam sana sedang melompat-lompat girang atas pemandangan yang ada di hadapanku ini.

"Kau menyukainya hm? " Sasuke menyeringai padaku. Sial aku tertangkap basah.

"Ehm, tidak, aku... Hanya sedikit gugup apakah itu akan muat... " Okay, itu kalimat terbodoh yang pernah meluncur dari mulut sialanku. Sial.

Sasuke menyeringai dan bergerak untuk mengambil posisi di atasku. Salah satu kakinya di tempatkan diantara pahaku, menjaganya untuk tetap terpisah, dan itu membuatku kembali basah.

Ia mencium bibirku keras Sebelum mengalihkan mulutnya menuju telingaku. "Percayalah, milikmu akan meregang untukku." Sasuke berbisik di telingaku seraya mencumbui cuping telingaku. Tangannya kembali bergerak mengelus, meremas dan memainkan ke dua payudaraku dengan nikmat. Erangan-erangan kembali lolos dari bibirku. Mulutnya kembali pada mulutku saat salah satu tangannya bergerak kebagian bawah tubuhku dan menemukan clitku yang telah membengkak dan licin karena cairanku sendiri

"Oh Tuhan, aku benar-benar menginginkanmu." Suaranya terdengar serak saat Ia berbicara di tengah tengah cumbuannya, sedangkan jarinya masih bekerja di bawah sana, memijat menggesek dan melebarkan cairanku di atas permukaan organ seksku.

"Begitu pula denganku." Aku menyahutinya dengan antusias. Kali ini aku tidak ragu terhadap keinginanku. Aku tahu pasti bahwa aku juga menginginkan ini. Aku menginginkannya berada di dalam diriku. Sekarang. Dan dewi batinku pun melakukan salto tujuh kali di dalam sana.

"Sasuke, please, aku membutuhkan dirimu." Aku berusaha berbicara dalam kondisiku yang tengah di terjang badai yang bernama gairah.

"Katakan baby, katakan apa yang kau butuhkan." Sasuke berbisik di telingaku seraya menggigit-gigit kecil daun telingaku.

"Aku membutuhkan dirimu." Nafasku mulai tersengal-sengal. "Di dalam diriku, Please."

Aku mengerang nikmat saat salah satu jari memasukiku, Ia menggerakannya perlahan, memaju mundurkan jarinya di dalamku, di ikuti oleh pinggulku yang juga bergerak maju mundur kearah jarinya. "Sebentar lagi kau akan siap untukku baby."

Sasuke kembali menambahkan satu jarinya kedalamku dan menambahkan tempo di dalam gerakannya. Ia terus melakukannya hingga aku mulai merasakan denyutan nyeri di keseluruhan organ seksku, aku menegang sesaat sebelum melemparkan kepalaku kebelakang, melepaskan orgasme ku yang ke sekian kalinya. Sasuke menarik kedua jarinya dari dalam diriku, dan membuatku sedikit melenguh.

"Kau memang terasa nikmat." Sasuke menjilati lagi jari-jarinya seperti tadi sebelum memposisikan kejantanannya di depan pusatku. Oh aku merasakan clitku berdenyut dan semakin membengkak saat Ia menggesek-gesekan kepala kejantanannya di sekitar organ seksku.

"Please." Aku kembali menggerakan pinggulku.

Sasuke meraih laci teratas di samping tempat tidurnya untuk mengambil bungkusan foil. Ia merobek ujung foil menggunakan giginya dan menggulungkan isinya di batang kejantannya yang telah mengeras sempurna. Ia menempatkan ujung kejantanannya yang telah terungkus kondom di depan liang kewanitaanku. Ia menumpukan kedua tangannya di lututku saat mencoba mendorong kejantanannya menuju kedalamku. Aku memejamkan mataku dan meringis, seketika itu juga gerakan Sasuke terhenti.

"Oh Tuhan Saki, kau... Sial, kau masih perawan!" Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Sasuke menundukan kepalanya dan menempelkan keningnya di keningku. "Mengapa kau tidak mengatakannya?" Jemarinya mengusap ke dua pipiku.

"Apakah itu penting? Apa kau akan menghentikan ini semua hanya karena aku masih gadis perawan?" Okay aku mulai jengkel sekarang, apa masalahnya jika aku masih perawan di umur 20 tahunku? Sial.

Sasuke menatapku terkejut, dan sejurus kemudian Ia terkekeh geli.

"Tentu tidak, hanya saja bukankah biasanya seorang gadis ingin kali pertamanya itu romantis? Dengan bunga atau segelas wine."

"Omong kosong." Aku menarik leher Sasuke dan melumat bibirnya keras. Ia sedikit terkejut namun kemudian menggeram sebelum melepaskan lumatanku.

"Hentikan baby, aku tidak suka di dominasi." Matanya kembali menyala.

"Well, silahkan mendominasiku kalau begitu." Aku mengerlingkan mataku nakal. Ia menggeram dan kembali mengklaim mulutku menggunakan bibirnya. Jarinya kembali meluncur kearah bawah dan tanpa aba-aba kembali memasukan kedua jarinya di dalamku. Jarinya terus bergerak menggiringku menuju kenikmatan yang aku inginkan, namun belum sempat aku menggapainya, Ia menghentikan dan mencabut jarinya dari liangku.

"Kali ini aku ingin melihatmu orgasme bukan karena jari-jariku." Sasuke menjilati kembali jarinya dan memposisikan ujung kemaluannya di pintu liangku. Ketika ujungnya telah berada dipusatku, Ia kembali membawa mulutnya kemulutku, menciumku dengan penuh gairah sementara di bawah sana kejantanannya mencoba mendorong masuk sedikit demi sedikit, dan mengeluarkannya kembali beberapa inci sebelum akhirnya mendorong kembali seluruh batangnya kedalam diriku dan aku menjerit di dalam mulutnya ketika kurasakan panas membakar organ seksku. Oh tuhan ini sakit sekaligus nikmat.

Sasuke menghentikan gerakannya ketika seluruh kejantanannya mengisi diriku. Ia mengecupi bibirku, saat aku menyesuaikan keberadaan dirinya didalam diriku.

"Are you okay?" Sasuke menatapku lembut.

"Ya." Aku sedikit meringis. "Ini terasa hebat." Aku menambahkan.

Sasuke menyeringai dan kembali melumat bibirku sementara di bawah sana, Ia mulai menggerakan pinggulnya perlahan. Aku kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang aku rasakan saat ini, aku menyukai sensasi di mana kejantanannya menghujam kedalamku.

"Sial, aku harap aku bisa memasukimu tanpa benda sialan ini." Sasuke menggerutu ditengah-tengah aktifitasnya, dan aku mencoba menghitung sesuatu di dalam kepalaku.

"Lepas saja."Aku menggumam di tengah desahanku dan Sasuke menghentikan hujamannya untuk menatapku heran.

"Ini bukan masa suburku. Kurasa kita aman." Aku tersenyum lembut padanya, Ia menyeringai dan segera setelahnya Ia mencabut miliknya dari dalamku untuk melepas kondom sialan itu dari kejantanannya.

Aku mengerang hebat saat Sasuke kembali menghujamkan kejantanannya dengan cepat, bahkan kali ini tidak ada lagi gerakan lembut seperti tadi. Aku dapat merasakannya secara langsung di dalam sana, tanpa benda sialan itu, kulit dengan kulit, bahkan aku merasa kejantanannya lebih keras dibanding sebelumnya, dan ini luar biasa! Aku membungkuskan kakiku di sekelilingnya, menariknya lebih dekat untuk memasukiku lebih dalam. Oh Lord, I'm about to explode! Pinggulku bergerak tak terkendali, erangan dan desahan dengan keras lolos melalui bibirku. Napasku mulai tidak beraturan saat kurasakan arus listrik menyengat organ seksku.

Sasuke kembali menanamkan bibirnya di bibirku. "Come with me baby." Mulutnya berbisik hanya beberapa centi dari bibirku.

"Oh Tuhan, Sasuke!" Dan detik berikutnya aku menjerit merasakan nikmat yang menghantam diriku disusul dengan geraman Sasuke di leherku saat kejantanannya semakin jauh menghantam bibir rahimku yang seketika menghangat oleh cairan priaku di dalam sana.

"Kau terasa luar biasa." Sasuke kembali menatapku dan tersenyum lembut seraya membelai pipiku.

"Begitu pula dengan kau." Aku memajukan wajahku untuk mengecup bibirnya singkat.

Sasuke menarik miliknya keluar dan membuatku sedikit meringis.

"Kau tidak apa-apa?" Sasuke menempatkan dirinya di sisiku dan menarikku kedalam rangkualannya.

Aku menggeleng. "Aku menikmatinya." Kugerakan leherku untuk menyamankan posisi kepalaku di bahunya dan Ia terkekeh.

"Tidurlah." Sasuke membelai rambutku dan sentuhannya itu mengirimku menuju dimensi mimpi.

.

.

.

.

.

.

.

Aku terbangun karena gerakan kecil yang di hasilkan oleh sebuah lengan yang melingkari perutku. Kurasakan kehangatan yang berasal dari sosok yang ada di balik punggung telanjangku. Aku menggerakan badanku perlahan, untuk menghadap pria yang ada di belakangku.

Wajahnya terlihat damai dalam kondisi tidur seperti ini, bahkan kearogansian dan sisi liar yang sering kali muncul menghiasi wajahnya kini menghilang, namun sama sekali tidak menghilangkan ketampanan yang telah menjadi garis takdir priaku ini. Takdir ketampanan sang Adonis. Aku mengulurkan jemariku untuk menggapai wajah Sasuke. Kutelusuri wajahnya mulai dari bagian mata. Kelopak matan menyembunyikan manik kelam yang biasanya menatapku dengan berbagai macam ekspresi, baik itu rasa jengkel, marah, geli, bergairah hingga beberapa ekspresi yang hingga saat ini tidak dapat ku baca.

Kuturunkan jemariku menyentuh hidung mancungnya, salah satu anggota wajah Sasuke yang semakin menonjolkan pesona sang Adonis. Hingga akhirnya senyum mengembang di bibirku dan rasa panas menyergap ke dua pipiku saat aku akan menyentuh bibirnya, bibir yang telah memabukanku hampir satu malaman. Bibir yang berulang kali memanggil namaku saat percintaan kami yang panas dan luar biasa semalam.

"Terus merona seperti itu dan kupastikan kau akan menjeritkan namaku lagi seperti semalam baby."

Dapat kurasakan batang kejantanan Sasuke yang mengeras sempurna di balik selimut kami ketika ia membawaku untuk menempel pada tubuhnya. Terdengar suara erangan kecil dari tenggorokannya ketika Ia membuka kelopak matanya dan menampilkan mata kelamnya yang telah dirasuki oleh gairah. Ia menjulurkan tangannya untuk menangkup payudaraku.

"Good morning." Sapaku.

"Morning baby."

"Mereka sempurna dalam genggamanku." Tangannya meremas salah satu payudaraku dan aku hanya bisa mengerang menikmatinya.

"Kau ingin sarapan apa pagi ini?" Aku berusaha menormalkan suaraku.

"Kau." Sasuke menyelipkan sebelah kakinya di antara pahaku dan mengarahkan salah satu tangannya kebawah. Sasuke menyelipkan salah satu jarinya ke dalamku, hanya sebentar karena Ia mengeluarkan kembali jarinya saat aku berjengit karena merasakan nyeri yang sedikit menyengat di dalam sana.

"Sial, sorry baby aku memang brengsek." Sasuke meraih wajahku dan mengecupinya.

Aku memberikan senyum meringisku padanya "Well aku emmang pernah dengar bahwa morning sex itu terasa luar biasa, tapi yang tadi itu memang terasa nyeri. Bisakah kau menunda hormon sialanmu itu hingga aku merasa lebih baik?"

"Hormon sialanku huh?" Sasuke terkekeh mendengar kalimatku. Aku menganggukan kepalaku tanda setuju, dan kali ini Ia yang meringis.

Sasuke merubah posisinya menjadi telentang dengan lengan yang menutupi kedua matanya. "Mandilah, sebelum aku menyerangmu."

Aku tahu Ia pasti sedang menahan hasratnya di bawah sana. Tanpa ragu aku merubah posisiku menjadi duduk dan menyingkap selimut yang menutupi kami berdua.

"Sial baby, what the hell are you doing?" Sasuke membuka matanya horrort saat aku meraih kejantanannya dalam genggamanku.

"Menenangkanmu." Aku menyeringai padanya seraya memaju mundurkan genggamanku pada batang kejantannya, dan dapat kudengar Ia mengerang. Ini kali pertama aku menggenggam kejantanan seorang pria dan ini terasa luar biasa. Aku menyukai texturenya, kencang, tegak, dan benar-benar sempurna.

Aku membelai ujung kejantanannya yang telah mengeluarkan cairan precum. Sasuke memejamkan matanya dan kutahu Ia menikmatinya. Kudekatkan wajahku kearah sang jantan dan menjilat ujungnya.

"Sial baby, kau tidak harus melakukan itu!" Sasuke mencoba bangkit dari tidurnya namun kemudian Ia kembali menjatuhkan kepalanya kebelakang dan menggeram saat aku memasukan batangnya kedalam mulutku. Tangannya terjulur meremas kecil rambutku. Aku sangat menyukai kegiatan ini, aku menyukainya dimana priaku menikmati sentuhanku. Aku terus memaju mundurkan kejantanannya di dalam mulutku dengan jemariku yang terus memijat bagian batang dan bolanya.

Sasuke mengeluarkan geraman liar di dalam tenggorokannya dan dapat kurasakan kejantanannya berdenyut.

"Sial, jauhkan mulutmu dariku baby." Sasuke mengerang nyeri dan menatapku. Aku menggelengkan kepala tanda tidak setuju dan terus menghisapnya hingga sekali lagi terdengar geraman liar saat Ia memuntahkan cairannya di dalam mulutku. Aku sedikit terkejut saat cairan asing hangat memenuhi mulutku, namun aku menikmatinya. Aku membawa semua cairannya kedalam mulutku sebelum aku melepas kejantanannya dengan bunyi pop.

Aku menyeringai saat Sasuke memberikanku tatapan tidak percayanya. Ia menjulurkan lengannya untuk membawaku kedalam dekapannya.

"Apa tadi itu membantu?" Aku menempatkan kepalaku di perpotongan lehernya.

"Fuck, yes. Dan oh Tuhan, bagaimana seorang gadis perawan dapat melakukan hal seperti itu?"

Aku memukul dadanya kecil atas ucapannya barusan " Aku sudah bukan seorang perawan lagi sejak semalam Tuan."

Sasuke terkekeh geli mendengar gerutuanku dan mengetatkan lengannya yang melingkupiku dan menyamakan posisi wajahnya dengan wajahku untuk mengecup bibirku.

"Aku mencintaimu." Dan Ia melumat bibirku dalam.

Oh Tuhan, itu kalimat yang telah lama aku nantikan! Bukan hanya sekedar
"kau adalah kencanku" , "aku tertarik padamu", atau "kau kekasihku.". Dia mencintaiku! Dengarkan itu dunia!

Dewi batinku kembali bersalto riang di dalam sana, sedangkan hatiku kini menghangat karena ucapan Sasuke barusan. Bunga-bunga, kupu-kupu, matahari dan juga pelangi menghiasi hatiku saat ini. Hatiku benar-benar sedang di lingkupi musim semi!

"I love you too." Aku berbisik di depan bibirnya saat ciuman diantara kami telah berakhir.

.

.

.

.

.

.

.

"Pagi Sakura."

Gaara menyapaku saat kami berdua berdiri di depan lift. Beberapa wanita yang juga sedang menunggu lift menatap kearah Gaara yang pada hari ini berbalut kemeja berwarna abu-abu muda yang pas di badannya dengan tatapan lapar.

"Pagi Gaara." Aku tersenyum padanya dan dapat kurasakan atmosfer di sekitarku mendingin karena tatapan menusuk para wanita ini kepadaku. Hentikan itu nona-nona, kalian membuatku risih dan merasa bersalah sekaligus. Aku harap aku tidak menjadi korban bully hanya karena mendapat sapaan dari seorang The Most Wanted Man di kantor ini.

"Aku tidak melihat mobilmu di pelataran parkir." Gaara kembali membuka pembicaraan ketika kami telah berada di dalam lift.

"Um, ya mobilku masuk bengkel." Aku tersenyum kikuk atas jawabanku barusan. Si penyusup sialan telah membuatku harus mengatakan iya saat Sasuke memaksa untuk mengantarku selama seminggu ini. Aku harus memastikan kau aman. Itu katanya. Oh aku harus mengucapkan terimakasih pada kekerasan kepalaku karena waktu yang tadinya diminta Sasuke satu bulan bisa berkurang jadi satu minggu.

"Apa mobilmu mengalami kecelakaan?" Gaara menatapku, entahlah tapi kurasa dia menatapku khawatir.

"Tidak tidak, hanya mesinnya sedikit bersuara aneh." Aku memberikan cengiran yang pasti terlihat konyol di wajahku, sedangkan Gaara hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengerti.

Kami melangkahkan kaki keluar lift saat kudengar suara Neji menyapa dan melangkahkan kakai kami berdua dari arah depan meja receptionist

"Hey, aku baru saja dari ruangan Kakashi, kita satu team uh untuk liputan Pak Menteri ?"

"Begitulah." Gaara mengiyakan dan aku mengangguk menyetujui ucapannya.

"Kapan kita akan membicarakan pekerjaan ini? Aku masih ada pekerjaan hingga minggu besok, bisakah aku menyusul saja untuk membicarakannya setelah minggu depan?"

"Take it easy Neji, kita mulai setelah pekerjaanmu selesai saja, lagipula Gaara juga masih mempunyai beberapa tulisan yang harus di edit, dan aku juga masih harus mengecheck ulang tulisanku mengenai perubahan sistem pendidikan di Konoha."

Gaara mengangguki ucapanku, dan Neji ikut mengangguk tanda mengerti dan menatap arlojinya sesaat.

"Oh sial, aku telat, Tenten pasti sudah tiba di lokasi."

Neji segera berlalu menuju meja receptionist untuk mengambil jaket, kamera dan ID Card nya.

"Aku pergi duluan, bye." Neji segera berlari kecil menuju lift."

"Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati." Terdengar suara Ayame dari balik meja receptionist. Aku memandang kearah Ayame dengan tatapan maksudnya?

"Neji. Dia tertarik pada Tenten. Kemarin aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Neji dengan Kakashi, Neji meminta di pasangkan dengan Tenten untuk liputan kasus pengedaran narkoba yang akhir-akhir ini marak di televisi karena dengar-dengar ada seorang petinggi yang terlibat di dalamnya."

Morning gossip. Aku hanya membulatkan bibirku membentuk huruf O. Kasus kriminal ya... Aku ingin sekali ikut terlibat dalam peliputan berita semacam itu. Ku harap aku akan mendapat kesempatan itu dalam waktu dekat ini.

Gaara membuyarkan lamunanku saat Ia mengajakku untuk berlalu menuju ruangan kami masing-masing.

.

.

.

.

.

.

.

Aku melangkahkan kaki memasuki kondo Sasuke. Sepertinya aku mencium aroma masakan di sini. Sasuke memasak? Kulangkahkan kaki ku menuju pantry.

"Selamat sore Nona."

Seorang wanita yang kuperkirakan berumur 50 tahunan, atau mungkin lebih, menyapaku dengan senyuman hangat yang menghiasi wajah ramahnya.

"Selamat sore." Aku balas tersenyum pada wanita yang telah berumur ini.

"Aku Chiyo, pengurus rumah tangga di sini. Kau pasti nona Sakura kan? Tadi Tuan Sasuke meneleponku untuk menyiapkan makan malam lebih awal karena katanya Nona akan pulang duluan di banding Tuan Sasuke."

Aku menghampiri Chiyo setelah meletakan tasku di salah satu kursi yang terdapat di depan mini bar. Chiyo sedang mengiris buncis, dan di sekitarnya ada wortel, brokoli, serta jagung kalengan di sisi mangkuk-mangkuk kecil yang berisi hasil potongan sayuran. Dan di sisi sebelahnya lagi tergeletak kemasan yang berisi daging merah segar. Aku mencuci tanganku dan berniat untuk ikut terlibat dalam acara masak-memasak ini. Melihat segala macam bahan yang terletak di meja, ku yakin menu malam ini adalah steak.

"Apa yang kau lakukan Nona? Jika Tuan Sasuke tahu, aku akan kena marah." Chiyo terlihat panik ketika aku mulai bergerak untuk ikut menyiapkan bahan makan malam.

"Tenang saja, jika dia memarahimu, maka aku yang akan memberinya pelajaran." Aku mengedipkan sebelah mataku dan Chiyo kembali tersenyum lembut.

"Siapa yang akan kau beri pelajaran itu Nona?" Kurasakan sebuah lengan yang melingkari pinggangku. Chiyo menatap ke arah Sasuke dan tersenyum ramah.

"Hey, jaga sikapmu Tuan." Aku melepaskan pisau dari tanganku untuk mencubit lengannya yang masih melingkari perutku, dan Ia terkekeh.

"Dan, apa yang kau lakukan di sini Nona? " Sasuke mengangkat sebelah alisnya padaku.

"Well, seperti yang kau lihat, aku sedang memasak Tuan, dan beberapa menit yang lalu, wanita di sampingku ini sempat khawatir kau akan memarahinya karena membiarkanku memasuki dapurmu. Apa yang telah kau katakan padanya sehingga membuatnya khawatir seperti itu hm?" Aku menyidekapkan kedua lenganku di bawah dada dan memberikannya tatapan galak.

Sasuke kembali terkekeh "Aku tidak mengatakan apapun, aku hanya mengatakan mungkin kau akan lelah ketika pulang bekerja sore ini, dan aku meminta Chiyo menyiapkan makan malam agar begitu kau tiba di sini kau bisa langsung makan dan beristirahat. Bukan begitu Chiyo?"

Chiyo tersenyum dan mengangguk mengiyakan ucapan Tuan mudanya, dan aku hanya memutar kedua bola mataku jengkel.

"Berhentilah mengkhawatirkanku Tuan, aku sudah terbiasa memasak sendiri, bahkan memasak untuk Ino dan Dei. Jadi sekarang pergilah ke kamarmu untuk mandi dan ketika kau selesai, makan malam telah siap." Aku mendorong Sasuke menjauhi pantry.

"Baiklah baiklah, aku menyerah." Sasuke terkekeh dan mengangkat kedua tanganya keatas sedangkan aku kembali kepada Chiyo ketika Sasuke telah menghilang di anak tangga.

"Dia sangat mencintaimu Nona. Aku dapat melihatnya dari tatapan mata Tuan Sasuke saat memandangmu." Chiyo yang tengah membakar daging membuka suaranya kemudian tersenyum, dan ucapan Chiyo barusan membuat pipiku memanas. Dia mencintaiku. Sekali lagi rasanya aku ingin berteriak mendeklarasikan bahwa Sasuke, Sang Adonis sekaligus priaku yang keras kepala itu mencintaiku. Mencintaiku!

.

.

.

.

.

.

.

-T.B.C-

Huwaaa akhirnya CH6 Uuuuup! XD

Setelah hampir 2 bulan gak buka FFn T_T. Sempet worried PJ bakal ditinggalin para readers, eh pas buka FFn lagi, omaigot! Bnyak inbox, n reviews! Yg ngefave n follow jg nambah *terharu

Gomen ne minna, update'an kedepannya bakal unpredictable karena kesibukan di dunia nyata yang bertambah T_T.

Baiklah, seperti biasa, untuk yang sudah meninggalkan reviews, para silent readers, dan yang memfollow maupun menjadikan Fict ini sebagai Fave, Saya ucapkan banyak terima kasih pada semuanya :)

Mind to review? ;)

Hope you enjoy Minna.

Warm Regards,

Scotty Fold a.k.a Shinichi Haruko.