CHAPTER 7

Hanya sebuah cerita romansa yang terinspirasi dari 50 Shades of Grey, Beautiful Disaster, Enraptured, The Hart Family Series, dan With me in Seattle Series.

.

.

.

Dalam fict ini saya menggunakan gaya bahasa novel terjemahan, dan jika ada di antara readers yang tidak dapat feel dalam membaca fict ini karena gaya bahasa saya, sebaiknya hentikan membaca fict saya daripada kalian kecewa, karena saya sama sekali tidak akan merubah gaya bahasa saya. thanks :)

.

.

.

.

.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : M

Warning:

OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (banyaaak), dan banyak cacat lainnya.

Tidak untuk anak dibawah umur.

Mengandung kata-kata kasar dan vulgar.

Tidak disarankan bagi readers penyuka/penikmat Canon dan bagi readers yang tidak menyukai Erotic Novels seperti yang sy sebutkan diatas ;)

Attention:

Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang benar-benar berasal dari imajinasi sy sendiri yang terinspirasi dari beberapa Erotic Novels (dimohon untuk tidak mengcopy fict ini dalam bentuk apapun). sy mohon maaf bila kebetulan ada kemiripan dalam fict ini dengan fict yang lain.

Selamat membaca…

.

.

.

.

.

.

.

"Baju lagi? Atau sepasang boots lagi?"

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk sementara headset terpasang dikedua telingaku.

"Both, tapi yang lebih penting, aku membutuhkan lingerie yang baru."

Lingerie uh? Seingatku Ino sudah mempunyai banyak lingerie, ditambah lingerie baru milikku yang jatuh ketangannya karena pertaruhan bodoh kami.

"Aku rasa kau juga akan membutuhkannya untuk Sasuke nanti Saki."

"Hey kenapa kau jadi membawa-bawa Sasuke disini?" Aku menggerutu dan berjalan kearah kamar mandi untuk menaruh handukku dan menyisir.

"Oh come on, pria mana sih yang tidak menyukai wanitanya di dalam balutan lingerie?"

Oh okay, sekarang aku mengerti, jadi ini berhubungan dengan pria uh? Konyol. Aku kembali ketempat tidur dan duduk di tepiannya untuk mengenakan lotion tidur ku. Ngomong-ngomong soal pria, sepertinya aku tahu apa yang dimaksud oleh Ino.

"Sai uh?"

Terdengar kekehan kecil dari seberang sana.

"Mudah tertebak uh?"

"Well, siapa pun yang melihat mata kalian saat sedang saling menatap, pasti akan segera mengetahui bahwa kalian berdua sedang dibuai api asmara, dan siap menerkam satu sama lain." Kali ini Ino terkekeh geli mendengar penuturanku.

"Well, ya, kami memang sedang dalam masa menggairahkan saat ini."

Menggairahkan. Kata-kata itu mengingatkanku akan malam panasku bersama Sasuke semalam.

"Kau masih hutang cerita padaku tentangnya."

"Oh, begitu pula denganmu, aku mencium telah terjadi sesuatu antara kau dan Sasuke semalam. Aroma seks sangat kental di udara!" Terdengar nada menggoda dalam suara Ino di seberang sana

"Ck, kau telah beralih profesi menjadi bloodhound uh? Bahkan hidungmu lebih tajam dari mereka." Ino hanya terbahak mendengar ejekan ku.

"Kurasa besok waktu yang tepat untuk kita bertukar cerita. Baiklah besok aku kesana untuk menjemputmu."

"Um, okay, jam berapa kau akan datang untuk menjemputku?"

"Menjemputmu?"

Aku sedikit tersentak saat Sasuke berbicara di telingaku dan mencium perpotongan leherku.

"Kau mengagetkanku." Aku mendesis padanya, dan dia hanya terkekeh.

"Bukan salahku kau memasang headset ditelingamu dan tidak mendengar pintu kamarmu terbuka. Siapa di telepon?" Sasuke duduk di sisi yang sama denganku. Seperti malam kemarin, dia memakai celana piyama, kaos putih, dan tetap masih tampan.

"Ino."

"Dan kemana kalian akan pergi?" Sasuke mengangkat satu alisnya, menuntut jawaban. Aku tidak menyukai tatapannya yang satu ini.

"Dia mengajakku untuk berbelanja besok." Aku kembali mempelajari wajahnya, dan perasaanku tidak enak.

"Dan aku sudah mengatakan iya. Bukan begitu Ino?" Aku kembali berbicara pada Ino di telepon.

Sasuke meraih ponselku, mencabut kabel headset yang masih terpasang dan menempelkan ponselku di ditelinganya.

"Kemana kalian akan berbelanja besok? "

Aku menatap kesal pada Sasuke yang pura-pura tidak melihatku. Apa-apaan sih dia sesuka hatinya merebut ponselku?Aku menarik headset dari telingaku dan menaruhnya kasar di atas meja yang terdapat di sisi tempat tidurku.

"Kedengarannya menyenangkan. Apakah Sai ada di situ? Ya, berikan padanya sebentar, ada yang harus aku bicarakan."

Berbicara dengan Sai? Hey kenapa dia tidak langsung menelepon sepupunya itu ke ponselnya sendiri sih?

"Hn, besok kau bawa Ino ke Rasengan Street, biar Sakura bersamaku. Ya kita bertemu di sana jam 10. Thanks."

Sasuke memutuskan panggilan dan mengembalikan ponselku ketanganku. Aku masih menatapnya kesal. "Apa-apaan sih itu tadi?"

"Aku meminjam teleponmu." Dia menjawab tenang tanpa rasa bersalah. Menyebalkan.

"Kau merebutnya." Aku berkata sengit

"Meminjam."

Menarik napas panjang, Aku mencoba untuk tidak melempar lampu tidur yang ada diatas meja ke arahnya.

"Jadi kalian berdua akan mengawasi kami selama kami berbelanja?" Aku berbicara dengan menekankan kata mengawasi.

"Ralat. Menemani." Sasuke tersenyum di akhir kalimatnya. Senyum yang entah kenapa membuatku semakin kesal.

"Kau menyebalkan."

"Aku tahu." Ia menyeringai dan aku mengerang kesal. Kulemparkan salah satu bantal kearahnya , tanpa melihat reaksinya aku menaiki tempat tidurku dan berbaring memunggunginya.

Kurasakan pergerakan di belakangku dan kemudian kehangatan Sasuke menempel di punggungku. Tangannya meraih ke celah lenganku untuk meraih perutku dan mendekapku erat.

"Aku hanya ingin memastikanmu aman." Ia mencium sisi kepalaku. "Kau tahu aku tidak bisa membayangkan sesuatu yang buruk padamu, itu membunuhku." Nada khawatir terdengar sangat kental di dalam suaranya.

Aku menarik nafas panjang. "Kami hanya akan berbelanja, dan demi Tuhan, Rasengan Street hanya berjarak beberapa blok dari sini."

"Aku tahu. Tapi tolong biarkan aku dan Sai menemani kalian. Aku berjanji kami tidak akan merusak acara kalian." Kali ini Ia menelusupkan kepalanya di perpotongan leherku.

Pernyataannya yang berupa permohonan, dia benar-benar serius mengkhawatirkanku. Ibuku pernah mengatakan saat seseorang mengkhawatirkanmu, itu tandanya orang tersebut sayang dan peduli padamu.

Dan pria ini lebih dari sekedar menyangimu, dia mencintaimu bodoh! itu sebabnya dia khawatir. Dewi batinku mengomel padaku. Hell yeah dia benar.

"Aku tidak tahu apakah aku akan terbiasa dengan sikap protektifmu ini." Aku berkata pelan.

Tidak ada jawaban, tapi aku dapat merasakan Sasuke tersenyum di leherku. Aku merelaxkan punggungku di dada Sasuke dan menggenggam lengannya yang bertengger diperutku.

"Kenapa kau ada di sini?" Pertanyaan aneh Sasuke memecahkan keheningan sesaat kami.

"Karena apartementku sedang dalam masa penyelidikan kepolisian, dan sedang ada perbaikan di pintu apartmentku sehingga priaku memaksaku untuk mengungsi kesini sementara waktu."

Sasuke terkekeh dan menarikku untuk merubah posisiku sehingga kini aku berbaring di punggungku.

"Senang mendengarmu mengatakan priaku. " Ia berbaring dan menopang sisi kepalanya dengan menggunakan tangan kiri.

"Tapi bukan itu pertanyaanku." Tangan kanannya mengelus pipikku, menghantarkan kehangatan yang khas disekitar wajahku.

"Lalu?"

"Kenapa kau berada di kamar ini?"

"Kau bilang ini kamarku selama aku berada disini. Memang kau berharap aku akan tidur dimana? Di balkon uh?" Aku menggerutu dan memutar mataku padanya.

"Dikamarku." Sasuke mendekatkan wajahnya dan mencium rahangku. Kali ini arus listrik yang mengalir dari sentuhan bibirnya.

Dikamarnya..

"Dikamarmu?" Aku mengulang pertanyaannya seperti orang bodoh. Bodoh.

"Dikamarku." Bibirnya menempel dibibirku, menghisapnya perlahan, dan sesuatu mulai terbangun di dalam perutku yang menyebarkan rasa geli disana. Sasuke menurunkan salah satu tangannya untuk meremas pinggulku beberapa saat dan kembali keatas kearah kancing baju tidurku. Aku meraih rambutnya dan membuat ciuman kami semakin dalam dan panas.

Tanpa melepas ciumannya, jemari Sasuke bergerak membuka kancing-kancingku, dan tiba-tiba dia melepaskan bibirnya dari bibirku.

"No bra uh?" Ia menaikkan satu alisnya dan menatapku nakal, sementara jemarinya bermain di salah satu puncak payudaraku. Aku dapat merasakan dia mengeras di sisi perutku.

"Haruskah aku berdiri dan mengenakannya sekarang?." Aku membalikan pertanyaan dengan nada tersengal.. Sial, tidak tahukah dia sentuhannya itu membuatku berkedut liar dibawah sana?

"Jangan coba-coba kau melakukan itu." Ia kembali meraup bibirku, menciumnya lebih bergairah dan meremas salah satu payudaraku yang membuat aku mengerang dimulutnya.

Tangannya menuruni tubuhku untuk melepas celana tidurku dan sesaat kemudian jemarinya memasuki celana dalamku. "Senang merasakan kau sebasah ini karenaku." Ia berbisik di atas bibirku saat menyentuh kewanitaanku yang membuatku semakin basah.

"Aku harus melepaskan benda sialan ini." Sasuke bergumam dan meraih pinggirian celana dalamku. Aku membantu mengangkat pinggulku untuk meloloskan celana dalamku.

Sasuke kembali melumatku bersamaan dengan jarinya yang menggesek clit ku. Jarinya membelai seirama dengan belaian lidahnya dimulutku, dan aku mengerang dalam mulutnya saat Ia memasukan salah satu jarinya kedalam kewanitaanku.

"Tekuk lututmu dan renggangkan kakimu." Ia kembali berbisik diatas mulutku. Perintahnya membuat tubuhku semakin panas.

Aku menuruti perintahnya dan Ia kembali melumat bibirku. Jarinya bergerak didalamku dan erangan kembali keluar dari tenggorokanku saat Ia menambahkan satu jari lagi di dalam sana. Holyshit, dapat kubayangkan posisiku saat ini, kaki merenggang dengan jari yang sedang menyetubuhiku. Aku menggerakan pinggulku saat gerakan jemarinya semakin cepat.

Sasuke melepas ciumannya dan menatapku liar "Come baby, come."

Gerakan jari Sasuke yang semakin cepat dan gambaran betapa panasnya posisiku saat ini membuat perutku mengencang. Ombak kenikmatan tepat ada dihadapanku saat ini.

"Now!." Jemari Sasuke menekan pusat yang tepat dan membuatku terhantam ombak kenikmatan. Kepalaku tersentak kebelakang dan lututku bergetar hebat saat orgasme pertamaku datang. Sial jarinya begitu hebat!

Sasuke mengeluarkan jemarinya dariku dan menjilat cairanku yang menempel di sana, menikmatinya seakan itu adalah sesuatu yang lezat. Oh Tuhan, itu sexy.

"Kau selalu terasa nikmat." Ia menyeringai padaku dan bergerak untuk menanggalkan celana beserta kaosnya, dan memperlihatkan tribalnya yang sexy. Akankah aku akan merasa bosan memandangi lukisan ditubuhnya? Hell no, aku tidak akan pernah bosan!

Perlahan kuturunkan tatapanku ke bawah melewati tattoo dipinggulnya dan wajahku terasa panas saat melihat kenjatananya yang terbebas, dan Ia kembali menyeringai "Kau masih memerah padahal kemarin kau telah melihatnya, bahkan merasakannya."

"Hanya belum terbiasa." Aku memberikan cengiranku padanya saat Ia berlutut di antara selangkanganku dan memposisikan kejantananya dipusatku.

"Kau akan terbiasa, begitu pula dengan ini." Jarinya kembali membelai kewanitaanku.

Aku mengangkat punggung atasku dan menopangnya dengan kedua sikut untuk melihat dengan jelas pergerakan yang sedang dilakukan priaku. Kali ini Sasuke mengarahkan ujung kejantanannya untuk membelai organ seksku, dan pemandangan ini membuatku semakin bergairah.

"Suka dengan apa yang kau lihat hn?" Sasuke menyeringai tanpa menghentikan gerakannya.

"Hell yeah." Napasku mulai kembali terasa berat saat ujung kejantanannya tepat di hadapan pusatku. Aku mengerang dan menghempaskan kepalaku saat kejantanannya perlahan memenuhiku.

"Fuck. Kau masih sangat ketat." Sasuke memejamkan matanya dan menggeram ketika seluruh kejantanannya telah terkubur di dalam diriku.

Kali ini tidak sesakit yang aku rasakan kemarin. Aku berinisiatif untuk menggerakan pinggulku duluan, dan aku rasa priaku sedikit terkejut akan tindakanku, hanya sesaat dan kemudian Ia mencondongkan tubuhnya untuk menciumku dan ikut bergerak bersamaku. Aku mencengkram punggungnya dan menggerakan otot kewanitaannku saat Ia bergerak lebih cepat.

"Shit, jangan lakukan itu, kau akan membuatku keluar." Ia menggeram dan menjauhkan wajahnya dariku untuk menatapku liar.

"Kau tidak ingin aku membuatmu keluar?" Aku membelai lengan kirinya, menelusuri tribalnya dan beralih membelai dada tegapnya.

"Tidak secepat itu." Ia melumat bibirku sekilas dan kembali berlutut.

Aku menatapnya heran saat Ia mengeluarkan kejantanannya dari tubuhku. Sial rasanya sangat kosong di dalam sana.

Sasuke menarik tubuhku untuk berlutut dan membuka piyama yang masih menempel ditubuhku. Lengannya menelusuri punggung telanjangku dan membawa kembali bibirku ke bibirnya, lidahnya bermain-main didalam mulutku, mengajak lidahku menari sementara tangannya kini meremas pelan payudaraku.

"Berbaliklah." Ia bebisik di bibirku.

Aku bergerak dan membalikan tubuhku sesuai instruksinya. Sasuke menggerakan jemarinya mengelus punggungku dan aku mengerang saat bibirnya mengecupi cuping telingaku.

"Sekarang bertumpu dengan kedua sikutmu." Ia berbisik di telingaku dan napasku tercekat saat menyadari apa yang di inginkannya.

"Ya, aku akan memasukimu dari belakang." Aku dapat merasakan napas Sasuke semakin berat di telingaku.

Dewi batinku bersalto ria di dalam sana. Doggy style?! Holy fuck, membayangkannya saja membuatku nyaris orgasme!

Aku menelan ludah dan bergerak kedepan untuk menahan tubuhku dengan kedua sikut.

"Bagus, sekarang buka kakimu selebar pinggul."

Aku kembali menurutinya, dan Oh Tuhan, aku merasa benar-benar terbuka dengan posisi ini.

Sasuke mencium kedua bahuku dan menelusuri tulang belakangku dengan mulutnya. Kedua tangannya meremas kedua pantatku dan aku mengerang saat merasakan sapuan lidah hangatnya di kewanitaanku. Kemudian Ia menggantikan lidahnya dengan jari yang kini sedang memasukiku. Jarinya berputar dan kembali menemukan titikku.

"Oh Tuhan, Sasuke." Aku mengerang saat merasakan ombak orgasme melambai padaku, namun Sasuke menghentikan gerakan jarinya. Sial!

Aku menggerakan pinggulku mencoba mencari kenikmatanku sendiri, tapi rasanya berbeda. I need him. "Sasuke please. Aku membutuhkanmu"

"Tell me how badly you need me to be inside you baby? and tell me how badly you wanna me to fuck you." Jarinya berputar di dalam diriku dan membuatku kembali mengerang karena kebutuhanku.

"Kau tahu seberapa besar aku membutuhkanmu, please, please fuck me now!" Jari Sasuke hanya berputar dan tidak melakukan gerakan lain, dan Ia berhenti setiap kali aku merasakan ujung orgasme ku muncul. Damnit!

Fine!

"Fine! Kau mau tahu seberapa buruk aku menginginkanmu? Sangat buruk! Sangat buruk hingga kewanitaanku ingin dipenuhi oleh kejantananmu sehingga aku bisa meneriakkan namamu setiap kali kau menghujamkan kejantananmu di dalam diriku dan membuatku datang berkali-kali, so fuck me hard now!." Aku berteriak frustasi padanya.

"Good girl."

Aku tahu dia sedang menyeringai atas jawabanku. Dia mengeluarkan jarinya dan menghentakkan kejantanannya dalam diriku, keras.

"Shit." Aku mendesis nikmat dan mencengkram bantal yang ada di hadapanku. Aku merasa kejantanan Sasuke memasukiku lebih dalam dan penuh dalam posisi ini.

Sasuke menggeram dan mencengkram pinggulku erat. "Kau menyukainya?"

Aku hanya mengerang sebagai jawaban.

"Tell me!" Dia menarik dirinya sehingga hanya ujung kejantanannya yang mengisi diriku. Holyshit.

"Fuck, yes!"

Sasuke kembali menghentak kedalam diriku dan kali ini membuatku berteriak. Ya Tuhan, sensasi ini benar-benar luar biasa, tidak dapat melihat ketika dia sedang menyetubuhiku di belakang sana membuat semua ini terasa lebih panas dan menakjubkan.

Dia bergerak dengan keras, badannya menunduk di atasku dan tangannya meraih kedua payudaraku, meremasnya seirama dengan gerakan kejantanannya di dalam diriku. Aku kembali mengerang liar bersamaan dengan kejantanannya yang menghujam titik pusatku.

"Oh my God. " Aku merintih di ujung kedatanganku.

"Come baby." Sasuke berbisik berat di telingaku, satu tangannya meremas payudaraku keras sedangkan tangannya yang lain turun ke bawah dan menemukan clitku. Holly fucking shit!

Aku berteriak menghentakan kepalaku kebelakang dan tubuhku bergetar tak terkendali saat badai orgasme menghantamku keras, amat keras.

Kewanitaanku berdenyut nikmat sekaligus nyeri, napasku berat dan tak terkendali. Mengerti akan keadaanku saat ini, Sasuke hanya mendiamkan kejantanannya di dalam diriku. Sesaat kemudian Ia meraih daguku kesamping untuk melumat bibirku.

"Tidak ada pemandangan yang lebih indah dan menakjubkan selain menyaksikan dirimu datang karenaku." Ia berbisik di mulutku. Terima kasih Tuhan telah menciptakan pria yang amat memujaku.

Aku kembali menggoyangkan pinggulku, mengundangnya untuk kembali bergerak di dalam diriku. Aku kembali ingin merasakannya datang di dalam diriku.

Mengerti apa yang aku inginkan, Ia mulai menarik diri dari wajahku dan kembali mencengkram pinggulku untuk ikut bergerak bersamaku. Gerakannya kembali cepat dan keras, aku tahu priaku telah berada di ujung kedatangannya. Aku mencengkram kejantanannya seketat mungkin.

"Shit." Sasuke mendesis dan kejantannya mulai berdenyut di dalamku, dan itu membuat sensasi menggelenyar di sekitar kewanitaanku.

Tangannya beralih mencengkram kedua sisi perutku, hentakannya semakin cepat dan membuatku kembali melihat ujung kenikmatanku. Aku tidak tahu apakah Tuhan menciptakannya untuk menjadi Dewa Seks untukku, tapi aku benar-benar akan kembali orgasme! Oh Tuhan, baru beberapa menit yang lalu tubuhku bergetar hebat dibuatnya, dan sekarang dia membuatku akan merasakan hal sama yang luar biasa nikmat.

Aku menundukan tubuh bagian depanku sehingga pinggulku lebih tinggi dari tubuh depanku dan kejantanan Sasuke menusuk semakin dalam. Tanganku kembali mencengkram bantal yang ada di hadapanku saat gerakan Sasuke semakin liar.

Suara geraman mulai terdengar liar di tenggorokannya. Aku kembali mencengkram ketat kejantanannya.

"Fuck!."

Ia menghentak dengan keras membuatku kembali berteriak atas pelepasanku yang juga di iringi oleh pelepasannya.

Sasuke terus menghentakan kejantanannya, mengeluarkan semuanya di dalam diriku, memenuhiku, menghangatkanku.

Napasku kembali tidak beraturan, mataku terpejam, tubuhku masih bergetar saat Sasuke mencabut kejantannya perlahan, dan aku dapat merasakan sesuatu menetes keluar dari dalam kewanitaanku. Aku tidak berniat membersihkannya saat ini dan aku tidak peduli itu akan mengotori tempat tidur, aku merasa tidak mampu untuk menggerakkan tubuhku barang sedikit saja.

Sasuke meraih pinggangku dan menggerakkanku untuk berbaring berhadapan dengannya. Mataku masih menutup saat Sasuke menyingkirkan anak rambut dari wajahku yang basah oleh keringat. Jemarinya membelai pipiku, dan dengan berat aku mencoba membuka mataku. Sasuke menatapku lembut, rambutnya lembab oleh keringat, dan beberapa rambut jatuh berantakan di keningnya, tapi itu tidak menghilangkan keseksian dirinya.

"Hi." Aku berbisik pelan.

"How are you?" Ia tersenyum padaku.

"Great."

Dia terkekeh mendengar jawabanku.

"Apa tadi itu terlalu kasar untukmu." Tangannya beralih mengelus lengan atasku.

Aku menggeleng dan tersenyum, kugerakan lenganku dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki untuk menyentuh wajahnya yang tampan. "Tidak sama sekali. Itu tadi sangat luar biasa. Aku menikmatinya lebih dari apapun."

"Senang mendengar kau juga menikmatinya." Ia menyeringai dan menarikku kedalam pelukaannya.

"Tapi itu membuat tubuhku lelah seperti menggarap satu hektar perkebunan sawit." Aku bergumam di dada nya, dan Ia kembali terkekeh.

"Tidurlah." Ia mengecup puncak kepalaku dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

.

.

.

.

.

.

.

"Morning."

Suara baritone menyambut terbukanya mataku di pagi ini.

"Hmm, sudah berapa lama kau memandangiku?"

"Aku baru terbangun beberapa menit yang lalu, jadi belum lama." Ia mengulurkan tangannya untuk membelai pipiku.

"Aku masih mengantuk."

Aku kembali meringkuk di dadanya, dan Ia terkekeh.

"Hari ini kita ada janji dengan Ino dan Sai bukan?" Sasuke membelai rambutku lembut.

Aku mengerang mengingat hal tersebut. "Kau benar. Jam berapa sekarang?" Gumamku.

"08:15"

Menarik napas panjang aku merenggangkan tubuhku ditubuhnya.

"Teruskan gerakanmu dan kita akan terlambat bertemu mereka." Sasuke mengerang, dan aku dapat merasakan kejantanannya yang mengeras di perutku.

Aku menengadahkan kepalaku dan menyeringai padanya. "Kita masih punya cukup waktu." Aku mengedipkan sebelah mataku.

Sasuke menyeringai balik padaku. "as you wish woman." Ia menempelkan bibirnya di bibirku, tangannya turun ke payudaraku dan membelainya lembut namun sudah membuatku basah di pusatku.

Ia bergerak untuk mengangkat satu kakiku dan menyelipkan tubuhnya di kakiku. Satu tangannya turun untuk memastikan kesiapanku. Dan aku selalu siap untuknya.

"Kau selalu siap untukku." Ia berbisik di bibirku.

"Hanya untukmu." Dan berikutnya Ia meluncur masuk perlahan kedalam diriku.

Say hello to my Morning Sex.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi, katakan padaku apa yang terjadi sehingga kau terlambat tiga puluh menit pagi ini, oh dan jangan mengarang cerita, aku mengenal baik dirimu bahkan daripada dirimu sendiri, kau tidak pernah terlambat jika mempunyai janji, kecuali ada hal urgent yang berhubungan dengan pekerjaan yang tidak bisa kau tinggalkan, atau karena orang tuamu."

Ino mencecarku ketika kami berdua melangkahkan kaki menuju salah satu toko pakaian dalam wanita di Rasengan Street, dan mengenai Sasuke dan Sai, mereka sedang duduk tampan di salah satu coffee shop di seberang sana.

"Aku..."

"Tunggu aku belum selesai." Ino memotong ucapanku, dan aku tahu tidak akan ada yang bisa menghentikan mulut bawelnya meski langit menurunkan hujan batu.

"Nah, karena ini adalah akhir pekan, jelas keterlambatanmu tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dan oh mengenai orang tuamu? Come on, mereka berjarak ribuan mile dari Konoha. So, tell me the truth."

Ino mendorong pintu kaca toko dan kami di sambut oleh wanita paruh baya berambut hitam pendek.

"Ada yang bisa kami bantu Nona-nona?"

"Bisakah kami melihat lingerie model terbaru dari koleksi Victoria Secret?"

"Tentu, mari ikut saya."

Kami berdua mengikuti langkah wanita toko menuju permintaan Ino.

"Silahkan." Wanita itu menggerakan tangan kananannya menunjuk deretan koleksi dari Victoria Secret.

Ino segera menghampiri deretan lingerie, dan aku tersenyum pada si wanita "Terima kasih, kami akan memanggil anda jika telah memutuskan apa yang akan kami ambil."

"Tentu. Permisi."

"So, tell me." Ino masih menuntut jawaban dariku namun tetap menggerakan tangannya untuk memilih dan memaskan lingerie ke tubuhnya.

"Well..."

Aku menceritakan apa yang terjadi antara diriku dengan Sasuke di malam pertama aku memasuki apartmentnya.

"Wow congratulations! Kita harus merayakan hilangnya keparawananmu!."

"Ew, kau gila, hilangnya keperawananku bukan sebuah party, bodoh." Aku memutar mataku padanya dan melangkahkan kakiku ke deretan lingerie untuk berpartisipasi memilih beberapa untuk diriku sendiri.

Ino memberikanku cengiran khasnya. "Teruskan." Ia kembali kepada aktivitasnya memilah dan memilih deretan lingerie.

Aku kembali menceritakan kelanjutannya di malam kedua, bagaimana Sasuke membuatku gila dengan sentuhannya, cumbuannya, semua bagian dari dirinya membuatku gila, dan yang paling utama dan pokok di sini adalah, bagaiaman dia membuatku klimaks berkali-kali hingga aku hampir lupa bagaiaman caranya bernapas.

"Hollyshit!Kau menemukan Dewa Seksmu uh?" Ino menghentikan gerakan tangannya dan memberikan tatapan tolol padaku, sedangkan aku hanya menggedikan bahuku dan menyeringai. "Kind of.."

"Lucky Bitch." Ino balik menyeringai padaku.

"Hey kurasa ini cocok untukmu." Ino melemparkan model cutout high neck teddy padaku. Lingerie ini bermodel kain berenda yang menyilang menutupi bagian samping payudara, seperti huruf X, dan terbuka di bagian tengah dada hingga perut atas, dan untuk bagian perut bawah hanya ada kain transparan.

"Hell no, itu terlihat kinky." Aku menatap horror pilihan Ino.

"Hey, percayalah, Sasuke akan menyukainya!." Ino berseri-seri padaku.

"Untukmu saja." Aku melemparnya balik pada Ino, dan Ia hanya mendecih kecil.

Aku kembali menggerakan tanganku dan menemukan satu lingerie yang menarik perhatianku, necklace strap baby doll, bermodel bra dengan tali bahu dan tali leher, serta ada kain transparan di bawahnya yang menutup bagian perut, tapi sisi kanan kirinya terbelah hingga pinggang atas, namun bagian depannya cukup panjang sehingga mengcover hingga pinggul atasku, dan celana dalamnya bermodel senada dengan bagian atas.

Kurasa aku menyekuainya, begitu pula dengan priaku.

"Aku akan mengambil yang ini." Aku menunjukan pilihanku pada Ino dan Ia terlihat puas.

"Good choice. Dan karena kau tidak menyukai pilihanku yang tadi, jadi aku yang akan mengambilnya." Ia menyeringai padaku.

"Kinky bitch." Aku menggelengkan kepalaku dan kembali memilih beberapa lagi untuk koleksiku, dan obrolan berlanjut mengenai hubungan Ino dan Sai. Dan seperti yang ada di pikiranku, Kinky Couple.

Kami menghabiskan sekitar empat jam untuk keluar masuk toko-toko yang berderet di Rasengan Street, dan mengenai kedua pria kami? Entahlah, baik aku maupun Ino nyaris melupakan mereka, tapi kami berdua tahu mereka masih setia mengawasi kami, bagaikan induk elang yang mengawasi anaknya yang sedang bermain.

.

.

.

.

.

.

.

"Para wanita tidak pernah merasa lelah saat berbelanja uh?"

Sai membuka mulutnya saat kami tengah menikmati makan siang di salah satu cafe yang juga berada di deretan Rasengan Street. Lagu Earned it milik The Weeknd mengiringi makan siang kami.

"Well, jika kau merasa lelah, silahkan mengajukan protes pada tuan yang ada di sampingku ini, bukan begitu Sir?" Aku meletakkan garpuku dan menyeringai kepada Sasuke, dan Ia hanya mengangkat bahu acuh sambil menyesap wine nya.

"Kau tidak mengeluh kan Hun?" Ino menempel dan bergelayut manja pada Sai.

"Um, tidak, hanya tidak habis pikir bagaimana kalian menghabiskan waktu empat jam berjalan kaki menggunakan heels untuk keluar masuk toko. Bukankah itu melelahkan kaki kalian?"

"Well, Hun, itulah salah satu alasan mengapa wanita dijuluki sebagai orang yang kuat dan tangguh. " Ino mengedipkan matanya dengan nakal pada Sai, dan kurasa itu cukup untuk membuat mulut Sai terkatup.

"Oya dude, aku jarang melihatmu di club akhir-akhir ini. " Sai beralih bertanya pada Sasuke.

Sasuke merangkulkan tangannya ke bahuku "Kau pikir apa lagi sebabnya yang membuat pikiranku teralih."

"Lucky bastard." Dan kami semua tetawa.

"Bukankah kau juga salah satu dari lucky bastard?" Aku menyeringai pada Sai, dan Sai menatap ke arah Ino yang juga menatapnya dengan binar-binar dikedua matanya.

"Absolutely yes."

Adegan selanjutnya di isi oleh kecupan-kecupan di antara mereka berdua.

"Get a room dude." Sasuke melemparkan serbetnya ke arah Sai, dan kami kembali tertawa.

What a wonderful day.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau menghabiskan hampir dua jam di dalam toko pakaian dalam. Apa yang kau beli hm?" Sasuke memulai pembicaraan saat Ia mulai meluncurkan mobil keluar dari Rasengan Street.

"Well, hanya beberapa kebutuhan wanita." Aku memberikan cengiranku padanya.

"Apakah diantaranya ada yang akan menjadi kesenanganku Nona?" Sasuke menatapku untuk memberikan seringai nakalnya padaku.

"Kau akan tahu nanti Sir." Aku balas menyeringai padanya, dan dapat kulihatan kilatan liar dimatanya.

"Mulutmu benar-benar tahu bagaimana cara membuatku keras."

Sasuke mengerang dan kembali fokus kejalanan, sedangkan aku? Oh tentu aku sedang senang di sini, amat sangat senang setiap kali mengetahui priaku sangat terpengaruh meski hanya oleh mulutku.

.

.

.

.

.

.

.

*bloodhound : Anjing Pelacak

.

.

.

-T.B.C-

Helloooo semuaaaa, pardon me atas keterlambatan update yang amat sangat lama bin ngaret T_T.

Pardon me juga karena belum sempet bales semua review dari para readers satu persatu T_T. (Nyicil ya balesnya XD)

Typo nanti di koreksi (kalo sempet XD)

Untuk update'an PJ selanjutnya saya harus mengatakan unpredictable.

Seperti biasa, untuk yang sudah meninggalkan reviews, para silent readers, dan yang memfollow maupun menjadikan Fict ini sebagai Fave, sy ucapkan banyak terima kasih pada semuanya yang telah berpartisipasi :)

Mind to review? ;)

Hope you enjoy Minna.

Warm Regards,

Scotty Fold a.k.a Shinichi Haruko.