Hanya sebuah cerita romansa yang terinspirasi dari 50 Shades of Grey, Beautiful Disaster, Enraptured, The Hart Family Series, dan With me in Seattle Series.
.
.
.
Dalam fict ini saya menggunakan gaya bahasa novel terjemahan, dan jika ada di antara readers yang tidak dapat feel dalam membaca fict ini karena gaya bahasa saya, sebaiknya hentikan membaca fict saya daripada kalian kecewa, karena saya sama sekali tidak akan merubah gaya bahasa saya. thanks :)
.
.
.
Balasan Reviews:
Sgiariza: pj8 up ;)
NKN0624: haha, iya sy yg buatnya aja butuh tissue terus #lho XD
Intansept: err itu bukan typo, maksudnya Sasuke ngerubah posisi sehingga Saura sekarang yang dibawahnya.
Samiharuchi: sama2 :)
An username: hahaha , tp ch8 ini agak dikurangi sedikit hot2nya, takut readers pada kehabisan darah karena mimisan ekekeke XD
Lynn: err yeah, niat hati bikin soft, kok ya jadi hard hahaha XD
Obin: gomeeen obin_san, sy baru bisa update mlm iniii huhuhu.
Unname: hahaha, breathe babe! :D
SaraSasukera : yooosh ganbarimaaasu.
Anonim: haha ini jawaban yg nyusup ada dibawah.
Tatzune: yuhu ch8 up :D
TsugamiRain: naaah sy jg ga tau bakal smpe brp chap inih hahaha
UchihaOrin: tenkyuuuu, ini udh lanjut, walo lama XD
Nananana: tenkyuuuu, blm tau akan smpe chap brp hahaha XD
OchidaOchi: Sy juga suka gaya Sasuke disini :3
Guest: iyah iyah, ini updatee XD
Harunonafa: errr, ga ngeri sih waktu nulis, cuma ngiluuuu wkwkwkwkwk XD
Sasusaku: udh nerus niih :D
Giochan: hahaha gomenne, baru sempet ngetik uy XD
Untuk yg PM, silahkan check inbox masing2 yah ;)
.
.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : M
Warning:
OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (banyaaak), dan banyak cacat lainnya.
Tidak untuk anak dibawah umur.
Mengandung kata-kata kasar dan vulgar.
Tidak disarankan bagi readers penyuka/penikmat Canon dan bagi readers yang tidak menyukai Erotic Novels seperti yang sy sebutkan diatas ;)
Attention:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang benar-benar berasal dari imajinasi sy sendiri yang terinspirasi dari beberapa Erotic Novel (dimohon untuk tidak mengcopy fict ini dalam bentuk apapun). sy mohon maaf bila kebetulan ada kemiripan dalam fict ini dengan fict yang lain.
.
.
.
Selamat membaca…
.
.
.
.
.
.
.
Kali ini tidur damaiku terusik oleh suara-suara berisik di luar, aku mendengar Sasuke yang sedang berbicara dengan seorang pria yang sebelumnya belum pernah aku dengar dengan setengah berteriak. Aku benar-benar membuka mataku saat mendengar umpatan yang keluar dari mulut kekasihku.
Sial, apa yang terjadi di luar sana?
Aku mengerang dan menyibak selimutku untuk melangkahkan kaki menuju pintu kamar. Kegaduhan yang terjadi di luar semakin terdengar ketika aku berdiri di balik pintu. Perlahan aku membuka pintu kamarku, tidak seluruhnya, hanya sedikit untuk dapat mengintip keluar. Di sana aku mendapati Sasuke dalam balutan kaos biru tua dan celana tidurnya sedang berdiri dengan rambut masih acak-acakan yang menandakan bahwa Ia telah tertidur sebelum berbicara dengan keras seperti ini, dan aku melihat ada amplop cokelat di cengkraman tangan kanannya.
Aku mengawasi Sasuke dan pria berambut blonde yang ada di hadapannya.
"Jadi apa tindakanmu selanjutnya?" Pria blonde itu bertanya pada Sasuke.
"Aku ingin orangmu mengamankan Sakura." Sasuke mengacungkan kertas yang ada di cengkramannya ke arah Naruto.
Mengamankanku? Aku benci mendengar kata itu.
"Pria itu gila Naruto."
Okay jadi pria berambut blonde itu bernama Naruto. Tapi hey, siapa yang di maksud dengan dia?
"Aku harus memastikan gadisku aman dari..."
"Dari siapa?"
Aku menyela perkataan Sasuke dan melangkah keluar dari kamarku, bergabung dengan kedua pria yang sedari tadi membicarakan hal yang sama sekali tidak aku mengerti. Sasuke dan pria bernama Naruto menghentikan percakapan mereka dan menatapku.
"Oh, maafkan aku, apa aku membangunkanmu?" Sasuke melempar amplop cokelat yang tadi di cengkramnya ke atas meja, menghampiriku untuk mendekapku dan menanamkan sebuah ciuman di keningku.
"Well, jika yang kau maksud adalah suara kerasmu ketika mengumpat maka yeah, itu telah membuat Adam Levine berlari dari mimpiku." Aku mendengus padanya, dan melonggarkan pelukannya di tubuhku untuk menatap ke sisiku saat mendengar Naruto terkekeh kecil.
"Um, hi, Aku Naruto, teman Sasuke." Ia mengulurkan tangannya padaku, aku menatapnya sejenak sebelum membalas uluran tangannya.
"Jadi, bisakah kalian jelaskan apa yang terjadi di tengah malam seperti ini?" Sasuke melepaskan pelukannya. Aku memandang Sasuke dan Naruto secara bergantian. Tapi hingga beberapa detik ke depan tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Dan aku tidak sabar.
Aku mengerang kesal. "Beberapa menit yang lalu kalian menyebut-nyebut namaku. Itu berarti berkaitan denganku. Dan sudah pasti aku berhak tahu." Aku menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutku.
"Sasori."
Sasori?
"Sasori? Maksudmu?" Aku mengerutkan keningku, berpikir. Apakah yang dia maksud Sasori yang aku kenal? Aku ingat pernah menceritakan mengenai mantan kekasihku itu ketika aku nyaris di perkosa beberapa minggu lalu, tapi seingatku aku tidak pernah menyebutkan namanya.
"Ya, Sasori, mantan kekasihmu yang nyaris memperkosamu, dan.." Rahang Sasuke mengeras dan tangannya mengepal kuat. Aku masih setia menunggu kalimatnya berakhir. "Juga orang yang menyusup ke apartementmu."
Oh Tuhan, ada apa lagi ini?
"Penyusup itu.." Aku mencoba untuk memperjelas.
"Ya. Itu dia." Sasuke berkata dengan dingin dan rahangnya mengeras, hal yang sering dilakukannya ketika marah.
"Apakah polisi sudah menemukannya?" Aku melangkah ke arah sofa. Aku butuh duduk. Mendengar nama Sasori membuat tubuhku lemas. Sasuke menyusul dengan duduk di sampingku.
"Belum, tapi aku telah menggeledah kediaman Sasori." Naruto angkat bicara dan menghampiriku.
"Naruto ini detektif, aku memintanya untuk menyelidiki kasus penyusupan apartmentmu, karena aku tahu kita tidak dapat mengandalkan polisi. Penyusupan bukan kasus yang wah bagi kepolisian, tapi tidak bagiku, tidak dengan wanitaku yang menjadi korban disini." Wanitaku, aku menyukai saat Ia mengatakan itu. Sasuke menjelaskan padaku mengenai keterlibatan Naruto dalam penyelidikan ini.
"Dan aku mendapatkan ini." Naruto menyerahkan amplop yang tadi di lemparkan oleh Sasuke.
Aku meraihnya dari tangan Naruto. Kutatap Sasuke sejenak sebelum mengeluarkan isi amplop itu. Sasuke hanya menatapku dalam diam. Itu berarti aku boleh membuka amplop ini.
Aku mengeluarkan kertas dan beberapa foto yang ada di dalamnya. "Ya Tuhan." Aku berbisik ngeri.
Foto-foto yang aku keluarkan dari dalam amplop itu adalah foto-foto dengan aku sebagai objeknya. Hampir semua kegiatanku ada di foto-foto ini. Foto ketika aku di kampus, di supermarket, bahkan fotoku ketika sedang lari pagi dan sedang mengobrol dengan Ino pun ada di sini. Ya Tuhan, ini sungguh mengerikan.
"Lalu di mana Sasori?" Aku memandang khawatir ke arah Naruto.
"Dia tidak ada saat aku dan orangku menyergap ke kediamannya." Naruto memandangku dengan perasaan menyesal. Sial, pasti ada jalan untuk menemukannya. Berpikir Sakura, berpikir.
Ibunya!
"Ibunya. Bagaimana dengan ibunya?" Aku berharap ini dapat memudahkan kami dalam mencari keberadaan Sasori, namun gelengan kepala Naruto menghancurkan harapanku.
"Ibunya meninggal tahun lalu."
Oh Tuhan. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, pikiranku kosong. Perlahan kurasakan lengan Sasuke merengkuhku kedalam pelukannya.
"Kau aman bersamaku, dan akan kutemukan dia secepatnya."
.
.
.
.
.
.
.
Suara Gaara yang tengah memimpin rapat dan menjelaskan rincian pertanyaan yang akan diajukan kepada Pak Menteri akhir pekan ini perlahan-lahan menghilang dari jangkauan telingaku. Pikiranku asik berkutat dengan segala macam tindakan Sasori yang masih belum terjawab motif dan tujuannya.
Sudah beberapa hari berlalu sejak malam dimana Naruto memberikan informasi mengenai Sasori. Penyusupan dan penguntitan, yang ternyata dilakukan oleh Sasori hingga meninggalnya ibu Sasori, semua berita itu membuatku shock.
Setelah hubunganku berakhir dengan Sasori, aku sama sekali tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Sasori hingga akhirnya dia muncul di apartmentku malam itu, tapi kupikir masalah diantara kami berdua telah berakhir dengan kemunculan Sasuke dan ancaman yang dilontarkan Sasuke pada malam itu. Tapi melihat semua kejadian ini kurasa perkiraanku salah, apa yang terjadi malam itu justru membuat Sasori... Membenciku?
"Ra... Sakura?" Suara Gaara yang memanggilku membuyarkan pikiranku.
"Um, ya, sorry, bagaimana tadi?" Aku yang baru saja terlepas dari pikiranku menatap kedua teman kerjaku dengan kikuk.
"Kau baik-baik saja?" Gaara yang duduk di seberang meja, tanpa aku sadari kini telah duduk di sisiku. Aku hanya mengangguk dalam menjawab pertanyaan Gaara.
"Hey Gaara telah memanggilmu tiga kali, begitu pula denganku, tapi sedari tadi kau hanya melihat kebuku catatanmu dengan tatapan kosong." Neji yang sedari tadi memang duduk disisiku kini ikut bicara.
Ya Tuhan sudah berapa lama aku terlarut dengan pikiranku sendiri?
"Um, aku baik-baik saja, maaf, kurasa aku hanya kurang tidur." Aku mencoba mencari alasan, setidaknya aku tidak sepenuhnya berbohong, sejak kejadian minggu lalu tidurku jadi kurang nyenyak.
Gaara dan Neji hanya terdiam mendengar pernyataanku, dari mata mereka aku tahu mereka tidak mempercayai ucapanku.
"Sepertinya aku butuh segelas kopi lagi." Aku bermaksud untuk menghindar sementara dari mereka, dengan segera aku berdiri dengan cangkir ditanganku dan berjalan cepat kearah pintu, "Aku akan segera kembali." Aku bersuara sebelelum menutup pintu.
Pikiranku benar-benar kacau, aku tidak bisa membawa masalah pribadiku ketempat kerja seperti ini. Aku menuangkan kopi kedalam cangkirku saat kudengar seseorang memasuki pantry.
Aku tersenyum saat melihat siapa yang tadi masuk "Coffee Sir?"
Kakashi ikut tersenyum kemudian berjalan kearahku dan menyandarkan pinggulnya di meja pantry. "Yes, Please."
Aku mengambil satu cangkir lagi di counter top yang ada diatasku dan mengisinya dengan kopi. "Silahkan." Aku meletakkannya di sisi Kakashi dan meraih cangkirku untuk menyesapnya.
"Sepertinya kau kurang sehat, ada lingkaran hitam dimatamu, apa project yang sekarang membuatmu lelah?"
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, dulu aku merasa risih dengan perlakuan Kakashi yang jelas-jelas berbeda dengan perlakuannya pada karyawan yang lain. Bahkan aku sempat berburuk sangka mengenai pria paruh baya yang satu ini dengan berpikiran bahwa Ia adalah pria yang mencoba menggoda gadis muda. Tapi saat Kakashi bercerita mengenai anak perempuan semata wayangnya yang meninggal karena kecelakaan, semua itu jadi masuk akal. Ia mengatakan aku mirip dengan anak gadisnya, dan tanpa Ia sadari terkadang Ia memperlakukanku layaknya anak sendiri.
"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya ada sedikit masalah pribadi yang membuatku susah tidur akhir-akhir ini." Aku tidak menjelaskan lebih rinci mengenai apa yang sebenarnya terjadi, aku tahu betul bagaimana Kakashi, jika Ia tahu masalah yang sebenarnya bisa-bisa Ia ikut turun tangan. Sudah cukup Sasuke yang bertindak overprotective padaku, dan aku tidak membutuhkan satu orang lagi untuk mengawasiku.
"Aku tidak mempercayainya." Kakashi bergumam sebelum cangkir menyentuh bibirnya.
"Percayalah. Aku baik-baik saja." Aku meletakkan cangkirku dan mencoba meyakinkannya dengan senyumanku.
"Kau selalu bisa cerita apapun padaku, kau tahu itu kan?" Ia meletakkan gelasnya dan menyilangkan kedua lengannya didepan dada.
"Yes, Sir." Aku hanya tersenyum dan kembali meraih cangkirku dengan tangan tangan kiri dan teko kecil berisi kopi. "Well, aku harus kembali keruang meeting, Gaara dan Neji sedang menungguku." Aku segera berjalan melewati Kakashi.
"Thanks kopinya." Suara Kakashi terdengar sebelum aku menghilang dibalik pintu pantry.
"Welcome Sir!" Aku setengah berteriak dari balik pintu, dan melangkah menuju ruang meeting.
Simpan pikiran pribadimu Sakura, dan focus pada pekerjaan. Aku memotivasi diriku sendiri dengan mengucapkan kalimat itu berkali-kali selama perjalanan menuju ruang meeting. Entah karena aku kembali sedang berkutat dengan pikiranku hingga tidak melihat jalanan didepanku atau karena orang didepanku ini jalannya yang tidak benar, tiba-tiba aku memekik karena merasakan cairan panas mengguyur tanganku yang berasal dari cangkir kopi yang sedang aku pegang. Beruntung tutup teko kopi yang juga sedang aku pegang terpasang dengan kuat.
Belum sempat aku melihat atau mengomeli orang yang menabrakku tadi, orang itu telah berlalu dari hadapanku.
"Hey!" Aku berharap dia akan menengok dengan teriakanku, tapi orang itu justru semakin mempercepat jalannya dan aku hanya dapat melihat punggungnya, namun dari pakaian dan topi yang Ia kenakan, aku dapat mengenalinya sebagai salah satu office boy yang ada disini.
Menyebalkan.
Aku hanya bisa menghela napas dan kembali melanjutkan langkahku menuju ruang meeting.
oOo
Aku sedang mengetikkan laporan harianku saat Neji memunculkan kepalanya di pintu masuk ruanganku.
"Hey, kami semua akan pergi ke MS untuk minum sepulang kerja nanti, ayo bergabung." MS yang dimaksud dengan Neji adalah Mangekyo Saringan, bar & lounge yang berada tidak jauh dari sini. Mereka memang sering mengunjungi MS sepulang kerja. Beberapa kali mereka mengajakku bergabung, tapi aku sering menolak, tempat hiburan malam yang pernah aku kunjungi hanyalah The Chidori, itu juga hanya sekali-kalinya.
Tapi mengingat beberapa pikiranku yang sering kacau beberapa hari ini, kurasa tidak salahnya sekali-kali aku bergabung bersama mereka untuk beberapa gelas margarita.
"Um okay. Kali ini aku ikut, tapi sebelumnya aku harus melakukan beberapa panggilan dulu. Tunggu aku dibawah?"
"Okay. Jangan lama-lama. Tenten sudah menggila ingin minum karena stress dengan pekerjaannya." Aku tersenyum mengingat cerita antara Neji dan Tenten yang sering diceritakan oleh Ayame.
"Okay." Neji melambaikan tangannya tanda pamit duluan sebelum menghilang dari pintu ruanganku.
Aku meraih ponselku dan mendial nomor telepon Sasuke.
"Hello Babe."
"Hey. "
"Merindukanku?" Aku terkekeh mendengar pertanyaannya.
"Ya. Tapi aku meneleponmu bukan untuk itu. Teman kerjaku mengajakku lagi untuk pergi minum di MS, kemarin-kemarin beberapa kali aku menolaknya, kurasa tidak sopan jika kali ini aku menolak lagi. Jadi aku meneleponmu untuk memberitahu bahwa aku akan pulang malam hari ini."
"Hmm, jadi wanitaku ada kencan dengan orang lain hm?" Aku kembali terkekeh mendengar ucapannya, aku tahu dia hanya bercanda.
"Hm sepertinya begitu, mungkin pria protective ku telah membuatku sakit kepala sehingga aku ingin berkencan dengan yang lain." Sasuke mengerang kesal diseberang sana.
"Jangan berkata seperti itu tentang pria yang mencintaimu ini." Ia berbicara dengan nada menggerutu.
"Well, apa kau sudah memberitahu Asuma?" Sejak mengetahui bahwa penyusup itu adalah Sasori, Sasuke kembali memintaku menggunakan jasa Asuma untuk mengantar jemputku. Sifat protectivenya jadi semakin kental sejak malam itu, dan seperti biasa, kami berdua harus berdebat lagi untuk hal antar-jemput ini, dan akhirnya aku setuju dengan syarat Asuma harus menggunakan mobilku, dan Sasuke harus mencari supir lain selama aku menggunakan Asuma. Aku tidak mau Sasuke mengendarai sendiri mobilnya terutama jika pekerjaan mengharuskannya untuk pulang larut malam.
"Aku akan meneleponnya setelah ini."
"Baiklah. Berhati-hatilah."
"Okay. Kau juga. Love you."
"Love you more."
Setelah menelepon Sasuke, aku segera menelepon Asuma untuk memberitahukan acaraku malam ini.
oOo
"Bersulang untuk Sakura yang memutuskan untuk ikut bersama kita." Ayame mengacungkan gelas tequila nya keatas, dan kami semua ikut mengangkat gelas masing-masing untuk bersulang.
"Maafkan aku, bukannya aku tidak ingin ikut, hanya saja aku tidak terbiasa pergi ketempat hiburan malam." Aku membuka suara setelah menyesap minumanku.
"Lalu selama ini jika kau ingin minum, kau pergi kemana?" Tenten meletakkan gelasnya dan menatapku dengan heran.
Aku menceritakan jika selama ini ketika aku ingin minum-minum aku hanya akan melakukannya dirumah, terkadang Ino akan membuatkanku Mixed Drink, dan aku tahu sekarang kenapa Ino pandai dalam membuat minuman.
"Wow. Tipe gadis rumahan uh?" Tenten menanggapi ucapanku, dan aku hanya terkekeh mendengar ucapan Tenten, aku tahu dia tidak berniat menyindirku.
"Apa minuman yang dibuat teman wanitamu itu enak?" Kali ini Neji angkat bicara dan mendapat delikkan tajam dari Tenten, dan pemandangan ini mengundang tawa dimeja kami.
Aku kembali bercerita mengenai Ino yang mendapat pelajaran membuat minuman dari kekasihnya yang seorang bartender, Sai.
"Tunggu dulu, Sai? Apa yang kau maksud Sai The Chidori?" Ayame yang tadinya hendak minum, kembali meletakan gelasnya dan menatapku ingin tahu. Aku tidak tahu jika Sai dan The Chidori seterkenal itu.
"Um yeah, Sai yang itu. Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Aku balik bertanya pada Ayame.
"Aku pelanggan setia The Chidori." Ia menyeringai padaku. "Kurasa bahkan kau tidak tahu apa itu The Chidori." Ia menyipitkan matanya padaku dan memasang wajah mengejek.
"Jadi kau benar-benar tidak pernah pergi ke club ya?" Tenten memotong kesempatanku untuk berbicara. Ini jadi lebih seperti girls talk, karena Gaara dan Neji hanya menjadi pendengar dimeja ini, terutama Gaara.
"Um tidak juga, aku pernah sekali pergi kesana."
"Ah kau ini seharusnya lebih sering pergi kesana, disana menyenangkan!" Ayame kembali menenggak minumannya, dan aku hanya tersenyum melihatnya yang sudah setengah mabuk.
"Tapi sekarang tidak begitu menyenangkan lagi sejak Sasuke tidak muncul disana." Tenten menggerutu setelah meminum habis minumannya.
Wow, dan priaku juga terkenal rupanya. Diantara kami hanya Ayame yang menanggapi gumaman Tenten, Sisanya termasuk aku hanya tersenyum dan kembali menikmati minuman masing-masing. Lagipula aku harus menanggapinya seperti apa? Mengataan bahwa Sasuke yang sedang dibicarakan adalah priaku? Membayangkan aku mengatakan hal seperti itu saja sudah membuatku ngeri akan gossip yang akan beredar dari mulut Ayame besok. Jadi diam itu memang lebih baik
.
.
.
.
.
.
.
"Hello baby." Sasuke memasuki kamar saat aku sedang duduk didepan cermin untuk menyisir rambutku sebelum tidur.
"Bagaimana harimu?" Sasuke membungkuk dan menahan kedua telapak tangannya di meja rias untuk mengecup puncak kepalaku. Aku tidak akan bosan dengan perlakuannya yang seperti ini.
"Kau pulang cukup larut." Aku tersenyum dan menatapnya melalui cermin.
"Itu tidak menjawab pertanyaanku. Lagipula aku sengaja pulang larut mengingat bahwa wanitaku juga pulang malam karena menghabiskan malam dengan teman-teman prianya." Ia mendengus kesal yang justru membuatku tertawa.
"Mereka teman kerjaku, dan bukan aku saja wanita yang ikut, masih ada Ayame dan Tenten." Aku menyikutnya dan menggeleng-gelengkan kepalaku karena sifat protective nya ini.
Sasuke pura-pura meringis sebelum menundukkan kepalanya kearah wajahku, dan aku menengadahkan wajah untuk menerima ciumannya.
Aku selalu merasa seperti ciuman pertama setiap kali Sasuke menciumku, dan aku menyukai suara geraman Sasuke yang membuat tubuhku selalu merasa tergelitik setiap kali mendengarnya.
"Kurasa aku tidak akan pernah merasa cukup denganmu." Sasuke berbisik ditengah-tengah ciuman kami.
"Begitu pula denganku." Aku balik berbisik sebelum bibir Sasuke kembali menempelkan bibirnya. Kami berciuman cukup lama sebelum akhirnya aku menjauhkan wajahku darinya.
"Kau belum mandi." Aku menyipitkan mataku padanya.
"Kurasa itu bukan masalah, kau nampak menikmatinya saat lidahku ada didalam mulutmu beberapa menit yang lalu. Bahkan jemarimu meremas tengkukku." Ia menyeringai padaku, membuatku memukul ringan lengannya dan membuatnya terkekeh.
"Baiklah, baiklah." Sasuke mengecupku sekali lagi sebelum berdiri tegak dan melangkah kearah kamar mandi.
"Come with me?" Kali ini Ia mengedipkan sebelah matanya, dan giliran aku yang terkekeh.
"Tidak, terima kasih, aku sudah mandi." Aku menggelengkan kepalaku. "Cepat sana mandi, ini sudah malam."
"Yes Ma'am."
oOo
"Jadi, ceritakan harimu." Sasuke memposisikan kepalanya diperpotongan leherku dan lengannya memeluk erat tubuh telanjangku dari belakang. Spoon adalah posisi favorite kami setelah bercinta.
"Seperti biasa. Melelahkan tapi menyenangkan." Aku mengusap lengan Sasuke yang ada dipinggangku, entah Ia ingat atau tidak bahwa minggu ini aku akan berangkat ke Iwa untuk pekerjaanku. Setiap kali aku mencoba berbicara mengenai keberangkatanku, Sasuke selalu menanggapi dingin apalagi setelah kejadian Sasori. "Bagaimana denganmu?"
"Aku merindukanmu, dan juga ini." Lengan Sasuke turun dari pinggangku dan menyentuh bagian dimana dia memasuki beberapa menit yang lalu dan membuat bulu kudukku kembali merinding. Astaga baru beberapa saat yang lalu aku berkali-kali mendapatkan orgasme ku dan sekarang aku kembali menginginkannya untuk berada di dalam diriku.
"Aw!" Sasuke menjerit lucu saat aku mencubit kecil lengannya.
"Stop it." Sasuke terkekeh dan kembali memposisikan lengannya dipinggangku.
Dulu aku tidak percaya dan bersikap skeptis setiap kali teman-temanku bercerita mengenai betapa menyenangkannya cuddling. Tapi kini aku merasakan apa yang mereka rasakan, and yes cuddle with your man is one of the best moment in your life.
Aku bercerita mengenai kejadian di SM tadi, dan Sasuke terkekeh mendengar alasanku yang tidak menceritakan bahwa aku mengenalnya karena aku takut gossip aneh menyebar dikantorku.
"Kau membuat hatiku terluka karena tidak mengakuiku Babe." Sasuke membuat suaranya benar-benar mirip seperti orang yang sedang terluka hatinya.
Aku merubah posisiku menjadi berhadapan dengannya "Oh come on, berikan mereka sedikit waktu sebelum benar-benar terkejut akan fakta bahwa pria yang mereka idolakan adalah priaku, milikku." Aku memberikan seringai terbaikku padanya.
Sasuke ikut menyeringai dan mengecup bibirku. "Aku sangat menyukai mulutmu saat mendengar kau mengclaim diriku."
"Oh hanya saat mengclaim dirimu Sir?" Aku mengerling nakal dan membuatnya menggeram.
"Aku tahu kau lelah setelah kubuat orgasme berkali-kali, jadi hentikan godaanmu itu sebelum aku membuatmu pingsan karena orgasme berikutnya."
Aku terkekeh mendengarnya mengatakan hal itu. "Okay, okay, aku menyerah." Aku mengangkat sebelah tanganku sebagai tanda menyerah sebelum berguling untuk kembali keposisi spoon.
Untuk mengisi waktu sebelum tertidur, Sasuke bercerita mengenai beberapa hal yang terjadi di Amaterasu Enterprise hari ini. Dan seperti biasa, aku mendengarkan ceritanya dengan seksama, dulu saat pertama kali bertemu dengannya di Chidori dan belum mengetahui apa-apa tentangnya selain betapa panas dan sexy nya dia, aku berpikir bahwa Sasuke adalah tipe lelaki yang hanya memikirkan kesenangan dan tidak bertanggung jawab. Tapi setelah mengetahui bagaimana dia menyelesaikan berbagai macam masalah di Amaterasu dan melihat sendiri bagaimana seriusnya dia ketika sedang bekerja, terkadang aku malu pada diriku sendiri karena telah berburuk sangka padanya.
Sasuke mengeratkan pelukannya dan kembali menyeret pikiranku pada masa sekarang. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Sasuke kembali menciumi perpotongan leherku, dan membuatku menggeliat karena geli."Tidak ada." Aku kembali menyamankan posisiku dalam rengkuhan Sasuke. Kami terdiam menikmati kehangatan tubuh masing-masing.
"Sakura..."
Ada yang aneh dari nada suara Sasuke kali ini.
"Hm?"
"Aku melihat kopermu di closet. "
Ah, kurasa priaku tidak lupa mengenai keberangkatanku.
"Um ya, aku sengaja packing hari ini agar ketika hari keberangkatanku nanti semua sudah rapi." Aku kembali mengusap-usap lengan Sasuke, menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulutnya.
Sasuke menghela napas resah. "Kau tidak akan merubah pikiranmu."
"Dan kau tahu itu." Aku tersenyum dan memejamkan mataku, sebaiknya aku segera tidur daripada harus berdebat mengenai hal ini.
.
.
.
.
.
.
.
"Hey, selamat pagi." Seperti biasa Gaara menyapaku di depan pintu lift.
"Pagi Gaara." Aku tersenyum padanya, berbarengan dengan pintu lift yang terbuka. Gaara mengangkat tangannya, mempersilahkan aku untuk masuk duluan.
"Thanks."
Gaara hanya tersenyum dalam menjawab pertanyaanku. Dia menggerakan jarinya untuk menekan tombol dengan angka 8, lantai dimana kami bekerja. Sambil menunggu lift tiba dilantai 8, kami mengobrol mengenai hal-hal kecil seperti biasa. Dulu aku masih merasa canggung untuk mengobrol hal diluar pekerjaan dengan Gaara. Mungkin karena pembawaannya yang calm bahkan kadang terlihat dingin. Tapi lama-kelamaan setelah beberapa minggu ini kami terlibat didalam satu pekerjaa, ternyata Gaara tidak sedingin yang aku bayangkan. Bahkan dia tertawa saat aku mengutarakan apa yang ada dipikiranku pada saat itu.
"Kau duluan saja, aku harus keruangan Kakashi untuk menyerahkan laporan ini." Ia mengangkat sebuah amplop yang cukup tebal dari dalam tasnya.
"Okay." Aku berjalan kearah Ayame untuk menyapanya. " Pagi Ayame."
"Pagi Sakura." Ia menyunggingkan senyumnya dan melihat kearah belakangku, aku mengikuti arah tatapannya yang tertuju pada punggung Gaara. "Kau mencari Gaara?"
Dia mengalihkan tatapannya padaku, matanya disipitkan seperti sedang menyelidiki sesuatu. "Jadi gossip itu benar."
Wow, kali ini gossip mengenai Gaara?
"Ada apa dengan Gaara? Dan apa yang benar?" Terkadang aku bingung dengan tingkah laku receptionist yang satu ini.
"Gaara menyukaimu."
"Oh..." Aku bergumam mendengar jawaban Ayame.
Tunggu dulu, menyukaiku?
"Apa?!" Aku segera menutup mulutku karena baru saja berteriak dikantor.
Ayame memutar matanya padaku, saat mulutnya akan terbuka untuk bicara, suara telepon menginterupsinya.
"Hatake's Journal, ada yang bisa saya bantu. Oh Tn. Kakashi pagi ini sedang ada tamu. Ada yang bisa saya sampaikan?" Tangan ayame bergerak untuk membuka buku catatannya.
"Okay. Hm. Okay. Ada lagi? Baik nanti saya sampaikan. Selamat pagi." Setelah menutup telepon, Ia mengetikan pesan tadi di outlock dan mengirimkannya pada Kakashi.
Ketika pekerjaannya selesai, Ia kembali mengalihkan tatapannya padaku "Kau ini. Terlihat jelas kan? Masa kau tidak menyadarinya?" Ia mendengus padaku.
"Jangan menggosipkanku yang aneh-aneh." Aku menggerutu padanya. Aku tidak rela menjadi bahan gossip selama beberap minggu ke depan. Cukup sekali aku merasakan di gossipkan. Sekali saja sudah menyebalkan, apalagi dua kali.
"Kau pikir bagaimana kalian bisa selalu keluar bersama dari lift setiap pagi?" Ayame menaikkan satu alisnya padaku.
"Kau ini, aku hanya kebetulan bertemu dengannya dibawah tadi." Aku memutar bola mataku pada Ayame.
"Oh, kau tidak tahu saja kalau dia sengaja mengaturnya." Kali ini Ayame menyeringai padaku.
"Oh stop it. " Lagi-lagi aku memutar mataku. "Dengar, kalau sampai nanti gossip ini menyebar ke karyawan yang lain, orang yang pertama kali aku cari adalah kau." Aku mengarahkan jari telunjukku kearah Ayame yang memandangku dengan tatapan geli.
"Oh aku tidak usah repot menyebarkannya, kurasa yang lain juga sudah menyadarinya." Ia menampilkan deretan giginya dalam sebuah cengiran.
"Whatever." Aku kembali memutar mataku sebelum membalikkan badan dan melangkah menuju ruanganku, dan meninggalkan Ayame yang sedang terkekeh dibelakangku.
Aku tidak begitu memusingkan atau memikirkan perkataan Ayame, karena yang dikatakannya tadi tidak masuk akal. Lagipula sebelumnya aku pernah digossipkan dengan Kakashi, gossip terkonyol sepanjang hidupku.
.
.
.
.
.
.
.
-T.B.C-
Naaah jadi juga Ch8! \O/
Berkat para readers yang tiada lelah "menagih" baik di FB maupun di PM yang masuk kesaya, akhirnya saya bisa menyelesaikan CH8 hohoho tengkyuuu all :*
Yang ingin protes mengenai words, seberapapun panjangnya words, pasti kalian akan selalu bilang : "Kuraaaang Thoooor!"
Ahahahaha, but it's okay, saya bersyukur sekali karena PJ masih memiliki readers yang setia :)
(smooch smooch :*)
Next chap seperti biasa sy gak bisa janji kapan2nya, jadi tunggu ajjah yaaah XD
Untuk typo, kalo sempet nanti dibenerin, kalo ga sempet gimana nanti XD
Well, Seperti biasa, untuk yang sudah meninggalkan reviews, para silent readers, dan yang memfollow maupun menjadikan Fict ini sebagai Fave, sy ucapkan banyak terima kasih pada semuanya yang telah berpartisipasi :)
Mind to review? ;)
Hope you enjoy Minna.
Warm Regards,
Scotty Fold a.k.a Shinichi Haruko.
