137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
.
Eloquent Silence
.
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.
.
Don't Like? Just Don't Read ^^
.
.
enjoy it !
.
Bab Dua
"Sungmin, kau takkan bisa menebak—"
"Hyuk, aku sedang mengajar. Ada apa sih?"
Guru yang menyerbu masuk ke dalam kelas Sungmin yang terdiri atas murid-murid berumur tujuh tahun itu tampak betul-betul kacau. Ia terbata-bata waktu berkata, "Kau takkan bisa menebak siapa yang ingin menemuimu. Maksudku, sudah ribuan kali aku melihatnya. Aku pasti mengenalinya di mana pun. Tapi waktu melihatnya berdiri di koridor, bertanya tentang kau—"
"Pelan-pelan, Hyuk, kau membuat anak-anak gelisah. Mereka mengira ada yang tidak beres." Sungmin mengetahui siapa yang dimaksud temannya, tapi dia tidak mau orang lain tahu jantungnya seolah berhenti berdetak karena memikirkan akan bertemu Cho Kyuhyun lagi. Di mata orang yang paling awas pun dia tampak tenang dan tak peduli.
"Kau percaya bahwa Chao Guixian ternyata ayah Cho Minhyun? Aku memang bertanya-tanya kenapa kita tidak pernah melihat orangtuanya. Kalau mengunjungi Minhyun, dia datang malam-malam melalui apartemen Dokter Park. Kurasa dia takut dikeroyok penggemar seperti aku." Eunhyuk cekikikan. "Dan dia bertanya tentang kau seolah mengenalmu!"
"Memang kenal."
Eunhyuk terdiam mendengar informasi itu dan memelototi Sungmin seakan di punggung wanita muda itu tumbuh sayap. "Kau kenal dia dan tidak pernah memberitahu—"
"Hyuk, kau mau apa sebenarnya?"
"A-aku mau apa?" tirunya. "Kan sudah kubilang bahwa Dokter Marcuss atau Mr. Cho atau apa pun panggilanmu untuknya ingin menemuimu."
"Bilang aku sedang sibuk."
"Apa!" jerit Eunhyuk, dan sesaat Sungmin berharap ia tuna rungu seperti murid-muridnya. Kadang-kadang ketulian bisa dianggap karunia. "Kau tidak mungkin serius, Sungmin. Kau sudah gila? Laki-laki paling seksi sedunia sedang—"
"Kurasa kau berlebihan, Eunhyuk," kata Sungmin kering.
"Aku sibuk. Kalau ingin bertemu aku, dia harus menunggu sampai kelas ini selesai."
"Dengan senang hati."
Suara dalam dan pelan itu menggema di dalam ruangan dengan nada teratur aktor profesional. Dia berdiri di ambang pintu, menatap Sungmin lurus-lurus.
Jantung Sungmin bagai berhenti berdebar sebelum kembali berdetak teratur, tapi lebih cepat.
Eunhyuk kehilangan kemampuan bicaranya yang luar biasa dan berdiri ternganga sambil memandangi Kyuhyun.
Tidak ingin menimbulkan kehebohan, yang detail-detailnya Sungmin yakin akan disebarluaskan Eunhyuk ke seluruh sekolah, dia berkata pelan, "Bisa kau tinggalkan kami, Hyuk? Karena sudah mengganggu kelasku, kurasa sebaiknya aku menemuinya."
Pria itu hanya tersenyum mendengar sindiran Sungmin.
Eunhyuk berjalan ke pintu bagai orang tersihir dan berdiri di hadapan Kyuhyun seperti patung sampai pria itu menyingkir dan mendorongnya ke koridor. Senyumnya memikat.
"Halo, Nona Lee. Kuharap aku tidak mengganggu."
"Kau menganggu, dan kau sama sekali tidak menyesalinya."
Cengirannya makin lebar. "Kau benar, memang tidak. Tapi aku diizinkan Dokter Park berada di sini. Dia berpendapat tidak ada salahnya aku mengobservasi teknik mengajarmu."
Bibir Sungmin berkerut tidak suka. Lalu dia menghela napas. Kali ini dia akan mengalah, tapi kan tidak harus melakukannya dengan manis. "Anak-anak," katanya menggunakan bahasa isyarat, "ini Paman Cho. Kalian semua kenal Cho Minhyun? Ini ayahnya."
Anak-anak tersenyum menyambutnya dan ada yang memberi isyarat 'hai'. Beberapa anak yang pendengarannya lebih bagus bahkan mengucapkan kata tersebut.
"Silakan duduk, ." Sungmin menunjuk kursi rendah. Pria itu mengerutkan kening ketika mendudukkan tubuhnya yang panjang di kursi yang sangat kecil itu. Beberapa anak tertawa, dan Sungmin sulit menahan tawanya sendiri. Ketika Kyuhyun akhirnya bisa duduk, lututnya nyaris menyentuh dagu.
Pria itu berpakaian rapi dengan celana panjang cokelat dan blazer camel. Kemejanya putih, tapi bergaris-garis aneka gradasi warna cokelat. Dasi cokelat tua melingkari lehernya.
"Kami sedang membahas kata depan. Coba kemari, Minhyun, dan tunjukkan pada ayahmu apa yang sudah kau pelajari."
Sungmin sudah menempelkan beberapa gambar apel di papan buletin. Ulat-ulat kuning cerah bermata besar dan tersenyum lebar diletakkan di atas, di bawah, di belakang, di dalam, atau di depan apel-apel itu. Murid-murid mempelajari konsepnya, dan harus menjawab dengan kata depan yang tepat, tentu saja dengan bahasa isyarat.
"Sekarang kau," kata Sungmin, menoleh pada Kyuhyun setelah semua murid mendapat giliran.
"Apa?" teriak Kyuhyun terkejut.
Anak-anak tertawa ketika Sungmin memegang siku Kyuhyun dan menariknya bangun, menyuruhnya berdiri di depan papan buletin. Dia menunjukkan tongkat ke sebuah apel dan bertanya dalam bahasa isyarat, "Di mana ulatnya?"
Mata Kyuhyun menatapnya tajam seakan ia ingin mencekik Sungmin. Namun Sungmin cuma tersenyum manis.
"Ini tidak terlalu sulit, kan, untukmu?" dia membujuk.
Pria itu mengisyaratkan kata depan yang tepat.
"Tolong dalam kalimat lengkap."
Jari-jari panjang itu mengisyaratkan kalimat lengkap tepat ketika bel pulang berbunyi. Sebagian anak dapat mendengar lengkingan suaranya, dan mereka mulai bergerak-gerak resah di kursi.
"Oke, anak-anak, sekarang boleh keluar," kata Sungmin sambil menggunakan bahasa isyarat. Mereka langsung berlarian ke pintu, dan Sungmin tinggal berduaan dengan Kyuhyun.
"Tadi itu tindakan yang pandai. Apa kau memberikan perhatian khusus seperti itu pada setiap orangtua yang datang?" Kyuhyun menggeram.
"Sebagian besar orangtua yang datang tahu aturan sehingga tidak masuk begitu saja ke dalam kelas dan minta perhatian khusus."
"Sialan," kata Kyuhyun tanpa nada menyesal sedikit pun. "Karena sudah telanjur masuk daftar hitammu, akan kuamankan posisiku di situ dengan memberitahumu bahwa kau akan makan malam denganku."
Sungmin tercengang memandangnya. "Kau bukan hanya kasar, Kyuhyun , tapi juga tak punya otak. Aku tidak mau pergi ke mana pun denganmu."
"Ya, kau mau. Dokter Park bilang begitu." Kata Kyuhyun.
"Aku tidak tahu Dokter Park sekarang mendirikan biro jodoh." Balas Sungmin.
"Aku memberitahu dia bahwa aku ingin bicara denganmu sambil makan malam. Dia bilang menurutnya itu ide yang sangat bagus."
"Itu sama sekali bukan perintah. Dia atasanku, bukan ibuku."
"Kau mau?"
"Apa?"
"Makan malam denganku." Sungmin menanggapi pria itu sambil membereskan alat-alat mengajarnya. Pria itu membuntutinya. Setiap kali Sungmin berbalik, Kyuhyun berdiri di dekatnya. Dia merogoh laci paling bawah meja kerja untuk mengambil tas dan menutupnya kuat-kuat ketika berdiri.
Kyuhyun menjulang di atasnya, dan Sungmin mundur setengah langkah untuk memperbesar jarak sempit di antara mereka. "Telingamu tidak terlalu tajam, ya? Kubilang aku tidak mau makan malam denganmu, jadi ya aku tidak mau. Menurut pendapatku, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kau sudah mengatakan semua yang harus kau katakan pada pertemuan terakhir kita, begitu juga aku."
Kyuhyun menyambar pergelangan tangannya waktu dia berusaha melewatinya. Jari-jari pria itu memegangnya dengan cengkeraman hangat dan mantap yang menaikkan tempo denyut nadi di bawahnya.
"Aku minta maaf atas hal-hal tidak enak yang telah kukatakan."
Dia aktor, kata Sungmin dalam hati. Dia mampu menampilkan sikap atau emosi apa saja dengan mudah.
Sungmin meragukan ketulusannya, dan Kyuhyun tahu itu dari ekspresi skeptisnya. "Aku bersungguh-sungguh," kata Kyuhyun, mempererat cengkeramannya di pergelangan tangan Sungmin. "Waktu itu aku tidak mengetahui kualifikasi luar biasamu. Aku tidak tahu kau sangat berpengalaman bekerja dengan tuna rungu. Aku tidak tahu kakakmu tuna rungu."
Sungmin menyentakkan tangannya. "Jangan pernah kau mengasihani aku, keluargaku, atau kakakku, Kyuhyun ."
"Aku—"
"Kakakku wanita yang cantik. Dia akuntan."
"Aku—"
"Dia sudah menikah dan tinggal bersama dua putranya yang manis dan suaminya yang sukses di Jepang. Percayalah, dia lebih tahu nilai-nilai hidup sesungguhnya daripada kau."
Wajah Sungmin merah padam dan dadanya naik-turun karena marah.
"Sudah?" Kyuhyun bertanya kering.
Sungmin menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan menunduk. Mata Kyuhyun telah melembut dan jauh lebih mengancam daripada ketika berkilat-kilat marah.
"Aku tidak bermaksud mengasihani," Kyuhyun berkata. "Malah mengagumi dan menghormati. Oke?"
Napas Sungmin tertahan di tenggorokan waktu pria itu meletakkan jarinya di bawah dagunya dan mengangkat kepalanya.
"Aku sudah mengubah pendapatku yang dulu. Menurutku memang kaulah yang dibutuhkan Minhyun. Yang kubutuhkan."
Kata-katanya diucapkan dalam bisikan lembut. Lorong-lorong sudah sepi dari murid dan guru, dan ada suasana akrab di sekeliling mereka. Perkataan 'yang kubutuhkan' tadi dapat mengandung arti yang sama sekali berbeda dalam konteks lain.
Jantung Sungmin bereaksi terhadap pilihan kata-kata bersayap itu dan berdentum-dentum seakan menuntut dibebaskan dari dadanya.
Kyuhyun terlalu dekat, ruangan terlalu gelap, gedung terlalu sunyi, napas pria itu terlalu harum dan jari-jari yang masih memegang dagunya itu terlalu mantap dan yakin. Sungmin terjebak sensasinya sendiri. Bernapas jadi terasa sulit. Dia berusaha menjauhkan dagunya, namun Kyuhyun tidak membiarkannya. Pria itu memaksanya memandangnya sebelum berkata, "Kau mau menerima pekerjaan itu."
Itu bukan pertanyaan. Dia tahu Sungmin menginginkan tantangan dan keberhasilan dengan mengeluarkan Minhyun dari dunianya yang senyap dan membawanya ke dunia baru.
"Benar, bukan?" Kyuhyun mendesak.
"Ya." desah Sungmin antara sadar dan tidak.
Pasti cuma khayalan, karena pria itu melepaskannya sedetik kemudian lalu meraih blazer Sungmin yang tersampir di sandaran kursi. "Ayo kita makan."
Sementara Sungmin memakai blazer yang dipegangi Kyuhyun, pria itu bertanya, "Kau menciut, ya? Waktu itu kau lebih tinggi dari ini."
Sungmin tersipu sedikit waktu berpikir bahwa Kyuhyun ternyata memperhatikan dan mengingat tinggi badannya. Dia tersenyum manis pada laki-laki itu. "Aku sekarang memakai sepatu berhak rendah."
Mata Kyuhyun menyusuri, gaun linen putih Sungmin yang sekarang tertutup blazer biru laut, sampai ke sepatu sandal sewarna yang berhak jauh lebih rendah daripada sepatu yang dipakainya ke studio televisi.
"Wah, betul." Dengan serius dia mengusap rambutnya, lalu tertawa terbahak-bahak ketika mereka berjalan di koridor.
Dengan mudah Kyuhyun memperoleh taksi, dan menyuruh supirnya mengantarkan mereka ke sebuah restoran.
"Kau setuju?" dia bertanya setelah mereka duduk di bangku belakang taksi.
"Ya, aku suka sekali restoran itu," jawab Sungmin jujur.
Ketika mereka tiba, kepala pelayan membawa mereka ke ruang makan di atas yang lebih tenang, dan dengan sangat sopan Kyuhyun menarikkan kursi untuk Sungmin. Dia bersama Chao Guixian, dan rupanya itu ada pengaruhnya.
Sungmin menyadari bahwa beberapa orang menoleh karena mengenali pria yang bersamanya, dan mendadak Sungmin merasa tidak percaya diri karena mengenakan baju yang sudah seharian dipakainya di sekolah. Dia tidak menganggap ini kencan, dan karenanya tidak minta diantarkan pulang untuk berganti pakaian sebelum pergi makan malam.
"Maaf pakaianku kurang sesuai. Aku tidak mengira akan punya acara malam ini."
Kyuhyun mengangkat bahu dan berkata, "Kau sudah bagus," dan membenamkan kepala di balik buku menu.
Dasar laki-laki dingin, pikir Sungmin sambil membuka buku menu. Beberapa detik kemudian dia mendengar Kyuhyun terkekeh. Dia mendongak dan melihat laki-laki itu mengawasinya. Matanya menyipit geli.
"Apanya yang lucu?"
"Kau. Waktu kubilang kau cantik, kau marah. Dan waktu aku tidak bilang kau cantik, kau marah. Sebaiknya kau memperhatikan wajah ekspresifmu itu, Nona Lee." Dia memelankan suara dan mencondongkan tubuh mendekati Sungmin. "Aku bisa memberitahumu bahwa orang-orang di sekelilingmu melakukannya."
Sungmin menganggap itu pujian dan mengangkat gelasnya yang berisi air mineral yang dipesankan Kyuhyun.
Mereka menyesap minuman masing-masing. Mereka memutuskan memesan beefsteak.
Beberapa menit kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka. Kyuhyun mulai makan dengan lahap.
"Tunggu," kata Sungmin. "Kau harus belajar dulu."
Kyuhyun kesal ketika Sungmin memaksanya mempelajari bahasa isyarat untuk semua makanan di piringnya dan semua peralatan di meja sebelum memperbolehkannya melanjutkan makan. Wanita itu malah sempat tertawa.
"Kalau ada bahasa isyarat untuk beefsteak, aku tidak mengetahuinya. Untuk saat ini kita eja saja," katanya. Mereka mengobrol santai sambil makan.
Setelah meja dibersihkan dan mereka sedang menikmati kopi, Kyuhyun mulai membicarakan Minhyun.
"Kau akan menerima pekerjaan sebagai tutor pribadinya, bukan?"
Sungmin menunduk memandangi meja dan menggambari taplak linen putihnya dengan gagang sendok. "Aku masih belum yakin, Kyuhyun."
"Apa yang bisa kulakukan supaya kau yakin?" Ada nada menggoda dalam suaranya, tapi wajahnya serius.
"Kau bisa berjanji padaku bahwa kau akan ikut kelas bahasa isyarat dan mulai menggunakannya secara konstan. Mulailah berpikir dalam bahasa isyarat, bahkan saat kau bicara dalam bahasa verbal. Kalau kuterima pekerjaan itu, berarti selama beberapa waktu aku akan jadi ibu asuh Minhyun. Dia akan tergantung penuh padaku. Suatu hari nanti, kau harus mengambil alih tanggung jawab itu. Apakah kau akan siap?"
"Akan ku usahakan. Aku berjanji akan mencoba," Kyuhyun berkata serius. Pria itu mencondongkan tubuh, perasaan cemasnya menimbulkan kerutan dalam di antara alisnya. "Sungmin, apa yang bisa kuharapkan dari Minhyun? Akan seperti apa dia kalau sudah besar?" Itu adalah pertanyaan seorang ayah yang tak berdaya dan prihatin.
Di mata pria itu Sungmin melihat rasa sakit yang sudah tak asing baginya, keinginan mengetahui sesuatu yang bahkan tak diketahui pakar paling hebat sekalipun.
Semua orangtua anak tuna rungu menanyakan hal itu.
Sungmin menjawab dengan hati-hati. "Dia sangat cerdas, Kyuhyun. Dia tahu lebih banyak daripada yang diungkapkannya. Menurutku kekurangannya bersifat emosional, bukan mental. Aku akan menggunakan semua metode mengajar yang kuketahui. Dia akan belajar bahasa isyarat untuk komunikasi dasar, tapi di saat yang sama dia akan belajar huruf seperti anak lain. Dan dia akan mempelajari suara yang ditimbulkan huruf tertentu. Alat bantu pendengarannya akan menolongnya membedakan huruf berdasarkan bunyi dan tulisannya. Nantinya dia akan bisa bicara."
Ketika melihat mata pria itu berbinar penuh harap, dia menjelaskan perkataan terakhirnya. "Aku ingin kau mengerti, Kyuhyun , bahwa dia akan selalu tuli. Dia takkan pernah mendengar seperti kita. Alat bantu pendengarannya bukan alat korektif, melainkan alat pengeras suara."
"Aku pernah diberitahu begitu, tapi aku tidak bisa memahaminya," Kyuhyun mengakui.
"Oke," kata Sungmin. "Akan kucoba menjelaskannya. Kacamata termasuk alat korektif. Dengan memakai kacamata yang diresepkan dokter, kau akan punya visi dua puluh-dua puluh. Alat bantu pendengaran cuma mengeraskan apa yang memang mampu didengar Minhyun. Umpamanya kau mendengarkan radio, tapi yang ada cuma desis statis. Kalau kau tambah volumenya, kau takkan mendengar apa-apa lebih jelas. Kau cuma akan mendengar desis yang lebih keras. Mengerti?"
Pria itu mengangguk. "Ya. Aku mengerti maksudmu."
"Aku ingin Minhyun tahu segalanya. Kalau kubawa dia ke taman dan mendemonstrasikan kata jalan dengan berjalan, dia akan mempelajari dan memahaminya, tapi kata itu cuma akan berarti itu baginya. Aku ingin dia tahu arti mesinnya tidak jalan, sekolahnya beralamat di jalan apa, kami sedang berjalan-jalan naik mobil keliling kota. Paham?"
"Dia akan mampu mempelajarinya?"
"Hanya kalau kita mengajarinya, Kyuhyun. Kita harus bicara padanya dalam bahasa isyarat secara konstan, sama seperti anak lain harus diajak bicara secara konstan. Kibum, kakakku, begitu menguasai cara membaca bibir dan berbicara sehingga jarang memakai bahasa isyarat."
"Minhyun akan mampu bicara sebaik itu?"
"Tidak akan pernah sebaik kita," Sungmin menekankan. "Dia takkan pernah mendengar seperti kita, jadi dia tidak akan bicara seperti kita. Sebagai aktor, kau pasti pernah mengalami saat-saat di mana kau tahu dialogmu tapi tidak bisa mengucapkannya."
"Yeah."
"Itulah yang dialami kaum tuna rungu. Setiap kata merupakan kerja keras. Tapi dengan latihan yang tepat dan kesabaran, mereka jadi cukup mampu. Jangan berharap terlalu banyak, supaya kau tidak kecewa."
Kyuhyun memandangi tangannya, yang sekarang terlipat di meja. Sungmin merasa begitu bersimpati sehingga ingin sekali menggenggam tangan itu dan menghiburnya. Dia harus menenangkan hatinya. "Minhyun sudah bisa menyebut namaku."
Kyuhyun mengangkat kepala dan tersenyum bangga.
"Dokter Park memberitahu aku bahwa hubungan kalian berdua cukup dekat."
Sulit bagi Sungmin untuk mengabaikan hatinya yang serasa diremas tiap kali dia memasuki ruangan dan Minhyunmendongak dan melontarkan senyumnya yang jarang kelihatan.
Sungmin merasa makin susah untuk tetap bersikap objektif.
Dan dia tahu bahwa itu berbahaya.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Hallo~
Aku ingin menjawab beberapa pertanyaan:
Q : Kyuhyun seorang aktor dan punya anak?
A : Ya, Kyuhyun disini bekerja sebagai aktor dan memiliki anak yang tuna rungu.
Q : Sungmin akan menerima tawaran Kyuhyun?
A : Jawabannya ada diatas ya chingu ^^
Q : Dilanjut sampai end? Update kilat!
A : Dilanjut sampai end kalau kalian juga mendukung ff ini sampai end ^^
Cukup sekian, see u next week ^^
