137darkpinku Present

KYUMIN FANFICTION

.

Eloquent Silence

.

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan

Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.

.

Don't Like? Just Don't Read ^^

.

.

enJOY it !

.


Bab Empat

"Minhyun…Minhyun…"

Rambut ikalnya bergoyang ketika gadis kecil itu menoleh ke arah suara yang tidak begitu jelas didengar telinganya, yang diketahuinya sebagai namanya itu, alat bantu dengarnya tersembunyi di balik rambutnya yang mengilat.

"Pakai serbetmu," Sungmin mengisyaratkan sambil bicara, lalu tersenyum. "Enak?" tanyanya. Dia senang waktu Minhyun mengisyaratkan 'ya' dan berusaha mengucapkannya.

Mereka berada di cafe yang ada di stasiun kereta, menunggu pemberitahuan bahwa kereta ke Mokpo yang akan mereka tumpangi siap berangkat. Minhyun sedang menghabiskan sepiring es krim vanila sementara Kyuhyun dan Sungmin mengawasinya dengan cermat.

"Kemajuannya selama dua minggu ini begitu pesat, rasanya sulit untuk dipercaya, Sungmin."

Jantung Sungmin seolah berhenti berdetak ketika Kyuhyun mengucapkan namanya, namun ia menyembunyikan reaksinya. "Ya, memang," jawabnya tenang menutupi perasaan sebenarnya, ia akan pergi, ia tak akan bisa bertemu pria itu lagi, untuk urusan bisnis sekalipun.

Sejak malam Kyuhyun menciumnya, dia sengaja bersikap dingin dalam semua pertemuan mereka.

Mereka harus terus bercakap-cakap sampai dia dan Minhyun berangkat. Dia tak sanggup menghadapi suasana diam yang kaku. "Ingat, jangan terlalu berharap," Sungmin memperingatkan.

"Baik," Kyuhyun berjanji dengan sungguh-sungguh.

"Aku tahu kau akan berbuat sebaliknya," kata Sungmin, tertawa, dan pria itu membalas senyum manisnya.

Dua minggu terakhir ini berlalu cepat sekali. Kyuhyun membereskan segala sesuatunya dengan sigap. Dia membayar sewa apartemen Sungmin, walaupun tanggal jatuh temponya masih tiga bulan lagi. Dia menyelesaikan semua urusan yang berhubungan dengan perjalanan mereka, dan selalu memberitahu Sungmin tentang persiapan yang dilakukan di Mokpo.

Sungmin sudah mengirim lebih dulu pakaian musim dingin Minhyun dan miliknya. Sementara beberapa perlengkapan rumah tangga yang dimilikinya, diberikan atau dijualnya pada teman-temannya. Kyuhyun memberitahunya bahwa rumah di Mokpo itu berperabotan lengkap.

Dr. Park menyesali kepergian Sungmin setelah dia begitu lama mengajar di sekolahnya, namun tahu betapa Sungmin sangat sesuai mengajar secara privat dan betapa Cho Minhyun sangat membutuhkan perhatian seperti itu. Dia mendoakan keberhasilan Sungmin.

Sungmin sengaja bersikap formal kalau bertemu dan berbicara di telepon dengan Kyuhyun. Topik pembicaraan mereka selalu berkisar pada Minhyun atau pengaturan yang dilakukan untuk perjalanan dan kenyamanan mereka di Mokpo.

Pada pertemuan pertama mereka setelah malam Kyuhyun menciumnya, pria itu menggenggam tangannya dan berkata perlahan, "Sungmin, tentang malam itu—"

"Tidak usah dijelaskan, Kyuhyun." Sungmin menarik tangannya. "Kurasa kita berdua terhanyut suasana emosional di sekolah. Tolong jangan disinggung-singgung lagi."

Mata pria itu mengeras, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Mulai saat itu, sikapnya sekaku dan sedingin Sungmin.

Pernah, ketika mereka menyeberangi jalan ramai Seoul, pria itu memegang sikunya, tapi langsung melepaskannya begitu mereka sampai di seberang.

Sampai sekarang dia tidak pernah menyentuhnya lagi.

Dengan putus asa Sungmin berusaha menahan gairah liar yang menderu di seluruh pembuluh darahnya tiap kali dia melihat pria itu. Perasaannya baru akan tenang kalau mereka terpisah jauh. Dia yakin dia cuma korban pesona dan ketampanan Kyuhyun yang memang telah merebut hati begitu banyak wanita. Dia akan mengatasi mabuk kepayang ini seperti dia berhasil melupakan semua cintanya sejak remaja.

"Kau mau teh lagi?" tanya Kyuhyun padanya dan membuyarkan lamunannya.

"Tidak, sudah cukup, terima kasih."

"Aku ingin memesan sebotol bir lagi," katanya, lalu memberi tanda pada pelayan. Gadis malang itu girang sekali, dan waktu Kyuhyun mengalihkan perhatian padanya, dia nyaris tersandung saking terburu-burunya mengambilkan minuman pria itu. Kyuhyun menoleh pada Sungmin kembali dan berkata, "Kau pernah bilang ayahmu pendeta." Sungmin mengangguk. "Itukah sebabnya kau tidak pernah minum alkohol?"

Sungmin tertegun sesaat mendengar pertanyaan itu. Lalu ia menjawab tenang, "Bukan. Aku dulu sesekali minum alkohol, untuk pergaulan." Dia mengalihkan pandangan dari pria itu dengan menghapus es krim dari wajah Minhyun. "Aku telah melihat pengaruh buruk alkohol," katanya perlahan.

"Suamimu?" Pertanyaan itu diucapkan dengan suara pelan, namun Sungmin merasa seperti disambar petir.

Pernikahannya tidak pernah disebut-sebut lagi sejak malam di luar apartemennya dahulu.

"Ya," katanya, membalas tatapan tajam pria itu. Dia mendesah. Bagaimanapun dia memang harus menceritakannya pada Kyuhyun. "Akan kuceritakan pernikahanku padamu. Setelah ini aku tidak ingin membicarakannya lagi."

Dengan singkat dan tanpa emosi Sungmin menceritakan pernikahannya dengan Jungmo yang singkat tapi kacau-balau. "Aku kembali memakai margaku setelah dia meninggal. Aku tidak pernah merasa jadi miliknya begitu juga sebaliknya, jadi kupikir aku munafik kalau memakai marganya."

Pelan-pelan dia memandang Kyuhyun. Pria itu menatapnya lekat-lekat, menyentuh setiap inci wajahnya dengan matanya. Mata itu berbinar sebentar di bibirnya, dan Sungmin merasa seolah dia merasakan ciumannya lagi. Lalu mata pria itu beralih ke putrinya.

"Minhyun." Kyuhyun mengetuk pelan meja dan menarik perhatian si anak. Dia mengulurkan tangan dan gadis kecil itu melompat bangun dari kursi dan lari mengelilingi meja untuk naik ke pangkuannya.

Kyuhyun tidak memedulikan bir yang diletakkan pelayan yang salah tingkah itu di hadapannya. Dia memeluk Minhyun erat-erat, membenamkan wajah di rambut ikalnya. Sungmin membuang muka dan menahan air mata yang menggenangi sudut matanya. Dia akan merasa bersalah ketika berjalan ke kereta bersama putri pria itu, karena memisahkan mereka.

Sementara Kyuhyun memandangi wajah tanpa dosa anaknya, Sungmin berkata, "Kau bisa mengirim surat padanya. Itu akan membantunya menyadari kau masih jadi bagian hidupnya. Aku juga dapat menggunakan surat-suratmu sebagai alat bantu mengajar. Kami bisa pergi ke kantor pos, dan sebagainya."

"Oke," Kyuhyun bergumam, membetulkan kaus kaki putih selutut di kaki Minhyun.

"Tentu saja, kami akan jadi penggemar berat The Hearts Answer."

"Oh, Tuhan, jangan biarkan dia menontonnya," Kyuhyun mengerang, tapi kembali tersenyum.

Pengumuman tentang kereta yang menuju ke Mokpo sudah terdengar melalui pengeras suara. Lama Sungmin dan Kyuhyun berpandangan sementara Minhyun asyik berceloteh pada ayahnya. Akhirnya Sungmin membuang muka dan membungkuk untuk mengambil tas besar yang akan dibawanya ke kereta.

Mereka berjalan tanpa bicara. Kyuhyun menggendong Minhyun, yang masih belum menyadari fakta bahwa sebentar lagi dia akan berpisah dari laki-laki ini, yang disayanginya sepenuh hati.

Kyuhyun mengambilkan tiket mereka, lalu menatap Sungmin. "Kalau ada yang kau butuhkan, kapan saja, segera telepon aku. Kau lebih dari sekadar pegawai, Sungmin. Aku memasrahkan putriku padamu."

"Aku tahu. Aku akan berbuat sebaik mungkin untuknya. Kau boleh percaya itu."

Pria itu berjongkok dan mengeluarkan sebungkus permen karet dari saku. Minhyun meraihnya, namun Kyuhyun tetap memegangnya sampai anak itu memintanya dalam bahasa isyarat. Dia memeluknya sebentar, lalu mengisyaratkan 'Aku sayang padamu'.

Minhyun membalasnya, tapi sebetulnya lebih tertarik pada permen karet di tangan pria itu.

"Menurutmu dia mengerti?" Kyuhyun bertanya penuh harap pada Sungmin.

"Dia tidak menyadari bahwa dia akan meninggalkanmu untuk waktu lama. Pemahamannya tentang kasih sayang sama seperti anak-anak lain."

Kyuhyun tampak puas dengan jawaban Sungmin dan mengangguk tak sadar. Matanya bergerak ke sana kemari ketika memandangi kerumunan yang menunggu di pinggir rel. Tapi sebetulnya dia dan Sungmin sama-sama hanya berpura-pura memperhatikan orang lain. Akhirnya matanya kembali menatap wanita itu.

"Sungmin," kata Kyuhyun ragu. Dia menyentuh tangan Sungmin yang menggenggam tiket. Dipandanginya lagi wajah wanita itu. Mata onyxnya membuat Sungmin terpaku. Mata itu memohonnya untuk... apa? Mata yang bagai tak berdasar itu seolah menariknya ke dalam pusaran air. Sungmin tenggelam.

Jangan pandang aku seperti itu kalau kau masih cinta pada istrimu, dia ingin menjerit pada pria itu. Ketika Kyuhyun bergerak untuk memeluknya, dia cepat-cepat mundur dan menarik tangan Minhyun. "Sebaiknya kita bergegas. Selamat tinggal, Kyuhyun." Sebelum pria itu sempat menghentikannya, dia sudah melewati gerbang, menunjukkan tiket pada petugas.

Minhyun mengikuti Sungmin setelah melambai penuh semangat pada Kyuhyun. Anak itu tidak tahu dia takkan bertemu dengan ayahnya lagi selama berbulan-bulan.

Sungmin tidak menoleh.

Dia berjalan dengan kaki gemetar menuju gerbongnya dan menemukan kursi mereka di bagian kelas satu. Dengan gerakan lucu dia memakai sabuk pengaman supaya Minhyun tidak takut karena tiba-tiba harus diikat.

Ketika kereta mulai berjalan, Sungmin memandang keluar dan melihat Kyuhyun.

Dia berjuang menahan tangis, yang cuma akan menggelisahkan Minhyun. Tenggorokannya serasa tercekik karena emosi, dan dia tidak tahu apakah sanggup menahan rasa sakit di hatinya yang seperti tertusuk.

Aku harus melawan ini, kata Sungmin sengit dalam hati. Aku tidak boleh mencintainya. Aku bekerja padanya, itu saja.

Dia mencintai istrinya. Dia aktor. Bintang sinetron. Dia telah mengakui bahwa kalaupun dia tertarik, itu karena kebutuhan fisik, bukan emosional. Aku tidak menginginkannya dalam hidupku.


.

.

.


"Aku tak percaya akhirnya akan punya tetangga. Waktu Nyonya Hwang, wanita yang membersihkan rumah ini untukmu, memberitahu aku bahwa kau dan gadis kecil ini akan datang, aku gembira sekali. Ada yang bisa kubantu?"

Sungmin tersenyum pada wanita bertubuh mungil yang duduk di bangku dapur itu. Kim Ryeowook tinggal tidak jauh dari rumah Kyuhyun.

"Tidak ada, terima kasih. Kalau tidak kubereskan sendiri barang-barang ini, aku tidak akan tahu di mana letaknya. Aku sudah hampir selesai."

Sungmin tengah mengeluarkan buku-buku masak yang dibawanya dari Seoul. Dia dan Minhyun baru sehari tinggal di rumah baru mereka dan masih berusaha menghafal segala sesuatunya.

Apa yang digambarkan Kyuhyun sebagai "tidak mewah", ternyata jauh dari sederhana. Ketika dia dan Minhyun tiba di rumah pondok bergaya Swiss berlantai dua, setelah naik mobil baru yang dibelikan pria itu untuk mereka, Sungmin tak habis pikir mengapa ada orang yang memiliki rumah sebagus itu tapi tidak mau tinggal di situ.

Di lantai bawah terdapat ruang tamu luas, di satu sisinya ada jendela besar yang menghadap pegunungan dan di sisi lain ada perapian batu. Ruang tamu itu berhubungan dengan ruang kecil berpanel yang menurut Kyuhyun bisa digunakan sebagai ruang kelas untuk Minhyun. Dan ketika Sungmin melihatnya, ia sepakat dengan laki-laki itu bahwa ruangan itu memang cocok untuk dijadikan kelas.

Ruang makan terletak di ujung ruang tamu, dan bersebelahan dengan dapur modern bersuasana cerah, yang juga memiliki area makan. Di atas ada kamar tidur sangat luas, berisi tempat tidur besar, kamar mandi mewah, kamar tidur lagi, lengkap dengan kamar mandinya.

"Kita pakai saja semua kamar ini, ya, Minhyun?" kata Sungmin tadi malam ketika membongkar tas-tas Minhyun di kamar yang lebih kecil. Dia akan tidur di kamar yang lebih besar. "Tidak ada gunanya kita hidup sederhana, padahal ada begitu banyak kamar disini," dia berkata pada diri sendiri sementara Minhyun memandangi rumah barunya dengan takjub. Sejak dulu dia tinggal di asrama sekolah.

Di matanya, pikir Sungmin, tempat ini pasti kelihatan seperti istana.


.

.

.


Keesokan harinya Sungmin terbangun ketika mendengar kicau burung-burung, dan bergegas pergi ke kamar Minhyun, tahu anak itu pasti akan menyukai suasana pagi rumah barunya. Pemandangan di sini jelas berbeda dari pemandangan Seoul yang biasa dilihat Minhyun. Seperti dugaan Sungmin, gadis kecil itu gembira sekali.

Setelah sarapan daging dan telur, yang ditemukan Sungmin di kulkas yang penuh makanan, dia memandikan Minhyun dan memakaikan celana pendek dan T-shirt. Dia juga berpakaian santai, lalu memulai kegiatannya, mengenali rumah dan membongkar barang-barang bawaannya yang cuma sedikit.

Ryeowook datang bersama kedua anaknya menjelang siang.

Wanita itu lincah dan banyak omong, menyenangkan, dan amat sangat ingin tahu.

"Aku tinggal di sini sudah tiga tahun dan tidak pernah tahu siapa pemilik rumah ini. Setahuku tak seorang pun pernah tinggal di sini. Bayangkan bagaimana perasaanku waktu aku tahu si pemilik adalah Dokter Marcuss tentu saja itu bukan nama aslinya. Siapa namanya tadi?"

"Chao Guixian nama profesionalnya. Cho Kyuhyun nama aslinya," jawab Sungmin sambil tersenyum geli. Ryeowook terpesona.

"Ya! Oh! Aku senang sekali ketika mengetahui akan punya tetangga yang memiliki anak kecil. Lalu waktu tahu tetangga itu adalah Marc—maksudku, Chao Guixian, ia mungkin tidak bakal mau meninggalkan aku sendirian di rumah lagi!" dia tertawa.

Kelihatannya Ryeowook selalu mengakhiri kalimatnya dengan tanda seru. Dia sudah bercerita pada Sungmin bahwa suaminya bekerja di pertambangan. Suaminya itu pulang hanya di akhir pekan, sehingga Ryeowook sering kesepian karena tidak ada orang dewasa di dekatnya.

Kedua anak Ryeowook seheboh ibunya. Anak-anaknya itu bernama Yewook, lima tahun, dan Ryeosung, seumur Minhyun. Mereka segera menyayangi Minhyun dan sekarang sedang bermain-main di kamarnya di atas.

Ryeosung mengagumi rambut ikal Minhyun dan menepuk-nepuknya seperti boneka kesayangan.

"Aku tidak ingin mengecewakanmu, Ryeowook, tapi Kyuhyun masih di Seoul. Dia takkan tinggal di sini."

"Oh, aku tahu. Tapi pasti dia akan berkunjung, bukan? Bisa kau mintakan tanda tangannya untukku?"

"Aku yakin aku bisa mengusahakan pertemuanmu dengan dia kalau dia datang. Kalau kau mau," goda Sungmin.

"Kalau aku mau—" Ryeowook menertawakan dirinya sendiri ketika melihat cengiran usil Sungmin.

"Anaknya manis, ya?" kata Ryeowook setelah mereka tertawa. "Sayang dia tuna rungu. Aku bahkan tidak tahu! Dan kau gurunya. Kau pasti pandai, tahu segala macam bahasa isyarat itu."

"Kakakku tuna rungu. Aku belajar bahasa isyarat berbarengan dengan belajar bicara."

"Ada bedanya?"

"Yah, begitulah," jawab Sungmin sabar. "Bagaimana kalau kau dan anak-anak belajar bahasa isyarat. Kalian bisa datang kemari tiap siang dan aku akan mengajarkan kalian."

"Kau serius? Asyik sekali. Dengan begitu anak-anak akan bisa mengobrol-hm, maksudku—"

"Mengobrol tidak apa-apa," kata Sungmin.

"Oke, mengobrol dengan Minhyun juga."

"Anak-anakmu biasa tidur siang?"

"Aku pasti kerepotan kalau tidak."

Sungmin tertawa. "Bagaimana kalau tiap hari setelah tidur siang?"

"Wah, hebat sekali, Sungmin! Terima kasih." Ryeowook melompat turun dari bangku dan mengambil salah satu buku masak, membalik-balik halamannya. "Aku yakin kau tidak pernah makan makanan seenak ini. Kau sangat kurus! Kau beruntung. Setelah melahirkan, berat badanmu mungkin bakal turun. Menurutmu kulitmu jenis yang berbekas setelah kau hamil? Dokterku bilang kulitku akan tetap mulus. Aku kesal sekali ketika kenyataannya tidak begitu. Kau mungkin akan selalu mulus. Aku juga menyusui. Temanku mengatakan menyusui sangat bagus untuk bentuk tubuh. Dan memang benar waktu anak-anak masih menyusu. Setelah itu, hih!" Dia melambai dengan gerakan mengejek. "Menurutmu setelah kau punya anak nanti, tubuhmu akan melar atau tidak?" Ryeowook bertanya tanpa basa-basi.

Sungmin takjub Ryeowook bisa bicara sederas itu dan mengganti topik pembicaraan begitu cepat, dan dia mendengarkan dengan penuh kekaguman. Ketika menyadari Ryeowook bertanya, dia tersipu dan berkata tenang, "Kurasa aku tidak akan pernah punya anak."

"Oh, ya? Aku tidak bisa membayangkan tidak punya anak! Memangnya Kyuhyun tidak mau punya anak?"

"Apa?" seru Sungmin, dan menjatuhkan buku yang akan diletakkannya di rak di atas kompor.

"Dia mungkin tidak mau punya anak lagi karena Minhyun tuna rungu sejak lahir," kata Ryeowook bersimpati. "Kurasa kau tidak bisa menyalahkannya. Barangkali kalau kau bujuk dia, dia akan mau punya anak lagi."

"Ryeowook," Sungmin tergagap, menelan ludah, dan akhirnya bisa bicara lagi. "Aku..kami..Kyuhyun dan aku tidak... punya hubungan apa-apa. Aku tutor Minhyun. Cuma itu."

"Yang benar!" Mata bulat Ryeowook membelalak. "Wah, maafkan aku, Sungmin. Aku memang sering asal ngomong. Kupikir kalian... yah, kau tahu. Maksudku di zaman sekarang semua orang berbuat begitu. Aku tidak bermaksud jelek. Sungguh."

Ryeowook tampak begitu menyesal sehingga mau tidak mau Sungmin merasa kasihan padanya. "Tidak apa-apa. Ryeowook. Kurasa sebagian besar orang memang akan menganggap aneh tindakan Kyuhyun menyuruh kami tinggal di rumah ini."

"Tidak akan begitu aneh kalau kau tidak secantik ini."

Sungmin tertawa terbahak-bahak mendengarnya, tapi langsung teringat saat ia pertama kali bertemu Kyuhyun.

Kenangan itu begitu pedih sehingga hatinya serasa teriris, dan tawanya mendadak hilang. Kapankah dia berhenti merindukan laki-laki itu? Baru kemarin mereka berpisah, tapi rasanya sudah lama sekali. Dia lega waktu Ryeowook mengganti topik pembicaraan.


.

.

.


Hari-hari diisi dengan berbagai kegiatan rutin. Di pagi hari Sungmin dan Minhyun menghabiskan beberapa jam di ruang kelas. Sungmin senang anak itu secerdas perkiraannya sejak awal. Tiap hari membentangkan horison baru bagi Minhyun karena dia belajar berkomunikasi dengan gurunya, yang diyakininya sebagai orang paling hebat di dunia selain Kyuhyun.

Setiap hari Minhyun menanyakan pria itu dan tidak pernah melewatkan satu episode pun sinetronnya.

Ketika gambar Kyuhyun muncul di layar, dia berteriak

"Auwy, Auwy," dan dengan penuh semangat menunjuk Kyuhyun sambil mengisyaratkan namanya.

Sungmin juga sudah mengajarkan kata daddy, dan dia menghubungkan keduanya. Ketika belajar kata ibu, dia bertanya pada Sungmin apakah dia ibunya. Sungmin berusaha menjelaskan kata kematian dengan menunjukkan dua jangkrik, yang satu sudah mati dan yang lain masih hidup. Minhyun menangkap penjelasannya, tapi Sungmin tidak yakin dia paham ibunya sudah meninggal. Anak itu tidak memiliki gambaran yang mengasosiasikan kata itu dengan seseorang. Mungkin dia harus minta foto Chengmin pada Kyuhyun.

.

Mereka berjalan-jalan di kaki perbukitan yang dialiri kali jernih. Sungmin mengajari Minhyun bahasa isyarat untuk segala hal. Biasanya dia cuma perlu mengajarkannya sekali, dan anak itu dapat langsung mengingatnya, biarpun begitu mereka tetap berkali-kali mengulangi setiap isyarat.

Siang harinya Ryeowook dan anak-anaknya bergabung di kelas bahasa isyarat Minhyun. Saat itu merupakan saat yang menyenangkan, penuh tawa, dan anak-anak mengubah pelajaran jadi permainan. Tak lama kemudian mereka sudah berkomunikasi dengan Minhyun dengan keriangan dan kewajaran yang hanya dimiliki anak-anak.

"Lihat, Minhyun," teriak Sungmin ketika membuka kotak surat. Mereka menuruni bukit sampai kota dan pergi ke toko untuk belanja keperluan dapur. "Ada surat! Untuk siapa, ya?" Seperti biasa Sungmin mengucapkan yang diisyaratkannya.

"Min-hun," kata anak itu dengan omongan yang tidak jelas tapi menggemaskan. Dia menunjuk dirinya sendiri dan tersenyum lebar.

Sering menghabiskan waktu bersama-sama. Sungmin mensyukuri persahabatan yang tumbuh di antara mereka, walaupun latar belakang mereka begitu berbeda.

.

"Hei," kata Ryeowook, membuka sebungkus kue kering dan memasukkan sebuah ke mulut, "aku mau mengajak anak-anak menonton Sleeping Beauty siang nanti. Disney, kau tahu? Kau dan Minhyun mau ikut?"

"Tentu. Kedengarannya seru."

Baru kali ini Ryeowook ragu-ragu bicara. "Aku tidak tahu apakah anak tuna rungu bisa menonton film atau tidak."

"Tentu saja bisa," kata Sungmin. "Dia tidak dapat mendengar suaranya, tapi kan bisa menikmati cahaya, warna, dan gerakannya. Dia akan senang sekali."

Minhyun memang menikmati film itu. Kalau ada yang ingin ia tanyakan ia menyampaikannya pada Sungmin dengan bahasa isyarat, dan Sungmin menjawabnya. Dia betul-betul terpesona pada film kartun hebat itu. Ketika si nenek sihir berubah jadi naga, dia ketakutan; lalu naik ke pangkuan Sungmin dan memeluknya kuat-kuat. Sungmin menjelaskan bahwa naga itu cuma bohong-bohongan.

Penjelasan itu tampaknya memuaskannya untuk saat itu, tapi Sungmin memutuskan akan mencoba mengajarinya konsep sungguhan dan pura-pura pada pelajaran yang akan datang.

Hari itu penuh kegiatan dan Sungmin merasa lelah.

Film tadi memang menghabiskan waktu hampir sepanjang siang, tapi dia dan Ryeowook tidak langsung pulang.

Mereka menyusuri jalan-jalan kota Mokpo yang berpemandangan indah dengan diikuti ketiga anak itu. Mereka mampir di beberapa toko seni yang menarik minat Sungmin. Minhyun memikat semua orang yang melihatnya. Selama sebulan mereka tinggal di komunitas kecil itu, dia sudah berteman dengan beberapa pemilik toko. Semua orang tahu wanita cantik berambut hitam itu dan si anak kecil berambut hitam ikal yang selalu bersamanya.

Dia dan Ryeowook memutuskan untuk memanjakan anak-anak dengan mengizinkan mereka menikmati hamburger dan milk shake untuk makan malam, lalu terseok-seok mendaki bukit menuju rumah-rumah mereka dengan diganduli anak-anak yang sudah kelelahan dan rewel.

Dalam beberapa menit Minhyun sudah dimandikan dan ditidurkan di kamarnya. Sungmin merasa dia pantas berendam air hangat berlama-lama di bathtub mewah.

Ada suasana sensual dan memikat pada kamar mandi ini. Lantai dan dinding marmernya putih bersih, sangat kontras dengan tub-nya yang hitam pekat. Bak air dan pancurannya terbuat dari material yang sama, dan pintu pancurannya dari kaca bening, tidak buram seperti yang biasa dilihat Sungmin. Setiap kali mandi dia merasa tergelitik karena bisa melihat bayangannya di cermin-cermin yang berjajar di dinding seberang.

Ketika membenamkan diri dalam air tub yang mengepul-ngepul dan berbusa, dia kembali mengagumi ukurannya. Dalamnya paling tidak tiga kaki dan panjangnya tujuh kaki. Dia menyelonjorkan tubuh dan menikmati kehangatannya yang menenteramkan.

Selesai berendam, dia keramas dan membelitkan handuk kecil di kepala. Merasa lapar hamburger yang dimakannya tadi sudah habis karena berjalan kaki, dia cuma melilitkan handuk di tubuhnya, menyelipkan ujungnya di antara payudara, dan pergi ke bawah, sengaja tidak menyalakan satu lampu pun.

Di dapur dia meletakkan di piring beberapa kue yang dibuatnya bersama Minhyun tadi pagi, menuangkan segelas susu, dan meletakkannya di piring lain, dan berjalan melewati pintu ruang tamu.

Dia tak pernah tahu apa yang membuatnya melihat ke arah kursi santai. Namun-jantungnya serasa melompat ke tenggorokan, dan dia nyaris saja menjerit. Dia terlonjak begitu kaget sehingga susu tumpah dari tepi gelas, dan handuk yang menutupi tubuhnya merosot.

"Sebaiknya kau berhati-hati, kalau tidak, kau takkan punya rahasia lagi dariku," geram Kyuhyun.


.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Hallo ^^

Aku datang membawa BAB 4. Selamat menikmati ^^

Buat alit , jawaban pertanyaan kamu sudah ada di BAB 3 ya ^^

Oke, just it!

BIG THANKS TO

Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , nova , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , kyukyu , ikakyuminss , chocoyaa & Guest.

(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 3 dan Reviewer di BAB 1 dan 2 yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dan pengetikan nama, mohon maaf ^^)

Once again! Thank you ^^