(WARNING : Terdapat Q&A dibawah. Mohon dibaca ^^)


137darkpinku Present

KYUMIN FANFICTION

.

Eloquent Silence

.

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan

Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.

.

Don't Like? Just Don't Read ^^

.

.

enJOY it !

.

.


Bab Lima

Sungmin ingin percaya bahwa jantungnya berdentam-dentam dan kaki serta tangannya lemas karena perasaan takut. Tapi ketakutan cuma salah satu penyebab. Penyebab lain, lebih kuat dan berpengaruh, adalah kehadiran Cho Kyuhyun.

Kaki pria itu terulur di depannya sementara dia duduk santai di kursi.

Dia bangkit dari kursi pelan-pelan, malas-malasan, tidak bergegas. Pria itu memakai jins dan jaket denim.

Pria itu maju bagai serigala yang siap menerkam dan berhenti hanya beberapa inci dari Sungmin. Kedekatannya mendebarkan jantung. Tak sadar Sungmin menarik napas dalam-dalam, dan ketika dia mengembuskannya, handuknya turun sedikit lagi. Dia tidak bisa meraih dan menahannya. Satu tangan memegang piring kue, tangan yang lain gelas susu. Jika dia berjalan ke meja untuk meletakkan keduanya, dia takut handuknya malah akan lepas dan jatuh ke bawah.

Kyuhyun menyadari kesulitannya dan dia tersenyum jail. "Wah, aku harus berbuat apa, ya, nona?" ia bertanya geli. "Kalau kuambil kuenya, kau pasti akan menumpahkan susu karena buru-buru menyambar handuk. Kalau kuambil susunya, kue-kue itu akan meluncur dari piring, dan takkan bisa dimakan lagi. Sayang sekali, baunya enak."

Dia membungkuk dan membaui kue-kue itu. Kepalanya sangat dekat dengan kepala Sungmin, dan harum colognenya mengalahkan aroma sedap kue-kue dan jauh lebih menggiurkan.

Pria itu menegakkan tubuh dan maju selangkah. "Di lain pihak aku bisa mengambil handuk itu dan menyelesaikan semua masalah kita," dia berkata serak.

Napas Sungmin tertahan di tenggorokan ketika tangan Kyuhyun bergerak ke belahan dadanya, tempat ujung handuk diselipkan sekadarnya. Pria itu menekan bagian atas payudaranya dengan telunjuk. "Tahukah kau," suaranya cuma bisikan, "bahwa kau punya lima bintik persis di sini?" Dia menunjukkan titik itu dengan mengusapkan jarinya di kulit Sungmin. "Dan tempatnya begitu nakal dan bagus."

Sungmin terpesona mendengar nada merayu dalam suara pria itu. Napas harum pria itu berembus di wajahnya, seolah memberinya oksigen. Sungmin ingin menghirup napas itu ke dalam tubuhnya sendiri. Jari-jari yang mengusap-usap itu terus bergerak ke balik handuk.

Ketika ia merasakan tekanannya di bagian lembut tubuhnya, api gairah yang sejak tadi membakarnya langsung padam. Kemarahan mengalahkan nafsu.

Dia cepat-cepat mundur dan mendesis, "Kau membuatku takut setengah mati! Kenapa tidak kau beritahu aku tentang kedatanganmu?"

"Yah, aku akan melakukannya, tapi kau sedang mandi. Kau mau aku menyerbu kamar mandi untuk memberitahumu tentang kedatanganku? Kau tak akan punya handuk untuk menutupi tubuhmu," ejek Kyuhyun sementara matanya menjelajahi tubuh Sungmin dengan kurang ajar. "Aku tidak tahu kau berjalan ke sana kemari di rumahku seperti ini. Kukira gadis baik-baik macam kau setelah mandi selalu mengenakan mantel kamar mandi atau sesuatu yang lebih sopan."

Sungmin tidak memedulikan kata-kata pria itu dan kembali ke pertanyaannya. "B-bagaimana kau tahu aku sedang mandi?"

Kyuhyun mengangkat alis dengan penuh arti. "Nah, menurutmu sendiri bagaimana?" dia bertanya dengan mata berkilat geli. Sungmin terkesiap dan merah padam.

"Aku mendengar suara air mengalir," Kyuhyun berkata santai.

Reaksi Sungmin persis seperti dugaannya. Wanita itu mengentakkan kaki dengan marah, dan dia tertawa ketika Sungmin berteriak tertahan. Wanita itu sesaat lupa soal handuknya, tapi diingatkan tentang keadaannya yang gawat ketika merasa handuk itu makin melorot di payudaranya sampai nyaris lepas.

"Tolong berhentilah tertawa dan ambil ini dari tanganku. Aku kedinginan."

"Tidak heran. Berjalan-jalan telanjang begitu," goda Kyuhyun, tapi ia mengambil juga susu dan kuenya. Sungmin buru-buru mencengkeram handuk dengan tangan terkepal. Ingin sekali dia meninju mulut mencibir laki-laki itu.

"Tuan Cho, aku mau pergi sebentar, setelah itu aku ingin tahu untuk apa kau kemari."

"Sebaiknya kau berhati-hati kalau bicara denganku," Kyuhyun memperingatkan. "Kau masih harus naik tangga. Handuk itu tidak menutupi semuanya. Aku bisa bersikap sopan dengan memalingkan kepala atau aku bisa berdiri di kaki tang—"

"Tuan Cho, maukah kau mengizinkan aku pergi supaya aku bisa berpakaian lebih pantas sebelum ditanyai orangtua muridku?" Sungmin bertanya dengan suara semanis madu.

"Tentu, Nona Lee. Aku akan menunggumu di dapur."

"Aku takkan lama." Tanpa menunggu untuk melihat apakah pria itu memandang ke atas tangga atau tidak, dia tidak ingin tahu. Sungmin berlari ke atas dan masuk ke kamar.


.

.

.


Kakinya seolah sudah berubah jadi jeli ketika Sungmin menuruni tangga. Ketika dia masuk dapur, Kyuhyun sedang berdiri di depan kompor, membuat telur orak-arik. Kopi menggelegak di alat pembuat kopi, dan ada dua iris roti di panggangan.

"Aku lapar. Kau ingin sesuatu?" tanya Kyuhyun.

"Ya, aku ingin tahu apa yang kau lakukan di sini."

Kyuhyun menuangkan telur dari wajan ke piring yang sudah tersedia. Dia berkacak pinggang dan memandang Sungmin beberapa detik sebelum berjalan melewatinya ketika menuju ruang tamu. Sungmin mengikuti, kesal dan bingung.

Pria itu pergi ke pintu depan, membukanya, dan melewatinya. Memandang ke atas pintu, ia berkata, "Satu tiga tujuh. Sudah kuduga. Ini rumahku." Dia masuk kembali dan menutup pintu, tidak memedulikan kemarahan Sungmin ketika dia berjalan santai ke dapur.

"Lucu sekali," kata Sungmin sambil membuntutinya.

"Kupikir juga begitu," Kyuhyun menoleh ke belakang sambil membuka pintu kulkas. "Kita punya keju?"

"Kita?" tanya Sungmin, menekankan kata itu.

"Oke. Kau punya keju, Nona Lee?"

Sungmin tidak sanggup menatap mata menggoda yang memandangnya dari atas pintu kulkas. "Di rak paling bawah," gumamnya, memandang kakinya yang

telanjang. Apa dia tadi lupa memakai sepatu?

"Bagaimana kalau selai stroberi?"

Sungmin betul-betul tidak mengerti. "Apa?" dia bertanya tak sabar.

"Kita…maaf, kau punya selai anggur, apricot, dan stroberi. Menurutmu yang stroberi lebih enak?"

Cukup sudah.

"Bisakah kau berhenti berbasa-basi, menyelesaikan makananmu, dan duduk supaya aku bisa bicara denganmu?"

Sungmin mengetuk-ngetukkan kaki dengan sebal dan bersidekap. Saat itulah dia sadar tadi tidak sempat juga memakai pakaian dalam.

"Oke, oke," kata pria itu ketus, menaruh piring di meja.

"Kau tidak pernah ramah, ya?" Dia menuangkan secangkir kopi dan bertanya pada Sungmin dengan mengangkat sebelah alis 'apakah dia juga mau'. Sungmin menggeleng.

Setelah pria itu duduk dan mulai melahap makanannya, tanpa berusaha memulai percakapan, Sungmin mengempaskan diri kuat-kuat ke kursi di seberangnya.

Kyuhyun bahkan tidak memandangnya. Yah, pikir Sungmin 'aku tidak sudi bicara duluan'.

Sesudah piringnya licin, Kyuhyun membersihkan mulut dengan serbet dan berlama-lama meminum kopi yang sudah dingin.

"Apa rumah ini memuaskan?" dia bertanya.

Sungmin tidak menyangka dia memulai dengan pembicaraan tentang rumah. "Ya," jawabnya singkat.

Ketika Kyuhyun mengangkat alis dengan kesal, sikapnya agak melunak. Bagaimanapun, pria ini orangtua muridnya. "Lebih dari memuaskan. Rumah ini indah, dan kau tahu itu. Mokpo lingkungan yang sempurna untuk Minhyun. Dia mempelajari begitu banyak hal, dan orang-orang sini baik dan tidak terburu-buru."

"Bagaimana kabarnya, Sungmin?" Semua godaan dan kelakarnya telah berhenti. Dia serius. Sungmin berusaha mengabaikan sensasi yang menggelitik dirinya ketika pria itu mengucapkan namanya. Dia berusaha sama kerasnya untuk tidak terkagum-kagum memandangi pria itu.

Sungmin mengalihkan pandangan dan menjawab dengan sungguh-sungguh, "Dia baik-baik saja, Kyuhyun. Betul. Dia pintar dan cerdas. Pelajarannya berjalan lebih cepat daripada yang kukira. Kemajuan kemampuan bicaranya masih sangat lamban, tapi ada perubahan. Perbendaharaan kata dalam bahasa isyaratnya dan penguasaannya empat kali lipat dari sejak kami meninggalkan Seoul." Ia lalu tersenyum dan bertanya, "Kabarmu sendiri bagaimana?"

Pria itu mengisyaratkan bahwa dia ikut kursus tiga malam seminggu dan belajar secepat yang dia bisa.

Sungmin tertawa. "Bagus sekali! Kau dan Minhyun bisa mendiskusikan segala macam hal sekarang."

"Kau merindukan Seoul?" tanya Kyuhyun dengan kening berkerut.

"Tidak," Sungmin menjawab perlahan. Aku cuma merindukanmu, pikirnya. Ketika melihat ekspresi skeptis Kyuhyun , dia menambahkan, "Kita punya tetangga yang sangat baik yang ternyata penggemar beratmu dan mungkin akan menyerbu rumah ini kalau tahu kau ada di sini. Dia memiliki dua anak yang senang bermain dengan Minhyun."

Kyuhyun tampak terkejut dan bertanya, "Apa mereka, maksudku, mereka tidak—" Dia mencari kata-kata yang tepat, Sungmin membantunya.

"Apakah mereka menganggapnya aneh? Tidak, Kyuhyun," dia menenangkan pria itu. "Mereka memperlakukannya sebagai teman bermain biasa. Mereka bertengkar dan berbaikan persis seperti anak-anak lain. Ryeowook dan anak-anak itu sedang belajar bahasa isyarat. Mereka sekarang sudah cukup lancar berbicara dengan Minhyun."

"Baguslah," kata Kyuhyun, mengangguk ke cangkir kopi.

Mengharukan melihatnya begitu lega. Sungmin menahan keinginan untuk mengulurkan tangan dan menyentuh rambut cokelat ikal milik Kyuhyun.

Kerut-kerut halus di sekeliling matanya tampak makin nyata, seakan sudah beberapa lama dia tidak bisa tidur nyenyak. Apakah dia begitu merindukan anaknya? Ataukah kedatangannya ke Mokpo mengingatkannya pada saat-saat yang dihabiskannya di sini bersama Chengmin? Pikiran menyakitkan itu nyaris tak tertahankan. Sungmin dapat merasakan wajahnya menunjukkan emosinya, sehingga dia cepat-cepat menyembunyikannya.

"Berapa lama kau akan tinggal di sini?" tanyanya.

Pria itu mendongak dan memandangnya sesaat sebelum berdiri dan berjalan ke teko kopi untuk mengisi cangkirnya lagi. "Tidak bisa dipastikan," kata Kyuhyun.

Sungmin memandangnya kaget. Apa maksudnya dengan tidak bisa dipastikan? "Aku tidak mengerti," katanya.

Kyuhyun minum kopi seteguk dan berbalik untuk menatapnya. "Kepalaku sakit sekali. Maukah kau memijat leherku?"

Pergantian topik pembicaraan yang secepat itu betul-betul mengejutkan Sungmin. Secara refleks dia mengangguk dan pergi ke belakang kursi Kyuhyun ketika pria itu duduk.

Dengan hati-hati dia meletakkan tangan di bahunya dekat leher dan memijat lembut otot-otot tegang di balik kemeja katun yang menutupinya.

"Ahh, terima kasih. Enak sekali." Kyuhyun menyesap kopinya lagi. Ketika mulai berbicara, dia terdengar merenung. "Aku bosan dengan omong kosong yang harus kulakukan dan kuucapkan di drama. Aku muak. Selama tujuh tahun aku menikah empat kali dan sangat sering berselingkuh, dan mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan ingatanku lenyap. Aku hampir menikahi adik perempuan, yang telah lama hilang sebelum kami mengetahui hubungan darah kami. Putraku meninggal karena leukemia, dan izin praktekku dicabut karena putri seorang pria kaya menuduhku menggugurkan janin yang menurutnya adalah anakku. Aku hampir muntah dengan karakter Dokter Marcuss. Tujuh tahun melakonkan skenario seperti itu sudah cukup." Jelasnya.

"Maksudmu kau mengundurkan diri?" Sungmin bertanya kaget, dan seketika berhenti memijat lehernya.

"Tidak juga. Tolong jangan berhenti." Setelah jari-jarinya kembali bekerja, Kyuhyun melanjutkan, "Kuberitahu Sutradara bahwa aku ingin pergi beberapa lama untuk menjernihkan pikiran. Selama ini aku cuma memperoleh libur beberapa hari, jadi aku berhak cuti beberapa minggu. Hari Rabu minggu ini, kami membuat episode di mana kepala Dokter Marcuss dipukul penodong waktu dia dan kekasihnya sedang berjalan-jalan di Central Park. Sang dokter koma. Kekasihnya diperkosa, jadi untuk sementara waktu semua perhatian akan terpusat padanya. Wanita itu pasti akan jatuh cinta setengah mati pada dokter lain," dia berkomentar sambil mendengus sebal.

"Mereka membungkus kepalaku dengan perban, membaringkanku di tempat tidur rumah sakit dan mengambil gambarku tergeletak tak bergerak di sana sepanjang beberapa menit. Setiap adegan yang berkaitan dengan Dokter Marcuss, mereka tinggal memutar rekaman itu. Dan sementara mereka melakukannya, aku di sini bersama Minhyun menikmati musim gugur di Mokpo."

"Kau bisa berbuat begitu?" Sungmin cuma samar-samar tahu kekuatan jaringan televisi dan mengira Kyuhyun mempertaruhkan kariernya.

Pria itu cuma mengangkat bahu. Ketika berbuat begitu, kepalanya rebah ke payudara empuk Sungmin. Jari-jari Sungmin menyusuri rahang pria itu, tiba di pelipis, dan memijatnya dengan ritmis. Kesannya Sungmin yang sengaja menyandarkan kepala Kyuhyun di dadanya.

"Selama beberapa waktu," kata Kyuhyun, akhirnya menjawab pertanyaannya. "Dengan segala kerendahan hati aku membuat drama itu bertahan selama bertahun-tahun. Aku kenal beberapa orang berpengaruh. Lagi pula, semua toh tahu betapa temperamentalnya sang aktor." Dia bercanda, tapi kata-kata itu bagai menampar wajah Sungmin. Ya, aku tahu, pikirnya.

Untuk mengganti topik pembicaraan dia bertanya, "Kau akan tinggal di mana?"

Kyuhyun tertawa dan mencondongkan kepala ke belakang untuk melihatnya, gerakan yang menyebabkan napas Sungmin tercekat di tenggorokan. Apakah Kyuhyun sadar kepalanya menekan dada Sungmin?

"Di mana aku akan tinggal?" ejeknya. "Yah, kamar luas di lantai atas itu kamarku. Yang memiliki tempat tidur besar dan cermin-cermin di pintu lemari."

Sungmin melompat menjauhinya seolah kena tembak.

Suasana lembut hatinya beberapa menit yang lalu lenyap sama sekali. "Tidak mungkin kau berniat tinggal di sini!"

"Yang jelas aku tidak bakal menginap di hotel , Nona Lee," kata Kyuhyun sinis. "Tentu saja, aku akan tinggal di sini."

"Tapi tidak bisa. Aku kan tinggal di sini. Kita akan—" Sungmin menjilat bibir dengan gugup dan menggenggam kedua tangannya. "Pokoknya tidak bisa." Perkataannya terdengar kekanak-kanakan, bahkan di telinganya sendiri.

"Apa kau tadi mau bilang bahwa kita akan tinggal serumah?" Kyuhyun nyaris tidak bisa menyembunyikan nada geli dalam suaranya. "Ya, kurasa. Bisa dibilang begitulah."

"Itu mustahili" Sungmin berteriak.

"Kenapa?" tanya Kyuhyun pura-pura tidak tahu. Kemudian matanya menyipit mencurigakan. "Nona Lee, aku terkejut padamu. Kau tidak bermaksud menimbulkan konotasi tak pantas pada situasi ini, kan? Kau tidak akan memanfaatkan aku, bukan? Apa aku dalam situasi berbahaya?"

"Tidak. Jelas tidak!" seru Sungmin dingin. "Paling tidak bukan karena aku. Tapi kau bersiap-siap saja dimasukkan ke rumah sakit jiwa kalau kaupikir aku mau tetap tinggal di rumah ini selama kau ada. Kalau kau di sini, aku akan pergi"

"Tidak, tidak akan," katanya yakin sambil berdiri dan meregangkan otot-otot bahu yang barusan dipijat Sungmin.

"Minhyun membutuhkanmu, dan kau terlalu menyayanginya sehingga takkan tega meninggalkannya. Ngomong-ngomong, aku ingin bertemu dia. Dia tidur di kamar kecil di atas?"

Dengan kesombongan khasnya, Kyuhyun mengabaikan argumen-argumen Sungmin dan berjalan tenang keluar dapur, meninggalkannya berdiri di tengah ruangan, menahan kemarahan menggelegak.

Kyuhyun benar, tentu saja. Dia takkan mau meninggalkan Minhyun. Dia baru saja memperoleh kepercayaan utuh dan kasih sayang anak itu. Jika dia pergi, Minhyun mungkin akan mengalami kekacauan psikologis yang tidak bisa diperbaiki. Vital bagi perkembangan dan pendidikan anak itu jika Sungmin tinggal bersamanya dan melanjutkan kegiatan mereka selama ini.

Tapi dia tidak bisa tinggal di sini dengan Kyuhyun! Dia bisa tetap bersikap dingin terhadap laki-laki mana pun. Tapi tinggal di bawah atap yang sama dengan Kyuhyun, yang sanggup meluluhkannya dengan satu sentuhan, satu tatapan, sama sekali tak mungkin. Kesombongan Kyuhyun yang menjengkelkan akan terus-menerus membuatnya dongkol.

Siksaan macam apa yang akan dihadapinya jika tetap tinggal di sini?

Pelan-pelan dia menaiki tangga dan masuk ke kamar Minhyun, di mana lampu redup memberikan penerangan lembut. Kyuhyun duduk di tempat tidur, memeluk Minhyun erat-erat. Dia mengayun-ayunnya, menepuk-nepuk punggungnya.

Sungmin menjauh dan masuk ke kamar yang sekarang akan ditempati Kyuhyun. Dia mulai mengumpulkan beberapa benda untuk dibawa ke bawah.

"Apa yang kau lakukan?" Suara dalam itu mengejutkannya. Dia berbalik dan melihat pria itu bersandar di ambang pintu.

Sungmin menghindari tatapan dan pertanyaannya ketika bertanya, "Dia sudah tidur lagi?"

"Yeah," pria itu terkekeh. "Kurasa dia tidak betul-betul bangun, tapi sekarang dia tahu aku di sini."

Sungmin mengangguk dan berpaling untuk mengambil pakaian-pakaian yang diletakkannya di tempat tidur.

"Apa yang kau lakukan?" ulang pria itu.

"Aku tidak mau merecokimu," jawab Sungmin. "Kalau kau bersedia menunggu sampai besok pagi untuk membongkar tasmu, saat itu aku akan memindahkan barang-barangku ke bawah. Aku sekarang cuma mengangkut apa-apa yang kubutuhkan."

"Tidak perlu. Biarkan semua tetap di tempatnya," kata Kyuhyun tegas.

"Tapi sudah kubilang—"

"Aku akan tidur di ruangan bawah. Masa kau harus pindah lagi."

"Tapi ini kan kamarmu, Kyuhyun. Aku akan merasa tidak enak menempatinya, karena kamar yang satu lagi begitu kecil."

"Aku akan menyesuaikan diri. Lagi pula," kata Kyuhyun, berjalan memasuki kamar, "aku senang memikirkan kau ada di kamarku. Di tempat tidurku." Suaranya berubah jadi serak ketika dia makin dekat. Suaranya seolah mengatakan dia juga akan tidur di tempat tidur itu.

Darah Sungmin bergolak bagai lava cair, dan kakinya nyaris tak mampu menopang tubuhnya ketika pria itu mengulurkan kedua tangannya dan memegang kepalanya, menyusupkan jari-jari ke dalam rambut Sungmin.

"Rambutmu sudah hampir kering," bisik Kyuhyun. "Aku juga suka waktu rambutmu dalam keadaan basah." Dia membelai pipinya dengan bibirnya. "Jangan kau kira kemeja gombrong itu bisa menyembunyikan bentuk tubuhmu. Aku tahu persis bagaimana bentuk payudaramu karena telah melihatnya hanya ditutupi handuk basah yang tak seberapa lebar itu."

Kemudian bibirnya mengulum bibir Sungmin, bagai pemain musik menyelaraskan alat musiknya sebelum konser, mempersiapkannya sebelum dinikmatinya secara total.

Ketika dia akhirnya melumatnya, bibir Sungmin sudah siap, dan menyambut ciuman yang menggetarkan jiwanya itu.

Tangan Kyuhyun perlahan-lahan menyusuri punggung Sungmin sampai ke bawah. Berhenti sebentar untuk memijat, tangannya menyelinap ke pinggul Sungmin dan menariknya ke dekatnya. Sungmin merasakan gairah Kyuhyun bangkit. Ia membalas dengan kerinduan alamiah yang sama. Ia menggesekkan tubuhnya dan mendengar pria itu mendesah nikmat.

Ia melepaskan sikap hati-hatinya, dan membalas ciuman Kyuhyun dengan gairah berkobar-kobar. Bibirnya seolah tak pernah puas. Ketika pria itu mengangkat kepala untuk membelai pipinya dengan tangannya yang sebelah lagi, Sungmin berjinjit dan, dengan ujung lidah, menyapu bibir atas pria itu,

"Sungmin," erangnya, sebelum mencium bibir Sungmin berulang-ulang bagai tak terpuaskan.

Tangan Kyuhyun kemudian mengelus-elus tengkuk Sungmin dengan jari-jari yang sensitif. Lalu jari-jari itu bergerak turun sampai dia menemukan kancing pertama kemeja Sungmin. Dia membukanya dengan lihai dan mengusap bagian atas payudaranya, yang makin menonjol karena tertekan dadanya. Jari-jari pria itu bagai beludru hangat terasa di kulit Sungmin yang semulus satin. Sambil melumat bibir Sungmin, Kyuhyun membuka kancing kedua semudah yang pertama.

Sungmin mendesahkan namanya waktu Kyuhyun membenamkan wajah di dasar leher Sungmin dan mulai membelai payudaranya. Ia membelai dan menggelitiknya, sampai payudaranya menggelenyar dan menimbulkan kenikmatan yang menyebar ke tubuh Sungmin.

Kyuhyun mengelus lagi dan mengeluarkannya dari kemeja Sungmin. "Aku mengagumi bintik-bintik ini," bisiknya dan menundukkan kepala. Ciumannya membuat kepala Sungmin serasa berputar, dan dia mencengkeram rambut pria itu, menariknya makin dekat.

Dia tak ingin keluar dan lautan kenikmatan ini. Dia ingin tinggal di dalamnya sampai mencapai puncak kenikmatan bercinta dengan Kyuhyun.

Seolah membaca pikirannya, pria itu menjauhkan bibirnya dari payudaranya yang mendambakan sentuhannya.

"Sungmin, biarkan aku merasakan manisnya tubuhmu," dia memohon. "Sekarang. Kumohon. Aku membutuhkan kelembutanmu. Aku menginginkanmu."

Kata-kata pria itu membuyarkan belitan sensualitas yang dirajutnya di sekeliling Sungmin dan menusuk otaknya bagai sinar laser.

Membutuhkan.

Menginginkan.

Ya, Kyuhyun memang menginginkannya. Reaksi fisiknya terhadap pelukan mereka sangat nyata ketika dia memeluknya seerat ini.

Kalau begitu, mengapa Sungmin ragu untuk menyerah seutuhnya?

Pengakuan bahwa Kyuhyun tidak menginginkan keterlibatan emosional tidak perlu diragukan lagi. Yang diinginkan dan dibutuhkannya bukanlah Lee Sungmin sebagai manusia, sebagai sosok berperasaan. Kyuhyun menginginkan tubuhnya dan hanya itu. Dia hanya membutuhkan penyaluran hasratnya yang tidak bisa dibendung.

Jika Sungmin menurutinya, kebutuhan Kyuhyun akan terpenuhi. Tapi yang tersalurkan bukanlah pikiran atau perasaan pria itu.

Cho Kyuhyun tidak mencintainya.

Pria itu masih mencintai istrinya. Ketika bicara tentang istrinya, perasaan kehilangannya begitu jelas sehingga membuat orang yang menyaksikannya jadi terenyuh dan tidak enak hati.

Meskipun sangat menginginkannya, Sungmin tidak dapat menerimanya. Tapi bagaimana dia dapat menolaknya sekarang?

Gairahnya sudah tidak dapat disembunyikan lagi. Bisa dibilang Kyuhyun telah memeluknya dalam keadaan telanjang dan pasrah. Jari-jari ahli pria itu tengah membuka kancing-kancing kemejanya. Dia takkan percaya jika diberitahu bahwa Sungmin mendadak sadar dan merasa bersalah. Satu-satunya jalan adalah berpura-pura marah. Itu akan dipercayanya.

Dan Sungmin memang marah. Dia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menerima pria itu ketika tubuhnya mendambakannya. Tapi dia sudah pernah merasakan pengalaman berbahaya itu. Jungmo memanfaatkannya secara seksual sebagai obat bagi penderitaannya, kemarahannya.

Bagaimana dengan penderitaan dan kemarahannya sendiri?

Siapa yang akan meringankan kesengsaraannya?

Dia tidak mau melakukan kesalahan yang sama.

"Kyuhyun, Kyuhyun," Sungmin berkata dengan susah payah dan mengerahkan tenaganya yang masih tersisa untuk mendorong laki-laki itu. "Tidak."

Mata pria itu bercahaya karena gairah, dan dia butuh waktu sesaat untuk menjernihkan pikiran dan menyadari bahwa Sungmin melarangnya mengakhiri siksaan fisik ini.

"Ada apa?" tanyanya, masih terpana dengan penolakan tak terduga wanita itu.

Sungmin mengancingkan kemeja dengan gemetar ketika menjauh dari pria itu dan memunggunginya. "Aku tidak bisa, aku tidak mau tidur denganmu," katanya tak jelas.

"Sedikit pun aku tidak percaya," kata Kyuhyun menyerbunya.

Sungmin menghindar dan mengangkat kedua tangannya sehingga pria itu berhenti. "Jangan sentuh aku lagi. Aku tidak main-main," katanya cepat-cepat.

Mata Kyuhyun mengilat bagai es. Dia mengerti sekarang. "Dan aku juga tidak main-main," geramnya. "Kita saling menginginkan."

"Aku tidak," bantah Sungmin sengit.

"Tubuhmu bilang sebaliknya, Sungmin," kata Kyuhyun dengan ketenangan menakjubkan. "Aku bisa merasakan betapa kau sangat menginginkan aku. Tanganku telah membuatmu mendidih, dan mulutku bisa berbuat lebih dari itu."

"Tidak—"

"Dan aku ingin berbuat lebih dari itu. Aku ingin melakukan segala hal. Aku ingin—"

"Seks!" potong Sungmin dengan teriakan yang diharapkannya bisa mengalahkan nada sensual pria itu. "Aku tidak suka kau mengira aku akan pasrah menyerahkan diriku padamu padahal kau terang-terangan menunjukkan cuma menginginkan seks dari wanita." Dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali.

"Sudah kubilang aku tidak menginginkan keterlibatan emosional. Itu tidak berarti kalau aku memeluk wanita cantik dan menggairahkan aku tidak ingin bercinta dengannya."

"Cinta!" teriak Sungmin. "Kau bilang kau mencintai istrimu—"

"Jangan bawa-bawa istriku," geram Kyuhyun. Reaksinya begitu garang sehingga Sungmin mundur selangkah.

Mestinya dia tidak menodai kenangannya tentang istrinya dengan melibatkan wanita itu dalam pembicaraan tidak senonoh ini. Pikiran tersebut membuatnya marah, dan dia mengangkat dagu dengan gaya menantang.

"Aku bukan salah satu penggemar sintingmu," kata Sungmin pedas. "Aku pegawaimu dan kuharap kau memperlakukan aku sebagai pegawaimu." Dia berharap kata-katanya terdengar lebih meyakinkan daripada perasaannya.

Sekarang pun, ketika rambut pria itu berantakan dan pakaiannya kusut karena gerakan tangannya, dia ingin berlari mendatanginya dan memohon agar dicium lagi. Pria itu tidak boleh mengetahui pikirannya barusan, jadi ia berusaha tidak memperlihatkan hal itu di wajahnya.

"Baik," kata Kyuhyun kaku. "Dokter Marcuss pun tidak akan sampai memperkosa, dan Cho Kyuhyun tidak perlu berbuat begitu." Dia berbalik dan berjalan cepat ke pintu.

Sebelum melewati pintu, dia memandang wanita itu lagi sambil tersenyum mencemooh. "Jangan merasa menang dulu. Kau menginginkan aku, dan aku pasti akan mendapatkanmu. Ini cuma masalah waktu."

Dia pun menutup pintu kuat-kuat.


.

.

.

END

.

.

.

Just kidding XD

.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Halo ^^

Aku kembali membawa BAB 5. Di BAB sebelumnya banyak banget yang bertanya. Jadi sebelum fikiran kalian melenceng kemana-mana, aku akan menjawab beberapa pertanyaan.

Q : Chengmin mirip Sungmin?

A : Chengmin. Aku pakai nama China Sungmin untuk jadi istri Kyuhyun, tapi disini si Chengmin ini tidak ada kemiripan apapun dengan Sungmin.

Q : Sungmin naked?

A : Aduhhh, anak Joyers ketahuan banget ya mesumnya. Sungmin gak naked kok, itu handuknya cuma merosot XD

Q : Ada Ryeowook, ada Yesung?

A : Tokoh suaminya Ryeowook udah pasti Yesung. Tapi mohon maaf, saya cuma pakai namanya saja. Orangnya saya simpen dirumah XD

Q : Minhyun gak tau kalau Kyuhyun ayahnya?

A : Minhyun tau Kyuhyun itu ayahnya, tapi dia belum mengerti hubungan kekeluargaan. Nanti diajarin sama Sungmin biar dia ngerti.

Q : Jadwal update?

A : Aku gak punya jadwal update, kalau mood sedang baik dan kuota banyak serta lancar, saya pasti update XD

Q : Cerita pernikahan Sungmin dan Jungmo?

A : Oke, sebenernya masa lalu pernikahan mereka ada di novel. Tapi aku gak tulis, karena gak terlalu penting XD

Tapi biar pada tau aja, aku ringkas ceritanya.

Sungmin dan Jungmo itu sepasang kekasih. Jungmo itu seorang musisi yang butuh seseorang untuk mendengarkan musiknya. Akhirnya dia minta Sungmin tinggal bareng dia. Tapi Sungmin gak mau sebelum mereka menikah. Akhirnya mereka menikah hanya di kantor catatan sipil, tanpa orang tua mereka. Jungmo itu orang yang sangat ambisius. Suatu saat dua depresi karena lagunya ditolak produser, dan dia melimpahkan rasa depresinya ke Sungmin. Jungmo menyalurkan hasratnya ke Sungmin tanpa kasih sayang. Akhirnya Sungmin memilih pergi tanpa ada perceraian. Beberapa bulan kemudian Jungmo meninggal karena overdosis obat penenang.

Begitulah cerita singkatnya, ngga begitu penting kan? Kkk~ karena yang penting cuma cerita cinta Kyuhyun dan Sungmin ^^

Tentang kata-kata Sungmin yang tidak merasa saling memiliki dengan Jungmo itu, karena mereka tidak saling mencintai lagi setelah Jungmo depresi.

Oke segitu saja penjelasan dari saya. And, I just wanna say….

BIG THANKS TO

Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , kyukyu , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil , Fitri & Guest.

(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 4 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)

Once again! Thank you ^^