137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
.
Eloquent Silence
.
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.
.
Don't Like? Just Don't Read ^^
.
.
enJOY it !
.
.
Bab Enam
Berani-beraninya dia bicara seperti itu padaku! Pikir Sungmin berulang kali.
Dia mengira kemarahannya akibat kata-kata perpisahan Kyuhyun itu akan berkurang setelah tidur semalaman, namun ternyata ketika dia bangun, amarahnya malah bertambah. Pria itu memanfaatkan kondisinya yang rapuh dan tidak siap karena kepergiannya yang mendadak. Dia memikat, amat sangat tampan, gagah, dan terbiasa dengan para wanita yang bertekuk lutut di hadapannya.
Yah, dia akan segera tahu bahwa Lee Sungmin kebal terhadap pesonanya. Setelah neraka membeku barulah Sungmin mau tidur seranjang dengan Cho Kyuhyun.
Sungmin memasang tampang muram ketika menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Lirikan selintas ke dalam kamar Minhyun membenarkan ramalannya bahwa gadis kecil itu pasti sudah bangun dan bersama sang ayah.
Dia mendorong pintu ruang bar yang memisahkan dapur dari ruang makan dan berjalan dengan gaya acuh tak acuh ke ruangan yang bermandikan cahaya matahari tersebut. Pemandangan yang menyambutnya begitu tenang dan menyejukkan sehingga kemarahannya langsung lenyap, dan kekesalannya pelan-pelan mencair.
"Selamat pagi," sapa Kyuhyun sambil tangannya memperagakan bahasa isyarat. "Minhyun sarapan sereal, dan aku makan roti panggang dan kopi. Kau mau apa?"
Ya Tuhan, dia tampan sekali, pikir Sungmin. Rambutnya berkilau karena cahaya perak sinar matahari yang menerobos jendela. Lengan kemeja sportnya digulung sampai siku dan ujung kemejanya mencuat dari jins.
Ancaman yang dilihatnya di wajah pria itu ketika dia meninggalkannya tadi malam telah digantikan senyum cerah yang bahkan lebih memperdaya.
"Selamat pagi," balas Sungmin, lalu membungkuk untuk memeluk Minhyun yang asyik menyendokkan sereal ke dalam mulut.
Anak itu menoleh pada Sungmin dengan penuh semangat dan berkata dalam bahasa isyarat, 'Ada Daddy, Sungmin'.
"Aku tahu," jawab Sungmin. "Apa kau merasa sedih?"
"Ahniiiii," kata Minhyun. Dia senang mengucapkan kata itu dan kata itu mudah diucapkan, jadi dia memanjangkan pengucapannya.
"Apa kau marah?" tanya Sungmin. Beberapa hari yang lalu mereka belajar tentang emosi-emosi dasar, jadi Sungmin sekarang menguji muridnya.
Minhyun mengikik dan berkata, "Ahniiiii."
"Kalau begitu bagaimana perasaanmu karena ada Daddy?"
Minhyun diam sebentar dan mengingat-ingat bahasa isyarat yang benar. 'Aku bahagia,' katanya, dan tertawa waktu Sungmin bertepuk tangan. Lalu ia bertanya pada gurunya, 'Apa kau bahagia ada Daddy?'
Sungmin cepat-cepat menegakkan tubuh, berharap Kyuhyun tidak mengawasinya. Harapan tinggal harapan. Alis tebal dan ekspresif pria itu terangkat.
"Bagaimana? Jawab pertanyaan Minhyun. Apa kau bahagia aku ada di sini?" Pria itu memojokkannya. Minhyun mendongak memandangnya dengan penuh harap. Dengan segan-segan Sungmin mengisyaratkan dan berkata, "Ya. Aku bahagia ada Kyuhyun." Minhyun puas dan kembali memakan serealnya.
"Mungkin kau perlu mengecek alat bantu dengarnya. Aku tidak yakin sudah memasangnya dengan benar," kata Kyuhyun.
Sungmin menyibakkan rambut ikal Minhyun dan mengecek penempatan dan tombol volume alat itu, yang dimasukkan ke dalam telinga Minhyun. "Ini sudah benar," katanya.
"Bagus. Kau mau sarapan apa?" Kyuhyun bertanya sambil mengoleskan mentega banyak-banyak di roti.
"Aku tidak biasa sarapan," ujar Sungmin. "Kopi saja sudah cukup."
Mata Kyuhyun menyusuri tubuhnya dengan pandangan menilai yang membuat Sungmin merah padam. "Kau begitu langsing apa karena menahan nafsu makan?"
Untuk menghindari tatapan Kyuhyun yang tajam, Sungmin pergi ke meja dapur menuang kopi dengan tangan gemetar. Ketika melewati Kyuhyun, pria itu menepuk bokongnya dan selama beberapa detik tangannya menempel di situ. "Menahan nafsu bisa membuatmu gelisah, marah-marah, dan cepat tua."
Sungmin sudah siap membalas omongannya, tapi Ryeowook memilih saat itu untuk membuka pintu belakang dan berjalan masuk dengan riang seperti biasanya.
Dia langsung berhenti dan terpaku ketika melihat Kyuhyun duduk di meja. Matanya melotot dan mulutnya membuka dan menutup seperti ikan tercampak ke darat. Kalau saja ekspresinya tidak selucu itu, Sungmin pasti kasihan pada temannya.
Dia menahan tawa waktu mengenalkan mereka.
"Kim Ryeowook, ini Cho Kyuhyun. Kyuhyun, ini tetangga yang kuceritakan padamu."
"Selamat pagi, Nyonya Kim," kata Kyuhyun, berdiri dan mendekati Ryeowook dengan tangan terulur. Ryeowook mengangkat tangan bagai robot dan Kyuhyun menjabatnya. "Sungmin memberitahuku betapa kau banyak membantu dia dan Minhyun. Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah menjaga gadis-gadisku selama aku tidak ada."
Sungmin tersentak mendengar kata-kata yang bersayap itu, tapi sebelum dia sempat memprotes, Ryeowook mengerang keras, "Oh, Tuhanku! Penampilanku berantakan! Aku mampir cuma untuk meminjam secangkir gula. Aku tidak tahu kau ada di sini, Dokter Marc-Tuan Chao-Tuan Cho. Kenapa tidak kau beritahu aku dia akan datang, Sungmin?" tanyanya ketus.
"Aku ti—"
"Kau cantik kok, Ryeowook."
Kyuhyun menyela Sungmin sebelum dia bisa membela diri.
"Mana gula kita, Sungmin?"
Kita?
Gula kita?
Kyuhyun berusaha sekuat tenaga menimbulkan kesan mereka sepasang kekasih yang sudah tinggal serumah. Sungmin memandang tajam pria itu dari atas bahu Ryeowook, namun mata Kyuhyun cuma berkilat geli dan sama sekali tidak tampak bersalah.
"Ada di dapur," jawabnya dingin, yang tidak disadari Ryeowook maupun Kyuhyun.
"Tolong ambilkan untuk Ryeowook, sementara aku menuangkan secangkir kopi untuknya," Kyuhyun berkata santai sambil membimbing Ryeowook yang terpesona ke meja. Dia tengah memainkan perannya sebagai selebriti dan Sungmin jijik melihatnya.
"Kau tampan seperti biasanya," kata Ryeowook lirih ketika duduk di meja setelah disilakan Kyuhyun. "Aku tidak ingin merepotkan. Anak-anakku sudah menunggu—"
"Kumohon, demi aku, minum kopi dululah dengan kami." Senyum memabukkan Kyuhyun pasti mampu membuat malaikat rela menyerahkan sayapnya. "Tadi malam Sungmin bercerita kau punya dua anak."
Tadi malam!
Sungmin marah sekali. Sementara Ryeowook asyik berceloteh tentang topik favoritnya, Kyuhyun melirik Sungmin dan tersenyum jail. Dia tahu dia telah menimbulkan kesan bahwa malam itu mereka tidur seranjang, bukan di kamar yang terpisah.
Hati Sungmin panas sekali ketika dia membanting pintu lemari setelah mengambilkan gula untuk Ryeowook.
Wanita itu akhirnya pulang, berjanji pada Kyuhyun bahwa dia dan anak-anaknya akan kembali nanti untuk belajar bahasa isyarat. Sekali ini Sungmin senang melihat tetangganya pergi. Dia kesal sekali melihat Ryeowook tergila-gila pada Kyuhyun dan omongan-omongan pria itu yang mengesankan bahwa hubungan mereka memang seperti yang diduga Ryeowook.
"Sementara kau dan Minhyun belajar pagi ini, aku akan membongkar barang-barangku."
Sungmin melihat ada mobil lain diparkir di jalan masuk di sebelah Mercedes. Kyuhyun menjelaskan dia menyewanya dan akan mengembalikannya kalau Sungmin dan Minhyun bisa meluangkan waktu untuk pergi bersamanya dan mengantarkannya pulang.
Dia sedang menyuruh Minhyun melakukan sesuatu di kelas ketika Kyuhyun muncul di ambang pintu. "Sungmin, lemari-lemari dinding di kamar itu hanya cocok untuk pakaian liliput. Bisakah kau memberi tempat untukku di salah satu lemari di kamarmu?"
Sungmin memandangnya dengan curiga. "Ini tipu muslihat, atau kau benar-benar perlu tempat?"
"Aku betul-betul perlu tempat," kata Kyuhyun sepolos malaikat. Lalu dia tersenyum. Dasar aktor. Dia bisa menampilkan ekspresi atau emosi apapun dengan cepat. Tapi meskipun sudah menahan diri, Sungmin membalas senyumnya.
"Salah satu lemari kosong, cuma berisi setumpuk kotak di ujung. Biar kupindahkan, kalau itu maumu."
"Jangan sentuh kotak-kotak itu," bentak Kyuhyun.
Sungmin telah bangkit dari kursi dan terkejut mendengar nada kasar dan melihat wajah pria itu sudah tidak berseri-seri lagi. Wajahnya sekarang keras dan dingin.
Ketika melihat Sungmin tercengang, dia berkata pelan, "Beberapa barang Chengmin disimpan di situ. Jangan diutakatik."
Tubuh Sungmin langsung kaku. Selama beberapa detik yang menyiksa, dunia serasa berhenti berputar, lalu bergerak lagi-tapi tanpa semangat, lamban, dan dengan susah payah.
"Tentu, Kyuhyun," dia tergagap. "Aku cuma—"
Dia bicara dengan angin. Ketika dia mengangkat kepala, ambang pintu telah kosong.
.
.
.
Sungmin dan Minhyun biasa berada di kelas sepanjang pagi, cuma istirahat sebentar supaya Minhyun bisa makan camilan. Sungmin memanfaatkan saat itu untuk mengajarinya juga. Minhyun mempelajari nama dan rasa berbagai makanan.
Selama seminggu mereka belajar tentang ceri. Dia mempelajari bahasa isyaratnya, tulisannya, dan dalam pelajaran bicara Sungmin mengajarkan bunyinya. Dia diberi jeli ceri, jus ceri, dan permen ceri. Dia belajar mengasosiasikan rasa dan bau tertentu dengan namanya.
Ketika Sungmin dan Minhyun keluar kelas tak lama setelah pukul 12 siang hari itu, Kyuhyun sudah menyiapkan makan siang untuk mereka berupa roti isi dan sup. Di antara alas piring dan serbet di meja tampak sebuah boneka bulu kelinci berwarna pink.
Minhyun memekik dan berlari melintasi ruangan, sambil memeluk boneka itu dengan gembira. "Kurasa kau berhasil merebut hatinya," komentar Sungmin.
"Sudah kuduga dia akan menyukainya," Kyuhyun tersenyum pada putrinya.
Sungmin berlutut di samping Minhyun. "Siapa nama kelincimu?"
Minhyun memandangnya dengan bingung. Dibelainya telinga panjang boneka itu dan bergumam. Sungmin mengeja kata 'Bunny'. Minhyun mengangguk dan tertawa, mengisyaratkan huruf-huruf itu dengan jari-jarinya yang pendek dan menepuk kepala si kelinci.
"Kurasa dia sudah dinamai," kata Kyuhyun.
Dia tetap penuh kasih sayang dan lembut terhadap Minhyun, tapi dingin pada Sungmin. Dia muram dan tidak banyak bicara selama makan.
Memangnya apa yang diharapkannya? Secara tidak sengaja dia telah mengingatkan Kyuhyun pada istrinya dan memicu depresinya. Dia sering melihat Jungmo menutup diri dan merenung-renung selama berhari. Suasana hati Jungmo yang jelek memaksanya memikirkan setiap patah kata, menimbang semua yang diucapkan atau dilakukannya karena takut menyinggung perasaannya yang sensitif.
Yah, dia tidak sudi mengalami situasi seperti itu lagi.
Diperhatikannya Minhyun dan diabaikannya Kyuhyun.
Ketika Ryeowook dan anak-anaknya datang siang itu untuk belajar bahasa isyarat, Kyuhyun ikut duduk di meja dapur bersama mereka.
Dia tidak lagi cemberut seperti waktu menghidangkan makan siang. Pria itu melucu dan bercanda, senyumnya memikat, matanya berkilat-kilat jenaka. Bagaimana dia bisa berubah begitu drastis hanya dalam beberapa jam?
Lalu Sungmin ingat kepandaiannya, untuk itulah Kyuhyun dibayar. Pria itu mampu berganti emosi secepat orang berganti pakaian.
Sungmin tidak menyukai suasana hati Kyuhyun yang berubah-ubah ini, dia jadi bertanya-tanya yang mana yang asli.
Sampai seberapa dia dapat mempercayai omongannya?
Perbuatannya?
Ketika pria itu menciumnya, apakah dia bersungguh-sungguh ataukah cuma memainkan adegan percintaan?
Dia telah melihat Kyuhyun mencium aktris itu di studio, dan aktingnya sangat meyakinkan.
Sungmin bertekad takkan membiarkan peristiwa itu terjadi padanya lagi. Pelukan mereka tak berarti apa-apa bagi pria itu, namun baginya sangat penting. Dan anggapan pentingnya terhadap pelukan itu menakutkan.
Pikiran-pikiran ini berputar di benaknya sementara dia mengajarkan bahasa isyarat. Dia tak sadar bahwa dia lama memandangi Kyuhyun, dan pria itu mengetahui perbuatannya. Ketika dia menyadarkan diri, mata pria itu menatapnya. Sungmin berusaha membuang muka, tapi tertahan tatapan tajam Kyuhyun. Matanya terfokus pada pria itu, dan selama sepersekian detik, dia tahu Kyuhyun bisa membaca kerinduan di dalamnya.
Pria itu mengatakan dalam bahasa isyarat, 'Aku belum melupakan bintik-bintik itu'. Mata Kyuhyun turun tanpa ragu ke payudaranya dan Sungmin merasakan dorongan konyol untuk menutupinya.
Dia merah padam dan buru-buru memandang Ryeowook dan anak-anak, berharap mereka tidak melihat atau mengerti. Mereka sedang berdiskusi tentang rencana mereka membeli sepatu baru.
Tanpa sadar kepala Sungmin berpaling kembali pada Kyuhyun, bibir pria itu membentuk senyum kurang aja. 'Kau punya bintik-bintik lain yang perlu kuketahui?' isyaratnya.
'Tidak!' Sungmin menjawab tegas dengan gelengan kepala.
'Aku ingin memastikannya sendiri', pria itu mengisyaratkan dengan kemampuan bahasa isyarat yang mendadak terasa meresahkan.
Kyuhyun sekarang terlalu pandai menggunakan bentuk komunikasi ini. Tapi sebetulnya dia tidak membutuhkan tangannya untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Matanya sudah mengatakan semuanya.
'Kapan kau akan menghentikan ini?' desak Sungmin dengan tangannya.
'Kapan kau mengizinkan aku mencari tempat-tempat rahasia di tubuhmu itu? Dan setelah kutemukan, maukah kau mengizinkan aku menyentuhnya? Menciumnya?'
Gelombang panas melanda Sungmin. Jantungnya berdentam-dentam di dada dan menggetarkan kaus yang menutupinya. Kyuhyun melihat semua itu dan menatap payudaranya yang naik-turun dengan cepat seirama napasnya. Mata pria itu kembali ke mata Sungmin, dan alisnya mendesak minta jawaban dengan melengkung tajam di atas mata.
'Tidak!' Sungmin menggeleng, menjilat bibir dengan gugup.
Gerakan itu membangkitkan gairah Kyuhyun ketika dia mengamati lidah wanita itu menghilang ke dalam mulutnya. Ekspresi wajahnya memberitahu Sungmin bahwa dia ingin mengikutinya dengan lidahnya sendiri.
'Kalau begitu berarti aku harus membayangkan tempat-tempat tersembunyi itu', Kyuhyun mengisyaratkan, dan matanya melumpuhkan Sungmin. 'Daya khayalku hebat'.
Sungmin bersyukur ketika Minhyun mengalihkan perhatiannya dengan menarik lengannya. "Eongmin, Eongmin," katanya dan menunjuk sepatu tenisnya, yang talinya telah terurai.
"Ya," kata Sungmin sambil lalu dan berpaling.
"Eongmin," kata Minhyun lebih keras dan agak marah.
Sungmin cuma memandang sepatu itu dan mengangguk, tapi tidak berbuat apa-apa dan sibuk menumpuk buku-buku pelajaran yang barusan mereka gunakan.
"Eongmin!" Kali ini tarikan di lengan Sungmin kuat sekali dan suara Minhyun tinggi dan melengking.
"Dia ingin kau mengikatkan tali sepatunya," kata Kyuhyun tidak sabar.
Sungmin memandangnya dengan tenang, walaupun sebetulnya tidak menyukai campur tangan pria itu dalam persoalan yang menurutnya merupakan tanggung jawabnya.
"Aku tahu apa yang diinginkannya, Kyuhyun. Aku mau dia meminta aku mengikatkan tali sepatunya dalam kalimat lengkap."
"Apakah itu selalu perlu?" tanya pria itu. Nada tajam suaranya mengindikasikan dia berpendapat sebaliknya.
"Kau menginginkan dia belajar bicara atau kau ingin dia seumur hidup cuma bisa menunjuk-nunjuk dan mendengus?" sembur Sungmin. Kerut-kerut di sekeliling mulut pria itu mengeras, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Minhyun sudah nyaris menangis dan masih menarik-narik lengan Sungmin. Ryeowook dan anak-anaknya cuma bisa memandangi situasi menegangkan ini. Kali ini mereka kehabisan kata-kata.
"Mari kita lanjutkan pelajaran," kata Sungmin tenang dan mengabaikan Minhyun, cuma melirik sepatunya dan mengangguk untuk membenarkan bahwa talinya memang terurai.
Minhyun marah bukan main, duduk di lantai menendang kaki kursi Sungmin, dan menunduk dalam.
"Yewook, ceritakan soal anak anjingmu pada kami dalam bahasa isyarat," perintah Sungmin "Apa warna nya?".
Yewook memandang Minhyun dengan perasaan kasihan, lalu melirik ragu ibunya. Ryeowook mengangguk dan dia terpatah patah menggunakan bahasa isyarat untuk bercerita tentang anjingnya. Perhatiannya terpecah.
Sebetulnya perhatian semua orang juga terpecah ke gadis kecil yang tersedu-sedu di lantai.
"Sungmin, demi Tuhan—" Kyuhyun mulai bicara tepat ketika Minhyun mendadak bangun dan berdiri di samping kursi Sungmin lagi.
'Sungmin, ikatkan tali sepatuku', anak itu mengisyaratkan.
Ketika Sungmin tetap tidak bergerak, Minhyun menggosok dadanya dengan gerakan memutar yang merupakan bahasa isyarat yang berarti tolong Kemudian ia mengulangi lagi.
Sungmin tersenyum, memangkunya, dan memeluknya erat-erat. "Aku ingin mengikatkan tali sepatumu, Minhyun. Tapi kau harus memintaku. Bagaimana aku tahu apa yang kau inginkan kalau kau tidak memintaku?"
Minhyun memahami isyaratnya dan mengalungkan lengannya di leher Sungmin. Ketika menarik tubuhnya, dia mengisyaratkan, 'Aku sayang padamu, Sungmin', dan mengucapkan nama gurunya.
'Aku juga sayang padamu', Sungmin mengisyaratkan dan mencium puncak kepala Minhyun.
Ryeowook dan anak-anaknya tampak sangat lega dan mulai berbicara serentak. Kyuhyun tidak berkomentar, tapi Sungmin menatap matanya di atas kepala anaknya. Mata pria itu kelihatan menantang dan samar-samar iri. Tapi di mata Sungmin tampak jelas pesannya: Jangan pernah ikut campur lagi.
.
.
.
Ketika keributan berikutnya terjadi beberapa hari kemudian, efeknya lebih hebat dari yang pertama.
Sungmin menulis surat untuk orangtuanya setelah sarapan.
Dia ingin memasukkannya ke kotak surat sebelum tukang pos datang. Setelah menjelaskan pada Minhyun bahwa pelajaran pagi ini agak terlambat, dia menyuruhnya bermain di kamarnya. Kyuhyun sedang asyik sendiri di halaman belakang.
Sungmin menyelesaikan suratnya, memasukkannya ke kotak surat, dan naik ke lantai atas untuk menjemput Minhyun yang, dia mendadak sadar, telah menghilang secara misterius dan tidak biasanya tenang selama setengah jam terakhir.
Minhyun tidak ada di kamarnya, dan Sungmin tahu anak itu juga tidak ada di bawah. Ketika masuk ke kamarnya sendiri dia mendengar gumaman pelan dari kamar mandi. Dan ketika melewati pintu, dia terkesiap melihat pemandangan di hadapannya.
Minhyun telah membuka semua wadah makeup Sungmin, mengambil isinya, memakainya di wajahnya, lalu membiarkan wadah-wadah itu tetap terbuka dan berserakan di meja rias. Wajah malaikatnya tampak seperti palet pelukis. Pemulas mata, pensil alis, dan maskara belepotan di matanya. Pipi dan pelipisnya
diwarnai pemulas pipi, lip gloss, dan foundation aneka warna. Berbagai lotion, krim, dan bedak berceceran di permukaan meja rias marmer.
Ketika melihat wajah Sungmin di cermin, Minhyun tahu saat bermainnya sudah selesai. Dia berusaha menutup kembali botol krim malam yang diusapkannya banyak-banyak ke lututnya, tapi gagal. Dengan sia-sia dia mengambil tisu dan mencoba membersihkan meja.
Ketika dia tidak berhasil, malah membuat semuanya makin berantakan, bibir bawahnya mulai bergetar, dan dia memandang gurunya dengan pasrah.
"Minhyun," kata Sungmin galak, "kau nakal! Ini bukan perbuatan yang baik, dan aku marah padamu!" Dia mengisyaratkan kata-kata itu dengan tegas, untuk memastikan gadis kecil itu betul-betul mengerti. "Kau tahu kenapa aku marah padamu?" dia bertanya.
Minhyun mengangguk dan mulai tersedu-sedu malu.
Sungmin memaksanya memandangnya. "Aku akan memukulmu supaya lain kali kau ingat untuk tidak mengutak-atik barang orang lain. Kau suka kalau aku mengobrak-abrik kamarmu? Kau suka kalau aku merusak mainanmu?"
Minhyun menggeleng.
Sungmin memangku anak itu tengkurap di pangkuannya, lalu memukul bokongnya tiga kali. Minhyun menangis keras sekali.
"Astaga, apa-apaan kau ini?" tanya Kyuhyun marah dari ambang pintu.
Sungmin mengangkat Minhyun dan berusaha memeluknya, tapi anak itu lari dari pelukannya, pindah ke sang ayah tersayang, yang melotot pada Sungmin.
Sungmin berkata tenang, "Menurutku cukup jelas. Aku memukul Minhyun karena dia nakal."
"Jangan pernah kau memukulnya lagi," perintahnya ketus sambil terus menepuk-nepuk punggung si anak.
Minhyun terisak-isak di bahunya.
"Aku akan memukulnya lagi kalau dia nakal dan aku akan berterima kasih kalau kau tidak ikut-ikutan dan menolongnya ketika aku sedang menghukumnya."
"Dia tidak bisa memahami kenapa kau memukulnya."
"Tentu saja bisa!" protes Sungmin, sekarang jadi marah. "Kau pikir aku akan membiarkannya melakukan perbuatan seperti ini tanpa dihukum? Batasannya apa?"
Kyuhyun mengangkat Minhyun dan membiarkannya berdiri, lalu memandang Sungmin sambil berkacak pinggang. "Manusia macam apa sih kau ini? Manusia sadis? Kau senang memukuli anak-anak kecil yang cacat, ya?"
Seumur hidup Sungmin tidak pernah semarah ini dan dia merasa kemarahan mendidih di sekujur tubuhnya meskipun wajahnya pucat pasi. "Dasar sok tahu," desisnya dari balik gigi yang dikertakkan. "Berani-beraninya kau menuduhku seperti itu." Dia maju selangkah dengan tangan siap menampar. "Berani-beraninya kau—"
Perhatiannya terpecah karena Minhyun, yang menarik-narik kaki jinsnya. "Eongmin," dia memohon. Sungmin melirik dan melihat Minhyun mengacungkan tabung lipstik yang sudah dibersihkan dan ditutup kembali. Anak itu mengisyaratkan 'Aku menyesal'.
Sungmin melupakan ayah Minhyun dan berjongkok untuk memeluk gadis kecil itu. Diusapnya rambut ikal dari wajah bersimbah air mata itu. "Aku juga menyesali kejadian itu. Maukah kau membantuku membersihkan semua ini?" dia bertanya dalam bahasa isyarat, dan Minhyun mengangguk penuh semangat dan mulai memungut tisu-tisu kotor yang bertebaran di lantai.
Sungmin berdiri berhadap-hadapan dengan Kyuhyun, siap melanjutkan amukannya, tapi wajah pria itu sudah berubah. Dia tidak menantangnya. Dia tidak marah. Dia memandangi anaknya. Pelan-pelan ditatapnya Sungmin.
Matanya mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditangkapnya. Dia melihat kilau pemahaman di dalam mata itu. Kyuhyun tahu maksudnya, dan kurang-lebih mengerti tujuannya. Tapi dia tidak seratus persen mengerti, dan mencari-cari elemen yang tidak dapat dimengertinya itu di wajah dan mata Sungmin.
Sedetik kemudian, pria itu tampak malu dengan kelemahannya ini. Sungmin melihat kabut menyelubungi matanya sebelum pria itu cepat-cepat membuang muka. "Aku pergi dulu," gumam Kyuhyun pelan sebelum dia meninggalkan kamar.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Halo ^^
Aku kembali dengan BAB 6. enJOY it ya !
Ada yang nanyain umur Minhyun. Umurnya itu tiga tahun, jadi masih sangat manja ^^
Terimakasih buat semua yang udah mendukung FF ini. Mari kita lestarikan FF KyuMin! SEMANGATTTTTT !
Buat Acho137 , aku gak pernah bales review lewat PM. Kecuali kalau ada yang nanya di PM. Sebisa mungkin akan aku balas di setiap update ^^
Buat alit , kalau kata 'dua' itu murni typo, seharusnya dia. 'Membaui' itu semacam mengendus bau gitu ^^
Banyak yang nyangka Kyu cinta banget sama istrinya...kkk~
Okey, just it..and...
BIG THANKS TO
Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , kyukyu , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil137 , Fitri , jin , parklili , Park Heeni , Lilly Aylia , choikyumin , chopurple3 , Acho137 & Guest.
(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 5 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)
Once again! Thank you ^^
