137darkpinku Present

KYUMIN FANFICTION

.

Eloquent Silence

.

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan

Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.

.

Don't Like? Just Don't Read ^^

.

.

enJOY it !

.

.


Bab Delapan

Hari itu ternyata menyenangkan bagi mereka semua. Minhyun bersama Kyuhyun menaiki mobil sewaan sementara Sungmin mengikuti mereka naik Mercedes.

Sungmin mensyukuri kesempatan untuk sendirian. Dia jadi punya waktu untuk menganalisis pikiran-pikirannya yang kacau-balau. Berbahaya baginya dan Kyuhyun untuk berciuman seperti tadi. Dia memberitahu pria itu mereka tidak boleh bermain api, tapi ternyata mereka tetap melakukannya.

Ribuan kali dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa takkan ada akibat apa pun dari semua itu, cuma sekadar ciuman. Tapi itu bukanlah sekadar ciuman, dan dia mengetahuinya. Sejujurnya dia tidak tahu berapa lama dapat menahan Kyuhyun atau apakah dia ingin berbuat begitu.

Jika mereka berpacaran, artinya dia tidak bisa meneruskan mengajar Minhyun. Itu akan merupakan situasi yang menyedihkan bagi mereka semua, terutama bagi si anak. Minhyun akan jadi korban tak berdosa atas kelakuan dua orang dewasa yang mestinya tahu mereka tidak boleh mengacaukan masa depannya dengan cara seperti ini.

Dalam ketenangan di dalam Mercedes yang meluncur di jalan-jalan pegunungan menuju kota mudah baginya untuk berjanji takkan mau jatuh ke dalam pelukan Kyuhyun lagi. Kalau ia memang bertekad melawan bujukan tangan dan bibir pria itu. Ini hanya masalah disiplin, dan Lee Sungmin selalu bangga pada dirinya karena memiliki hal itu.

Takkan dibiarkannya Kyuhyun menyentuhnya lagi. Dia sudah mengambil keputusan. Dan itu sama sekali tak berarti apa-apa.

Begitu mereka sampai di tujuan, pria itu berjalan ke mobilnya dan membantunya turun.

Tangannya yang terulur disambut tanpa ragu, dan tubuh Sungmin menyentuh tubuhnya ketika mereka berjalan, ingin sekali merasakan kekuatan mantap tubuh pria itu di sampingnya.

Persoalan mobil selesai dengan cepat. Mereka belanja di toko-toko paling eksklusif di pusat kota. Kyuhyun membelikan Minhyun jaket musim dingin berwarna biru cerah, yang menurut Sungmin terlalu mahal. Pria itu tak menghiraukan protes Sungmin. Minhyun ingin memakainya dalam perjalanan pulang, tapi meskipun udara di musim gugur itu dingin, Sungmin menjelaskan bahwa jaket baru itu terlalu tebal untuk dipakai saaat itu. Anak itu baru mau membiarkan jaketnya dimasukkan ke dalam kotaknya setelah Kyuhyun membelikannya sweater cardigan dengan tudung berhias bulu.

Seperti biasa, para gadis pramuniaga langsung sibuk dan ramah berlebihan waktu melayani mereka. Pembeli-pembeli di toko berhenti belanja untuk memandangi mereka dengan tatapan membuat Sungmin merasa sangat kikuk.

Beberapa wanita terang-terangan memelototinya dengan iri. Ekspresi mereka penuh rasa permusuhan.

Kyuhyun tidak membantunya merasa lebih enak. Pria itu terus-menerus minta pendapatnya dan memperlakukannya dengan cara yang bisa menimbulkan dugaan macam-macam.

Sungmin merasa sangat senang karena satu hal, Kyuhyun berbicara dalam bahasa isyarat pada Minhyun tanpa perasaan malu atau tidak suka. Pria itu tampak sama sekali tak peduli para penggemarnya melihatnya bersama anaknya yang cacat.

Dalam penampilan kali ini Sungmin mengambil jalan tengah. Pakaiannya tidak terlalu santai ataupun terlalu resmi. Dia mengenakan rok wol cokelat muda dan blus sutra hijau giok. Ketika mereka keluar dari mobil untuk masuk ke restoran, dia menganggap udara cukup dingin sehingga ia memakai blazer wol putih.

Kyuhyun berjalan dengan memegangi blazernya, sementara terus merangkul bahu Sungmin ketika mereka berjalan memasuki restoran. Sungmin merasa mereka seperti keluarga bahagia waktu kepala pelayan mengantarkan mereka ke meja, lalu segera memarahi dirinya sendiri karena mengkhayal ngawur begitu. Dia tahu bagaimana perasaan Kyuhyun, pria itu sudah jelas-jelas mengatakan tujuannya. Dia akan menikmati hubungan fisik, tapi hatinya selalu milik istrinya.

Dalam perjalanan pulang Minhyun mengantuk dan tidur di pangkuan Sungmin. Bunny, teman setianya, ikut dibawa, dan diselipkan di bawah lengannya.

Kyuhyun mengulurkan tangan ke tombol radio dan menemukan stasiun FM yang memutar musik tenang.

Tangannya lalu berhenti di rambut ikal lembut Minhyun, dan ditepuk-tepuknya kepala anaknya beberapa menit sampai dia tahu anak itu sudah pulas.

Sungmin mengira pria itu akan kembali memegang kemudi, dan jantungnya berdebar-debar waktu Kyuhyun meletakkan tangannya di pahanya. Pria itu meremasnya lembut.

Sungmin menatap pemandangan remang-remang di luar, dashboard mobil, anak yang tidur di pangkuannya, apa saja selain pria di sebelahnya.

Tanpa bisa dikontrol matanya menyusuri interior mobil dan memandang profil sempurna Kyuhyun. Pria itu tampaknya bisa merasakan tatapannya dan menoleh untuk menatap matanya. Dia melihat kehangatan yang memancar dari mata Sungmin dan tersenyum lembut.

Tangannya bergerak ke atas paha wanita itu dan menyentuhnya dengan keintiman yang menggoyahkan tekad Sungmin semula. Tangan itu tetap di tempatnya sampai beberapa saat dan kemudian ia melepasnya karena harus memegang kemudi dengan dua tangan supaya bisa menyetir mobil dengan aman di jalan yang berkelok-kelok dan naik-turun.

Tanpa kesulitan mereka mengangkat Minhyun ke tempat tidur. Karena mengantuk, anak itu menurut saja ketika Sungmin membuka pakaiannya dan menyelimutinya.

Setelah berdoa bersama dan menciumnya, Kyuhyun mematikan lampu kamar.

"Kau mau duduk-duduk di depan perapian malam ini?" tanya Kyuhyun ketika mereka berdiri di koridor.

"Kedengarannya asyik. Aku tidak keberatan bersantai sebentar sebelum tidur. Hari ini melelahkan sekali."

"Ada yang bisa kulakukan untuk membantumu lebih nyaman?" tanya Kyuhyun sambil nyengir nakal.

"Dasar!" omel Sungmin, tapi dia tersenyum. "Aku akan mandi dulu, nanti aku bergabung denganmu di bawah."

"Waktu kau turun, apinya pasti sudah berkobar-kobar. Aku dulu ikut Pramuka, kau tahu."

"Kau? Mustahil!" godanya tepat sebelum menutup pintu kamar, membuat pria itu tak sempat membalas.

Setelah mandi Sungmin memakai mantel flanel hangat dan mengikatkan talinya di pinggang.

Perasaan sungkannya setelah dia tinggal bersama Kyuhyun selama beberapa hari ini agak berkurang. Dia tidak lagi terbirit-birit kalau pria itu memergokinya cuma memakai mantel atau tanpa makeup. Semacam keakraban telah tumbuh di antara mereka.

Dengan perasaan santai dia turun, sambil menyisir rambutnya yang masih basah setelah mandi. Dia melintasi ruang tamu dan menutup gorden.

Saat meraih sakelar lampu, dia terpaku ketika mendengar suara Kyuhyun. "Bagaimana kalau lampunya tidak usah dinyalakan? Cahaya api sudah cukup."

Pria itu datang dari dapur, membawa dua gelas anggur dan sebotol anggur putih dalam wadah berisi es. Melodi lembut balada yang dinyanyikan Johnny Mathis berkumandang dari stereo system di lemari buku.

Sesuai janjinya, Kyuhyun sudah membuat api di perapian berkobar-kobar.

"Begini memang nyaman," kata Sungmin gugup. Rileks dan sensual, pikirnya was-was. Kyuhyun sudah mengganti celana panjang kain dan jaket sportnya dengan jins lama yang sudah pudar dan sweater putih berkerah tinggi.

Sungmin duduk melipat kaki di salah satu sudut sofa, menghadap perapian. Kyuhyun meletakkan anggur dan dua gelas yang dibawanya di meja kopi di depan Sungmin.

"Kau mau minum satu gelas anggur denganku?" Kyuhyun bertanya sambil duduk di sampingnya.

"Aku—"

"Kumohon. Satu gelas? Efeknya bagus untukmu."

Karena dia toh sudah menuangkannya, Sungmin berkata, "Baiklah. Satu gelas."

Jari-jari mereka bersentuhan sesaat ketika Kyuhyun memberikan gelas anggur itu padanya. Sungmin menyesapnya dengan hati-hati. Pria itu mengamatinya. Mengalihkan pandangan dari tatapannya yang menghunjam, Sungmin memandang api di dalam perapian.

"Apinya bagus, Kyuhyun. Terima kasih kau telah menyalakannya."

"Sama-sama. Tapi karena telah bersusah payah menyalakannya, aku sekarang malah jadi kepanasan. Kau keberatan?" Sebelum Sungmin sempat menyetujui atau tidak, pria itu sudah membuka sweater putihnya lewat kepala.

Sungmin sering melihatnya bertelanjang dada dalam beberapa hari ini, tapi setiap kali menatap dada polosnya, jantungnya selalu berdebar lebih cepat

Tenggorokan Sungmin serasa tercekik ketika dia melihat bentuk samar kejantanan pria itu di balik celananya yang ketat. Cepat-cepat dia meneguk anggurnya lagi.

"Kau harum," kata Kyuhyun, agak mencondongkan tubuh ke arahnya. Dia tidak menyentuhnya, melainkan mendekatkan wajah ke leher Sungmin. "Wangi apa ini?"

"Aku—" Sungmin tidak mampu berkata-kata. Dia menelan ludah dan mencoba lagi. "Bukan parfum istimewa atau mahal. Aku membelinya di toko biasa."

"Tak perlu panik. Wanginya enak." Kata-kata pria itu, ataukah kedekatan tubuhnya, yang membuat seluruh tubuh Sungmin dialiri sensasi aneh?

Dengan tangan gemetar dia menyisir rambutnya untuk terakhir kali dan menaruh sisirnya di meja kopi. Dia sudah dapat merasakan efek anggur, walaupun baru minum setengah gelas. Dia meneguk anggurnya lagi dan mengembalikan gelasnya ke meja. Ketika dia bersandar kembali di sofa, Kyuhyun sudah bergeser jauh lebih dekat dengannya.

Dia menoleh ke arah Kyuhyun dan melihat pria itu sedang memandangi rambutnya. "Bagus sekali," bisiknya. "Diterangi cahaya api, rambutmu tampak sangat indah."

Diletakkannya tangannya di puncak kepala Sungmin dan dielusnya rambut Sungmin yang berkilauan sampai bahu.

Cahaya api menimbulkan bayang-bayang gelap di wajah pria itu. Matanya nyaris tak kelihatan, tapi Sungmin tahu matanya tengah mengamati wajahnya. Dia seolah dapat merasakan sentuhannya ketika mata Kyuhyun berhenti di mulutnya.

Kyuhyun mencelupkan telunjuk di gelas anggur dan menempelkannya di bibir Sungmin. Disapukannya cairan keemasan itu, bergerak pelan di bibir atas, lalu bibir bawah. Karena tekanan lembut jarinya, bibir Sungmin membuka.

Kyuhyun menunduk dan mencium bibirnya, menyesap anggur yang menempel di situ, kemudian melumatnya dalam ciuman menggetarkan yang menyebabkan Sungmin lemas dan terengah-engah.

"Kau lebih enak daripada anggur. Dan dua kali lebih memabukkan," desah Kyuhyun ketika akhirnya menjauhinya. Dia meletakkan gelasnya di samping gelas Sungmin di meja. Wanita itu mengira Kyuhyun akan kembali padanya dan memeluknya.

Ternyata dia malah telentang di sofa, berbaring lurus, dan meletakkan kepalanya di pangkuan Sungmin. Diangkatnya sebelah tangan wanita itu, diciumnya telapak tangannya dengan mesra, dan ditekannya ke perutnya, ditutupinya dengan tangannya sendiri.

"Ini pasti surga," kata Kyuhyun, mendongak memandang Sungmin. "Pemandangan dari sini tidak boleh dilewatkan." Matanya berkilat ketika menatap payudara Sungmin yang menonjol dari balik mantel. Dia tertawa waktu wajah Sungmin berubah menjadi merah padam. Lalu dia menarik napas dalam-dalam, puas. "Aku suka sekali tempat ini. Kau juga, Sungmin?"

Sungmin terkejut mendengar suaranya mendadak serius. "Mokpo? Ya, memang indah. Tapi harus kuakui, kukira kau takkan bertahan selama ini di sini?"

"Kadang-kadang aku merindukan lampu-lampu dan kamera-kamera. Aku bohong kalau bilang sebaliknya. Tapi aku betul-betul tidak senang kembali ke kehidupan dan kisah-kisah cinta Dokter Marcuss. Sebetulnya sejak awal aku tidak pernah menginginkan peran itu."

"Oh, ya?"

Keheranannya pasti terdengar jelas karena pria itu membuka mata, yang sejak tadi tertutup, dan menjawab, "Ya."

"Kalau begitu kenapa kau memerankannya?" Sungmin tergagap.

"Chengmin membujukku supaya ikut audisi."

Sungmin langsung bereaksi ketika Kyuhyun menyebut nama istrinya, tapi tampaknya pria itu tidak sekalut dulu.

"Aku orang yang mereka cari," lanjut Kyuhyun "Kucium aktris yang waktu itu jadi pemeran utamanya. Mereka menganggap kami serasi. Aku langsung mendapat peran itu."

"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan, Kyuhyun?"

"Aku bercita-cita terjun ke dunia teater. Tidak sekadar berakting, aku ingin menyutradarai. Tapi, setelah beberapa tahun tinggal di Seoul, aku menyadari bahwa orang harus membayar sewa apartemen, makan, hal-hal seperti itulah," dia tertawa pahit. "Aku harus bekerja selama masih bisa, bukan mengikuti kursus-kursus yang kubutuhkan."

Tanpa sadar Sungmin membelai rambut cokelatnya. Rasanya wajar sekali kepala Kyuhyun berbaring di pangkuannya dan mereka menikmati suasana tenang ini. "Dari mana asalmu, Kyuhyun? Kau punya keluarga?"

Aneh, Kyuhyun tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang masa lalunya.

"Aku besar di China." Kyuhyun menggerakkan kepala untuk mendongak memandang Sungmin. "Ayahku pegawai asuransi yang sukses, tapi kami tidak kaya. Beliau meninggal waktu aku masih SMA. Ibu meninggal dua tahun yang lalu. Aku punya saudara laki-laki yang bekerja sebagai pengacara. Kurasa dengan caranya sendiri dia juga aktor." Kyuhyun terkekeh. "Setelah kuliah dua tahun di China, aku pergi ke Seoul, aku mulai mengikuti berbagai audisi, berharap mendapat pekerjaan. Aku ingat waktu ikut audisi untuk peran sebagai seorang Gangster. Aku yakin aku pas untuk peran itu. Berminggu-minggu aku ke sana kemari memakai jaket kulit hitam. Aku bicara dengan kata-kata kasar dan di bibirku selalu tergantung sebatang rokok. Namun mereka menolak."

Kyuhyun diam sejenak dan mengusap-usap punggung tangan Sungmin, yang masih menempel di perutnya yang terbuka. "Di sanalah aku bertemu Chengmin, di audisi itu."

Perasaan sesak di dada Sungmin makin terasa. Suara Kyuhyun makin pelan. Chengmin masih memiliki hatinya, walaupun telah tiga tahun meninggal. Sungmin sudah tahu jawabannya, tapi entah mengapa masih bertanya perlahan, "Cantikkah dia?"

"Ya," jawab Kyuhyun tanpa ragu, dan memejamkan kelopak mata seperti tirai yang menutupi matanya. "Dia penari, siswa balet yang serius. Audisi pertunjukan apa pun yang diikutinya, seperti tari kelompok, tidak cocok dengan gayanya yang terlalu klasik. Dia selalu kembali ke balet. Akhirnya dia terpilih untuk bergabung dengan Korean Ballet Theatre."

Balerina!

Itu lebih buruk daripada perkiraan Sungmin.

Wanita itu pasti halus, feminin, anggun, dan, seperti kata Kyuhyun tadi, cantik.

"Kau tahu, Sungmin? Aku ingin sekali menjadi sutradara." Kata Kyuhyun mengubah topik. Dia diam sementara pandangannya menerawang, seakan melihat para aktor siap menuruti arahannya. Lalu dia melirik Sungmin dan lama memandanginya.

Rambut Sungmin membingkai wajahnya ketika dia menatap pria itu. Cahaya api membuat rambutnya berkilauan. Kulit lehernya di bagian mantelnya yang terbuka masih lembap karena habis mandi, dan kini tampak lembut dan mengundang.

"Kau tidak kelihatan seperti guru," kata Kyuhyun lembut.

"Kau sangat kelihatan seperti aktor," bisik Sungmin.

Kyuhyun bangkit sedikit dan menopang tubuhnya dengan meletakkan sebelah lengan di sisi lain pinggul Sungmin.

"Bisa kau lebih spesifik?" tanyanya "Maksudku, Kim Soo Hyun juga seorang aktor."

Sungmin tertawa. "Aku mengerti. Kau sama sepertinya, seorang aktor."

"Boleh saya beraudisi untuk peran utama pria yang romantis, Nona Produser? Saya mohon? Saya pasti akan menikmati audisinya."

Sambil berbicara, dia menarik ikat pinggang mantel Sungmin, dan ikat pinggang itu pun terbuka. "Seperti Anda bisa lihat saya sudah menjiwai peran saya." Tangannya menyusup ke balik mantel Sungmin dan menggenggam payudaranya. "Yang saya butuhkan sekarang cuma pemeran pembantu," katanya, dan bibirnya mencium bibir Sungmin yang ternyata menyambutnya.

Ciumannya panas dan lama. Sementara tangan yang satu membelai-belai payudara Sungmin, tangan yang lain mengelus rambut wanita itu. Lengan Sungmin memeluk bahu telanjang Kyuhyun dan mengusap otot-ototnya yang keras. Tangannya yang sebelah lagi menyusuri rusuknya sampai berhenti di lekuk pinggang pria itu.

Kyuhyun akhirnya menghentikan ciumannya untuk bergumam, "Kuharap di balik mantel ini cuma ada tubuhmu." Dilepaskannya mantel itu dari bahu Sungmin dan diciuminya kulitnya yang harum. "Ketika kau bersikap hangat, pasrah, dan tenang seperti ini, ada aura keibuan pada dirimu yang kubutuhkan." Bibirnya menuruni dada Sungmin sampai ke bagian atas payudaranya, yang diusapnya dengan hidungnya. Menyusupkan lengan ke balik mantel, dia menariknya makin dekat. "Aku ingin menjadi bayimu, Sungmin," katanya parau.

Ketika mulut Kyuhyun mencium payudaranya, Sungmin mencengkeram kepala pria itu dan melengkungkan tubuh ke arah pria itu. Lidah Kyuhyun beraksi dengan panas.

Sungmin mengerang waktu pria itu menciumi bagian bawah payudaranya sebelum kembali ke bagian yang seakan tak pernah puas diciuminya itu.

Sungmin menempelkan pipi di puncak kepala Kyuhyun dan menyusuri dada dan perut pria itu dengan gerakan lembut tapi penuh hasrat. Dengan takut-takut Sungmin meletakkan tangannya di pinggang jins pria itu. Kyuhyun membenamkan kepala di antara payudara Sungmin dan menggerak-gerakkannya karena tersiksa sekaligus merasa nikmat.

"Oh, ya," bisiknya serak dengan suara bergetar yang makin tidak jelas karena tertutup payudara Sungmin itu. "Sentuhlah aku."

Sungmin membuka kancing jinsnya.

Denting bel pintu kedengaran seperti dentang lonceng katedral di antara suara napas mereka yang terengah-engah, suara biola dari stereo set, dan suara api yang meretih di perapian.

Kyuhyun memaki-maki sambil berusaha duduk dan menunduk kesal. "Siapa sih—"

"Mungkin mereka akan pergi kalau pintunya tidak dibukakan," kata Sungmin penuh harap.

Dering bel sekali lagi menunjukkan bahwa tamu mereka, siapa pun orangnya, tidak mau menyerah. Kyuhyun memaki-maki lagi, tapi bersusah payah bangun dan berjalan ke ruang depan, menyebabkan Sungmin tidak bisa melihat pintu. Dia akan mengingatkan pria itu bahwa dia tak berkemeja tapi tidak sempat karena sudah mendengarnya membuka pintu.

"Oh! Kami tidak mengira akan melihatmu di sini. Ini benar-benar kejutan."

Begitu mendengar suara familiar itu, Sungmin melompat dari sofa. Kakinya yang gemetar nyaris membuatnya tak sanggup berdiri. Dengan jari-jari lemas, dia merapikan mantel dan mengikat tali pinggang. "Oh, Tuhan," teriaknya dalam hati, dan nyaris menangis.

"Siapa—" Kyuhyun akan bertanya, tapi dipotong orang itu.

"Saya Lee Yunho, ayah Sungmin. Apa dia ada?"


.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Halo ^^

I'm back with GK BAB 8.

Wayoloh, ada bapake Sungmin. Eottokhae?! Kkk~

Buat Hamano Hiruka , kok kamu tau nama asli aku? Hehe. Kalau di dunia fangirl, panggil pinku aja ya ^^ kkk~ Bener yang kamu bilang, kita gak boleh membeda-bedakan orang lain, apalagi orang yang memiliki kekurangan fisik. Karena pada dasarnya semua sama dimata Tuhan. Iya, gak? Hehe ^^

Buat yang nanya masa lalu Kyuhyun dan Chengmin dan kenapa Chengmin meninggal, sabar ya. Tunggu aja terus kelanjutannya ^^

Buat minnieGalz , udah 'pervert thing' belum di BAB ini? Haha

Buat chocoyaa , suka banget sama review kamu 'Kyuhyun segitu pengennya nge anu in Sungmin? Betapa cabulnya dia'.

Sekarang gak heran kan kenapa anak Joyers pada cabul, lah bapaknya aja kaya gitu.. haha. Kyuhyun udah ngebet banget itu, sayangnya Sungmin gak bisa kalau gak pake cinta. Bagai sayur tanpa garam, kurang enak kurang sedap *oke abaikan*

Oke deh, just it. enJOY this chapter ok ^^

BIG THANKS TO

Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , kyukyu , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil137 , Fitri , jin , parklili , Park Heeni , Lilly Aylia , choikyumin , chopurple3 , Acho137 , kimpichiadjah , Michiko Haru , Hamano Hiruka , KyuMinJoy137 , farla 23 , Harusuki Ginichi 137411 , ismayminniELF , gyumin1408 & Guest.

(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 7 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)

Once again! Thank you ^^