137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
.
Eloquent Silence
.
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.
.
Don't Like? Just Don't Read ^^
.
.
enJOY it !
.
.
Bab Tiga Belas
Waktulah yang mengobati kesedihan Sungmin dan Minhyun karena kepergian Kyuhyun, walaupun mereka masih terus mengingat pria itu. Dengan keriangan khas anak-anak, Minhyun sudah kembali gembira ketika bangun keesokan paginya, senang melihat salju, dan bersemangat untuk memulai hari baru. Untuk menenangkan pikiran Minhyun dan pikirannya sendiri, Sungmin merencanakan beberapa proyek yang akan menguras energi dan menghabiskan waktu hari ini. Waktu seolah berjalan lebih lambat sejak Kyuhyun pergi.
"Aku tak habis pikir dia meninggalkanmu begitu cepat setelah pernikahan kalian," komentar Ryeowook dari tempat duduknya di dapur. Sungmin sedang mengawasi pembuatan popcorn. Anak-anak belepotan dari ujung jari sampai siku dan memasukkan makanan lengket itu ke dalam mulut sebelum gula cairnya mengeras.
Sungmin tidak menanggapi komentar itu, mengangkat bahu tak acuh dan berkata, "Dia kan punya pekerjaan, Ryeowook. Dia harus kembali ke Seoul."
"Aku tahu, tapi kau harus mengakui, perbuatannya tidak lazim untuk pria yang sedang berbulan madu."
Tapi Kyuhyun tidak betul-betul sedang berbulan madu, kata Sungmin dalam hati, sementara Ryeowook membaca lagi majalah untuk ketiga kalinya.
Dia membeli majalah Hot Issue tadi pagi waktu berbelanja di toserba dan bergegas menunjukkannya pada Sungmin. Foto berwarna di halaman depan yang menampakkan pasangan yang sedang tertawa itu seakan mengolok-olok Sungmin. Dia tidak ingin mengetahui apa isi artikelnya, tapi Ryeowook membacakannya keras-keras, tidak melihat air mata yang menetes di wajah Sungmin. Apa pendapat Kyuhyun tentang berita bohong itu? Apakah dia bahkan melihatnya?
Karena alasan yang tidak bisa dipahaminya, Sungmin tidak mau mengungkapkan bahwa dia dan Kyuhyun tidak benar-benar menikah. Ryeowook takkan dapat memahami kerumitan masalahnya, ia menghujani Sungmin pertanyaan-pertanyaan yang terlalu menyakitkan untuk dijawab.
Seperti orangtuanya, Ryeowook belum boleh mengetahui situasi yang sesungguhnya.
Cepat atau lambat mereka semua akan tahu yang sebenarnya. Sungmin akan merasa sangat tolol, tapi takkan lebih tolol dari yang dirasakannya sekarang. Selama berhari-hari setelah pernikahan palsu mereka, Sungmin hampir berhasil meyakinkan dirinya bahwa cinta Kyuhyun padanya sebesar cintanya pada pria itu. Kyuhyun begitu mesra, begitu bertekad membuatnya bahagia.
Dia mestinya ingat pekerjaan pria itu. Kyuhyun dibayar sangat tinggi untuk menampilkan berbagai emosi setiap hari. Perannya menuntut dia berakting sebagai pengantin baru yang mesra, dan dia memainkan peran itu dengan baik. Dia juga memperoleh imbalan. Tiap malam dia dibayar kontan di atas tempat tidur. Sejak dulu memang cuma itulah yang diinginkan Kyuhyun darinya.
Sekarang Sungmin merah padam karena marah dan malu.
Di awal hubungan mereka Kyuhyun telah memberitahukan apa yang bisa diharapkan Sungmin darinya. Tapi dia malah menipu diri dengan berpikir bahwa dia bisa mengubah perasaan pria itu padanya, bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hubungan fisik.
Dia tidak berniat membuat Kyuhyun melupakan Chengmin. Pria itu takkan pernah melupakan istrinya, dan memang tidak perlu berbuat begitu. Sungmin cuma ingin Kyuhyun bisa mencintai lagi, mencintainya. Dia mengira dirinya hampir berhasil. Lalu dilihatnya wajah pria itu ketika dia memandang foto-foto mendiang istrinya.
Pakaian-pakaian yang berserakan di lantai kamar itu pasti sangat mengingatkannya pada wanita yang pernah memakai semua itu dan menari dengan bersepatu satin.
Penderitaannya terlihat jelas. Apakah dia merasa mengkhianati Chengmin karena telah tidur dengan Sungmin?
Itukah sebabnya dia pergi?
Meskipun Sungmin sudah berusaha keras menyingkirkan pikiran-pikiran meresahkan itu, Sungmin tetap tidak berhasil. Kalau tidak ada Minhyun yang begitu manis, dia pasti sudah sinting. Paling tidak Minhyun menerima kasih sayangnya dan membalasnya. Sungmin bahkan tidak mau memikirkan apa dampak kepergiannya nanti bagi dirinya sendiri dan Minhyun.
Pergi? Ya, Sungmin harus pergi kalau Kyuhyun kembali. Dia tidak mampu meneruskan lagi hubungan mereka seperti dulu. Dia juga takkan sanggup jadi wanita simpanannya, dan tidur dengannya kalau Kyuhyun sedang ingin saja. Dia dulu seperti itu dengan Jungmo, dan seperti yang sangat diketahuinya, itu merupakan jalan buntu.
Kelihatannya dia harus menunggu untuk bisa melihat apa yang diharapkan Kyuhyun darinya. Minhyun menerima satu atau dua surat pendek tiap minggu, tapi pria itu tidak mengirimi Sungmin apa-apa. Sepatah kata pun tidak.
Dia tidak pernah menelepon. Apakah dia telah melupakannya sama sekali?
Dua minggu bertambah jadi tiga, lalu empat. Cuaca sering membuat mereka tidak bisa berjalan-jalan seperti biasa, jadi Sungmin merancang proyek-proyek di dalam ruangan. Mereka menggambar dengan cat air, mereka merangkai manik-manik, mereka membuat kue sampai kulkas penuh dengan kue.
Suatu hari, ketika mereka sedang menghias cake cokelat, Sungmin bertanya pada Minhyun apakah dia ingin membaginya dengan Kangin. Dengan penuh semangat anak itu mengiyakan.
Udara cerah tapi sangat dingin. Mereka memakai mantel tebal dan berjalan kaki ke desa. Kangin tengah bekerja di tokonya yang sepi. Akhir-akhir ini dia tidak sibuk.
Kangin senang bertemu mereka. Merasa takkan ada pembeli, Kangin menutup toko dan mengajak mereka ke tempat tinggalnya di bagian belakang toko.
"Ini, Minhyun," kata Sungmin, memberi gadis kecil itu sepotong besar cake. "Sulit untuk merancang kurikulum pelajaran di musim dingin," katanya, menjelaskan soal oleh-oleh mereka. "Minhyun suka membuat kue, tapi berat badan kami bisa naik dua puluh kilo musim ini saja kalau tidak mengurangi acara masak-memasak ini."
Kangin tersenyum lembut ketika berbalik dari depan kompor, tempat dia tadi menuangkan secangkir kopi untuk Sungmin.
"Aku bisa makan kue itu selama berhari-hari. Terima kasih lagi, walaupun kunjungan kalian saja sebetulnya sudah cukup."
"Kami juga ingin bertemu denganmu. Sejak Kyuhyun-" Sungmin menghentikan apa yang akan dikatakannya. Sejak Kyuhyun pergi, kami jadi tidak bersemangat melakukan apa pun. Dia menyibukkan diri dengan meniup kopi supaya dingin.
"Sungmin, bagaimana perasaanmu tentang kepergiannya?"
Pertanyaan tersebut diucapkan dengan suara pelan, tapi Sungmin tidak bisa mengabaikannya. Diliriknya Kangin ketika pria itu bergabung dengan mereka di meja, sementara tangannya memegang segelas kopi.
"Dia… aku…" Sungmin tidak sanggup melanjutkan dan berusaha menutupi emosinya dengan meraih Minhyun dan menyibakkan rambutnya yang nyaris kena krim cokelat di sekeliling mulutnya. Anak itu memandang gurunya dengan mata yang mirip dengan mata Kyuhyun.
Mata itu sangat mengingatkannya pada Kyuhyun, dan Sungmin merasa air mata mengalir dari matanya dan bergulir di pipi.
"Kau ingin membicarakannya?" tanya Kangin. Disentuhnya tangan Sungmin, yang tergeletak lemas di atas taplak meja kotak-kotak. Matanya kelam, hangat, dan membangkitkan rasa percaya diri. Sungmin mulai bicara, dan mengalirlah seluruh cerita.
Kangin tidak menyelanya. Dia tidak berkomentar waktu Sungmin harus berhenti dan membersit hidung atau menahan tangis. Minhyun, menunjukkan kelembutan dan pengertian jauh melebihi usianya, mendatangi Sungmin dan naik ke pangkuannya. Disandarkannya kepalanya di dada wanita itu dan ditepuk-tepuknya bahunya.
"Kami tidak benar-benar menikah," kata Sungmin serak. "Upacaranya sih sungguhan, tapi janji pernikahannya palsu. Janji itu tak berarti bagi Kyuhyun."
"Tapi bagimu sebaliknya?" tanya Kangin mengerti.
Sungmin berusaha menjawab tapi tidak bisa. Dia cuma memandangnya dan mengangguk nelangsa. "Aku mencintainya, Kangin. Sejak pertama melihatnya aku tahu aku akan mencintainya, dan kulawan perasaan itu. Aku melawan ketika tahu bahwa di matanya aku tidak bisa lebih dari sekadar tubuh hangat di tempat tidur." Dia tidak merasa malu mengungkapkan semua ini.
Kangin tidak akan mencela orang karena mencintai seseorang. "Sebetulnya dia sudah memperingatkan aku bahwa dia mencintai istrinya dan tidak mau menjalin hubungan jangka panjang dengan siapa pun."
Dia menghapus air matanya dengan tisu, yang sekarang sudah basah dan robek-robek. Minhyun memandangnya dengan tatapan prihatin sehingga Sungmin menggosok punggungnya dan tersenyum menenangkan. Anak itu tidak boleh melihatnya segalau ini, Sungmin satu-satunya tempatnya bersandar. Dunia Minhyun pasti sangat terguncang ketika dia melihat guru-ibunya-begini menderita.
"Kurasa kau salah menilai Kyuhyun, Sungmin," Kangin menanggapi. "Jangan terlalu yakin bahwa baginya kau cuma 'tubuh hangat di tempat tidur'. Dia meninggalkanmu dengan tanggung jawab membesarkan anaknya. Dia tidak mungkin selalu bersamanya. Pria mana pun pasti sulit membesarkan anak kecil sendirian."
"Aku dibayar untuk itu, Kangin. Dia bisa saja dengan mudah mempekerjakan orang lain."
"Mungkin jauh lebih mudah. Tapi dia tidak melakukannya. Meskipun ada fakta bahwa seorang wanita cantik yang tinggal di rumah pria pasti akan menimbulkan problem yang tak terhitung banyaknya, dia tetap memilihmu."
"Bukan, aku terpilih untuk dia. Aku sangat direkomendasikan."
"Baik," Kangin menghela napas. "Aku tidak mau seharian mempermasalahkan hal itu denganmu. Ada hal lain."
Suaranya berubah, dan nadanya membuat Sungmin memandangnya. "Aku telah melihat Kyuhyun bersamamu. Aku sudah melihat ekspresi matanya ketika menatapmu."
"Yang kaulihat itu nafsu. Ada gairah menggebu-gebu di antara kami. Aku tahu dia... menginginkan aku."
"Bukan, Sungmin. Aku tahu seperti apa pandangan bernafsu," Kangin tertawa pelan. "Bukan, ada perbedaan nyata. Apa kau tidak mengenali cinta ketika melihatnya?" Senyumnya sedih, dan matanya mengungkapkan lebih dari satu makna dalam kata-katanya barusan.
Sungmin membuka mulut, bermaksud bicara, tapi tidak sanggup. Tidak ada yang perlu dikatakannya. Kangin tahu itu, karena dia cepat-cepat melanjutkan, "Dan aku tidak pernah melihat laki-laki secemburu Kyuhyun ketika aku datang ke rumahmu hari itu."
"Dia cemburu karena Minhyun menyayangimu," tukas Sungmin. "Menurutnya sangat tidak pantas jika kau dan aku berpacaran." Dia tertawa pahit. "Kalau mengingat apa yang ada dalam pikiran Kyuhyun tentang aku, reaksinya terhadap kencan seminggu sekali kita bersama Minhyun juga terasa lucu. Kalau bukan menyedihkan."
"Istrinya ini, dia meninggal tiga tahun yang lalu?"
"Ya. Dokter Park memberitahu aku bahwa wanita itu meninggal waktu Minhyun baru berumur beberapa bulan. Cuma itu fakta yang kuketahui, dan Kyuhyun tidak menjelaskan lebih lanjut. Istrinya merupakan topik yang sama sekali tabu dibicarakan."
"Hmm," kata Kangin. "Aneh bahwa pria yang begitu cerdas dan percaya diri seperti Kyuhyun berkabung begitu lama."
Sungmin menarik napas dalam-dalam. "Aku juga tidak bisa memahaminya, Kangin. Tapi dia memang berkabung. Aku tidak meragukannya sedikit pun."
.
.
.
Sungmin dan Minhyun pulang tidak lama kemudian. Air matanya ternyata bisa menyalurkan depresinya sedikit, dan dia merasa lebih baik ketika meninggalkan rumah Kangin.
Di pintu Kangin memegang bahunya. "Sungmin, jika ada yang bisa kubantu, tolong jangan ragu menghubungiku. Aku tahu bagaimana rasanya memendam sakit, dan kadang-kadang rasanya lebih enak jika berbagi cerita."
Kangin, di suatu masa dalam hidupnya, pernah merasakan penderitaan yang menyakitkan. Insting Sungmin mengetahuinya. Itukah sebabnya Kangin tidak pernah mencela orang lain? Itukah sebabnya dia begitu penuh pengertian? Apakah dia sadar perbuatan keji biasanya merupakan akibat hati yang terluka?
.
.
.
Tiga minggu setelah kunjungan mereka ke tempat Kangin, badai salju pertama musim dingin tahun ini menyerang dengan kekuatan penuh. Meskipun hari-hari berlangsung monoton, Sungmin merasa lebih bisa menerima dirinya dan situasinya yang menyedihkan. Dia mencoba berbagai metode untuk mengajar Minhyun bicara, dan gembira ketika anak itu mulai menampakkan kemajuan.
Di siang hari ketika badai salju datang, angin meraung-raung sementara mereka duduk di depan cermin di kelas, berusaha menyempurnakan pengucapan huruf 'P'. Sungmin meletakkan kapas di tangan dan menunjukkan bagaimana benda itu terbang ketika dia mengucapkan huruf itu dengan benar. Minhyun meniru perbuatannya dan berseri-seri bangga ketika bisa menyuarakannya.
Sungmin meninggalkannya untuk berlatih dengan kapas dan pergi ke ruang tamu karena ingin menyelidiki suara di luar yang tadi didengarnya. Ketika sampai di jendela-jendela lebar, dia memandangi salju yang berputar-putar dari balik gorden tebal. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika dia melihat Kyuhyun keluar dari mobil dan menundukkan kepala untuk melindunginya dari angin sambil bergegas menaiki tangga licin menuju teras.
Pria itu mengangkat tangan untuk mengetuk, tapi Sungmin buru-buru lari ke pintu dan membukanya supaya dia bisa masuk. Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepala, yang diselimuti salju, dan melipat kerah mantel kulitnya sebelum menoleh untuk memandangnya. "Sungmin," sapanya.
Sungmin berusaha menyebut namanya, tapi cuma sanggup komat-kamit.
"Apa kabar?" tanya pria itu.
"B-baik," Sungmin tergagap. Lalu dia menggeleng sedikit, berusaha menjernihkan pikiran, dan berkata lebih tegas, "Aku… kami baik-baik saja. Semua baik." Dia tidak akan menanyakan kenapa pria itu datang kemari. Mereka sudah pernah memainkan adegan itu.
"Mana Minhyun?" tanya Kyuhyun.
"Dia di kelas. Kami mengubah sedikit jadwal kami sejak kau..." Suara Sungmin menghilang. "Begini lebih enak," katanya tidak jelas.
Kyuhyun tidak berkomentar, cuma berbalik menuju kelas dan memasuki pintunya. Sebelum tiba di sana, Sungmin sudah mendengar jeritan senang Minhyun.
Kyuhyun berdiri di tengah ruangan sambil menggendong Minhyun. Lengan anak itu memeluk leher ayahnya dan kakinya memeluk dadanya. Tangan Kyuhyun menahan bokongnya. Bunny, yang jarang dilepaskannya sejak Kyuhyun pergi, sekarang tergeletak di samping kursi.
Minhyun mencondongkan tubuh ke belakang dan menatap wajah ayahnya. "Min-yun, Min-yun," katanya, menepuk dada. "Dau-dy. Dau-dy," katanya, memeluk Kyuhyun lagi.
"Oh, Sayang, hebat sekali," puji Kyuhyun, tapi gadis kecil itu tidak bisa mendengar pujiannya. Dia cuma melihatnya di mata ayahnya. Kyuhyun memandang Sungmin, yang masih berdiri di pintu, dan tersenyum lebar pada wanita itu. "Menakjubkan, Sungmin. Dia pintar, ya?"
Kyuhyun yang sekarang sama seperti Kyuhyun yang duduk di hadapannya di restauran dulu, seorang ayah yang khawatir, dan Sungmin mengiyakan, "Ya, Kyuhyun. Dia sangat pintar."
Kyuhyun membebaskan sebelah tangannya untuk mengeluarkan dua bungkus permen karet dari saku.
Minhyun langsung menyambarnya dan ayahnya mengizinkannya membuka sebungkus. Jelaslah pelajaran hari ini telah berakhir.
Ribuan pertanyaan berputar-putar di dalam kepala Sungmin, tapi dia menahan keinginan untuk menanyakannya. Tidak lama lagi dia pasti akan tahu mengapa Kyuhyun muncul pada hari paling buruk sepanjang tahun ini. Dia cuma bertanya, "Kau mau cokelat atau kopi? Kau pasti kedinginan."
"Cokelat saja, terima kasih. Aku ke kamar mandi dulu, setelah itu kutemui kau di dapur."
Tangan Sungmin gemetar ketika dia membuat cokelat panas, minuman yang dipilih Kyuhyun. Diambilnya dari kulkas beberapa kue buatannya dan Minhyun, lalu dimasukkannya ke microwave. Aroma khas kue dipanggang memenuhi dapur.
.
.
.
"Kalau tidak tahu yang sebenarnya, bisa-bisa aku mengira kau sudah menunggu kedatanganku," kata Kyuhyun, masuk ke dapur dan menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari. Jins ketatnya melekat di pinggul, dan sweater biru muda yang dikenakannya membuat matanya bercahaya.
Sungmin menelan ludah. Pria itu seksi sekali. Berbagai kenangan, eksplisit dan jelas, memenuhi benaknya. Dipaksanya matanya memandang ke arah lain.
"Minhyun dan aku sering membuat kue akhir-akhir ini. Beberapa minggu yang lalu, kami membuatkan cake cokelat untuk Kangin." Pemberitahuan itu dimaksudkan untuk menyakiti hati Kyuhyun, dan Sungmin tahu itu perbuatan yang tidak pantas.
Jika pria itu tadinya berniat menanggapi, dia tidak jadi melakukannya karena Minhyun datang, minta dipangku sementara si ayah menyesap cokelat. Mereka berkomunikasi dalam bahasa isyarat selama beberapa menit, dan Sungmin senang melihat Kyuhyun tidak melupakan kemampuan bahasanya. Pria itu malah tampak makin mahir.
"Yah," gumamnya, dan bersandar di kursi setelah menghabiskan cokelat dan Minhyun asyik mewarnai gambar, "kami telah mengistirahatkan Dokter Marcuss."
"Apa!" seru Sungmin kaget. "Apa maksudmu?"
"Maksudku," jawab pria itu sambil tersenyum, "dia tidak pernah siuman setelah kepalanya dipukul di taman, ingat?" Setelah Sungmin mengangguk, dia meneruskan, "Dia meninggal dalam tidur tanpa pernah sadar. Laki-laki yang malang," kata Kyuhyun dengan gaya kasihan berlebihan.
"Apa yang akan kau lakukan, Kyuhyun?" Sungmin sudah lupa pada tekadnya tadi untuk tidak mengajukan pertanyaan apa pun.
"Dau-dy." Minhyun menarik perhatiannya supaya dia mengomentari gambarnya. Setelah memuji-mujinya, Kyuhyun menoleh kembali pada Sungmin yang tidak sabar menunggu penjelasannya.
"Aku ingin ambil bagian dalam sebuah drama yang sebentar lagi dibuat. Pembuatnya adalah perusahaan produksi yang bagus. Aku mendengarnya melalui selentingan dan menyerbu agenku supaya bergerak dan mendapatkan peran itu untukku. Aku mengikuti tes peran. Mereka menyukaiku. Kelihatannya sih prospeknya bagus." Dia membuang muka dengan malu. "Ceritanya tentang anak autistik yang tuli. Mereka membutuhkan orang yang tahu bahasa isyarat untuk berperan sebagai ayahnya."
"Oh, Kyuhyun, bagus sekali," kata Sungmin hangat dan bersungguh-sungguh. "Aku berharap semua berjalan sesuai keinginanmu. Kau takkan merindukan Dokter Marcuss?"
"Mungkin aku akan merasa kecewa sedikit, tapi kurasa takkan lama. Yang paling menyenangkan adalah aku akan punya waktu lebih banyak bersama Minhyun. Selama beberapa waktu mungkin aku harus sering bepergian, dan jarang ada di rumah, tapi di sela-sela pekerjaan kita bisa berlibur seperti keluarga lain." Dia mengulurkan tangan untuk menepuk kepala anaknya dan tidak melihat ekspresi Sungmin.
Wanita itu tiba-tiba meninggalkan meja dan menyibukkan diri dengan mengeluarkan casserole, salah satu proyek mereka saat hari hujan , dari kulkas dan memasukkannya ke oven untuk makan malam.
Kyuhyun terus bercerita. "Untuk sementara kita mungkin harus agak prihatin. Aku harus mengontrol keuangan, hal yang tidak perlu kulakukan beberapa tahun terakhir ini. Tapi aku sudah menabung cukup banyak untuk membiayai hidup kita kalau situasi memburuk." Dia tertawa. "Boleh percaya atau tidak, agenku sangat gembira. Dia bilang klien-klien menginginkan wajahku terpampang di berbagai iklan. Kau bisa memperoleh banyak uang dalam sehari kalau muncul di iklan berskala nasional. Sebelum ini aku tidak pernah berminat membintangi iklan, tapi sekarang aku akan memanfaatkan ketenaranku."
Sungmin mencuci selada di bawah keran. "Aku yakin kau pasti akan sukses, Kyuhyun. Apa pun yang kau kerjakan."
Dia bersyukur ketika pria itu menawarkan untuk membawa pergi Minhyun sementara dia menyiapkan makan malam. Begitu mereka keluar ruangan, Sungmin bersandar lemas di permukaan meja dan menutupi wajah dengan tangan.
Kyuhyun telah memecatnya, biarpun tidak terang-terangan mengatakannya. Dia tidak menyinggung-nyinggung tentang pernikahan palsu dan hubungan asmara mereka, malah mengatakan akan punya waktu lebih banyak untuk Minhyun, membuat Sungmin merasa tak berguna. Kyuhyun menggajinya mahal. Di masa yang akan datang uangnya tidak lagi sebanyak sekarang. Pria itu harus berhemat, dan Sungmin yakin dia termasuk salah satu yang digusur.
Dia takkan sulit mencari pekerjaan lain. Guru untuk kaum tuna rungu selalu dibutuhkan, tapi tidak akan ada kegembiraan dalam menerima pekerjaan lain. Dia akan selalu memikirkan murid yang telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri itu.
Kau kan sudah mengetahui bahayanya kalau terlalu dekat, terlalu terlibat, Sungmin, dia memarahi dirinya.
Sekarang rasakanlah akibatnya.
Sebuah pikiran menghiburnya. Minhyun terlalu muda untuk lama mengingatnya. Anak itu mula-mula memang akan kehilangan Sungmin, tapi dia akan segera melupakannya. Sungmin meyakinkan dirinya bahwa pikiran itu menenangkan. Kalau begitu, mengapa dia merasa sakit sekali ketika memikirkannya?
"Sungmin?" Dia terlonjak ketika Kyuhyun memanggil namanya dari ambang pintu dapur.
Setelah menenangkan diri, dia memandang pria itu. "Ya?"
"Kotak-kotak berisi barang-barang Chengmin masih di dalam lemari itu?"
Tangan Sungmin mengepal di balik punggung, dan dia dapat merasakan kuku-kukunya menusuk telapak tangannya.
Tenggorokannya tercekat, tapi dia berhasil menjawab cukup tenang, "Ya. Aku tidak menyentuhnya."
Cuma "Oke" yang dikatakan Kyuhyun sebelum memukul kusen pintu dan pergi.
Sungmin butuh waktu beberapa detik untuk menenangkan diri. Teganya Kyuhyun menanyakan hal seperti itu padanya, tanpa memedulikan perasaannya sedikit pun.
Apakah dia mengira Sungmin menyerahkan diri padanya dengan gampang?
Apakah malam-malam di tempat tidur pria itu harus dilupakan seolah tak pernah terjadi?
Apakah Kyuhyun berpikir Sungmin bisa melupakan sentuhan tangan dan mulutnya yang lihai?
Ia teringat kata-kata cinta yang dibisikkan pria itu ketika mengajarinya berbagai cara untuk menyenangkannya. Kyuhyun menggumamkan dorongan semangat dan pujian tiap kali dia membawa Sungmin kembali dari tempat di mana semua tampak berkilauan. Berulang kali, dan dengan cara yang selalu berbeda, pria itu membawanya ke sana. Tapi dia selalu menunggu di sisi lain untuk memeluk, membelai, dan merayunya.
Saat makan malam Kyuhyun terus bicara, memuji makanan buatan sendiri yang, katanya, baru kali ini dirasakannya lagi sejak kembali ke Seoul. Dia menceritakan semua gosip: siapa yang terlihat dengan siapa di club mana. Sungmin menanggapi cuma kalau diminta.
Ketika Kyuhyun menanyakan kabar Ryeowook dan keluarganya dia menceritakan lelucon tentang Yewook dan sekaleng cat yang disambut Kyuhyun dengan tawa terbahak-bahak.
Minhyun bisa memahami bahasa isyarat yang digunakannya dan menambahkan ceritanya tentang kejadian tersebut. Anak itu ikut tertawa bersama Kyuhyun.
Setelah makan Kyuhyun membantu mengangkat piring-piring, tapi Sungmin menyuruhnya pergi. "Lebih baik kau temani Minhyun," katanya.
"Oke. Aku memang ingin menyampaikan suatu masalah penting padanya," kata Kyuhyun, mengikuti saran Sungmin dan meninggalkan dapur untuk menemukan anaknya.
Piring-piring sudah dicuci, dan Sungmin tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menyibukkan diri. Dia sengaja berlama-lama ketika menyiapkan makan malam dan bersih-bersih, tapi sekarang dia tidak punya pilihan selain bertemu Kyuhyun.
Tuhan, beri aku kekuatan, dia berdoa ketika masuk ruang tamu. Bagaimana dia bisa bersama Kyuhyun tanpa jadi bagian dari pria itu? Bisakah dia dekat dengannya tanpa menyentuhnya? Sejak Kyuhyun datang, mengibaskan salju dari mantelnya, dia ingin sekali mendekati dan merasakan pelukannya lagi. Itu sama sekali tak mungkin. Dalam beberapa hari ini dia kemungkinan besar akan menyingkir dari kehidupan pria itu.
Dia sedang memeriksa kunci pintu depan ketika mendengar suara Kyuhyun datang dari kelas. Suara itu bisa didengarnya meskipun angin menderu-deru dan butiran es berdetik-detik mengenai jendela.
"Mom-my," kata Kyuhyun jelas dan menekan setiap suku kata.
"Pegang di sini, Minhyun," Sungmin mendengarnya berkata.
"Letakkan jari-jarimu di tenggorokanku. Mommy. Mom-my. Mengerti? Kau bisa melakukannya?"
"Mau-my," Sungmin mendengar Minhyun mengatakannya dengan susah payah.
"Ya!" Didengarnya Kyuhyun berseru sambil menepuk punggung si anak.
"Hampir benar," katanya. "Tulisannya seperti ini. M-O-M M-Y, Mom-my. Coba lagi," dorongnya.
Sungmin menutup mulut untuk menahan seruan sedih yang keluar dari tenggorokannya. Foto-foto itu! Kyuhyun tadi bertanya apakah barang-barang Chengmin masih di atas. Dia pasti mengambil beberapa benda untuk membantu menjelaskan pada Minhyun hubungan anak itu dengan wanita di foto-foto tersebut.
"Aku tidak sanggup lagi," desis Sungmin, dan lari ke atas.
Begitu membuka pintu kamar, dia melihat pintu lemari tempat kotak-kotak itu disimpan, sekarang terbuka.
Kyuhyun telah memeriksa isi kotak-kotak itu dan mengambil apa yang ingin ditunjukkannya pada anaknya.
Oh, Tuhan, Sungmin tersedu. Kyuhyun masih mencintai Chengmin. Sampai kapan pun. Di alam bawah sadarnya Sungmin berharap kepulangan pria itu menandakan Kyuhyun telah mempertimbangkan kembali hubungan mereka.
Mungkin Kyuhyun ingin pernikahan pura-pura mereka dijadikan sungguhan. Sekarang dia tahu yang sebenarnya.
Dia juga tahu apa yang harus dilakukannya.
Tanpa pikir panjang, Sungmin mengeluarkan koper dari kolong tempat tidur dan mulai berkemas-kemas. Dia membawa yang perlu saja. Dia akan minta Ryeowook mengirimkan barang-barangnya yang lain belakangan.
Saat ini dia bahkan tidak punya alamat. Setelah selesai, dikuncinya koper dan didorong-nya lagi ke kolong tempat tidur. Dia tidak ingin Kyuhyun mengetahui rencananya.
Lee Sungmin seorang pejuang. Menyerah bukanlah sifatnya. Seumur hidup hanya sekali dia terpaksa mundur, waktu pernikahannya tidak bisa diperbaiki lagi.
Dia pejuang, tapi kalau kekalahan sudah tak terelakkan, kalau kemenangan di luar jangkauannya, dia tahu cara menyerah dengan terhormat meskipun hatinya terluka.
Dia bisa menerima kenyataan bahwa Kyuhyun takkan pernah membalas cintanya. Dia pergi, sekarang.
Mumpung dia masih memiliki harga diri.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Hallo ^^ I'm back. Who miss me? No one? I know u.u
Ini dia chap 12 nya. Btw aku juga update Fifty Shade of Cho (FSOC) sekalian. Sebenernya itu yang bikin lama update *alasan*
For nugu, aku nyerah. Bener-bener lupa u.u
For guest, jangan panggil nama asli u.u Pinku aja XD
BIG THANKS TO
Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , Girls in awesome world , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil137 , Fitri , jin , parklili , Park Heeni , Lilly Aylia , choikyumin , chopurple3 , Acho137 , kimpichiadjah , Michiko Haru , Hamano Hiruka , KyuMinJoy137 , farla 23 , Harusuki Ginichi 137411 , ismayminniELF , gyumin1408 , Shengmin137 , lee kyuza , mandwa , gogoflo55 , kyuna36 , Loving Kyu and Ming , Anisa Jung , kaissss , Cho Minseo , gaemxian137 , arinafebianca07 , WineKyuMin137 , saturn99 , kim nophi , nugu , MaVK9597 , leleekyumin , Karen kouzuki , Fanya Amelia137 , ichadkelpeu , Ratry joyers , nanayukeroo , ayu aidenkyu joyer , Wiprasetyalee , stuckyu & Guest.
(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 12 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)
Once again! Thank you ^^
