137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
.
Eloquent Silence
.
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.
.
Don't Like? Just Don't Read ^^
.
.
enJOY it !
.
.
Bab Empat Belas
Sulit sekali menyuruh Minhyun tidur. Anak itu gembira dengan kehadiran Kyuhyun di rumah dan melakukan kenakalan-kenakalan yang di lain waktu pasti tidak akan ditolerir Sungmin.
Akhirnya dia bisa dimandikan, dicium, dan dibaringkan di tempat tidur. Ketika dia mengucapkan doa yang diajarkan Sungmin dalam bahasa isyarat, mata Sungmin berkaca-kaca. Dia berlutut dan memeluk anak itu, menikmati wanginya yang bersih dan segar, serta kelembutan kulitnya.
'Aku menyayangimu, Minhyun', dia mengisyaratkan sebelum keluar kamar, meninggalkan Kyuhyun untuk mematikan lampu.
Dia pergi ke kamar tidur utama dan menutup pintu, tapi beberapa detik kemudian, Kyuhyun mengetuknya. "Ya?"
"Layanan kamar," kata Kyuhyun riang sebelum membuka pintu. "Bagaimana kalau kau turun dan minum segelas anggur denganku di depan perapian? Malam ini sempurna untuk melakukannya." Maksud tersembunyi ucapannya adalah malam ini sempurna untuk melakukan hal-hal lain juga.
Kata-katanya membuat Sungmin marah, dan dia harus bersusah payah menahan kemarahannya. Kyuhyun masih beranggapan bisa memanfaatkannya sesuka hati. Yah, pria itu akan segera tahu bahwa dia bukan wanita gampangan!
"Aku sedang sakit kepala," kata Sungmin datar. "Kurasa karena angin yang bertiup seharian. Yah, pokoknya aku sedang tidak enak badan. Kurasa aku mau tidur saja. Aku lebih membutuhkan tidur nyenyak daripada segelas anggur."
"Menurut saya, Anda terlalu banyak protes."
"Maaf, Kyuhyun. Pokoknya aku tidak ingin turun," kata Sungmin ketus.
Pria itu memandangnya beberapa lama, kemudian berkata, "Baiklah. Sampai besok pagi."
.
.
.
Sungmin mendengar suara samar pesawat televisi ketika dia mondar-mandir di kamar. Akhirnya televisi dimatikan, dan dia mendengar Kyuhyun masuk ke kamar di sebelah dapur. Air berkecipak di kamar mandi waktu pria itu bersiap-siap tidur.
Akhirnya rumah senyap. Sungmin berjingkat-jingkat ke puncak tangga dan memasang telinga. Semua lampu sudah padam. Kembali ke kamar, dia menunggu dua puluh menit lagi sebelum memakai mantel, mengambil koper dari kolong tempat tidur, dan mengendap-endap menuruni tangga.
Angin sudah berhenti, tapi salju masih turun dengan deras ketika Sungmin melangkah ke teras depan. Setelah tanpa suara meletakkan koper, dia menutup pintu.
Dengan hati-hati dia menuruni tangga berlapis es, dan setengah meluncur setengah berjalan ke mobil Mercedes-nya.
Pintu mobil itu beku sehingga sulit dibuka. Setelah berkali-kali mencoba membukanya dengan satu tangan, dia terpaksa meletakkan tas sandang dan kopernya di salju dan menarik dengan dua tangan sampai pintu itu terbuka, nyaris membuatnya terjungkal.
Dimasukkannya tas-tas ke bangku belakang dan duduk di balik kemudi. Dari balik sarung tangan kulitnya, dia dapat merasakan kemudi itu sedingin es, dan dia menggigil meskipun sudah memakai mantel tebal.
Bagaimana kalau mobil ini tidak mau menyala?
Dia menginjak pedal gas beberapa kali, kemudian memutar kunci mobil. Mesinnya menggeram, terbatuk-batuk, lalu diam.
"Sialan!" gumamnya sambil mencoba lagi. Ketika dia akan menyerah, mesin hidup dan derumnya terdengar bagai suara paling merdu di telinganya. Selama berusaha menyalakan mobil tadi, dia terus memandang pintu depan dengan gelisah, takut Kyuhyun mendengar suaranya.
Rupanya desir angin menenggelamkan suara-suara lain. Sambil memandang rumah untuk terakhir kali, dia memasukkan persneling, dan roda-roda mobil berjuang untuk bisa berputar di tanah yang licin.
Pikirannya begitu kacau sehingga dia tidak mempersiapkan diri untuk mengemudi dalam badai salju.
Panik melandanya ketika roda-roda tidak bisa dikontrol dan meluncur ke tepi jalan. Dia berhasil meluruskan mobil lagi, tapi dengan gugup dia menggigit-gigit bibir bawahnya. Lebih erat mencengkeram kemudi, dia bertekad takkan kembali. Kyuhyun mengemudi dalam badai ini. Jika pria itu bisa melakukannya, begitu juga dia. Kalau dia menunggu sampai besok pagi, jalanan akan lebih beku.
Dia butuh waktu hampir sepuluh menit untuk keluar dari jalan kecil yang menuju rumah itu. Ketika sampai di kaki bukit tempat jalan kecil itu bertemu dengan jalan ke desa, dia menginjak rem, tapi mobil tidak mau berhenti. Mengira dia bisa masuk ke jalan itu tanpa perlu betul-betul berhenti, dia memutar kemudi tidak lebih dari sepersekian inci saja. Tapi itu sudah cukup.
Sebelum dia sempat memegang kontrol lagi, mobilnya sudah meluncur tak tentu arah. Mobil itu berputar tak terkendali, roda belakangnya mula-mula bergerak ke satu sisi jalan, kemudian ke sisi yang satu lagi.
Sungmin refleks menginjak rem. Roda-roda mengunci, dan bagian belakang mobil menghunjam tumpukan empuk salju di dalam selokan. Sungmin duduk menghadap ke atas seperti di kursi periksa dokter gigi. Dia tidak terluka. Mobilnya tidak mungkin rusak berat, karena terjunnya ke selokan tadi tidak keras dan dia tidak mendengar bunyi logam berderak. Tapi mobil itu terbenam dalam-dalam di salju.
Dimatikannya mesin.
Sebelum dia sempat memikirkan jalan keluar dari masalah ini, pintu di sisi pengemudi disentakkan sampai terbuka, dan dia nyaris menjerit sampai melihat wajah Kyuhyun. Wajahnya tidak seramah biasanya, melainkan berkerut marah. "Apa kau terluka?" bentak Kyuhyun.
Sungmin menggeleng, tidak tahu apakah harus merasa gembira karena selamat dari kecelakaan ini atau tidak.
Saat ini dia lebih takut pada Kyuhyun dibandingkan pada kemungkinan kecelakaan mobil.
Pria itu menyambar lengan atasnya dan menyeretnya keluar dari balik kemudi. Ketika Sungmin memberontak dan berusaha mengambil tas-tas di bangku belakang, Kyuhyun berteriak, "Biarkan saja." Dia memakai mantel kulitnya,
tapi tidak mengancingkannya, dan mantel itu berkibar-kibar ketika dia berusaha menaiki tepi selokan yang tertutup salju setinggi lutut. Salju yang berputar-putar dan kegelapan makin menyulitkan mereka. Kyuhyun menarik Sungmin, tidak peduli bahwa salju mencapai setengah paha wanita itu.
Sungmin memanggilnya sekali waktu merasa mata kakinya akan terkilir, tapi pria itu tidak mendengarnya. Atau dia sengaja tidak memedulikannya.
Ketika akhirnya mereka berhasil keluar dari selokan, Sungmin bersyukur punya kesempatan beristirahat, tapi Kyuhyun berpendapat lain. Makin kuat mencengkeram lengannya, pria itu mulai menyusuri jalanan, tersandung-sandung, terpeleset, dan memaki-maki sambil berjalan.
Seingat Sungmin tidak pernah dia melihatnya semarah ini. Kyuhyun tidak memakai topi, tapi tampaknya sanggup menahan angin dan salju dingin yang menyelimuti rambutnya yang awut-awutan ditiup angin.
Sungmin segera kehabisan tenaga dan ketinggalan. Pria itu menyentakkannya dan mendesis di telinganya, "Kalau kau tidak segera bergerak, jejakku tadi akan tertutup salju. Jika itu sampai terjadi, kita akan tersesat di luar sini. Itu yang kau mau?" Dia mengguncangnya sedikit dan Sungmin ketakutan memandangnya. Dia menggeleng, dan mereka melanjutkan mendaki bukit.
Sungmin terpeleset di tangga yang menuju teras depan dan tersungkur. Ditahannya tubuhnya dengan tangan. Kyuhyun memegang tubuhnya dan menariknya berdiri tanpa basa-basi atau kelembutan. Pria itu membuka pintu depan dengan bahunya dan mendorong Sungmin ke dalam.
Kaki Sungmin beku dan terasa seperti kayu ketika dia berjalan terseret-seret menuju tangga. Dia bermaksud kabur dari Kyuhyun. Pria itu pasti mengetahui niatnya, karena dia membuntutinya, dan mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat, lalu menariknya ke arah perapian.
"Awas kalau kau bergerak," ancam Kyuhyun dengan suara galak. Dia berjongkok dan mengaduk-aduk bara api sebelum menambahkan kayu ke perapian. Setelah api menyala sesuai keinginannya, dia memandang Sungmin.
Kalau tadi Sungmin belum kedinginan dan menggigil, maka tatapan Kyuhyun pasti bisa membuat darahnya beku. Mata pria itu berkilat-kilat marah. Rahangnya keras dan tak kenal kompromi.
Sungmin mengernyit ketika pria itu mengangkat tangan.
Bukan menghajarnya seperti dugaannya, Kyuhyun malah memegang bahu Sungmin dan menariknya ke dekatnya sampai dia harus mendongak supaya bisa melihat pria itu.
"Kalau kau ulangi kelakuanmu tadi, akan kupukul pantatmu. Kau dengar?" Dia mengguncangnya lagi, dan kepala Sungmin bergoyang-goyang tak berdaya. "Apa sih maumu?" desaknya. "Hah?" dia menambahkan ketika wanita itu tidak menjawab.
Api sedikit demi sedikit menghangatkan Sungmin dan bersamaan dengan itu timbul kemarahannya. Apa hak Kyuhyun memarahinya? Dia kan manusia merdeka. Dia bisa pergi kalau mau, tanpa perlu memberikan penjelasan pada pria itu.
Sungmin melepaskan diri dari pegangannya dan menjauh, kemarahan mereka kini sebanding. Mereka sekarang saling mengawasi seperti petinju, masing-masing mengira-ngira kekuatan lawan.
"Kalau kau mencemaskan mobilmu, aku meninggalkan surat di atas untuk memberitahumu bahwa mobilmu akan kutinggalkan di lapangan parkir stasiun supaya bisa kau ambil." Dagunya naik sedikit dengan sikap membangkang.
"Aku tidak mencemaskan mobil sialan itu!" geram Kyuhyun. "Apakah kau meninggalkan surat juga untuk Minhyun, menjelaskan kepergianmu yang diam-diam? Aku yakin dia akan bertanya-tanya di mana kau berada," ejeknya.
Kata-katanya itu membuat Sungmin terdiam sesaat dan dia bergumam tidak jelas.
"Aku tidak mendengar omonganmu barusan," kata Kyuhyun, bersidekap dengan gaya arogan yang menjengkelkan Sungmin.
"Aku bilang," kata Sungmin penuh tekanan, "aku akan membiarkan kau yang menjelaskannya."
"Dan apa yang harus kukatakan padanya?"
Kilau rambutnya bagai mencerminkan kemarahan yang makin memuncak di dalam hatinya. Cuma itu caranya membela diri terhadap kekurangajaran sikap Kyuhyun. "Katakan padanya aku menghargai diriku lebih dari sekadar simpanan aktor yang mengharapkan setiap wanita bertekuk lutut di hadapannya. Katakan padanya bahwa meskipun sangat menyayangi dan peduli pada masa depannya, aku tidak bisa tetap bersamanya dan dihina serta direndahkan gara-gara hubungan asmara hambar yang tanpa makna. Aku dibayar untuk menjadi gurunya, bukan untuk menghangatkan tempat tidur ayahnya."
Dadanya naik-turun karena kesal, dan tubuhnya setegang senar biola. "Aku akan pergi dari sini walau harus jalan kaki sekalipun! Aku tidak peduli apakah akan bertemu kau lagi atau tidak, Cho Kyuhyun." Sungmin berbalik.
"Tidak," kata pria itu serak.
Sungmin begitu kaget ketika mendengar emosi dalam suara Kyuhyun sehingga langsung berhenti. Penasaran tentang perubahan suasana hatinya yang sangat cepat, dia memandang pria itu lagi. Mata Kyuhyun, yang baru beberapa saat yang lalu penuh kemarahan, sekarang tampak muram, putus asa, dan memelas.
"Takkan kubiarkan kau meninggalkan aku, Sungmin. Katakan kau tidak akan pergi." Sementara Sungmin memandangnya dengan takjub, Kyuhyun berlutut dan memeluk pinggangnya. Wajahnya menekan perutnya dan dengan lembut pria itu menciumnya. "Aku pernah bersumpah takkan mencintai wanita lain. Tapi kenyataannya lain. Ya Tuhan, aku mencintaimu. Aku takkan membiarkanmu pergi," ulangnya.
Tangan Sungmin bergerak otomatis ke puncak kepala Kyuhyun, dan diusapnya titik-titik air dari rambut coklat itu. Menjauh darinya, dia berlutut untuk menatap pria itu.
"Kyuhyun? Apa maksudmu?" Dipandanginya wajah Kyuhyun untuk melihat apakah pria itu berbohong.
Berpura-purakah dia?
Apakah ini adegan mengharukan dan tragis di akhir sandiwara ketika masa depan sepasang kekasih terancam?
Bukan.
Ekspresi sakit, rindu, dan putus asa yang dilihatnya di wajah Kyuhyun amat nyata.
Pria itu tidak sedang berakting.
Kyuhyun menyibakkan helai-helai rambut hitam Sungmin yang basah karena salju dari pipinya dan berkata lembut, "Kau pikir aku seenaknya datang kemari hari ini dan mengira bisa melanjutkan hubungan kita, kan?"
Sungmin mengangguk.
"Dan kau kira waktu aku mengajakmu turun dan minum segelas anggur denganku, aku akan merayumu, bukan?"
Sungmin mengangguk lagi.
"Yah, kau benar," dia malu-malu mengakui. "Tapi pertama-tama aku akan memintamu menjadikan pernikahan kita pernikahan sungguhan. Atau tepatnya pernikahan yang sah di mata hukum. Sejak dulu aku sudah merasa upacara pernikahan yang dipimpin ayahmu itu sungguhan."
"Kyuhyun," bisik Sungmin, "kenapa baru sekarang kau memberitahukan hal ini padaku?"
"Kenapa?" tanyanya. "Memangnya kau akan mempercayai aku? Kau selalu begitu defensif, mencari motif-motif tersembunyi, tidak pernah mempercayai emosi jujur ketika melihatnya." Dia mencondongkan tubuh ke depan dan mencium kening Sungmin.
"Aku lebih memahami dirimu daripada kau sendiri, Cho Sungmin," kata Kyuhyun. "Aku memberitahumu pada pertemuan kedua kita bahwa wajahmu terlalu ekspresif sehingga kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu." Dia menelusuri wajah Sungmin dengan penuh kasih sayang.
"Jungmo pasti bajingan. Dari ceritamu yang cuma sedikit, kurasa aku bisa menebak seperti apa hidupmu dengannya. Dia pemurung dan emosional, dan kau merasa seperti selalu berjalan di atas kulit telur karena tidak ingin merusak perasaannya yang rapuh. Betul?"
"Ya," kata Sungmin. Bagaimana Kyuhyun bisa mengetahui semua itu?
"Yah, aku juga pemurung dan emosional. Malah, aku bisa jahat sekali. Tapi kau jelas tidak pernah ragu-ragu untuk menunjukkan kegalakanmu kalau aku kelewatan. Kau tahu, entah menyadarinya atau tidak, aku tidak seperti Jungmo. Aku lebih kuat. Aku tidak serapuh dia. Aku takkan pernah butuh bantuan alkohol untuk menghindari rintangan."
"Hidup bersama orang yang selalu diperhatikan masyarakat memang sulit. Aku menyadarinya. Tapi apa pun yang dikatakan orang atau kau baca tentang aku, jangan kau percayai kecuali aku mengatakan itu benar. Kalau situasinya terasa terlalu sulit untuk diatasi, aku akan pergi dan melakukan hal lain. Bagiku, akting merupakan profesi, bukan kegemaran. Kau dan Minhyun akan selalu menjadi prioritasku."
Dia menarik napas dalam-dalam. "Nah, kalau kau sanggup menghadapi temperamen artis ini, aku sanggup menghadapi sifat pemarahmu "
"Sifat pemarah!" teriak Sungmin, langsung menunjukkan sifatnya itu. Dia terpancing, dan pria itu tertawa.
Dengan perasaan malu Sungmin ikut tertawa, kemudian bersandar padanya dan berkata, "Tidak, kau sama sekali tidak seperti Jungmo. Dan aku sekarang mempercayaimu."
Jantungnya berdebar-debar senang, tapi dia harus menghilangkan semua keraguan dan... bayang-bayang masa lalu.
"Kyuhyun, bagaimana dengan Chengmin?"
"Chengmin?" tanya Kyuhyun, mengangkat kepala dan memandangnya. "Sudah kukira kau akan bertanya padaku tentang dia." Pria itu menarik napas.
Oh, Tuhan, tidak! Jerit Sungmin dalam hati. "Kau masih mencintainya, kan?" dia bertanya, terkejut dengan keberaniannya sendiri.
Kyuhyun menatapnya kaget. "Itu yang kau kira?"
Sungmin mengangguk. "Ketika pertama kali menciumku, kau bilang kau mencintai istrimu."
"Dulu, ya. Aku dulu mencintainya. Waktu kami pertama bertemu, aku sangat mencintainya. Kami menikmati hidup."
Sungmin tercekik perasaan cemburu, dan hal itu pasti kelihatan. Sudut-sudut mulut Kyuhyun naik ketika dia nyengir, lalu kembali serius.
"Dia cantik dan berbakat. Tapi dia tidak memiliki hati yang baik, dia tidak punya jiwa. Meskipun aku benci mengakuinya, dia manja, egois, dan dangkal. Ambisinya nyaris membuatku terpengaruh, karena melibatkan aku juga." Sambil bicara dia membuka mantel dan membantu Sungmin melepas mantelnya.
"Dia memaksaku menerima peran yang tidak kuinginkan di drama itu. Dia tidak mau berkorban dan mengizinkan aku terus belajar. Dia ingin menikah dengan selebriti, seakan itu penting saja," katanya pahit.
"Tapi dia menikmati kehidupan selebriti itu, dan menari. Ketika dia hamil, kupikir dia akan membunuhku. Dia tidak mau minum pil pencegah kehamilan karena itu membuatnya gemuk, tapi ketika dia hamil, aku yang disalahkannya."
Mereka bersandar di perapian, lengan Kyuhyun menyangganya. Pria itu memegang tangannya dan menyusuri setiap pembuluh darah dan tulangnya dengan jemarinya. "Tangan yang indah sekali," gumamnya dan mendekatkan satu tangan ke mulutnya, mencium telapaknya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Aku sudah takut saja dia akan melakukan aborsi, tapi setelah mengamuk dan mengomel tanpa henti selama sembilan bulan, dia melahirkan Minhyun, dan aku bahagia sekali."
Dia diam lagi dan berdiri, menghadap ke api. Bayangan yang bergerak-gerak menonjolkan setiap sudut wajahnya. "Minhyun baru berumur lima bulan ketika kami mengetahui dia tuna rungu. Bisa kau bayangkan betapa tersiksanya jiwaku, Sungmin? Bagaimana aku bertanya-tanya dalam hati? Apakah aku dihukum karena dosa yang kurahasiakan? Mencuri apel waktu aku berumur sepuluh tahun? Sekarang aku menyadari betapa konyol pikiranku itu, tapi itulah reaksi pertamaku. Tapi reaksiku tidak seberapa dibandingkan reaksi Chengmin. Seolah perasaan bersalahku sendiri belum cukup, dia menyalahkan aku juga. 'Sejak awal aku kan memang tidak menginginkan anak ini,' teriaknya padaku. Kau tahu, Minhyun tidak sesuai dengan standar Chengmin, yaitu kesempurnaan. Dia harus menari dengan sempurna, dia menginginkan suami yang sempurna. Dia tidak sanggup punya anak yang tidak sempurna."
Lama dia tidak bicara, kakinya menyepak-nyepak kayu-kayu dengan ujung sepatu, mendorongnya ke tengah bara. "Suatu hari aku pulang terlambat dari studio. Aku mendengar Minhyun menangis di kamarnya. Waktu masuk ke sana, aku nyaris muntah. Dia berbaring di tengah kotorannya. Dia kedinginan dan kelaparan. Aku marah sekali pada Chengmin dan mencarinya di seluruh penjuru apartemen. Dia... dia-"
Kyuhyun tidak sanggup melanjutkan, dan hati Sungmin dipenuhi perasaan iba waktu pria itu menutupi wajahnya dengan dua tangan. Dia tahu apa yang akan terjadi. Dia tidak mau berbicara atau menghiburnya.
Kyuhyun harus merasakan penderitaan ini sendirian. Orang lain takkan bisa ikut merasakannya. Dia dulu tidak mendapati mayat Jungmo, tapi dapat berempati dengan kenangan Kyuhyun yang mengerikan.
"Dia di bathtub, kedua nadinya teriris. Jelas dia sudah cukup lama meninggal." Setelah lama berdiam diri, dia kembali ke samping Sungmin dan duduk di karpet, memeluknya erat.
"Aku tidak pernah memaafkannya. Kubiarkan orangtuanya mengurus pemakamannya, yang tidak mau kuhadiri. Keluarganya jelas-jelas mengatakan tidak ingin berurusan dengan aku atau Minhyun lagi. Kami telah membunuh kebanggaan mereka, putri mahkota mereka. Sungmin-"dia menjauhkannya supaya bisa menatap matanya "-waktu itu aku bersumpah takkan mencintai siapa pun lagi. Aku pernah mencintai Chengmin, tapi di saat aku sangat membutuhkannya, di saat kami membutuhkan dukungan dan cinta masing-masing, dia meninggalkan aku. Tapi aku jatuh cinta padamu. Itu sebabnya kau tidak boleh meninggalkan aku sekarang. Aku membutuhkanmu, tidakkah kau tahu?" Kyuhyun mencium Sungmin dengan putus asa.
Bibirnya tidak perlu menuntut respons dari Sungmin. Sungmin dengan senang hati memberitahunya betapa dia sangat mencintainya.
Ketika akhirnya mereka memisahkan diri, Kyuhyun berkata, "Aku pergi ke Seoul untuk membereskan masalah karier, juga untuk mengusir bayangannya dan menziarahi makamnya. Aku tidak pernah ke sana. Tidak bisa kukatakan padamu betapa aku membencinya. Sekarang kusadari bahwa, seperti kita semua, dia tidak bisa menolak sifatnya. Sampai aku belajar mencintai, aku tidak bisa memaafkan. Sekarang aku tahu, seorang wanita mungil berambut hitam telah mengajariku. Aku mulai menyadari apa yang terjadi pada hari Minhyun mengacak-acak makeup-mu. Kau marah dan menghukumnya, tapi kau juga memaafkannya. Dia tidak pernah meragukan perasaan sayangmu. Aku harus kembali dan memaafkan Chengmin sebelum bisa menawarkan cintaku padamu. Aku tidak ingin ada yang menodai cintaku."
Mereka berciuman lagi, lalu Sungmin berkata, "Tadi siang kau bertanya tentang kotak-kotak di dalam lemari itu. Kupikir kau akan menunjukkan foto-foto Chengmin pada Minhyun. Aku mendengarmu mengajarinya bilang Mommy."
"Jadi itu penyebab kau kabur!" Kyuhyun mendongak dan tertawa. "Aku menanyakan kotak-kotak itu karena sekarang aku sanggup melihat isinya. Sebelum ini, aku benci menyentuh apa saja yang merupakan miliknya. Aku memilih apa yang ingin kusimpan untuk Minhyun. Suatu hari nanti, kalau dia sudah cukup umur untuk memahami, kita harus memberitahu dia tentang ibunya."
Dia memegang dagu Sungmin dan mengangkatnya sehingga wanita memandangnya. "Dan aku mengajari Minhyun bilang Mommy sebagai kejutan untukmu. Mulai sekarang aku ingin dia memanggilmu Mommy. Begitu kita menikah secara sah, kau akan jadi ibunya."
"Kyuhyun-" Sungmin mulai bicara tapi bibir Kyuhyun membungkamnya.
.
.
.
Mereka berdua pun memutuskan untuk berendam air hangat.
"Kau sudah merasa lebih hangat?" tanya Kyuhyun.
Kemudian, dengan terkesiap, "Kyuhyun-" Dengan tangan-tangan lihai pria itu menjelajahi tubuh Sungmin di balik busa di bathtub yang dalam itu. Meskipun dia memprotes, Kyuhyun tidak berhenti. Pria itu menyentuhnya sedemikian rupa sehingga dia melengkungkan leher dan mendesah panjang.
Sungmin melirik bayangan mereka di cermin di depan bathtub, dan meskipun ruangan cuma diterangi cahaya lilin-lilin, bayangan mereka tampak jelas.
"Kapan kau merencanakan aktivitas tidak senonoh ini?" tanya Kyuhyun.
"Waktu aku pertama kali masuk kamar mandi ini," Sungmin mengikik. "Aku melihat kita berdua di dalam sini seperti ini. Aku ingin menutup mata Minhyun sebelum sadar bahwa bayangan itu cuma khayalanku. Tentu saja," dia menambahkan dengan serius, "kurasa dia bisa saja mewarisi sifat tidak tahu malumu."
"Aku tidak tahu malu?"
"Kau memberitahu aku bahwa sejak ikut tur bersama, kau sama sekali tidak punya perasaan malu."
"Aku bilang begitu?" tanya Kyuhyun terkejut. "Aku berbohong. Aku tidak pernah ikut tur. Aku cuma butuh alasan untuk berbaring telanjang di tempat tidur itu bersamamu."
"Oh, kau!" Sungmin memercikkan air ke muka Kyuhyun.
Ketika dia berbuat begitu, jari-jari Kyuhyun menggodanya tanpa ampun. Pria itu bertanya serak, "Kau tahu kapan aku pertama kali jatuh cinta padamu?"
"Kyuhyun," desah Sungmin ketika pria itu menemukan titik sensitif. "Tidak, kapan?" tanyanya cepat-cepat, takut sebentar lagi tidak bisa bernapas.
"Waktu kita di restauran dan kau jujur padaku tentang Minhyun dan apa yang bisa kuharapkan darinya." Dia nyengir nakal. "Walaupun aku sudah tertarik pada naga kecil yang menyembur Chao Guixian, tidak peduli dia bintang top atau tidak. Kau tampak memesona hari itu. Di benakku aku menelanjangimu. Tapi kenyataannya rupanya jauh melebihi khayalan."
Tangannya menegaskan ucapannya. "Kapan kau tahu kau mencintaiku?" tanyanya setelah mencium Sungmin dengan ganas.
"Memangnya aku pernah bilang mencintaimu?" Sungmin bertanya usil.
Reaksi Kyuhyun mengejutkan. Dia menindihnya, tidak peduli air bak jadi tumpah. "Apakah kau mencintaiku. Sungmin?"
Dengan jari-jari berlumuran busa, Sungmin mengisyaratkan, 'Aku mencintaimu dengan segenap hatiku'. Dia berbicara dengan keheningan tak bergaung yang lebih ekspresif daripada bahasa verbal.
Pahanya yang mulus bergerak sensual di atas paha Kyuhyun di dalam air yang hangat, menyampaikan pesan tersendiri. Pandangan Kyuhyun tertuju ke payudaranya yang timbul-tenggelam di air, menggodanya sampai Kyuhyun tidak tahan lagi.
Diciumnya payudaranya. Tubuh mereka berpadu serasi.
Menciumi kulit basah Sungmin, dia berkata, "Jalanan akan tidak bisa dilewati selama beberapa hari yang akan datang. Sampai kita bisa pergi ke pusat kota untuk menikah secara sah, bersediakah kau hidup bersamaku?"
Sungmin menciumi dada, dagu, dan bibir pria itu sementara tangannya mencengkeram bagian belakang paha Kyuhyun dan menekannya sampai ia dapat merasakan hasrat pria itu.
"Apa yang akan kau lakukan kalau aku bilang tidak?" Sungmin bertanya jail.
"Akan kusiram kau," geram Kyuhyun, menundukkan kepala lagi.
"Ya, siramlah aku, Kyuhyun," katanya, melengkungkan tubuh. "Dengan cintamu."
Kyuhyun pun menyeringai dan langsung menyerang Sungmin kembali.
.
.
.
THE END
.
.
.
Bonus Part
Kyuhyun menggendong Sungmin menuju ranjang, lalu merebahkannya secara perlahan. Sungmin tampak pasrah dalam kungkungan Kyuhyun. Pria itu menginginkannya sama seperti ia menginginkan pria itu.
"Aku mencintaimu… istriku."
Pria itu segera menyambar bibir ranum Sungmin. Di sela-sela bungkaman Kyuhyun, Sungmin membalas, "Aku juga mencintaimu."
Kyuhyun melumat bibir Sungmin, menghisap bibir atas dan bawah wanita itu bergantian. Sementara tangan kirinya menahan tengkuk Sungmin, untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan kiri Kyuhyun tidak tinggal diam, tangan itu meraba seluruh tubuh Sungmin. Leher, bahu, dada, dan berakhir pada bagian intim Sungmin.
"Ahh…"
Pagutan mereka terlepas karena desahan Sungmin. Wanita itu mendesah nikmat saat jari Kyuhyun menerobos masuk ke lubangnya.
Kyuhyun mengalihkan cumbuannya ke daerah leher Sungmin, dihisapnya leher serta bahu mulus wanita itu. Sungmin hanya dapat menggeliat di bawah Kyuhyun. Kedua tangannya sudah melingkari punggung Kyuhyun.
"Kau sudah basah, Sayang." Bisik Kyuhyun tepat di samping telinga Sungmin. Lalu pria itu menggigit pelan telinga wanita itu, lalu dihisapnya dengan lembut.
"Kyuhyun… kumohon…"
Sungmin memohon sambil memejamkan matanya. Kyuhyun yang mendengar itu pun hanya dapat menyeringai.
"Mohon apa, Sayang?" tanya Kyuhyun menggoda.
"Masuki aku…" balas Sungmin parau.
"Dengan apa? Jariku?"
Kyuhyun tersenyum, ia sangat suka menggoda Sungmin. Namun tiba-tiba ia terkejut dengan respon Sungmin.
"Dengan ini.."
Tanpa di duga oleh Kyuhyun, Sungmin mencengkeram kejantanannya. Membuat pria itu menggeram merasakan jari-jari halus Sungmin melingkupi ereksinya.
"Oh, sialan!"
Kyuhyun pun menarik tangan Sungmin, lalu ia menggenggam kedua pergelangan tangan Sungmin dan meletakkannya di samping kepala wanita itu.
Dengan perlahan, Kyuhyun mengarahkan kejantanannya ke lubang hangat Sungmin. Di dorongnya kejantanannya sampai sepenuhnya berada di dalam tubuh Sungmin.
"Ohh… ahh…" Sungmin melengkungkan punggungnya saat kejantanan Kyuhyun masuk sepenuhnya, memenuhi dirinya.
Tanpa menunggu lama, Kyuhyun menggerakkan kejantanannya. Keluar dan masuk, berirama, terus-menerus, sampai mereka mendapatkan pelepasan mereka masing-masing.
.
.
.
Pagi ini, Kyuhyun terbangun dengan perasaan bahagia dihatinya. Walaupun sebelumnya ia sangat bahagia. Tapi perasaan ini melebihi perasaannya sebelumnya.
Setelah menceritakan semuanya kepada Sungmin, kini tidak ada lagi yang akan menghalangi perasaan tulusnya untuk Sungmin.
Pria itu tersenyum sambil memandang wajah terlelap Sungmin. Ini sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Namun wanita itu belum juga bangun dari tidurnya.
Kyuhyun akui, ini memang salahnya. Mereka baru terlelap sekitar pukul empat pagi karena aktifitas panas mereka. Namun mau bagaimana lagi, Kyuhyun sangat merindukan Sungmin. Sudah berminggu-minggu ia memendam kerinduan itu. Syukurlah semua kesalahpahaman diantara mereka telah terselesaikan.
Kyuhyun menjulurkan jemarinya untuk mengusap wajah Sungmin. Dengan punggung jarinya, ia mengelus pipi Sungmin yang tampak merona. Untung saja mereka tidak terserang demam.
Sesekali Kyuhyun menciumi wajah Sungmin, mulai dari kening, kelopak mata, hidung, pipi, dagu, dan juga bibir itu.
Setelah selesai menciumi wajah Sungmin, Kyuhyun merasakan wanita itu menggeliat dalam pelukannya. Kelopak mata wanita yang mampu membuat Kyuhyun jatuh cinta lagi itu terbuka perlahan.
"Selamat pagi, Sayang." Sapa Kyuhyun sambil mengusap-usap punggung telanjang Sungmin.
Wanita itu tersenyum sambil menatap Kyuhyun. "Selamat pagi." Balasnya.
"Apakah tidurmu nyenyak?"
"Hm." Sungmin hanya menjawabnya dengan bergumam.
"Aku juga." Ucap Kyuhyun penuh arti.
Mereka pun terdiam untuk beberapa saat. Kyuhyun melihat perubahan raut wajah Sungmin. Pria itupun meraih dagu Sungmin, membuat wanita itu menatapnya. "Apa yang kau pikirkan?" Tanya Kyuhyun lembut.
"Ini tentang orang tuaku." Desah Sungmin.
"Sayang." Kyuhyun mendekap Sungmin, mencium pucuk kepala Sungmin sekilas, sebelum berkata, "Kau benar-benar menakjubkan."
Sungmin melepaskan dekapan Kyuhyun, lalu menatap Kyuhyun dengan kerutan di dahinya. "Maksudmu?"
Kyuhyun terkekeh melihat wajah serius Sungmin. "Kau baru saja bangun tidur, tapi kau sudah memikirkan hal itu. Tenanglah."
"Kyuhyun!" Sungmin memukul dada Kyuhyun pelan, membuat pria itu tertawa. "Aku serius."
Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin yang memukul dadanya itu, lalu membawanya ke mulutnya dan menciumnya. "Aku sudah bilang padamu, bukan? Setelah cuaca membaik, kita akan menikah, secara sah. Maksudku, pernikahan kita waktu itu memang sah, tapi aku ingin mendaftarkan pernikahan kita. Setelah itu kita akan ke rumah orang tuamu untuk menjelaskan semuanya. Bagaimana?"
Sungmin pun mengangguk setuju. "Baiklah."
"Nah. Sekarang biarkan aku menikmati waktu luangku bersama istriku yang seksi ini."
Sungmin terkejut saat tiba-tiba Kyuhyun sudah berada di atasnya. Mengungkung tubuh kecilnya di bawah tubuh besar Kyuhyun.
Sungmin menahan dada Kyuhyun saat pria itu mencoba untuk menciumnya. "Kyuhyun, kita tidak bisa melakukannya."
Kyuhyun berdecak. "Oh ayolah, Sungmin. Aku masih sangat merindukanmu."
"Tidak bisa, Kyuhyun. Sebentar lagi Minhyun pasti akan…"
Tokk tokk…. Tokk… tokk…
"… bangun." Lanjut Sungmin sambil melihat ke arah pintu.
Kyuhyun pun mendesah kecewa. "Sebentar, Sayang." Teriak Kyuhyun yang di tujukan untuk seseorang yang mengetuk pintu, yang dapat dipastikan bahwa itu adalah Minhyun.
"Dia tidak akan mendengarmu."Kata Sungmin.
Pria itu kembali mendekati Sungmin, bermaksud untuk menciumnya. Namun lagi-lagi Sungmin menahan dadanya.
"Ayolah, aku hanya akan menciummu sekali. Lagi pula dia pasti akan kembali ke kamarnya jika tidak ada yang membuka pintu itu. Hanya sekali."
Akhirnya Sungmin mengangguk menyetujui permintaan Kyuhyun. Setelah mencium Sungmin, yang sebenarnya itu tidak bisa di katakan ciuman namun cumbuan, Kyuhyun pun bangkit dari atas tubuh Sungmin.
Terlihat sekali kekesalan di wajah Kyuhyun. Sebenarnya Kyuhyun bukan kesal pada Minhyun maupun Sungmin. Dia hanya kesal pada situasi yang tidak menguntungkannya.
"Tidak perlu merajuk. Aku harus melaksanakan tugasku sebagai tutor Minhyun. Aku harus mengurus muridku. Kau membayarku dengan harga yang sangat mahal untuk melakukannya." Ucap Sungmin sambil bangkit dari ranjang, dan melilitkan selimut tipis untuk menutupi tubuh telanjangnya, sedangkan Kyuhyun duduk di tepi ranjang.
Saat Sungmin melewatinya, pria itu menarik pinggangnya, membuat Sungmin duduk di pangkuannya. Dan Sungmin dapat merasakan kejantanan Kyuhyun yang sudah menegang.
"Dia adalah anakmu mulai sekarang, dan kau adalah Ibunya. Biasakanlah dirimu. Aku tidak mau membayarmu lagi, karena mulai sekarang kewajibanku adalah membiayai hidup Istri dan anakku, yaitu kau dan Minhyun." Jelas Kyuhyun.
"Dan sekarang tolong biarkan aku merawat anakku, sebagai Ibu yang baik, aku tidak mungkin membiarkannya sendirian di luar pintu kamar orangtuanya. Sementara orangtuanya sibuk bermesraan." Sungmin pun bangkit dari pangkuan Kyuhyun dan segera mengambil pakaian di lemarinya.
"Oh jangan lupa jika kau juga harus menjadi Istri yang baik. Dan istri yang baik tidak akan meninggalkan suaminya yang sedang terangsang seperti ini."
Sungmin pun mengabaikan kata-kata Kyuhyun dan menyelesaikan acara memakai bajunya. Setelah itu dia mendekati Kyuhyun dan mengecup bibir pria itu sekilas. "Jangan kekanakkan."
Sungmin pun tersenyum sebelum membuka pintu dan meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
"Selamat pagi, Sayang." Kyuhyun menyapa Minhyun saat sudah sampai di dapur.
Di liriknya Sungmin yang sedang membuat susu untuk Minhyun.
'Minhyun, coba beritahu Daddy bagaimana caramu meminta tolong padaku tadi.' Isyarat Sungmin kepada Minhyun.
Minhyun pun menghadap ke arah Kyuhyun dan memberikan isyarat. 'Sungmin, tolong buatkan aku susu.' Tidak lupa ia menggosok dadanya dengan gerakan memutar.
"Itu bagus, Sayang." Kyuhyun tersenyum sambil mengusap kepala putrinya. 'Kau ingat apa yang Daddy ajarkan kemarin?' Isyarat Kyuhyun kepada Minhyun saat Sungmin sedang fokus membuat sarapan untuk mereka.
Minhyun pun mengangguk semangat.
Lalu Kyuhyun mengisyaratkan Minhyun untuk mendekati Sungmin yang sedang membuat kopi. Gadis kecil itu pun menarik-narik ujung dress yang dipakai Sungmin.
Sungmin berbalik dan tersenyum saat melihat Minhyun. Ia pun berjongkok di hadapan Minhyun. "Ada apa, Sayang?" Ucapnya, tidak lupa Sungmin mengisyaratkannya.
'Aku menyayangimu.'Isyarat Minhyun. "Mom-my."
Sungmin tersenyum penuh haru saat Minhyun mengucapkan kata 'Mommy', dan itu di tujukan untuknya. Sungmin pun memeluk Minhyun dengan erat. "Aku juga sangat menyayangimu, Minhyun. Putriku."
Walaupun Minhyun tidak dapat mendengar apa yang Sungmin katakan, namun Minhyun dapat merasakan kasih sayang Sungmin lewat pelukannya.
Sungmin melirik ke arah Kyuhyun, dan melihat pria itu tersenyum tulus.
Terima kasih.
Sungmin tidak mengucapkan kalimat terimakasih itu, namun dia mengisyaratkan melalui matanya yang menatap mata Kyuhyun. Dan Kyuhyun mengerti itu. Pria itu hanya mengangguk dan kemudian ia mendekat kearah istri dan putrinya. Ia pun ikut bergabung, berpelukan bersama.
Bukankah mereka terlihat seperti keluarga yang sangat sempurna?
.
.
.
END
.
.
.
Halo ^^ Aku hadir dengan Last Chapter.
Maaf ya mengecewakan endingnya.
For brat, WA aja ya
Aku mau ngucapin terimakasi untuk semua yang udah mendukung FF ini. Aku ada FF baru. Judulnya 'MAGIC', remake juga. Semoga kalian suka ^^
That's it ^^
BIG THANKS TO
Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , Girls in awesome world , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil137 , Fitri , jin , parklili , Park Heeni , Lilly Aylia , choikyumin , chopurple3 , Acho137 , kimpichiadjah , Michiko Haru , Hamano Hiruka , KyuMinJoy137 , farla 23 , Harusuki Ginichi 137411 , ismayminniELF , gyumin1408 , Shengmin137 , lee kyuza , mandwa , gogoflo55 , kyuna36 , Loving Kyu and Ming , Anisa Jung , kaissss , Cho Minseo , gaemxian137 , arinafebianca07 , WineKyuMin137 , saturn99 , kim nophi , nugu , MaVK9597 , leleekyumin , Karen kouzuki , Fanya Amelia137 , ichadkelpeu , Ratry joyers , nanayukeroo , ayu aidenkyu joyer , Wiprasetyalee , stuckyu , Kyuna36 , Park Rihyun-Uchiha , inyezreceel92 , xian me , adegaemgyu , KyuMin Cho , nadoxoxo , vha137 , inn , kyushii , pinzame , sweettaeminee , Hanna Kimi137 , brat & Guest.
(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 13 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)
Once again! Thank you ^^
