THE FIRST TIME

Cast: Park Chanyeol-Byun Baekhyun

-Wu Yifan-Kim Jongin-Do Kyungsoo-Ohsehun-Xi Luhan (GS)-

-kim jongdae-xiumin(GS)-

Remake dari Film The First Time.

Author hanya mengganti cast dan sedikit jalan ceritanya.

Selamat menikmati..

Rate : T+

Summary:

Park Chanyeol hanya ingin mengungkapkan perasaannya kepada seorang yoeja pujaannya selama ini namun dia malah bertemu dengan si perawan disebuah lorong gelap.

Ch 1: So, Who are you?

July22, 2015

22.30 KST

Lelaki mungil itu turun dari mobil bersama sekumpulan gadis yang entahlah dia bertemu dimana. Mereka memasuki sebuah club yang cukup ramai hingar bingar oleh hentakan musik yang berhasil diracik oleh seorang DJ diatas panggung. Lelaki mungil itu hanya duduk disebuah sofa dan merasa bosan melihat sekelilingnya yang dipenuhi aura menyeruak dari orang orang yang gila menghentak hentakkan tubuh mencoba menikmati alunan musik yang ada.

'Ah.. aku merasa bosan. Sepertinya aku membutuhkan udara segar, dan harus memberikabar pada Kris atau aku akan mendapat masalah. Ckk'. Pikir Bekhyun si lelaki mungil itu. Tanpa menunggu lama Bekhyun langsung berjalan keluar menuju pintu bertuliskan EXIT yang menyala warna hijau neon. Setalah dirasa suasana lebih tenang daripada didalam club itu, dia mencoba menekan dial number Kris.

Tuuut...tuuuuut...

Baekhyun menunggu sambungan telepon itu diterima oleh orang diseberang sana. Namun belum sempat sambungan telepon itu diangkat, Bekhyun menoleh kearah kirinya.

"Ini seperti...i-ini seperti...seperti ketika k-kau..Ah tunggu.. sialan kau Park Chanyeol..."

"itu...uh..itu menakjubkan, ketika—"

"Yak! Kau bicara dengan siapa?" Baekhyun menginterupsi seorang lelaki bertubuh tinggi dengan rambut silver diujung lorong gelap yang sedang memunggunginya.

"O-OMO!" Chanyeol yang sedang fokus dengan pikirannya bak terkena serangan jantung sakit kagetnya oleh teriakan Baekhyun.

"Kau membuatku kaget. Astaga!" Sambung Chanyeol sembari mengelus dadanya untuk menetralkan detak jantungnya.

"Uh.. Maaf. Aku tidak bermaksud" Ucap Baekhyun sambil mengerjapkan matanya lucu.

"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir aku sendirian disini" Ucap Chanyeol yang memasukan tangannya kedalam saku celana jeansnya.

"Jadi kau tidak berbicara dengan siapapun?" Tanya Bekhyun heran. Tak lama Baekhyun tersenyum simpul memikirkan pertanyaan yang ia lontarkan kepada Chanyeol.

"Tidak. Kenapa kau disini? Tidak menikmati pesta didalam eoh?" balas Chanyeol.

"Hmm aku hanya merasa bosan." Balas Baekhyun.

Chanyeol melihat tingkah Baekhyun yang menunduk dan menendang nendang kerikil dengan sepatu converse hitam kesayangannya. Chanyeol tersenyum tipis. Lucu sekali anak kecil ini. Bagaiman bisa dia masuk kedalam sebuah club? Oh- Astaga! Dia bahkan mungkin masih seorang pelajar tingkat Senior.

"Apa kau kesini sendiri?" Tanya Chanyeol.

"Umm. Tidak juga. Aku diajak oleh beberapa teman- ah mungkin bukan teman. Hanya sekumpulan gadis yang aku temui di jalan. Mereka mungkin penggoda ahjussi ahjussi diluar sana. Entahlah aku tidak yakin juga." Baekhyun menjawab sambil memutar bola matanya lucu.

Chanyeol tersenyum. 'Oh, Tuhan. Tolong anak ini kenapa dia dengan bodohnya mau diajak oleh para gadis yang bahkan dia tidak mengenalnya?' pikir Chanyeol menyesali kepolosan Baekhyun.

"Kau sungguh konyol!" tanya Chanyeol heran.

"Aku tidak tahu. Hanya untuk senang-senang, mungkin. Tapi aku tidak mencari pacar. Sungguh." Jelas Baekhyun.

"Apa kau sudah memiliki pasangan? Apa pasanganmu tidak marah melihat kau keluar ke sebuah club sendirian?"

"um-yaa.."

"Siapa?" Chanyeol menyelidik.

"Ya! Untuk apa kau bertanya?".Baekhyun menautkan kedua alisnya heran. 'Ya! Apa-apaan dia menanyai siapa pacarku? Bahkan dia saja tidak bertanya siapa namaku. Idiot!'pikir Baekhyun.

"Entahlah,mungkin aku mengenalnya."

"Kau tidak akan mengenalnya, dia sudah bekerja dan tidak suka pergi ke tempat seperti ini." Balas Baekhyun ketus.

"oh..." jawab Chanyeol singkat.

Suasana berubah canggung. Mungkin Baekhyun terlalu terbawa emosi sehingga nada bicaranmya menjadi ketus. Baekhyun merasa bersalah. Sedtik kemudian dia berjalan mendekati Chanyeol dan tersenyum lembut kepada si lelaki dengan telinga lebar itu.

"hey,kenapa kau tidak masuk dan kejar beberapa gadis didalam sana eoh?"

Chanyeol menoleh ke hadapan Baekhyun. "Umm, aku hanya menyukai satu gadis."

"Jadi siapa namanya?"tanya Baekhyun antusias.

"Lu..." jawab Chanyeol singkat sambil tersenyum membayangkan wajah gadis pujaan hatinya.

"Lu?" tanya Bekhyun mengulang.

"Xi Lu Han." Baekhyun mempoutkan bibirnya seolah berpikir bahwa dia sama sekali tidak mengenal nama yang disebutkan oleh Chanyeol.

"Jadi siapa namamu?"

"Baekhyun. Byun Baekhyun. Dan kau?"

"Aku Park Chanyeol. Salam kenal! Umm dan bagaimana anak kecil sepertimu bisa masuk ke dalam sebuah Club?" tanya Chanyeol tanpa ada maksud mengejek.

"YAK! Siapa yg kau sebut anak kecil? Aku ini mahasiswa di Seoul Art University asal kau tau. Meskipun masih di tingkat junior" jawab Baekhyun sambil mendengus dan menempelkan punggungnya ke tembok bata Club itu.

"Oh ya tentu saja. Maksudku kau cukup dewasa untuk ukuran seorang junior kampus. Hanya saja kau terlihat cukup menggemaskan untuk ukuran seorang mahasiswa." Chanyeol terkekeh.

Baekhyun hanya menyilangkan tangannya didepan dada sambil tersenyum malu atas ucapan Chanyeol yang mengatakan dia 'cukup menggemaskan'. Oh—ayolah siapa yang tidak akan tersipu jika ada seorang namja tampan yang mengatakan kau menggemaskan. sayangnya namja tampan ini menyukai seorang gadis.

"aku senior di Kyuhyun University, dan beberapa bulan lagi akan lulus. Dan hampir setiap akhir pekan aku akan mengunjungi club agar otakku tidak terbakar habis oleh omelan dosen pembimbing." Ucap Chanyeol kemudian.

'ahh..pantas saja kau terlihat sangat stress dan tertekan sampai sampai berbicara seorang diri dilorong gelap seperti ini'pikir Baekhyun.

"aku tau yang kau pikirkan, Baekhyun-ssi. Ya memang aku tertekan. Tapi bukan karena ujian akhir asal kau tahu. Aku ini mahasiswa berprestasi di jurusanku."sombong Chanyeol yang menolak pikiran Baekhyun.

"ups.. Jadi... gadis ini, Xi Luhan, dia tidak menyukaimu?" tanya Baekhyun. Baekhyun mendudukan dirinya di aspal sambil bersender di tembok bata. Memandang Chanyeol yang berdiri dan terlihat gusar dengan pikirannya sendiri.

"Dia menyukaiku. Cinta platonis. Cinta seorang teman."

Baekhyun mendengus. "Oke Chanyeol-ssi, aku tau arti 'cinta platonis'. Kalau kau ingat aku hanya seorang junior bukan seorang idiot!"

"ups.. maaf"

"Jadi, apa yang kau punya untuk gadis ini? Apa kau sudah berusaha? Apa kau sudah benar-benar seperti mencoba mengejarnya" tanya Baekhyun penasaran.

Chanyeol melihat Baekhyun yang merogoh saku celananya mengeluarkan permen karet Lotte dan memasukan ke dalam mulutnya lewat lidah. Ada desiran halus di dadanya.'Oh Chanyeol apa yang kau pikirkan? Kenapa kau bisa tertarik hanya karena seorang namja manis dan imut ini memakan permen?'pikir Chanyeol tanpa menghiraukan pertanyaan Baekhyun.

"Ya! Kenapa kau diam saja dan malah menatapku seperti itu? Kau ingin ini?" Baekhyun mengulurkan tangannya mencoba menawarkan permen karetnya kepada Chanyeol- permen karet yang lain. yang masih terbungkus rapi.

"Uh-Oh. Tidak terimakasih. Aku pikir dia akan berkencan dengan Oh Sehun malam ini." Jawab Chanyeol putus asa.

Baekhyun memandang iba ke arah Chanyeol. "oh jangan OH Sehun. Temanku pernah berkencan dengannya sekali dan berakhir di ranjang. Seminggu kemudian dia mencampakannya karena bosan."

"Begitulah.." Chanyeol membenarkan.

"Uh.. dia seorang playboy- dan 'perobek' tentunya."ucap baekhyun pervert.

"A-apa yang kau katakan padaku?" Chanyeol heran dengan ucapan pervert Baekhyun.

"Umm. Aku hanya mengatakan jika Xi Luhan berkencan dengan Oh Sehun, aku tidak akan terlalu berharap."

Chanyeol terbawa emosi. " YA! UNTUK ITULAH AKU DISINI. Agar mereka tidak melakukannya!"

Baekhyun terbelalak mendengar bentakan Chanyeol. Tapi cepat cepat dia menormalkan ekspresinya."Hmm, disini? Dilorong ini? Untuk bersembunyi?"

"aku tidak bersembunyi!"cegah Chanyeol.

"Kabur kalau begitu?" Bekhyun memainkan permen karet di mulutnya.

"Tidak! Oh Tuhan. Aku hanya tidak bisa berdiri di sana dan melihat gadis yang aku sukai saling menggoda dengan pria paling keren di kampusku. Aku tidak bisa. Itu terlalu menyakitkan."

Chanyeol masih berdiri dan berjalan mondar-mandir dihadapan Baekhyun yang masih setia duduk dengan manisnya. Bekhyun merasa canggung. Kemudian ia menawarkan Chanyeol permen karetnya sekali kali lagi-hanya untuk menghilangkan kecanggungan diantara meraka. Awalnya Chanyeol menolak namun melihat mata puppy itu mendongak menatapnya membuat dia tanpa sengaja malah mengambil permen karet digenggaman tangan Baekhyun. Jari mereka tak sengaja bersentuhan. Baekhyun merasakan getaran mengalir pada darahnya. 'Oh kulit ini, kenapa hanya menyentuh jemariku secara tak sengaja saja bisa membuatku merasakan degup jantung tak normal?'

Chanyeol memandang Bekhyun yang duduk dihadapannya-Chanyeol sedikit menunduk- 'kenapa bibir tipis itu menggiurkan sekali? Merah dan mungil dan terasa manis. dan caranya memainkan permen karet didalam mulutnya. 'Oh chanyeol apa yang kau pikirkan? Bukannya baru 5 menit yang lalu kau memuja muja seorang gadis bernama Xi Luhan?

"ummm, aku harus kembali kedalam. Kau tau, mungkin meraka akan meninggalkanku."baekhyun beranjak berdiri dan bergegas meninggalkan Chanyeol, tapi belum sempat baekhyun menjauh chanyeol memanggil Baekhyun. "Ya. Baekhyun-ssi.. boleh aku bertanya?"

Baekhyun berbalik. "Hmm?"

"Apa kau pikir ada sesuatu yang bisa kukatakan pada gadis ini?" tanya Chanyeol kikuk. "umm hanya semacam cara agar aku bisa mengatakan padanya bagaimana perasaanku, dengan cara yang akan membuatnya jatuh cinta kepadaku. Kau tau, semacam itu.."

"Apa yang kau punya?"

"emm ini..." Chanyeol mengeluarkan kertas. Perlahan membuka dan membacanya. "Luhan, Xi Luhan. Rusaku...Belakangan ini aku merasakan banyak kebisingan ditelingaku. Kau tahu, semuanya begitu statis. Semua suara suara bersaing untuk diperhatikan. Aku merasa tidak bisa membuat diriku berpikir. Kau tau, aku melihatmu bersender di lokermu memakai jaket yang sangat kau sukai, dan eh, cara mu menyelipkan rambut di belakang telingamu dan kau melihatku dan kau tersenyum. Dan kau hanya tersenyum, dan aku rasa seluruh duniaku berpusat padamu. Dan semua kebisingan itu menghilang. Dan apa kau tau? Satu satunya suara yang bisa kudengar adalah suaramu ketika memanggil namaku."

Chanyeol mengakhiri kalimat panjangnya dan tersenyum kemudian menatap Baekhyun meminta pendapat. Baekhyun memandang Chanyeol dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Baekhyun hanya bergumam "wow","hmm","yeaah".

Chanyeol yang melihat ekspresi Baekhyun perlahan panik dan mengumpat. Pipinya memerah menahan malu karena tanpa sadar membaca tulisan yang dia rangkai untuk menyatakan perasaanya pada Xi Luhan. Baekhyun yang melihat itu tersenyum canggung.

"umm tak apa Chanyeol-ssi. Kau sudah berusaha mengatakannya. Dengan keras. Didepanku." Baekhyun kembali tersenyum diakhir kalimatnya.

"m-maksudku aku .. a-aku bahkan ti-tidak percaya akan mengatakannya didepannya." Chanyeol tiba tiba merasa mual dengan semuanya.

"tidak apa apa Chanyeol-ssi, dia tidak mendengarnya. Dia tidak akan peduli dengan omong kosong itu. Dan dia pasti tiak ingin mendengar betapa cantiknya dia dengan rambutnya. Ma-maksudku.. dia tidak akan memedulikan itu karena dia akan sangat panik, mungkin, eh aku rasa... jika kau berusaha mungkin dia akan mempertimbangkanmu."

Chanyeol terduduk lemas. Baekhyun berjongkok disebelahnya menatap Chanyeol. Chanyeol yang ditatap dengan intens oleh sepasang pupy baekhyun merasakan jantungnya berdesir lagi. Hal yang sama dirasakan Baekhyun ketika onix tajam chanyeol menatapnya. Mereka duduk bersandar sambil mendengarkan degup jantung masing-masing.

"apa kau pernah berdansa?"

"tidak. Maksudku aku tidak benar benar ingin. Ahhm..tidak..aku hanya tidak suka"

"maukah kau berdansa denganku?"

"mwo?"

"dansa. Denganku. Disini."

"aa—emm-ak-aku rasa tidak. A—aku tidak berdansa didepan umum"

"ayolah"

Chanyeol beranjak berdiri dan menawarkan sebelah tangannya untuk digamit oleh Baekhyun. Entah dorongan darimana Baekhyun yang semula merasa tidak akan pernah mau menerima ajakan Chanyeol ini malah mengaitkan tangannya dan ditarik oleh Chanyeol sehingga sekarang meraka berdiri berhadapan dengan jarak yang tinggal sejengkal tangan.

"kau siap?"

Baekhyun hanya menjawab dengan helaan nafas. Mereka mulai bergerakmengikuti irama lamat lamat musik yang dimainkan di dalam Club. Tanpa sadar tangan Chanyeol menarik pinggang Baekhyun untuk lebih menempel pada tubuh tinggi Chanyeol. Perbedaan tinggi badan keduanya sangat kentara. Baekhyun yang tersipu malu hanya bisa menempelkan dahinya pada pundak Chanyeol. Keduanya sangat gugup dengan jantung yang sudah dipompa sepersekian detik dengan cepatnya.

Ddrrt...drttt...

"ummm maaf" baekhyun melepaskan tautan tangan meraka dan mengangkat teleponnya.

"yoboseyo"

"..."

"baiklah aku akan segera pulang"

"..."

"baik aku akan segera mengabarimu jika sudah sampai rumah."

Chanyeol yang mendengarkan percakapan baekhyun ditelepon mengangkat sebelah alisnya.

"pacarmu?"

"emmm begitulah..."

"kau ingin pulang?"

"ya. Dia memaksaku pulang. Ini sudah larut. Kalau begitu aku harus pergi. Senang berkenalan denganmu Chanyeol-ssi."baekhyun tersenyum. Dengan berat hati.

"umm kau ingin ku antar pulang?"

"ah tidakusah . rumahku hanya beberapa halte dari sini."

"tak apa. Akan ku antar kau pulang. Ini sudah terlalu larut untuk ukuran junior manis sepertimu. dan hentikan memanggilku dengan embel-embel ssi. Arra?" bujuk Chanyeol.

Baekhyun tersipu mendengar ucapan Chanyeol, kemudian ia menganggukkan kepala tanda menerima bujukan Chanyeol. Merekapun berjalan beriringan menuju rumah Baekhyun. Disaat akan sampai pada rumah baekhyun, chanyeol melihat Xi Luhan berada didalam sebuah mobil sport putih sedang berciuman dengan seorang namja. Chanyeol terhenti dari langkahnya. Ia memandang sendu. Baekhyun yang melihat itu hanya bisa diam sungkan jika ingin menyadarkan Chanyeol.

"umm.,... apa itu Xi Luhan?"

"Ya.." chanyeol masih tetap dengan pandangannya.

"umm rumahku tinggal beberapa blok lagi. Kajja, udara semakin dingin." Baekhyun memberi alasan agar Chanyeol tersadar dan mendorong punggung lebar chanyeol buru buru mengajak namja tinggi itu pergi dari tempat itu.

setelah melewati beberapa blok dan belokan, kedua namja berbeda tinggi badan itu sampai disebuah rumah sederhana dengan dua lantai.

"yup, here we go...ini rumahku." ucap baekhyun sambil memutar artah tubuhnya menghadap chanyeol. chanyeol menghentikan langkah kakinya dan menatap rumah baekhyun. rumah yang bagus pikirnya. simple dan sederhana, terlihat hangat untuk dihuni.

"terimakasih Chanyeol sudah mengantarku." ucap baekhyun sambil tersenyum tulus.

"hmm sama sama."

"baiklah. Hati hati dijalan" baekhyun melambai pada chanyeol kemudian berjalan masuk ke halam rumahnya.

"tunggu, bekhyun. Apa boleh aku meminta nomer ponselmu?" bekhyun berbalik memandang Chanyeol.

"umm baiklah." Chanyeol menyerahkan ponsel pintarnya kepada Baekhyun. Baekhyun mengetikkan beberapa digit nomor di ponsel itu.

"umm apa kau mau mampir?"baekhyun bertanya pada chanyeol dan menghentikan acara mari bertukar nomor ponsel itu.

"ini sudah larut. Apa tidak apa apa? Bagaimana dengan orang tuamu?"

"umm hanya ada hyung dan noonaku. dan aku rasa asal kau tidak berisik aku rasa mereka tidakkeberatan" baekhyun tersenyumjahil.

"baiklah".

Mereka berdua masuk secara diam diam kedalam rumah baekhyun, tepatnya kekamar baekhyun di lantai dua. Baekhyun mempersilakan Chanyeol untuk menunggu di kamarnya sementara Baekhyun mengambilkan sebotol anggur dan dua gelas dari dapur.

"apa anggur boleh?" tanya baekhyun sambil menggoyang goyangkan botol anggur.

"terserah kau saja"

"oke..."

"kamarmu sangat keren baekhyun. Apa kau suka mengkolase?" tanya chanyeol sambil memandang dinding kamar baekhyun yang bertema biru dengan hiasan kolase yang sangat artistik.

"ya begitulah. Aku hobi mengkolase sejak di junior high school." Jawab baekhyun sambil menuangkan anggur kedalam dua gelas dan menyerahkan salah satunya kepada Chanyeol.

Meraka duduk dikarpet dan bersandar pada bantal bantal yang tertata rapi di bawah ujung tempat tidur baekhyun. Baekhyun kemudian duduk bersandar pada bantal-bantal di belakangnya dan menatap Chanyeol.

"apa kau pernah berhubungan seks?" tanya baekhyun tiba tiba yang membuat chanyeol terbelalak.

"jujur?"

"tidak. Bohong saja!" baekhyun memutar matanya kesal.

"ummm dengan lelaki?" jawab chanyeol kikuk yang kemudian duduk disebelah baekhyun.

"oh jadikau sudah pernah berhubungan seks dengan para yoeja diluar sana?"

"umm bukan.. hanya saja aku menunggu waktu yang pas. Ya kau tau aku ingin melakukannya dengan siapa."

"xi luhan?" tanya baekhyun.

"umm..." jawab chanyeol tersenyum.

"jadi si mesum dan si perawan? Sungguh sangat amat klasik." Ejek baekhyun.

"jadi apa kau sudah pernah melakukannya?" chanyeol balik bertanya pada baekhyun

"bukan urusanmu." Baekhyun tersenyum dan kemudian berbaring memunggungi chanyeol.

Chanyeol hanya bisa menatap baekhyun. Kemudian ia ikut duduk-yang agak berbaring- disebelah baekhyun dengan siku yang menjadi tumpuan.

bakehyun memutar tubuhnya menjadi telentang. dengan setengah terduduk dia meneerawang menatap langit-langit kamarnya.

"aku sangat merasa tenang berada disini. Merasakan bagaimana kehidupanku. Tidak terpikirkan apapun. Bahkan seks dan omong kosong lainnya. Disini merupakan titik ternyaman. Aku hanya merasa semua omong kosong itu sangat membosankan. Saling berkenalan , berkencan, seks, kemudian saling menyakiti. Cerita si mesum dan si perawan. konyol"

Chanyeol hanya memandang baekhyun kagum. Kagum dengan bagaimana bibir mungil itu berkata dan matasipit itu mengerjap. seandainya baekhyun seorang yoeja pasti chanyeol akan mengajaknya berkencan, begitu pikirnya.

"bagaimana dengan ku?" tanya chanyeol.

Baekhyun hanya memandang chanyeol kemudia menarik telapak tangan chanyeol dan menyatukannya dengan miliknya. Mengaitkan satu sama lain. sungguh amat sangat pas. chanyeol hanya diam saja menanggapi bekhyun yang sedang berusaha menggenggam tangannya. chanyeol merasakan hangat tangan baekhyun yang menggenggamnya tangannya. ya hangat, sampai menyentuh ke hatinya.

"menurutmu aku yang mana? Si mesum atau si perawan?" baekhyun bertanya sambil metapa intens onix chanyeol tanpa berniat melepaskan tautan tangan meraka. Nafas keduanya memburu. Gugup dengan degup jantung yang saling mengejar.

"aku belum pernah bertemu dengan orang sepertimu sebelumnya." Jawab chanyeol. Tak kalah gugup dengan degup jantungnya.

Baekhyun kemudian menarik tangan besar chanyel dan menempelkan diperutnya. Chanyeol yang mau tidak mau tertarik mendekap baekhyun dari belakang. Chaenyol sangat gugup saat ini.

"aku punya gangguan tidur. Aku tidak bisa tidur dengan orang lain." ucap baekhyun lirih yang masih bisa didengar chanyeol.

"umm aku bisa menyingkir" belum chanyeol menyingkir tanganya makin erat digenggam baekhyun.

"jangan..biarlah sepert ingin merasakan nafasmu ada dibelakang telingaku." Ucap baekhyun sambil memejamkan matanya . ia menikmati hembusan nafas chanyeol yang hangat di belakang telinganya...

"jantungmu berdetak keras sekali, chanyeol." Baekhyun yg masih terpejam merasakan degupan jantung chanyeol sambil tersenyum.

"uh-oh yaa..aku tau" jawab chanyeol yang malah membuat deru nafasnya semakin terasa di telinga baekhyun. baekhyun merasakan hangat nafas chanyeol yang secara intens menyerang belakang telinga dan tengkuknya. baekhyun menikmati itu, rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"mmm... ".

.

.

.

.

..TBC...

terimakasih sudah mau membaca ff ini.

ini ff pertama saya, setelah sekian lama hanya berani membaca dan mereview tanpa pernah membuat akun. hehe

oke ... terimakasih lagi dan jangan lupa review untuk ff ini ya, readernim yang baik ^^...