"Seharusnya aku bahagia disini, tapi setiap malam aku selalu melihat dia menangis dan merintih kesakitan, itu membuatku tidak tenang. Jika kau sudah tidak ingin menjaganya, maka biarkan dia pergi bersamaku."
"Haneul, aku mohon berikan aku satu kesempatan. Biarkan aku menepati janjiku, aku akan menjaga malaikat kita. Aku mohon..."
"Aku harap kau segera bangun. Aku sangat merindukanmu."
"Kenapa tidak ada yang memberitahukan masalah ini padaku?! Kenapa kalian begitu tega membiarkan aku tahu semua ini dari orang suruhanku ! Jawab aku Kim Heechul ! Apa yang terjadi padanya?!"
LAST WISH
(Saranghae appa)
Cast :
Park Leeteuk
Kim Heechul
Park Donghae
Other cast :
Park Yongmin (Leeteuk appa)
Park Hyera (Donghae eomma)
Kim Hyun Joong (Heechul appa)
Author :
Ayu Rahayu
Genre :
Brothership, Friendship, Hurt, Drama, Family
Summary :
Aku ingin kau memelukku, aku ingin kau tersenyum hangat kearahku. Hanya itu yang ku inginkan, bisakah kau mengabulkannya... Appa~
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
Chapter 8
Flashback
Sosok yang tegas, keras dan berwibawa seakan telah lenyap dari diri seorang Park Youngmin. Dunianya seakan runtuh saat mendengar apa yang dikatakan orang suruhan yang ia beri tugas untuk mencari tahu keberadaan putranya itu.
"Apa katamu tadi? Katakan sekali lagi." suara namja itu terdengar bergetar, terselip ketakutan dalam nada bicaranya. Sungguh dia masih berharap bahwa apa yang dikatakan oleh orang itu tidaklah benar atau mungkin dia hanya salah dengar.
"Tuan muda Leeteuk tengah dirawat dirumah sakit. Sudah hampir 2 minggu ini tuan muda tidak sadarkan diri. Menurut informasi yang saya dapat, tuan muda..."
"Hentikan. Sekarang kau boleh pergi." masih bisakah namja paruh baya ini berharap jika dia salah dengar? Tidak. Ini adalah kenyataannya, sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan.
Dunia seorang Park Youngmin kini bebar-benar menggelap, untuk beberapa saat namja ini seperti kehilangan penglihatannya karena tertutupi oleh kabut air matanya sendiri, inilah... sebuah air mata penyesalan.
Rasa sesak kini benar-benar mencengkram dadanya, setelah mengakhiri percakapan dengan orang suruhannya itu. Namja ini berusaha bertumpu di meja kerjanya, berharap meja itu bisa menahan tubuhnya yang tiba-tiba saja seperti kehilangan semua sendi-sendi tulangnya.
"Teukie" lirihnya. Sebuah lirihan yang terdengar menyakitkan dan menyedihkan.
Flashback off..
.
.
.
"Kenapa kau hanya diam?! Apa yang kau lakukan pada anakku..!" bentak Youngmin tepat dihadapan Heechul, dengan erat namja paruh baya ini mencengkram kerah baju Heechul, menunggu jawaban dari namja yang mengakui dirinya sebagai sahabat putranya itu.
"Apa yang aku lakukan?" ucap Heechul dengan senyum meremehkan. Dengan perlahan Heechul menurunkan cengkraman tangan Youngmin padanya.
"Harusnya anda tanyakan itu pada diri anda sendiri. Dan apa yang anda katakan tadi? Anakku? Ck! Sejak kapan anda menganggap dia sebagai seorang anak. Bukankah selama ini anda hanya menganggap dia sebagai seorang PEMBUNUH." lanjut Heechul dengan tegas dan berhasil menambah rasa sesak didalam dada Youngmin.
Tes..
Tak dapat dipungkiri lagi, air mata itu kini telah menetes dari mata renta seorang Park Youngmin. Tak dipedulikannya lagi gelar CEO yang tengah disandangnya, bahkan seandainya bisa dia rela melepas gelar itu dan menukarnya dengan putranya.
"Apa anda mengetahuinya? Bahwa seseorang yang sekarang tengah tertidur didalam sana, dia sangat menyayangi anda, dia sangat membanggakan anda. Dia tidak pernah peduli, seberapa banyak anda memukulnya atau seberapa sering anda membentaknya. Dia akan tetap menyayangi anda, justru semua perlakuan kasar anda padanya itu membuatnya semakin menyayangi anda." kini wajah Heechul pun telah dibanjiri air mata. Pikirannya kini melayang, mengingat bagaimana seorang Park Leeteuk menjalani hidupnya. Dengan perlahan Heechul melangkah mendekati jendela kaca yang memperlihatkan sahabatnya yang tengah terbaring lemah dalam ruang rawatnya.
"Ballpoint itu, apa anda menyukainya? Ahh.. Tentu saja anda menyukainya, karena bagi anda ballpoint itu adalah hadiah dari anak kesayangan anda. Park Donghae." ucapnya dengan memberi penekanan pada nama Donghae. Youngmin pun hanya bisa tertunduk, semua yang dikatakan oleh namja berumur 17 tahun dihadapannya ini adalah kebenaran, sebuah kebenaran yang akhirnya membuatnya hanya bisa menunduk dan terdiam, menyesali semua yang telah dilakukannya.
"Dia bangun dipagi buta, untuk mengantar susu dan koran. Sepulang sekolah dia akan menjadi pelayan disebuah kafe hingga larut malam. Sesampainya dirumah karena pulang terlalu malam, anda pun memarahinya bahkan memukulnya. Tapi dia tetap melakukan semua pekerjaannya, hingga akhirnya dia bisa mendapatkan ballpoint itu. Dan apa anda tahu, betapa bahagianya dia saat dia melihat anda memakai bahkan membawa ballpoint itu kemana pun anda pergi. Walaupun dia harus menggunakan nama Donghae agar anda mau menerima hadiah itu, tapi dia tidak peduli dan tetap merasa bahagia. Apa anda tahu semua itu?" kini Heechul pun mulai berbalik menghadap Youngmin. Tidak seperti sebelumnya, kini Heechul mulai menatap Youngmin dengan lembut dan senyum pun telah terpantri di bibir namja ini.
"Ajjushi mianhae jika sedari tadi aku bersikap dengan tidak sopan, aku hanya ingin ajjushi tahu kalau Leeteuk sangat menyayangi anda. Baiklah, masuklah ajjushi. Dia sudah menunggu anda sangat lama, aku harap setelah dia bertemu dengan anda dia akan segera bangun."
.
.
.
Dengan langkah terseok Youngmin mulai melangkah memasuki kamar dimana seorang putra yang sempat tidak diinginkan kehadirannya itu dirawat. Dengan perlahan Youngmin melangkah mendekatinya yang tengah terbaring lemah diatas ranjang putih itu, melihat tubuh rapuh sang anak membuat Youngmin tak bisa menahan tangisnya.
Bahkan namja paruh baya ini sangat berharap agar indra pendengarannya menuli saat ini juga, ketika telinganya mendengar detak jantung Leeteuk yang terasa lemah.
"Teukie.." suara lembut namun sarat akan rasa pedih dan kesedihan itu dengan pelan mulai meluncur dari mulut Youngmin. Namun hanya itu yang bisa diucapkannya, detik kemudian namja paruh baya ini hanya bisa tertunduk dan menangis.
Bagaikan sebuah film alur mundur, begitulah yang dialami Youngmin. Semua potongan-potongan ingatannya dimasa lampau terus berputar dikepalanya. Bagaimana dia membentak sang malaikat, bagaimana dia memukul sang malaikat, memperlakukannya layaknya seorang penjahat, bahkan tak pernah sekalipun dia memperdulikan jeritan malaikat ini. Dan sekarang mungkin inilah hukuman untuknya, malaikatnya yang dulu selalu menampakkan wajah ceria, polos dengan senyuman yang selalu bisa menenangkan semua orang kini tak akan bisa ditemukannya lagi. Sekarang yang ada hanyalah seorang malaikat yang tergolek lemah dengan berbagai alat medis yang terpasang ditubuhnya. Wajahnya putih pucat bagaikan tak ada setetes darah pun yang mengaliri tubuhnya. Sungguh, keadaan Leeteuk saat ini benar-benar membuat Youngmin tak bisa menghentikan tangisannya. Dengan perlahan Youngmin mulai menggenggam tangan Leeteuk, merasakan betapa dinginnya tangan sang putera.
"Teukie, kenapa kau jadi seperti ini? Kenapa kau tak mengatakan semua ini pada appa?" Isakan penyesalan Youngmin kini telah berubah menjadi sebuah tangisan pilu seorang ayah yang merasa khawatir pada keadaan sang anak.
"Teukie, jebal bukalah matamu. Apa kau marah pada appa eoh? Arraseo, appa minta maaf. Appa janji, appa tak akan memarahi atau memukulmu lagi. Tapi jebal bukalah matamu chagi. Jebal.." lirih Youngmin.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan eoh? sudah sangat lama kita tidak memancing bersama. Ahh.. bukankah malaikatnya appa ini sangat menyukai ice cream, kalau begitu appa akan membelikannya untukmu. Tapi appa mohon bukalah matamu." Semua kehormatan dan harga dirinya sebagai CEO telah ditanggalkanya. Sekarang hanya ada seorang ayah yang menginginkan sang anak kembali kepadanya. Dengan perlahan kini Youngmin berlutut disamping ranjang Leeteuk, kembali tertunduk dan terisak.
"Jebal.. maafkan appa.. maafkan appa.. appa merindukanmu Teukie, appa mohon bukalah matamu. Appa sangat ingin melihat senyummu dan.. mendengarmu memanggilku dengan sebutan appa lagi."
"Appa..."
TBC
Wah.. akhirnya saya update lagi.
Mianhae baru bisa update sekarang, soalnya saya baru saja selesai tryout.
Melanjutkan chapter ini saja saya harus mencuri-curi waktu, soalnya jumat depan saya ada Ujian Praktek Kejuruan.
Jadi saya minta maaf kalau updatenya terlambat terus. Walaupun terlambat tapi saya pasti bakal tetap update kok :)
Semoga masih ada yang mau membaca FF gaje ini :)
Gumawo..
