"Tuan muda Leeteuk tengah dirawat dirumah sakit. Sudah hampir 2 minggu ini tuan muda tidak sadarkan diri. Menurut informasi yang saya dapat, tuan muda..."

"Apa anda mengetahuinya? Bahwa seseorang yang sekarang tengah tertidur didalam sana, dia sangat menyayangi anda, dia sangat membanggakan anda. Dia tidak pernah peduli, seberapa banyak anda memukulnya atau seberapa sering anda membentaknya. Dia akan tetap menyayangi anda, justru semua perlakuan kasar anda padanya itu membuatnya semakin menyayangi anda."

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan eoh? sudah sangat lama kita tidak memancing bersama. Ahh.. bukankah malaikatnya appa ini sangat menyukai ice cream, kalau begitu appa akan membelikannya untukmu. Tapi appa mohon bukalah matamu."

LAST WISH

(Saranghae appa)

Cast :

Park Leeteuk

Kim Heechul

Park Donghae

Other cast :

Park Yongmin (Leeteuk appa)

Park Hyera (Donghae eomma)

Kim Hyun Joong (Heechul appa)

Author :

Ayu Rahayu ( IG : desyesung_)

Genre :

Brothership, Friendship, Hurt, Drama, Family

Summary :

Aku tahu, semua ini bukanlah akhir dari segalanya. Justru ini adalah awal dari semuanya. Penderitaan yang mengawalinya dan kebahagianlah yang akan mengakhirinya.

HAPPY READING

.

.

.

.

.

.

Chapter 9

Flashback...

"Teukie, eomma ada cerita untukmu."

"Cerita apa eomma? Apakah sebuah dongeng?" ucap Teukie dengan sangat antusias. Namja kecil ini memang sangat suka saat sang eomma mulai bercerita untuknya. Dan sudah kebiasaan, saat akan tidur Teukie akan selalu meminta agar sang eomna bercerita untuknya.

"Ini bukan dongeng. Hanya sebuah cerita saja, Teukie dengarkan ne." Haneul pun mulai berbaring disamping Leeteuk kecil, memeluknya dan mulai bercerita.

"Dahulu ada seorang anak yang mengeluh pada appa-nya. Anak ini merasa putus asa dengan semua beban hidupnya. Setiap dia berhasil memecahkan satu masalah maka akan muncul masalah lainnya dan semua itu membuatnya lelah dan ingin menyerah saja. Sang appa yang mendengar keluh kesah anaknya hanya tersenyum, kemudian sang appa mengajak anaknya masuk kedalam dapur."

"Untuk appa mereka masuk dapur eomma? Ahh.. Teukie tahu, pasti appa-nya ingin membuat coklat panas untuknya. Sama seperti appa yang selalu membuat coklat panas untuk Teukie." Ucap Leeteuk kecil dengan senyum khas kekanakannya.

"Mungkin Teukie benar. Tapi kali ini. Appa bukan ingin membuat coklat, tapi dia ingin membuat sebuah pelajaran untuk anaknya. Kita lanjut ceritanya ne chagi?" Tanya Haneul pada sang anak yang sejak tadi terus berada dalam dekapannya. Setelah mendapat anggukan setuju dari sang anak, yeoja lembut ini pun melanjutkan ceritannya.

"Setelah sampai di dapur. Sang appa pun mengambil 3 buah panci dan mengisi air ditiap masing-masing panci itu. Kemudian menaikkannya diatas kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air didalam 3 panci itu pun mendidih. Pada panci pertama ia memasukka potongan wortel, panci kedua telur dan yang terakhir biji kopi."

"Sebenarnya Teukie tidak mengerti, tapi Teukie penasaran jadi lanjutkan ceritanya eomma."

"Baiklah, kita lanjut. Setelah beberapa menit berlalu, sang appa pun mengeluarkan wortel dan telur kemudian meletakkannya diatas sebuah piring. Kemudian sang appa menyuruh sang anak memegang dan merasakan air dari rebusan kopi itu.'' Haneul yg melihat ekspresi bingung sang anak pun tersenyum dan melanjutkan ceritanya.

"Wortel, telur dan kopi mengalami hal yang sama yaitu, direbus dalam air mendidih. Wortel yang awalnya keras, setelah direbus menjadi lunak dan lemah. Telur yang mudah pecah, berubah menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi malah tidak mengalami perubahan apa pun, justru biji kopilah yang mengubah air mendidih yang merebusnya menjadi beraroma sedap. Jadi, disaat kesulitan menghadang langkahmu. Perubahan seperti apa yang Teukie alami? Menjadi wortel, telur atau biji kopi?"

"Eomma, Teukie ingin menjadi coklat. Coklat sangat manis dan menghangatkan."

"Teukie~ coklat tidak ada dalam pilihan chagi." Ucap Haneul yang telah merasa gemas dengan tingkah sang anak.

"Tapi Teukie ingin menjadi coklat yang manis eomma." Ucap Leeteuk kecil dengan wajah innocentnya. Haneul yang telah gemas pun mulai bangkit dari posisi berbaringnya dan bersiap untuk menyerang sang putra.

Dan begitulah, kisah inspirasi dari Haneul pun berakhir dengan aksi saling menggelitik antara eomma dan anak ini. Dan tawa kebahagian mereka terus terdengar hingga larut menjelang, sampai akhirnya mereka terlelap dengan posisi saling mendekap.

Flashback off

.

.

.

Leeteuk pov..

Aku tak tahu sekarang aku sedang berada dimana. Tempat ini terasa kosong, namun sangat menyejukkan. Sebidang tanah dengan rumput hijau yang terasa lembut tumbuh di atas tanah ini. Tempat ini terkesan sangat sederhana, karena sejauh apa pun mata memandang hanya akan ada warna hijau, tak ada yang lain lagi. Ahh.. sebenarnya tepat persis di tengah-tengah tanah ini, tumbuh sebatang pohon maple.

Apakah kalian pernah melihat pohon maple?

jika belum, maka kalian harus melihat pohon yang memiliki daun menjari dengan warna kuning keemasan ini, sangat indah. Bahkan dulu aku selalu menulis harapan-harapanku di atas daun maple ini, kemudian menerbangkannya dan berharap Tuhan akan membaca harapanku itu dan mengabulkannya. Kekanakan sekali bukan? Tapi aku suka melakukan itu, karena yang mengajarkan aku melakukan itu adalah...

Ya.. yang mengajarkanku adalah appa. Saat itu sangat menyenangkan, menulis harapan berdua ahh.. tidak. Tapi bertiga dengan appa dan eomma. Tapi semua itu hanyalah sebuah kenangan, dan tak akan pernah bisa aku ulang. Baiklah, lupakan soal itu. Aku tidak mau bersedih ditempat yang indah ini. Aku pun mulai melangkah berjalan, berniat ingin duduk di bawah pohon maple itu dan mungkin aku bisa menulis harapan terakhirku di atas selembar daunnya.

Namun, saat aku mulai dekat pada pohon itu, aku pun bisa melihat siluet tubuh seorang yeoja tengah berdiri tepat di bawah pohon. Rambutnya panjang sebatas pinggang dan dress putih bersih membalut tubuhnya.

Sebenarnya aku ingin mengacuhkannya, tapi entah mendapat dorongan dari mana aku pun tetap berjalan mendekati yeoja itu, hingga akhirnya aku berada tepat dibelakangnya. Belum sempat aku menyapanya, yeoja ini sudah lebih dulu berpaling dan menatapku dengan senyuman lembutnya.

"Eomma..."

.

.

.

Author pov..

Kegelapan malam telah menyelimuti kota Seoul, walaupun jam masih menunjukkan pukul 20:00. Tetapi ibu kota dari negeri gingseng ini telah terlihat sepi. Dan keadaan sepi itu sepertinya juga terasa dalam sebuah rumah sakit swasta yang berdiri tegak di pertengahan kota Seoul ini. Beberapa perawat, dokter dan pasien yang sejak tadi berlalu lalang, entah kenapa tiba-tiba tak terlihat lagi. Mungkin karena cuaca yang telah memasuki musim dingin ini, membuat mereka ingin beristirahat lebih cepat. Atau juga, mereka ingin membiarkan seorang namja yang sejak tadi berdiri didepan sebuah ruang rawat ini merasa tenang. Bagaimana tidak, namja ini sedari tadi hanya berdiri dan... menangis.

Entah apa yang sedang dilakukan namja ini, tapi satu yang pasti. Namja ini tengah mendengarkan kata demi kata yang dilontarkan oleh seorang namja paruh baya yang sekarang tengah berada dalam ruangan ini.

"Jebal.. maafkan appa.. maafkan appa.. appa merindukanmu Teukie, appa mohon bukalah matamu. Appa sangat ingin melihat senyummu dan.. mendengarmu memanggilku dengan sebutan appa lagi."

Merasa sudah tak tahan lagi dengan apa yang tengah didengarnya, namja ini pun mulai menberanikan diri untuk menegur seseorang yang sejak tadi terus diperhatikannya dari balik pintu.

Cklek..

Pintu yang sejak tadi hanya terbuka setengahnya itu pun mulai terbuka lebar, menampakan dengan lebih jelas siapa yang sekarang sedang berada dalam ruangan itu.

"Appa.."

Seseorang yang dipanggilnya dengan sebutan 'appa' itu pun menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang telah basah dengan air matanya.

"Hae.." ucap namja paruh baya yang ternyata adalah Park Youngmin itu dengan suara paraunya.

Lee Donghae, namja itu pun dengan cepat berjalan mendekati Youngmin.

"Apa yang sedang appa lakukan? Jangan seperti ini appa. Leeteuk hyung pasti akan sedih saat melihatmu seperti ini appa." Dengan perlahan Donghae pun membantu Youngmin untuk berdiri dari posisi berlututnya.

"Seorang ayah, seharusnya bisa menjaga sang anak, membimbingnya, mengajarkan semua hal-hal baik padanya. Tapi lihatlah, apa yang telah appa lakukan, appa justru melakukan sebaliknya. Appa telah gagal Hae.." seperti hal nya sebuah mata air yang tak kan pernah kering. Dan hal itu pula lah yang tengah terjadi pada Park Youngmin, tak ada hentinya mata rentanya mengeluarkan tetes demi tetes liquid beningnya. Bahkan tetesan itu telah berubah menjadi sebuah aliran air mata yang membasahi pipinya.

Benar, sebuah penyesalan telah mengubah seorang Youngmin yang berhati dingin menjadi seseorang yang terkesan rapuh. Donghae yang melihat keadaan itu pun hanya bisa mendekap tubuh sang ayah tiri.

"Appa, leeteuk hyung pernah berkata padaku. Sebuah kesalahan adalah sebuah pelajaran yang dapat membuat diri kita lebih baik. Jadi, appa bisa menganggap bahwa semua ini adalah pelajaran yang akan membuat appa lebih menyayangi Leeteuk hyung dibandingkan sebelumnya.'' Dengan perlahan Donghae pun melepas pelukannya pada Youngmin, dan mulai berpaling menghadap Leeteuk yang masih terlihat damai dalam tidurnya.

"Tapi kesalahan yang appa buat sudah terlalu besar dan telah terlambat untuk menyadari semua kesalahan itu."

"Terlambat? siapa yang mengatakannya? Appa belum terlambat, lihat lah Leeteuk hyung masih disini. Hanya saja, mungkin sekarang Leeteuk hyung masih ingin istirahat. Tapi, nanti saat dia telah merasa lebih baik, pasti dia akan kembali. Dan saat itu, appa bisa membayar semua kesalahan appa." Ucap Donghae dengan senyum tulusnya.

"Gumawo Hae. Appa sungguh beruntung memiliki kalian dalam hidup appa."

.

.

.

Seorang yeoja paruh baya dan namja muda tengah berteduh dibawah sebuah pohon maple yang sesekali terlihat daunnya mulai berguguran saat diterpa hembusan angin.

"Teukie." namja muda itu hampir saja terlelap, hingga panggilan lembut yeoja paruh baya yang merupakan eomma-nya itu menyadarkannya.

"Ne eomma." jawab Leeteuk masih memejamkan matanya, menikmati setiap usapan lembut dari sang eomma dikepalanya.

"Teukie, dulu eomma pernah bercerita padamu tentang kisah sepotong worter, telur dan biji kopi. Kau masih ingat?" Leeteuk pun mulai membuka matanya saat mendengar pertanyaan sang eomma.

"Ne eomma, aku masih ingat itu."

"Dan sekarang apa kau sudah tahu harus menjadi apa? Wortel, telur atau biji kopi?" Leeteuk pun bangkit dari posisi berbaringnya, kemudian duduk dan menyandarkan kepalanya dibahu sang eomma.

"Dulu saat eomma menceritakan itu, aku sama sekali tidak mengerti maksud dari cerita eomma. Karena saat itu umurku masih 6 tahun, jadi sangat sulit buatku untuk memahami cerita itu." ucap Leeteuk dengan senyum manisnya, sedikit mengenang saat-saat dimana sang eomma bercerita ketika dirinya hendak tidur.

"Tapi sekarang kau sudah mengerti maksud dari cerita itu kan?"

"Ne, sekarang aku sudah mengerti eomma. Eomma menceritakannya padaku dan berharap agar kelak aku menjadi seperti biji kopi. Benarkan eomma?"

"Kau benar, dan sekarang kau berhasil menjadi seperti biji kopi itu. Eomma bangga padamu."

"Tapi sekarang aku sudah lelah eomma. Aku ingin bersama eomna disini."

"Lalu bagaimana dengan appa, Hyera eomma, Donghae, Heechul dan Kim ajushi? Mereka masih membutuhkanmu chagi, kau harus kembali."

"Aku lelah eomma. Hidupku terlalu sakit." lirih Leeteuk dengan suara yang telah terdengar serak.

"Eomma tahu kau adalah anak yang kuat, Teukie-nya eomma bukan anak lemah, dia sangat kuat. Sekali lagi eomma minta agar kau menjadi seperti biji kopi itu, bertahalah chagi."

"Tapi eomma, bahkan appa tidak mengharapkan kehadiranku lagi. Appa sudah tidak menyayangiku lagi."

"Appa menyayangimu, bahkan sampai detik ini pun appa masih sangat menyayangimu. Sekarang tidurlah. Eomma janji, saat kau terbangun nanti, appa akan kembali menyayangimu seperti dulu." ucap Haneul. Secara perlahan yeoja ini kembali menidurkan sang anak kedalam pangkuannya seperti semula, dan mulai mengusap rambut coklat almond itu hingga akhirnya sang anak pun tertidur dipangkuannya.

"Belum saatnya kau pergi chagi. Kau harus tetap bertahan, jadi sekarang kembali lah dan cepatlah bangun."

TBC

Selesai juga deh chapter ini, mian buat semuanya kalau ceritanya malah tambah gaje :(

Emmh.. dan gumawo buat semua reviewnya. Jeongmal gumawo :)

Baiklah, semoga kalian masih berkenan untuk menunggu chapter selanjutnya.

Kamsahamnidaaaa... :D