''Seorang ayah, seharusnya bisa menjaga sang anak, membimbingnya, mengajarkan semua hal-hal baik padanya. Tapi lihatlah, apa yang telah appa lakukan, appa justru melakukan sebaliknya. Appa telah gagal Hae.."
"Appa, leeteuk hyung pernah berkata padaku. Sebuah kesalahan adalah sebuah pelajaran yang dapat membuat diri kita lebih baik. Jadi, appa bisa menganggap bahwa semua ini adalah pelajaran yang akan membuat appa lebih menyayangi Leeteuk hyung dibandingkan sebelumnya.''
"Terlambat? siapa yang mengatakannya? Appa belum terlambat, lihat lah Leeteuk hyung masih disini. Hanya saja, mungkin sekarang Leeteuk hyung masih ingin istirahat. Tapi, nanti saat dia telah merasa lebih baik, pasti dia akan kembali. Dan saat itu, appa bisa membayar semua kesalahan appa."
LAST WISH
(Saranghae appa)
Cast :
Park Leeteuk
Kim Heechul
Park Donghae
Other cast :
Park Yongmin (Leeteuk appa)
Park Hyera (Donghae eomma)
Kim Hyun Joong (Heechul appa)
Author :
Ayu Rahayu ( IG : desyesung_)
Genre :
Brothership, Friendship, Hurt, Drama, Family
Summary :
Aku tahu, semua ini bukanlah akhir dari segalanya. Justru ini adalah awal dari semuanya. Penderitaan yang mengawalinya dan kebahagianlah yang akan mengakhirinya.
A/N :
Dichapter ini saya ingin sedikit mengajak reader untuk flashback dan melihat apa yang terjadi setelah Youngmin mengusir Leeteuk dari rumah. Jadi reader jangan ada yang bingung ne. Oke makasih ^^
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
"Tapi sekarang aku sudah lelah eomma. Aku ingin bersama eomna disini."
"Lalu bagaimana dengan appa, Hyera eomma, Donghae, Heechul dan Kim ajushi? Mereka masih membutuhkanmu chagi, kau harus kembali."
"Aku lelah eomma. Hidupku terlalu sakit." lirih Leeteuk dengan suara yang telah terdengar serak.
"Eomma tahu kau adalah anak yang kuat, Teukie-nya eomma bukan anak lemah, dia sangat kuat. Sekali lagi eomma minta agar kau menjadi seperti biji kopi itu, bertahalah chagi."
"Tapi eomma, bahkan appa tidak mengharapkan kehadiranku lagi. Appa sudah tidak menyayangiku lagi."
"Appa menyayangimu, bahkan sampai detik ini pun appa masih sangat menyayangimu. Sekarang tidurlah. Eomma janji, saat kau terbangun nanti, appa akan kembali menyayangimu seperti dulu." ucap Haneul. Secara perlahan yeoja ini kembali menidurkan sang anak kedalam pangkuannya seperti semula, dan mulai mengusap rambut coklat almond itu hingga akhirnya sang anak pun tertidur dipangkuannya.
"Belum saatnya kau pergi chagi. Kau harus tetap bertahan, jadi sekarang kembali lah dan cepatlah bangun."
.
.
.
.
.
Chapter 10
"Darimana kau tahu jika appa berada disini Hae?" Ucap Youngmin yang akhirnya berhasil memecah kesunyian antara dirinya dan Donghae. Donghae yang sedari tadi diam melamun pun mulai menatap wajah sang ayah tiri.
"Aku tahu kalau beberapa hari ini appa tengah menyelidiki tentang keberadaan Leeteuk hyung. Dan tadi saat aku ingin bertemu dengan appa dikantor, aku justru melihat appa keluar dari kantor dengan terburu-buru. Karena penasaran, akhirnya aku pun mengikuti appa sampai kesini.'' Jawab Donghae seraya tersenyum kearah sang ayah.
Lagi. Keheningan kembali terjadi.
Kedua namja ini kembali fokus menatap Leeteuk yang masih setia memejamkan matanya yang entah kapan akan terbuka. Youngmin dan Donghae juga tak pernah melepas genggaman mereka dari kedua tangan Leeteuk. Mereka berharap dengan cara itu mereka dapat merasakan gerakan dari tangan Leeteuk.
Dan terkabul.
Harapan dari kedua namja ini akhirnya terkabul.
Benar, tangan yang terasa dingin itu mulai bergerak, walaupun hanya gerakan yang sangat kecil. Tapi gerakan kecil itu sudah cukup untuk membuat Youngmin dan Donghae merasakan kebahagiaan.
"Appa, ini hanya perasaanku saja atau…" belum sempat Donghae menyelesaikan kalimatnya, Youngmin yang telah antusias pun tanpa sadar memotongnya.
"Ani, appa merasakannya. Teukie, jebal bukalah matamu nak."
Seakan mendengar ucapan dari sang ayah, dengan perlahan Leeteuk akhirnya mulai membuka matanya. Donghae dan Youngmin yang melihat itu pun tak dapat membenduk air mata mereka.
Tanpa disuruh, Donghae pun dengan cepat berlari keluar untuk memanggil Kim uisa, dokter yang telah merawat hyungnya.
"Teukie, akhirnya kau sadar juga nak. Tuhan terima kasih karena Kau telah mengembalikkan anakku." Air mata yang sempat terhenti beberapa waktu yang lalu, kini kembali menetes membasahi kulit renta Park Youngmin. Hanya saja kali ini bukanlah air mata kesedihan, melainkan setetes air mata kebahagian yang diselimuti rasa syukur.
"Teukie, maafkan appa. Appa telah gagal, appa selalu menyakitimu, appa selalu memukul dan memarahimu. Appa benar-benar menyesal, maafkan appa. Teukie maukan memaafkan appa?" Ucap Youngmin penuh penyesalan. Leeteuk yang melihat itu pun hanya bisa tersenyum lemah. Dengan perlahan Leeteuk pun mengangkat tangannya dan menghapus air mata Youngmin.
"Uljima appa." Ucap Leeteuk hanya dengan gerakan bibir tanpa suara. Dan Youngmin pun hanya bisa menggeleng pelan, berusaha untuk menahan tangisnya.
"Appa merindukanmu. Appa benar-benar merindukan malaikatnya appa" bisik Youngmin dan dibalas dengan senyum lemah.
Akhirnya setelah 5 menit berlalu, Donghae pun kembali bersama Kim uisa dan Heechul. Tanpa banyak bicara Kim uisa pun mulai memeriksa keadaan Leeteuk.
"Syukurlah. Kau sudah lebih baik sekarang, tapi kau harus tetap banyak istirahat. Donghae, Heechul jaga dia. biarkan dia istirahat."
"Baik appa/uisa" jawab Donghae dan Heechul bersamaan.
"Tuan park, bisakah kita bicara sebentar?'' Tanya Kim uisa saat dirinya telah selesai memeriksa Leeteuk.
"Baiklah." Jawab Youngmin.
.
.
.
.
.
Flashback..
Leeteuk pov..
"ANAK TAK BERGUNA!"
"APA YANG KAU LAKUKAN PARK YOUNGMIN?!"
"Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan ini eoh?! Kau sudah melukainya, biar bagaimana pun dia adalah anak kita. Dan sekarang dengan tanganmu sendiri kau melukainya. Ayah macam apa kau ini eoh?!"
"Anak kita? Dia? Ck! Anak kita hanya Park Donghae dan dia bukan siapa-siapa!"
"Appa~ sebegitu bencinya kah appa padaku? Tak ada kah sedikit saja tempat untukku dihati appa?"
"Aku sangat membencimu! Dan bagiku, kau itu tak lebih dari seorang pembunuh. Dan aku sangat berharap agar kau tak muncul lagi dalam hidupku!"
…
Apa yang terjadi malam ini tak akan pernah bisa aku lupakan, bahkan sampai detik ini pun kejadian tadi terus saja berputar-putar dikepalaku. Semua yang appa ucapkan juga terus terngiang, bahkan suara appa saat membentakku tadi masih terdengar jelas ditelingaku.
Sungguh, ini sangat menyakitkan. Bahkan aku tak bisa merasakan apa pun lagi, kecuali rasa sakit yang ada dihatiku. Appa memang sudah sangat sering memukul dan membentakku, bahkan hampir setiap hari aku mendengar appa mengataiku sebagai pembunuh atau anak pembawa sial. Tapi entah kenapa, kejadian saat dirumah tadi sangat berbeda. Appa telah menolakku, appa sudah tak mengharapkanku lagi, appa justru berharap agar aku segera menghilang dalam kehidupannya.
Tak adakah yang lebih menyakitkan lagi dari semua ini?
Dengan perlahan aku mengadahkan kepalaku menatap langit. Malam ini langit terasa sepi, tak ada satu pun bintang, yang terlihat hanyalah setengah bulan yang memancarkan sinar redupnya. Apakah malam ini akan turun hujan? Apakah langit juga merasakan apa yang kurasakan malam ini?
Tuhan.. Aku tahu, semua ini adalah ujian dariMu. Tapi sungguh aku sudah tak kuat lagi, bisakah Kau meringankan sedikit beban ini. Kau telah mengujiku dengan cara mengambil eomma dariku, dan saat itu aku tetap kuat. Kemudian Kau memberiku penyakit ini, aku tetap berusaha kuat walaupun terasa sangat sakit. Tidak sampai disitu, Kau juga mengujiku dengan mengambil semua kasih sayang appa dariku, dan sekarang aku sudah tak bisa bertahan lagi.
Eomma.. jebal bawa aku bersamamu. Aku sudah tak memiliki alasan lagi untuk tetap tinggal disini. Appa yang dari awal menjadi alasanku bertahan, sekarang justru berharap agar aku pergi dari kehidupannya. Lalu, untuk apa aku tetap bertahan disini? Bawa aku eomma, jebal~
"Eomma.. Teukie merindukan eomma. Teukie ingin dipeluk eomma. Apa eomma sudah melupakan Teukie? Kenapa eomma tak pernah lagi bercerita untuk Teukie? Bogoshippo eomma, bogoshippo.'' Tanpa terasa, kini aku telah berada didepan rumah sahabatku. Sudah menjadi kebiasaanku, setiap ada masalah aku selalu berlari kesini. Tapi, apakah malam ini aku harus masuk dan kembali merepotkan mereka?
Ahh.. Tidak.
Aku tidak akan merepotkan siapa-siapa lagi. Aku akan benar-benar pergi, kalau perlu aku akan pergi untuk... Selamanya.
Dengan perlahan aku mulai berbalik dan berjalan pelan meninggalkan tempat ini. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, langkahku harus kembali terhenti karena sebuah suara yang sangat aku kenal.
"Park Leeteuk."
Ya.. Itu suaranya. Suara milik sahabatku, Kim Heechul.
…
Author pov..
"Apa yang kau lakukan disini? Kau ada masalah lagi?" Tanya Heechul saat dirinya telah berada dibelakang Leeteuk.
"Ani, aku hanya kebetulan lewat." Jawab Leeteuk berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya dari sang sahabat.
"Bohong! Katakan, ada apa?!" Heechul pun membalik tubuh Leeteuk untuk menghadapnya dan betapa terkejutnya namja ini saat dilihatnya wajah Leeteuk telah dibasahi oleh air matanya.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi Teukie?!"
"Chullie~ aku ingin menyerah. Appa sudah tidak menginginkanku, bahkan appa sudah mengusirku. Jika appa sudah tidak menginginkanku, lalu untuk apa aku tetap bertahan. Aku ingin bersama eomma."
"Teukie, kau bicara apa eoh? Kau ingin menyerah? Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan appa? Donghae dan Hyera ahjumma juga. Jika kau berpikir untuk menyerah, lalu bagaimana dengan kami yang sangat menyayangimu. Jebal Teukie jangan berpikir seperti itu."
"Tapi? Appa..."
"Kau tidak perlu memikirkannya. Pikirkan kami, kami yang sangat menyayangimu. Jadi, cukup pikirkan kami. Tidak perlu memikirkan yang lain."
"Chullie~ gumawo karena kau telah mengingatkanku bahwa aku masih memiliki kalian. Gumawo."
"Ne Teukie, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku sangat, sangat, sangat menyayangimu."
…
Leeteuk POV...
Akhirnya, sejak malam itu aku pun tinggal bersama Chullie dan Kim ajjushi. Tapi itu tidak bertahan lama, karena walaupun aku selalu berusaha untuk kuat, tapi itu tidak berlaku untuk tubuhku. Semakin hari tubuhku semakin lemah, bahkan sekarang rumah sakit telah menjadi rumahku.
Setiap hari aku harus menerima 8 kali suntikan, menjalani kemoterapi dan radiasi. Semua pengobatan itu sangat menyakitkan tapi yang lebih menyakitkan adalah saat aku sadar bahwa aku harus menghadapi semuanya tanpa kehadiran appa dan eomma, tanpa dukungan appa dan eomma. Tapi walaupun begitu, aku tetap berusaha untuk bertahan. Kenapa? Karena aku ingin menunjukkan pada appa dan juga eomma, bahwa anak mereka ini bukanlah namja yang lemah.
Dan disaat aku aku berjuang untuk mengalahkan penyakit ini, penyakit ini justru menunjukkan padaku bahwa dia tidak mudah dikalahkan. Malam itu, disaat semua orang telah terlelap, rasa sakit itu kembali menyerangku. Dan rasa sakit yang kurasakan malam itu berlipat-lipat kali rasanya dibandingkan biasanya.
Dan malam itu adalah terakhir kalinya aku melihat Heechul dan Kim ajjushi. Karena setelahnya yang dapat aku lihat hanyalah... Kegelapan.
Flashback off.
.
.
.
.
.
Dengan langkah gontai dan wajah yang kacau Youngmin pun berjalan keluar dari ruangan dokter Kim. Apa yang baru saja didengarnya dari dokter Kim seakan membuat dunianya hancur seketika. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya karena sang anak yang baru saja sadar, kini telah menghilang dalam sekejap.
"Bagaina keadaannya? Dia masih bisa sembuh bukan?"
"Kanker yang diderita Leeteuk telah sampai pada stadium akhir, dan dimasa ini pengobatan pun akan menjadi sia-sia. Jadi, sekarang kita hanya bisa berdoa dan saya sarankan anda lakukanlah apa pun yang diinginkan olehnya. Walaupun ituk untuk… menyerah"
"Mwo?! Menyerah?! Dokter seperti apa kau ini, bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu. Jangan menjadi dokter jika akhirnya justru kau yang mengharapkan kematian pasienmu sendiri."
"Aku tak pernah berpikir seperti itu. Tapi sekarang apa lagi yang bisa kita lakukan? Cara terakhir adalah melakukan pencangkokan sumsum tulang, tapi untuk mendapatkan sumsum tulang yang cocok itu sangat sulit. Walaupun kita bisa mendapatkannya. Kemungkinan berhasilnya pun hanya 15-20% saja."
"Aku tidak peduli. Aku ingin kau menyembuhkannya. Aku akan bayar berapapun, tapi aku mohon sembuhkan anakku. Aku mohon padamu."
"Aku tak pernah mengharapkan imbalan apa pun. Aku menyayangi Leeteuk seperti aku menyayangi anakku sendiri. Aku pasti akan tetap berusaha. Dan untuk anda, saya harap anda tetap berada disampingnya dan mendukungnya. Karena sekarang hanya anda lah satu-satunya orang yang bisa menjadi alasannya untuk bertahan."
''Tuhan, aku mohon beri aku satu kesempatan untuk menebus semua kesalahanku.''
TBC
Akhirnya saya update lagi :)
Mian kalau gaje, saya bikinnya dengan terburu-buru karena saya mau fokus belajar dulu. Soalnya hari senin depan saya ada Ujian Nasional selama 4 hari, dan saya minta doanya ne semoga lulus dengan hasil yg memuaskan :)
Oya, saya ada rencana FF baru. Hanya saja genrenya Romance, dan saya butuh saran untuk cast nya.
Menurut kalian, lebih baik KyuMin atau KangTeuk?
Oke, sampai disini dulu :)
Gumawo kasena kalian masih mau baca FF ini, dan uda bersdia juga untuk mereview
Kamsahamnida :)
