Saat pagi menjelang. Matahari akan mengambil alih posisi bulan untuk mendampingi bumi. Sebuah hukum alam yang tak bisa ditepis oleh siapapun. Jarak antara bulan ke bumi lebih dekat dari pada matahari ke bulan. Hanya bulan yang selalu setia mendampingi bumi di malam hari. Tepat sebelum matahari datang dan memancarkan sinarnya.

Naruto And Beautiful Monster

Naruto © Masashi Kishimoto

NaruHinaKarin Forever

Saya tidak mengambil keuntungan sedikitpun dari fict ini

Warning: OOC, Typo, ecchi.

.

.

.

Di sebuah bathtub. Terlihat sosok mungil gadis berambut panjang tergerai dengan warna biru gelap. Kulit putih yang mampu memanjakan mata setiap pria yang memandangnya.

Hinata Senju. Gadis manis yang saat ini sedang berendam ini tengah terpejam. Menikmati setiap detik kehangatan air yang menyentuh kulit mulusnya. Dadanya mengembang dan mengempis seiring desah nafasnya yang begitu merdu untuk didengar.

Gadis Senju itu sedikit terlonjak ketika suara ketukan merusak suasana tentramnya.

"Hinata-sama. Tsunade-sama tengah menunggu anda di ruang makan."

"Baiklah. Aku akan segera kesana." Teriak Hinata. Gadis itu segera mengambil handuk dan pergi ke ruang makan.

.

.

.

"Sekolah?! Apa sekolah bisa di dimakan?" Sebuah pertanyaan bodoh keluar dari bibir Karin yang mungil. Bibir yang siap untuk Naruto hisap kapanpun dia mau.

Naruto menghela nafas. Sepertinya gadis di depannya ini masih harus beradaptasi dengan dunia ini. "Sekolah itu tempat orang untuk belajar? Kau bisa belajar banyak ilmu dan mendapat informasi jika kamu sekolah. Memangnya di under world tidak ada sekolah?" Jelas Naruto dengan panjang lebar.

"Tidak ada. Di under world hanya ada tempat pelatihan untuk berlatih teknik. Lalu, jika aku sekolah. Apa aku bisa belajar cara memuaskan Naruto-kun di atas ran-"

"Hei! Jangan mengatakan hal-hal mesum seperti itu lagi!" Ucap Naruto yang langsung menghentikan perkataan calon istrinya. Perkataan Karin selalu berujung dengan hal-hal yang vulgar dan membuat Naruto harus berfikir jernih untuk menghindari hal itu terjadi sebelum waktunya. Sebagai pria tulen, sebenarnya Naruto juga ingin melakukan hal-hal mesum kepada Karin. Bagaimana tidak, Naruto yang hanya bisa mengintip tubuh molek gadis-gadis dari balik jendela kamar ganti wanita dengan temannya yang bernama Kiba kini tengah mendapat rezeki nomplok. Tapi, Naruto harus ekstra bersabar jika ingin menyentuh tubuh Karin.

"Memangnya kenapa? Seharusnya kau senang memiliki calon istri sepertiku. Karena aku ini cantik, baik, dan sangat panas." Karin berucap sombong dengan sedikit menekan di akhir kalimat.

Naruto menambil ranselnya. "Aku ingin berangkat ke sekolah dulu. Tolong jaga ruma-"

"Aku ikut!" ucap Karin nyaris berteriak. "Aku ingin melihat sekolah."

Naruto memandang Karin ngeri. Apa katanya? Ikut? Bagaimana mungkin gadis berekor ini pergi kesekolah bersamanya. "Tidak boleh. Kau tidak mungkin bisa ikut jika ekormu terus melambai seperti itu. Semua orang akan takut jika melihatmu memiliki ekor." Kata Naruto tegas.

Wajah Karin cemberut tapi itu tak bertahan lama. "Apa kau lupa? Aku bisa menghilangkan ekorku seperti kemarin dengan sihirku." Ujar Karin yang masih ngotot dengan keinginannya.

"Tapi ini lain. Jika kau hanya menghilangkan ekormu. Teman-teman-ku akan membunuhku jika aku datang dengan gadis cantik seperti-mu."

Karin melayang. Cantik katanya? Naruto memanggilnya gadis cantik. Jika dia adalah astronot maka detik ini juga dia akan terbang ke lapisan atmosfer terujung lalu terjun bebas saat itu juga.

"Karin?! Hei!" Karin tersentak. "Kalau begitu. Aku akan merubah tubuhku ke bentuk rubah kecil dan bersembunyi di celana dalammu." kata Karin dengan senyum mesumnya.

Naruto yang mendengar perkataan Karin langsung shock. "Apa kau gila? Mana mungkin aku membiarkan itu terjadi. Kau boleh ikut, tapi kau harus diam di dalam tas, oke."

Karin memasang mimik wajah sedih. Berpura-pura sedikit sepertinya tidak apa-apa. Begitulah pikirnya. "Apa segitu bencinya kau padaku, Naruto-kun? Hingga membuatku mati karena kekurangan oksigen di dalam tas."

Dan usaha Karin sepertinya membuahkan hasil yang baik. Naruto yang terkenal dengan kebodohanya itu sekarang sudah tertipu dengan akting yang Karin perankan.

Naruto berdiri. Mengalihkan pandangan kesamping lalu melonggarkan benting hitamnya dan berujung dengan membuka celana dalamnya sedikit. Ada sedikit rasa malu yang ia rasakan. Itu terlihat jelas di pipi tannya yang memerah. Tapi Naruto langsung menepis semua rasa malunya. Toh, cepat atau lambat Karin akan menjadi -istrinya kelak di masa yang akan datang.

Karin pun berubah wujud menjadi rubah kecil berwarna merah yang hanya berukuran sebesar genggaman tangan anak kecil dan segera memasuki celana dalam Naruto dengan seringaian mesum di wajah rubahnya.

Naruto pun berangkat sekolah dengan perasaan yang bercampur-aduk. 'Keperjakaan ku tengah terancam.' Naruto berteriak dalam hati dengan bercucuran air mata.

.

.

.

Di perjalanan menuju sekolah

Naruto POV

Baka! Baka! Baka! Seharusnya aku menolak permintaan gadis siluman itu dan meninggalkanya di rumah. Tapi kenapa jadi begini. Ini terlalu vulgar untuk ku. Ini tidak seperti yang aku bayangkan selama ini.

Sebenarnya aku juga sedikit menikmati perlakuan mesum Karin selama ini. Tapi itu terlalu berlebihan untuk ku. Dan tubuhku tak akan mampu menahan gejolak gairah yang aku pendam.

A-Ahh... Rubah bodoh. Apa yang kau lakukan ughh... Aku harus cepat ke sekolah dan mengeluarkan Rubah mesum itu dari celanaku.

"Hei, Naruto! Tunggu!" Ah, Tidak! itu pasti suara Kiba. Aku bergidik ngeri ketika melihat apa yang dibawa bocah pencinta anjing itu. Sebuah buku porno yang aku pesan satu minggu lalu. Mati aku, bisa gawat kalau Karin melihat buku laknat itu.

END Naruto POV

"Naruto, Ini buku yang kau pesan. Kau tau? Ini buku yang sangat hebat. Tadi malam aku sudah membacanya hahaha..." Kiba tertawa laknat dan wajah Naruto memucat. "Kau akan terbang ketika melihat isinya. Banyak sekali wanita cantik bertubuh seksi yang bisa membuatmu horny dan berakhir di kamar mandi. Loh, Kenapa wajahmu merah? Wah... Aku tahu! Pasti karena melihat covermajalah ini kan HAHA... Baru melihat sampul saja sudah seperti itu. Apa lagi melihat isinya." Ujar Kiba dengan membanggakan majalah laknat yang ia bawa.

"Ahh... K-Kiba! U-Uhhm... Aku ambil ini. Uangnya akan aku berikan di kelas. Uhh... Aku duluan. Aku sudah tidak tahannnnn!" Teriak Naruto yang berlari sambil menutupi bagian depan celananya.

Kiba terbengong melihat Naruto berlari tunggangang-langgang. Dan beberapa saat kemudian bocah anjing itu pun sadar dan ikut mengejar Naruto. "NARUTO-BAKA! JANGAN KABUR KAU."

.

.

.

Naruto berlari sekuat tenaga menuju toilet pria yang berada di dekat kelasnya. Tak memperdulikan Kiba yang berlari mengikuti di belakangnya. Siswa dan siswi yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat dua cowok termesum disekolah tengah bermain kejar kejaran.

Setelah sampai di toilet. Naruto langsung masuk ke pintu paling pojok dan menguncinya.

Dok... Dok... Dok...

Pintu diketuk dengan kasar dari luar. "Naruto! Keluar dan bayar sekarang juga, Baka!" Narutodapat mendengar suara Kiba dari arah luar.

Naruto menghela nafas dan membuka benting dan celananya, lalu dilanjutkan dengan membuka celana dalamnya.

Naruto cengo ketika melihat rubah kecil itu sedang melakukan tindakan mesum kepada alat kelaminnya yang sudah tegang. Naruto mengeluarkan Karin dari surganya dan itu membuat rubah betinanya merajuk lucu.

Karin berubah kembali ke wujud manusianya. Dan tentunya tampa mengenakan sehelai benang pun. Naruto menelan ludahnya ketika tangan mungil Karin menyentuh permukaan kemaluannya dan menjilati lehernya dengan penuh nafsu.

"Ukh... Apa yang kau lakukan, bodoh! Ini di sekolah." Bentak Naruto kepada Karin dan menghentikan perlakuan Karin pada tubuhnya.

"Kau sedang bicara dengan siapa, Naruto-baka?!" Naruto tersentak kaget. Ia sempat tidak mengingat keberadaan Kiba.

Naruto mendekatkan mulutnya ke telinga Karin dan berbisik, "Kau harus pulang dengan sihirmu. Aku tidak bisa kalau terus begini. Jika kau menuruti permintaan ku, aku akan menututi permintaanmu juga." Ujar Naruto.

Mata Karin langsung berbinar. "Benarkah? Kamu tidak bohong kan, Naru?!" Naruto mengangguk ragu. "Kau begitu. Aku ingin... cium bibirku dan gigit leherku."

Kening Naruto berkerut heran mendengar permintaan sang calon istri. Dia mengira kalau permintaan yang Karin inginkan adalah melakukan sex dengannya dan mempraktekan isi dari buku yang ku pesan dari Kiba. Tapi bukannya sex, Karin malah meminta sebuah ciuman dan gigitan di lehernya. Kalau permintaannya hanya ciuman dan gigitan Naruto pasti bisa melakukannya dengan mudah. Toh, apa susahnya sih mencium dan menggigit. Naruto bahkan pernah mencium seorang gadis. Tapi, entah kapan, dimana, dan siapa yang Naruto cium itu. Tapi Naruto yakin kalau gadis yang Naruto cium dulu adalah cinta pertamanya.

Naruto maju dan mencium bibir Karin dengan penuh kelembutan dan dibalas dengan lumatan oleh sang gadis. Tangan kekar Naruto melingkar di pinggang Karin. Memeluknya dengan sangat erat.

Tok... Tok... Tok...

"Naruto, cepat keluar! Sebentar lagi bel masuk akan merbunyi." seru Kiba yang tidak sabar.

Naruto menyudahi ciuman panasnya bersama Karin. Menatap mata Karin yang sayu, lalu pandangannya beralih ke leher jenjang Karin dan mengigit leher itu berkali-kali yang membuat leher itu ditumbuhi oleh bercah kemerahan.

Karin tersenyum lalu menghilang menggunakan sihirnya menuju kediaman Naruto.

Naruto termenung. Ia hampir kehilangan kesadarannya ketika menggigit leher Karin. Ada sesuatu aneh yang mengalir di tubuhnya ketika dia menggigit leher mulus itu. Tapi Naruto langsung menepisnya dan menemui Kiba yang menunggunya sedari tadi.

"Kau lama sekali, Naruto-baka." Kiba menengok ke dalam toilet yang digunakan Naruto tadi. "Tadi kau bicara dengan siapa? Kok di dalam tidak ada orang. Oh, aku juga mendengar suara desahan, mungkinkah kau...?" Kiba menunjuk-nunjuk muka Naruto dengan tampang curiga.

"Aku tidak mungkin melakukanya di sekolah, bodoh! Lagi pula... Ah, sudahlah. Ini uangnya, kembalianya ambil saja. Ayo kita ke kelas, aku akan mentraktirmu makan ramen hari ini!" Naruto berseru dengan penuh semangat.

"Kembalian dengkulmu. Uangnya kurang, Baka! NARUTO NO BAKA!" Teriak Kiba yang mengejar sang buronan.

.

.

.

Matematika. Sebuah kosa kata yang sangat ditakuti oleh sebagian besar siswa di seluruh penjuru bumi. Padahal matematika hanyalah suatu bidang study yang kaitannya tak jauh dari yang namanya angka.

Naruto menjambak surai kuningnya dan mengacak-acaknya secara membabi buta. Mata biru kembanggannya terlihat gelap. Bisa dikatakan kalau hidup bocah kuning itu sudah mendekati ajalnya.

Ditatapnya soal-soal pemberian senseinya dengan penuh penderitaan. Bagaimana tidak. Dari sepuluh soal yang diberikan, Naruto hanya mampu melelihatnya saja tampa bisa menjawab satu soal pun.

Naruto memandang Kakashi dengan pandangan mematikannya, lalu menyeringai jahat. 'Dasar guru mesum. Beraninya dia membuat soal yang susahnya minta ampun ini. Aku akan pastikan kalau..."

"Naruto! Kenapa melihatku- Ah, tidak. Kau melihat novel yang akuu baca ini kan. Oh, kau sungguh muridku yang paling mesum, Naruto!" Naruto meneguk ludahnya paksa. Sepertinya sensei mesum itu bisa membaca pikiran orang lain.

"Aku akan pergi ke kantor sebentar. Jangan menyontek dan jangan membagikan contekan. Kalau ada salah satu dari kalian yang melanggar. Akan aku berikan hukuman." Ujar Kakashi dengan wajah datarnya yang membuat seluruh murid yang ada di kelas tersebut terdiam ketakutan.

Naruto yang mendengar perkataan Kakashi langsung mati kutu di tempat. Tapi secercah harapan datang ketika gadis yang ia selamatkan kemarin menawarkan jawaban kepadanya.

"Ini, Naruto-kun! Ini adalah ucapan terima kasihku karena telah mengantarkanku sampai ke rumah waktu aku pingsan." Sebuah kalimat indah yang terdengar merdu bagi orang seperti Naruto. Dan itu membuat seluruh mata di kelas tersebut menatap ke arahnya.

"Hinata-chan. Apa yang kau lakukan? Kau bisa di hukum kalau memberikan jawabanmu kepadanya." Ucapan kawatir terdengar jelas dari gadis berambut kuning ponytail yang duduk di sampingnya.

"T-Tidak apa-ap-" Gadis yang dipanggil Hinata itu hendak berkata, tapi perkataannya dipotong oleh perkataan Naruto duluan.

"Benar yang dikatakan Ino. Kalau kau tidak mau di hukum sebaiknya jangan memaksakan diri untuk membantu orang sepertiku. Soal yang kemarin, aku iklas kok mengantarkanmu sampai rumah. Jadi jangan memaksakan diri untuk membalas budi. Aku bisa mengerjakannya sendiri kok hehehe" Ujar Naruto dengan tawa garingnya yang membuat Hinata kawatir.

Brakkk

Kakashi datang dengan sedikit gebrakan di pintu kelas. Semua terdiam, "Naruto Uzumaki, Hinata Senju. Ikut aku keruanganku. Sekarang!" Kakashi berbalik dan melangkah ke ruangnya dengan di ikuti Hinata dan Naruto yang melangkah dengan gontai di belakangnya.

TBC

Q/A

mk2x26

pasti bakalan ada lemonnya,ya kan? Mungkin

kyoigneel

senpai, buat harem ya senpai? Akan saya usahakan. Tapi mungkin Hanya ada dua atau tiga istri untuk Naruto.

EdraPrimaa

Lanjut ero-author...

Ada lime/lemon nya kan? Mungkin.

alvinnvz

weh harem kah ini ? Of Course

Spesial Thanks

Lady Bloodie, firdaus minato, AripRif'an368, barackk, NamikazeLee, adityasriwijaya, Hyuuhi Ga Ara, Antoni Yamada, Naru san, Aizen L sousuke, NaHiLove, takiyatamao200, Neko Twins Kagamine, adityapratama081131, kurama no yokay, , alvinnvz, NoName, EdraPrimaa, galigongli88, kyoigneel, danielkeanumadegani, rohimbae88, , moham09, mikaze9930, uzuuchi007, , Awim Saluja, mk2x26, Noor-sama

A/N

Mungkin ini yang bisa saya tulis dalam minggu ini. Soal fict multichapterku yang lain. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena saya sedang tidak ada ide untuk melanjutkan fict tersebut.

Saya mau meminta saran kepada reader sekalian tertang sihir-sihir yang dapat digunakan dalam fict ini.

Contoh: Sihir perubahan, Sihir teleportasi, dll. (Jutsu ninja juga boleh)

Tolong berikan usulannya.

Review Please

see you next chapter :D