Lembaran bernama Chapter dua siap lepas landas.

Pertama, saya harus jujur. Cerita ini original hasil dari olah pikir antara imajinasi, angan dan kekaguman saya dari pencitraan masing - masing Charakter Vocaloid (khususnya 5 chara utama) yang saya gunakan.

Dan kejujuran lainnya adalah, cerita ini kurang seperempat lagi telah selesai di tulis dari beberapa masa yang lalu, dan yang seperempat belum ketulis itu hanyalah bagian ENDING nya saja. sampai sekarang saya bingung endingnya mau di"ujungin" atau hanya di"akhirin" saja.

Yang harus saya tekankan disini adalah, permintaan maaf yang sedalam - dalamnya jika alurnya terlalu lambat (mungkin ada beberapa yang berpikiran seperti itu) atau mungkin terlalu cepat (kadang saya bosan mendiskripsikan hal - hal yang terlalu gampang dibayangkan). Terus mungkin, saya kurang detail menjelaskan hal - hal berhubungan dengan istilah, kata kunci, pekerjaan atau apapun itu.

Penjelasan untuk nama keluarga Yuuma, saya sudah menggunakan nama Yuto. Jika salah satu atau dua addict-nya kurang berkenan, maafkanlah saya. Kejujuran lainnya, saya tidak begitu punya waktu banyak untuk mempelajari sejarah maupun asal usul Vocaloid atau antek - anteknya yang sejenis. Sepenuhnya, gambar - gambar di G**gle lah yang lah temembimbing saya membentuk satu sifat dari setiap Character. Jelas karena Vocaloid, Crypton Fututer Media, bahkan Yamaha itu bukan milik saya.

Cerita ini mengandung unsur dewasa, bukan karena mengandung banyak adegan M, melainkan banyak hal - hal tabu yang gak cocok untuk mereka yang belum berpikiran dewasa. Jika kata orang cinta butuh logika, maka anak kecil juga bisa jatuh cinta. Cerita saya ini gak ada hubungan darah sama cinta yang punya logika, karena anak kecil gak boleh baca. itu menurut saya. - oke. bagian yang ini abaikan saja. Karena hari ini saya terlalu fokus sama wi-fi gratisan, jadi saya agak salting.


Tears of My Pain

Orang baik adalah mereka yang tidak melakukan kejahatan. Dan tidak melakukan kejahatan belum tentu orang baik.

~Paras~

Pagi itu Yuuma terlihat begitu panik. Dia tidak tau dosa sebesar apa yang harus dia tanggung jika tanpa sengaja memergoki seorang wanita yang sedang melepas pakaiannya. Dan perasaan bersalah itu yang tanpa sengaja menghantuinya. Dan dari pada dia dipergoki mengintip seorang wanita, lalu digebuki beramai – ramai oleh seluruh karyawan. Yuuma lebih memilih untuk segera lari dari sana. Dan tampaknya sang wanita tau sesuatu yang terjadi pada dirinya.

Meskipun begitu, disinilah Yuuma sekarang, telah dihadapkan pada seorang wanita berparas cantik menawan. Hatsune Miku, sang korban pengintipan oleh dirinya. Sebenarnya ada perasaan pembelaan yang besar dalam benak Yuuma, lagian siapa suruh gadis itu harus berganti pakaian dalam ruangan kantor. Yuuma mana tau. Dan untuk itu, Yuuma setidaknya ingin menyelamatkan dirinya dari ancaman tuduhan kriminal itu secepat mungkin.

Miku mengamati pria itu dengan teliti, pakaiannya yang acak dan berantakan sepertinya tidak terlalu mengurangi ketampanannya. Miku itu seorang gadis yang lumayan bisa menghargai ketampanan seorang pria, namun tampaknya pesona saja belum terlalu cukup meluluhkan hatinya untuk segera mengampuni pemuda itu.

"melihat penampilanmu, apa urusanmu di tempat ini?" Miku masih memasang tampang seramnya. Dan Yuuma cukup bergidik memandangnya. Yuuma mana bisa bilang jika dia sedang dibayar oleh ayahnya untuk mengetahui perkembangan tentang penawaran pekerjaan atas nama Shion Kaito disana. Dan memilih menyamar sebagai seorang kuli pengangkut yang sebenarnya sedang tidak mengangkut apapun sejak tiba tadi pagi. Dia hanya berkeliaran.

"hmm.., begini. Aku dimintai seseorang untuk mengurusi beberapa barang di gudang, dan.." ucapannya terhenti saat Miku memilih untuk duduk di atas meja kerjanya.

"lalu, kenapa kau bisa tersesat di dalam gedung utama?" Miku masih memandangnya serius.

"maafkan aku nona, aku tadi ingin mencari seseorang yang memperkerjakanku, dan ahirnya aku tersesat di.." ucapnya penuh dusta, mata Yuuma mengikuti kemana Miku bergerak. Setidaknya didalam hati Yuuma puas menganggumi betapa cantik dan moleknya tubuh gadis itu ternyata. Rasanya ada sedikit penyesalan dalam batinnya untuk tidak melanjutkan kesalahannya pagi tadi akan gadis itu. "pergilah.." Miku sudah berpindah tempat duduk, kini dia bennar – benar sudah duduk di kursi kerjanya, sambil memerintah Yuuma untuk keluar, gadis itu pun memandangi beberapa dokumen yang harus diperiksanya. "lupakan saja masalah tadi" sambungnya tanpa memandang pemuda itu, dan tanpa hitungan waktu lagi, Yuuma sudah menghilang dibalik pintu ruangan itu.

-][-

Len menarik nafasnya panjang. Untuk kesekian kalinya dia harus mencoba. Jika tidak berhasil juga, rasanya dia ingin sekali mengakhiri hidupnya. Setelah menyantap habis makanannya, Len meraih tasnya dan sesegera mungkin meninggalkan rumahnya, mengabaikan Meiko sang kakak yang sejak tadi merasakan aura aneh dalam dirinya.

Bukan Len namanya jika menyerah secepat itu, baru ini rasanya dia begitu tertarik dengan perjuangan cinta. Karena baru ini dia begitu sungguh – sungguh mencintai seseorang. Dan untuk kali ini juga dia tidak ingin main - main akan keputusannya. Jadi disini lah Len sudah berdiri, didepan seorang wanita yang begitu amat dicintainya. Megurine Luka.

"untuk yang kesekian kalinya" ucap Len menatap Luka sungguh – sungguh disalah satu lorong rumah sakit. Bagaimana tidak Len begitu tergila – gila padanya. Wanita itu memang cantik luar biasa, bagaikan seorang malaikat yang dikarunia sinar yang begitu berkilauan, Len pun begitu terpesona karenanya.

"aku itu benar – benar menyukaimu. Beri aku kesempatan, aku benar – benar serius telah jatuh cinta padamu" ucapnya lantang, tidak peduli betapa banyak pasang mata yang memandang mereka. Di rumahsakit itu.

"Luka-sensei beruntung ya, rasanya pemuda itu sangat mencintainya"

"kau benar, apalagi dia begitu tampan"

"tapi aku rasa Luka-sensei tidak akan menerimanya"

"kau serius?"

"ya, seingatku Luka-sensei itu terlalu tertutup dengan kehadiran pria lain sejak suaminya meninggal dunia tahun lalu"

Len terdiam sejenak, suara itu terlalu jelas terdengar olehnya. Dan Luka membiarkan pemuda itu memikirkan apa yang selanjutnya ingin dia pastikan, dia tidak terlalu perduli. Tidak terlalu jauh dari pandangannya, Luka melihat kumpulan perawat itu bergerak menarik diri dari jaungkauan pandangannya. Mereka seakan ketakutan.

"kalau begitu biarkan aku yang menjadi suamimu selanjutnya" ucap Len tanpa beban atau bisa dibilang terdengar tanpa akal sehat sedikitpun. Kini giliran Luka yang terperangah. "karena aku begitu mencintaimu, Luka-san" ucapnya mantap. Luka tidak habis pikir bagaimana gigihnya pemuda itu mendekatinya, sejak Len menjadi pasiennya beberapa waktu lalu, kini Len benar – benar jadi telah tergila – gila padanya.

"aku tidak suka berurusan dengan anak – anak sepertimu, jadi sebelum aku berubah pikiran untuk beralih membencimu, sebaiknya kau segera menjauh dari pandanganku" Luka tidak peduli, dia lelah jika dilibatkan dengan masalah perasaan, persetan dengan cinta. Untuk saat ini dia tidak begitu peduli apa itu cinta, cinta dengan jenis yang bagaimana yang bisa membuatnya terasa bahagia, dua cinta yang dilaluinya tidak membawah perasaan bahagia pada akhirnya, dan untuk itu Luka serasa memiliki alasan untuk lebih cepat menyerah. Dan Len mencoba berpikir keras, pokoknya dia sudah begitu mencintai dokter muda itu.

"kalau tidak ada yang ingin disampaikan lagi, bisakah kau membiarkan aku pergi Kagamine-san?" sayangnya perasaan Luka sudah telalu beku untuk dicairkan. Tidak ada lagi kata yang bisa menghentikan langkah wanita itu untuk pergi. Dan ditempatnya, Len bagai kehilangan kekuatan untuk berdiri. Jika cinta memang begitu bisa menyiksanya, dia benar – benar berniat untuk tetap mempertahankannya. Dan Len bukanlah tipe pria yang mudah menyerah begitu saja.

"aku pikir kau menolakku karena aku masih terlalu muda untukmu" langkah Luka terhenti.

"tapi sepertinya aku sadar, alasanmu menolakku mungkin karna kau masih tidak bisa melupakan suamimu, ya kan?" pemuda itu mencoba untuk tersenyum tegar walau dia tidak begitu tau fakta tentang suami Luka. Namun Luka tertarik untuk memandang bagaimana raut wajah pria itu saat mengatakannya. Lalu disanalah dia menemukan wajah itu, dengan uraian airmata yang tanpa malu telah terjun bebas menyusuri pipinya.

"seharusnya aku bersyukur kan?" Len terisak sambil mengusap airmatanya. "ternyata kau bukannya tidak memiliki perasaan cinta dalam hidupmu. Itu karena kau memang sudah mencintai seseorang dan mencoba untuk setia pada keputusanmu" lanjut pria itu terdengar lemah. Kilasan wajah lugu pria itu mengingatkan Luka pada sosok yang lain dalam hidupnya. Sebuah paras yang sama, penuh penderitaan karena begitu mencintai seseorang, sama persis dengan wajah Kaito yang pernah mengemis cinta padanya.

"Len..." ucapan Luka terdengar bergetar, sekuat tenaga dia menahan perasaannya agar tidak ikut terlarut dalam keadaan. Dan Len memandang wajah cantik yang baru saja menyebut namanya.

"apa kau bisa memberiku kesempatan"

Len terperangah, matanya bagai terbelalak begitu besar, apalagi saat mendapati Luka dengan sebuah senyuman tipis namun begitu indah memandang dirinya. Dan dengan setitik airmata yang entah sejak kapan sudah menghiasi pipinya.

"Luka-san..." ucap Len hampir tak terdengar.

"aku ingin mencobanya" Luka memutuskan untuk kembali mencoba.

Alangkah senangnya wajah pemuda itu disana, senyumnya mengembang bercampur airmata, dia lupa bagaimana caranya untuk tertawa menunjukkan kebahagiaannya, namun senyum itu cukup mampu mewakili sedalam mana rasa syukurnya.

"aku akan memberikanmu kesempatan paling berharga Luka-chan" ucap Len dengan senyum bahagia yang tak bisa terungkapkan dari wajahnya.

-][-

Meiko memang wanita yang cukup peka pada kejadian sekitarnya. Menyadari ada perubahan pada Len, adiknya. Membuatnya harus berpikir sedikit lebih banyak untuk memahami satu hal. Yaitu, ada seseorang yang mencoba untuk mengubahnya. Atau bisa jadi, Len berubah karena seseorang itu, mana yang benar tidaklah menjadi masalah. Karena Meiko cukup senang jika Len berubah menjadi lebih dewasa dari biasanya.

Seperti pada hari ini, Meiko kembali mendapati Len dengan kegiatan belajar didalam kamarnya. Minggu – minggu terakhir ini, pemandangan seperti itu tidaklah menjadi pemandangan yang aneh lagi. Meiko memandang penanda waktu di dinding kamar itu. Sudah pukul sebelas malam dan Len masih asyik membolak – balik setiap lembar buku yang dipelajarinya.

"apa kau butuh segelas susu untuk menenangkan pikiranmu" Meiko menyentuh bahu adiknya itu, dan Len hanya memandangnya dengan perasaan biasanya.

"oh, kau sudah pulang Nee-chan," ucapnya dengan pandangan kembali teralih kebuku – bukunya. Sebuah senyum yang tak terlihat bersarang diwajah Meiko, "ya, tuntutan pekerjaan. Apa ada ujian yang begitu berat hingga kau jadi merubah hobbimu menjadi suka membaca seperti ini?" ucap Meiko mengambil posisi duduk ditepi ranjang Len dan memandanginya.

"tidak, aku hanya ingin orang – orang tak lagi meremehkanku. Akan kubuktikan pada mereka bahwa kau tidak salah mengangkatku sebagai adikmu" senyum Len mengembang. Dan Meiko hanya terdiam walau kemudian ada senyum tipis diwajahnya.

-][-

Yuuma tertawa renyah untuk sesaat. Gurauan teman – temannya memaksanya untuk mengocok perutnya sendiri. Seakan dia sudah melupakan serpihan kisah tentang hilangnya pujaan hatinya beberapa saat lalu. Untuk sesaat dia memang tidak lagi memperdulikannya. Namun kejujuran lebih suka menuntut perasaannya untuk mengakui jika dia masih begitu merasa kehilangan.

"jadi Yuuma-kun, apa kau akan ikut nanti?" suara itu membawanya kembali kedalam realita kehidupannya. Tidak ada lagi waktu untuk menyesali kisah cinta baginya.

Malam itu, Yuuma diundang teman – temannya dalam sebuah pesta kecil ala pria. Tentu saja tidak jauh dengan alkohol, gurauan kotor, dan juga wanita. Saat ini saja, Yuuma sudah dikelilingi wanita – wanita yang hampir bugil yang dari tadi sudah merabah – rabah tubuhnya.

Sebagai putra dari salah satu pengusaha paling bergengsi, Yuuma sudah teramat diberkahi dengan kekayaan yang melimpah. Belum lagi jika mengetahui bahwa ibunya ternyata salah satu aktris kawakan dengan kepopuleran masih tak mampu tertandingi, dan harta melimpah dimana – mana. Wajah Yuuma yang tampan mewarisi kecantikan dari paras indah ibunya, dan sikapnya yang seenaknya mewarisi kenakalan ayahnya dimasa muda. Tidak bisa dipungkiri, Yuuma bertumbuh dengan limpahan harta yang luar biasa mewah, kebebasan memilih sudah dari dulu dia dapatkan dari orang tuanya. Pergaulannya juga tidaklah terbatas, dia bisa meraih apapun yang tangannya mampu genggam, termasuk wanita. Meskipun begitu, bukan berarti Yuuma adalah tipe pria pengumbar janji dan mempermainkan wanita. Dia itu cukup setia jika sudah mencintai seseorang. Dalam sejarah percintaannya, Yuuma lah yang paling sering disakiti. Saat dia sudah memiliki tambatan hati, Yuuma pasti akan bertanggung jawab, walau bukan sedikit wanita yang ingin memilikinya saat itu, tapi ya itulah Yuuma, cintanya bukannlah barang dengan obralan harga murah. Namun kini kandasnya cinta kisahnya beberapa waktu lalu telah membuatnya sedikit berubah, hanya sedikit. Dia seakan ingin menunjukkan pada dunia khususnya wanita, bahwa dia juga bisa menyakiti mereka.

"baiklah, sediakan setidaknya beberapa wanita untuk kutiduri malam ini ya" ucap Yuuma menepuk bahu temannya. Mereka tertawa terbahak – bahak saat itu juga, saatnya pesta seks untuk para anak pewaris kaya raya sepertinya. Namun sebelum Yuuma beranjak dari tempatnya, ponselnya tiba – tiba berdering disana. Memberi isyarat kode pada temannya untuk membiarkannya menjawab telpon terlebih dahulu, Yuuma pun memilih untuk melangkah menuju toilet, paling tidak disana tempat yang paling tenang untuk berbicara.

"ya," singkat kata dari Yuuma disana. Lalu, setelah mendengar beberapa kalimat dari balik ponselnya, Yuuma langsung bergerak cepat menuju teman – temannya.

"guys, aku tidak bisa ikut hari ini. Ayahku mengalami sedikit masalah dirumah. Lain kali saja ya" ucapnya sambil menyambar jas hitam miliknya yang terletak ditempatnya duduk tadi.

"loh, kenapa Yuuma? Padahal gadis – gadisnya sebentar lagi akan datang" mereka memaksa.

"maaf, lain kali saja" Yuuma sudah menjauh dari mereka.

Sesampai dirumahnya. Yuuma memarkirkan sembarang mobil mewahnya. Tidak ada waktu baginya untuk berpikir memarkirkan mobil itu ditempat yang seharusnya. Bagi Yuuma, ayahnya adalah orang yang begitu sangat dihormatinya. Bagi kebanyakan orang – orang dengan kehidupan super kaya sepertinya mungkin akan memiliki seorang ayah yang memaksakan kehendak mereka pada anak mereka satu – satunya kan? Namun Yuuma merasa beruntung jika ayahnya selalu memberikannya kepercayaan sebagai seorang anak padanya, bukan sebagai seorang penerus. Untuk itu, walau Yuuma bukan orang yang bisa dibanggakan, Yuuma merasa bersyukur diberi kedua orang tua yang begitu sempurna untuknya.

"mana ayah?" Yuuma mendapati seorang pelayan yang menerima kunci mobilnya, berdiri menyambutnya didepan pintu masuk. Dan dengan petunjuk yang diberikan pelayan tadi, kini Yuuma sudah berdiri didepan ruang kamar ayahnya.

"beliau masih diperiksa dokter tuan, tunggu saja sampai dokternya keluar" pelayan itu menghentikan langkah Yuuma, dan untungnya Yuuma menurut.

"lalu, ibu sudah dikabari?" Yuuma mengingat ibunya.

"ya, namun beliau tidak bisa tiba secepat mungkin. Mungkin dia akan meminta penjelasan dari tuan muda setelah dokter memastikan keadaan tuan besar" ucap pelayan itu bijak.

Yuuma mengagguk mengerti, dan tidak lama pintu kamar itu pun terbuka. Disana, seketika Yuuma terdiam tak berarti.

"apa bisa aku bicara dengan keluarganya?" Luka memandangi Yuuma dan pelayan itu bergantian. Sekali lagi Yuuma hanya diam tak merespon.

Kenyataan bahwa Yuuma adalah keluarga dari ayahnyalah yang mutlak telah mengantarnya kedalam kenyataan. Dan didalam ruangan itu mereka sudah berhadapan sejak dua menit lalu. Yuuma tidak habis – habisnya menatapi gadis cantik yang berdiri dihadapannya. Rasa tak percaya membuatnya harus berpikir keras dua kali. Apa ini sebuah kebetulan?

"jadi, Yuto-san. Keadaan ayah anda sebenarnya tidak apa – apa. Yang dapat saya simpulkan hanyalah, ayah anda mengalami masalah dilambungnya. Dia hanya akan mengalami mual untuk beberapa hari, tapi itu bukanlah sesuatu yang buruk bagi kesehatannya. Asal bisa memperhatikan pola makannya, dalam beberapa hari saja beliau sudah bisa sembuh" Luka memberikan secarik kertas pada Yuuma. "itu beberapa obat yang bisa mengembalikan ketahanan tubuhnya, jadi tidak usah khawatir" ucap Luka menutup perjumpaan mereka.

Luka menyadari keanehan dari cara Yuuma memandang kearahnya. Namun Luka tidak terlalu suka membiarkan pikirannya berlarut – larut dengan hal yang kurang penting baginya. Untuk itu, walau tanpa jawaban sekalipun, Luka sudah memutuskan untuk meninggalkan ruang itu bersama dengan pemiliknya. Dan Yuuma sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Pikirannya mulai mengacaui benaknya.

-][-

Pagi itu Yuuma benar – benar terlihat sibuk dengan urusannya. Dia sibuk mencari sesuatu yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih, bahkan sejak malam tadi. Dia mulai ingat tentang Luka, salah satu temannya pernah mengirim gambar diri Luka padanya, dengan keterangan jika pujaan hatinya dulu dekat dengan seorang pria, dan pria itu kini dekat dengan Luka. Sekedar ingin memastikan tentang kebenaran intuisinya, Yuuma sudah mengacau dikamarnya sendiri.

"Piko.." suara itu terdengar jelas dengan campuran kecemasan didalamnya.

"ya, ada apa?" seseorang diujung sana terdengar penasaran dari nada yang keluar dari ponsel Yuuma.

"kau ingat dengan gadis cantik berambut merah muda yang pernah kau beritaukan itu padaku kan?" Yuuma langsung tembak kesasaran. Piko berusaha mengingat sesuatu, dan dia mulai menemukan titik terang di otaknya.

"ya, kenapa?" ucap Piko penuh tanya.

"bisa kau jelaskan lagi tentang dia, dan pria brengsek yang sudah merebut Yukari dari ku dulu?" paksa Yuuma tidak sabaran.

Piko dan Yuuma sudah duduk berhadapan. Piko adalah seorang teman Yuuma yang cukup bisa dihandalkan, berbeda dari Yuuma, Piko hanyalah pemuda sederhana yang sangat hobi dengan hal – hal berbau musik. Dan ini juga yang menyatukan mereka, karena Yuuma juga menyukai hal serupa musik.

"jadi siapa dia?" Yuuma masih tidak bisa menyembunyikan ekspresi penasarannya. Tau sikap Yuuma yang memang seperti itu, Piko hanya memakluminya dengan senyuman dan membiarkan Yuuma melihat beberapa gambar yang di keluarkannya di balik monitor ponselnya.

"aku pikir dulu kau tidak terlalu ingin mengurusi tentang mereka, tapi ternyata niatanmu untuk balas dendam masih ada ya?" ucap Piko menyimpulkan. Yuuma hanya diam, dia memperhatikan tiga gambar itu dengan teliti. Pemuda yang ada disana memang benar – benar sosok pria yang dulu pernah menggenggam tangan Yukari, kekasihnya. Walaupun dia hanya melihat sekilas. Dan Yukari sendiri memang pernah membenarkan jika pria itu telah merebut rasa cintanya.

Disalah satu foto, Len terlihat sedang tertawa dengan jarak yang cukup jauh dari Luka, di foto yang kedua, terlihat Luka sedang mengusap kepala Len, dan di foto yang ketiga, hanya Luka sendiri yang menjadi objek gambaran.

"aku menemukan foto itu dirumah sakit beberapa waktu lalu. Setelah pria itu harus di bawah kerumasakit karena pertengakaran kalian berdua" jelas Piko.

"jadi menurutmu gadis ini adalah pacar si brengsek itu sekarang?" ucap Yuuma menahan geram. Piko hanya mengangguk ragu, namun selebihnya dia tak bisa lagi menyimpulkan.

"aku tidak tau, tapi mereka cukup dekat kan?, lagian si playboy itu mungkin benar – benar menyukai dokter muda itu" ucap Piko menatap Yuuma. "memangnya ada apa?" lanjutnya.

Yuuma tidak merespon. Dia harus berterimakasih pada Piko untuk segala hal yang dia tau hari ini. Walau mungkin ini hanya sebuah kebetulan, tapi rasanya Yuuma ingin bermain sebentar kali ini. Dan dia telah menyusun peraturan permainan yang sudah di rencanakannya.

Tbc~

New Chapter~ Chapter 3

- Sepelintir kisah masalalu Luka dan penyebab keretakan rumahtangganya, Toukai meninggal, Kaito pembunuhnya (?)

- Kencan pertama Luka dan Len, Kaito direkrut kembali, Gakupo berhasil (?)

- Luka dan Miku punya hubungan terlarang, tinggal seatap (?) apa yang sebenarnya tertulis ?

- Yuuma di chapter selanjutnya kayaknya gak nongol, dia harus bayar utang nemani tidur salah satu managernya karena di chapter ini dia nongolnya berlebihan. Ini resikonya jadi artis tenar.


hi~ saya Zoe. Terimakasih untuk waktunya.

Sejauh saya meng-update chapter dua ini. saya mau berterimakasih kepada Mell Hinaga Kuran dan si ehem atas riviewnya.

karena ceritanya sudah lama jadi, so saya bakal update tiap minggu.

Terimakasih Riview-nya yaaa~~~ :D