untuk alasan penyelamatan mood, saya harus up Chapter ini sesegera mungkin.

Kepuasan seorang penulis yang terpenting adalah, bisa menyelesaikan misi yang dia emban sampai tahap akhir. Tidak peduli apa orang mau menghargainya atau tidak.

Jika kalian ingin menotif saya karena masalah penindasan character / pairing. Saya sangat terima.

Untuk yang sudah review, Follow maupun Fav, terimakasih.

Alasan untuk Rating M ... karena saya tidak ingin mereka yang masih disebut bocah membacanya, tidak ada alasan lain. Karena saya bukan penulis dongeng.


Tears of My Pain

Manusia tetaplah menjadi manusia dimanapun mereka berada. Mawar tetaplah mawar walau air dan tanah yang diberikan padanya berbeda. Tidak akan ada yang bisa merubahnya.

~Rupa~

Kaito menarik tubuhnya. Sinar matahari pagi memonopoli kesendiriannya. Kali ini lagi – lagi dia hanya meratapi paginya. Semua kehidupannya sudah sepenuhnya berubah. Bahkan cintanya pada sang terkasih pun tak lagi dapat menuntunnya hidup lebih bergairah.

Kaito ingat bagaimana penolakan Luka pada malam itu pada dirinya. Walau sekeras apapun dirinya mencumbui wanita itu, tapi tetap saja rasanya Luka begitu jauh dari dekapannya. Luka memang membalas setiap kecupan yang dia berikan, tapi Luka tetap menolak untuk memberikan sedikit kepuasan dari apa yang dia harapkan. Selalu seperti itu, tidak pernah berubah.

"kau ingat, karena sifatmu inilah aku dan Toukai berpisah" ucapan itu seperti memberi tamparan keras bagi Kaito. Bayangan – bayangan masalalu pun kini kembali medominasi otaknya.

-][-

Sebelum Toukai mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya, pria itu memergoki dirinya-Kaito sedang memaksa istrinya untuk melayani nafsu bejatnya. Setidaknya itu lah yang Toukai simpulkan. Kaito tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin bukan lagi bagian dari kesempatannya. Luka menjerit, memaksanya untuk pergi, namun Kaito tidak peduli.

"lihat seberapa besar kepedihan yang Toukai tuang dalam hidupmu Luka!" Kaito untuk pertama kalinya meneriaki wanita yang dicintainya. Untuk pertama kalinya.

"Aku tau! Aku tau! Lalu kau mau apa? Apa kau bisa memberikanku kebahagiaan yang aku inginkan?" Luka balas meneriaki Kaito lebih keras, membuat posisinya semakin terjepit. Kaito tidak peduli jika wanita yang sedang ditindihnya itu menatapnya dengan tajam. Teriakan Luka barusan membuat Kaito semakin ingin membuktikan bahwa hanya dirinyalah yang bisa membuat wanita itu bahagia. Namun kenyataan yang dia inginkan tidak berpihak padanya. Saat Luka menangis dalam dekapnya, karena paksaan yang disebabkannya. Saat pakaian wanita itu sudah tak lagi melekat indah pada tubuhnya. Saat Kaito memaksa untuk merasakan setitik cinta dibibir gadis itu. Toukai memergoki mereka. Mata Kaito bahkan hampir keluar saat menyaksikan Toukai sudah memelototinya dengan pandangan penuh amarah.

Dan disana dia-mereka melihat Luka telah menangis akibat perbuatannya.

"apa yang kau lakukan bangsat!" tinjuan mematikan dari Toukai berhasil membuat Kaito tumbang seketika. Luka tak tau lagi harus berbuat apa, tidak ada yang bisa dia salahkan dari kedua orang sahabatnya itu. Memikirkan sosok mana yang harus disalahkan, semuanya sama sekali tidak bersalah, mungkin kehadirannyalah sumber kesalahan itu. Untuk memaksa keadaan agar tak ada lagi pertengkaran, akhirnya Luka memutuskan dirinyalah yang bersalah.

"hentikan.." suaranya melemah, namun cukup mampu menghentikan gerakan membabi buta Toukai yang menyerang Kaito habis – habisan. Wajah Kaito terluka hebat.

"aku yang merayunya Toukai-kun.." isakan itu terdengar begitu memilukan. Keputusan menyalahkan dirinya sendiri sudah dilakukannya. Dia hanya tidak ingin orang – orang yang memilki ikatan darah itu bertengkar karenanya.

"mungkin dulu aku salah memutuskan telah mencintai siapa dari antara kalian, dan pada akhirnya, perjuangan Kaito lah yang membuatku tak berdaya" ucap wanita itu memandang Toukai disana. Dia sudah sepenuhnya berdusta. Berbohong demi kebaikan, mungkin.

Bagai badai ditengah salju, perasaan Toukai tiba – tiba membeku. Satu tamparan keras dia berikan pada istrinya itu sebelum pria itu berlari meninggalkan kamarnya sendiri. Luka terhempas diranjangnya, dengan perasaan perih di pipi dan juga hatinya. Dan Kaito hanya bisa mendengar tanpa bisa menghentikan pengakuan salah Luka. Dia nyaris tak sadarkan diri setelahnya.

-][-

"masih memikirkan masa lalu?" suara itu menyadarkan lamunan Kaito. Seorang Megurine Luka sudah berdiri di pintu kamar apertemennya.

"ya, masalah yang ku hadirkan dalam hidupmu" Kaito tersenyum getir sesaat. Dan Luka tak lagi berniat memperpanjang kilasan masa lalu itu. Karena dia tau pasti itu sangatlah menyedihkan.

"hari ini mungkin aku akan pindah" Luka mulai membereskan beberapa barang – barang miliknya. Faktanya Luka memang tinggal seapartemen dengan Kaito sejak lima bulan lalu. Luka pikir ini adalah keputusan yang tepat untuk memperbaiki kesalahannya. Namun Luka akhirnya memahami satu hal, cinta tidak selamanya membuat kehidupanmu terasa bahagia, malah mungkin akan merasa semakin bersalah. Sambil memperhatikan wanita itu mengemasi barang – barangnya, Kaito sendiri tidak tau harus berbuat apa, menghentikan Luka dan meminta Luka bersedia menikah dengannya, atau memang harus membiarkan wanita itu pergi dari kehidupannya yang tak lagi berarti apa – apa. Dia dilanda kebingungan tak berujung.

"apa kau tidak berniat menikah denganku" Kaito tersenyum mencoba bercanda, ada sedikit harapan dari pernyataan itu, namun sebenarnya malah lebih banyak keputusasaan yang tersirat.

"kau tidak butuh itu Kaito" ucap Luka mengehentikan gerakannya.

"cukuplah aku membayar semua pengorbananmu dengan tubuhku, selebihnya harusnya kau tidak menginginkannya lagi, kan?" ucap Luka dengan tenang.

"aku akan mencoba menjauhi masa laluku, dan itu artinya aku juga harus menjauhimu, dan maaf jika dalam keadaan seperti ini aku malah memutuskan untuk meninggalkanmu" Luka selesai dengan kegiatannya.

"anggap saja kita tidak pernah bertemu, anggap saja kau tidak pernah mencintaiku, anggap saja aku tidak pernah tidur denganmu, dan anggap saja aku juga tidak pernah mencintaimu" seru Luka menahan kegetirannya. "terimakasih.." ucapan terakhir itu terasa begitu menusuk naluri Kaito, dia sudah kehilangan semuanya, sahabat, nama baik, kakak, dan bahkan orang yang teramat dicintainya.

"jangan berdusta Luka.. jangan kau ubah aku menjadi pria yang kurang ajar didepan suamimu dimanapun dia berada." ucapan itu menghentikan langkah Luka sebelum menghilang dari balik pintu. Dia tau ada lanjutan dari kalimat itu, dan sebelum Kaito menyelesaikannya, dia tidak berniat untuk meninggalkan tempat itu.

"kau bahkan tidak mengijinkanku untuk menyentuhmu lebih dalam dari yang Toukai berikan, kau hanya membiarkan suamimu yang membuatmu senang, bukan begitu?" dan satu senyuman terukir dalam tangis Kaito pagi itu. Dia telah mendengar langkah Luka menjauh.

Membayangkan selama ini tentang kehidupan seatap mereka, Luka memang tidak pernah membiarkan Kaito menyentuh bagian terdalam tubuhnya. Dia memang membiarkan Kaito mencumbunya, namun dia tidak membiarkan Kaito melakukan tugas layaknya menggantikan peran seorang suami dalam kehidupan percintaannya. Kaito hanyalah bayangan. Dan akan tetap seperti itu.

"bahkan kau sama sekali tidak pernah bisa menunjukkan rasa cintamu padaku. Kau memang menyakitkan" bisik Kaito pada airmata yang baru mengalir di pipinya.

-][-

"jadi bagaimana?" Gakupo menatapi Miku dengan antusias, masih tetap sama dengan permintaannya beberapa waktu lalu. Dia menginginkan Kaito untuk menjadi iklan dalam perusahaan Hatsune Miku.

"kau berusaha keras ya Kamui-san?" Miku memandang Gakupo yang telah mengembangkan senyum seringaiannya.

"tuntutan pekerjaan Miku-chi. Kau seperti tidak kenal aku saja"

Perasaan Miku yang awal tadi terlihat lumayan tenang, kini berubah menjadi kesal seketika namanya dia dengar diubah seenaknya oleh Gakupo, tidak apa sich, tapi kalau Gakupo yang mengucapkannya, terdengar begitu menjijikkan.

"iklan mobil" Miku melemparkan sebuah dokumen berupa data penjualan kepada Gakupo.

"sebenarnya dalam tahap ini pemasarannya tidaklah terlalu berpengaruh. Setelah memikirkan penawaranmu. Aku jadi ingin tertantang untuk melakukannya. Tapi jujur saja tanggung jawabku sepenuhnya tidaklah cukup. Kami menerima dana dari perusahaan lain dalam proses produksinya. Jika kau menerima pekerjaan sebagai seorang pesuruh, aku harap kau juga yang membicarakan masalah ini pada mereka. Aku ikut saja" ucap Miku tenang.

"perusahaan mana?" Gakupo pura – pura tidak tau, padahal jelas saja semua ini juga bagian dari rencana sang pemilik perusahaan tersebut.

"salah satu perusahaan kecil dari VY2 Group, mereka yang memasok bahan mentahnya"

"mereka pasti akan setuju" ucap Gakupo yakin. "serahkan padaku" lanjutnya.

Miku memandangnya dengan sedikit kecurigaan, tapi sejahat apapun Gakupo dulu yang melukai hatinya, yang dia tau Gakupo tidak pernah memiliki sistem licik dalam proses kerja otaknya.

"setelah kau dapat ijin dari mereka. Aku yang akan mendanai biaya produksi iklannya. Dan seberapa banyak kau dibayar untuk dipekerjakan orang lain agar memperalat kebaikan hatiku karena menerima tawaranmu yang menyebalkan ini. Sebanyak itu juga aku akan membayarmu untuk mengurusi semua masalah iklan sampai tahap final. Aku tidak mau turun tangan, kau butuh uang kan? Jadi kerjakan sendiri. budak" ucap Miku melempar sebuah dokumen sebai perjanjian tertulisnya pada Gakupo. Dan Gakupo hanya tersenyum membalas perlakuan cukup kejam Miku untuknya.

"satu misi selesai, misi yang lain menyusul. Kau memang baik Miku-tan" ucap Gakupo disambut tatapan mematikan dari Miku.

-][-

Len sudah menunggu hampir setengah jam lamanya, dan akhirnya sang kekasih hati, Megurine Luka sudah muncul dihadapannya. Dengan senyum mengambang sempurna, Len terlihat begitu senang, dia tidak tau harus bilang apa saat dia menyadari kenyataan jika untuk saat ini dialah pemuda yang paling beruntung di dunia, Luka tidak hanya baik, menurutnya Luka begitu dewasa dan pengertian, walau mungkin Luka tidak seserius dirinya dalam menjalani hubungan mereka, namun pada akhirnya Len sadar bahwa dia hanya harus memberi Luka kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang akan dia berikan.

"kau tidak kuliah Len?" ucap Luka saat tau Len sudah berdiri menungguinya, senja sudah mulai menyelimuti langit terang sore itu.

"sudah pulang, aku sengaja menungguimu untuk sekedar pulang bersama" ucap Len dengan semburat merah di pipinya, alangkah bahagianya dia.

"tidak perlu mengorbankan waktumu untuk menungguiku, kau tau sendiri kan bagaimana pekerjaanku" ucap Luka memaksa untuk tersenyum, dia hanya ingin menghargai perngorbanan pemuda itu untuknya.

"ti-tidak, entah kenapa aku hanya ingin mengajakmu jalan – jalan malam ini" Len memandang Luka jelas. Dan sejenak Luka menjawabnya dengan cepat, "Kencan maksudmu?" dan Len sukses menyembunyikan rasa malu yang terlihat jelas diwajahnya.

"baiklah.." ucap Luka mendahului, sebelum dia mendapati ada asap yang mengepul dari puncak kepala Len karena saking malunya.

Selama perjalanan, Len dan Luka lebih banyak terdiam, Len menyadari sesuatu tentang Luka sedikit lebih banyak, Luka adalah tipe gadis pendiam dan mungkin penyendiri. Tidak terlalu banyak berekspresi saat Len mulai bersikap sengaja lucu dihadapannya. Dan menanggapi itu Len jadi semakin salah tingkah. Apa Luka merasa tidak suka berjalan berdampingan dengan dirinya. Padahal sejak tadi Len bisa merasakan banyak pasang mata memandangi mereka, apalagi para gadis yang bahkan secara terang – terangan saling menahan suara saat melihat sosok Len dihadapan mereka.

"ya ampun, tampan sekali.."

"iya benar, beruntung sekali wanita yang bisa berjalan dengannya"

Len bisa mendengar bisik – bisik itu mengisi pendengarannya. Ada sedikit rasa bangga untuknya, namun rasa bangga itu seakan lenyap larut bersama dalam kegelapan malam saat pemuda itu sadar jika Luka sepertinya seakan tak begitu terpesona dengan paras menawannya. Orang lain saja bisa menjerit histeris karena pesonanya, namun kenapa Luka tidak merespon hal yang sama untuknya?

"a-aku lapar.." Len membuka suaranya, ada dusta yang keluar disana, dia sama sekali tidak lapar. Tapi ingin rasanya melakukan kencan normal bersama Luka.

"aku akan masakkan sesuatu untukmu dirumah" ucap Luka tanpa sadar. Sudah kebiasaannya melakukan apapun dirumah, dulu pun dia lebih suka menghabiskan waktu bersama Kaito dirumah. Untuk itu Kaito merasa begitu bahagia, setelah pulang shooting, dia akan merasa ingin pulang dan kembali kehadapan Luka.

"oh, maaf.." Luka mengalihkan pandangannya, namun secepat mungkin Len menyela, dia merasa tidak harus membuang kesempatan emas itu.

"baik...!" ucapnya mantap. "aku juga ingin merasakan masakanmu" Len menangguk semangat, dan entah sejak kapan tangannya sudah menggenggam erat tangan wanita itu.

-][-

Miku memarkirkan mobilnya dengan benar. Sudah pukul sembilan malam, dan rasanya ini adalah hari yang teramat sangat menguras energinya. Sejak pagi tadi, ada saja rapat dadakan untuk membahas perusahaannya. Juga ada tamu yang mau tidak mau harus ditemaninya. Miku tidak pernah meminta kehidupan sebagai seorang pewaris. Tapi mau tidak mau, setelah kematian ayahnya, Miku harus berjuang sendirian dalam menjaga keseimbangan perusahaan yang ayahnya tinggalkan. Walaupun pada kenyataannya Miku tidak lah sendirian, sebenarnya ada seseorang yang tidak mau peduli dengan takdir yang mengikat mereka. Dan dia membiarkan Miku berjalan sendirian untuk menjalani takdirnya.

Len masih terus menatapi wajah cantik Luka disana. Wajah itu seakan mampu memabukkannya dan membawahnya tenggelam kealam yang tidak dia kenal. Setelah selesai makan malam, Len meminta Luka untuk menceritakan masalalunya, menceritakan tentang keluarga, kehidupan, karier maupun suaminya. Dan tampaknya Luka tidak begitu tertarik membuka semua lembaran kisah yang telah dia tutup begitu lama. Jadi untuk sekedar mengisi waktu luang mereka, Len lah beralih menceritakan tentang kisah cintanya.

"ternyata kau populer juga ya?" Luka memaksa dirinya untuk tersenyum.

"ah, tidak juga. Bukan karena diberi wajah setampan ini makanya aku menjadi nakal" ucap Len tertawa. "tapi aku bisa yakini hatiku kalau kau adalah cinta terakhir ku Luka-chan" ucapnya dengan raut wajah memerah malu. Dia memang telah jatuh cinta.

Dalam tawa kecilnya, Luka menoleh sejenak kearah ruang tamu. Ada suara gerakan disana, dan dia memastikan ada sosok lain yang hadir selain dirinya dan Len dirumah mewah itu.

"siapa?" tanya Len yang mungkin telah mengetahui jika ada seseorang yang memasuki ruang tamu. Luka tak menjawab, atau mungkin tidak terlalu ingin merespon pertanyaan Len, entahlah. Yang pasti saat itu Luka sudah melangkah menuju ruang tamu diikuti dengan Len dibelakangnya. Dan mereka bertiga bertemu pandang dalam sunyi.

-][-

"aku mencintaimu Miku-chan" pria itu berbisik ditelinga Miku, memaksa kedua tangannya menelusuri setiap inchi kulit putih Miku dalam dekapannya. Mereka kembali saling menatap, Miku bagai terhipnotis, dia tidak sanggup memalingkan tatapannya dari wajah tampan pria yang sudah menindihnya, mencuri hatinya, dan yang telah menguasainya sepenuhnya.

"lakukan Len" bisiknya mesra. Tangannya menggapai punggung Len yang sudah tak lagi tertutupi baju, dengan berani, dia menarik wajah Len untuk mencumbunya, dan Len pun menurut saja.

"lakukan apapun yang kau mau, aku tak sanggup menahannya lebih lama lagi" ucap Miku seraya mendesah manja. Gadis itu memagut bibir seksi Len, menyapu mulut Len dengan lidahnya, dia benar – benar telah pasrah diperlakukan Len seperti apa. Dia begitu amat mencintai Len saat itu, dan Len pun terbakar gairah karena nya.

-][-

Luka membuka suasana canggung diantara mereka. Dia menghampiri Miku yang masih belum tersadar dari bayangan masa lalunya. Mendapati pria itu dirumahnya membuat Miku tak mampu bersuara. Dan Luka tidak tau apa – apa.

"ada apa?" ucap Luka menyentuh bahu Miku. Dan gadis itu cukup tersentak karenanya, seperti nyawa yang telah kembali ke raga, Miku cukup pandai menyembunyikan gerakan gugupnya.

"aku lelah, aku mau mandi dan langsung tidur" ucapnya tanpa menunggu respon dari Luka, dan meninggalkan sosok pria yang masih mematung itu di tempatnya.

"kalau begitu aku pulang dulu Luka-chan" ucap Len menarik diri, mengingat waktu cukup larut untuk mendukung perjalananya yang cukup jauh menuju rumah. Luka mengantarnya hanya sampai didepan pintu.

"terimakasih untuk kencan malam ini" ucapnya dengan senyuman. Luka hanya mampu membalas dengan sebuah senyum yang sama, namun, sebelum senyuman itu memudar, Len sudah menghadiahinya sebuah kecupan.

"kelak, aku bisa kan memilikimu nanti?" ucap Len setengah berbisik. Dia mendekap Luka dalam pelukannya, merasa betapa hangat tubuh gadis itu menyentuh kulitnya. Dan Luka hanya membalas pelukan itu dengan dekapan hangat. Lalu, setelah pelukan mereka terlepas, sekali lagi Len mengecup bibir wanita itu, menunggu respon Luka yang sama sekali tak membalasnya.

"bolehkan?" pinta Len sekali lagi sambil menatap wajah gadis itu sendu. Tingkahnya berubah sedikit lebih manja sambil memeluk Luka. Dan kini Luka bingung harus menanggapinya bagaimana. Hatinya masih membeku untuk merasakan perasaan cinta, dan sebenarnya kehadiran Len belum cukup bisa menyentuh titik bekunya. Namun dengan perasaan yang masih sadar, Luka seakan telah membuat sebuah kesalahan. Ditariknya wajah Len yang sebenarnya akan menjauh dari wajahnya, lalu dihadiahinya pemuda itu dengan sebuah kecupan hangat, wajah Len memerah, dia bertingkah malu dan tak tau harus melakukan apa, rasanya dicium oleh seorang yang kau cintai itu terasa berbeda, bahkan pemuda seperti Len pun bisa meleleh tak berdaya. Namun selanjutnya, sebelum Luka melepas kecupannya, Len sudah membalas cumbuan wanita itu dengan mesra, hingga pada akhirnya mereka berciuman cukup lama, dan tak sadar jika ada sepasang mata yang sedang mengintai mereka.

-][-

Gakupo memandangi selembar kertas ditangannya. Dia sudah berdiri disebuah pintu salah satu apertemen cukup mahal diwilayah elit itu, dipintu apertemen itu tertuliskan nomor yang sama dengan nomor yang tertulis di tangannya. Dan dia tak lagi ragu untuk menemui sang pemilik ruangan itu di tempatnya.

Teman lama mungkin, hanya itu yang mendasari cerminan pertemuan mereka saat itu, Kaito dan Gakupo sudah duduk saling menghadap disana.

"ini bukan permintaanku, kau tau, perusahaan Lodisty yang memintaku" ucapnya mengacuh pada perusahaan yang sedang Miku pimpin. Tidak usah dijelaskan, Kaito tau siapa gadis itu. karena dia tau siapa Luka, maka mau tidak mau dia juga tau siapa Hatsune Miku.

"apa gunanya memakai orang seperti ku untuk mengiklankan barang jualanmu" ucap Kaito dengan nada tidak terlalu suka. Dia memang tidak begitu menyukai Gakupo, teman lamanya itu.

"ayolah, jika kau butuh seseorang untuk menjadi relasimu, aku bisa menaungimu atas nama hukum. Bisa saja ini kesempatan baikmu kan? Apalagi aku juga cukup bersedia menjadi manajermu kelak" ucapnya dengan tampang licik. Terkadang memang orang – orang lebih takut melihat Gakupo tersenyum, tampangnya memang terlihat licik.

-][-

Pagi itu, Luka menemukan Miku sudah duduk dengan segelas air putih di genggamannya. Tampaknya gadis itu memang sedang melamun, atau sejenisnya. Luka tak mau terlalu mencampuri apapun urusan yang bersangkutan dengan kehidupan Miku, walau mereka sebenarnya memiliki darah yang sama – sama mengalir dalam tubuh mereka. Tapi konflik antara keluarga Miku dan Luka dulu benar – benar berpengaruh dalam perkembangan hidup mereka sekarang ini. Meskipun begitu, jika ditelusuri kenapa akhirnya Luka memutuskan untuk tinggal seatap dengan Miku, maka sebenarnya Miku lah yang memohon padanya.

Dengan pakaian tidur yang masih melekat, mungkin Miku tak begitu menyadari keberadaan Luka yang sudah menatapnya bingung di tempatnya berpijak.

"berhubung kau ada disini..." Luka meneguk segelas air yang sudah dari tadi dicicipinya.

"...aku mau sampaikan jika mungkin nanti malam aku tidak pulang" ucapnya sambil berlalu, dia tidak peduli mau Miku menanggapinya bagaimana. Namun tanpa dugaannya, Miku mampu menahan langkahnya dengan satu kalimat pendeknya. Luka menoleh, mendapati mata Miku sedang menatapnya tajam. "-dengan Len?".

"kau kenal laki – laki malam tadi?" tanya Luka setengah penasaran. Dia tidak begitu mengenal watak Miku sebenarnya bagaimana, mereka tidak pernah tumbuh bersama dalam kurun waktu yang panjang selama hidup mereka, Mereka hanya lebih sering dipertemukan oleh ibu kandung mereka secara diam – diam.

"a-aku..." Miku terlihat bingung menyusun kata – katanya. Dalam pandangannya, Luka jauh lebih menakutkan dalam hal apapun, mungkin karena Luka adalah tipe orang yang begitu tertutup dan terlihat luar biasa sempurna hingga Miku merasa tak mampu berlama – lama menatap wajahnya. "..pernah tidur beberapa kali dengannya" akhirnya terucap juga.

Air yang semula tenang di gelas dalam genggaman tangan Luka kini mulai bergetar. Terlihat jelas ada refleks kecil dari gerakan tubuhnya saat mendengar pengakuan itu dari Miku. Namun tak seperti yang Miku duga, mungkin Luka akan marah, kesal dan memaki – maki nama Len dari setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dia malah terlihat begitu tenang dengan raut wajah datarnya.

"benarkah? apa dia mengkhianatimu? Aku tidak sedang merebutnya dari mu kan?" ucapnya berjalan mendekati Miku ditempatnya, dengan anggun dia meletakkan gelas yang berisi setengah air putih yang baru diteguknya.

"katakan, jika aku sudah membuat dia meninggalkanmu, mungkin aku bisa bergerak mundur untuk mengembalikannya padamu" lanjutnya.

Tidak, Luka tidak sedang merebut Len dari siapa – siapa. Miku ingat kisahnya dengan Len seharusnya sudah beberapa bulan yang lalu.

"sudah berapa lama kalian berpacaran?" Miku ingin memastikan perbandingan waktu putusnya hubungan mereka dengan masa pacaran Luka. Meskipun begitu akhirnya Miku mulai terbiasa dengan tatapan menegangkan dari Luka, walaupun sebenarnya Luka hanya menatapnya biasa saja. Tapi perasaan bagi Miku, tatapan Luka memang benar – benar memiliki kharisma. Luka tidak sempat memikirkannya, karena dia sudah memiliki jawabanya dimulutnya. "delapan hari" ucapnya santai.

"dan kau sudah berapa kali tidur dengannya?" Miku bertanya tiba – tiba.

Sesaat Miku merasakan ada kesunyian yang merayap diantara mereka. Dia bahkan hampir merutuki dirinya dalam hati saat dia tau bahwa ucapannya terlalu bodoh. Sederhanaya, Luka jadi tersenyum karena pertanyaan itu, dan Miku bingung harus berpikir apa. Namun melihat senyuman diwajah Luka, akhirnya Miku tau jika wanita dihadapannya sekarang ini memang bukan tandingannya.

"sudah waktunya ke rumah sakit, lebih baik aku segera berangkat" ucapnya melewatkan pertanyaan Miku yang terakhir.

-][-

Didalam mobilnya, Miku masih memikirkan segala hal tentang Luka, kakak tirinya itu. Luka dan Miku memiliki ibu yang sama, hanya ayah yang berbeda. Miku berasal dari ayah super kaya. Tapi sebenarnya kekayaan yang diperoleh ayah Miku berasal dari hasil hubungan gelapnya dengan ibu Luka. Saat Luka berumur satu tahun, ayah dan ibunya bertengkar hebat. Namun publik tidak begitu tau rahasia itu. Ayah Luka adalah seorang pengusaha yang cukup mendominasi beberapa perusahaan yang bergerak di bidang perhubungan dan kelautan. Kecenderungan suaminya yang terlalu sibuk, menghempaskan ibu Luka kedalam realita percintaan. Dia kesepian, dan Luka tidak cukup lucu untuk menghiburnya saat itu. Dan disaat yang sama ada seorang pria yang ternyata menaruh perasaan padanya. Singkatnya mereka menjalin hubungan terlarang, ibu Luka hamil dan dia mengandung Miku. Menapaki kehidupannya yang sudah terlanjur tak berarti dengan seorang pengusaha-ayah Luka itu. Ibu Luka memilih untuk berpisah dari ayah Luka, dia lebih menginginkan hidup yang berbahagia dengan pria yang bisa membuatnya merasa lebih menikmati kehidupan.

Pria itu baik, untuk itu ibu Luka rela memberi dana untuk kelangsungan karier masa depannya. Tentu saja dengan uang dari ayah Luka tanpa sepengetahuannya. Saat Luka berumur tiga tahun. Ibunya menghilang sepenuhnya. Meninggalkan dia dan ayahnya tanpa alasan yang jelas. Tapi media berhasil dikelabui akan kejadian itu. Luka tumbuh dengan kehidupan ala tuan putri, ayahnya begitu menyayanginya hingga Luka dibesarkan dengan cara yang super mewah. Hingga saat ayah Luka diangkat menjadi seorang menteri, dia merasa hidupnya semakin tak berarti. Tak pernah ada rasa cinta yang dia dapatkan dirumah super mewah itu, tak ada ibu, bahkan walau dia punya ayah, seakan sama saja dengan tidak memiliki ayah.

Luka mewakili banyak sifat kemandirian dari ibunya. Gadis itu menyerah dari perlindungan ayahnya. Diumur dua belas tahun, setelah mengetaui jika Luka masih memiliki ibu yang telah meninggalkannya, maka Luka pun berniat untuk menemui sang ibu diluar sana, entah dimana, namun pada akhirnya Luka bertemu untuk pertama kalinya pada ibu kandungnya sendiri.

Mengetahui tidak ada lagi tempat untuknya di samping ibunya, Luka sadar jika dia hanya penghalang bagi keluarga bahagia itu. Untuk pertama kalinya saat itu juga Luka menatap Miku.

Luka telah meninggalkan ayahnya, juga akan meninggalkan ibunya. Dia sudah memiliki jalannya sendiri, karena ketidaktauannya akan dunia luar, Luka pun terjebak di panti asuhan. Dia tidak mau memberitaukan kenyataan identitasnya pada orang lain disana, dan disanalah dia dibesarkan sampai dia mendapat beasiswa untuk masuk sekolah kedokteran, dan kini dia sepenuhnya telah berdiri diatas kakinya sendiri.

Selama perjalanan hidupnya, Luka masih sering menemui ibunya dan juga Miku. Ibunya adalah wanita penuh pengertian dan Luka bersyukur dilahirkan dari rahimnya. Luka juga sudah mulai dewasa menghadapi kenyataan, diumurnya yang ketujubelas, dia pernah mengambil langkah untuk mengunjungi ayahnya dirumah. Luka ingat seberapa besar rasa haru sang ayah saat melihat Luka dihadapannya. Dia memeluk dan mendekap Luka penuh haru, sesuatu yang berharga dalam hidupnya kini telah kembali. Tapi Luka tidak mau menetap, dia sudah terlanjur mencintai kehidupan yang dipilihnya, dan ayahnya akhirnya mengijinkan itu. biar bagaimanapun mereka tetap ayah dan anak dalam kasus apapun. Dan Luka satu – satunya penerus dalam keluarga Megurine, suatu keberkahan untuk Luka menerima keberuntungan itu.

-][-

Miku tiba di parkiran perusahaannya. Memandangi perusahaan besar itu, Miku sebenarnya sadar jika apa yang dia punya sekarang sebenarnya milik Luka, dan juga milik ayah dari wanita itu. Dia hanya bertindak sebagai penjaga saja, mungkin itu jadi jauh lebih tepat untuk memahami posisinya. Sebelum ayah Miku meninggal, beliau memberitaukan segalanya ke Miku, bagaimana perjalanan hidupnya dengan seorang istri dari pengusaha-ibu Luka. Diberikan uang untuk memulai usaha, sampai akhirnya ayahnya mengaku jika ibunya diusir dari keluarga Megurine karna keluarga itu kehilangan sejumlah uang yang cukup besar atas perbuatan ibunya. Dan setelah mendengar kebenaran sepenuhnya dari ibunya sendiri, Miku paham jika apa yang dia miliki memang tidaklah miliknya.

Ibu mereka meninggal beberapa bulan lalu, Luka ada disana. Miku meratapi nasibnya yang mungkin akan menjadi yatim piatu dalam hitungan detik. Sebelum meninggal, Luka mendengar permintaan maaf dari ibunya. Wanita tua itu menangis dalam pelukan Luka, ada kesedihan yang ingin dituangkannya. Memandangi kejadian itu, Miku pun tak mampu menahan airmatanya.

Tangan wanita tua itu berusaha keras menyentuh pipi Luka, membiarkan sisa – sisa tenaganya berjuang untuk menunjukkan kasih sayang terakhirnya pada anak pertamanya.

"aku minta maaf Luka" ucapnya lemah. Tangan itu ditangkap Luka, digenggamnya dengan penuh kasih sayang.

"aku tak pernah menjadi seorang ibu untukmu" lanjutnya. Miku menangis terharu, dia tau kisah perjalanan hidup Luka, dan dia merasa hidupnya masih jauh lebih beruntung.

"pada akhirnya, aku juga tidak bisa ada untukmu" suara wanita tua itu masih terdengar. "kembalilah pada ayahmu, dan bawah semua yang pernah aku curi darinya" ucap wanita itu menyerahkan beberapa dokumen untuk Luka. Dan gadis itu memutuskan untuk tidak menyentuhnya, dia mendekap ibunya untuk yang terakhir kalinya. Dan kini perasaannya berhasil tertumpah. Airmatanya jatuh terurai, walau tanpa isakkan, Miku merasa bahwa itu adalah kesedihan terperih yang baru pertama kali dilihatnya dari Luka.

"..dan aku harap, kau menjaga Miku untukku" ucapnya sebelum semuanya berakhir. Miku menjerit tidak rela, bukan karena kehidupannya akan diserahkan pada Luka sepenuhnya, tapi tiba – tiba saja wanita tua itu tak lagi membuka matanya.

Miku secara tak langsung, menyayangi Luka sebagai kakaknya. Tapi secepat mungkin Miku membuang rasanya saat Luka secara terang – terangan menolak kehadirannya.

Setelah kematian ibu mereka, Luka berpaling pergi, tanpa sepatah katapun wanita itu menjauh dari Miku. Namun sebelumnya dia telah menyerahkan dokumen berkas jajaran harta yang disusun ibunya atas namanya kepada Miku.

"ambillah.." ucap Luka memandang Miku yang masih terbungkus kesedihan.

"aku tidak butuh, kau bisa kelola harta – harta ini menjadi milikmu" ucapnya datar. Miku menoleh memandang Luka, disaat seperti ini apa Luka tidak bisa memikirkan kesedihan yang baru saja dilaluinya?

"itu hartamu. Kau urus saja sendiri" ucap Miku tak mampu lagi menahan kekesalannya, dia meninggalkan sang kakak yang masih berdiri di posisinya.

Dan esoknya, Miku mendapati dokumen itu masih berada disana, dan Luka baru saja melangkah pergi meninggalkannya. Apa Luka tidak peduli dengan permintaan terakhir ibu mereka untuk menjaga Miku? Atas kejadian itulah Miku masih memiliki sedikit dendam itu untuk Luka.

Tbc~

New Chapter ~ Chapter 4

- Pembalasan dendam Yuuma, untuk Len ?

- Pengakuan Luka untuk siapa ?

- Masalalu yang terungkap...


hi~ saya Zoe. Terimakasih karena membacanya.

untuk Mell Hinaga Kuran yang me-review di chapter 2, maaf ya, masalah pairing belum bisa kelihatan :P

terimakasih~~