Untuk Chapter ini, saya yakin kalau bahasanya kurang normal. But saya gak ada waktu untuk merevisi ulang. Saya di kejar waktu untuk buat konsep awal TA dan hal pribadi lain yang bikin jengah kehidupan saya. Jika berkenan, saya harap anda membantu saya untuk mengoreksinya.

Chapter ini mungkin kebanyakan banget ya sekali update, soalnya saya memang sengaja gabungin dua chapter menjadi satu, sebabnya saya takut besok - besok telat update karena saya sudah harus memelosokkan diri kedaerah perkampungan karena urusan pekerjaan.

an : Entah kenapa saya kurang percaya diri update chapter ini, entahlah. mohon reviewnya untuk memperbaiki kesalahan saya.


Tears of My Pain

Jangan tatap mata seseorang, jika kau tidak mau terjerat dalam hubungan bernama cinta dengannya.

~Gejolak~

Yuuma sudah mulai bosan menunggu. Sejak sore tadi dia sudah berada didepan gerbang utama rumah sakit yang dia yakini tempat wanita merah muda itu bekerja. Segala informasi dari Piko seharusnya bisa dipercaya. Dan sesaat akhirnya, pandangan Yuuma menemukan sosok merah muda itu tengah melangkah maju meninggalkan sisi rumah sakit. Yuuma yang semula sudah siap dengan rencananya, kini mulai gugup. Apa rencananya untuk mendekati gadis itu akan berhasil sesuai perkiraannya? Dan sebelum pemikiran anehnya muncul lebih banyak. Yuuma sudah menemukan gadis itu berjalan berpapasan dengannya.

"sensei.." ucap Yuuma sedikit tidak percaya diri. Tapi dia berniat untuk mencoba. Luka menoleh, tadinya dia memang menyadari ada seseorang yang berdiri disana, namun dia tidak tau jika salah satu keluarga pasien yang ditanganinya malam itulah orangnya. Luka masih ingat.

"ya.." balas Luka memandang Yuuma. Dan sejurus kemudian, Yuuma seakan begitu terpanah dengan kecantikan Luka.

"ah.., ayahku berterimakasih padamu" ucapnya sempat lupa akan dialognya.

"selama ayahmu membayarku, aku tidak lagi butuh ucapan terimakasih" Luka memandangi pemuda itu santai. Dan lagi – lagi Yuuma lupa peran selanjutnya.

Wajah pujaan hatinya pun kini terbayang jelas, disusul adegan penghancur hati yang membuat luka dihatinya seakan terbuka kembali. Pacar si wanita-Luka didepannya inilah sumber penghancur dalam kehidupan percintaannya dulu.

"apa kau akan menemui Len?" ucap Yuuma mulai menguasai amarah yang kini merayap di kepalanya. Dia hanya cukup menahanya lebih lama.

Luka cukup tersentak, tapi raut wajahnya tidak begitu terlihat.

"kau kenal Len?" ucapnya penasaran. Dan Yuuma mendahului jawabannya dengan senyuman. "ya, kami berteman. Dia tau mungkin aku akan menemuimu disini, dan dia membuatku harus berjanji untuk membawamu bersamanya malam nanti, kalian ada janji kan?" ucap Yuuma.

-][-

Wajah tampan bertemu wajah cantik, kehidupan bagaikan sepasang kekasih akan membuat iri setiap orang yang memandang. Luka memandangi suasana indahnya kota malam dari balik kaca mobil milik Yuuma. Lampu – lampu mendominasi pemandangan yang tertangkap mata. Tidak perlu rayuan maut untuk membujuk wanita itu agar mempercayai ucapannya. Yuuma kini bahkan bisa tersenyum diwajahnya, setelah pada akhirnya Luka mengangguk setuju untuk ikut dengannya, alasannya untuk menemui Len bersama.

Insting lelaki Yuuma bekerja. Dia sadar wanita yang sedang duduk disampingnya saat ini adalah wanita tercantik yang pernah dia temui. Alangkah beruntungnya dia jika mampu mendapatkan wanita ini, menidurinya penuh nafsu, dan untuk adegan akhirnya dia akan tertawa didepan Len karena berhasil merebut gadisnya. Membalas perlakuan Len yang pernah merebut kekasih hatinya dulu. Agar Len tau seberapa sakit rasanya diperlakukan seperti itu.

Malam ini Luka memang punya janji akan bersama dengan Len. Jadi mau tidak mau dia memang harus percaya dengan ucapan Yuuma, apalagi rasanya dia tidak begitu harus takut dengan seorang anak dari pasien yang cukup dikenalnya. Luka membiarkan kakinya melangkah masuk kedalam pintu aparteman yang Yuuma tunjukkan padanya. Luka tidak curiga, semua kejadian yang dia alami saat ini sepertinya sudah masuk dalam perkiraannya. Len memang berniat mengajaknya untuk mengunjungi rumahnya.

"ini milik Len" ucap Yuuma berusaha menangkap raut pertanyaan yang jelas terpancar secara tak langsung dari wajah Luka.

"aku sering menemui anak itu disini. Jadi aku sudah cukup terbiasa dengan hal – hal disini" ucap Yuuma memasang senyum terindah, menutupi gumpalan dusta yang sudah dirancangnya.

Luka membalas keterangan Yuuma hanya dengan senyuman, sebelum akhirnya dia duduk disalah satu sofa besar diruangan itu, dan Yuuma bergerak menawarkannya minuman.

"ada baiknya kau minum dulu sebelum aku meninggalkanmu pergi, kau mau minum apa?" ucap Yuuma tersenyum manis. Luka menatap wajah itu "apa saja" serunya.

Tak berapa lama Yuuma sudah hadir dengan dua buah kaleng minuman ditangannya. Dia tidak bisa meracik teh atau kopi, jadi dia memberikan sekaleng minuman bersoda pada gadis itu.

"ini untukmu. Maaf jika aku membukanya duluan, aku takut sodanya mengenaimu nanti" ucapnya menyodorkan minuman yang memang sudah terbuka. Dan Luka mengumbarkan sebuah senyuman sebelum akhirnya dia meneguk minuman itu.

-][-

Malam itu Len tersadar dari tidurnya. Lamunannya mengumbar melayang terbawa kesadarannya yang segera kembali merasuki pikirannya. Dia tertidur cukup lama dikamarnya. Matanya langsung meneror penanda waktu di pergelangan tangannya. Dan dia berhasil mengutuki dirinya saat dia tau waktu sudah berangkat maju begitu cepat menuju malam. Pemuda itu segera bergerak cepat, menyambar ponselnya diatas meja, mencari kontak atas nama Luka dan dia mulai menghubunginya. Kesalnya bertambah saat jawabanan di ponsel Luka hanya omong kosong dari sang operator.

"aku harap dia tidak menungguku disana" batin Len sambil melemparkan tubuhnya diatas ranjang yang baru saja ditidurinya.

Yuuma tau apa yang selanjutnya akan dia lakukan. Dia sadar pengaruh obat yang tadi dicampurkannya pada minuman Luka kini telah bereaksi sempurna. Namun seperti yang dia saksikan, kini Luka hanya berusaha menahan rasa sakit dikepalanya dengan menyandarkan tubuhnya ke sofa tempatnya sedari tadi duduk. Nafasnya terasa berat, seluruh tubuhnya terasa panas, Luka seakan bisa merasakan peluhnya yang mengalir seperti menggelitik di kulitnya.

"kau baik – baik saja, Megurine-san?" Yuuma kembali memainkan perannya dengan sempurna, seoalah – olah dia tidak tau apa yang terjadi dengan Luka saat ini. Bertingkah khawatir.

Dan ditempatnya Luka memaksa kepalanya untuk menggeleng, dia baik – baik saja. Itu yang ingin disampaikannya. Namun sebelum pernyataan baik – baik saja itu disampaikannya. Yuuma sudah menyentuh kedua lengan Luka, memaksanya untuk menjawab walau dia tau itu percuma. Luka menepis lemah kedua tangan yang menggenggam lengannya, bukan karena kesakitan, namun rasanya kulit Luka terlalu sensitif mendapat sentuhan dari seorang pria untuk saat ini. Luka masih sadar jika dia hampir saja lepas kendali, gejolak hasrat memenuhi batinnya. Bahkan senyum Yuuma kini seakan bisa menahan gerakannya. Tatapannya mulai nanar, kendali tubuhnya mulai goyah, Luka tidak bisa mengingat apa – apa lagi, dan tanpa dia tau tubuhnya sudah ambruk, dan dengan cepat Yuuma menahannya. Luka pingsan.

Yuuma membaringkan tubuh Luka diatas ranjang, melepaskan kemeja yang menutupi tubuhnya, bergerak melepas kaitan kancing kemejanya satu persatu. Yuuma berhasil menelan ludahnya berkali – kali saat matanya menangkap putihnya kulit dada tubuh itu. Keringat Luka yang mengalir seakan menambah kesan eksotis untuk pandangan matanya. Setelah melepas kemeja Luka, Yuuma membiarkan tangannya menari – nari diatas kulit lengan Luka, membiarkan wanita itu terbangun karena bereaksi atas tindakannya. Yuuma masih ingat perasaan dendamnya untuk Len, dan alangkah senangnya dia jika Len tau gadis yang dicintainya kini sedang berada digenggamannya. Luka mendesah tanpa sadar, karena matanya masih terpejam. Gerakan tangan Yuuma benar – benar membangkitkan gairah terpendamnya. Luka tak mampu mengontrol aliran darahnya yang semakin berpacu cepat untuk mengaliri tubuhnya. Semuanya terasa semakin membakar dirinya.

"dia benar – benar beruntung mendapatkan gadis seliar ini dalam hidupnya" ucapan Yuuma keluar tanpa sadar, mengarah pada keberuntungan Len yang bisa memiliki Luka dalam hidupnya. Dengan hati – hati, Yuuma bertindak perlahan, nafsunya benar – benar bangkit karena desahan Luka yang entah mengapa begitu terdengar seksi untuknya. Wajahnya mendekati wajah Luka, dan sesaat setelah itu dia mengecup bibir Luka dengan penuh penghayatan.

Deg..

Jantung Yuuma seakan berdetak keras. Balasan kuluman dari Luka membuat pipinya merona merah. Luka tidaklah tahu apa yang sedang dilakukannya. Tangannya bergerak tanpa kendali, mendekap punggung Yuuma, dan masih membalas pagutan bibir Yuuma dengan sensual. Yuuma bahkan hampir tak mampu menahan nafsunya. Wanita dihadapannya kini benar – benar telah menaklukkan hatinya tanpa dia tahu. Sudah cukup banyak wanita yang Yuuma jajahi selama hidupnya. Namun entah mengapa Luka yang kini sedang bercumbu dengannya terasa begitu berbeda dari wanita – wanita lain itu. Luka punya sesuatu yang seakan membuatnya menjadi pria yang begitu kecil dan tak berarti dalam urusan seperti ini. Yuuma memaksa Luka untuk melepaskan dekapannya. Yuuma bergerak menjauhi wanita itu, dia benar – benar tidak mengerti kenapa untuk saat ini dia tidak begitu yakin bisa meniduri Luka yang sudah terbaring di ranjangnya, bahkan membalas cumbuannya.

Memaksa pikirannya bekerja, Yuuma menggerakkan tangannya untuk melucuti pakaiannya sendiri. Dia hanya harus membalaskan dendamnya pada Len, dan semua itu akan segera selesai.

Kini Yuuma sudah menindih tubuh Luka disana, kembali tangannya menelusuri setiap inchi kulit wajah Luka. Putih dan memerah, bibirnya terbuka dan terlihat begitu merangsang untuk Yuuma. Dan untuk sekali lagi Yuuma mendaratkan bibirnya untuk menikmati hangatnya bibir merah itu. alih – alih kecupannya akan di balas lagi oleh Luka, namun kini tak dirasakannya wanita itu membalas kecupannya, bibir Yuuma berpindah menelusuri kulit leher Luka, membiarkan wanita itu mulai terpancing lagi oleh rangsangannya. Tangan Yuuma pun tak mau diam, segera dilepaskannya pakaian yang masih melekat ditubuh wanita itu. Yuuma menelan ludah untuk kesekian kalinya, pemandangan didepan matanya begitu memabukkannya. Bergerak mengambil ahli, Yuuma mengulum dada Luka, dan wanita itu mendesah. Yuuma bisa merasakan tangan Luka mulai bergerak meremas kulit punggungnya, tak mau kesempatannya terbuang sia – sia, Yuuma kembali mengecup payudara Luka, memilin, menghisap sempurna, membiarkan gadis itu terus terbakar rangsangan darinya, menggigit putingnya, lalu berpindah dari yang satu ke yang lain. Begitu seterusnya hingga dia puas.

kau lihat saja Len, wanitamu sudah berada digenggamanku batin Yuuma dengan sebuah senyuman mengiringi kesadisannya. Luka menggigit bibir bawahnya. Dia benar – benar begitu terangsang akan setiap sentuhan dari pria itu. Sedangkan Yuuma sama kacaunya, dia begitu ketagihan, tubuh Luka memang bisa membutakan matanya. Kembali dikecupnya bibir Luka, dinikmatinya setiap balasan yang Luka hadiahkan untuknya. Benar – benar nikmat luar biasa. Yuuma sadar wanita yang sedang dicumbuinya ini adalah wanita luar biasa menawan untuknya.

Kini pandangan Yuuma kembali berfokus pada leher Luka, melihat Len mengetahui gadisnya ditandai pria lain mungkin akan membuat hatinya meringis pedih, karena untuk itulah rencana ini Yuuma lakukan. Dan disana Yuuma sudah siap memberi tanda merah itu disekitar leher dan dada Luka. Gigitan pada tanda pertama di leher Luka membuat gadis itu meringis hebat, rasanya begitu indah. Yuuma membalikkan tubuh Luka, memberi gigitan – gigitan itu disekitar belakang tengkuknya, dan kembali menguasai leher depan Luka dengan gigitan lainnya. Tangan Luka mendekap kepala Yuuma erat, namun gigitan terakhir penanda yang Yuuma berikan pada Luka membuat pemuda itu berhenti seketika. Gadis itu menyerukan sebuah nama yang tidak dikenalnya. Bukan Len, bukan orang yang seharusnya dirindukannya. Tapi...

"Kaito-kun.." suara desahan Luka menghempaskan Yuuma kealam nyata. Wanita itu memanggil nama lain selain nama musuhnya. Yuuma bagai dihempas jutaan kekuatan ombak seketika. Apa benar dia milik Len? Lalu kenapa ada nama lain yang dirindukannya? Apa dia salah menggauli kekasih orang? Apa Piko membuat kesalahan informasi? Apa dia sudah melakukan sesuatu yang buruk pada orang lain yang sama sekali tidak harus terseret dalam hubungan dendamnya pada Len? Semua pertanyaan – pertanyaan itu menghempaskan Yuuma. Sesaat dalam pandangan matanya pada wajah Luka yang matanya masih terpejam. Yuuma menyadari jika perbuatannya sudah begitu keterlaluan, kini rasa kasihan timbul dihatinya, batinnya berkata bahwa dia ingin mendekap gadis itu dan melindunginya, meminta maaf karena dia telah menyakitinya hari ini. Yuuma turun dari tubuh Luka, mengambil posisi di sebelah kiri Luka, dan mendekap Luka disana. Dia tidak lagi membiarkan tangan Luka menggapainya. Yuuma membalikkan posisinya kesamping, menghadap Luka, dan membiarkan dirinya mendekap Luka dari sana. Tangan kanannya bergerak tanpa sadar, mengusap puncak kepala Luka, dan dia mulai membenamkan wajah indah itu mendekati dimana letak jantungnya bersarang.

Ada rasa penyesalan dalam hatinya. Yuuma merasa Luka tidak harus disakiti untuk membalaskan dendamnya. Pikiran – pikiran itu merasuki kepalanya, Luka tidak salah apa – apa. Dan pada akhirnya Yuuma menjadi ingin namanya juga disebut oleh bibir Luka, entah kenapa, dia hanya begitu menginginkannya saja. Menjadi orang yang juga Luka rindukan, rasanya pasti begitu membahagiakan. Kini rasa dendam itu berubah menjadi rasa yang Yuuma tidak mengerti. Dalam dekapannya, dia ingin melindungi wanita itu, memilikinya, menjadi satu – satunya nama yang dipikirkan sang wanita. dan sepanjang malam itu, Yuuma hanya mendekap Luka hingga mereka tertidur dengan kerinduan perasaan mereka masing – masing.

-][-

Miku tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Semalaman dia terlilit kegelisahaan, membuat perasaannya terjerat kedalam hampanya kecemasan. Puluhan panggilannya berakhir dengan jawaban si wanita operator. Satu malaman Luka tak bisa dihubungi, ponselnya benar – benar mati. Dalam pikirannya, bayangan kemesraan sang kakak dengan mantan pria nya telah terputar sempurna. Miku benci mengakui, tapi rasanya dia punya sedikit kepedihan melihat kebersamaan mereka berdua. Diwaktu yang lalu.

Sama dengan Miku, Len bahkan hampir mati gigit jari. Ponselnya nyaris remuk karena terlempar. Dia begitu emosi, pikiran kesialan yang menimpa kekasih hatinya datang membabi buta mengisi emosinya.

Namun di tempat Luka berada, semua masih terasa sunyi, wanita cantik itu masih terlelap dalam tidurnya. Selimut yang terlihat begitu hangat masih menutupi putih kulitnya. Tetapi satu suara yang tiba – tiba muncul berhasil memaksanya membuka mata. Di sisi ranjangnya, ponsel bergetar cukup memekakan telinga. Luka terjaga perlahan, responnya cepat tertuju pada ponsel berisik itu. Namun sebelum dia menemukan dari mana asal suara. Keheningan telah kembali menemuinya. Saat kesadarannya sepenuhnya telah terkumpul, kini mata Luka tertuju pada langit – langit ruangan dalam kamar itu. Dia telah berada ditempat yang tak dikenalnya.

Niat hati ingin bangkit berdiri dari ranjang yang baru saja ditidurinya, Luka malah mendapati tubuhnya yang tak tertutupi kemeja yang harusnya masih dia kenakan dibalik selimut yang digunakannya. Perasaan Luka bagai terhempas ketidakpastian, dia berusaha mengingat apa yang terjadi padanya malam tadi, namun kepalanya masih terlalu sakit untuk kembali memutar memori yang telah terekam.

Mengabaikan rasa sakit dikepalanya, Luka meraih kemeja dan brah-nya yang sudah terletak dilantai dekat kakinya berpijak. Memakaikannya satu persatu, sambil kakinya melangkah kearah cermin besar disisi lain ruangan itu. Luka menatapi tubuhnya, dia menemukan beberapa titik perih di daerah leher dan dadanya. Penasaran, Luka menjamah tanda kemerahaan itu. Dia pun akhirnya sadar aktivitas apa yang malam tadi dia lakukan. Tapi dengan siapa? Len? Apa mungkin itu Len? Luka masih tidak terlalu bisa mengingatnya. Mencurigai dirinya sendiri yang tidak terlalu yakin apa yang terjadi malam itu, Luka berniat menyentuh daerah kewanitaannya yang memang semenjak dia bangun tadi masih rapi dengan celana panjangnya. Tidak ada yang pernah menyentuh bagian tubuhnya itu setelah Toukai meninggal, dan dia harus pastikan dia tidak melakukan apapun dengan seseorang lebih dari tindakan cumbuan lainnya. Jika tidak, dia akan merasa sangat bersalah pada sosok suaminya itu.

Namun, saat dia tengah mencurigai dirinya sendiri, dia dikejutkan dengan kehadiran seorang pemuda yang sudah berdiri diambang pintu. Tampak baru selesai membersihkan dirinya, rambut pemuda itu masih terlihat basah. Dan jelas sekali hanya handuk yang menutupi tubuhnya. Menatapi Luka masih dengan perasaan tak menentu dan penuh tanya, Yuuma malah tersenyum seperti tak terjadi apa – apa.

"kau sudah bangun?" ucap pemuda itu dengan perasaan gembira. Melihat kemeja Luka yang masih belum tertutup sepenuhnya, sempat membuat pipinya memerah.

"malam tadi kau menginap dirumahku" ucap Yuuma melangkah kearah lemari pakaian diruangan itu. Memilih beberapa set pakaian yang ingin digunakannya.

"-menunggu Len" sambungnya, sambil memakai kaos oblongnya. Lalu saat kepalanya telah muncul lagi dibalik pakaian itu, dia kembali melanjutkan ucapannya, "tapi dia tidak datang, dan kau ketiduran". Luka masih tidak mampu mencerna apa yang dibicarakan Yuuma padanya. Tapi pandangannya tiba – tiba teralih dari pemuda itu saat Yuuma dengan perasaan tanpa malu sedikitpun membuka lilitan handuknya didepan Luka untuk memakai celananya. Dan melihat tindakan Luka, Yuuma hanya mengembang senyuman.

Sesaat ruangan itu menjadi sunyi, Luka mulai memngingat kembali apa yang terjadi padanya semalaman. Sebelum akhirnya Yuuma kembali meneruskan kalimat – kalimatnya.

"tapi itu semua bohong.." ucapnya sambil membetulkan ikat pinggangnya. Luka berbalik dan pandangan mereka bertemu.

"aku punya dendam masalalu dengan Len, aku pikir kau dan dia adalah sepasang kekasih. Jadi aku melibatkanmu untuk membuat Len merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat dia meniduri wanita ku dulu." Kalimatnya terpotong, dan Luka tau masih akan ada kelanjutan yang keluar dari bibir pemuda itu. Namun sebelum kalimat itu menerobos keluar, wajah Yuuma menampilkan sebuah senyum tiada arti disana.

"tapi rasanya aku tidak tega mengotorimu" lanjutnya. Langkahnya mendekat kearah dimana Luka masih berdiri tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"maaf karena semalam telah membohongimu. Aku itu niatnya hanya ingin meniduri wanita milik pria brengsek itu, lalu memamerkan padanya jika aku berhasil membuatnya menderita. Dengan mencampur minumanmu bersama serbuk perangsang, kau memang berakhir dengan tidak berdaya, tapi setelah aku benar – benar sudah niat ingin melihat Len menangis dengan merebutmu darinya. Kau malah membuatku terkejut, untuk itu aku berubah pikiran, aku menyerah. Dan aku pikir kau tak ada hubungannya dengan Len, jadi aku tidak bisa menyakitimu" jelas Yuuma panjang lebar. Membayangkan desahan Luka dengan nama lain malam itu membuatnya sangat tidak tega. Dia paham jika mungkin Luka masih tidak begitu mengerti dengan penjelasannya. Tapi jika Luka ingin bertanya, dia siap menjelaskan detailnya.

"sekarang mandilah, kau terlalu basah semalaman" ucap Yuuma sambil berlalu dari hadapan Luka dan menghampiri ponselnya yang terletak di sisi ranjang mereka.

Luka masih terlihat bingung, namun dia menuruti perintah Yuuma untuk membersihkan dirinya. Yuuma mengantar Luka ke kamar mandi, mengarahkan Luka untuk memakai hal – hal untuk keperluan mandinya, lalu memberikan wanita itu handuk bersih cadangannya.

Dalam angannya, Luka merasa bingung untuk bersikap, haruskah dia marah mendengar setiap pengakuan Yuuma barusan tentang perlakuan buruk pria itu pada dirinya, atau harus berterimakasih karena dia mau mengakui perbuatannya. Tapi tetap saja dia tidak begitu yakin. Toh, jika dia marahpun semua telah terjadi. Hanya saja dia masih tidak terlalu jelas dengan kenangan itu, dan akhirnya memfokuskan diri untuk tak lagi berusaha mengingat, biarlah memori itu kembali sesuai waktunya.

Memasuki kamar yang dia tempati tadi, Luka melihat Yuuma sudah menyediakan beberapa pakaian untuknya.

"ah. Sudah siap ya?" Yuuma tersenyum manis kearah Luka, kini rasanya dia sudah bisa mengendalikan tatapannya, menulusuri setiap lekuk tubuh Luka yang masih terlilit oleh handuk saja. "cantiknya.." ucapnya tanpa harus merasa ragu Luka akan memikirkan apa tentang dirinya. Namun herannya Luka masih hanya diam tak berekspresi disana.

"pakai ini saja dulu, aku sedang membersihkan pakaianmu" ucapnya menunjuk kemeja miliknya yang sudah tergeletak diatas ranjang di ruangan itu.

"tidak usah, aku tidak biasa memakai pakaian pria"

"benarkah? Bohong. Melihat gerakan erotismu malam tadi, kau cukup hebat melakukannya" Yuuma menyeringai dengan senyuman menggodanya. Kini Yuuma menyadari tatapan Luka membuatnya bergidik hebat.

"apa yang ku lakukan malam tadi?" ucap Luka menatap Yuuma lekat.

"jika kau mau, kita bisa mengulanginya lagi pagi ini, tak usah terburu – buru" Yuuma terlihat suka mengisengi wanita itu dengan tingkahnya.

"brengsek" Luka meraih kemeja Yuuma disana, dan segera memakaikannya tanpa melepaskan lilitan handuknya, dan duduk ditepi ranjang, mengabaikan sosok lain yang sedang memandanginya penuh peduli.

"aku yakin kau tidak bisa percaya secepat ini padaku. Tapi apa yang aku katakan padamu memang kenyataan. Maaf telah menyentuh bibir dan..." Yuuma mendengar Luka mendecak kesal. Wanita itu bangkit dari tempatnya duduk.

"hentikan, aku tidak ingin mendengarnya" Luka bergerak mencari sesuatu disana, pakaiannya, dia harus pulang secepat mungkin.

"hei, dengarkan aku dulu!" Yuuma semakin kesal, menarik tangan Luka, dan membuat wanita itu menatapnya dengan paksa.

"Lepaskan tanganmu"

"tidak"

"lepaskan!"

"tidak!" bentak Yuuma lebih keras. Dan kini Luka tak tau lagi harus berbuat apa, emosinya benar – benar sedang meninggi, tapi melihat amarah Yuuma dihadapannya membuatnya harus melunak sementara.

"apa ruginya jika kau kutiduri, hah?! Seharusnya kau beruntung, banyak wanita didunia ini yang bergiliran untuk tidur denganku, bahkan rela mengandung benihku"

"aku hanya ingin tau apa yang telah terjadi malam tadi, berhentilah membuat kepalaku sakit, brengsek!" Luka tak mampu menahan gejolak emosinya, dia menepis genggaman tangan Yuuma dari tangannya, memukul pria itu sekuat tenaga sampai dia tidak tau bagaimana buruknya penampilannya sekarang. Menangis, terisak, bahkan berteriak, dan Yuuma hanya berusaha menghentikannya disana.

"baru ini aku melihat seorang wanita menangis seperti ini karena tidak rela kutiduri" ucap Yuuma disela gerakannya menghentikan amukan Luka dalam dekapannya.

"aku hanya mencumbuimu, tidak lebih. Kita tidak melakukan apa – apa selain itu. bukankah pagi tadi kau juga lihat celanamu masih dalam keadaan tak terjamah?" ucap Yuuma saat perasaan Luka mulai tenang.

"aku bersedia kau bunuh sekarang juga jika apa yang kukatakan itu tidak benar" Yuuma menjauh saat Luka mendorong tubuhnya perlahan. Dia tau jika wanita itu sedang tak ingin diganggu saat ini.

"setelah kau cukup tenang, cobalah memakan sesuatu, dari sore kemarin kau tidak makan, dan aku akan menunggumu di meja makan" Yuuma melangkah pergi meninggalkan kamarnya dengan perasaan bersalah yang begitu membebaninya.

Didalam ruangan itu, tinggallah seorang wanita dengan rasa perih dalam hatinya. Bukan karena dia harus menerima kenyataan dia telah melakukan kesalahan pada seseorang, tapi dia tidak begitu ingat akan apa yang dilakukannya. Rasanya memalukan sekali dicumbui seseorang dalam keadaan tidak sadar dan dibawah kendali nafsu. Luka benar – benar tidak bisa membayangkan apa yang telah dia lakukan pada pria itu. Ataupun sebaliknya. Tapi memaksa dirinya harus percaya dengan apa yang Yuuma ucapkan, akhirnya dia pun menyerah. Perlahan di tatanya perasaanya agar tenang. Di ruang makan, Yuuma tetap sabar menunggu kedatangan Luka, perasaannya tercampur saat ini, dia seakan begitu ingin mempedulikan wanita itu.

"akhirnya kau keluar juga" Yuuma bangkit dari tempat duduknya, melangkah menuju tempat Luka berjalan. Dengan masih mengenakan kemeja Yuuma ditubuhnya, handuk yang sedari tadi dia lilitkan ditubuhnya sudah tak lagi terlihat. Yuuma sempat tersenyum sedikit tanpa Luka sadari saat pemuda itu sekilas menyadari ada sesuatu yang terlihat lucu dari Luka. Membayangkan wanita itu mengacak – acak kamarnya demi mendapatkan pakaiannya sendiri rasanya begitu menggelitik untuknya. Pasalnya Yuuma sengaja menyembunyikan seluruh pakaian Luka secara acak didalam kamar, dan rupanya Luka mengetahui aksinya. Wanita ini tak buruk juga batin Yuuma.

Menarik kursi dan mempersilahkan Luka duduk, kemudian Yuuma sudah bergerak menuju kursinya sendiri.

"belum menemukan kemeja dan celanamu?" Yuuma menuangkan airputih didalam gelas Luka sambil memandang wajah sembab gadis itu. Luka tidak membalas ucapannya, matanya tertuju pada sarapan yang Yuuma hidangkan.

"aku masih belum bisa percaya denganmu" dia menatap kosong hidangannya. Keraguannya masih belum bisa dia kendalikan, tadi Yuuma mengatakan pakaiannya sedang dibersihkan, tapi pada akhirnya dia menemukan beberapa pakaian dalamnya di bawah bantal, padahal seingatnya tadi dia meletakkan itu disisi luar kamar mandi. Jadi apakah dia harus punya dasar untuk mempercayai perkataan Yuuma yang mengatakan jika mereka tidak melakukan hal lebih malam tadi?

"ya, aku terima pilihanmu" Yuuma mengangkat sumpit dan mie instan yang sudah menggembung itu bersama cup nya. Siap menikmati.

"dan makananmu ini seperti sampah" Luka meletakkan sumpitnya dengan keras diatas meja. Membuat Yuuma tersedak karena sebuah kejutan. Wanita itu berdiri di tempatnya, bersiap melangkah kedapur dan memandang Yuuma dari sana.

"sama seperti orang yang menyediakannya" lanjut Luka, mata Yuuma memandang putih paha Luka sekilas, dia harus rela dimaki wanita itu sekali lagi jika dia ketauan memandangi kulit putihnya.

Dan disana, Luka seakan sudah terlatih menggunakan dapur milik Yuuma, mengolah bahan yang sebenarnya terlalu minim untuk dimasak dan diubah menjadi satu sajian yang layak mengisi perutnya.

Kenyataannya Yuuma sadar, jika mungkin kehadiran dan amarah Luka telah menarik perhatiannya. Hanya memperhatikan wanita itu saja rasanya ada setitik kegembiraan yang mulai berkembang dalam perasaannya. Dia tidak begitu tau maknanya, tapi mungkin rasa itu lah yang akan menyentuh perasaan cintanya yang telah terjebak dalam keterpurukkan, meraihnya lalu membiarkan rasa cinta itu menyebar keseluruh tubuhnya.

Bahagia sekali rasanya, jika ada seseorang yang ada disisimu saat kau terbangun, memasakkan sebuah sajian untukmu, makan bersamamu, dan tinggal bersama – sama denganmu dalam segala jenis perasaan. Rasanya Yuuma ingin menikahi Luka secepatnya setelah wanita itu meletakkan semangkuk makanan dihadapan Yuuma.

Luka.., apa kau mau menjadi istriku? Yuuma membatin dalam benaknya.


Sudah seminggu berlalu sejak kedatangan Gakupo kerumahnya. Kaito masih belum bisa memutuskan langkah apa yang akan di ambilnya. Apakah harus kembali kejalan yang belum sepenuhnya dia tinggalkan? Atau rela melepaskan apa yang sudah pernah diraihnya.

Hari sebelumnya, Gakupo memberitahukan sesuatu padanya. Tentang pertemuan mereka dengan Miku yang harusnya akan diselerenggarakan hari ini. Walau Kaito belum memutuskan untuk menolak, tapi rasanya dia ingin sekali pergi ke pertemuan itu. yang mana tanpa dirinya pertemuan itu akan sia – sia.

Dilain sisi, Miku memang sepenuhnya tidak terlalu ingin melakukan hal serepot ini untuk Kaito maupun Gakupo, dia benar – benar tidak terlalu setuju dengan pengambilan keputusannya, namun rasanya jika memang Gakupo yang bersedia melakukan semuanya, dia tidak punya alasan lagi untuk ambil pusing. Luka saja tidak peduli dengan perusahaannya sendiri, apalagi dia?

Seperti yang Gakupo harapkan, Miku memberi wewenang bagi Kaito untuk mengiklankan salah satu produk mobil yang perusahaannya miliki. Disalah satu restoran sederhana, mereka bertemu. awalnya Kaito tidak ingin dia hadir didepan khayalak ramai, tapi rasanya Gakupo yang bersikeras untuk mengambil keputusan baginya.

"kau itu harus bangkit. Sebenarnya kariermu masih bisa kau pertahankan jika kau tidak lari dari kenyataan" ucapnya disela – sela membahas pekerjaan mereka.

Tapi seperti yang mereka lihat, ditempatnya Miku terlihat lebih banyak diam. Hingga Kaito terpancing menanyakan satu hal padanya. Dia teringat Luka dalam pikirannya.

"apa Luka bersamamu?" ucap Kaito, mengabaikan Gakupo disampingnya. Miku menatap pria itu lurus, lalu mendesah nafas.

"aku tidak tau." Ucapnya singkat. Dan mata Kaito tampak melemah kembali. Pikiran Miku sedang tak enak, apalagi membahas hal semacam Luka, dia tidak mau repot – repot buang energi untuk memikirkan sesuatu. Jawab saja tidak tau, maka Kaito tidak akan menanyakannya lagi. Pertemuan mereka tidak terlalu lama, karena pada akhirnya Miku lah yang lebih dulu meninggalkan mereka, sepenuhnya tanggung jawab sudah dia limpahkan pada Gakupo, untuk itu dia tidak mau lagi mengurusi pekerjaan yang sama sekali bukan lagi menjadi pekerjaannya.

-][-

Len sudah berdiri disana. Luka bisa lihat bayangan pemuda itu sudah melangkah menyambut kehadirannya yang baru saja keluar dari perkarangan rumah sakit. Senyuman diwajah pemuda itu mengembang, dan Luka membalas sama.

Sebelumnya Yuuma memang membujuk Luka untuk mendengarkan semua penjelasannya. Dan walau tidak merespon langsung, mau tidak mau akhirnya Luka tau konflik apa yang terjadi pada pemuda menyebalkan itu dengan Len saat ini. Didalam mobilnya setelah kejadian itu, Yuuma memandangi Luka yang begitu tidak ingin membalas tatapannya. Dia masih kesal, tentu saja. Yuuma melajukan mobilnya memasuki perkarangan rumah Luka, sebenarnya diawal Luka tidak mau diantar sampai rumah, namun lagi – lagi dengan seringaian liciknya, Yuuma berhasil meyakinkan wanita itu disana.

"hei, kita belum berkenalan secara resmi loh?" Yuuma memandang Luka yang sudah melangkah cepat meninggalkan pria itu dan mobilnya. Dia tak lagi ingin peduli.

"namaku Yuuma, Yuto Yuuma. Luka-chan... namaku Yuuma loh, ingat ya..!" Yuuma meneriakkan namanya dengan semangat sampai Luka menutup pintu rumahnya dengan keras.

"manis sekali. Dasar tsundere" ucap Yuuma tak mampu menutupi rasa lucunya.

Luka tidak pernah cerita tentang Yuuma pada Len. Sebenarnya dia hanya tidak tau harus bilang apa ke Len. Mengingat pengakuan Yuuma yang dia juga tidak terlalu yakin tentang sebab dari tindakannya. Membawa nama Len dalam dendamnya. Dan jika Luka memutuskan untuk memberitaukan Len yang sebenarnya terjadi, Luka punya kekhawatiran jika pada akhirnya pemuda itu hanya akan merasa bersalah padanya, dan tidak akan membiarkan Yuuma seenaknya.

Luka tidak mau masalah dendam mereka berlanjut berlarut – larut, untuk itu dia sama sekali tidak ingin Len tau.

Pernah saat mereka pertama kali bertemu setelah kejadian itu. Len yang memang sedari tadinya terlihat gusar, hingga akhirnya Luka memaksanya untuk bicara. Dan betapa terdiamnya Luka saat pertanyaan tentang tanda – tanda dilehernya meluncur dari mulut Len, pemuda itu seperti sudah mencurigainya.

Luka bingung bagaimana menjawabnya, Len pasti tau tanda apa itu, dan pada saat yang bersamaan untuk pertama kali dalam sebuah hubungan, Luka terpaksa berbohong.

"maafkan aku Len.." ucapnya mengawali penjelasannya. Dan Len menantikan kalimat selanjutnya. "a-aku rasa aku butuh teman malam itu, jadi.." kalimatnya benar – benar terputus – putus, "..aku tidak bisa menahan untuk tidak melakukannya dengan yang lain" akhirnya. Luka tidak begitu pandai membohongi Len yang jelas paling mengerti tanda seperti apa yang bersarang di lehernya, jadi mungkin menyatakan hal sebenarnya dibarengi dengan hal yang lebih mengejutkan lainnya bisa mendukung pernyataan dustanya.

Tampak wajah Len berubah tegang, Luka mulai memahami jika pria itu tidak akan bisa menerima penjelasannya, tapi berhubung Len belum bicara apapun, Luka menambahi dustanya lagi. "hanya seorang wanita, teman lama". Luka benar – benar tidak tau harus bilang apa, yang pasti untuk kali ini saja, dia tidak mau Len mencurigainya macam – macam. Biarlah Len menganggapnya aneh untuk saat ini.

Len memaksa sebuah garis tipis terbentuk di wajahnya. Melihat senyum tak biasa itu Luka merasa sangat bersalah. Namun tanpa perasaan yang terduga, pria itu malah bergerak menggenggam tangan Luka erat, Luka terenyah sesaat, tangan Len terasa hangat. Sepanjang perjalanan langkahan kaki mereka, Luka seakan memahami jika Len benar – benar begitu menyayanginya.

"aku akan ceritakan satu hal yang harus kau tau tentang ku" ucap Len sejurus memandang jalanan di hadapannya. Luka memalingkan wajahnya dan menatap wajah pemuda itu disana. Memikirkan untuk tidak menjadikan hubungan mereka dicampur oleh kebohongan, Len sepertinya harus lebih dulu jujur pada Luka.

"aku dan Miku pernah jalan bersama" pria itu mengakui. Langkahnya diperlambat.

"dan tidur bersama". Dan mata Luka hanya memandang lembut. Dia sudah tau.

"bukan hanya Miku, tapi banyak wanita lainnya" Len menarik tangan Luka untuk menghentikan langkahnya. Dan kini mereka saling berhadapan dan saling memandang. Tidak peduli ada berapa mata yang memandangi mereka, jalanan kota saat itu masih sangat ramai – ramainya, dan Len mengabaikan semua kejadian disekitarnya. Memandangi tepat kemata Luka membuatnya lupa segalanya. Jiwanya terasa begitu tentram dan damai. Hingga satu senyuman penuh kebahagiaan membekas diwajah tampannya.

"dan sekarang baru aku sadari.." sebuah tangan besar milik Len menyentuh lembut pipi Luka.

"..kalau ternyata, mengetaui wanitamu di tiduri orang lain, rasanya begitu menyakitkan". Satu titik airmata berhasil lolos menelusuri pipi Len. Ucapan yang begitu tulus dari dasar hatinya itu rasanya begitu membebani perasaannya.

Rasanya bohong jika Luka tidak tersentuh oleh sikap tulus Len, tapi rasa cintanya pada Len masih belum sepenuhnya menguasai dirinya untuk memeluk pria itu sekarang juga. Dia hanya membalas genggaman Len yang sedari tadi menempel erat ditangannya.

"maafkan aku Len" bibir itu mengucapka dialognya.

"mungkin aku masih belum terlalu baik untukmu". Dan Luka memutuskan untuk segera mengakhiri masa uji cobanya.

-][-

Pagi itu Miku mendapati Luka di dapur rumah mereka. Menyiapkan sarapan sebelum salah satu dari mereka berangkat bekerja. Miku akui, masakan yang Luka hasilkan serupa rasa dengan masakan ibunya, semenjak Luka tinggal bersamanya, Miku merasakan seakan sosok ibunya kembali menemani hidupnya.

Miku duduk di tempat duduknya seperti biasa. Dan mengetahui Miku sudah berada disana, Luka segera menjejerkan hidangan yang sudah siap dibenahinya dimeja makan. Ada nada hampa menjalari keadaan mereka. Mereka memang tidak pernah seirama. Hingga dari pada memaksakan diri untuk bernada, lebih baik mereka sama – sama tak bersuara.

Luka duduk diposisinya biasa. Sebelum mengunyah suapan pertama, tidak lupa baginya untuk mengucapkan syukur pada makanan yang telah terhidang di hadapannya. Hampir bersamaan dengan Miku yang siap menyerukan ucapannyaselamat makannya, Namun Luka terlihat dengan cara yang berbeda. Miku memandangi kakaknya itu yang sedang melipat tangannya, menutup matanya dan setelah beberapa terdiam, mata itu kembali terbuka.

"itadakimasu" ucap Luka pelan sebelum suapan pertama menyandera indra perasanya.

Alih – alih didera rasa penasaran, Miku akhirnya bertanya. Apa saja ingin dia tanyakan asal Luka mau sekedar membuka suara tentang dirinya. Miku serasa ingin mendalami kepribadian kakaknya itu lebih banyak.

"kau seorang Kristen?" ucapnya setelah beberapa kunyahan telah mereda di mulutnya. Dan jawaban itu hanya di balas dengan deheman oleh Luka.

"sejak kapan?" lanjut Miku ingin tau.

"tidak tau" balas Luka seadanya. Dia tidak ingin menjawab panjang lebar. Seharusnya Miku tau jika Luka dibesarkan dipanti asuhan yang berdiri atas ajaran agama. Tapi sebenarnya bukan itu yang Miku ingin tanyakan, sejak kapan Luka peduli tentang hubungannya dengan maha kuasa. Perempuan ini memiliki masa super complex saat masa remajanya duu.

Tidak ingin membiarkan kebisuan sekali lagi menyelimuti mereka, akhirnya dia teringat akan Kaito yang sudah mulai bekerja untuknya.

"aku sudah mempekerjakan Kaito untuk mengiklankan produk perusahaan kita" ucap Miku.

"oh.." Luka tidak tertarik membahas.

"menurutmu bagaimana?" ucap Miku meminta pendapat, paling tidak perusahaan itu masih atas nama Luka sebagai pemiliknya.

"lakukan saja sesukamu. Aku tidak tertarik dengan hal – hal komersil seperti itu". Miku mendesah kesal, dan Luka menangkap suara kesalan itu sejenak.

"apa kau tidak bisa sedikit saja berlaku seperti seorang kakak untukku?" akhirnya Miku menumpahkan rasa kesalnya untuk mengatasi sikap cuek Luka padanya, rasanya dia ingin sekali Luka tau jika dia merindukan sosok yang menghargai usaha kerasnya.

Gerakan Luka terhenti, dia meletakkan sumpitnya kasar hingga Miku sedikit kaget. Selera makannya telah hilang seketika. Dia tidak ingin memandangi Miku, hingga secepat mungkin dia palingkan pandangan dan tubuhnya untuk melangkah meninggalkan meja makan itu menjauh.

"Megurine Luka..!" suara Miku yang terdengar keras menghentikan langkah Luka disana. Emosinya memuncak, sudah berapa lama dia menahan rasa kesalnya pada Luka, bahkan sejak Luka rela meninggalkan dirinya sendiri saat beberapa hari ibu mereka baru dimakamkan. Miku tidak pernah berpikir Luka memiliki perangai yang tak berperasaan seperti itu. Sedikit bayangan Len yang tiba – tiba hadir dipikirannya pun kini menambah kekesalannya hingga ingin menumpahkannya saat itu juga di hadapan Luka.

"kau mau aku menjelaskan apa?" Luka menatap gadis yang lebih muda darinya itu dengan tatapan tak mampu diartikan.

"seorang ibu saja bisa meninggalkan anaknya" Miku terasa tak berdaya mendengar kalimat itu. "apa kau bisa membantuku percaya jika didunia ini ada hal yang benar – benar harus diperjuangkan?" ucap Luka dengan perasaan datar.

Miku mengangkat wajahya yang menunduk, awalnya dia menjadi malu karena kalimat Luka berhasil melenyapkan amarahnya. Dan sekarang dia ingin Luka sadar jika didunia ini juga masih banyak yang memiliki kisah kehilangan melebihi dirinya.

"apa kau masih membenci ibu?" Miku menepis rasa takutnya.

"tidak. Setelah aku tau aku masih memilikinya. aku telah menjadikannya sesuatu yang paling berharga untukku" mereka terdiam.

"dan saat aku tau aku masih memiliki adik sepertimu. Aku juga ingin membuatmu menjadi yang paling berharga dalam hidupku. Tapi aku takut kehilangan, untuk itu lebih baik untuk tidak mengakuinya agar kehilanganku tidak lagi beralasan" lanjut Luka dengan sejuta perasaan.

Jika memiliki membuatmu beresiko mengalami kehilangan, maka cobalah untuk memilikinya dari kejauhan, agar sejauh apa dia dari kita, kita akan tetap bisa merasakannya. Airmata Miku jatuh memenuhi pipinya. Dia terisak begitu dalam saat itu. Perasaan Luka yang tidak bisa disentuhnya kini berhasil dia jamah. Ada setitik kebahagiaan saat tau bagaimana Luka mengartikan kehadirannya kini. Dia benar – benar dihargai Luka dengan cara yang berbeda selama ini, walau Luka tak pernah memandang wajah dan menyebut namanya, tapi bukan berarti Luka tak pernah menginginkannya. Miku sadar Luka bahkan lebih bisa menghargai kehadirannya didunia ini, tapi Luka menahan perasaannya untuk memiliki dirinya. Luka punya cara tersendiri untuk menyayangi orang lain. Kini rasanya, Miku ingin meraih Luka disana dan mendekapnya manja. Dia tidak mau tau seberapa keras Luka menolaknya nanti, yang pasti dia ingin mencoba. Namun sebelum dekapannya menyentuh Luka, seorang kakak itulah yang lebih dulu merengkuh Miku. Mendekapnya dengan lembut.

"dan disaat aku benar – benar telah kehilangan segalanya. Aku tau masih ada tempat bagiku untuk pulang" ucap Luka mengusap puncak kepala Miku yang sudah tenggelam dalam pelukannya.

"se-selamat datang..kembali... One-chan.." ucap Miku, isakan dan airmatanya teredam oleh pelukan.

-][-

Sebenarnya bisa saja Kaito memanfaatkan waktu senggangnya untuk sekedar memantau keadaan sekitarnya sebelum dia melakukan take dalam shooting pembuatan iklannya kali ini. Tapi rasanya dia begitu terasa asing saat tanpa sengaja dia mendengar beberapa orang yang tidak dia tau membicarakan sesuatu tentangnya. Pemuda itu menjadi terlalu minder dengan dirinya sendiri.

"debut pertamanya setelah scandal ya?"

"aku tidak terlalu yakin dia bisa diterima kembali"

"ah.. kau benar, rasanya baru kemarin saja dia dicaci maki oleh media"

Ketiga orang yang Kaito tidak tau siapa, telah membicarakan dirinya dan masalah – masalah yang pernah dia hadapi. Kaito merasa tidak yakin dengan kemampuannya sendiri, ada rasa untuk kembali menyerah, sebelum akhirnya Gakupo datang dan menemuinya ditempat dia sedari tadi duduk.

"hei, kau terlihat kaku kawan" sapa pria ungu itu yang sudah berdiri dihadapan Kaito bersama seorang pria yang mungkin Kaito masih kenal.

"dia yang akan menjadi sutradara dalam iklan ini, aku yakin kalian sudah saling kenal" ucap Gakupo terlihat ramah. Kaito berdiri menyambut pemuda yang lebih tua darinya, sebuah jabatan tangan hangat menyambutnya bersahaja.

"lama tidak bekerja sama denganmu lagi Shion-san" ucap pria itu mengumbar senyumnya. Kaito ragu untuk membalas keramahan itu, dia masih belum terlalu percaya diri akan dirinya sendiri setelah terpuruk begitu jauh dalam kekelaman kariernya. Namun Gakupo yang sudah merasakan keanehan di raut wajah Kaito segera membawa pria itu kembali pada kenyataannya.

"tidak usah terlalu tegang begitu Kaito, mulai sekarang kita semua dan orang yang berada di tempat ini adalah rekan kerja" serunya menepuk bahu Kaito, seakan membantu pria biru itu melepas bebannya. Dan setelah tepukan kecil itu, akhirnya Kaito merasa ada sebuah motivasi yang bisa dia jaga untuk dirinya sendiri.

Pengambilan gambar dalam beberapa adegan sudah dilakoni Kaito sedari tadi, tampaknya pengaruh Gakupo cukup mampu membuatnya percaya diri untuk memerankan setiap apa yang ingin dia perankan. Dan menghargai kemampuan Kaito yang masih tidak menurun, sang sutradara tertawa puas.

"kau masih mampu melampaui imajinasiku, Shion-san" tepuknya dibahu Kaito saat pekerjaan mereka telah terakhiri untuk hari ini.

-][-

Sore itu, setelah melangkahkan kakinya keluar dari perkarangan rumahsakit, tanpa sengaja Luka menangkap sosok yang baru dia kenal telah berdiri disana. Sosok pria yang harusnya dia benci karena perlakukan buruk atas dirinya. Namun, saat memaksa dirinya untuk membenci pria itu, dan harusnya dia tidak mempedulikannya disana, Luka malah mendekati sosok itu dengan pemikiran yang lain. Bagaimana jika Len melihat kehadirannya?

"apa yang kau lakukan disini?" Luka menangkap raut kaget dari gerakan tubuh Yuuma. Dan sebuah senyum dia dapat dari wajah tampan pemuda itu.

"oh.. ti-tidak. Aku hanya ingin menjemputmu" ucap Yuuma dengan wajah canggungnya.

"aku sudah membatalkan jadwal pemeriksaan untuk Yuto-san-ayahmu beberapa menit lalu. Jadi lebih baik kau kembali" Luka membenarkan posisi tas jinjingnya yang sudah hampir terjatuh, miliknya.

"bukan untuk itu" Yuuma menyanggah cepat, pandangannya tetap fokus pada kedua crystal biru itu.

"sebagai permintaan maaf untuk kelakuanku malam itu, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat" Yuuma mulai memohon.

"sudah lama kulupakan. Pergilah sebelum seseorang melihatmu disini" Luka menolak, segera ditinggalkannya pria itu bersama mobilnya disana. Yang Luka pikirkan saat ini hanyalah bagaimana perasaan Len agar tak lagi tersakiti oleh segala perbuatannya.

"bagaimana jika aku mengakui perasaanku?" Yuuma menahan langkah Luka dengan ucapannya. Melihat Luka terhenti namun tak berniat memandangnya, Yuuma kembali melanjutkan ucapannya.

"bagaimana jika aku bilang kalau aku menyukaimu? Kau mau kan menerima permintaan maafku?" pria itu tidak begitu yakin akan ucapannya. Tapi saat dia berpikir Luka mungkin akan meminta penjelasan yang lebih padanya, wanita itu seakan tidak peduli dan melanjutkan langkahnya. Yuuma tidak mau tau, dia terus mengekor dibelakang Luka, mengucapkan hal – hal yang berharap Luka sekali saja berbalik memandangnya. Namun tak kunjung Luka lakukan.

Langkah Yuuma terhenti. Didepan sana dia sudah melihat seorang pria yang samar dia kenal sedang melangkah menuju kearah Luka. Dan sekilas saja mata mereka sudah saling bertatapan.

"apa kau butuh bantuan?" sambut Len dengan senyuman, merangkul Luka sebentar lalu mengecupnya mesra. Tatapannya matanya sudah menangkap sosok kehadiran lain diantara mereka.

"apa dia mengganggumu?" ucap Len menatap Luka lalu ke Yuuma bergantian.

"tidak usah dihiraukan Len, tadinya dia hanya menanyakan alamat" dusta Luka tidak ingin Len mempermasalahkannya. Tapi, dari pada memenuhi permintaan Luka untuk tidak mengurusi pemuda yang tadinya mengekori Luka itu, Len malah memutar kembali memori otaknya. Rasanya dia pernah melihat pemuda itu, dan beberapa keping kenangaan itu sudah berhasil dikumpulkannya.

"aku seperti mengenalmu" ucap Len mantap, mendekatkan tubuhnya kearah Yuuma.

"Saat kecelakaan waktu itu, aku melihatmu mengendarai mobil yang menabrakku, iya kan?" ucap Len mulai yakin.

"dan kau yang merebut Yukari dari ku" Yuuma sama sangarnya memandang pria yang lebih muda darinya itu. Dan dengan hitungan detik saja, sebuah pukulan keras mengantam wajah tampan Yuuma, hantaman penuh emosi yang jelas terlihat dari raut wajahnya. Memandang refleks serangan itu dan ambruknya tubuh Yuuma seketika di jalanan, Luka hanya mampu berteriak kaget. Dia menarik lengan Len keras hingga Len tak lagi dapat meraih tubuh Yuuma untuk segera menghabisinya secepat itu.

"Len! Hentikan!" ucapnya menahan Len untuk melangkah.

"dia yang menabrakku waktu itu Luka, aku masih tidak bisa memaafkannya" ucap Len menahan amarahnya setelah dia memandang wajah panik Luka.

"aku hanya ingin kau menahan amarahmu. Tidak semua dendam bisa diakhiri dengan pembalasan, Len" kini Luka yang tidak dapat menahan amarahnya.

Mengingat kembali masalalunya, Luka seakan trauma dengan pertengkaran Kaito dan Toukai didepan matanya. Dia takut kedua pemuda itu melakukan hal yang sama walau dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan dendam mereka kali ini.

"kau benar" Len berseru pelan, ucapan Luka memaksa emosinya mereda. "harusnya aku tidak membuatmu takut" tatapnya pelan.

Luka membantu Yuuma untuk bangkit, wajah pemuda itu kini memerah dan terlihat bibirnya yang kini sudah membengkak dan berdarah.

"aku tidak tau permasalahan kalian. Tapi aku harap kalian tidak lagi saling memukul untuk menyelesaikannya" ucap Luka melangkah mendekati Len.

-][-

Kaito dan Miku masih sama – sama memandang uraian air hujan yang mengguyur tempat itu. membiarkan kesunyian memanjakan mereka sambil menyaksikan tetesan air dari sisi sebuah cafetaria yang berdindingkan kaca transparan hingga air yang mengucur itu tampak begitu menarik terlihat dari sana.

Menyaksikan suasana itu begitu teduh, Kaito menyisipkan satu sosok yang dia rindukan dijiwanya, Megurine Luka. Wanita cantik yang selama ini mengusik perasaan cintanya. Luka memang wanita yang cantik, tapi saat mata Kaito tak sengaja memandang wajah Miku dihadapannya, rasanya Kaito tak sengaja membandingkan kedua kakak adik itu dalam pemikirannya. Hatsune Miku juga ternyata tidak kalah cantik dengan Luka, hanya saja aura kedewasaan yang Miku miliki mungkin belum bisa melebihi kedewasaan Luka. Ya jika dibandingkan dari segi umur memang wajar saja.

"kau tidak memesan makanan?" Kaito memulai berinisiatif menepis kecangungan mereka. Tidak terasa sudah hampir enam menit mereka berdua duduk disana tanpa memesan sesuatu apapun untuk dimakan.

"tidak," Miku menjawab sambil menggeleng lembut.

Memang kehadiran mereka sendiri kesini untuk sekedar makan malam sambil membahas beberapa hal yang menyangkut dengan masalah project iklan yang Kaito terima, dan satu lagi, sebenarnya Gakupo yang membuat rencana malam ini, tapi dia sendiri rasanya tidak jadi datang karena hujan menghentikan langkahnya.

"aku makan malam dirumah saja nanti" sambung Miku masih bersekpresi tenang.

"kau hobbi masak ya?" Kaito mulai menguasai percakapan mereka.

"ah, tidak. Luka-neechan yang memasak, dan memakan masakannya membuatku teringat dengan ibu" Kaito bisa menangkap sebuah ekspresi yang berubah diwajah cantik itu. Namun raut wajahnya jadi agak berubah saat Miku secara tidak langsung memberitaukan padanya jika Luka ada dirumahnya.

"apa Luka tinggal bersamamu sekarang?" ucap Kaito penasaran.

"ya, aku yang memanggilnya beberapa waktu lalu, maaf dulu tak jujur padamu, apa dia tidak memberitaukannya padamu?" Miku tidak tau.

Kaito hanya memasang tampang tersenyumnya, semula dia memiliki prasangka dengan kepergian Luka yang dia pikir akan tinggal dengan pria lain selain dirinya, namun setelah tau Miku yang mengajaknya bersama, rasanya dia ingin menertawai kecurigaannya.

"tidak. Dia tidak pernah memberitaukannya padaku" ucap Kaito sambil membiarkan seorang pelayan meletakkan sebuah teh yang tak lama dipesannya tadi saat dia bercakap – cakap dengan Miku.

Lama mereka terdiam dan berhenti di pembicaraan tentang Luka, tak Kaito sangka Miku mempertanyakan beberapa detail tentang Luka yang tidak dia tau pada Kaito. Bagaimana pun Miku tau Luka pernah menikah dengan saudara Kaito, dan setelah upacara pemakanan suami Luka, kakaknya itu memutuskan untuk tinggal menjauh dari keluarga. Dan mungkin Kaito tau tentang kehidupan Luka setelahnya.

"aku dengar kau dan Luka pernah tinggal bersama" ucap Miku mulai serius. Dan beberapa detik setelah mencerna pernyataan Miku, Kaito pun mengangguk.

"apa kalian pernah berpacaran?" tanya Miku lagi.

Menanggapi pertanyaan itu, kini Kaito mendapati perasaannya berubah menjadi perih. Dikatakan sebagai kekasih? Apa Kaito pernah dianggap sebagai kekasih oleh Luka semasa hidupnya? Wanita itu hanya membiarkannya memendam perasaan tak terbalasnya sendirian.

"dia bilang apa padamu?" tanya Kaito sebelum dia ingin menjelaskan.

"tidak ada. Dia terlalu jenius untuk menahan diri agar tidak menceritakan apa saja yang terjadi dalam hidupnya" Miku mengalihkan pandangannya kehamparan kenangan.

Jedah hening sebentar. Kaito dan Miku sama – sama membisu entah untuk alasan apa. Mereka seperti terjerat bersamaan dalam satu isapan waktu yang menuntun mereka untuk berhenti bicara.

Namun kenangan dalam pikiran masing – masing sudah membawa mereka kesebuah pertanyaan dengan tuntutan penjelasan sesegera mungkin.

"aku hanya ingin tau, seberapa banyak kebahagiaan yang menjauh darinya" Miku mengela nafas.

Dan mendengar itu, Kaito rasanya ingin membagi segala hal yang dia tau tentang Luka, meskipun dia juga tidak terlalu yakin untuk tak ikut menceritakan segala perasaan miliknya terhadap wanita pujaannya itu. dia tak lagi peduli.

"sebelum dia ketempatmu. Dia memang tinggal bersamaku" ucap Kaito memulai.

"tapi rasanya ada sesuatu yang menyadarkanku. Dia tidak pernah bisa kugapai. Dia adalah tipe wanita yang mencintai dengan perasaan tulus. Untuk itu rasanya saat dia telah menetapkan hatinya dengan satu pilihan, dia tidak akan bisa disentuh dengan pilihan – pilihan lain disekitarnya. Terlalu sulit bagiku untuk menggugah perasaannya. Aku bukanlah pilihan yang ditetapkannya, hingga mungkin begitu sakit melihatnya berada dekat denganku namun tak bisa kumiliki" ucap Kaito menahan batas kesedihan yang hampir tak terbendung.

Dan dengan perasaan yang tak terlukiskan, Miku hanya berperan sebagai pendengar.

"dia sulit menerima cinta yang baru. Dia terlalu keras kepala untuk perasaan dan kebahagiaannya sendiri. Merasa dia lah yang paling tau apa yang paling dia butuhkan. Tinggal dengannya, tidur dengannya dan makan dengannya tak bantu membuatnya merasakan kehadiranku. Bukan dia tidak peka, namun karena dia tidak mau mencoba untuk menerima. Kakakmu itu benar – benar tak bisa dijangkau oleh siapapun. Aku takut jika kelak dia sudah jatuh cinta dengan seseorang, dia tidak akan pernah mau mengakuinya sampai kapanpun" Kaito memaksa wajahnya tertawa.

"aku belum begitu mengenalnya. Tapi rasanya semua yang kau katakan memang cerminan dari kepribadiannya. Dan aku setuju padamu tentang ketulusan hatinya. Dia memang takut memiliki karena dia takut untuk kehilangan" Miku mengganjal dagunya dengan tangannya dan mencoba untuk sama tersenyum dengan pemuda biru itu.

Tbc~

New Chapter 5

- Hubungan antara Len dan Luka ?

- Yuuma dan perasaannya

- Pertemuan dua orang sahabat.


Hai~~ saya Zoe,

Thanks ya untuk Review, saya gak bisa nulis hal lain selain ucapan terimakasih. Tentang Chapter, saya gak gitu bisa jelasin habisnya sampe chapter berapa, karena memang ni cerita lum punya ending.

dan untuk chapter ini kalau bahasanya kurang greget, dan ngebosanin saya minta maaf, saya sadar diri karna jujur aja untuk chapter ini saya terkesan tak punya waktu untuk memperhatikan tata bahasa dan typo nya. Hiks...

karena bakal banyak salah, saya butuh Review.

Thanks.