Terimakasih pada Lily yang sudah mau jadi cameo di fanfic ini. Kau yang terbaik Lily, lain kali aku akan mengundangmu untuk jadi pemeran utama. Walau Gumi duluan yang kecantol di fanfic yang sedang saya garap.

terimakasih pada Dell karena mau menyumbangkan se-kata namanya untuk pelengkapan jalan cerita.

Dell mantannya Luka? sinting!

terimakasih yang sudah menjenguk saya melalui Review, PM, dll.

Saya suka comot aktor and aktris lain untuk masuk numpang lewat di fanfic hahaha...

dan taraaa... akhirnya next chapter nongol. tapi saya rasa chapter ini bakalan chapter yang paling panas.


Tears of My Pain

Cinta itu perwujudan dari rasa kepedulian, pengorbanan, kasih sayang, kebahagiaan serta penghiburan dan harapan. Jika mengaku cinta namun merasakan kesakitan, dendam, ketidaktenangan, air mata dan kehampaan, itu tak lagi dinamakan cinta, namun salah mengambil keputusan.

~Yang Terpenting~

Akhirnya, setelah proses penantian dan pembuatan yang tidak terlalu panjang, selesai juga project iklan yang di bintangi si pemuda biru. Dan kini Pemuda itu hanya bisa menaruh harap jika apa yang dia hasilkan sekarang bisa mengembalikan nama baiknya secara bertahap. Semula dia juga ragu untuk mengorbankan perusahaan Miku untuk memakai dirinya sendiri. Takut jika akan menjadi dampak yang buruk bagi imbas penjualan produk tersebut. Tapi Miku berhasil meyakinkan pemuda itu jika tidak ada yang harus dicemaskan setelah Miku membuat keputusan.

"semua akan baik – baik saja Kaito-san. Kita hanya tinggal menunggu iklanmu mengudara dalam waktu cepat" seru gadis twintail itu dengan senyum mengembang diwajahnya saat dia menerima keluhan Kaito melalui ponselnya. Entah sejak kapan kedekatan mereka menjadi begitu jelas terlihat.

Len berdiri diambang pintu salah satu ruangan dirumah sakit itu, dimana ruangan itu sedang digunakan Luka untuk memeriksa salah satu pasiennya. Seorang anak kecil, sedang meringis kesakitan dengan pengaduhan ada luka memar di lutut kanannya.

"sudah, tidak apa – apa. Sebentar lagi perihnya akan hilang" senyum wanita itu ramah. Menatap senyum itu Len merasa teramat iri pada anak kecil itu, andai saja dirinya juga disenyumi semanis itu oleh Luka, tentu dia akan merasa teramat bahagia.

"kapan ya aku terluka lagi? mungkin menyenangkan bila kau menyemangatiku dengan senyummu sama seperti kau menyemangati anak tadi" ucap Len melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu, menemui Luka yang sudah duduk dimeja kerjanya sesaat anak kecil tadi sudah beranjak dari sana. Hanya mereka berdua.

"kurang apa dulu saat aku merawatmu dirumah sakit ini?" Luka tak memandang Len.

"dan rasanya aku jadi ingin kembali kemasa itu, dulu itu kau berbeda dari sekarang. Dulu kau masih mau tersenyum padaku. Tapi sekarang rasanya berbeda" angan Len, dengan suara lemah namun cukup mampu didengar Luka dengan jelas, walaupun dia mencoba mengabaikan ucapan wanita itu sebelumnya.

Len hanya tidak ingin membohongi dirinya sendiri. Dia sudah lama merasakan jika memiliki Luka berarti juga memiliki senyumannya. Namun setelah dia berhasil menjadikan Luka pacarnya, tak lagi dia rasa ada senyuman yang semanis dulu yang bisa dia miliki.

"apa aku sama sekali tidak bisa membuatmu bahagia, Luka?" pertanyaan itu menghentikan kesibukan tangan Luka yang sedari tadi menuliskan sesuatu di lembar laporan kerjanya.

Dilihatnya pemuda itu tengah bersandar disisi ambang pintu, disirami sinar mentari yang menghasilkan bias kesilauan hingga Luka tak terlalu bisa menentukan mimik apa yang sedang Len pertontonkan. Kepalanya mendongak, kedua tangannya disisipkan dikedua sisi saku celananya, dan kakinya bertumpu satu, sedangkan kaki satunya ditekuk menawan.

"padahal rasanya aku sudah berjuang sekuat tenaga" ungkapnya tak menentu.

Detik waktu terus berjalan, ruangan itu dilanda kesunyian, mata yang tak saling menatap sedari tadi seketika saja telah diguratkan sebuah perasaan. Luka, tanpa Len sadari, sedari tadi sudah menarik dirinya untuk bangkit. Tangannya menarik leher baju milik Len, hingga akhirnya kedua wajah jelmaan terindah itu tak lagi memiliki jarak. Sebuah kecupan mengisi bilik keheningan dalam hati. Dan Len terbelalak terkejut karena mendapati dirinya telah dinodai dengan sebuah nafsu dari orang yang tercinta.

"inilah resikonya mencintaiku Len" kata itu terucap saat kedua bibir itu telah terpisah. Ciuman itu mewakili pernyataan Luka tentang kesiapan seseorang yang mencintai sosok beku seperti dirinya. Belum lama detik waktu berlalu, Len lagi – lagi mendapati bibir manis Luka telah mengolesi bibirnya.

"dan hanya ini bentuk perasaan yang kumiliki" Len masih tertegun. Ciuman yang kedua mewakili pernyataan Luka tentang balasan yang orang dapatkan dari sisinya yang tidak memiliki perasaan, paling tidak Luka masih punya nafsu untuk membalas cinta yang dia abaikan. Tapi sepertinya tidak semua pikiran sejalan dengannya. Luka masih ingin mengecup bibir pria itu sekali lagi, namun melihat tanda bahwa Luka akan melakukannya lagi, Len secepat mungkin menahannya. Menyelipkan telapak tangannya menutupi bibirnya sendiri sebelum bibir Luka kembali menjamah bibirnya. Dan disanalah Luka menyadari jika dia hanya mencium pucuk tangan pria itu, bukan bibirnya.

"jika kau menyamai cintaku sama seperti nafsu. Sudah dari dulu kau kupaksa untuk.." Luka yang mendapati dirinya telah diperdaya, bibir Len mengulum bibir miliknya penuh dengan kehangatan, awalnya diselingi dengan kelembutan, dan Luka membalasnya perlahan. Namun lambat laun Len tak lagi menghiraukan kesesakan yang Luka rasakan, pasokan oksigen yang tadinya cukup untuk beberapa pagutan kini telah menipis sirna. Luka memaksa tubuh Len untuk menjauh, mendorong tubuh pemuda itu untuk melepaskan kecupannya walau untuk sesaat. Tapi sepertinya untuk kali ini Len begitu enggan menuruti kemauannya.

Tidak peduli sedang berada dimana mereka sekarang, tidak peduli siapa yang memergoki mereka nanti, Len hanya tidak ingin Luka menolak perlakuannya untuk saat ini. Hanya untuk saat ini.

"L-len.." Luka berhasil meloloskan dirinya dari dekapan Len, nafasnya terengah – engah menahan lelah, namun hanya sedetik saja membiarkan Luka bernafas, Len sudah bergerak kembali merangkul wanita itu, mencumbuinya sekali lagi, bibir Luka yang membuatnya ketagihan kini dia anggap sebagai miliknya sesukanya.

Tangan pemuda itu liar menelusuri setiap lekuk tubuh Luka, bermula dari punggung, kini pinggul sekitaran pinggang, dan bahkan sudah betah bersarang merabai sekitar paha putih Luka, yang kebetulan saat itu hanya menggunakan rok pendek saja. Tangannya yang lain lebih mendominasi bagian dada wanita itu, menekannya semaunya hingga tanpa sadar Luka pun tak mampu menahan gairahnya. Perbuatan Len dia sambut dengan pasrah, mendorong nafsunya segera mendesak keluar. Seakan mampu menampilkan sisi liarnya yang akhir – akhir ini berhasil dipancing keluar oleh pemuda lain selain Len, Yuuma. Luka mendesah, gerakan erotis dari tangan Len yang kini telah berpindah merabai kewanitaannya membuat desahan tertahannya meledak. Len suka suara seksi itu, memancing hasratnya untuk melakukan hal yang lebih nikmat pada tubuh wanita yang sedari dulu sudah begitu diinginkannya. Mungkin tidak hanya Yuuma saja yang menyadari sisi liar Luka, karena Len pun ternyata bisa merasakan jika gairah wanita yang sedang dia kulum sekarang ini tidak semua wanita memilikinya.

Len mendorong tubuh Luka perlahan menggunakan langkah kecilnya untuk merapat kedinding. Mungkin akan menghemat energi untuk mereka berdua jika mereka segera bersandar. Memberi jedah, Len pun menarik bibirnya dari pagutan Luka. Nafas mereka terengah hebat, seakan baru saja berlari mengarungi gunung dan lembah secara bergantian. Len tersenyum, dia berhasil membuat Luka mengikuti permainan erotisnya. Memandangi wajah Luka yang menunduk, berusaha merilekskan otot – ototnya yang kini sedang berinteraksi menyeimbangi rangsangan seksualnya. Keringatnya bercucuran, dan Len suka dengan bibir merahnya yang sekarang sedang terbuka basah dengan erotisnya.

Membiarkan pintu ruangan masih terbuka, kini Len membantu Luka menyandarkan tubuhnya rebah disatu – satunya tempat tidur pasien diruangan itu. Otak Luka belum sempat mencerna apa yang sedang dilakukan Len pada dirinya, dan atas maksud apa Len membaringkannya disana, sampai saat dia sadar Len sudah siap melepaskan kemeja yang sedari dia pakai, dan tubuhnya sendiri kini sudah rebah dengan pose yang begitu menawan dimata Len.

"L-len.. aku pikir ini bukan tempat yang tepat untuk melakukannya" ucap Luka dengan nafas berat. Kewarasan masih mengambil kontrol otaknya. Len tetap tidak peduli, dia menarik tirai penutup ruangan itu, karena jika Luka tidak mau perbuatan mereka diketahui penghuni rumahsakit, Len hanya tinggal menutupi tindakan mereka dari mata yang memandang kan?

Luka mendapat cumbuan itu-lagi bertubi – tubi menyerang lehernya, menyusup kedadanya dan juga kedalam nalurinya. Wanita itu benar – benar telah menikmatinya. Tapi bukan itu yang dia inginkan sekarang, batinnya secepat mungkin memaksa mengutuki dirinya sendiri jika apa yang sedang dia lakukan kini adalah sebuah hinaan, hinaan terhadap perasaannya, terhadap pekerjaannya dan terhadap apapun yang sedang dia takuti kini.

Mencoba mengabaikan gairah liarnya yang tengah bangkit, batinnya menuntut tangannya untuk bergerak, disisa kewarasannya, dia menampar pipi Len cukup keras, hingga akhirnya Len terhenti sesaat itu juga.

"lepaskan Len, i-ini sudah cukup untukku" wanita itu mengangkat tubuhnya bangkit walau Len masih berada diatasnya, rasanya kini begitu enggan untuk menyentuh tubuh pria itu. Bergerak merapikan pakaiannya yang hampir sepenuhnya terbuka, Luka mengatur langkah untuk meninggalkan Len yang masih tetap pada posisinya. Menyesali apa yang baru saja disakitinya.

-][-

Meiko menutup pintu rumahnya, kepulangannya akhir – akhir ini memang lebih sering larut malam. Rasa lelah meliputinya, hingga setiap pulang kerumah rasa – rasanya dia ingin sekali untuk langsung terlelap. Niat hati mengabaikan kehadiran Len yang akhir – akhir ini menjadi jauh lebih baik, jadi rasanya tidak lagi Meiko harus mengkhawatirkannya, namun langkah Meiko segera terhenti saat tanpa sengaja matanya menatap sesosok tubuh yang sangat dikenalnya tergeletak tak berdaya dengan beberapa barang yang cukup berserak bahkan pecah berkeping – keping disekitarnya. Meiko melempar tasnya tanpa arah, meraih tubuh Len yang sudah terbujur disana. Dapat dilihatnya ada segores luka didahi Len entah disebabkan oleh apa. Membantu tubuh Len bangkit berdiri dan menyandarkannya keatas sofa, Meiko segera membenahi kekacauan diruangan itu. Tapi tak bisa membantu Len membenahi kekacauan hatinya.

-][-

Hari yang ditunggu beberapa orang pun tiba. Gakupo cukup sabar menahan dirinya menanti pemutaran perdana iklan yang dibintangi Kaito diruang rapat diperusahaan yang Miku pimpin. Disana sudah menunggu beberapa orang penting yang ikut serta dalam daftar orang yang berpengaruh terhadap iklan tersebut, beberapa mitra kerja dari perusahan pendukung, Miku, Kaito, juga Luka dan juga Yuto Yuuma, yang awal mulanya datang dengan paksaan karena harus menggantikan kehadiran ayahnya. Namun saat ini wajahnya lah yang paling bersinar karena tanpa dia duga Luka juga turut hadir disana. Dia tidak mau tau apa peran Luka dalam bisnis yang sama sekali bertolak belakang dalam ilmu kedokteran. Karena dia hanya fokus pada Luka. Luka. Dan Luka.

"baiklah, ini adalah proses akhir dari mahakarya seorang sutradara berdedikasi dan sang aktor kita" ucap salah satu moderator pembawa alur rapat. Semua orang bertepuk tangan sejenak, dan senyum langsung mengembang diwajah Kaito dan sang sutradara. Setelah itu rekaman video pun terputar. Semua mata menyaksikan seorang Kaito dengan gaya bak seorang pengusaha sukses mengemudikan mobilnya dengan sebuah senyuman memikat kesuatu tempat. Dan disana bertemulah dia dengan seorang gadis yang sedari tadi mungkin sedang menunggunya. Setelah mobilnya menepi, Kaito tersenyum turun dan langsung menghadap sang gadis yang merajuk sambil mengembungkan pipinya. Mungkin karena Kaito telat menjemputnya, akhirnya Gadis itu membuang pandangannya dan bersikap cuek pada Kaito. Dengan salah tingkah Kaito tampak menyesal, dia memohon ampun pada gadis itu tapi tetap saja tak direspon.

"sebagai permintaan maaf, aku akan mengajakmu belanja apapun yang kau mau" mohon Kaito, dan gadis itu tak bergeming.

"akan kubelikkan cokelat!" Tetap saja gadis itu tak mau tau.

"bagaimana kalau kita menikah?" Kaito tampaknya kehabisan penawaran.

"aku tidak mau" gadis itu cuek menjauhi Kaito.

"bagaimana dengan ini?" Kaito menunjukkan sebuah kunci yang menggantung di jarinya pada gadis itu. Tanpa diduga gadis yang semula cuek itu merampas kunci ditangan Kaito cepat dan menaiki mobil pemuda itu.

"kalau begitu selamat tinggal!" dan tinggallah Kaito dengan penyesalan mendalam dan rengekan ditempatnya berdiri. Iklan pun selesai.

Beberapa orang bertepuk tangan, namun rasanya Kaito malu sekali. Dan Miku malah tampak geli menahan tawa. Berbeda dengan Gakupo yang kelewat percaya diri dengan project pertamanya dengan Kaito saat itu. Sedangkan Yuuma, fokusnya hanya menatap Luka di hadapannya.

"intinya, sebuah pernikahaan pun tak bisa mengalihkan pandangan seseorang dari barang mewah itu" Gakupo asal bicara dengan bangga.

"ini konsep sempurna ku" serunya lagi.

"sudah hentikan Gakupo, kau membuatku semakin malu" ucap Kaito tak tahan.

"ayolah.. aku yakin ini adalah mahakarya kita. Jangan sungkan. Dan sebentar lagi mungkin Miku-chan akan membayarku lebih nanti" senyumnya memandang kearah Miku bahagia.

Yang dilihat hanya berusaha memalingkan pandangannya kearah lain, tak sengaja melihat Luka ditempatnya yang sedang didekati oleh seseorang pria yang akhirnya Miku ingat siapa dia.

"kau orang yang dulu pernah mengintipku kan?" ucap Miku setengah berbisik kepada Yuuma. Pemuda itu memasang raut wajah khawatir, sebelum orang – orang menyalahi dia yang macam – macam. Maka dia pun menarik Miku keluar dari ruangan. Dan meninggalkan Luka yang tampak tidak begitu peduli dengan urusan mereka.

Perasaan hati Luka tidak ada yang tau sedang sekacau apa akhir – akhir ini. Jangan salahkan kenapa tak ada seorangpun yang mengetahuinya, salahkanlah dirinya sendiri karena dia memang lebih suka menutupi beban hatinya. Tentang Len, kekasihnya. dan belum lagi masalah ingatannya akan kejadian malam bersama Yuuma telah kembali seutuhnya. Tidak hanya merasa memalukan, dia juga merasa jijik pada dirinya sendiri. Untuk apa dia membalas cumbuan orang yang tidak dia kenal?

Sedari tadi, bukannya Luka tak merasakan keberadaan Yuuma yang mengintainya, berusaha memandangnya dan tersenyum lembut padanya. Melainkan, Luka sedang berusaha mengabaikan perasaannya sendiri akan pria itu. Karena jika memandang pemuda itu, efek yang datang setelahnya, akan membuat perasaannya semakin tak menentu. Perasaan bersalah pada diri sendiri yang amat membuatnya tertekan.

"lama tak melihatmu" suara Kaito menarik perhatiannya yang sejak awal tak terlalu berperan. Pemuda itu tersenyum saat Luka menatapnya, lalu mengambil langkah memaksa Luka menemaninya sebentar selagi memiliki kesempatan bertemu dengan wanita itu. setelah berjalan beberapa meter mencari tempat, kini mereka tengah berdiri diberanda ruangan Miku diperusahaan itu. Luka yang akhirnya memilih tempat itu, dia tidak terlalu ingin berada dikeramaian untuk sekarang ini. Dan rasanya Miku tidak akan menolak permintaannya untuk meminjamkan ruangan miliknya. Tempat itu cukup sejuk, sisi beranda adalah tempat yang paling nyaman, sejuknya angin mendung siang itu seakan ikut menghembuskan beban yang akhir – akhir ini Luka rasakan. Tatapannya lurus kedepan, tanpa titik pandang yang bisa diartikan.

"apa kau sedang patah hati?" ucap Kaito berusaha bersikap lunak, kesenjaan hati Luka saat ini sepertinya akan menjadi sesuatu yang terlalu sensitif untuk dibahas, tapi rasanya dia tidak terlalu mau tau resikonya nanti.

"atau sedang jatuh cinta?" Kaito menebak lagi.

Luka hanya mencoba membalas dengan senyuman, angin – angin itu terlalu menyibukkan dirinya untuk merapikan rambutnya yang teracak – acak.

"masih sulit ditebak ya" senyum Kaito tak menunggu Luka menjawab.

"Kaito" suara itu membuat Kaito menoleh.

Jedah diantara suara itu, membuat Kaito memikirkan hal hampa, sedangkan Luka memikirkan hal aneh yang baru pertama kali ini ingin di ucapkannya. Mengambil resiko.

"boleh aku menciummu?" lanjut Luka dengan ekspresi datar, dari pada disebut permohonan, Kaito bingung menyebut permintaan ini serupa apa. Terlalu tak berekspresi.

"untuk apa?" tanya Kaito penasaran. Dan yang ditanya malah diam.

Terdiam lagi, dan angin menyelubungi keberadaan mereka secara bersamaan.

"aku bukan milikmu Luka, seharusnya kau juga tahu jika aku masih punya harga diri" seru Kaito jual mahal, dan entah kenapa Luka jadi tersenyum. Perasaan sesaknya seakan terangkat hilang.

"aku hanya ingin memastikan perasaan seperti apa yang sedang aku rasakan untukmu. Tapi jika kau sudah terlanjur mengumpulkan harga dirimu untuk menolakku. Aku akan menghargainya" seru Luka.

Perasaan seperti apa? Kah? Kaito menimbang detik – detik untuk mengambil keputusan. Tidak banyak kesempatan baginya dan Luka untuk memastikan perasaan tak jelas mereka selama ini.

"boleh. Aku juga butuh kepastian secepatnya untuk masa depan perasaanku" Kaito tersenyum. Dan Luka juga tersenyum.

Seolah ingin angin menyaksikan mereka, tiupan anginpun terasa begitu sempurna. Kaito bergerak melangkah merangkul pinggul Luka, merengkuh sang terkasih hingga bibir mereka saling bersentuhan. Kaito mengecup, Luka membalas, keheningan memberikan mereka kesempatan untuk memahami perasaan mereka masing – masing. Tak ada detakan untuk perasaan Luka. Dan setelah cumbuan singkat namun cukup panas itu mereka selesaikan, mereka pun saling menatap. Untuk pertama kalinya setelah kepedihan yang Luka alami dalam hidupnya. Kaito melihat Luka tertawa begitu bahagia, didepan matanya saat ini juga. Luka sedang menahan senyuman itu diwajahnya.

"terimakasih Kaito-kun" ucapnya mencubit pipi Kaito lembut. Sifat yang begitu Kaito rindukan sejak dulu.

"sekarang aku sudah tau bagaimana perasaanku padamu. Tidak pernah berubah semenjak dulu. Kau memang sahabat baikku" Luka mengakhiri tawanya.

"dan akan selamanya menjadi sahabat baikku" dipeluknya Kaito dengan dekapan bahagia.

"kau sahabat terbaikku" lanjutnya lemah.

"kau juga sahabat baikku ku Luka. Dan selamanya akan tetap begitu" Kaito membalas pelukan itu dengan perasaan beban yang terbuang. Kini dia tau langkah apa yang akan diambilnya. Luka telah menolaknya dengan pasti, dengan mengakui hubungan persahabatan antara mereka berdua, begitulah cara Luka mengusir pergi rasa cinta yang tertumpuk di hati pria itu.

"kita adalah sahabat baik selamanya" Kaito mengusap puncak kepala Luka dengan penuh kasih sayang.

-][-

"waktu itu aku hanya ingin memastikan apakah perusahaan ini telah menyetujui project kerja iklan yang dibintangi Kaito atau tidak" ucap Yuuma setelah Miku habis – habisan menerornya untuk mengaku. Ingatan Miku masih cukup kuat, karena dia memang cukup menganggumi ketampanan Yuuma dulu saat pertama mereka bertemu. Jadi dia bisa ingat sosok Yuuma walau dalam pakaian atau status yang berbeda sekalipun.

"apa hubungan perusahaanmu dengan Kaito?" Miku butuh penjelasan kuat.

"apa Kamui-san tidak memberikan alasannya?" ucap Yuuma

"apa project ini jebakan?" Miku mulai mengantisipasi kecurigaannya.

Namun yang ada Yuuma malah menarik nafas, sambil memandangi Miku yang masih terus – terusan menatapnya.

Memilih tempat untuk menjelaskan semuanya. Miku menggiring pemuda tampan itu disisi tersudut di wilayah kantin perusahaan miliknya. Memesan beberapa makanan yang ketepatan saat itu memang sedang jam makan siang. Sambil mengunyah makanan dengan rasa antusias, Yuuma pun menyelipkan beberapa kata yang sejak tadi berada dalam benaknya.

"kenapa Megurine Luka juga hadir dalam pertemuan tadi?" ucapnya sesudah meneguk minumannya.

"dia pemilik resmi perusahaan ini. Aku hanya mengoperasikannya saja" Miku memandang Yuuma yang sudah selesai dengan acara makan siangnya. Tak dia sangka pewaris tunggal dari VY2 itu adalah sosok yang berantakan dan tak beraturan seperti yang dia saksikan saat ini. Cara dia makan, bicara dan minum tak mencerminkan jika dia berasal dari ras elit.

"kau bercanda?" Yuuma hampir tak percaya dengan ucapan Miku yang terkesan tak peduli.

"kita ganti topik. Bukan saatnya kau menanyakan tentang Luka. Yang ingin aku tau apa hubunganmu dengan Kaito dan perusahaanku?" Miku tak sabaran.

Mengambil jeda sedikit, Yuuma bingung harus menjelaskannya dari mana. Tapi sedikitpun tidak ada niatnya untuk mengatakan hal yang tak sesuai dengan kenyataan pada Miku.

"ayahku hanya merasa bersalah dengan Kaito. Direktur yang terkena scandal dengan Kaito itu adalah salah satu direktur anak cabang perusahaan kami. Ayahku sudah mendengar semua pengakuan beliau dan sang beliau itu juga teramat sangat menyesal. Tapi ayahku tak bisa bilang apa dan bagaimana caranya untuk mengembalikan situasi kekejadian semula. Maka dari itu dia menyuruh Gakupo memaksamu untuk merekrut Kaito menjadi bintang iklan. Ayah bilang perusahaan ini dan perusahaan yang dia pimpin memiliki hubungan kerjasama yang baik dalam mendanai produk mobil yang Kaito iklankan, apa benar begitu?" tanya Yuuma dan Miku mengangguk cepat.

"untuk itu sebagai permintaan maaf, ayah ingin Kaito kembali bangkit" lanjut Yuuma lagi.

"apa dia tidak memikirkan dampak pemasaran yang akan menurun jika memakai nama Kaito nanti" Miku sebenarnya tidak ingin menanyakan hal ini, karena dia juga tak tahu kenapa dia bisa merasa yakin tidak apa menggunakan Kaito. Tapi rasanya dia penasaran dengan pemikiran orang lain tentang pertanyaan yang dia sendiri tidak begitu tahu jawabannya.

"seperti yang kukatakan tadi, perusahaan ini dan perusahan yang ayahku pimpin sama – sama mendanaikan? Jadi jika memang berdampak buruk bagi penjualan, perusahaan ayah pun pasti akan merugi. Dia sengaja memilih produk yang dia danai untuk uji coba terhadap karier Kaito" Yuuma merasa yakin dengan penjelasan panjangnya. Dan Miku pun mengangguk mengerti.

Gakupo memang tidak pernah menceritakan detailnya seperti yang Yuuma sampaikan padanya saat ini. Tapi rasanya Gakupo memang sudah melakukan tugasnya dengan baik. Walau hanya karena dia begitu mencintai uang.

"jadi.. pembahasan tentang Luka bisa kita lanjutkan?" Yuuma mendesak Miku.

Gadis itu bangkit berdiri, berlagak sombong dengan sikap angkuhnya, dan menatap Yuuma. Seperti sedang ingin menjahili pemuda itu disana.

"dia sudah punya pacar. Lebih baik kau tidak usah menyusahkan diri untuk menarik perhatiannya. Kuperingatkan padamu. Bahkan aku sendiri saja tidak bisa menyentuh hatinya. Apalagi orang asing sepertimu" Miku meninggalkan meja itu, ruangan itu, tanpa memikirkan panggilan Yuuma yang mencoba menghentikannya.

Mencari Luka dipelosok manapun adalah tujuan Yuuma sebelum dia meninggalkan perusahaan itu setelah misinya mengikuti rapat selesai. Paling tidak sekali saja dia diberi kesempatan untuk bisa bicara dengan pujaannya itu.

Dan saat kakinya melangkah mencari jejak, matanya pun tertuju pada ketiga orang yang sudah menunjukkan dirinya dari balik lift dilantai itu.

Sosok yang sangat dia kenal, Megurine Luka sedang dirangkul oleh seorang pemuda berambut biru, dan didampingi sosok lainnya, Miku. Ada tawa Luka disana, saat dia berusaha menepis tangan Kaito yang masih betah merangkul pinggangnya sepanjang mereka melangkah. Mereka terlihat saling tertawa, walau Kaito masih tidak rela melepas rangkulannya.

"Kaito-san, sekarang kau itu bakal kembali jadi bintang. Jadi jangan membuat gosip yang tidak – tidak. Lepaskan rangkulanmu dari One-chan ku" ucap Miku ikut menarik tangan Kaito, dan lagi – lagi mereka tertawa, melupakan jika banyak mata yang terus memperhatikan mereka. Sedangkan dalam pandangan mata orang lain yang memandang, mereka bertiga terlihat seperti dalam drama – drama kerajaan Tiongkok, seorang permaisuri, selir dan raja.

"tak apa kan Luka? Habisnya sejak dulu kau paling tidak suka diperlakukan begini" ucap Kaito, mempererat rangkulannya, dia tahu Luka tak akan menolaknya.

"asal nantinya tidak ada calon fansmu yang akan menyiksaku dengan teror" Luka tersenyum, di cubitnya bagian perut Kaito hingga pemuda itu meringis kesakitan.

Sepasang mata yang menatap mereka itu menyimpan kepedihannya sesaat. Yuuma telah merasa patah hati bahkan sebelum dia mulai mencintai.

"hei, kau masih berada disini?" suara Miku mendesak Yuuma untuk segera melupakan perasaan hancurnya. Dilihatnya tangan pemuda itu masih merangkul Luka.

"temanmu Miku?" Kaito memandang Miku sekilas.

"ah, dia yang ikut serta dalam mendanai produksi dari mobil yang kau iklankan itu Kaito-san"

"rapat telah selesai, kau tidak pulang Yuto-san?" Luka memandang wajah Yuuma datar.

"ya, sebelum berpapasan dengan kalian, aku memang sudah mau pulang tadi" ucap Yuuma berkelit.

Yuuma membalik tubuhnya, melangkah menjauhi ketiga manusia yang berbeda warna itu masih di tempatnya. Saat dia mengatur langkahnya, menahan kegetirannya. Luka mencuri pandang kearah dimana pemuda itu menjauh. Jangan salahkan Luka yang bersikap terlalu dingin dengan perasaan orang lain Yuuma, masalahnya Luka sendiripun tidak terbiasa mempedulikan perasaannya.

Ucapan terakhir Luka mampu menambah kesakitan Yuuma. Didalam mobil, pikirannya tidak bisa fokus untuk memperhatikan jalanan dihadapannya. Apa Luka tidak pernah menimbang pengakuan cintanya tempo hari lalu? Tega sekali. Semua cuplikan bayangan tadi masih menghantui perasaannya. Dan juga, senyum Luka saat itu membuatnya tak bisa berkata. Untuk pertama kalinya Luka tersenyum polos seperti itu, namun dengan pemuda yang bernama Kaito.

Tak terbayangkan olehnya, tiba – tiba saja sebuah sambaran mobil dari arah belakang hampir menabrak mobil Yuuma yang tiba – tiba berhenti seketika. Untung saja jalanan itu tergolong sepi, jadi saat Yuuma benar – benar terhenti ditengah jalan tidak terlalu menimbulkan banyak masalah dijalanan. Mencoba untuk tenang dan menepikan mobilnya, Yuuma berpikir sejenak. Dia ingat satu kenangan yang tak bisa dia lupakan mengenai nama yang sedari tadi dia lafalkan. Kaito, nama itu yang Luka sebut saat dia mencumbui wanita itu malam lalu. Dan setelah melihat kedekatan mereka, Yuuma tak meragukannya lagi. Pemuda itulah yang sedang Luka cintai, bukan Len yang harusnya berstatus menjadi pacarnya.

Ingin mendapatkan kepastian, Yuuma kembali mengemudikan mobilnya kearah suatu tempat dimana dia bisa menemui Luka disana. Secepatnya dia ingin tau perasaan apa yang membuat Luka begitu bahagia berada disamping pria itu.

-][-

"kau mau kemana?" Meiko menatapi Len yang sudah selesai membenahi dirinya.

"menemui seseorang" ucap Len tak berdusta dengan niatnya ingin memenuhi Luka. Meiko bangkit dari tempatnya, dia sengaja pulang lebih cepat karena mengkhawatirkan adiknya yang sebelumnya mengalami kekacauan dalam hidupnya.

"Megurine Luka, dia maksudmu kan?" ucap Meiko menghentikan langkah Len.

"kau kenal dia?" Len memandang kakaknya dengan tatapan penuh pertanyaan.

"kau dan dia punya hubungan apa Len?" Meiko menginterogasi.

Len menarik nafasnya, dia mundur beberapa langkah untuk mengatur posisinya, duduk kembali disofa ruangan itu dan memandangi Meiko tanpa ekspresi.

"hanya sepasang kekasih. Tidak lebih" ucap Len sama datarnya dengan ekspresinya.

"kau gila Len? Megurine itu tidak cocok untukmu!" ucap Meiko menahan amarah.

"ya, aku memang menyadarinya. Tapi aku mencintainya" Len menerawang kekosongan batinnya.

Meiko memutar kembali kenangannya tentang si Megurine, dulu dia dan Luka pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang sama. Walau kenangan yang dia punya dengan Luka tidaklah banyak. Namun Meiko ingat seberapa banyak gosip buruk yang dulu mencemari nama gadis itu. Meiko memang tidak bisa membenarkan segala gosip yang didengarnya saat itu, karena kepopuleran Luka memang rentan dengan gosip – gosip yang tidak enak.

Namun satu kepingan yang Meiko ingat, Luka itu berasal dari keluarga yang telah hancur, sering terlihat akrab dengan pria – pria dari luar wilayah sekolah. Dan memiliki predikat gadis penggoda, walau Meiko memang tidak terlalu yakin sebelum melihatnya sendiri.

"dan dia mengkhianatimu?" Meiko menjalari wajah Len dengan padangan matanya.

"entahlah. Apa aku salah nee-chan? Aku sudah berusaha merubah peringai burukku agar dia bisa menerimaku. Dan saat akhirnya dia menerimaku, rasanya aku tidak lihat apa yang aku harapkan dari pikirannya" Len berucap penuh kelemahan.

"dia memang seperti itu Len, kau tidak akan bisa mendapatkan ekspresi yang kau mau darinya" Meiko seakan tahu kepribadian Luka yang bisa dia tangkap dulu, insting wanitanya berbicara.

Len berubah pikiran, setelah akhirnya Meiko membiarkannya pergi. Dia tidak terlalu kuat melangkah kearah dimana Luka bisa dia temui sore itu. Dia malah memutar balik tujuannya dari rumah sakit menuju ketempat yang bisa memberikannya penghiburan walau sedikit. Masih belum bisa menunjukkan wajahnya dihadapan Luka setelah apa yang dia lakukan saat itu pada wanita itu. Namun ditempatnya, Luka berusaha menghubungi Len melalui ponselnya. Tidak ada jawaban dari sipemilik ponsel, hanya suara operator yang menyambutnya. Luka akhirnya mengetikkan beberapa pesan agar Len bisa membacanya nanti, sebuah permintaan maaf yang tulus pun tertuliskan.

Len, kau baik – baik saja kan? Beberapa hari ini kita tidak bertemu dan aku mengkhawatirkanmu. Maaf jika membuatmu tersinggung, dan aku ingin meminta maaf langsung karena tamparan yang ku berikan waktu itu. Bisa kita bertemu?

Pesan singkat itu pun terkirim, berharap Len tidak terlalu lama memendam dendam padanya.

-][-

Yuuma sudah berdiri manis disisi mobil mewahnya. Dengan tatapan yang terlihat berbeda, pemuda itu mendapati Luka yang baru saja tiba mendekati rumah sakit dimana dia bekerja.

"hampir dua jam aku menunggumu. Aku pikir kau tidak akan kesini hari ini" Yuuma menghampiri Luka dengan cepat.

"ada yang ingin kubicarakan padamu. Bisa kita bicara disuatu tempat?" Yuuma memohon.

"ada laporan yang harus kuselesaikan hari ini juga. Aku tidak punya waktu bermain – main denganmu" Luka tidak mempedulikan pria itu ditempatnya, dan Yuuma sepertinya tak ingin memaksa, hingga membiarkan Luka berjalan memasuki rumahsakit untuk meninggalkannya.

Membiarkan waktu berlalu percuma, Yuuma masih menunggu disana, hingga malam pun menyebar menutupi langit, Yuuma masih tetap disana. Menunggui Luka untuk sekedar berbicara pada wanita itu. Luka bukan tipe wanita yang mau memberikan kesempatan percuma untuk orang – orang disekitarnya. Dan Yuuma rasa menungguinya sekarang adalah salah satu pembuktian jika dia sangat serius dengan wanita dingin itu.

Waktu kerjanya selesai, ada perasaan cukup lega karena sebelumnya Luka sempat berpikir jika dia tidak akan bisa menyelesaikan laporan pemeriksaan yang harus di esainya hari ini. Tapi, setelah mendapati mobil Yuuma yang masih terparkir disisi luar gerbang rumahsakit, Luka kehilangan kesabarannya. Padahal saat itu jam telah menunjukkan pukul sepuluh tengah malam, dan pemuda itu masih tetap menungguinya disana, tertidur lelah didalam mobilnya.

Luka mengetuk kaca mobil itu, membuat suara kecil yang berhasil mengembalikan kesadaran Yuuma disana, dengan cepat Yuuma segera terbangun, memandangi sekelilingnya, terang telah berganti gelap, lalu mendapati wajah Luka dengan mimik geram dibalik jendela mobilnya.

"aku bisa meneriakimu sebagai penguntit jika kau masih tidak bisa pergi dari sini" Luka menatap pria itu setelah mereka sudah saling berhadapan.

"aku tidak mengganggu laporanmu kan? Aku hanya ingin membicarakan sesuatu padamu. Itu saja" Yuuma membela dirinya sendiri. Dihadapan Luka dia selalu dianggap salah.

"bicarakan sekarang saja. Aku tidak ada waktu menemanimu ketempat lain" Luka memalingkan wajahnya kearah lain, melipat kedua tangannya didepan dadanya sambil menahan kesal.

"tentang Kaito, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama" Yuuma berusaha membujuk.

Amarah Luka naik meresap kesetiap inchi tubuhnya. Tidak adak hak nya si pria berwarna nyaris sama dengan dirinya ini mengurusi masalah Kaito.

"aku tidak tau kenapa kau mulai mengurusi kehidupanku. Peristiwa malam itu, mungkin bisa ku anggap tidak terjadi apa-apa. Tapi aku mohon padamu Yuto-sama!, menjauh dariku dengan jarak yang tak lagi bisa aku lihat. Kaito, Len, bahkan tentang perasaanku harusnya tidak usah kau urusi. Kita tidak punya hubungan apapun selama kita saling mengenal, bahkan aku tidak pernah tahu namamu dengan jelas sampai saat ini. Jadi tolong jangan usik pikiranku sekali lagi" Luka mulai membatasi pikirannya tentang Yuuma. Dia tidak peduli Yuuma akan berpikir apa tentangnya, yang harus dia pastikan saat ini hanyalah Yuuma bisa menjauh dari hidupnya.

"kau yakin dengan ucapanmu Megurine-san?" raut wajah Yuuma mulai berubah. Di hujat dengan kalimat – kalimat barusan itu membuat perasaannya memanas.

"tolong beri aku kesempatan untuk menikmati hidupku sendiri. Aku sudah muak dengan kehadiran orang yang secara bergantian merusak keputusan hidupku" Luka menahan kumpulan amarah yang telah menumpuk sekian lama dihatinya.

"baiklah. Aku mengerti" Yuuma menundukkan wajahnya, seiring kesunyian yang Luka timbulkan, kini hatinya terasa tengah retak berkeping menjadi butiran debu yang telah tertiup terbang oleh angin entah kemana, tak bisa lagi ditemukan untuk dikumpulkan. Bahkan rasanya kehilangan Yukari saat itupun tidak terlalu menyakitkan seperti ini baginya. Jelas, karena Luka sudah merebut segala hak atas dirinya sendiri.

"maaf membuang waktumu Megurine-san" ucap Yuuma tanpa memandang wajah wanita itu, menunduk memasuki mobilnya dan segera meluncur dari sana meninggalkan Luka sendirian.

Luka mendengus kesal, jalan pulang tak lagi sesuatu yang bisa dia tuju untuk saat ini, dia melamun dalam langkah sunyinya. Memikirkan rumitnya kini kehidupan yang dia jalani. Andai saja dia bisa jatuh cinta dengan Len, dan memutuskan pria itulah yang akan membuatnya bahagia, dia tidak akan tersesat seperti ini dengan perasaan bekunya.

Memandangi kelamnya langit yang sama kelamnya dengan perasaannya saat itu, Luka sadar langkahnya telah berubah menuju suatu tempat yang dia cukup kenal saat itu. Terdiam memandangi wajah tempat itu, sekilas Luka melihat beberapa pasang saling mengecup sambil melangkah maju maupun keluar dari sana. Luka memutuskan untuk masuk, mungkin sedikit hiburan mampu menenangkan kesenjangan perasaannya. Lagian dia sudah lama tidak berkunjung kesana, dulu saat sekolah akhir, Kaito dan Toukai sering mengajaknya kesana. Mengelabui para penjaga dengan identitas palsu akan umurnya. Mereka sering membuat masalah, namun lagi – lagi sang pemilik akan menyambut mereka dengan baik.

Mendapati seorang bartender yang masih sama seperti yang sering dia lihat sejak SMA dulu, membuat Luka tidak lagi canggung. Masa kelam saat SMA nya dulu, mungkin si bartender ini juga tahu jelas. Sedikit kisah tentang masa lalu Luka saja bisa membuat orang tercengan, apalagi sepenuhnya.

"lama tidak melihatmu nona manis" Seorang dengan surai kuning menyambut Luka dengan senyuman, sedangkan tangannya sibuk meracik sesuatu.

"aku juga, Lily" Luka memaksa senyumannya. Dentuman musik membuat telinga Luka cukup tuli, tapi dia tidak mempermasalahkannya lebih lama. Dia hanya harus mulai terbiasa lagi ditempat itu.

"aku pesan lemon tea saja bisa?" Luka memandang Lily sejajar, dan gadis itu hanya melongo.

"hei, sejak kapan kau melupakan alkohol? Masa SMA mu diserang apa sampai kau lupa minuman favoritmu dulu, bahkan sejak umurmu masih labil kau sudah merasai mereka satu persatu" ucap Lily sedikit protes.

"Lily sayang, aku dokter sekarang. Ilmu yang kudapatkan membutakanku terhadap cinta pertamaku itu" ucap Luka menghumbar senyum sempurnanya, dan menanggapi itu Lily hanya tertawa.

"dasar maniak" ucapnya dengan memberikan segelas lemon tea untuk Luka disana.

"rokok?" Lily menawarkan hal yang biasa di nikmati Luka dulu disana.

"sudah tobat" Luka mengecap lemon tea pesanannya. Pandanganya pada Lily menyulap sebuah senyuman di wajah keduanya. Lily benar – benar tidak percaya Luka yang dulunya lebih liar dari dirinya, kini mengatakan tobat.

"waktu hidupmu masih lama lagi kan kawan?" Lily mendekatkan wajahnya pada Luka.

"doakan saja umurku panjang" Luka menopang dagunya, membalas tatapan Lily yang semakin lama terkesan erotis atas dirinya. Menantang pandangan itu semakin tajam, Lily menurunkan tatapan matanya ke daerah dada Luka. Tak ada yang menyangkal, nafsu sang bartender itu hanya akan menyala pada seorang wanita, dan Luka pernah merasakannya dulu.

"masih suka berhubungan seks?" Lily membiarkan tangannya menggenggam tangan Luka yang satunya, mendekatkan wajahnya kearah si merah muda dan mendaratkan satu kecupan erotis di bibir Luka, mereka dulu biasa melakukan itu, Luka membalas, Lily merespon, tak lagi mereka hiraukan jika cukup banyak mata yang memandangi mereka. Pasalnya karena orang - orang disana tidak terlalu familiar pada sosok Luka yang ternyata cukup dekat dengan bartender mereka. Setelah cukup puas, Lily menarik bibirnya, saat bertatapan, mereka tersenyum.

"aku menunggumu melamarku" mendengar itu, Lily menepis tangan Luka cepat dan segera merutuki wanita itu yang kini sedang tertawa. Lily selalu mengaggumi senyum Luka dari dulu.

"kau banyak berubah ya? Cepat sekali. Mau jadi biarawati? Bukannya harus perawan?" waktu Lily cukup lengah hari ini, tidak begitu banyak pelanggan yang merepotinya hingga dia bisa mengajak Luka bicara lebih lama.

"saat masih perawan dulu aku juga tak berminat" Luka mengangkat bahunya seakan tak peduli. Lily hanya tersenyum mengimbangi.

"kau sendiri, sudah dapat penggantiku?" Luka mendekatkan wajahnya kearah Lily yang masih menunduk memandang wajahnya.

"ayolah Luka, di duniaku, masih banyak gadis yang lebih hebat darimu. Perawan pula" Lily berbicara sombong.

"tidak sepertimu, baru tahun pertama di SMA saja sudah tak suci lagi, tapi aku tetap tak percaya loh kau sudah bertobat" ucap Lily mengacungkan telunjuknya kearah Luka.

"tahu dari mana kau? Tukang gosip"

"jelas tahu! Dell yang bilang sendiri padaku. Dia orang pertamamu kan?"

Bisa Lily dengar suara kesal yang keluar dari mulut Luka. Oke, salahkan dirinya sendiri karena bicara terlalu banyak didepan Luka, tapi bukannya mengelak, Luka malah tertarik untuk membahasnya. Tak apa, mungkin membicarakan masa lalunya bisa melupakan kekesalan hatinya akan Yuuma sebelum dia melangkah kesini tadi.

"mana Dell? Aku mau bicara padanya" Luka meneguk habis minumanya, dan Lily terlihat berusaha menelan ludah yang menyangkut ditenggorokkannya.

"hei.. hei.. hei.., aku hanya bercanda kok" Lily menepuk – nepuk bahu Luka disana.

"Dell tidak pernah bilang begitu. Aku saja yang ingin mengganggumu" dia menyulap kepanikannya menjadi senyum diwajah. Dia masih ingat jika sedang marah, Luka menyeramkan.

"aku tidak suka kau bicara begitu pada orang lain Lily" Luka menatap Lily tajam.

"sorry Luka" ucapnya tersenyum.

"kau sedang ada masalah ya? Seperti tidak tau aku saja" ucapnya menambahkan gelas kosong Luka dengan Lemon tea kembali.

"maaf, aku yang sedang kesal" Luka mengelah nafasnya panjang. Dia lupa Lily adalah satu – satunya orang yang paling tahu tentang dirinya dulu. Jika Lily suka membicarakan masalahnya, mungkin sampai sekarang Luka bisa temukan banyak makian yang datang padanya sekarang. Lily memang suka membuatnya kesal hingga marah, lalu ujung – ujungnya Lily akan membujuknya, merayunya untuk memaafkan, dan mereka akan kembali berteman. Seingat Luka, Lily pandai menjaga rahasia. Dan tentang Dell, Lily juga pasti lebih tahu kebenarannya. Kebiasaan wanita pirang itu memang cukup menakutkan, tapi Luka tahu dia adalah teman terbaiknya.

"orang pertamamu Kaito si aktor itu kan? Kau pikir aku bisa melupakan hubungan kalian dulu? Lalu kenapa kau menikah dengan kakaknya?" Lily menelisik kebenaran alasan yang sepertinya enggan dibicarakan Luka.

"masa lalu, tak usah dibahas" Luka meneguk lemon tea nya sekali lagi.

"dan aku harap hanya kau dan Kaito lah yang tau kalau..." ucapan Luka terhenti, malu rasanya jika mengingat masa lalunya. Apalagi ditengah sikapnya yang sepenuhnya telah berubah.

"kalau dia yang merebut keperawananmu.. ya kan?" Lily membisik di telinga Luka, dan sebelum Luka melemparkannya dengan sesuatu yang bisa mebahayakan nyawanya, Lily langsung menghindar dengan seringaian tawa luar biasa menyebalkan di mata Luka.

"ini rahasia Lily. Kau tau itu kan?" Luka menatap Lily yang sudah tak ingin mendekatinya.

"iya, iya. Aku tau. Kalau begitu, nikmati waktumu ya, panggil aku jika kau butuh asupan alkohol, rokok maupun... seks" ucap Lily sambil berpindah ke tempat lain sesudah Luka memberinya seringaian mematikan.

Luka menahan kesalnya sekali lagi, sepertinya satu hari ini banyak orang yang berusaha membuatnya mati kesal. Melupakan tindakan menyebalkan Lily yang memang tahu segalanya tentang dirinya dan Kaito maupun Toukai, Luka bergerak meraba tasnya, memandangi ponsel ditangannya, saat dia ingat tentang Len dipikirannya. Penyesalan akan kejadian dirumah sakit saat itu, memang membuat Luka merasa bersalah, tapi tidak berarti Len harus mengabaikannya seperti ini kan?

-][-

Len lepas kendali, nafsunya memaksa mencumbui gadis itu didekapannya. Pemikiran bodoh jika mereka harus melakukannya disana, seharusnya mereka lakukan ditempat lain, cari hotel atau kamar untuk melakukannya mungkin akan lebih baik. Tapi Len benar – benar tidak bisa menahan nafsu yang mendesak didadanya, di pengaruhi alkohol dan ajakan sang wanita membuat Len benar – benar lupa dia sudah punya kekasih yang sedang mencemaskannya.

Ditempat itu, Luka memang bisa mendapati pemandangan yang berbeda dari tempat lain yang dia kunjungi. Dan pemandangan untuk adegan penuh cumbuan memang tak lagi bisa dia elakkan. Menyusuri sepanjang koridor menuju kamar kecil dari tempat itu, Luka berkali – kali mendapati beberapa pasang insan saling mencumbui diri mereka dengan nafsu, sampai pada pasangan yang dia lihat kali ini, langkah kaki Luka pun terhenti.

"ini sudah berapa kalinya kau memintaku untuk melayanimu, bagaimana kalau kita cari tempat seperti yang kemarin – kemarin?" wanita itu bersikap manja dipelukan Len yang sibuk mencumbui leher dan dadanya.

"aku ingin kau memenuhiku dengan kehangatanmu Len, ayo cari tempat yuk" ucap wanita itu lagi. Len mengangguk pelan, namun aksinya masih belum terhenti. Didorongnya wanita itu terpojok semakin terhimpit kearah dinding, memaksanya untuk membuka pakaian bagian atasnya, mengulum apa yang bisa dia nikmati disana, dan tangannya bergerak memasuki area terlarang wanita itu, hingga gadis itu mendesah begitu hebat.

"ah,.. ahhh.. L-len, jangan berhenti. Lanjutkan, buat aku keluar dengan nikmat" ucapnya menahan kenikmatan, bisa terlihat jelas ada semburat penuh nafsu menguasai wajahnya.

Keadaan koridor disana memang sering dimanfaatkan orang – orang untuk sekedar menikmati nafsu mereka, redupnya lampu pun tak terlalu mampu membutakan mata Luka yang sedang memandangi dua insan itu saling bercinta.

Len melepas ikatan pinggangnya, ini adalah nafsunya yang kesekian kali dalam malam itu, benar – benar sebuah pelampiasan yang harus segera dia tuangkan.

Baru saja dia menarik tubuh gadis itu untuk segera membuka celah diantara kakinya agar secepat mungkin Len bisa menikmati surganya disana, Luka akhirnya membuka suara. Peduli apa dia jika Len memakinya saat itu juga karena mendapati kekasihnya itu sedang bercinta dengan pelacur rendahan. Yang pasti Luka hanya ingin memastikan jika Len menyadari keberadaannya disana. Awalnya dia memang menunggu Len yang memergoki dirinya berdiri disana, tanpa dia yakin sebelum Len menyadari itu, dia hanya akan berakhir dengan pandangan yang memiluhkan hatinya.

"L-luka?" Len menarik tubuhnya cepat, memperbaiki pakaiannya dan segera mendorong gadis dihadapannya dengan cepat. Dia panik, dia tidak ingin Luka tau apa yang telah dia perbuat, tapi rasanya Luka sudah lebih dulu melihatnya.

"kau tidak membaca pesanku?" hanya itu yang ingin Luka pastikan, bertanya sedatar mungkin, tidak ada ekspresi yang bisa dia tunjukkan. Len mendekati Luka secepat mungkin, menyeret wanita itu menuju tempat yang bisa mendukungnya menjelaskan apa yang Luka lihat, tapi Luka menolak. Dengan cepat dia menepis tangannya dari tangan milik pemuda itu, dan kini Len bisa lihat tatapan itu begitu menusuk hatinya.

"kau benar" Luka membuang pandangannya kearah lain, yang pasti dia tidak ingin memandang Len disana.

"melihat kekasih sendiri menikmati tubuh gadis lain rasanya menyakitkan" setelah kalimat itu menyambar pendengaran Len, Luka sudah melangkah menjauhinya.

"Luka, aku minta maaf. Aku tidak tau kau ada disini, aku minta maaf!" Len masih mengekor disepanjang langkah Luka, dia berteriak cukup keras agar suara musik disana tidak mengaburkan pendengaran Luka terhadap permohonan maafnya. Tapi semua perbuatan Len sudah lebih dulu mengaburkan perasaannya yang sebenarnya sudah buram.

"aku hanya ingin meminta maaf karena tamparanku pada wajah tampanmu tempo hari lalu" Luka berhenti dan menatap Len lekat, sepertinya Luka harus bersikap tegas atas apa yang dia rasakan kini, tak ada lagi waktu untuk berpura – pura, dia memang belum bisa menaruh rasa cinta berlebih terhadap pemuda itu, tapi jujur dalam hati terdalamnya, Luka menyayangi Len, peduli terhadapnya dan ingin mencoba menjadi milik Len seutuhnya. Tapi rasanya sekarang tidak perlu lagi memendam perasaan kepedulian itu untuk Len saat ini.

"aku cemas karena mungkin sudah menyinggung perasaanmu" Luka membiarkan bibirnya berhenti berucap, kesempatan bagi Len untuk meresapi perkataannya.

"dan sekarang, ada baiknya kau lah yang harus memutuskan mau dinamakan apa hubungan kita Len" ucap wanita itu menahan keperihan yang tak beralasan dalam batinnya. Seharusnya dia tidak harus sepedih ini kan? Dia tidak mencintai Len sama sekali, tapi rasanya ditipu oleh kesungguhan cinta Len memang menyakitkan.

"sekarang kau bisa menerima jika saat ini hubungan kita sudah berakhir" Luka melangkah meninggalkan pemuda itu disana. Sebuah airmata mengiringi langkah kakinya. Luka tidak peduli bagaimana tanggapan orang menyaksikan airmatanya yang cukup banyak bercucuran. Suara teriakan Lily pun tak lagi terdengar olehnya.

Mungkin tak salah jika Luka berharap setelah ini Len tidak lagi mengganggu hidupnya. Pria itu memang tidak akan bisa berubah sebanyak apapun dia mencoba. Disisi hati terdalamnya, Len hanya bisa menyesali perbuatannya, menangis pun tak lagi bisa menutupi kesedihannya, dia sudah kehilangan semua hal yang sudah mulai diraihnya.

Yang ketahuan saja sudah separah itu, apa Len masih sanggup merangkai kata untuk meringankan tuduhannya dari Luka?

Luka tau dia bukanlah wanita bermoral seperti yang orang – orang pikir, dia juga pernah memiliki kisah hidup yang sama seperti Len, berhubungan seks sesukanya. Tapi Luka tidak pernah melakukan hal seintim itu pada siapapun yang bisa disejajarkan dengan pelacur atau Gigolo dan sejenisnya. Luka memang gadis nakal dulunya, tapi dia tidak pernah mengoleksi kehangatan dari bermacam pria dalam bagian tubuh terintimnya. Dan juga, jika Luka sudah memilih serius dalam suatu hubungan dengan orang lain, dia tidak akan pernah mau meracuni prinsipnya sendiri. Luka tidak akan pernah terima jika dia harus berbagi Len dengan gadis – gadis penghibur.

Tbc~


Hi~~ saya Zoe,

terimakasih untuk kalian semua..,

maaf jika ceritanya ketahuan garing gak bermutu dan aneh, review saya untuk mengetahui dimana letak kesalahan saya.

seperti biasa *baru dua kali sich* chapter ini gabungan dari dua chapter.

karena ceritanya dibagian ini sudah lama selesai, saya tidak keberatan mengupdatenya lebih banyak.

maaf kalau saya terlalu banyak mengintimidasi salah satu atau dua character favorit kalian.

soalnya kalau gak ada yg diintimidasi, ceritanya tak akan seru *nista*

segini dulu... sankyu ya...

chapter depan kalau gk salah, ceritanya agak lawak. kolaborasi Miku dan Yuuma juga Luka.

*kalau gak salah sich, saya lupa itu ada dichapter berapa*