A/N: Akabane Naruko disini itu ayahnya Karma y'all. Maaf lupa ngasih tahu sebelumnya. Arigatou sudah mengingatkan.
P.S: Mohon baca A/N dibawah. Penting ya.

.

.

Disclaimer: Assassination Classroom hanyalah milik Yuusei Matsui seorang, saya hanya memiliki cerita ini saja.
.

.

Warning: OOCness everywhere, Drama King(?), Pairing gajelas(?), Cerita receh(?)

.

Blue, Like the Deep Ocean
.
.

Chapter 2: Awal Mula dari Segalanya

Setelah selang lama berjalan, Nagisa telah sampai di tempat kesukaannya, yaitu sebuah tebing dengan kedalaman yang sangat. Kadangkala Nagisa gundah, ia selalu melarikan diri ke sini. Membiarkan matanya menatap langit yang warnanya sama seperti miliknya itu. Menikmati suasana menyejukkan yang tak pernah ada habisnya.

Sungguh, Chrysalis memiliki tempat yang indah. Namun, tak ada yang pernah tahu tentang hal itu kecuali wanita manis berambut biru ini.

Angin pun berhembus pelan seakan menyapa dan menanyakan kabarnya. Nagisa hanya tersenyum sedih. Ia tahu, meski ia menumpahkan semua kesedihan dalam hatinya, alam akan tetap bisu. Mau sampai kapanpun itu.

Nagisa menghela napas. Dirinya masih ingin menikmati pemandangan yang indah di depannya itu.

SRAK! SRAK!
Begitulah suara semak-semak di belakang Nagisa tiba-tiba. Nagisa tak menghiraukannya. Mungkin itu hanya angin. Pikirnya.

SRAK! SRAK! SRAK!
Semakin diacuhkan, semakin berisik pula suaranya. Begitulah yang Nagisa pikirkan. Apa separah itu sang semak-semak di belakangnya ingin diperhatikan?

BUG!
Belum selesai Nagisa melangkah untuk melihat, Nagisa merasa dirinya seketika terdorong ke belakang dengan kerasnya. Hingga kakinya tak berasa menapak daratan. Penasaran, Nagisa pun membuka matanya.

Dugaannya benar, ia kini tak lagi menapak daratan. Berkat dorongan keras yang tadi ia terima, tubuhnya terpental jauh dari tebing yang tadi ia pijaki. Samar-samar ia melihat orang yang kemungkinan telah mendorongnya.

AAAAHHHHH! Nagisa pun berteriak sekuat tenaga. Orang yang tadi ia lihat pun menengok ke arahnya. Matanya melebar kaget.

Sebelum Nagisa dapat melihat apa yang dilakukan orang itu selanjutnya, tubuhnya keburu ditarik oleh gravitasi. Ketinggiannya pun berkurang sedikit demi sedikit. Anehnya, Nagisa tidak ingin berteriak sedikitpun.

Waktu pun berjalan sangat lambat. Meski ia sering menghabiskan waktu untuk duduk di atas tebing itu, tidak terbesit sedikitpun niat di hatinya untuk pergi ke surga begitu cepat. Nagisa hanya menghela napas, pasrah dengan keadaannya dan menutup mata.

Ketika kakinya nyaris menginjak pohon yang ada dibawahnya, ia pun berhenti.
"Hey, kau bisa membuka matamu sekarang". Menurut, Nagisa pun membuka matanya. Gravitasi pun berhenti menariknya. Ia kebingungan, lalu melihat ke atas. Tubuh mungilnya di dekap oleh seseorang. Sementara tangan kanannya memegang tali, menahan tubuh mereka berdua.

"Aneh, kau bahkan terlalu tenang untuk orang yang nyaris saja mati". Komentar sang pria. Nagisa menatapnya sejenak. Rambutnya merah dengan mata kuning keemasannya menatapnya lembut. Betapa beruntungnya Nagisa diselamatkan oleh orang setampan itu.

"Hey, kutahu aku menawan. Tapi jangan menatapku terus-terusan seakan-akan ada yang salah dengan diriku". Pria itu tersenyum menyeringai. Pipi Nagisa memerah.

"Memang, ku akui kau tampan. Tapi kau pasti yang mendorongku tadi hingga aku jatuh! Ini salahmu!". Ujar Nagisa membela diri. Tangannya terlipat di dada. Sedikit demi sedikit, tubuhnya pun naik ke atas bersama pria di sampingnya itu.

Sang pria hanya tertawa kecil. "Maaf maaf. Lagian aku tak melihat. Aku sedang berlari menghindar dari orang-orang yang mengejarku, hingga aku sampai di tebing ini dan tak sengaja menabrakmu". Cerita ia singkat.

"Memangnya yang mengejarmu siapa?". Tanya Nagisa heran. Senyum menyeringai pun kembali ke wajah penyelamat dirinya itu.

"Kau menyukaiku, ya? Sampai ingin mengetahui sejauh itu". Goda lelaki berambut merah itu. Pipi Nagisa memerah lagi.

"Mana mungkin!? Kita saja baru bertemu beberapa saat lalu!". Kata Nagisa menyangkal. Seringaian manusia di sampingnya bertambah lebar.

"Oh ya, tapi kau sepertinya tertarik padaku~". Godanya lagi. Ampun deh! Pria ini tak henti-hentinya menggoda Nagisa. Memang sih, ia tampan dan Nagisa mengakui itu. Tapi, sifat percaya dirinya itu kelewat batas, tolong.

"Cih! Dalam mimpimu saja". Wajah Nagisa masih memerah. Lawan bicaranya hanya tersenyum penuh kemenangan. Tak lama kemudian, mereka sampai di atas.

Lelaki bersurai merah itu hendak pergi, namun dicegah oleh Nagisa.
"Tunggu! Namamu?". Tanya Nagisa. Tak sopan bila ia tak berterima kasih pada lelaki tampan yang telah menyelamatkannya itu.

Sang pria pun menoleh. "Karma. Akabane Karma. Namamu?".

"Nagisa. Shiota Nagisa".

"Seriusan, Nagisa-chan. Jika kau menyukaiku, kau hanya perlu bilang!". Goda Karma. Serius! Pria ini tak ada habisnya menggodaku!

"Sudah kukatakan aku tidak menyukaimu, Karma!". Sangkalnya dengan wajah memerah. Karma hanya tertawa kecil lalu hendak pergi meninggalkan Nagisa.

"Karma-kun!". Orang yang dipanggil pun menengok. Nagisa memasang senyuman termanisnya.
"Terima kasih banyak ya!".

Karma hanya tersenyum balik lalu meninggalkan Nagisa sendirian.
Karma-kun.. sungguh orang yang menarik!


A/N: O-Kay. Ceritanya Nagisa suka berada di atas tebing. Tahu tebing kan? :v. Tebing itu.. yagitu :v. Btw, Mika pengen ngeupdate chapter2 berikutnya antara seminggu sekali atau dua minggu sekali. Dan Insya Allah, weekend dah diupdate. Menurut kalian, Mika update seminggu sekali atau dua minggu sekali? Mohon dijawab ya. Review atau PM Mika juga gapapa. Oh ya, kalo di sini, Mika publish fanfic yang pendek2(Oneshot, dan kawan-kawan) sementara yang panjang2 (Insya Allah) di update di Wattpad. Makasih.

Salam,

-Mikari Mikazuki