Tears of My Pain
Melukis angan diatas awan, tak akan membuat kesepian sirna menghilang. Menyerah pada kesempatan untuk mencintai seseorang, Tidak akan membuatmu merasa senang saat melihat yang dicintai bahagia. Airmata akan tertumpah.
~Mendekat~
Miku masih betah memandangi sosok Luka yang masih tertidur lelap diranjang kamarnya. Dia ingat bagaimana raut wajah Luka, saat malam tadi kakaknya itu tiba dirumah, apalagi jika pulang selarut itu membuat Miku mau tidak mau khawatir hingga dia sendiri tak bisa tidur demi Luka.
Berusaha bersikap menjadi adik yang terbaik, Miku mencoba memasakkan sarapan buat Luka jika wanita itu bangun nantinya. Walau dia yakin rasanya tidak sebanding dengan rasa masakan Luka, tapi dia harap Luka bisa menyukainya.
Yang dia nanti tidak kunjung bangun dari mimpinya, Miku memadang penanda waktu yang berdiri anggun dimeja sebelah ranjang Luka, sudah pukul sembilan pagi dan Luka masih belum bangun juga. Miku memandangi wajah itu lagi, begitu cantik namun tersirat beberapa kesedihan yang terlihat begitu jelas disana. Ingin merapikan beberapa helai rambut yang mengganggu menutupi sebagian wajah Luka, Miku tanpa sengaja menyentuh kulit kakaknya itu.
"panas sekali" pekik Miku tertahan, yang mendapati suhu tubuh Luka ternyata begitu panas. Mencoba bersikap tenang, Miku membangunkan Luka perlahan, dia tidak ingin demam Luka semakin tinggi dan pada akhirnya menjadi semakin berbahaya.
Dengan beberapa guncangan yang mengganggu tidurnya, akhirnya Luka terjaga juga. Dia menatap Miku dihadapannya dengan raut wajah yang tak bisa lagi dia artikan, otaknya terlalu berat mencerna hal apapun yang tengah dipandangnya. Nafasnya terasa berat, seluruh ototnya terasa kaku.
"kau sedang demam. Lebih baik kita ke dokter ya, kalau tidak, mungkin bisa semakin parah" Miku cemas. Luka menggerakkan tangannya lemah, mendekatkan punggung tangannya kekeningnya sendiri dan membenarkan tebakan Miku dalam hatinya.
"aku baik – baik saja Miku" ucapnya lemah, suaranya bahkan hampir tak terdengar.
"jangan memaksakan diri untuk mengatakan bahwa kau baik – baik saja Luka. Aku tidak ingin kau juga menghilang dari hidupku. Kau tau? Kau itu sangat berharga bagiku. Ikuti perintahku sekali saja untuk memeriksakan dirimu ke dokter" ucapnya dengan tetesan air mata tak tertahan, yang entah sejak kapan sudah mengalir di kedua pipinya.
Luka tertegun sejenak, melihat sikap Miku yang sampai begitu mencemaskannya, Luka malah memaksa senyumnya mengembang, diangkatnya tangannya untuk meraih puncak kepala Miku. Mengusapnya penuh kelembutan, dan ada kehangatan yang mengalir dari belaiannya, Miku merasakannya dengan tulus.
"baiklah. Aku menyerah" ucapnya mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Miku pun bergerak cepat membantu sang kakak, dan menumpukkan bantal di punggung Luka agar kakaknya itu bisa bersandar dengan nyaman. Terimakasih Tuhan, karena sepertinya Luka sudah mulai mempedulikan perhatian tulusnya.
"bisa kau ambilkan pena dan kertas untukku" ucap Luka sambil berusaha menutupi rasa sakit yang menderah kepalanya. Tidak baik untuk membuat sang adik kembali cemas. Miku bergerak cepat, menyerahkan Luka benda apa yang dia butuhkan tadi.
"aku akan menuliskan resep untukmu. Kau bisa mengambilkannya untukku kan? Salah satu obat yang ada didaftar hanya bisa kau temukan dirumah sakit tempatku bekerja. Itu tidak diperjual belikan secara umum, namun sangat ampuh menyembuhkan rasa sakit di sekitar sel syaraf intim dengan cepat." Ucap Luka penuh penuturan, wajahnya yang serius menarik perhatian sang adik yang serius juga. Baiklah, Miku memang tidak begitu mengerti dengan ilmu kedokteran atau semacamnya, tapi mendengar kata sel syaraf dari mulut Luka, rasanya dia begitu penasaran. Memikirkan itu adalah bagian paling menyakitkan dalam tubuh manusia. Mungkin. Dia terlalu awam untuk itu.
"sel syaraf? Kau baik – baik saja kan Luka? Tidak ada yang salah padamu kan? Jangan menakutiku begitu, kau harus ikut aku ke dokter, sekarang" Miku memelas khawatir sambil memerintah, dan disela – sela kepanikan Miku, dia tidak mau kehilangan orang yang disayanginya lagi. Terbayang sudah gambaran ibunya yang harus terbaring lemah di rumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Luka tertawa, suara tawanya terasa tertahan namun begitu manis, sekilas Miku menaruh rasa kagum padanya, ini jarang terjadi.
"hanya bercanda. Kau khawatiran sekali, makanya aku mengerjaimu" Luka terseyum. Merespon itu, Miku sudah siap memasang raut wajah cemberutnya.
"aku tidak mau kehilangan seseorang yang kusayangi lagi dalam hidupku. Aku begitu sayang padamu. Makanya aku khawatir, cukup beralasan kan? Dan kau tega sekali mengerjaiku" Miku mendekap Luka erat, kehangatan tubuh Luka akibat demam benar – benar membuatnya khawatir.
"iya, aku tahu. Terimakasih" Luka hanya tersenyum mengusap puncak kepala Miku didekapannya. Dia begitu sayang gadis kecilnya itu. Apa begini rasanya memiliki seorang ibu? Luka menimbang.
-][-
Siang itu Miku mendapati Len tengah berdiri digerbang masuk rumah sakit. Sebenarnya dia tidak begitu tertarik untuk menegur pria itu disana, hingga dia memutuskan untuk tidak menggubris keberadaan Len, namun berbeda dengan Len, satu sebutan nama Miku yang keluar dari mulutnya kini menghentikan langkah Miku ditempatnya.
"kenapa kau ada disini? Luka mana?" ucap pria itu khawatir.
"dia sedang sakit, aku hanya ingin menebus resep yang butuhkannya" ucap Miku jujur.
"sedang sakit? Sejak kapan? Dia tidak terlihat sakit kemarin" ucap Len khawatir.
"malam tadi, Kagamine-san. Dan sepertinya aku harus segera mengantar obat – obat ini untuknya" Miku pun berlalu meninggalkan pemuda itu sendirian.
Mendengar Luka sakit, perasaan Len semakin tidak menentu dan serba salah. Tapi dia tidak lagi punya nyali untuk menemui Luka, apalagi saat dia membaca pesan Luka semalam setelah tiba dirumah, betapa hancur hatinya. Dia benar – benar begitu malu pada dirinya sendiri.
Mungkin Len harus benar – benar merelakan dirinya mengalami penderitaan karena telah kehilangan orang yang begitu amat dicintainya, Megurine Luka.
-][-
Yuuma mengerang kesakitan, beberapa luka di tangannya membuatnya tak habis – habisnya mengeluh. Sang ayah bahkan sampai tak berani meninggalkannya sendirian disana. Belum lagi ibunya benar – benar tak ada waktu untuk mengurusinya.
"sudah ayah bilang, harusnya kita kerumahsakit. Kepalamu keras sekali" ucap ayahnya memandangi Yuuma dengan beberapa goresan ditangannya. Memang luka – luka itu tidaklah terlalu parah, hanya goresan – goresan kecil yang dia dapatkan karena kecelakaan kecil malam tadi. Setelah berpisah dari Luka malam itu, Yuuma tidak kosentrasi pada kemudinya, hingga tanpa sengaja dia menabrak trotoar yang tidak berdosa ditempatnya. Mobilnya memang berguling hebat, sampai remuk malah. Tidak ada korban lain akibat insiden itu, hanya Yuuma seorang. Tapi untungnya Yuuma malah hanya mengalami luka kecil disepanjang tangannya akbibat pecahan kaca mobilnya, entah dewi apa yang melindunginya saat itu. Yuuma sendiri bingung kenapa mobil semewah itu memiliki kaca yang begitu mudah pecah, sepertinya Yuuma harus melirik mobil yang baru saja di iklankan Kaito nanti, batinnya berpikir aneh.
"bukan kaca mobilnya yang mudah pecah. Kau menabrak trotoar dan mobilmu terlempar keras menabrak sisi jalan lalu berguling – guling. Untungnya kau tidak mati, dasar pembuat masalah" ucap ayahnya keras seakan kembali mempermasalahkan penyebab aneh yang sejak malam tadi disalahkan Yuuma saat dia pulang dengan luka ditangannya.
"sudahlah ayah, pergi saja. Aku tidak apa – apa" Yuuma menatap ayahnya tenang.
"kenapa tidak kepalamu saja yang terbentur biar kau amnesia sekalian, dan aku bisa merasukimu dengan sifat yang aku harapkan" kesal ayahnya disana. Mendengar itu Yuuma malah tertawa seakan melupakan luka nya sementara.
"Tuhan pasti masih sayang padaku. Makanya kepalaku tidak Beliau apa – apakan" Yuuma tersenyum. Mana dia rela melupakan Luka jika dia harus kehilangan ingatan, tapi setelah beberapa saat bayangan Luka merasuki pikirannya, dia terdiam sejenak, dan pilihan untuk hilang ingatan sepertinya ada baiknya juga, batinnya.
"jika kau tidak mau kerumahsakit, ayah akan menyuruh dokter memeriksamu kesini" ucap ayahnya menekan beberapa tombol di ponselnya.
"ayah mau menelpon siapa?" Yuuma menyela.
"Megurine-sensei" ucap ayahnya cepat.
-][-
"ya hallo.." Miku menjawab panggilan di ponsel Luka. Dia tidak mau tidur Luka terganggu karena panggilan itu.
"Megurine-sensei?" ucap suara pria dari balik sana.
"maaf tuan, tapi untuk saat ini Megurine-sensei tidak bisa diganggu. Dia sedang berbaring lemah karena tidak enak badan" ucap Miku menjelaskan.
"oh, begitukah. Maaf mengganggunya. Jika dia bertanya, sebut saja ini dari Yuto, salah satu pasiennya, terimakasih" ucap ayah Yuuma mengakhiri.
-][-
"bagaimana ayah?" Yuuma terlihat begitu antusias. Karena Megurine Luka.
"dia sedang sakit. Jadi tidak bisa datang" ucap ayahnya menjelaskan.
Seketika saja raut wajah Yuuma berubah masam. Dia memang ingin mencoba melupakan wanita itu, tapi rasanya dia tidak begitu tega mengkhianati perasaannya sendiri. Dia sudah jatuh cinta pada wanita itu. Dia tidak bisa mengabaikannya walau Luka sendiri yang meminta.
"ayah.." Yuuma menghentikan ayahnya yang sudah bersiap menghilang dari ruang kamarnya.
"bisa aku minta nomor telpon Megurine-sensei darimu?" dan disana Yuuma merasa jika dia harus terus memperjuangkan perasaan tak berujungnya pada wanita pujaan hatinya.
-][-
Luka terjaga, istirahatnya sudah lebih dari cukup, dia tidak begitu bisa tidur nyenyak apalagi saat sedang sakit, terlalu sensitif dengan suara kecil sekalipun.
"siapa?" Luka menatap Miku yang baru saja berhenti berbicara melalui ponselnya.
"ah, salah satu pasienmu. Tapi aku bilang kau sedang sakit jadi dia tidak mengatakan apa – apa lagi. Dari Yuto-san. Ayahnya Yuuma ya?" tanya Miku menelisik.
Mendengar nama itu Luka mengalihkan pandangnya kearah langit – langit kamarnya, memberi anggukan sekali untuk membalas pertanyaan Miku, Luka akhirnya melafalkan nama itu dalam pikirannya. bahkan sampai sekarang aku tidak begitu yakin aku mengingat namanya, Luka membatin. Mungkin dia memang tidak begitu ingat nama Yuuma.
"aku dengar ibunya seorang aktris lawas. Tak aneh memang jika Yuuma memiliki wajah yang tampan, ibunya cantik begitu" Miku seakan bicara pada dirinya sendiri. Untuk hari ini saja, dia begitu nyaman berada dikamar Luka, menemani pasien dadakannya disana.
"benarkah? Aku tidak tahu" ucap Luka.
"jadi kau tidak menyadari ketampanannya? Sayang sekali. Padahal rasanya dia itu menyukaimu loh" Miku memandang Luka, dan yang dipandang tak berekspresi.
"aku bukan menanyakan kalimat terakhirmu. Yang kutanyakan tentang ibunya" Luka merespon cepat. Miku hanya tertawa geli, tak dia sangka berbicara dengan Luka terasa begitu menyenangkan, dia tidak pernah berbincang selama ini dengan kakaknya itu. Tidak pernah.
Perutnya tergelitik, sikap Luka benar – benar manis, jarang – jarang dia bisa menggali isi hati Luka, dia lumayan menyukai Yuuma dari pada Len, karena dia cukup kenal Len lebih lama dari Luka, mungkin. Dan tidak ada salahnya mendukung kegigihan Yuuma untuk mendekati kakaknya. Miku ingat kisah tentangnya bersama Len, menjijikkan. Hanya itu yang bisa dia simpulkan. Pemuda yang lebih mudah darinya satu tahun itu memang punya sikap yang baik dan manis. Tapi tidak hanya padanya saja, pada semua gadis malah. Dan Miku tidak suka, gadis itu tipe pencemburu, dan pertengkaran diantara mereka tidak terlalu menjadi beban pikiran untuk Len, mungkin karena tidak hanya Miku saja yang dia punya, dia punya koleksi puluhan wanita yang bisa menampung nafsunya. Untuk itu, Miku merasa sedikit beruntung setelah dia berpisah dari pria sejenis itu. Karena dia yakin, tidak akan ada masa depan yang baik jika mereka terus bersama. Berbeda dengan Yuuma, insting wanita Miku berbicara. Yuuma mungkin jauh lebih baik dari mantan kekasihnya itu.
"ngomong – ngomong kenapa kau dan Yuuma bisa saling mengenal?" Miku mendekatkan wajahnya yang memadang wajah Luka dengan lekat. Baru ini dia kepikiran menanyakan hal ini pada Luka, benar – benar hal yang jauh lebih menarik dari pada menanyakan tenang asal usul hubungannya dengan Kagamine Len, mantan pacarnya dulu.
"aku juga tidak tahu" ucap Luka mendustai dirinya. Mana bisa dia bilang jika perkenalan mereka yang pertama saat Yuuma mencumbuinya. Walaupun pertemuan mereka yang pertama lebih dulu, saat Luka sedang memeriksa ayahnya.
"mungkin saat aku memeriksa ayahnya dulu" ucap Luka mengambil kesan kedua. Miku mengangguk mencoba mengerti.
"tapi dibanding dengan Len, Yuuma itu jauh lebih tampan kan?" Miku coba menebak pikiran Luka. Dan yang ditanya malah memalingkan muka, mencoba menelisik bagian lain dari perasaannya sendiri, dan tanpa sadar kalimatnya terucap pelan "sama saja" dan Miku hanya mengembangkan senyuman untuk kalimat terakhir yang diucapkan Luka.
"tadi aku bertemu dengan Len dirumah sakit" Miku menarik tubuhnya mendekati Luka, mendekap tubuh bagian belakang Luka, dan Luka hanya diam mendengarkan.
"kalian bertengkar?" bisiknya pelan.
"ya"
Miku sudah mengira, dan tebakannya sempurna.
"tapi aku pikir, dia memang mencintaimu dengan cara yang berbeda dariku dulu" Miku mengusahakan nada bicaranya setenang biasa. Takut jika Luka terlalu sensitif dengan pembahasannya. Dia masih harus belajar menelisik keadaan hati kakaknya itu.
"awalnya..." Luka terdiam sejenak, dan Miku menanti akhir kalimatnya.
"-tapi setelahnya sama saja, mungkin" Luka mengakhiri kalimatnya.
"kau memergokinya sedang bersama wanita lain? Pasti" Miku tersenyum kecut sesaat.
"aku sedang tak ingin membicarakannya" Luka mendorong tangan Miku yang menyentuh tubuhnya. Menolak untuk bercerita, dan Miku dapat pelajaran baru tentangnya. Miku bergeser lebih banyak menjauhi tubuh Luka, masih membiarkan wanita itu membelakanginya. Tapi Miku tak ingin sepenuhnya meninggalkan Luka.
"hubungan kalian sudah berakhir?" Miku masih ingin mencoba.
Namun dia merasa jika pertanyaannya diabaikan oleh Luka, pelajaran baru lagi untuknya. Luka memang tidak suka dipancing untuk menceritakan perasaannya. Miku menurunkan kakinya dari ranjang, keadaan hati Luka sedang buruk, tidak baik berada disana. Berniat untuk meninggalkan wanita itu, Miku mengangkat tubuhnya bangkit. Namun sebelum dia bangkit dari tepi ranjang, dia merasakan jika tubuh Luka bergerak, menatap kearahnya, dan tatapan mereka saling bertemu.
"aku ingin kau tetap berada disampingku tanpa harus berbicara tentangnya" dia menahan tangan Miku, dan sang gadis kecil itu tersenyum.
"jadi, apa kita akan membahas tentang Yuuma?" rasa takut di batin Miku hilang sirna seketika.
Luka menimbang pertanyaan Miku. Tentang Yuuma, tidak ada yang dia ketahui tentang pria itu, kenapa dia harus membicarakan pemuda itu.
"aku tak begitu mengenalnya" Luka tertarik.
"lupakan Len, dan cobalah menerima Yuuma" Miku antusias, dan matanya terbuka lebih lebar.
Luka terdiam.
"atau kau masih menyukai Kaito," Miku merendahkan kadar antusiasnya.
"aku sudah tak punya perasaan padanya" Luka menjawab cepat.
"berarti dulu sempat punya?" Miku semakin tertarik, kembali direbahkannya tubuhnya disamping Luka, menatap kakaknya itu dekat. Senang rasanya punya kakak yang bisa membuat pengalaman tentang cintamu bertambah.
"y-ya" Luka sedikit ragu menjawabnya.
"dan suamimu?" Miku semakin tertarik.
Waktu seakan terhenti sesaat, Luka membiarkan bibirnya membisu, dan Miku sabar menanti. Tentu saja Luka mencintai Toukai, tapi sejenak pembicaraannya dengan Lily kemarin kini tengah menggugah kenangannya. Bodoh jika sekarang Luka baru menyadari bahwa sebenarnya dia tidaklah begitu mengharapkan suaminya sendiri sejak dulu. Mungkin sejak dulu Kaito lah yang dicintainya. Tapi sekarang terlambat untuk menyesal.
"jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan menikah dengannya" Luka melemahkan suaranya.
"kau butuh cinta yang baru Luka" Miku memandang wajah itu serius.
"maksudmu?" Luka balas memandang wajah Miku serius.
"dan aku yakin kau butuh Yuuma" Miku mulai siap memulai pidatonya.
"tapi sebelum aku memulai menjelaskan penelitianku tentang pengalaman cintamu. Bisa aku tahu dari antara semua pria yang kita bahas tadi, siapa yang pertama kali bercinta denganmu".
Ekspresi wajah Luka berubah kaget, tak mungkin bisa dia bicara jujur pada Miku. Tapi dia tertarik untuk menimbang keputusannya. Namun apa tidak terlalu memalukan menceritakan hal ini pada orang lain? Tidak juga, Miku juga mungkin telah mengalaminya. Jadi mungkin tidak apa.
"a-apa harus aku jawab?" Miku menahan kekagumannya sejenak, wajah Luka memerah? Ini pertama kalinya dia melihat ekspresi manis Luka.
"iya, mungkin aku butuh itu untuk membuatmu terus melangkah maju, cinta masa lalu itu harus kau lupakan" Miku bersabar.
"ya-yang pertama kali, K-kaito.." nafas Miku terasa tertahan. Ini menarik, sialan. Miku menyukai kisah cinta Luka.
"kapan? Sebelum menikahi kakaknya, kau berhubungan seks dengan adiknya? Di pengalaman pertamamu?"
"lupakan saja masalah ini, aku tidak ingin membahasnya. Ini sudah lama berlalu. Enam tahun sebelum aku menikah dengan kakaknya" Luka merasa malu membahas masalah pribadinya.
"apa dia pacar pertamamu?"
"aku dan Kaito tidak pernah punya hubungan. Kami tidak pernah berpacaran" kenang Luka sejenak. dan Miku terdengar sedang menghembuskan nafasnya berat. Hebat juga Kaito, bertahan mencintai Luka selama itu walau tidak pernah ada kejelasan yang pasti yang dia dapat dari Luka, apalagi saat Luka akhirnya memilih untuk mencintai kakaknya, terlalu pedih untuk dirasakan.
Miku menarik dirinya untuk ikut membayangkan posisi Luka, terlalu rumit jika dia harus mengalaminya secara nyata. Kebersamaan mereka tak akan mungkin bisa melepaskan ikatan aneh yang sudah lama mengikat mereka secara tersembunyi. Pantas saja Kaito tidak pernah bisa tertarik pada wanita lain, karena selalu ada Luka membayangi hidupnya. Pantas saja Luka tak pernah bisa menerima cinta pria lain, karena masih ada bayangan Kaito di setiap nafasnya. Berusaha keras sekalipun jika mereka tak bisa menjelaskan seperti apa hubungan aneh mereka, kedua orang itu tidak akan bisa melangkah kemana – mana. Akan tetap tersedot didalam satu putaran.
"Len tidak bisa mengusir cinta lamamu dari Kaito" Miku bicara seraya berbisik, begitu pelan.
"dan jika kau memang masih mencintai Kaito, kenapa kalian harus memiliki jarak rumit selama ini. Kaito mencintaimu, aku tahu itu. Terlalu jelas terlihat dari raut wajahnya. Dari caranya memandang dan mengkhawatirkanmu. Dia memiliki cinta yang terlalu tulus untukmu" Miku menerawang ketidakpastian didepannya.
"aku sudah meyakini diriku untuk tak lagi terikat padanya. Aku sedang berusaha melepaskannya"
Miku mengkaji kalimat terakhir Luka, tidak semudah itu Luka. kau butuh hal baru untuk menggantikannya.
"ada yang terbuang, dan ada yang harus diraih untuk menggantikan. Melepaskan Kaito saja tidak cukup. Cari penggantinya, yang bisa membuatmu melupakan segalanya tentang Kaito. Bukan pelarian seperti kebersamaanmu dengan Len. Kau terlalu gampang dibaca Luka, mengorbankan Len untuk menjadi objek pelarian itu hanya akan membuatmu semakin perih, Len bukan orang yang cocok untukmu, dia dan dirimu seperti terlihat sama – sama sedang memainkan permainan"
Luka sedikit menyungging sebuah senyuman diwajahnya. Malu rasanya jika Miku bisa menelisiknya sebegitu dalam. Dan dia mengakui ucapan Miku begitu akurat, padahal tampangnya tidak terlihat begitu peduli pada orang lain.
"untuk sekarang, belum ada pria yang tertarik lagi padaku" senyuman sinis terpasang diwajahnya.
"jangan lupakan Yuuma. Dia bagian terpenting dari pembicaraan kita ini" Miku menatap kembali wajah Luka.
"aku tidak meyukainya"
"kenapa? Dia tampan, baik juga. Aku bisa merasakannya" Miku tak percaya.
"ada kenangan yang tidak bisa kulupakan darinya" Luka mendesah.
"kau masih tidak mau terbuka padaku?" tatapan Miku terlihat mengancam, dan Luka tertawa.
Menyerah, Luka tak bisa lagi menutupi apapun yang dia ingin tutupi dari Miku, untuk saat ini Luka mengakui jika Miku adalah pendengar dan komentator terbaik. Mungkin dia butuh itu.
"dia pernah menyentuhku saat aku tak sadarkan diri"
Miku mengangkat tubuhnya kaget, dia tertarik mengetahui lebih banyak lagi, ceritakan semuanya Luka, Miku tertarik.
"kau menutupi ini dariku?" rasa antusias Miku menuntut lebih.
"dia punya hubungan tak baik dengan Len, dan menjebakku. Merangsangku dengan minuman dan membuatku tak sadarkan diri. Lalu... ya kau pasti tahu setelahnya, persis seperti drama TV"
"kalian berhubungan intim? Kau dan Yuuma? Astaga, mungkin karena itu dia tertarik padamu" Miku mengangguk – anggukan kepalanya yakin.
"dari pengakuannya, dia hanya mencumbuku. Tidak lebih. Dan dia juga mengakui semua perbuatannya, jika semuanya hanya dia lakukan untuk membalaskan dendam pada Len"
"lalu?" Miku tak sabaran, dia kurang puas.
"lalu apa?" Luka balik bertanya, dan dibalas dengusan kesal oleh Miku.
"kau percaya pengakuannya?"
"sepertinya aku tidak punya alasan untuk menolak mempercayainya. Dan sepertinya dia memang tidak memaksaku berhubungan...seksual" Luka agak ragu melanjutkan kalimatnya.
"itu point pentingnya Luka!" Miku bersemangat.
"mungkin dia sudah terpikat padamu. Aku rasa dia itu tipe pria yang suka berterus terang. Ayolah, mana ada pria yang tahan melihat wanita terangsang didepan matanya. Bayangkan, kau tak sadarkan diri, sedang terangsang hebat, dan kalian bercumbu. Ada alasan lain untuknya agar tidak memaksamu untuk bercinta? Mungkin jika dia itu guy, aku bisa percaya alasan dia tak berniat menjamahmu lagi" Miku mengangkat bahunya tak peduli.
"jika dia guy, tidak mungkin dia menyatakan perasaannya padaku" bisik Luka pelan.
Mata Miku melotot sempurna, ucapan Luka terdengar jelas mengisi pendengarannya.
"dia menyatakan perasaannya padamu?!" ucapnya hampir berteriak.
"suaramu membuat kepalaku sakit Miku" elak Luka menanggapi ekspresi Miku.
"gila, aku tidak percaya ini. Lalu apa lagi? Dia itu jelas menyukaimu. Bukan hanya sekedar menyukaimu. Dia jatuh cinta padamu Luka. aku yakin ini alasannya kenapa dia tidak jadi mencumbumu" Miku terpekik kegirangan.
Luka memutar tubuhnya, kembali tidur membelakangi Miku, dia lelah. Cukup lelah karena menceritakan semuanya pada adiknya itu, hingga mungkin efek obat pada kepalanya telah hilang.
"aku lelah. Ingin tidur" ucap Luka pelan, dan ekspresi senang Miku terabaikan.
"aku menyukai Yuuma, Luka. Dia orang yang tepat untuk menyeretmu melangkah dari masa lalu. Tapi semua itu tergantung padamu. kau pasti tau apa yang terbaik untukmu" ucap Miku menarik selimut menutupi tubuh Luka.
"tapi, mungkin dia sudah menyerah" bisiknya pelan.
"eh?!" Miku tak percaya.
"aku sudah menyuruhnya berhenti mengekoriku" Luka memejamkan matanya.
Dan wajah terkejut Miku terganti dengan sebuah senyuman tak terlihat.
"tidak perlu menyesal. Aku yakin dia masih berjuang" kalimat itu tak lagi sempat Luka dengarkan, karena sang pemilik suara membawanya jauh sambil menutup pintu kamar Luka.
Miku masih berdiri dipintu yang baru saja ditutupnya. Senyumnya mengembang. Bahagia karena Luka menganggapnya ada, mendengar semua cerita yang ingin Luka pendam membuatnya semakin percaya diri jika Luka menyayanginya. Gelitik rasa suka cita membakar dadanya, menyala memotivasi jalan hidupnya. Akhirnya dia dan Luka mengalami fase hubungan layaknya kakak dan adik. Dia bersyukur Luka adalah kakaknya. Sangat bersyukur karena dia sangat menyayanginya.
-][-
Mendengar tentang keadaan Luka yang tiba – tiba terserang demam, Kaito akhirnya memutuskan untuk menjenguk sahabatnya itu. Anehnya, dulu Kaito akan merasa begitu bingung bagaimana saat dia akan berhadapan dengan Luka nanti. Tapi sekarang semuanya seakan telah berubah, Kaito tidak lagi memikirkan apapun yang pernah menyesaki keadaannya.
Kaito memencet tombol indikator di sisi pintu gerbang milik Miku, dan dengan cepat Miku mendapati Kaito yang sudah tersenyum lebar padanya, sambil menunjukkan beberapa bungkusan yang telah dibawahnya entah dari mana.
"kau bawah apa Kaito-san?" ucap Miku sambil menutup pintu kembali saat Kaito sudah sepenuhnya berada dirumahnya.
"tidak sopan jika aku tidak membawa apapun untuk menjenguk Luka kan?" ucap Kaito dengan senyumnya. Dan Miku hanya mengangguk setuju.
Miku membukakan kamar Luka, sudah dua hari si merah mudah itu terbaring disana. Kondisi badannya memang sudah jauh lebih membaik, tidak lagi demam maupun pusing. Tapi Miku lah yang bersikeras memaksa Luka untuk tetap berbaring disana, dia tidak mau Luka langsung bekerja, dan menyuruhnya untuk banyak – banyak beristirahat.
Mendapati Luka sedang tertidur, Kaito menghentikan langkahnya.
"dia sedang tidur," ucapnya sambil memandang Miku yang berdiri tepat dibelakangnya.
"ah, padahal tadi dia belum terpejam" bisik Miku agar tidak menimbulkan suara kebisingan dalam kamar itu. Kaito memandang Miku tersenyum, diseretnya gadis cantik itu keluar dari kamar Luka dan membawanya menuju dapur.
"tidak usah diganggu, biarkan saja dia tertidur lebih lama. Lebih baik kita menyiapkan sesuatu untuknya bangun nanti" senyum Kaito mengajak Miku membantunya berbenah untuk memasak sesuatu dari apa yang di bawanya tadi.
Dalam sela – sela kegiatan mereka, tak henti – hentinya kedua insan itu tertawa. Kadang Kaito bisa saja menyuarakan hal – hal lucu yang membuat Miku tak bisa menahan gelinya. Miku menyadari jika sebenarnya Kaito itu adalah orang yang benar – benar baik, pantas saja jika Luka tidak bisa membenci Kaito sedikitpun.
"apa kau kenal Yuto Yuuma yang datang saat rapat hari itu?" Miku memandang Kaito sejenak.
"oh, pemuda tampan itu ya? Kenapa?" Kaito membalas tatapan Kaito dengan ramah.
"menurutmu Luka bakal marah atau tidak jika aku ikut mengundangnya hari ini, untuk makan malam?" Miku mulai tak mampu menahan senyuman yang terbentuk diwajahnya, rasanya begitu ingin melihat kemarahan Luka saat wanita itu mengetahui Yuuma datang menjenguknya.
"ah, boleh saja. Terserahmu Miku-chan, asal semuanya berjalan baik. Aku oke – oke saja" Kaito mengusap puncak kepala Miku dengan lembut, tanpa dia sadar tepung – tepung masih mengotori tangannya. Miku menyadari jika kepalanya terkena tepung milik Kaito, dan secepat itu dia memnggembungkan pipinya, bertindak marah pada Kaito yang telah mengotori rambutnya.
Kaito tertawa, Miku benar – benar tak rela jika Kaito menertawai dirinya, dan merasa ingin membalas perbuatan Kaito, maka gadis itu berusaha mengejar Kaito yang sudah bersiap menghindar, dan mereka berlarian disekitar dapur. Menjadi kacau.
Yuuma menimbang – nimbang keinginannya untuk menelpon Luka, padahal dia sudah punya nomor itu sejak kemarin setelah diberikan ayahnya. Pemuda itu terlihat mondar – mandir di sekitar rumah mewahnya. Batinnya saling beradu, dia masih ingat jika Luka sudah jelas – jelas menyuruhnya untuk tak lagi mencampuri urusannya, namun disisi lain, Yuuma benar – benar sangat peduli dengan wanita itu, dia sudah tertawan oleh Luka entah sejak kapan.
Memberanikan diri, akhirnya Yuuma dengan perasaan beratnya mulai menekan nomor telpon Luka di ponselnya. Menunggu beberapa lama sampai ponsel itu direspon, membuat Yuuma menjadi begitu tegang, ditelannya ludahnya beberapa kali jika saja suara Luka langsung memenuhi pendengarannya. Dan saat nada itu menggema, Yuuma dengan cepat menjauhkan ponselnya.
"hallloooooooo..." suara di ponsel Yuuma terdengar begitu keras, tampak seseorang disana sudah mulai bosan menjawabnya.
"ha-l-llo?" ucap Yuuma perlahan dengan rasa takut yang masih menyelimutinya.
"siapa?" suara itu terdengar kesal. Tapi rasanya Yuuma tidak kenal suara itu, itu bukan suara Luka yang dicintainya.
"ini siapa?" Yuuma balik bertanya.
"Megurine-san sedang tidur, ini siapa?" akhirnya Yuuma mulai kenal siapa pemilik suara itu.
"ini Yuuma," ucap pemuda itu tidak terlalu yakin.
-][-
Yuuma sudah berdiri tegak di depan sebuah rumah yang dulu pernah disinggahinya sekali, saat mengantar Luka pulang. Saat dia menekan tombol disana beberapa kali, seorang gadis sudah menyambut kedatangannya.
"kau sudah datang tuan tampan?" Miku menatapi Yuuma dengan takjub disana, mungkin karena wajah Yuuma itu mendadak ganteng karena rasa cintanya mendadak berkembang.
"ya, sesuai permintaanmu" ucap Yuuma mengikuti langkah Miku menuju pintu masuk.
"benarkah? Bukankah kau juga maunya begitu?" Miku menatap Yuuma dengan pandangan meledek, dan yang dipandang jadi salah tingkah tak beraturan.
Melewati ruang tamu dan menuju dapur, Yuuma sudah melihat Kaito berada disana. Sekilas saja perasaan patah hatinya terbayang dipikiran. Itu adalah pria yang Luka cintai. Luka, wanita yang dicintainya.
"selamat datang Yuto-san, maaf membuatmu repot karena kami mengundangmu untuk makan malam" ucap Kaito ramah senada dengan senyuman diwajahnya.
"ah, tidak apa. Aku juga kebetulan belum makan malam" Yuuma membalas dengan senyum paksaan. Kaito sudah tak terlihat terlalu peduli dengan kedatangan tamu mereka, tangannya masih sibuk meracik ice cream vanilla yang tadi dibelinya.
"baiklah makanan sudah siap" Miku siap dengan hidangan – hidangan di meja makan. Dipandanginya kedua lelaki itu bergantian, Kaito sibuk dengan kesukaannya, dan Yuuma terlihat menganggur tak ada kerjaan.
"Yuuma-san, bisa kau banguni Luka dikamarnya?" Miku memandang Yuuma yang sedari tadi masih memperhatikan kelakuan Kaito yang begitu senang meracik Ice Cream miliknya.
"hah?!" Yuuma tak percaya mendengar ucapan Miku. Namun, seakan tak peduli dengan ekspresi tak percaya Yuuma, Miku melanjutkan kegiatan beres – beresnya.
"kamarnya dilantai dua sebelah kanan tangga, kau bisa lihat penandanya didepan pintu" ucap Miku tak peduli dengan tatapan Kaito dan Yuuma yang sudah memandangnya bersamaan. Rasanya Kaito jadi ingin melangkah mendahului Yuuma sebelum pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar Luka, tapi dengan cepat Miku menahan Kaito.
"dan Kaito-san, kau belum siap dengan pekerjaanmu" Miku tersenyum licik disana.
Tangan Yuuma seakan bergetar, pikiran aneh mulai merasuki pikirannya. Luka ada dikamarnya, dia bingung apa dia harus mengetuknya lebih dulu atau langsung membukanya. Lalu, bagaimana jika nanti saat membuka pintu tiba – tiba, Yuuma mendapati Luka sedang bertukar pakaiaan? Atau bagaimana jika wanita itu sedang tertidur tanpa sehelai benangpun? Rasanya Yuuma tak bisa membayangkannya lebih.
Fokus kembali pada pemikiran normalnya, akhirnya Yuuma mengetuk pintu kamar Luka sesaat, namun setelah beberapa ketukan selesai dia hasilkan, tidak ada tanda jika pemilik kamar akan membuka pintunya.
"ah kebetulan sekali Yuuma-san?" ucap Miku dengan ekspresi terdengar bahagia dari ponselnya.
"bisakah kau ikut makan malam dengan kami? Mungkin nanti kau bisa menemui Luka" bujuk Miku disana. Mendengar nama Luka, Yuuma jadi kehilangan kesadarannya sesaat dan tanpa pikir panjang dia menyanggupi permintaan Miku.
Dan sekarang dia sudah menyadari jika dia sudah berada didalam kamar Luka saat itu. Tidak lagi terlalu panik, Yuuma bisa melihat Luka sedang tertidur disana, rasanya begitu nyaman dan damai. Yuuma mendekat menatap wajah cantik itu, rambutnya terlihat acak terurai anggun disana. Yuuma tak henti mengembangkan senyuman diwajahnya.
Duduk perlahan ditepi ranjang Luka, Yuuma tak tega membangunkan malaikat itu dari tidurnya. Dan yang bisa dia lakukan saat ini adalah memandangi wajah itu tanpa bosan.
"Luka.., kau mau tidak jadi istriku?" ucapnya pelan, menatap Luka begitu dekat, dan dengan satu kondisi tak terduga saja, Yuuma menjadi begitu panik.
"hmm.." Luka mengeluarkan suara dalam tidurnya. Bukan untuk menjawab pertanyaan Yuuma, tapi mungkin dia akan segera... terjaga.
Dan untuk sesaat saja, mata merekapun sudah saling menatap.
Luka langsung bangkit dengan cepat, menyebutkan refleks nama seseorang yang sedang menatapnya, dan mungkin menggangu tidurnya.
"Yuuma?" ucap Luka menatap Yuuma bingung.
Luka merasa tidak begitu jelas dalam hal ini, apa ini mimpi atau tidak. Kalau ini memang mimpi, kenapa pula dia harus memimpikan Yuuma? Namun jika pun ini kenyataan, seingat Luka dia tidak begitu akrab dengan makhluk itu sampai harus membiarkan pemuda itu memasuki kamarnya dengan seenak maunya saja.
Namun rona wajah yang ditatap Luka kini berubah menjijikan, itu yang bisa Luka simpulkan, tadinya mimik wajah Yuuma seakan ketakutan karena Luka akan menelannya bulat – bulat, kini Luka bisa pastikan jika matanya tidak cukup rabun untuk melihat kilauan kebahagiaan yang muncul di matanya, karena saat itu mata Yuuma sedang berkaca – kaca.
Yang menjadi korban disana-Luka malah semakin bingung.
"ka-kau... kauuu..." Yuuma berteriak histeris, Luka semakin bingung memandangi sosok itu.
"ada apa?" ucap wanita itu penasaran, bingung dan ingin tahu.
"Lukaaaa... kau menyebut nama kuuu?!" Yuuma tak mampu menahan rasa kebahagiaannya. Luapan kebahagiaan itu begitu tampak nyata. Dia terharu bahagia, tapi Luka yang memandang menyimpulkan dia terlalu menjijikan.
"Luka... Luka.. Lukaaa... akhirnya kau menyebut namaku! Kau tadi memimpikan aku kan? Iya kan?!. Senangnyaaaa" Yuuma meracau tidak jelas, dan kini urat kekesalan Luka seakan tak bisa lagi dia benamkan.
"sial. Aku pikir apa. Keluar dari kamarku!" bentak Luka sambil mendorong tubuh Yuuma yang masih duduk menatapinya ditepi ranjang.
"Ya Tuhan... senangnya! Mimpi apa aku semalam sampai wanita ini memimpikanku. Terimakasih Tuhan!" ucap Yuuma melompat kegirangan. Dia tidak peduli jika Luka benar – benar telah menelanjanginya dengan rasa kesal melalui tatapannya.
"Mikuuu!" teriak Luka, sampai menghentikan kegiatan Kaito dan Miku yang saat ini tiba – tiba berhenti bernafas seketika.
"ada apa?" Kaito menatap Miku panik, dan secepat mungkin mereka melangkahkan kaki menuju asal suara. Mereka cukup panik mendengar Luka berteriak tidak bisa seperti itu.
"iya, benar.. Miku harus tahu. Orang lain juga harus tahu kalau kau baru saja memimpikanku" Yuuma tak henti – hentinya kagum pada dirinya sendiri.
Dan Luka mati – matian melempari Yuuma dengan bantal dan apa saja yang bisa diraihnya.
"ada apa ini?" Miku sudah mendapati keadaan kamar Luka yang begitu berantakan. Yuuma langsung mendekati Miku dengan raut wajah kebahagiaan. Menatap mata itu lekat, dan begitu terharu dengan mimik yang dibuat berlebihan.
"usir dia sekarang! Kenapa dia bisa ada dikamarku?" kesal Luka merutuki makluk itu disana.
"kau tau Miku?, Luka-chan baru saja memimpikan aku! Dia menyebut namaku! N.A.M.A.K.U!" ulang Yuuma dengan nada yang dibuat sengaja centil terkesan moe walau sebenarnya menjijikkan.
"berhenti melebih – lebihkannya sialan! Aku tidak pernah memimpikanmu!" kecam Luka ditempatnya. Miku hanya bisa menahan geli melihat ekspresi bertolak belakang kedua orang itu, dan Kaito sampai sekarang terasa tidak bisa mencerna apa yang sedang dilihatnya.
"ya ampun Yuuma-san. Kau terlihat senang sekali jika Luka-nee menyebut namamu. Seperti perasaan senang seorang suami yang sedang mendapati istrinya mengaku sedang mengandung setelah sekian lama" ucap Miku masih tersenyum disana. Bukannya malah menenangkan keadaan dan membantu Luka lepas dari kekesalan, Miku malah menambah kegilaan Yuuma.
Lagi – lagi dengan mimik berlebihannya, dia merasa terpanah seketika setelah mendengar Miku menyelesaikan kalimatnya itu. Suami? Jadi Yuuma suaminya dan Luka istrinya? Pikiran itu membayangi benaknya. Tanpa pikir panjang, Yuuma melangkah mendekat kearah Luka, meratapi wanita itu dengan tatapannya tajamnya hingga membuat Luka seakan lupa pada amarahnya. Suasana seakan berubah menjadi hening, seperti sebuah adegan di drama yang memaksa semua orang menahan ketegangan yang sedang berlangsung.
"apa benar yang Miku bilang?" ucapan itu mengheningkan semua orang secara bersamaan.
"apa kau sedang mengandung anakku?" Yuuma memasang ekspresi unlimitednya.
Sejenak saja, tawa Miku menyerang pendengaran semua orang yang ada disana. Dia berusaha menutupi mulutnya, namun tak cukup berhasil menahan tawanya. Miku tak sanggup untuk tidak tertawa karena ulah Yuuma yang mengisengi Luka.
"brengsek! Berhenti menggangguku" Luka sudah habis kesabaran. Dia mendorong tubuh Yuuma secepatnya, dan bangkit dari ranjangnya.
"aku akan jadi ayah! Aku jadi ayah!" ucap Yuuma bersorak – sorak.
"hentikan.. hentikan.." suara Luka tak cukup mampu menenangkan suasana kamarnya yang sudah terasa aneh. Dan mau tidak mau Kaito merasa geli juga melihat Miku yang sedari tadi tak mampu menahan tawanya.
"kapan kita melakukannya sayang?" Yuuma menggenggam kedua lengan Luka secara bersamaan, mata mereka kembali saling tatap menatap.
"lepaskan aku sinting" ucap Luka melawan.
"ah, seingatku. Malam itu benar – benar tak terjadi apapun. Kau tahu, kita tak melakukannya sampai ketahap berhubungan seks-" dan sebelum Yuuma keceplosan, Luka sudah membekap mulutnya dengan telapak tangannya dengan cepat.
Tawa Miku dan Kaito reda seketika, ucapan Yuuma tadi membuat mereka terdiam secara bertahap.
"kau bilang apa tadi?" Kaito penasaran dengan lanjutan kalimat Yuuma, namun Yuuma langsung menggeleng tidak membenarkan, sambil mulutnya masih dibekap Luka.
"dia sudah gila Kaito-kun, tidak usah kau dengarkan" Luka masih tetap berusaha menutup mulut Yuuma dalam dekapannya. Melihat kecanggungan yang mulai tercipta, akhirnya Miku membuka suara.
"kau ini sangat lucu Yuuma-san, sepertinya sangat suka menjahili Luka-nee" Miku bergerak membereskan bantal dan selimut yang berserakan disana.
"kalau begitu kami tunggu kalian berdua untuk makan malam" lanjut Miku menarik tangan Kaito dari ruangan itu, Luka memaksa tersenyum, dan sesudah dia menutup pintu kamarnya, dia menatap cepat kearah Yuuma. Dan tanpa Yuuma sadari, sebuah tamparan keras menjadi hadiah paling manis dari Luka untuknya kini.
"berhenti bermain – main. Aku tidak suka melihat tingkahmu!" teriaknya kesal.
Tamparan itu membuat Yuuma cukup terdiam sesaat, dia menundukkan wajahnya, berusaha mengalihkan tatapannya dari tatapan Luka yang sedari tadi masih memandanginya.
"kau takut orang yang kau cintai itu tahu jika ada seseorang lain yang kau tiduri?" Yuuma memberanikan dirinya untuk bersuara. Luka hanya menghela nafas ditempatnya. Ini benar – benar gila, belum pernah ada didunia ini yang begitu berani mengerjainya habis – habisan seperti ini. Walaupun dia tahu, sebenarnya Yuuma hanya berniat bermain – main dengan tingkahnya. Sama seperti kejadian pagi hari di perkenalan pertama mereka. Luka jadi menyesal memarahi Yuuma, menatap pria itu yang kini telah menundukkan wajahnya menyesal.
"ini tidak ada hubungannya dengan Kaito" ucap Luka menghempaskan tubuhnya duduk ditepi ranjang miliknya.
"aku minta maaf. Aku hanya tidak bisa mengendalikan amarahku karena kau begitu menjengkelkan" lanjut Luka merasa bersalah atas tamparan yang diberikannya.
Membiarkan detik terus berjalan, dan mereka hanya diselimuti keheningan. Yuuma memberanikan diri melangkah duduk disamping Luka, tak lagi dilihatnya Luka menolak keberadaannya disampingnya.
"malam itu, kau menyebutkan nama Kaito dalam desakan nafsumu" ucap Yuuma memandang kekosongan didepannya. Luka mendengar namun tak merespon, membiarkan Yuuma mendominasi percakapan mereka.
"apa kelak namaku tak bisa kau serukan seperti itu?" ucapan Yuuma keluar begitu saja, hampir saja dia mengutuki dirinya kembali karena bicaranya yang kelewat tak beraturan. Tapi sebelum dia melakukannya, dia melihat senyum tipis diwajah Luka.
"kau tersenyum?" Yuuma ingin meyakini.
"tadi adalah pertama kalinya aku menyebut namamu..." Luka menarik nafasnya sebentar, lalu dialihkannya tatapannya memandang Yuuma. Ada getaran yang Yuuma rasakan saat dia menikmati kedua benda sewarna lautan itu disana, damai dan begitu merindukan.
"..masih dalam ekspresi bingung dan kau sudah kesurupan seperti itu, bagaimana jika aku menyebut namamu dengan cara berbeda seperti yang kau inginkan? kau yakin tidak akan pingsan?" Luka menertawai pertanyaannya sendiri, konyol. Tapi sebentar saja dia bisa membayangkan jika dalam kondisi bergairah menyebutkan nama Yuuma, rasanya benar – benar memalukan. Yuuma ikut tertawa karena ucapan Luka, sejenak ketegangan diantara mereka mengabur dihapus oleh senyuman yang Luka tawarkan. Yuuma benar – benar rela ditampar Luka beberapa kali jika pada akhirnya senyum Luka yang akan mengobati kepedihannya. Yuuma benar – benar telah jatuh cinta pada sosok malaikat disampingnya.
"Luka?" Yuuma menyerukan suara itu perlahan, dalam diam dan kepastian.
"hmm..." Luka membalas sederhana.
"kau mau kan jadi istriku?"
Dan sebuah melodi indah kini terdengar jelas direlung hati Yuuma, bagaimana cantiknya seorang malaikat menari indah, mengajaknya tertawa lepas, mengikis semua beban yang dia dan hatinya miliki. Malaikat itu adalah Luka. Cintanya adalah Luka. Hanya Luka.
"aku mencintaimu"
Tbc~
Saya suka lawakan Yuuma disini, geli sendiri ternyata dia itu punya kadar PeDe yang berebihan, sangat kontras sama Luka yang tenang.
Gak tahan baca ulang chapter ini untuk perbaikan tata letak atau kesalahan, jadi saya langsung comot dari M.W langsung pindah kesini, jadi kalau ada kata yang ngawur, saya minta diarahkan kejalan yang benar.
Saya nulis karena hobbi, bukan untuk kejar setoran, jadi kalau emang kurang menyenangkan untuk kalian yang baca, maaf ya. mungkin hanya konsep seperti ini yang saya miliki. saya tak bisa memberikan lebih, tapi jika kalian mau mengajari saya, saya sangat senang.
dan untuk Miku, saya selalu suka sifatmu yang... entahlah. malah terkesan lebih dewasa dari Luka XD
dan untuk yang review dan PM! aku cinta kalian!
