A/N: Kay, jadi fanfic ini akan update seminggu sekali pada weekend. Trus… Mika gatau lagi mau ngomong apa :v. Intinya, makasih ya buat yang masih setia untuk membaca fanfic receh ini. (Enggak kaya si itu tuh, udah tahu ada yang suka masih aja ngelirik yang lain /mik). Makasih banyak ya! ^^

.

Disclaimer: Assassination Classroom bukan milik saya. Okay? Kalo iya, pasti Karunagi udah canon di animenya :v.

.

.

Warning: Chapter ini dapat menyebabkan kebaperan tingkat tinggi(?) Mohon bagi yang 'masih' sendiri, untuk tidak memakan guling di rumah(?) Kasian kalo tidur enggak ada yang bisa dipake buat dipeluk(?), dan disini karakternya kelewat OOC.


Karena, cinta itu datang disaat kita tidak menyadarinya, dan kita tidak bisa memaksakan perasaan kita terhadap orang lain.
.

Blue, Like the Deep Ocean
.
.

Chapter 3: Love Blooms under the Moonlight

Di istana kerajaan Chrysalis,
Karma sedang mengetuk-ngetuk jarinya, bosan. Naruko yang melihatnya, hanya tersenyum lalu duduk di sampingnya.

"Kau tahu, Karma? Kau harus segera menikah dalam sebulan lagi. Aku tak bisa selamanya memimpin kerajaan ini, kau tahu?". Kata Naruko membuka pembicaraan.

Sang anak hanya menghela napas pelan. "Andai bisa semudah itu, ayah. Mencari pasangan tidak semudah membalikkan telapak tangan". Balas Karma. Naruko hanya tersenyum memaklumi.

"Aku tahu, Karma. Aku sudah menyiapkan putri dari kerajaan Dandelion untuk menikah denganmu, bila kau mau. Atau kau sudah memiliki seseorang yang membuatmu tertarik?".

"Oh, putri dari kerajaan sebelah? Silahkan saja, yah. Tetapi, aku lebih menyukai pernikahan yang berdasarkan cinta dibanding itu". Karma hanya mengangkat bahu, lalu mengambil foto ibunya. Senyuman tersungging di bibirnya.

Orang yang membuatku tertarik, huh?

Di sisi lain istana,
"Kau tahu, Nagisa? Asano-kun melamarku kemarin! KYAAAA! AKU SENANG SEKALI, NAGISA!". Pekik sang wanita berambut pirang yang duduk di depannya itu. Nagisa hanya menutup telinganya.

"Kau serius, Nakamura? Wah, selamat! Nanti undang aku dan Nagisa ke pesta pernikahannya ya!". Ujar wanita berambut hijau, senang yang berada di sampingnya.

"Kau menerimanya?". Tanya Nagisa sambil menyeruput kopinya perlahan. Diam-diam berharap pada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya Nakamura tidak berteriak lagi. Sungguh, ia masih sayang telinganya. Cantik-cantik tapi tuli 'kan aneh!

"TENTU SAJA, KYAAA! PRIA SETAMPAN DIA MASA' IYA DITOLAK!?". Teriak Nakamura kegirangan. Semua orang di toko itu pun melihat ke arahnya. Nakamura refleks menutup mulutnya.

Nagisa hanya menggelengkan kepalanya. Lalu ia memasang senyum sedih. "Aku turut senang untukmu, Nakamura. Andaikan aku seberuntung itu. Kau juga, Kayano. Kau dan Sugino sudah bertunangan, bukan?".

Wajah mereka berubah murung. Kasihan pada sahabatnya yang tak pernah beruntung dalam kehidupan cintanya.
"Maaf ya, Nagisa. Kau mungkin akan menemukan pengganti yang lebih baik dari ikemen combo itu". Ujar Kayano. Nakamura mengangguk. Nagisa hanya tersenyum sedih. Ia tahu kedua sahabatnya berusaha untuk menghiburnya, tetapi sudahlah.

"Aku mau pergi dulu. Terima kasih untuk semuanya ya, teman-teman". Nagisa tersenyum. Mencoba sekuat tenaga untuk tetap tegar di depan mereka. Lalu berlari meninggalkan toko itu.

Kedua sahabatnya merasa bersalah telah berbicara seperti itu di depannya.

Nagisa pun berlari sekencang mungkin. Tak peduli kemana kakinya membawanya. Setelah beberapa lama, ia tak bisa berlari lagi. Ternyata kakinya membawa ke tebing kesukaannya.

Air mata Nagisa pun tumpah. Nagisa tak pernah tahu bahwa ia sebegitu inginnya memiliki kisah cinta yang indah, tapi ternyata Tuhan belum mengijinkan.

HIKS! HIKS!
"He? Ternyata kau tipe orang yang suka menangis diam-diam, Nagisa-chan~". Goda seseorang. Nagisa kaget, lalu menengok ke belakang. Si setan merah telah berdiri di di belakangnya.

"Karma-kun! S-sejak-hiks-kapan k-kau disini-hiks?". Tanya Nagisa sesenggukan. Ia menghapus air matanya.

"Dari tadi. Jika kau menangis sehebat ini, pasti masalahmu berat, bukan? Ada apa?". Tanyanya balik sambil duduk di samping Nagisa. Nagisa ragu untuk menceritakannya ke Karma, tetapi instingnya berpikir Karma dapat diandalkan.

Dengan air matanya yang tumpah lagi, Nagisa menceritakan semua keluh kesahnya ke sang pangeran. Sang lelaki hanya bisa diam mendengarkan semua isi hati sang wanita. Ketika Nagisa selesai bercerita, Karma menghela napas.

"Kau ini, sepertinya buruk dalam hal cinta ya?". Tanya Karma. Wajah Nagisa makin sedih. Air matanya telah berhenti. Karma merasa bersalah melihatnya.

"Sudahlah, Nagisa-chan. Lagipula itu bukan salahmu kok. Jadi, jangan bersedih lagi ya? Sungguh, itu merusak wajah imutmu itu". Kata Karma lalu berdiri dan mengusap rambut Nagisa pelan.

Wajah Nagisa memerah padam, namun menikmati usapan Karma. Rasanya menenangkan.
"Terima kasih, Karma-kun". Karma tersenyum.

Semenjak hari itu, Nagisa lebih banyak menghabiskan waktu di tebing itu. Ia hanya duduk menikmati pemandangan yang tak pernah membosankan itu. Setelah beberapa saat, Karma pun datang dan bermain bersamanya. Kayano dan Nakamura memahami hal itu, memberikan Nagisa sedikit ruang untuk pulih dari kehidupan cintanya yang pahit. Nagisa dan Karma pun selalu menghabiskan waktu di tebing itu dan mereka menjadi teman baik.

Seiring waktu mereka bersama, diam-diam Karma telah membangkitkan perasaan tabu di dalam Nagisa, yang dulunya membuat ia melambung ke langit dan jatuh ke jurang secara bersamaan. Perasaan yang tidak ingin ia rasakan, seketika muncul ketika ia bersama sang pria setan berambut merah itu.

Sedikit yang Nagisa tahu, diam-diam Karma telah dijodohkan dengan putri kerajaan Dandelion dan Naruko telah merencanakan pernikahannya dalam 2 hari. Karma tak bisa menolaknya, tetapi di balik semua itu, akhirnya ia mengetahui siapa yang benar-benar ia cintai.

Pada suatu malam, Nagisa memutuskan untuk mengunjungi tebing kesukaannya. Malam itu, bulan bersinar dengan sangat indah.
"Nagisa-chan? Apa yang kau lakukan disini malam-malam?". Suara pria yang sangat dikenalinya itu pun muncul. Nagisa pun tersenyum.

"Menikmati indahnya malam. Aku tak pernah kesini saat malam, dan ternyata malam sangatlah indah dari sini". Ujar Nagisa sambil melihat ke arah bulan. Tatapannya sangat indah. Bagaikan malaikat. Karma, yang awalnya ingin memberitahukan kabar pahit untuknya, jadi tak tega untuk merusak senyumnya yang bak malaikat itu.

Karma pun berjalan ke arah Nagisa dan berdiri di sampingnya. "Memang indah".

"Sangat. Aku jadi ingin melompat sekarang. Karma-kun, ayo ikut!". Nagisa merentangkan tangannya lebar-lebar, bersiap untuk melompat.
"Jangan bercanda, Nagisa-chan! Kau bisa mati".

Nagisa pun tersenyum. "Oke.". Karma menghela napas lega. Ketika ia melihat ke sampingnya, Nagisa telah menghilang.
"SELAMAT TINGGAL, KARMA-KUN!". Terdengar suara teriakan Nagisa dari bawah.

Karma, tanpa ragu pun melompat dan mengejar wanita berambut biru itu. "KAU GILA, NAGISA-CHAN! AAAAAAAHHHHHH!". Gema suara Karma terdengar jelas di telinga Nagisa. Nagisa hanya tertawa kecil dan tersenyum menikmati. Angin menyapu kencang rambut mereka berdua.

Tangan kanan Karma berusaha meraih tubuh mungil itu. Ketinggian mereka pun berkurang drastis. Nagisa memejamkan matanya.

HUP!
Akhirnya Karma dapat menangkap tubuh kecil milik Nagisa itu. Tangan kirinya menahan mereka di dahan pohon. Karma hanya menghela napas lega.
"Nagisa-chan. Aku tak tahu apa yang kau pikirkan, tapi tadi itu sudah kelewa-.".

KRAK!
Uh-oh! Dahan itu patah dan tubuh mereka kembali ditarik gravitasi. Karma panik dan berteriak. Melihat situasi, Nagisa berhenti tersenyum lalu mengambil alih.

HUP! HUP!
Dengan lincah, kaki perempuan itu melompati dari dahan satu ke dahan lain, mengurangi kecepatan mereka sambil membawa Karma bridal style. Kemudian, ia berhenti di suatu dahan dan melepaskan Karma perlahan.

"Kau-kau-KAU GILA, NAGISA!". KRAK! Dahan yang mereka duduki pun patah lagi.
BRUK!
Karma mengelus punggungnya yang terbentur daratan, keras. Seketika ia merasa tubuhnya berat. Ia menengok, Nagisa telah berada di atasnya.
Wanita itu tertawa. "Tadi itu menyenangkan, Karma-kun".

"Menyenangkan darimana!? Aku hampir-.". Karma hendak menyangkal namun berhenti ketika mendengar ucapan Nagisa setelahnya.

"Aku menyukaimu, Karma-kun. Sungguh". Ujar Nagisa pelan, dan mengubur kepalanya di dada Karma. Wajah Karma memerah padam, namun ia mengelus kepala Nagisa pelan.

"Aku juga menyukaimu, Nagisa-chan". Kemudian ia memeluk wanita itu.


A/N: Awww, Mika jadi baper beneran baca cerita ini. Andaikan itu Mika sama….. Ah sudahlah. Buat apa. Mana mungkin ia notis diriku yang petite /plak (tapi bener) ini :"v /mik stop kodenya. Oh ya, btw fanfic ini bakal selesai beberapa chapter lagi /kecewa. Maaf ya, tapi fanfic ini memang dibuat pendek. Tapi tenang aja kok, nanti Mika upload yang panjang di Wattpad, Insya Allah. Makasih sudah membaca! ^^

Salam,

-Mikari Mikazuki