Saya blank, ini adalah laman yang saya tulis ulang. Butuh waktu untuk penyesuaian. Saya dapat firasat akan menurunkan kutukan NTR pada fanfic ini mulai dari chapter ini. Agak bertele - tele memang, saya akui. Tapi jujur saja kalau enggak dibuat seperti itu, rasanya kurang sedap. Jadi memang harus.

Saya berterimakasih atas respon anda sekalian. Saya ingatkan sekali lagi, saya menulis karena hobbi dan kesenangan bukan untuk kejar setoran, jadi cerita yang saya susun seratus satu persen karena kesukaan saya. Bukan karena suapan :D


Tears of My Pain

Cinta datang lebih banyak. Tapi tak bisa ada yang menyadarinya lebih cepat. Tak pernah berurutan, tak tepat waktu. Terlambat beberapa detik atau lebih cepat beberapa detik membuat jalan hidup dan keputusan akan langsung merubah takdir.

Yuuma benar – benar telah jatuh cinta pada sosok malaikat disampingnya.

"Luka?" Yuuma menyerukan suara itu perlahan, dalam diam dan kepastian.

"hmm..." Luka membalas sederhana.

"kau mau kan jadi istriku?"

Dan sebuah melodi indah kini terdengar jelas direlung hati Yuuma, bagaimana cantiknya seorang malaikat menari indah, mengajaknya tertawa lepas, mengikis semua beban yang dia dan hatinya miliki. Malaikat itu adalah Luka. Cintanya adalah Luka. Hanya Luka.

"aku mencintaimu"

~Berbalik~

Yuuma tidak tahu sejelas apa Luka memandanginya kini, rasa cintanya memang tak berhasil membuat Luka merona merah. Tak ada senyuman, Luka malah memasang tampang bingungnya.

"mudah sekali untukmu menyatakan cinta pada seseorang yang belum kau kenal dengan jelas" Luka berdiri dari tempatnya duduk, Yuuma hanya memandangi tubuh itu berjalan entah kemana. Saat Luka berbalik, pandangan mereka kembali bertemu. Luka menelisik tubuh Yuuma dengan tatapannya. Miku bilang pemuda ini tampan, Luka baru saja menyadarinya. Wajahnya memang tampan, tinggi tubuhnya sempurna, mungkin memang banyak gadis yang tertarik padanya.

"kau belum mengenalku, Yuuma-kun" ini kedua kalinya Yuuma mendengar namanya disebut oleh Luka, rasanya teramat sangat menyenangkan.

"kau tidak banyak bicara, bagaimana bisa aku tahu tentangmu" Yuuma tersenyum, dan Luka ikut tersenyum. Rasanya, hangat dan Yuuma suka dengan keadaannya seperti ini.

"aku seorang janda" Luka menatap Yuuma lekat, ada keruntuhan yang berasal dari ekspresi Yuuma tadi. Senyumnya berubah.

"aku sudah tahu" dan kini Luka yang merasa tak tahu harus bersikap apa.

"lalu menurutmu bagaimana?" Luka mendekat, kembali memandang Yuuma penuh perhatian.

Tak tahan, Yuuma meraih wajah Luka, menyentunya lembut, dan Luka membiarkannya. Mereka saling bertukar pandangan, dan untuk kali ini Luka baru menyadari ada sesuatu di dahi dan bibir Yuuma. Ada segores luka yang belum mengering.

"kau terluka?" bibirnya spontan berucap, ada sedikit kekhawatiran disana.

"tidak terlalu serius" Yuuma menutupi lukanya dengan rambut depannya, tak mau adegan seindah ini terusik oleh kehadiran hal lain.

Luka cantik, Yuuma tahu. Dan pria manapun tahu kenyataan itu. Tapi bukan itu sebenarnya yang membuat Yuuma tiba – tiba jatuh cinta pada wanita didepannya ini. Kehadiran Luka didalam hidupnya seperti suatu takdir yang membuatnya berubah haluan. Luka adalah sosok yang saat ini bisa memusatkan perhatiannya akan hal lain.

Tergoda, Luka memikirkan hal lain untuk Yuuma, jika pria itu mencintainya tulus, apa dia bisa membuktikannya dengan perbuatan? Memenuhi permintaan Luka mungkin.

Sejenak Luka sempat mengucapkan syukur, didalam hidupnya, banyak pria yang gigih menyatakan perasaan mereka padanya. Dan semua berakhir dengan penolakan yang menyedihkan. Luka tidak pernah sempat bermain – main dengan pria – pria itu, tapi Lily bisa memanfaatkan situasi, Luka sering marah pada perlakuan Lily yang secara terang – terangan menyuruh pria – pria itu melakukan apa saja demi menunjukkan rasa cintanya pada Luka.

"Luka bilang dia ingin kau membelikannya baju dengan fashion terbaik untukku, itu pun jika kau memang benar – benar cinta padanya" Lily melipatkan tangannya menatap sombong kearah pria yang berharap dicintai Luka itu.

"Lily, kau tidak-"

"jangan membantah Luka, kita lihat seserius apa dia menyukaimu" Lily memotong cepat.

"baiklah. Akan kubelikan beberapa pasang baju untukmu!" pemuda itu menghilang, dan besoknya Lily tertawa tak tertahan, dia mendapatkan bingkisan yang berisi baju dengan fashion terkini dihadiahkan sepenuhnya padanya.

Kenangan itu membuat Luka tersenyum sekilas. Tapi apa dia tega membiarkan Yuuma melakukannya? Yuuma terdiam, Luka juga. Suatu tarikan tak terlihat membuat tubuh Yuuma bergerak perlahan mendekati Luka, wajahnya mendekat dan Luka bisa merasakan aroma harum dari nafas pemuda itu. Menikmatinya, Luka kini merasakan ada sentuhan menggelitik diujung hidungnya, hidung mereka berdua bersentuhan. Wajah mereka semakin menempel, entah kenapa, rasanya berat bagi Luka untuk menarik wajahnya dari wajah Yuuma, dia menikmati keadaan manis seperti ini, alasannya? Dia sendiri tidak tahu. Nyaris tidak berjarak, Yuuma ingin mengecup bibir Luka yang nyaris bersentuhan dengan bibirnya. Dan saat mata mereka bertatapan, Yuuma sudah fokus untuk menikmati lembutnya bibir itu, Luka tak melakukan perlawanan. Satu... Yuuma bersiap. Dua... Luka pasrah. Ti-

"kalian lama sekali, kami menung-" Miku menahan suara saat matanya melihat hal yang membuatnya menahan rasa malu. Saat suara Miku terdengar, Luka langsung menoleh, bibir mereka masih nyaris tersentuh, Miku sempat melihatnya. Tapi Yuuma tak mau membuang kesempatan berharganya. Memanfaatkan kelengahan Luka dan Miku yang masih sama terkejutnya, dia menarik wajah Luka dan langsung mengecup tepat dibibirnya. Miku bergidik, rasanya dia begitu amat menyukai adegan ini. Singkat. Yuuma langsung melepas kecupannya. Matanya menatap lekat kedalam mata Luka. Ini teramat sangat indah.

"ma-maaf, aku mengganggu.." Miku tersenyum aneh, bergerak mundur melangkahkan kakinya.

"tung-" dan sebelum Luka menahan langkah Miku, lagi – lagi Yuuma menutup bibir Luka dengan bibirnya. Miku masih sempat melihatnya. Dia tersenyum entah untuk apa.

Yuuma tak menghiraukan dorongan yang terasa lembut dari Luka untuknya, wanita itu ingin mendorong tubuhnya menjauh, tapi bibirnya terasa ingin disentuh lebih lama oleh Yuuma.

Dan lagi, saat Yuuma melepaskan kecupannya. Ada setitik rona merah yang berhasil di lihatnya dari pipi Luka, ternyata wanita itu bisa juga tersipu oleh kecupannya.

"bibirmu manis Luka"

Yuuma ketagihan.

"bisa ku kecup sekali lagi?"

Luka memerah.

Abaikan masalah makan malam, abaikan siapa yang memergoki mereka tadi. Yuuma terhasut oleh besarnya rasa ingin memiliki Luka, dan Luka tenggelam dalam pesona yang entah sejak kapan terasa begitu berbeda dari yang biasa terpancar dari tubuh Yuuma, rasanya begitu menyedot perhatiannya sepenuhnya.

Sebelum Luka menimbang permintaan Yuuma sekali lagi, dia sudah mendapati bibirnya diperdaya oleh Yuuma. Menarik, Luka terpancing meresponnya, bibir Yuuma begitu lembut, dan membuatnya terlihat begitu menikmatinya. Luka keluar batas. Dia memerah memikirkan dirinya akhirnya luluh oleh ciuman itu. Lama bertaut, dan saling mengecup, sekali lagi mereka dikejutkan oleh kehadiran Miku. Yang sebenarnya sejak tadi masih bersembunyi di balik pintu.

"kami menunggu kali-" suara Miku tertahan, kali ini dia sudah mendapati pemandangan yang begitu ingin dipandanganya. Yuuma sudah menindih tubuh Luka, dan desahan nafas mereka terdengar begitu keras dan berat.

"hei! Kalian ini. Lihat waktu jika mau melakukannya!" Miku menatap keduanya bersamaan. Yuuma beralih menatap wajah Luka, dibawah wajahnya. Dilihatnya wanita itu tersenyum lembut untuknya. Apa ini artinya Luka menerima pernyataan cintanya?

"Luka-neechan" Miku mendekat, didorongnya tubuh Yuuma agar tak lagi menindih tubuh kakaknya. Dan dibantunya Luka bangkit dari posisinya.

"kau baru sembuh, kau belum kuperbolehkan melakukan hal yang menguras energi" senyumnya.

Mendengar itu Yuuma tertawa, kau bodoh Miku, tidak mungkin Yuuma tega memaksa Luka melakukannya kan?

-][-

Luka ingat malam dimana Yuuma mencumbunya saat Yuuma mengaku kalau dia ingin membalas dendamnya pada Len. Luka mulai mengingatnya dengan jelas. Tapi, alih – alih ingin marah, Luka tidak tahu apa dia masih punya alasan untuk memendam kekesalannya pada pemuda itu.

Luka tidak begitu mengenal siapa Yuuma, yang dia tahu Yuuma adalah anak dari pasiennya, Miku bilang ibunya seorang aktris ternama, tapi Luka masih tidak begitu peduli.

Luka masih tidak mengenal siapa sosok Yuuma sampai dia mulai pasrah membalas kecupan manis Yuuma pada bibirnya. Hasratnya berbisik, dan Luka tak mampu mengabaikannya. Rasanya Yuuma memang pria yang bisa menyedot perhatiannya. Tapi sejak kapan Luka mulai belajar memikirkan tentang Yuuma? Apa dia sudah mulai tertarik dengan pemuda itu?

Suara ketukan diruangannya, memaksa Luka tersadar dari apa yang sedang dipikirkannya. Sebelum perintahnya keluar dari mulut, dia sudah melihat sosok yang dia kenal tengah berdiri dihadapannya. Len.

"aku ingin bicara padamu" Luka merindukan tatapan itu, waktunya untuk mengakhiri semua. Luka bangkit, tak lupa dia menunjukkan senyumnya dan mengajak Len berjalan melangkah keluar ruangan. Mungkin berjalan – jalan di pekarangan rumah sakit lebih bagus untuk mereka bicara. Karena bukan tipe Luka membiarkan masalahnya berlarut – larut.

"aku minta maaf" suara Len bergetar penuh ketidakpastian, dia takut dan Luka bisa merasakan perasaan itu dari nada suaranya.

"aku melakukannya karena kau tak mau menuruti kemauanku" tanpa ragu dia mengucapkan hal yang mambut Luka merasa tak berani menatap wajah Len. Dia ingat karena alasan apa mereka bertengkar. Itu bukan salah Len, jelas ini salah Luka. Dan harusnya untuk hubungan sepasang kekasih, Luka tidak harus merasa tak nyaman melakukan hubungan seks dengan Len kan?

"dan kau memilih melakukannya dengan perempuan penghibur?" Luka memberanikan diri menatap wajah pemuda itu lembut.

"tidak ada cara lainkan?" Len tersenyum kecut, dan Luka menyadarinya.

"pikirkan kesehatanmu Len, mereka tidak sehat untukmu" Luka menasehati spontan. Tak layak rasanya menasehati orang seperti itu saat diri sendiripun pernah melakukannya.

"ya, aku mengerti" Senyum, Len tersenyum. Untuk sesaat dia lupa bagaimana sakitnya perpisahan yang Luka ucapkan padanya beberapa hari lalu. Tapi biar bagaimanapun, Len paham dia tidak akan meminta Luka untuk tetap bersamanya, karena bersamanya mungkin tidak akan membuat Luka bahagia.

Len ingat siapa dirinya, cukup tahu diri menghadapi kenyataan bahwa dia adalah seseorang yang cukup hina di dunia ini. Paling tidak itu yang dia pikirkan.

"aku itu anak dari hasil pemerkosaan, Luka" sang wanita menatap pemuda itu lekat. Dia tahu ada hal lagi yang akan terucap.

"mungkin karena itu, sifatku seperti ini" Len menimbang, matanya jelas menerawang kekosongan yang selalu menyelimuti takdirnya. Tapi bagi Luka, itu bukan alasan menjadikan diri sendiri ternoda oleh dosa orang tua kan? Luka pernah mengalami hal yang sama, dan dia belajar dari perjalanan hidupnya.

"ibuku diperkosa oleh pria yang ditolaknya. Tapi entah mengapa dia masih terus mengandungku saat dia tahu mungkin aku adalah anak dari lelaki yang paling dibencinya didunia" hembusan angin saat itu membuat perasaan Len seakan ikut terbawa terbang menghilang entah kemana.

"dan sekarang, sifat lelaki yang memperkosa wanita yang melahirkan ku itu mungkin menurun padaku" Len tersenyum, tapi Luka cukup bisa memastikan senyuman itu terlalu perih bagi pandangan matanya. Len yang malang, tidak seharusnya dia larut dalam kesalahan orang tuamu.

"Luka.." suara lembut itu menarik perhatian Luka, dia menoleh, menikmati wajah tampan pemuda yang pernah mencintainya itu, uraian airmata membasahi wajahnya.

"kau tidak menyesalkan pernah kucintai?" Len tersenyum.

"bodoh.." Luka mendorong lengan Len lembut, tawanya melebar. "aku beruntung, kau pria tertampan yang pernah kumiliki" pandangan mata mereka bertemu.

"benarkah?" Len tertarik, senyumnya melebar. Dia suka jika wajah Luka tersenyum seperti itu.

"kau pikir aku berbohong?" Luka memasang wajah cemberutnya.

Andai percakapan mereka semenarik ini saat berpacaran dulu, Len benar – benar menyesal telah melakukan kesalahan yang membuat Luka marah padanya.

"apa lebih tampan dari suamimu?" Len menggenggam tangan Luka, dan Luka membiarkannya.

"ya.." Luka mengangguk pasti, Toukai memang tak setampan Len, mungkin. Dia tersenyum.

"kau yang tertampan. Miku juga mengakuinya" manis sekali, Len suka.

"untuk perpisahan..." kalimat Len terputus, dan Luka membiarkannya meneruskan kalimatnya.

"bisakah aku mengecup bibirmu sekali lagi" mata Luka membulat sempurna, tapi dengan lembut, tanpa menunggu Len bereaksi, Luka menarik wajah Len tenang, menempelkan bibirnya ke bibir pemuda itu lembut, Len terdiam, namun dia membalasnya lembut.

Untuk yang terakhir kalinya, mungkin setelah ini Len akan berusaha memaafkan dan melepaskannya.

-][-

Kaito menatapi Gakupo kesal. Didepan matanya ada beberapa lembar kertas tentang pekerjaan yang harus dilakukannya. Kaito memang mempercayai Gakupo untuk menjadi manajernya, dan berkat Gakupo, Kaito memang mulai bangkit perlahan – lahan. Tapi kali ini, tanpa pikir panjang, Gakupo menerima peran yang lumayan memalukan untuk Kaito perankan.

"aku tidak mau.." Kaito menahan geram, kekesalannya sudah tinggal menunggu waktu untuk meledak.

"apa susahnya telanjang didepan kamera? Lagi pula ini hanya bagian belakangmu saja loh. Sudah kupastikan bagian depanmu tak akan tersorot!" Gakupo tersenyum, semangatnya tak bisa dia tutupi. "kontrak sudah disepakati, dan kau tidak bisa mengelak" Gakupo bangkit, sambil membawa kertas yang dia tunjukkannya tadi.

Yang tertinggal hanya Kaito dengan segala macam jenis perasaan. Apa dia benar – benar harus melakukan hal sememalukan itu untuk membangkitkan kembali kepopulerannya?

Pikiran Kaito terhenti saat dia merasakan ada getaran dari sakunya. Ponselnya mendapat panggilan, dan dia cukup lega saat tahu siapa yang menelponnya. Luka.

"ya, teman masa kecilku" ucapnya dengan sebuah senyuman yang tak akan bisa disampaikannya.

"apa kabar, oni-chan" Luka membalas, lega Luka menyebutnya seperti itu.

-][-

"aku belum siap menemui ayahmu Luka" Kaito menutup pintu mobilnya. Saat ini mereka sudah berdiri tegak didepan bangunan yang menyerupai istana itu. Besar, mewah dan menyeramkan, mungkin hanya itu yang ada dipikiran Kaito saat ini. Menakutkan. Kaito sampai harus merinding beberapa kali untuk menghadapi kenyataannya. Sedangkan Luka hanya berlakon santai seperti tak ada kejadian apapun didepan matanya.

"bisa temani aku bertemu dengan ayahku?" Luka menunggu Kaito bersuara. Luka tahu, Kaito adalah pria pemberani, tapi rasanya didunia ini hanya ayah Luka lah yang paling ditakutinya.

"u-untuk apa? Tumben sekali?" Kaito gugup. Jika dia bisa jujur pada Luka, dia tidak ingin menemani Luka untuk bertemu dengan pria galak itu.

"hari ini ulang tahunnya" Luka tersenyum, dia tahu, dari getaran suara Kaito, dia masih takut pada ayahnya. Kenangan masalalu. Kaito masih trauma.

"terus? Apa kau sudah menyiapkan hadiahnya?" Kaito terdengar panik.

"kehadiranku saja sudah cukup kan? Temani aku ya" Luka memohon, lama sekali Kaito tak mendengarkan permohonan sejenis itu. Lama sekali, hingga rasanya minat untuk membantu Luka langsung memenuhi perasaannya. Lagian alasanmengajak Kaito adalah, kehadiran Kaito tak lagi terlalu asing bagi ayahnya.

Kaito menggenggam erat bungkusan yang sudah disiapkannya. Hanya untuk berlagak sopan saja. Dia juga tidak tahu entah hadiah darinya ini akan berarti atau tak disentuh sama sekali. Siapa yang tahu? Orang kaya sejenis ayahnya Luka seharusnya tidak butuh hadiah kecil seperti hadiah yang telah disiapkannya kan?

"santai saja Kaito-kun" Luka memandang Kaito tertawa, wajah pemuda biru itu terlihat begitu pucat kali ini.

"tapi persiapkan saja dirimu, siapa tahu akan banyak wartawan yang meliput disana" Luka sengaja menambah beban ketakutan pada Kaito, lucunya. Pemuda itu terlihat berulang kali menelan ludahnya. Takutnya wartawan akan memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.

Dipekarangan, Luka melihat banyak mobil yang terparkir, banyak pengawal dan jajaran kepolisian yang ikut mengawal. Ini pesta ulang tahun kecil – kecilan ayahnya. Tapi rasanya terlihat lebih heboh dari pada disebut sebagai pesta kecil – kecilan. Untuk kali ini saja, Kaito sudah berusaha keras mengenyampingkan rasa takutnya. Demi Luka.

Langkah pertama kemunculan Luka, membuat semua mata tertuju kearahnya. Luka asing. Semua orang tahu. Tidak banyak yang mengenali siapa Luka sebenarnya. Tidak banyak yang tahu jika sebenarnya Luka adalah putri dari orang yang berulang tahun saat itu. Tidak ada yang tahu. Bahkan Yuuma, ayahnya dan ibunya yang kebetulan ada disana pun tidak tahu. Bahkan Kaito sendiripun tidak tahu-dulunya, jika ayah Luka adalah salah satu menteri dinegaranya. Dia baru tahu beberapa tahun lalu, saat menghadap ayahnya Luka.

"Luka?" Yuuma melangkah mendekati Luka. wanita itu balas memandangnya. Penampilannya berbeda, terlihat lebih formal, rapi, dan.. tampan. Luka sampai tak tahu harus menyapanya bagaimana, dia terdiam sejenak. kemeja biru muda, dan jas hitam beserta lilitan dasi dileher Yuuma membuatnya terlihat sempurna. Dan caranya memegang segelas anggur merah itu terkesan menawan. Berbeda dengan Yuuma yang dia kenal berantakan.

"kau diundang juga?" ucap Yuuma terlihat bingung. Setelah matanya menangkap sosok Luka, selanjutnya sosok Kaito pun membuat jengah perasaannya. Cemburu. Jelas saja.

"hanya ingin mengantarkan hadiah" Luka tersenyum ringan.

"ayah dan ibuku ada disana, mari kukenalkan dengan ibuku" Yuuma menarik tangan Luka tanpa mempedulikan Kaito yang berada didepannya. Namun dengan cepat Luka menolak. Melihat dari tempatnya berdiri saja mungkin sudah lebih dari cukup. Ayah dan ibu Yuuma sedang bersama dengan orang – orang dari badan pemerintahan. Luka tidak terlalu suka berbaur dengan rekan – rekan ayahnya.

"tidak perlu. Aku tidak suka bertemu orang – orang" Luka menolak pelan, tanpa ingin membuat Yuuma tersinggung. Dan sepertinya Yuuma juga tidak terlalu mempersalahkannya. Senyumnya kembali lagi saat menyadari Luka berpakaian jauh lebih berbeda dari biasanya. Menyamakan keadaan mungkin.

"kau cantik jika berpenampilan seperti ini Luka" manis sekali, Luka bisa merasakan ada segelintir kehangatan yang tertulas dari senyum Yuuma untuknya.

"kau juga tampan Yuuma, ternyata seperti ini kah Yuuma yang baru kukenal itu?" ucapan Luka membuat wajah Yuuma memerah, dia tersipu. Tapi tatapan Kaito membuat kepalanya berubah memanas.

"Ojou-sama, tuan besar menunggumu" perhatian mereka teralih pada sosok tua yang sudah berdiri dihadapan mereka. Pria tua yang berpenampilan seperti seorang pelayan. Dan Luka mengenalnya.

"ah paman, lama tak melihatmu" ucap Luka dengan sebuah pelukan. Pria tua itu adalah salah satu yang ikut serta membesarkannya dulu dirumah itu. Kenangan.

"saya juga, Ojou-sama. Izinkan saya mengantar anda dan Shion-sama menghadap Tuan besar" pria tua itu menunduk hormat, dan Luka mau tak mau menurut, ditariknya tangan Kaito mengikuti langkahnya. Dan sebelum langkahnya menjauh. Disempatkannya melihat Yuuma yang tak senang dengan genggaman tangan itu.

"sampai bertemu lagi, Yuuma" ucapnya seraya berbisik hanya dengan gerakan bibir. Tapi Yuuma tak cukup bodoh untuk menerjemahkannya. Senyum hangat menghiasi wajahnya seketika.

-][-

Luka sudah berdiri tegak menatap ayahnya. Tidak ditempat umum. Saat ayahnya tahu Luka akan menemuinya. Dia memilih untuk bertatap muka dengan putrinya itu diruang kerjanya. Hanya mereka berdua, sebagai ayah dan anak. Beserta Kaito yang tengah berdiri menahan getaran ketakutan dalam dirinya. Wajahnya hanya menunduk, sambil memeluk bingkisan kado untuk sang bintang utama pesta malam itu.

Rasa takut Kaito bukannya tidak beralasan. Saat remaja dulu, saat Luka berumur enam belas tahun. Kaito melakukan dosa besar. Luka mengaku, dan akhirnya Kaito lah yang dihukum habis – habisan.

"kau bernyali juga nak" Kaito merinding seketika, ucapan ayah Luka pertama kali sejak mereka memasuki ruangan itu langsung tertuju padanya.

"kau masih sanggup berdiri tegak dihadapanku setelah apa yang telah kau lakukan pada putriku dulu" tatapannya terlihat membunuh, dan Luka langsung menengahi perang dingin diantara kedua pria itu.

"papa, seharusnya masalalu tak usah papa ungkit lagi. Aku dan Kaito datang hanya untuk memberimu selamat, jika papa ingin menyalahkan Kaito lagi, lebih baik aku tidak datang menjengukmu" Luka menunduk, ditatapnya ayahnya yang sedang duduk. Rindu. Luka sebenarnya begitu merindukan ayahnya. Luka meringkuk, disandarkannya kepalanya kepangkuan sang ayah, dan dia menikmati setiap belaian lembut yang ayahnya berikan pada kepalanya. Kaito hanya terdiam, menikmati sisi manis Luka yang hampir tak pernah dilihatnya itu.

"papa rindu padamu Luka" belaian itu begitu menyenangkan, dan Luka merasa bahagia karenanya. Dia tahu, sekeras apapun ayahnya. Bagi Luka, ayahnya adalah segalanya untuknya saat ini.

"kapan kau akan mengakui pada dunia jika papa adalah ayahmu?" ucapan itu membuat mata Luka terbuka, diangkatnya wajahnya, dan dengan pandangan senduh, dipertemukannya tatapannya dengan tatapan milik ayahnya.

"menyembunyikan keberadaanku terus menerus apakah semenyenangkan itu untukmu?" suara pria tua itu terdengar melembut. Dia begitu merindukan Luka, sangat.

"dengan senang hati papa. Aku selalu mengakuimu. Hanya saja aku tidak ingin kau merasa malu memiliki putri seperti ku. Aku bercela, dan aku tidak mau mencemari nama baikmu" Luka menggenggam tangan ayahnya lembut, penuh kehangatan.

"papa sayang padamu Luka" pelukan hangat, Luka membalasnya cepat. Airmatanya tertumpah. Menyesal rasanya akan kelakuannya dulu. Nakal, itu dirinya yang dulu. Urak – urakan, dan jika dunia tahu, Luka tak mau nama baik ayahnya tercemar.

"tapi, Luka yang sekarang. Adalah Luka yang begitu membanggakan dimata papa. Papa ingin dunia tahu, jika papa memiliki putri seistimewamu. Papa banyak mendengar rumor tentangmu Luka, buruk dan baiknya, semua papa dengar. Kau adalah kebanggaan papa, dan papa selalu menyayangimu sepenuhnya. Dan di acara ulangtahun ini, rasanya adalah waktu yang tepat untuk mengumumkan segalanya. Papa sudah tua, papa ingin ada seseorang yang menjaga apa yang papa miliki. Kembalilah pada papa Luka. Walaupun kau punya segalanya diluar sana, tapi papa hanya punya dirimu dalam hidup papa" mengharukan. Kaito bisa lihat kesungguhan dari setiap kata yang keluar dari mulut pria tua itu, kesungguhan untuk putri tercintanya.

"ayahmu benar Luka. tak ada yang perlu diragukan dari kualitas hidupmu. Kau adalah segalanya. tidak perlu takut akan apa yang terjadi nanti" Kaito memandang Luka yang telah memandangnya. Walau rasaya Luka masih bimbang, tapi jika memang dengan begini ayahnya akan merasa lebih baik. Apapun akan dia lakukan.

"dan satu lagi.." Luka dan Kaito menatap wajah pria tua itu tenang. Ada yang akan disampaikannya. Dan mereka siap mendengarkannya.

"papa ingin kalian berdua menikah.." hening. Kalimat itu masih harus dicerna lebih lama.

"HAH?!" Kaito terperangah kaget. Dia tidak salah dengar kan?

"papa..." Luka berusaha menguasai pikirannya.

"kebetulan, kedua orang tuamu ada disini, semuanya bisa dibicarakan. Lagi pula, mengingat masalalu kalian dulu. Tidak aneh rasanya kan jika kalian dinikahkan?" pria tua itu berdiri meninggalkan Luka yang masih duduk diposisinya, dan melangkah kearah dimana Kaito berdiri, menatapnya lekat. Namun yang Kaito rasakan hanya aura menyeramkan.

"pertanggungjawabkan perbuatanmu pada putriku dulu Kaito, jika kau itu pria" Kaito bisa merasakan genggaman ayah Luka dikedua pundaknya terlalu berat baginya.

"ta-tapi, paman. A-aku dan Luka tidak punya hubungan apapun" Kaito menunduk, rasanya tak tega memandang wajah Luka yang entah akan terlihat seperti apa sekarang ini. Mereka sudah memiliki kesepakatan untuk tidak lagi terikat pada hubungan tak jelas diantara mereka. Bagaimana mungkin Luka akan setuju dengan ucapan ayahnya. Luka pasti akan menolaknya, Kaito yakin itu.

"tidak punya hubungan apapun, kau bilang? Bukannya dulu kau yang menggauli putriku?!" mendengar ucapan itu, Kaito menunduk takut. Tak ada lagi yang bisa diucapkannya.

"ba-baik.. baik.. aku akan bertanggung jawab" ketakutan membayangi perasaannya.

"kau mau kan Luka?" Luka terdiam, hampa.

Menikah? Dengan Kaito? Luka merasa sedang mengalami sebuah dilema. Sejenak bayangan tentang Yuuma mengisi kekosongan hatinya. Tapi baru saja dia menyanggupi permintaan untuk menyenangkan ayahnya kan? Luka terdiam sejenak, tertunduk untuk menimbang. Berhubungan dengan Kaito sejak dulu selalu membuatnya ragu walau pada dasarnya dia memiliki kepedulian lebih tinggi dari siapapun pada pria itu. Tapi rasanya, sekarang memang berbeda. Luka tak pernah menyangka akan menikah dengan Kaito, sedikitpun tak pernah terpikir untuk membayangkannya.

"tapi... papa.." suara Luka tertahan. Tak ada yang mampu dia sampaikan. Rasanya begitu tak berarti. Ada apa dengan kepercayaan dirinya kali ini?

"dan mungkin ini akan menjadi pengumuman untuk puncak acara malam ini" ucap ayah Luka, melangkah meninggalkan kedua sosok yang masih tak bergerak sama sekali diposisi mereka.

Keadaan masih riuh, banyak suara penuh bisik – bisik mengisi pendengaran, suara musik yang di mainkan sengaja lembut, dentingan kaca – kaca gelas yang sengaja dibenturkan. Suara senyum, tawa dan semuanya bercampur menjadi satu. Luka sudah berjalan lemah mengikuti langkah kaki ayahnya. Dan Kaito masih mendampinginya dengan tatapan tak terartikan. Dia tidak tega melihat Luka semenderita itu jika hanya karena harus memenuhi permintaan ayahnya.

"Luka, jika kau tidak mau. Aku akan bicara pada ayah dan ibuku" bisik Kaito menyentuh lembut pundak Luka, tapi merespon itu Luka hanya menggeleng. Senyumnya terlihat menyedihkan.

"tidak apa, mungkin masih belum terlambat untuk melupakan perasaanku terhadapmu" ucapnya senduh. Tapi rasanya begitu menyakitkan untuk Kaito mendengar pengakuan seperti itu dari mulut Luka. secepat itu kah Luka membuang jauh harapannya terhadap Kaito?

Sejenak, seluruh suara menghilang seketika setelah ayah Luka muncul ditengah – tengah mereka. Semua perhatian tertuju pada salah satu orang paling berpengaruh di negara tersebut. Bisik – bisik kecil segera terdengar saat mereka melihat ada sesosok wanita yang berdiri disampignya. Sedangkan Kaito sudah menghilang entah kemana.

"terimakasih untuk kalian yang sudah hadir malam ini" ayah Luka memulai sambutannya. Semua orang bertepuk tangan sejenak.

"hari ini aku akan mengumumkan sesuatu. Putriku..." Luka dipersilahkan ayahnya untuk melangkah menaunjukkan diri. Jelas saja semua orang langsung terperangah. Selama ini, menteri itu tak pernah mau mengungkit masalah anaknya. Dan saat ini entah karena kepentingan apa, tiba – tiba saja Luka di tampilkan.

"..akan menikah dengan Shion Kaito, anak dari pemilik Sega Group, yang juga dikenal sebagai salah satu aktor di Jepang saat ini" kalimat itu berakhir sempurna. Yang ada, para tamu seakan tak mampu merespon setiap kata yang baru saja mereka dengar. Yuuma juga.

"tidak mungkin" ucapnya meracau, pikirannya tak jelas. Wanita yang dicintainya.

"wow.. mengejutkan sekali tuan, anda tidak pernah cerita jika anda memiliki putri secantik ini" seorang tamu penasaran. Dan dia seakan mewakili rasa penasaran setiap orang yang haus kebenaran disana. Sedangkan lampu – lampu kilat dari kamera sang reporte terus memenuhi pandangan.

"ya, aku minta maaf jika tak pernah menunjukkannya didepan publik. Namanya Megurine Luka, dan dia adalah putri yang paling kusayang seumur hidupku. Untuk saat ini dia berprofesi sebagai dokter, dan aku berharap dia yang akan meneruskan semua bisnis yang kumiliki"

Yuuma menggeram mendengarnya. Jadi selama ini dia sudah mencintai anak seorang menteri? Tapi bukan itu masalahnya, apa dia harus menghadapi kenyataan jika dia harus kehilangan pujaannya.

"anaknya cantik sekali ya.."

"ya, ternyata seorang dokter.."

"menikah dengan pewaris Sega Group.."

"tapi aku dengar Shion Kaito bermasalah dengan keluarga dan kariernya.."

"aku tak menyangka Shion Kaito yang itu pewaris Sega Group.."

"mereka sepertinya terlatih sekali menyembunyikan identitas anak mereka.."

"benar – benar orang yang mengerikan.."

Yuuma mendengar suara bisik – bisik itu mengisi kekecewaannya. Dia tidak mau berakhir menderita lagi. Wanita yang dicintainya harus menghilang didepan matanya sekali lagi? Yuuma berani bersumpah jika dia tidak rela. Tanpa sadar, kakinya melangkah, dia mengabaikan tubuhnya yang menabrak orang – orang yang menghalangi jalannya. Dia ingin menarik Luka dari sana, membawanya lari, tanpa mempedulikan siapapun manusia yang berusaha menghalangi keinginannya. Yuuma tak peduli.

"jangan mengganggu Yuuma" genggaman tangan itu menghentikan langkah Yuuma. Seorang gadis yang sangat dia kenal ada disana, menahannya. Lama tidak melihat gadis itu dengan mata kepalanya.

"jika kau maju, nama baik ayahmu akan terancam saat ini juga" bisikan itu memenuhi pendengarannya.

"Yukari?" Yuuma tak percaya gadis itu berada disana. Sang mantan, gadis pengkhianat.

"lama tak bertemu..." balas Yukari dengan senyum tak terartikan.

Dalam waktu singkat, takdir telah mempermainkannya. Yuuma menggeram, berdiri pada posisinya dan matanya merayap memandangi Luka disana. Ditempat yang jauh dari genggamannya. Tempat yang menjadi begitu sulit digapainya.

Baru saja rasanya dia bisa menggapai wanita itu, tapi secepat mungkin takdir menjauhkannya. Lalu kenapa dia harus dipertemukan kembali dengan gadis yang paling dibencinya? Yukari.

Luka mendesah. Langit... andai kau bisa tahu bagaimana rasanya. Andai Luka punya temppat yang luas sepertimu dihatinya, pasti semua perasaannya tidak akan menumpuk hingga membuatnya sesak seperti ini.

Baru saja dia ingin menerima kehadiran Yuuma, baru saja dia ingin merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, tapi mengapa rasanya tidak ada yang mengijinkan?

Kaito? Apa semua perjalanan panjang yang dilaluinya harus berakhir pada Kaito? Kenapa harus Kaito? Kenapa harus dia? Padahal baru saja dia ingin menyerah, baru saja dia ingin menggantikan pria itu dengan pria lain. Rasanya menjadi sangat menyebalkan.

Luka tak bisa meresapi perasaannya, keinginannya terlihat samar tak berbentuk. Dia sendiri jadi tidak paham apa yang sedang diinginkannya. Ada Kaito dulu membuatnya nyaman, namun setelah kematian suaminya, kehadiran Kaito seperti memberi duka, tapi perlahan semua bisa dia kesampingkan, ada rasa cinta dan kepedulian. Kehadiran Len membuatnya berusaha menjauhi Kaito, semuanya harus segera dia selesaikan. Buang Kaito menjauh jika ingin kehidupan yang baru, itulah yang Miku katakan. Terima Yuuma, itulah yang Luka inginkan. Tapi saat semuanya sudah mulai berjalan sesuai rencana, kenapa harus ada Kaito lagi dalam hidupnya?

Tidak ada yang tahu, sebenarnya Kaito lah yang membuat Luka menderita. Kehadiran Kaito selalu tidak pernah tepat waktu. Saat Luka butuh, Kaito, dia memang selalu ada, tapi entah kenapa Luka selalu terlambat menyadarinya. Terlambat. Selalu terlambat dan itu membuat Luka merasa muak sendiri akan dirinya. Dan keterlambatan itu yang membuat perjalanan hidupnya menjadi semakin tak jelas. Semuanya tak pernah bisa tepat saat dia menginginkannya.

-][-

"Luka..." Kaito tahu saat ini Luka tidak dalam keadaan yang bisa diganggu. Rasanya susah bagi Kaito untuk menyentuh wanita yang kini tengah berdiri menatapi kekosongan didepannya.

"jika kau tidak bisa. Jangan paksakan dirimu" Kaito tak sanggup mengatakannya. Karena sebenarnya jauh dilubuk hatinya dia sangat bahagia atas keputusan ini. Tapi jika yang disayangnya tak berharap, untuk apa dia tersenyum?

"aku tidak punya hak menolak permintaan ayahku.." Luka berbalik, meninggalkan Kaito yang tanpa sengaja mendapati ada setitik airmata yang mengalir secara tersembunyi diwajah Luka.

"aku tahu kini kau telah membenciku, tapi aku tak pernah bisa melakukan hal yang sama padamu" Kaito berucap pelan nyari tak terdengar, menikah dengan Luka impiannya sejak dulu. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Keegoisan Luka tak akan pernah bisa dikalahkannya.

Kita sudah berjanji akan menjadi sahabat selamanya, dan sahabat tidak bisa bergandengan tangan..

Luka sudah menetapkan keputusannya. Sahabat...

~Tbc


ini adalah laman terakhir yang saya tulis. sudah tidak ada cadangan, dan saya sadar setelah ini dichapter selanjutnya saya akan kembali melanjutkan fanfic ini. jadi kebetulan saya sedang didera tugas akhir, jadi mungkin agak telat - telat gimana gitu..

terimakasih yang sudah review dan PM.. aku cinta kalian.. sungguh! menyenangkan memiliki orang - orang yang peduli kepada diriku.

Saya tidak kepikiran sama pairingnya. Saya hanya tertarik dengan penindasan characternya *digeplak*

kalau ada saran dan rasa ketidaksukaan.. ceritakan saja di PM atau Review.. saya terima dengan kuota berlebihan hahaha..