A/N: Maaf sekali ya. Mika kena virus cemburu akut akhir-akhir ini (baca: kelelahan) karena dia deketnya sama yang lain (baca: banyak ulangan dan pr), jadi Mika telat seminggu updatenya. Maafin Mika ya. Sebagai gantinya, Chapter ini dibuat sedikit lebih panjang dari sebelumnya. Dan bagi para fans Karmanami, kalian bisa fangirling sekarang :v. Enjoy! ^^

.

.

Disclaimer: Assassination Classroom bukan milik Mika.

.

.

Warning: Disini karakternya sudah kelewat OOC, mungkin ada sedikit tikungan tajam(?) di depan, dan mulai sedikit Drama sinetron disini(?)


Mau semanis apapun kisah cintamu, pasti ada suatu hal yang bisa membuatmu menangis semalam.

.

Blue, Like the Deep Ocean
.

.
Chapter 4: Cinta itu Indah dan Menyakitkan di Saat yang Sama

Keesokan harinya,

Di istana,

"Karma?".

Orang yang dipanggil pun menoleh. Di belakangnya, berdiri sang raja dari kerajaan Chrysalis dan seorang wanita berambut ungu serta berkacamata, tengah melihat ke arahnya dengan senyum.

Karma pun segera membalikkan badannya supaya ia bisa melihat ayahnya dan perempuan berkacamata itu dengan jelas.

Karma menatap sekilas sang wanita itu. Ia memakai gaun kuning cerah dengan rambut ungunya dibiarkan terurai. Dari cara berpakaiannya, Karma tahu pasti bahwa ini adalah putri kerajaan sebelah, yakni Dandelion.

"Jadi, Karma, ini adalah Okuda-san. Putri kerajaan Dandelion yang akan menikahimu esok hari. Okuda-san, ini adalah Akabane Karma.". Kata Naruko memperkenalkan sang putri.

Okuda hanya membungkuk. "Se-senang berkenalan denganmu! Sa-saya Okuda Manami, putri d-dari kerajaan Dandelion. Mo-mohon bantuannya ya".

BINGO! Dugaan Karma tepat sasaran. Ia pun memasang seringai khasnya. Okuda-san, kah? Boleh juga.

Naruko berdehem. "Saya akan meninggalkan kalian berdua. Karma, bagaimana jika kau membawa Okuda-san berkeliling Chrysalis? Juga supaya kalian bisa mengenal satu sama lain lebih dekat.".

Karma tersenyum. "Tentu ayah.".

Hanya dengan melihat senyuman yang terlukis di bibirnya, sang pangeran berambut merah ini sukses membuat pipi Okuda memanas. Sementara Karma hanya tertawa kecil melihat reaksi dari sang wanita di depannya.

"Mari, Okuda-san.". Sang wanita pun mengangguk, lalu mengikuti Karma ke luar ruangan.

Salah satu penjaga yang berada di dekat ruangan itu pun berbisik kepada sang raja.
"Maaf Yang Mulia, tetapi apa boleh dibiarkan seperti ini? Saya pikir Karma-sama menyukai seseorang selain Okuda-sama.".

Naruko hanya tersenyum. "Saya tahu. Semua terserah padanya. Entah dia ingin menikah bersama Okuda-san atau mungkin ia ingin mengejar wanita itu pun tak masalah bagiku.". Jelasnya.

Naruko pun menoleh ke arah Karma dan Okuda. "Semoga saja dia tidak membuat keputusan yang salah.".

Penjaga yang di sampingnya hanya mengangguk menyetujui.

Di sisi lain istana,

Nagisa tengah menyiram bunga hingga tiba-tiba,

"NAGISAAAA-CHAAANN!". Suara teriak seseorang nyaris memecahkan gendang telinga Nagisa. Ia pun melihat ke belakang. Nakamura Rio tengah berlari menghampirinya, Kayano Kaede pun demikian.

"Ada apa, Naka-.". Kalimat Nagisa terputus ketika Nakamura memeluknya tiba-tiba.

"Kau harus sabar ya, Nagisa.". Ujar wanita itu pelan, sambil mengeratkan pelukannya pada Nagisa. Kayano pun memeluk Nagisa dari belakang. Nagisa heran, tak biasanya kedua sahabatnya memeluknya dari kedua arah seperti ini.

"Ada apa, teman-teman?". Tanya Nagisa heran.

"Kau menyukai Karma-kun, bukan?". Tanya Kayano. Wajah Nagisa memerah, lebih merah dari buah tomat. Jantungnya berdegup sangat cepat. Duh, Sejak kapan mereka tahu?

"I-I-I-Iya". Jawab Nagisa terbata-bata. Nakamura dan Kayano melepaskan pelukan mereka.

Kayano dan Nakamura saling bertukar pandang, kesedihan tampak di wajah mereka. Nagisa pun menyadari ada sesuatu yang salah.

"Maafkan aku, Nagisa-chan. Tapi..".

Kayano dan Nakamura menjelaskan semuanya kepada Nagisa. Mata birunya itu membulat tak percaya. Dadanya sesak. Kenapa di saat dia tengah melambung ke atas awan, dia harus merasakan sakitnya jatuh ke dalam jurang?

Tak tahan, ia pun mengangguk berterima kasih pada mereka dan meninggalkan tempat itu. Air matanya pun mengalir deras, meninggalkan jejak pada jalan yang ia lalui.

Percakapan menyakitkan tadi, diulang kembali oleh benak Nagisa.

Karma-kun telah dijodohkan dengan seorang putri.

Nagisa kaget. Sirat matanya menanyakan siapakah gerangan yang dibicarakan oleh Kayano dan Nakamura.

Menyadari hal itu, wanita berambut hijau dan kuning itu menghela napas.

Dia adalah anak semata wayang dari Kerajaan Agung Dandelion

Manis berkacamata, begitulah semua orang mengenalnya

Kejenuisannya dalam bidang kimia memberikan nilai tambah pada pesonanya.

Meskipun dirinya tidak setinggi pengetahuannya pada ilmu alam itu,

Tidak merubah pandangan orang lain terhadap dirinya.

Kayano melihat ke arah Nakamura, ia pun melanjutkan,

Lugu dan polos bak anak kecil

Pemalu namun teguh pendiriannya

Sang putri pun telah dipasangkan dengan pangeran tampan dari tanah ini

Mereka akan mengucapkan janji suci

Tepat pada saat mentari bersinar dengan teriknya esok hari

Dan semua akan mempunyai Ratu dengan nama Okuda Manami

Nagisa terdiam. Ia merasakan bahwa pipinya telah basah. Kayano dan Nakamura sedih melihatnya. Ingin hati mereka menghibur wanita berambut biru itu, namun mereka tak tahu caranya.

Merasa kadar Oksigen makin menipis di pernapasannya, Nagisa pun lari meninggalkan mereka berdua.

Kemudian, langkahnya terhenti. Nagisa membuka matanya. Sebuah air mancur nan indah berdiri di hadapannya.

Memang indah, namun pemandangan di depan air mancur itu merusak segalanya.

Akabane Karma.

Sedang berjalan dengan seorang gadis.

Ya seorang gadis.

Sambil berpegangan tangan.

CRASH!

Tanpa ia lihat pun, Nagisa sudah tahu hatinya sudah dilindas kereta.

Meskipun pandangannya sedikit kabur karena air mata, ia masih dapat melihat dengan jelas siapa perempuan yang bersama pria setan-berambut merah-yang sudah mencuri hatinya itu.

Berambut ungu

Manis berkacamata

Setinggi diriku

Dari deskripsi itu saja, Nagisa sudah tahu, jelas orang –tidak– wanita yang bersama Karma ini ialah Okuda Manami, putri dari kerajaan tetangga, yakni Kerajaan Dandelion.

Penasaran, Nagisa mendekat ke arah mereka. Mencoba menguping pembicaraan.

"Jadi, seperti inilah Chrysalis. Kuharap kau memahami kondisi kita yang minimalis ini.".

Wanita berambut itu menggeleng pelan.

"T-tak apa. Chrysalis tempat yang indah. Sungguh.".

Karma tersenyum mendengarnya.

"A-Ano, Karma-kun?".

"Ya?".

"S-sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak lama. Dulu, aku sering berkunjung ke tempatmu dan selalu memperhatikanmu. Namun, kau tak pernah menyadari keberadaanku. S-setiap kali ayahku ingin berkunjung ke sini, aku selalu ikut, supaya aku bisa melihatmu lagi. Tetapi aku terlalu malu untuk menujukkan diriku.".

Karma terdiam. Mengisyaratkan Okuda untuk melanjutkan ceritanya.

"Bagiku, kau sangatlah keren. Dan ketika kutahu kau akan menjadi pasangan hidupku, aku sangat senang. Sangat senang. Sampai-sampai aku tak pernah menyadari perasaan bahagia yang kudapat ketika aku bertemu denganmu.".

Nagisa menutup telinganya. Tak sanggup mendengar kalimat berikutnya. Hatinya yang telah hancur itu telah berubah lagi seperti semula. Kemudian disantet, lalu diberikan sianida. Seperti itulah rasanya.

"Okuda-san…"

Okuda mendekat ke arahnya.

Napas Nagisa pun memendek.

"Karma-kun..".

Okuda terus mendekat ke arahnya, hingga ia sangat dekat dengan Karma.

Seseorang bunuh aku!

"Aku mencintaimu.".

Lalu bibir mereka berdua bertemu.


A/N: Ah akhirnya selesai juga chapter ini. Chapter berikutnya otw ya! Spoiler: Chapter berikutnya, Karma harus bisa memilih antara Okuda dan Nagisa. Terima kasih ya buat kalian semua yang masih setia baca fanfic yang sangat receh dan (terlalu) dramatis ini. Lopyou! ^^

-Mikari Mikazuki