Tears of My Pain
Jangan salahkan cinta tengah memihak kemana. Cinta itu suci, perasaan yang timbul dari ketidaksaran dan merekah dengan arahan dan bimbingan. Tidak ada yang salah jika cinta memilih siapa, karena cinta itu buta namun memiliki tujuan.
~Memori~
Hampa. Apa yang bisa di rasakan Luka saat ini selain kehampaan, ketidakberdayaan dan kekhawatiran. Kekhawatiran tentang bagaimana dia harus menjalani takdirnya. Bukan karena Luka tak bisa menentang ayahnya makanya dia memilih untuk menerima aturan apa yang ayahnya tekankan, melainkan dia hanya bersikap untuk tidak lagi terlalu egois pada dirinya sendiri.
Dulu Luka bisa bersikap egois. Berpikir bahwa dia hanya hidup sendirian didunia ini tidak akan menyakiti batinnya. Tapi sekarang, dia punya Miku, dan gadis kecilnya itu adalah satu – satunya orang yang ingin dia lindungi sekarang. Yang harus dia lindungi dari ayahnya sendiri.
Luka kesal jika harus membayangkan hidupnya akan terikat pada sebuah pernikahan. Dia belum siap untuk menjadi seorang istri kembali. Apalagi jika harus menjadi istri dari Shion Kaito, adik dari mendiang suaminya. Satu – satunya pria yang pernah menjadi satu – satunya penyebab hancur rumahtangganya. Luka tidak ingin menyalahkan Kaito lebih dalam lagi, sejujurnya wanita sewarna kelopak bunga Sakura ini tidak ingin menyalahkan Kaito. Karena, sebelum dia mengenal suaminya, dia jauh lebih dulu mengenal Kaito. Teman masa kecil selama di pantiasuhan, tumbuh bersama, jika Kaito marah, Luka juga akan lebih marah. Jika Luka merasa rindu akan orang tua, Kaito juga akan merasakan hal yang sama. Mereka berbeda, tapi sejak kecil mereka tanpa sengaja telah menjalin begitu banyak jenis perasaan yang sama. Dan saat keadaan mereka setenang permukaan air, Toukai datang memberi gelombang. Jadi, atas dasar apa Luka sanggup menyalahkan Kaito?
Perasaan Luka tidak ada yang bisa menebak. Bahkan dirinya sendiri tak bisa mencari tahu segundah apa hal yang telah mengusik ketentraman hatinya. Tidak akan ada yang tahu.
Mengingat kembali kenangan tentang dirinya sendiri, Luka tenggelam didalam kilasan memori cintanya. Ingatan masalalu, kenangan menyedihkan maupun menyenangkan tentang pria – pria yang pernah mengisi kekosongan hatinya. Luka sadar diri jika dia tidak berhak dicintai, tapi dia juga belajar mengerti, jika dia ingin mencintai.
Seumur hidup, bayangan Kaito lah yang paling banyak tersimpan dimemori otaknya. Kaito, Kaito dan Kaito. Pria biru dengan paras tampan, dan kepribadian yang cepat berubah secara bertahap. Selama berada disisi Kaito, Luka tak pernah mendapati pemuda itu tersenyum dengan gadis lain. Jika dibandingkan dengan dirinya sendiri, sudah berapa banyak pria yang berdiri disamping Luka saat dia berada dihadapan Kaito.
Tapi untuk kali ini saja, Luka tidak lagi mau perasaannya dimonopoli oleh keberadaan Kaito. Ada rasa yang sudah mulai timbul dihatinya untuk pria lain, dan Luka tidak bodoh untuk tidak mengerti makna rasa yang timbul dalam hatinya itu. Apa dia harus kembali lagi ke Kaito?
-][-
Gakupo tercengang dengan tidak elit, makanan dimulutnya jatuh dengan tidak indah saat si pemilik mulut itu tidak berniat menutup mulutnya. Sarapan paginya terganggu oleh pemberitaan di televisi, pemberitaan yang cukup mengejutkan ketentraman hatinya, dan kesempatannya untuk memperkaya diri sendiri dengan ketenaran Kaito yang pada akhirnya cukup menguntungkannya.
"Lihat Meiko, aku tidak percaya" Gakupo menatap kekasihnya, mengabaikan tatapan Meiko yang menatapnya dengan perasaan tak mengerti. Menghentikan kegiatannya, Meiko melangkah mendekati Gakupo, dan saat mata serta pendengarannya sudah fokus mendengarkan apa yang televisi itu utarakan, Meiko hanya menatap Gakupo dengan helaan nafas panjang.
"kau baru tahu?" Meiko tersenyum, tidak terlalu terlihat, karena secepat mungkin Gakupo mengabaikan senyuman itu.
Media tengah disibukkan oleh pemberitahuan besar oleh sang menteri. Pengungkapan jati diri sang putri, serta pengumuman pernikahan dengan pewaris Sega Group, yang ternyata adalah sang aktor Shion Kaito. tentu saja mata Gakupo tak berhenti berkedip saat itu juga.
"Megurine Luka, sejak dulu dia memang mampu membuat orang tercengang" Meiko terbayang masa – masa saat dimana dia dan Luka pernah bersama dalam satu sekolah.
"maksudmu?" kini Gakupo mengabaikan televisi yang masih memutar kilas balik pengumuman pada malam ulang tahun sang menteri. Dan dia yakin, fakta dari sang kekasih adalah fakta yang lebih menarik dari sumber apapun di dunia ini, karena Meiko seorang jurnalis.
"kau bisa bayar aku berapa jika aku memberitahukan fakta tentang mereka padamu? ini tidak gratis loh?" Meiko tersenyum, dia mendekati Gakupo dan memainkan matanya untuk menggoda sang kekasih. Ayolah, siapa yang tidak tahu sisi berbeda Gakupo jika dihadapkan dengan uang.
"akan kubelikan mobil baru lagi untukmu Meiko sayang" Gakupo mengusap puncak kepala Meiko yang sudah bersandar didadanya. Hangat, Gakupo tersenyum penuh rasa sayang sambil membelai rambut sang kekasih tercinta.
"sudah berapa kali kukatakan, aku tidak suka barang – barang pemberianmu Gakupo" Meiko menarik kepalanya, Gakupo hanya memandang. Tatapan mereka bertemu, namun Meiko terlihat tidak suka dengan keputusan Gakupo. Dia bukannya tidak senang jika Gakupo memberikannya banyak barang. Itu dijadikan Meiko sebagai bentuk perhatian Gakupo padanya. Bukan karena Meiko yang meminta, tapi Gakupo sendirilah yang rela memberikannya. Awalnya Meiko memang senang diperhatikan dengan cara begitu, tapi lambat laun, bukan itulah yang sebenarnya ingin dia terima dari Gakupo.
"jangan marah donk. Kau tahu kan, aku begitu menyayangimu. Aku hanya ingin dipandang sebagai pria yang bisa membahagiakan kekasihku" Gakupo meraih wajah Meiko dan memandangnya lekat. Betapa dia begitu menyayangi gadis didepan matanya ini. Ingin memilikinya dan begitu ingin melindunginya.
Namun, yang dia dapat, Meiko malah menepis tangannya, dan membuang muka seolah tidak lagi ingin menatap sang pria yang begitu mencintainya. Sikapnya berubah menjadi begitu manis dihadapan Gakupo.
"oh, tuan putri mau marah padaku?" Gakupo tersenyum, diraihnya tubuh Meiko dan mendekapnya dari belakang. Hangat, Meiko memiliki tubuh hangat yang begitu Gakupo rindukan setiap saat.
"kau tidak peka, dasar pria kuno" Meiko cemberut, pura – pura marah dan menyiku perut Gakupo hingga pemuda itu meringis kesakitan, terlalu berlebihan hanya untuk mendapatkan perhatian sang kekasih hati.
"baiklah.. baiklah.. kau mau apa dariku sayang?" sekali lagi, Gakupo mempererat dekapannya. Mengecup lembut pipi Meiko sejenak hingga Meiko kembali ingin menyikut pria itu, tapi ditahannya. Dekapan Gakupo begitu nyaman menyentuh tubuhnya.
"jika kau ingin cinta dariku, sudah kau dapatkan" Gakupo tersenyum, Meiko menyandarkan kepalanya nyaman didekapan Gakupo.
"jika aku minta yang lain bagaimana?" Meiko menerawang jauh kedalam hatinya. Bodoh rasanya jika dia pernah meragukan cinta Gakupo dulu padanya. Tapi lambat lahun selama sembilan bulan mereka berpacaran, dia mulai tahu jika Gakupo memang serius mencintainya, tapi bukan berarti keraguan dihatinya sirna seketika, sebab untuk hubungan sepasang kekasih seperti mereka ini, Meiko menyadari jika Gakupo sama sekali tidak pernah berniat menyentuhnya. Apa dia sedang dimanfaatkan karena latar belakang keluarganya yang terkenal mapan? Atau ada maksud lain? Meiko sendiri tidak terlalu memikirkannya, walau kadang terbesit pemikiran anehnya.
"apapun akan kuberikan" Gakupo memejamkan matanya. Dia menyukai keadaan seperti ini.
"jika ku ganti dengan pertanyaan bagaimana?"
Mata Gakupo langsung terbuka.
"apa kau tidak pernah meniduri gadis lain selama hidupmu?" dan kini Gakupo sudah mendapati tatapan Meiko yang menanti jawaban secepatnya.
"dan selama sembilan bulan berpacaran, kau sama sekali tidak pernah menyentuhku. Aku ragu apa kau benar – benar mencintaiku atau tidak.." tatapan Meiko senduh tak berarti. Namun Gakupo menyulap senyum diwajahnya dengan cepat.
"pernah. Jika kau mau aku menjawab jujur" Gakupo menarik tubuh Meiko agar menatap dalam kemata miliknya. Ada sebuah perasaan yang ingin dia sampaikan disana.
"tapi, aku tidak akan melakukannya dengan wanita yang begitu kusayang.." Meiko terpanah, ucapan Gakupo barusan terdengar seperti kebisingan yang tak terlalu jelas ditelinganya.
"jika kau ingin aku menyentuhmu. Menikahlah denganku Meiko. Dan setelah itu, aku seutuhnya adalah milikmu, dan kau akan kusentuh lebih dari yang kau mau"
Gakupo bukan pria kuno seperti yang Meiko sangka, hanya saja, dia pria yang terlalu menyayangi gadis kepunyaannya. Itu prinsip, bukan hal yang kuno.
Dan setelah beberapa detik kalimat itu meluncur dari mulutnya, Gakupo mendapati ada rona merah yang begitu indah menghiasi wajah Meiko. Dia tersipu oleh pria tersayangnya.
-][-
Miku tak bisa berucap apapun. Suaranya tertahan sempurna saat matanya menelusuri dengan pasti kalimat yang menjadi judul utama dari surat kabar yang dibacanya.
Sang Menteri mengumumkan jati diri putrinya, dan sang Putri akan dinikahkan dengan pewaris Sega Group yang tak lain Shion Kaito.
Tidak butuh alasan lebih banyak lagi hingga dia langsung menatap wajah Luka yang tengah mempersiapkan sarapan di meja makan.
"malam tadi apa yang terjadi hingga aku tak tahu tentang hal ini?" Miku melempar surat kabarnya, dan Luka hanya menatap wajah Miku beserta surat kabar itu bergantian. Nafasnya terdengar mendesah berat, Miku butuh penjelasan.
"hal yang aku sendiri tak pernah bisa menduganya" Luka bertatap enteng dengan wajah adiknya.
Namun yang dipandang menjadi kesal seketika. Baru beberapa hari kemarin dia menyaksikan sebuah adegan romantis antara dua insan sewarna, saling mengecup begitu indah didepan matanya. Apa itu tak ada artinya?
"pernikahannya mungkin akan dilangsungkan secepat mungkin, jadi..-"
"kau bercanda kan Luka?" Miku menggebrak mejanya tidak senang, menatap tajam kearah Luka. Untuk kali ini, entah keberanian dari mana yang dia dapatkan hingga tanpa sadar dia meneriaki Luka didepannya.
Luka terdiam, perasaannya siapa yang tahu sedang berada dalam tahapan yang bagaimana. Untuk sesaat, jika Miku ingin memarahinya, dia tidak begitu peduli.
"sekarang, sebenarnya siapa yang kau cintai?" Miku bersikap keras, kekesalan yang bertumpuk dalam hatinya ingin dia tuang sesegera mungkin didepan Luka. Bodoh, kenapa Luka menyetujui pernikahan ini?
Pertanyaan yang sulit, Luka menunduk memikirkannya. Menelusuri keadaannya, kisah cintanya, dan kemauan hatinya. Dia terpuruk entah telah berapa kali dimasa cintanya. Bukan karena cinta yang terbalas, tapi karena begitu banyak yang harus diraihnya atau mungkin dibuangnya dalam waktu bersamaan.
"a-aku.." entah untuk alasan apa, Miku yang biasanya selalu merasakan ada aura menakutkan dari tubuh Luka, kini mendapati tubuh itu bersikap lemah.
"..tak mengerti Miku" Miku tercekat, Luka terduduk dilantai, berusaha menutupi airmatanya yang kini terlihat menumpuk ditangannya. Dia terisak tertahan. Menyakitkan, Miku tak tahan melihat kegetiran Luka yang tersaji didepan matanya.
"a-aku tak tahu.. aku tak mengerti.. Kenapa semua orang memojokkan aku, kau pun begitu, berikan waktu untuk diriku sendiri, aku mohon.." Luka sudah berada dibatas kemampuanya. Pertahannya rubuh. Gelombang kepedihan menghempaskannya pada kenyataan hidupnya.
Miku tak pernah melihat Luka menangis, belum pernah. Bahkan kematian ibu mereka yang berlangsung didekapan Luka pun tak pernah membuat Luka selemah ini. Miku melangkah mendekat, meraih tubuh Luka dan memeluknya dengan lembut, perlahan. Dan Luka membalas pelukan itu erat, terisak didekapan Miku, membuat Miku memahami satu hal, sekeras apapun pertahanan Luka yang selalu disaksikannya dalam hidupnya, ternyata Luka masihlah manusia yang memiliki batas lemah, rapuh seperti wanita lainnya.
"maafkan aku Luka.." Miku menenggelamkan wajah sang kakak didalam dekapannya, mengelus puncak kepalanya manja, tak ingin melepaskannya.
"aku mencintai Yuuma..." Miku kembali terdiam, dibiarkannya setiap kalimat dari bibir Luka keluar begitu saja.
"aku memikirkannya beberapa hari ini" Miku merasakan ada genggaman erat di punggungnya, Luka mencengkramnya hebat, butuh kekuatan untuk mengakui perasaannya.
"tapi, aku tidak bisa Miku.. aku tak mungkin bisa merusak semua hal yang sudah ayahku rencanakan. Aku tahu dia sudah merencanakan semuanya. Dia mengikatku dengan caranya sendiri. Mengumumkan keberadaanku sebagai anaknya dan mengumumkan perjodohan antara aku dan Kaito hanya untuk mengikatku. Agar aku tak lagi bisa lari dari jangkauan matanya"
Miku mengerti sekarang, dia paham. Harusnya tak lah berlebihan jika seorang ayah berharap putri kesayangannya tetap berada disisinya. Tapi lain cerita dengan Luka. Wanita itu punya riwayat pelarian yang begitu membekas dalam perjalan hidupnya. Dan sang ayah hanya tidak ingin, sang putri kesayangan kembali lari dari kehidupannya. Setelah dunia tahu Luka siapa, apa Luka bisa melarikan diri lagi?
"aku akan bicara pada ayahmu"
Tersentak, Luka memandangi wajah Miku yang terihat begitu yakin dengan keputusannya.
"Miku.."
"aku tak mau melihatmu seperti ini Luka. Demi apapun, aku hanya punya kakak didunia ini, dan tidak akan kubiarkan kakak yang kusayangi menjadi selemah ini didepan mataku"
Miku bangkit dari posisinya, bergerak meninggalkan Luka yang masih tak tahu apapun yang harus diperbuatnya. Menghadapi ayahnya? Luka menghentikan langkah Miku dengan cepat.
"hentikan Miku" tangannya erat menggenggam pergelangan tangan Miku.
"harus ada seseorang yang berbicara dengan ayahmu, kau tidak mau menikah dengan Kaito kan?" Miku menepis tangan Luka, namun sekali lagi Luka kembali menahannya.
"kau tidak tahu bagaimana ayahku. Jangan pernah berpikir untuk menghadapinya tanpa sepengetahuanku"
Miku merasakan ada tatapan yang berubah tajam dari pandangan Luka terhadapnya.
"tapi.., dia harus tahu, kau tersakiti karena keputusan bodoh ini Luka" suaranya keras, Miku tak lagi mampu menahannya.
"cukup Miku! Kau tidak akan tahu apa yang terjadi saat kau menemuinya. Ayahku bukan orang sembarangan. Kau tidak pernah tahu alasan apa yang kumiliki saat aku memilih untuk meninggalkannya kan? Kau juga tak pernah berpikir kenapa ibuku juga memilih meninggalkannya kan? Apa kau pernah tahu alasan kenapa orang tuamu mengembalikan kepadaku apa yang pernah mereka curi dari ayahku dulu? Kenapa mereka tak memberikan semua harta mereka padamu? kenapa harus dikembalikan padaku? Apa kau tak pernah paham kenapa ibu menyerahkan kehidupanmu padaku? Kau tak pernah bisa memikirkannya kan? Jangan pernah bertindak bodoh hanya untukku. Pikirkan juga bagaimana dirimu Miku" Luka menahan emosinya, getaran ditubuhnya terlihat begitu jelas dimata Miku. Dan gadis itu hanya terdiam. Dia tidak pernah tahu alasan apa saja dari pernyataan yang baru saja Luka jelaskan padanya. Dia tidak pernah berpikir jika semua hal yang terjadi dalam kehidupannya harus memiliki alasan serumit itu.
"apa maksudmu?" Miku tertarik. Ini tentang dirinya, tentang kehidupan orang tuanya. Apa ada hal lain yang tidak dia tahu didunia ini?
"jelaskan Luka.. kenapa ibuku menyerahkanku padamu?" Miku mendesak, dan Luka memandang Miku dengan tatapan yang tak terartikan.
"karena didunia ini, hanya aku yang tahu bagaimana caranya menghadapi ayahku sendiri. Dan ibu kita tahu kenyataan itu. Alasan kenapa dia mengembalikan semua harta yang pernah mereka curi kepadaku, karena ayahku adalah orang yang tidak pernah ingin dikalahkan. Dia tidak akan terima dirinya dicurangi oleh istrinya sendiri. Banyak masa yang sudah terlewat Miku. Dan kedua orang tuamu mengalami masa yang tersulit untuk membangun usaha mereka, namun selalu berakhir dengan kebangkrutan karena ulah ayahku. Mengembalikan apa yang mereka curi adalah jalan yang tepat untuk menyelamatkanmu. Dan menyerahkanmu kepadaku adalah cara teraman untuk membuat nyaman hidupmu. Karena biar bagaimanapun, akan ada hal yang tak bisa kau tebak saat ayahku mulai bertindak. Jadi, aku mohon padamu Miku. Tolong jangan bertindak bodoh. Aku tidak mau, gadis kecilku mengalami masalah dari ayahku sendiri"
Kini Luka lah yang mendekap Miku. Tidak ada rasa lain yang wanita itu miliki selain rasa sayng yang begitu mendalam atas diri Miku. Tidak ingin melihat Miku menderita. Tidak berniat sekalipun dalam hidupnya.
"Luka.." Miku mendekap Luka sama eratnya. Kenyataan yang seakan bisa membungkam mulutnya.
"aku tidak mau melihatmu berada dalam masalah Miku. Ada darah ibuku yang mengalir didalam tubuhmu. Aku tidak mau kehilangan sosok yang memiliki bayangan ibuku didalam hidupku sekali lagi. Jadi untuk itu, jangan pernah melakukan hal yang bisa menjauhkanmu dari sisiku"
Miku hanya terlena dengan segala ucapan Luka. Merasa bahagia karena begitu disayangi, merasa bahagia karena begitu dilindungi oleh sang kakak. Melunakkan pikiran, Miku akhirnya mengalah sendiri, dia tidak mau melanggar perintah yang Luka tetapkan dengan alasan melindungi keberadaannya. Dia akan menuruti semua yang Luka inginkan.
"maafkan aku nee-chan" suara kecil yang teredam didalam pelukannya, masih jelas Luka dengar.
"terimakasih Miku"
-][-
"jadi begitu?" Gakupo memutar tubuhnya, menatap balik kearah Meiko yang sudah siap berbenah, menyiapkan dirinya sendiri untuk berangkat bekerja.
Meiko sudah menceritakan apa yang dia tahu dengan Gakupo. Tentang Luka maupun tentang Kaito yang sedikit dia tahu.
"sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Jangan sampai kau tertarik pada si wanita sakura itu" Meiko memasang wajah cemberutnya dan menatap Gakupo manja. Mendapati wajah sang terkasih berubah semakin manis begitu, Gakupo hanya mencubit pipinya.
"kau cemburu ya?" Gakupo mendekap Meiko erat.
"aku tak akan pernah bisa merasakan cinta dari wanita lain selain dari mu"
"aku harap begitu" Meiko mengecup lembut bibir Gakupo, dan yang menjadi korban hanya terdiam penuh dengan senyuman, saat sang kekasih sudah beranjak melangkah menjauh meninggalkannya.
"kelak, aku akan menjadi suami yang baik untukmu sayang" Gakupo melambai, dan Meiko merasa sangat terbuai dengan ucapannya.
-][-
Empat hari sudah, media dibungkus oleh rumor pernikahan tentang kedua anak dari masing – masing orang yang berpengaruh dinegara tersebut. Media tak pernah lelah memburu berita serta kepastian tentang perkembangan beritanya. Bahkan beberapa hari terkahir ini, perusahaan pusat Sega Group selalu dikerumuni oleh sekelompok pencari berita.
"ini efek dari ketenaran Shion Kaito atau Megurine Luka ya?" seorang pria tersenyum memandangi kerumunan wartawan yang tak pernah lelah menunggui salah satu dari kerabat Shion untuk segera dimintai keterangan.
"mereka hanya tertarik pada kemunculan dari masing – masing penerus sang menteri dan pewaris" seorang pemuda lain lebih fokus pada dokumen – dokumen yang tertuang didepan mejanya.
"tapi, anak Megurine itu memang cantik Ted, beruntung Shion Kaito menikah dengannya" Oliver memandangi wajah rekannya dengan antusias. Walau tidak pernah bertemu dengan sang Megurine, tapi rasanya dia bisa memutuskan seperti apa wanita itu.
"aku dengar. Masa lalunya cukup menarik" Ted mengangkat wajahnya memandang Oliver, sang rekan.
"gadis nakal" sebuah seringaian muncul diwajah mereka berdua secara bergantian.
-][-
Kaito memandang Luka dalam diam. Sudah beberapa menit mereka saling pandanng, namun kenyataannya tak ada satu pun yang terucap dari bibir keduanya. Mereka berdua sama – sama membisu. Miku sampai tidak tahu harus berbuat apa saat melihat keadaan keduanya.
Malam hening itu semakin terasa hening hanya dengan menatap keadaan mereka berdua saja. Sebenarnya banyak yang ingin Kaito sampaikan pada Luka, tapi rasanya menatap wajah Luka yang sama sekali menunjukkan ketidaksiapan akan hal apapun, Kaito mengurungkannya. Luka adalah wanita paling sensitif yang Kaito kenal seumur hidupnya.
"ano, ka-kalau begitu biar aku siapkan-"
Suara bel memotong ucapan Miku seketika. Malam – malam begini, siapa yang bertamu? Apa mungkin Yuuma? Miku segera bergegas melangkah meninggalkan kedua insan yang sejak tadi masih membisu.
Kaito masih menatap Luka lekat. Mau bicara apa dia pun bingung. Mau mulai dari mana dia juga tidak tahu.
"ibuku, memintaku untuk mengunjungimu.." suara Kaito terdengar begitu ragu, namun Luka tak merespon.
"aku datang kesini hanya ingin minta maaf Luka" sebuah kalimat yang begitu tulus, namun diabaikan Luka dalam sekejap.
"ka-kalian siapa?! Cepat keluar?!" Luka dan Kaito sama – sama kaget mendengar Miku bersuara keras, hingga sebelum mereka melangkah mendapati gadis itu, kedua orang muncul secara tiba – tiba disana.
"Miku.." ucapan Luka tertahan, saat seorang pria berambut lebih merah darinya memberikan dia sebuah senyuman anehnya.
"lama tak bertemu gadis nakal ku" dan mendengar ucapan itu, semua mata tertuju kearah Luka.
Hening sejenak. Luka bisa merasakan semua mata seakan tengah menelanjanginya dengan tatapan penuh tanya.
"Kasane-san, kau tahu darimana aku berada disini?" nadanya terdengar bimbang.
Ayolah, didunia ini hanya Luka yang tahu bagaimana peringai seorang Kasane Ted.
"kau mengenal mereka Luka?" Miku memandang mereka ingin tahu, penasaran. Karena kedua sosok pria itu terlihat begitu asing baginya.
"ah, yaa.." Luka menundukkan wajahnya, merasa malu dan cemas. Kasane Ted itu pria yang menyebalkan, mulutnya suka bicara apapun tanpa memikirkan perasaan orang lain yang bersangkutan. Dan Kaito menangkap sinyal keanehan dari sikap yang baru saja di pertontonkan Luka padanya.
"Kasane Ted, dan ini rekanku Oliver. Kami pekerja di Sega Group, perusahaan milik Shion-san" Ted memandang wajah Kaito yang sama sekali tidak merasa mengenal sosok itu.
"maaf, aku tidak mengenal pekerja yang bekerja diperusahaan ayahku" Kaito menyesal sopan, dan kedua pria itu hanya menyunggingkan senyuman untuk memakluminya.
"jadi, gadis cantik ini siapa Megurine-san?" Ted mengalihkan pandangannya kearah Miku, melangkah maju saat Miku bergerak mundur. Tatapannya membuat Miku sedikit gugup dan tak tahu harus bertingkah apa.
"dia- dia.." Luka ragu mengakui.
"aku temannya.." Miku langsung memotong ucapan Luka. untuk saat ini Miku paham jika dia harus membantu Luka menyembunyikan jati dirinya.
"benarkah. Cantik. Boleh kumiliki Megurine-san?" tanpa aba – aba, Ted sudah merangkul Miku, mengecup bibirnya hingga membuat Oliver tertahan dengan tatapannya.
"manis sekali.." bisik Ted membuat Miku merona merah.
Belum lagi ronah merah diwajah Miku menghilang. Gadis itu sudah mendapat ada bayangan Luka yang mendorong tubuh Ted menjauh darinya.
"lepaskan dia Kasane-san" Ted meringis dalam tawa. Sudah lama tidak melihat kemarahan dari orang yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Teman seksnya.
"jadi, kau mau aku memilikimu?" Ted merangkul Luka secepat yang dia bisa, tanpa ragu mendaratkan sebuah kecupan singkat dibibir Luka. Lagi – lagi Oliver dibuatnya terperangah tidak berdaya. Rekannya yang satu itu memang selalu terlihat menakjubkan.
Kaito marah. Jelas saja melihat pemandangan itu dia marah. Mana dia rela wanitanya disentuh pria lain didepan matanya. Kesalnya meluap, namun entah karena apa dia mengurungkan niatnya untuk meninju pria itu disana. Mencoba bersabar.
"brengsek.." Luka mendorong Ted keras, dan Oliver menahan tubuh rekannya yang hampir terjatuh itu dengan cepat.
"keluar dari rumahku!" Luka muak, lupakan apa yang akan Ted lakukan dengan cerita masalalunya kelak. Dia hanya tidak ingin ada yang mengganggu ketentraman rumahnya kini.
"oh... jadi ini sikap nyata seorang calon istri dari pewaris Sega Group?" Ted memasang tampang angkuhnya, menatapi Luka dengan pandangan cukup menyebalkan.
"gadis nakalku.." sebuah bisikan cukup jelas, terdengar seluruh penjuru. Miku terdiam, Oliver apalagi. Namun sebelum semuanya menyadari, Kaito sudah melangkah dengan tinjuan yang baru saja dan entah sejak kapan sudah membuat Ted tersungkur diatas lantai.
"jaga ucapanmu bangsat!" Kaito melangkah meraih pemuda merah itu. Menariknya bangkit dan siap meninjunya dengan satu tinjuan yang sudah dikepalkannya. Namun sesegera mungkin Luka menahannya.
"Hentikan Kaito!" gerakan Kaito terhenti. Ted meringis dengan senyuman menjijikan didepan matanya.
"kau membelanya?" Kaito menghempaskan tubuh itu hingga kembali tersungkur, dan Oliver langsung meraihnya.
"tidak ada yang salah dengan ucapannya kan?" Luka memandang Kaito dengan pandangan yang serius. Terlalu serius hingga Kaito balik memandangnya dengan amarah yang seakan ingin pecah. Siapa yang mau wanitanya dilecehkan seperti itu? Kaito tidak mau semua orang membicarakan masalalu Luka. Mengatakannya gadis nakal?
"jaga ucapanmu Luka" Kaito menahan amarahnya. Amarah yang tidak pernah ditunjukkannya pada orang lain, selain pada Luka.
"aku tidak suka kau menganggap dirimu rendah! Kau ingin membelanya? Aku lebih mengenal seperti apa perilakumu dari pada pria lain yang pernah menidurimu dulu! Jangan pernah membela pria lain dihadapanku!" kesal. Kaito habis kesabaran. Dia cemburu, marah, tak terkendali, semuanya akan bercampur menjadi satu perasaan jika tengah menyinggung tentang Luka. Miku sampai tidak tahu harus bagaimana, belum pernah dia melihat sosok Kaito yang menakutkan seperti ini, terlalu menakutkan sampai dia takut Luka akan mendapatkan kekerasan jika masih terus membuat Kaito marah.
"ini semua karena si brengsek ini.." Kaito menatap Ted dengan kesal. Melangkah marah, dan meraih kerah baju dari kemeja yang pemuda itu pakai, lalu meninjunya lagi. Miku terpekik histeris, Oliver pun tak mampu menahan. Sedangkan Luka hanya menunduk diam.
"hentikan tuan, semuanya bisa dibicarakan" Oliver menahan tubuh Kaito, menariknya sebelum pria itu meraih lagi tubuh lemah Ted yang sudah tersungkur entah untuk keberapa kali diatas lantai.
"Hentikan Kaito-san, kau bisa membunuhnya" Miku berteriak, ada darah yang telah menodai lantai, dan dia yakin itu darah milik pemuda yang baru saja membuat masalah dirumah ini.
"Luka, hentikan Kaito! dia bisa membunuh temanmu" Miku memandangi Luka yang sama sekali tidak tertarik melihat pertengkaran itu. Egois, Luka tidak tahu kenapa untuk saat segenting ini dia tiba – tiba bersikap egois. Kaito memarahinya, dan entah kenapa ada rasa sakit yang begitu tak mampu ditahannya. Sifat marah Kaito hampir sama dengan kemarahannya saat memaksa dirinya dulu. Lalu setelahnya, karena sebuah pertengkaran, suaminya meninggal akibat kecelakaan.
Kaito mendorong tubuh Oliver yang menahannya, terhempas entah kemana dia tidak peduli. Didepan matanya, dia hanya ingin meraih pemuda merah itu, menghajarnya habis – habisan hingga mulutnya tak lagi sanggup berbicara hal aneh tentang masalalu Luka. Tidak selama Kaito masih ada didunia ini.
"te-tenang Shion-san. Maaf jika a-aku telah bicara berlebihan.." Ted masih ingin membela dirinya. Namun aura mata Kaito sudah gelap, emosinya tak lagi bisa dia redam.
"jika kau tak bisa menutup mulutmu, aku yang akan menutupnya selamanya" Kaito mengepalkan tinjunya. Melihat itu Ted sudah pasrah. Miku menarik nafasnya tertahan oleh langkah Luka yang sudah menuju kedua orang pria yang saling begelut dalam emosi itu. dan Oliver hanya memandangi mereka dari posisi tak berdayanya.
"kau lebih pantas mati, bangsat!-"
Sebuah dekapan, menghentikan gerakan tinju Kaito yang nyaris menyentuh wajah Ted. Miku menghela nafasnya lega.
"hentikan Kaito" suara lembut itu merasuki batin Kaito. Dekapan Luka pada punggungnya membuatnya melunak seketika.
"hentikan. Kau mau mengulangi kesalahan yang sama seperti satu tahun lalu?" Luka meremas dada Kaito dengan tangannya. Membuat Kaito melepas cengkramannya pada Ted, dan membuat tubuh pria itu mendarat keatas lantai, dia tidak peduli lagi. Luka kini mendominasi pikirannya.
"kau membuatku trauma.." ucapan itu membuat Miku menajamkan pengelihatannya. Dan Kaito menunduk menyesal. Kesalahan dua tahun lalu, Toukai memukul Kaito habis – habisan, hingga Toukai melarikan diri dengan amarahnya, dan berpulang dengan hadiah kematian. Luka takut, Kaito mengalami masa yang sama, dibalut emosi yang meledak – ledak, enggan mendengarkan penjelasan Luka hingga dia pergi dengan ekspresi amarah yang masih membumbung tinggi dan berpulang dengan kondisi yang sama dengan Toukai. Hanya itu yang bisa Luka bayangkan. Hanya itu yang membuatnya bergerak tanpa sadar, memeluk punggung Kaito erat, tak ingin melepaskannya, tak ingin membiarkannya menghilang dari pandangannya dengan perasaan marah atas dirinya sendiri. Luka tidak ingin.
Ted meringis kesakitan, pelipisnya berdarah, bibirnya juga. Oliver hanya menggeleng sambil menelan ludah. Rasanya lega melihat rekannya baru saja lepas dari maut yang hampir saja membunuhnya.
"Luka.." otot – otot kaku didalam tubuh Kaito melunak. Emosinya sirna entah kemana.
"kau bisa marah padaku. Kau bisa memukulku jika kau mau. Tapi aku mohon. Jangan lakukan hal semenakutkan itu terhadap orang lain. Aku takut melihatmu marah Kaito. Aku takut kau menyakiti orang lain. Aku takut.. aku takut..."
Kaito tidak buta, juga tidak tuli. Dia mendengar ada isakan, dan juga merasakan ada sesuatu yang basah menyentuh kulit punggungnya. Luka menangis, Kaito mendapati ada getaran ketakutan pada wanita itu. Rasa ibanya muncul. Dibalikkan badannya dan didekapnya Luka dengan perasaan menyesal. Menyesal karena telah membuat wanita yang dicintainya gemetar ketakutan.
"maafkan aku Luka" Kaito mendekap tubuh lemah itu, membiarkan Luka menyembunyikan wajahnya didada Kaito.
"aku hanya tidak suka orang – orang melecehkanmu" Kaito melepas dekapannya, memandang wajah merah penuh tangis Luka, dan mendekatkan wajahnya kewajah sembab wanita itu. Dia begitu ingin melindungi yang terkasih dengan tangannya sendiri.
"aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Jangan paksa aku untuk tetap menjadi temanmu. Karena aku masih tetap mencintaimu"
Kaito menghapus titik airmata yang tersisa dipipi Luka, tersenyum pada wanita itu, dan mendekapnya sekali lagi.
"aku tak akan mengulang kesalahanku lagi, aku janji" dan setelah kalimat dari bibirnya keluar, pemuda itu merasakan ada satu anggukan kecil yang terasa didadanya. Luka mengangguk untuknya.
"maaf nona. Apa kau punya obat merah untuk temanku?" Oliver memandang Miku ragu, mengganggu kekaguman gadis itu dengan pertunjukkan yang membuat hatinya tersentuh.
-][-
Oliver merasa canggung. Tatapan kedua orang itu tak pernah luntur dari dirinya. Miku dan Kaito memandanginya habis – habisan. Sedangkan Luka masih sibuk membalut luka yang menderah tubuh Ted.
"dia pria yang baik" Ted menerawang keatas langit – langit kamar Luka. Membiarkan Luka mengurus rasa perih yang ada dipelipis dan bibirnya.
"kau beruntung, dari dulu dia selalu saja ada disisimu. Saat aku sudah menikah dua kali pun, dia masih saja tetap diposisinya, berada disampingmu" Ted memaksa tersenyum, namun rasa sakit diwajahnya membuatnya jerah.
"aku tak butuh nasehatmu" Luka tak perlu memandang wajah pria itu, karena dia sudah pasti hapal bagaimana seringain licik diwajahnya. Tawa menjijikannya.
"kau tidak pernah cerita tentangku dengannya? Aku tak menyangka dia akan semarah itu saat mendengar tentangmu dari mulutku" Ted masih memandang kosong pandangan tak berarti dihadapannya. Dia bisa ingat dulu Luka sering bercerita tentang Kaito dan mau tak mau Ted jadi merasa begitu mengenalnya. Tapi Kaito sama sekali tak pernah merasa pernah kenal dengan pemuda itu.
"kau bilang bagaimana tentang ku padanya? sepupu kah? Mantan kekasih atau teman seks-" Ted langsung meringis saat Luka menekan goresan luka yang sedang dia bersihkan dipelipis Ted.
"kau ingin kubunuh?" Luka menatapnya sadis, dan Ted hanya tertawa hampa.
"masih sama seperti dulu, dasar gadis nakal- aduuuuuhhh..." Ted meringis lebih hebat sekali lagi. Luka benar – benar tega menekan kuat pelipisnya yang terluka.
"aku minta maaf Lukaaa..." Ted memohon saat Luka meninggalkannya dengan cuek.
Kaito berdiri memandangi Luka yang turun dari kamarnya. Oliver ikut bangkit dengan perasaan lega saat kedua pasang mata itu tak lagi memandanginya.
"bagaimana? Sudah kau obati?" Miku bertanya panik.
"dia tidak perlu diobati" Luka menatap wajah Miku sekenanya, dan kemudian pandangannya beralih kearah Oliver, dan pemuda itu menahan nafasnya sekali lagi.
"dari mana kalian tahu alamatku?' Oliver tak berani memandangi Luka. Karena dia sama sekali tidak mengenal wanita di hadapannya itu. Dan kesan pertama perkenalan mereka benar – benar membuat Oliver tak sanggup lagi berkata – kata.
"S-shion-sama yang menyuruh kami menemuimu" pemuda itu menelan ludahnya. Dia takut.
-][-
Pemuda itu masih terdiam. Tatapannya bagai tak berujung, tak tentu dan terlihat tak berarti. Sejak pengumuman perjodohan sang terkasih, hidupnya terkesan berubah. Ingin rasanya dia berteriak, meraung sekuat nada suaranya, tapi apa mungkin semuanya bisa menyentuh sang wanita ditempatnya?
Aku mencintaimu Luka Yuuma membatin.
Aku sangat mencintaimu suara itu tertahan dalam getar keputusasaan didalam dadanya.
Sakit didalam hatinya kini tak sebanding dengan rasa sakit dari gagal yang sudah berapa kali dialaminya dulu. Sakit yang sekarang membuatnya mendendam pun tak mampu lagi.
Padahal, nyaris saja dia bisa menggapai Luka, nyaris saja perasaannya bisa menyentuh perasaan tak terjamah Luka, tapi kenapa harus sudah berakhir seperti ini?
"jarang sekali melihatmu melamun seperti ini Yuuma-kun" pemuda itu menoleh, didepan matanya sudah berdiri seorang gadis cantik, yang dulu pernah menjadi orang yang amat dia sayangi. Ada senyum diwajah gadis itu, senyum yang dulu sangat didambakan sang pria disana. Tapi sekarang, keadaan sudah berbeda, Yuuma mengabaikan kehadirannya.
Merasa tak lagi sama berharganya seperti dulu, senyum di wajah sang gadis berubah menjadi senyuman pahit yang tak terartikan. Melangkah mendekati Yuuma yang masih tenggelam dalam lamunannya diatas meja kerjanya.
Dengan lembut, Yukari menyentuh bahu Yuuma, begitu lembut, takut Yuuma menepisnya.
"ayahmu bilang kau sedang berada dikamar, jadi aku langsung datang menemuimu" Yukari menarik sentuhannya, dia tahu diri untuk tak lagi mengganggu Yuuma disana. Dan ketidakresponan Yuuma membuat Yukari meringis sekali lagi, ringisan yang tak terdengar.
"aku tidak pernah ingat telah mengijinkanmu untuk kembali menemuiku" Yuuma menggeram, sudah cukup rasa sakitnya karena kenyataan tentang Luka akhir – akhir ini, jangan sampai kenangan masalalu dan rasa sakit dari Yukari yang dulu kembali menguap menyatu kerasa sakitnya yang lain.
Yukari mundur, penatnya disesali rasa sakit hati karena ketidaksukaan Yuuma akan dirinya. Dia menyesal.
"kau masih marah padaku?" pertanyaan itu keluar begitu saja, walau memalukan, tapi Yukari tak begitu bisa mampu menahan bibirnya untuk berucap.
"jadi maksudmu aku harus memujimu karena tingkahmu dimasalalu padaku?!"
Tatapan mengerikan itu bisa Yukari rasakan begitu menusuk dalam sanubarinya. Ada yang berbeda dari Yuuma. Terlalu berbeda sampai dia sendiri tidak begitu yakin apakah Yuuma yang kini memandangnya tajam adalah Yuuma yang dulu pernah mencintainya.
"aku tidak pernah memintamu untuk mencintaiku dulu" Yukari membalas tatapan Yuuma. Membiarkan Yuuma memaksa otaknya berputar pada kenangan tentang mereka.
"kau yang memaksaku, dan aku hanya berusaha menghargai usahamu. Jadi jangan salahkah aku jika pada akhirnya aku tertarik pada pria lain"
Benar. Itulah kenyataannya. Yuuma lupa pada bagian itu. Lupa jika sebenarnya dialah yang terlalu berharap, dan terlalu mencintai seorang gadis dulu.
"kau kecewa karena terlalu berharap pada keputusan orang lain yang ingin sesuai dengan harapanmu. Tapi apa kau tahu bagaimana kekecewaanku saat aku harus mewujudkan harapanmu?"
Yuuma sedang menahan amarahnya. Pada dasarnya Yukari benar. Yuuma lah yang terlalu mencintainya. Memaksa gadis itu mengikutinya kemanapun dia mau, menjadi miliknya dan berharap gadis itu membalas cintanya. Yukari memang melakukan apa yang Yuuma harapkan. Tapi jangan salahkan cinta jika pada akhirnya saat dimana Yukari bersama dengan Yuuma, gadis itu jatuh cinta pada pria lain.
"dan kau mau mengulang kesalahanmu padaku dulu dengan gadis lain?"
Yuuma tertunduk. Banyak hal yang telah menghempaskannya dalam waktu singkat. Otaknya sulit untuk berpikir.
"tapi.. aku yakin dia mencintaiku.. aku yakin Luka mencintaiku.." Yuuma meremas rambutnya, dia frustasi dan tak tahu harus memikirkan hal apa lagi. Dan melihat penampilan menyedihkan seperti itu, Yukari kembali melunak. Dia merasa iba dan juga ikut merasa bersalah atas kepedihan yang menimpa Yuuma dulu.
"jangan bersikap egois Yuuma-kun. Cinta tak akan selamanya membuatmu bahagia. Harus ada kematangan untuk memikirkan hal yang berkaitan disekelilingmu. Pikirkan orang tuamu. Aku yakin gadis itu juga sedang berada dimasa yang sama sepertimu sekarang ini. Dan aku juga yakin dia sedang berperang dengan kata hatinya sendiri. Didunia ini banyak kejadian yang tak bisa kita elakkan. Bukan maksudku untuk menasehatimu, tapi aku hanya ingin kita belajar dari pengalaman" Yukari menyentuh bahu Yuuma lembut. Iba sekaligus haru karena mantan kekasihnya tengan berada dalam masa tersulitnya.
"aku hanya ingin meminta maaf padamu, untuk itu aku kembali menunjukkan diriku. Aku sadar aku tak pantas, tapi percayalah, aku masih menyayangimu sebagai teman, aku peduli padamu".
Untuk saat ini perasaan Yuuma memang sedang tak bisa dia perbaiki, tapi Yukari berjanji, kapan Yuuma membutuhkan seseorang yang ingin mempedulikannya, dia akan selalu ada. Sebagai penebusan dosa, Yukari tidak akan mungkin bisa membiarkan Yuuma menderita lebih parah lagi dari ini.
-][-
"maafkan aku Shion-san"
Sebelum pulang, Ted memaksa Kaito untuk berbicara empat mata padanya. Dia melangkah kesisi pekarangan rumah, menjauh dari rombongan Miku, Luka dan Oliver yang masih bisa menatap mereka, namun tak cukup bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Megurine-san itu wanita baik, kau tahu itukan?" Ted memandang Kaito lekat, seakan lupa jika pemuda itu lah yang baru saja membuat wajahnya terluka. Kaito tak menjawab.
"sebenarnya aku adalah sepupunya. Mungkin dia tidak pernah cerita padamu. Tapi dia cukup bercerita banyak tentangmu padaku dulu" Ted tersenyum, risih rasanya berbicara sopan dengan orang yang baru saja ingin membunuhmu.
"tapi, bukan berarti kami tidak pernah melakukannya ya?" Ted tertawa, tapi tawanya berubah menjadi pengaduhan rasa sakit karena Kaito tiba – tiba meninju perutnya pelan. Kaito tersenyum.
"aku hanya berharap kau tidak lagi membicarakan masalah ini Kasane-san" Kaito menyimpulkan sebuah senyuman tipis diwajahnya. Dia tidak akan merasa aneh jika Ted mengatakan hal itu, malah dia merasa cukup lega, mengetahui satu demi satu tentang pria – pria mana yang pernah menjadi pria – pria dimasa hidupnya Luka. Karena kelak, dirinya lah yang akan mendampingi kehidupan Luka.
"tidak perlu cemas. Oliver tidak akan percaya dengan kicauanku tadi. Ini tetap menjadi rahasia antara kau dan dia.." Ted memandang kearah Luka dan Kaito ikut mengalihkan pandangannya kearah wanita yang sama.
Sang wanita hanya membalas tatapan mereka dengan kebingungan.
"mereka sedang bicara apa?" Miku penasaran, tatapan kedua pria itu terlihat begitu berbeda, terlihat bersahabat.
"entahlah.." Luka tersenyum lembut.
Ted dan Oliver sudah melangkah menjauh. Luka dan Kaito melepas mereka dengan tatapan perpisahan. Dan Miku sibuk membalas lambaian Oliver diujung sana.
"lain kali kami akan datang lagi ya, Hatsune-san.." ucapnya semangat. Rasa takut yang sedari tadi menyiksa batinnya hilang seketika.
"ya, kalau ada waktu datanglah.." Miku membalasnya ramah.
"terimakasih Hatsune-san.. atas bibir manismu tadi.." Ted tersenyum, Miku memerah.
"kau itulah Ted, lain kali jangan gituin Miku ya?" Oliver mendorong lengan Ted dengan lengannya, merasa tidak suka Ted mencuri kesempatan atas Miku.
"Miku?" Ted mengulang panggilan Oliver yang sudah mulai memanggil nama gadis yang baru dikenalnya dengan nama depannya. Langkah mereka sejajar.
"ah,-ah, maksudku Hatsune-san.. ehh..ehh.." Oliver sedikit gugup. Dan Ted hanya mengangguk kecil.
"baiklah.. baiklah.."
Bayangan kedua pemuda itu tak lagi terlihat. Telah menghilang dibalik gelapnya malam, dan Miku berniat memutar arah untuk melangkah masuk kembali kedalam rumah.
"kalian tidak masuk?" Miku terhenti ketika menyadari kedua insan biru dan merah muda itu masih tetap terdiam dalam posisinya.
"kau duluan saja Miku-chan, aku ingin bicara dengan kakakmu" Kaito memandang Miku dengan senyum, dan tak butuh penjelasan lebih bagi Miku untuk segera mengerti dengan apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Dia sudah menghilang dari sana.
"aku tak menyangka, bahkan orang tuamu pun sudah bergerak mengawasi kita" Luka masih menatap gelap malam dihadapannya. Dinginnya malam tak lagi terasa menusuk batinnya.
"tapi aku rasa sepupumu itu tidak akan mengkhianatimu"
Ekspresi wajah Luka berubah, dia tidak salah dengarkan dengan ucapan Kaito barusan?
"tadi dia bilang kalau kalian itu sepupuan.." Kaito tersenyum ringan. "benarkah?" lanjutnya.
Kali ini Luka yang gantian menyulap sebuah senyum diwajahnya. Dia mengangguk kecil mengiyakan.
"kau tak pernah cerita padaku" Kaito mendekatkan dirinya perlahan, berada sejajar disamping Luka.
"karena aku dan dia itu..." pernah melakukannya. Luka malu mengakuinya. Menanggapi kalimat tertahan Luka, Kaito semakin menebar sebuah senyum diwajahnya. Dia sudah paham.
"sejak dulu, aku tahu banyak pria yang berada dekat denganmu. Walau kau tidak pernah cerita, walau kau terkesan menyembunyikannya dariku. Tapi dari sudut pandang seorang pria seperti ku, aku bisa menduga banyak pria yang tergila – gila padamu Luka" Kaito membayang, dia menerawang.
"tidak masalah bagiku nakalnya riwayat hidupmu dulu Luka, karena salahku lah yang tak bisa selalu menjagamu dulu. Dan salahku karena sudah membawamu mengenal hal – hal yang seharusnya tak kau cobai dulu" Luka hanya diam.
"lucu ya, mengingat dulu. Aku dan Toukai mengajakmu ke club malam saat hari pertamamu menjadi siswi SMA. Aku terlalu bersemangat karena kau akhirnya memulai debut sebagai siswi SMA dan mengajakmu merasakan indahnya hidup ala orang dewasa" Kaito tertawa kecil.
"kita menerobos penjagaan dihari pertama karena tak diperbolehkan masuk. Dan akhirnya kita lolos juga. Kau bertemu Lily pertama kali disana. Gadis yang menyukai gadis lain. Dan lambat laun kalian menjadi teman akrab, berbagi rasa dan cerita. Awalnya aku dan Toukai yang memaksamu meminum racikan alkohol yang kita masih tak tahu apa namaya, dan kau menolaknya mentah – mentah, tapi Lily bisa menembus pertahananmu. Kau ketagihan dan hebatnya kau tidak mabuk. Lily bilang kau gadis yang liar saat itu" semua kilasan masalalu menyenangkan itu terputar perlahan dalam otak Kaito. Manis sekali membayangkan Luka saat itu.
"dan saat ulang tahunmu yang keenambelas, adalah masa yang paling tidak bisa kulupakan" kini Kaito memandang wajah Luka yang masih tak berekspresi. Saat ulang tahun Luka yang keenambelas, dan seminggu setelahnya. Kaito tak pernah lupa apa yang telah dia dan lakukan saat itu. Dulunya hanya rahasia diantara mereka saja, tapi beberapa saat setelahnya Lily menjadi orang ketiga yang ikut merahasiakannya. Hingga akhirnya rahasia itu telah diketahui oleh ayah Luka dan Miku.
Malam semakin larut, Miku tak terlalu mempermasalahkan keberadaan Luka yang tengah berada diluar dicuaca sedingin malam itu. selama masih ada Kaito yang menemaninya. Harusnya tak menjadi masalah.
Mengingat kejadian tak terlupakan ketika dirinya berumur enambelas tahun, membuat Luka tersenyum. Suara desahan kecil yang tercipta dari tawa tertahannya membuat wajahnya semakin mempesona. Kini wanita itu telah dewasa, dan Kaito tak pernah lelah memperhatikan perkembangannya. Harusnya dosa besar itu tak perlu dikenang, tapi baik Kaito dan Luka, dosa itu memiliki kenangannya tersendiri. Dan mereka tak bisa melupakannya.
"aku ingat saat itu kau bilang kau akan bertanggung jawab jika aku mengandung anakmu" Luka menatap Kaito lembut, dan Kaito membalas tatapan itu sama lembutnya, diselingi senyum indahnya. Dirinya sendiri tak pernah lupa kepanikannya saat itu. Merasa harus bertindak sebagai pria dewasa karena telah merusak anak gadis orang.
"aku hanya tidak ingin dibunuh oleh ayahmu" Kaito tertawa, gelitik rasa suka kini memenuhi tubuhnya. Rindu akan masalalunya.
"dan akhirnya karena pengakuanku, kau dihukum melafalkan semua nama orang paling berpengaruhi didunia politik dari seluruh negara beserta riwayat hidup mereka" Luka tertawa, hapir sebulan Kaito harus berusaha mati – matian menjalankan hukumannya.
Mereka berdua tertawa, kenangan manis mereka tanpa Toukai begitu banyak, tapi kenapa Luka menyerah pada ajakan Toukai yang ingin menikahinya dulu?
"maaf karena telah menjadi orang pertamamu Luka, aku sering tertarik memikirkan apakah kau pernah menyesal karena melakukannya denganku?" Kaito mengerucutkan bibirnya, bersikap manis walau bukan kepribadiannya.
"tidak pernah" Luka menjawab mantap.
"aku tidak pernah menyesal melakukannya padamu. Bagaimana mengatakannya ya.." Luka menimbang. "saat itu aku hanya merasa keren saja kerena telah melakukannya dengan pemuda yang merupakan idola para gadis. Kau tahu? Saat itu banyak diantara mereka yang tidak senang denganku, karena kau selalu saja menempel denganku. Semua gadis saat itu juga merasa ingin ditiduri olehmu, jadi saat menghadapi kenyataan bahwa kau juga melakukan pengalaman pertamamu denganku. Aku rasa aku jadi pemenangnya" Luka tertawa, pemikirannya saat itu membuatnya sama sekali tak harus memaksa Kaito menjadi miliknya. Dia hanya ingin membuat gadis – gadis itu sengsara.
"kau yakin sekali siang itu adalah pengalaman bercintaku yang pertama?" Kaito menggerakkan tubuhnya memandang Luka, memaksa tatapan mereka saling menatap, dan Luka pun menggerakkan tubuhnya menghadap Kaito. Saling berhadapan.
"owh, kau merasa tersinggung tuan?" Luka menatap wajah Kaito, menggodanya. Dan Kaito merasa kesal berteman manja.
"aku masih ingat kalimatmu siang itu, sambil menatapku, aku merasa ada getaran penuh keraguan dari setiap permukaan kulitmu yang tersentuh olehku. Luka, apa melakukannya benar seperti ini? Aku tidak terlalu mengerti, ini pengalaman pertamaku. Ya kan?" Luka tertawa, sukses membuat Kaito merasa memerah dihadapannya. Seakan dia lupa apa yang sedang dipikirkan hatinya saat itu. Saat bersama Kaito, masalahnya bisa hilang, juga bisa bertambah. Entahlah. Tapi untuk saat ini dia lupa kegelisahaan hatinya. Kaito membuatnya tertawa.
"ka-kau juga! Kau bilang saat itu pertama kalinya kau melakukannya. Tapi kenapa setiap gerakanku kau yang mengajarinya? Kau sudah sering melakukannya kan?" Kaito tidak mau kalah, tanpa terasa pembicaraan mereka beralih kearah yang sedikit aneh antara pria dan wanita.
"tapi saat itu aku masih perawan kan.." Luka tersipu, ucapannya keluar begitu saja.
"ya, aku akui" Kaito mengalihkan tatapannya kearah lain. Rasa canggung mulai menghampiri mereka berdua, terlalu sulit rasanya bicara hal yang terlalu sensitif diantara keduanya.
"dan karena itu, aku merasa tidak cocok menjadi istri bagi siapapun.." Luka menerawang jati dirinya. Menerawang kesalahannya. Kaito memang orang pertamanya, tapi bukan orang pertama yang menyentuhnya, pria itu hanya menjadi orang yang berhasil memerawaninya.
"jadi, apa kau menerima perjodohan ini?" ini adalah bagian terpenting yang harus segera mereka selesaikan. Agar Kaito bisa melangkah kedepan, jika Luka tidak ingin, Kaito akan berusaha melepaskan kesempatannya. Membantu orang tuanya membatalkan perjodohan demi kebahagiaan Luka.
"aku mungkin sudah mencintai seseorang, aku ragu harus bagaimana" Luka tak sanggup menatap Kaito, karena dia takut keputusannya akan tergoyah.
"Yuuma-san?" Kaito menebak, dan Luka menatapnya kaget.
"jika kau memang tak ingin menikah denganku. Aku akan paksa Yuuma untuk membawamu pergi. Sepertinya dia juga mencintaimu" Kaito tersenyum miris, seperti ada retakan yang menyelubungi jatinya.
"lalu bagaimana denganmu?" Luka mendesak Kaito bicara.
"harus kurelakan, atau aku harus buat scandal lain untuk mengalihkan perjodohan, mungkin" Kaito ragu.
"maksudmu?" Luka tak bisa menebak.
"harus berhasil menghamili wanita lain untuk merusak perjodohan kita, mungkin itu ide bagus" Kaito tertawa jengah sambil menatap ekspresi wajah tak terartikan Luka, namun belum sempat Luka berucap, Kaito menahannya.
"tidak usah pedulikan aku, kau bisa cari kebahagiaanmu yang lain. Karena aku sadar, kita tidak akan pernah berjodoh" senyum itu membuat hati Luka teriris. Dia tidak paham kenapa rasa sakit itu membuatnya melemah, kenapa dia tidak bisa melepaskan kepeduliannya pada Kaito. Bukankah dia sudah putuskan dia telah jatuh cinta pada pria lain? Atau dia masih ragu?
Tbc~
kayaknya bakal banyak Typo ni.. setelah saya ketik langsung saya copas kesini, jadi jujur saja saya enggak sempat lagi memperbaiki kesalahan pengetikannya. Sampaikan salah dan dosa saya jika anda menemukannya. anda ada untuk memperbaiki kesalahan saya.
