Cinta dan hasrat itu bersebelahan. Tak bisa jauh - jauh, akan selalu berdampingan. Bedanya. bagaimana cara seseorang memperlakukannya. Suci kah? atau sesukanya? bagaimana denganmu? juga berbeda denganku.

~Terlihat~

Kaito dan Luka kini tak lagi bisa mengelak. Berhadapan dengan takdir mungkin masih bisa mereka permainkan, tapi jika berhadapan dengan sang ayah. Luka dan Kaito hanya akan terdiam.

Bukannya Luka tak mau membalas tatapan ayahnya dengan tatapan yang sama menyeramkannya dengan tatapan miliknya. Tapi Luka memang sedang tidak ingin berdebat. Dia sudah lama menyerah. Sudah lama, sejak suaminya meninggal dunia dan meninggalkannya. Menyerah untuk menemukan kebahagiaannya sendiri. Tak ada lagi rasanya yang ingin dia raih.

Kaito sendiri jadi merasa risih, ditatap dengan pandangan seperti itu oleh ayah Luka bergantian antara dirinya dengan Luka. Berusaha menyelami, seakan ingin menelanjangi, meminta penjelasan yang bisa memuaskan kehausan batinnya. Tapi, alih – alih ingin bersuara, Kaito malah menunduk tak berdaya. Dia tak bisa memandang wajah pria tua itu, terlalu menyeramkan, mengingatkannya pada masa lalu, masa dimana dia dan Luka harus menerima tatapan yang sama seperti saat ayah Luka menghukum keduanya.

"apa maksudmu Kaito?" suara itu terdengar begitu menyeramkan, bagi Kaito. Seakan dia sempat lupa akan alasan apa yang membuatnya dan Luka harus menghadap ke sang yang berkuasa dihadapan mereka. Kaito berusaha menelan ludah, keberaniannya menipis, entah karena apa.

"kau lupa, siapa yang yang harus kau nikahi? Apa ini cara kalian memberontak pada perintahku?" Kaito memperdalam tunduknya. Dan Luka terlihat sama.

Mecoba mengintip apa yang Luka lakukan disampingnya. Kaito hanya mendapati wajah wanita itu diam tak berekspresi. Seakan mati rasa.

"pernikahan kalian akan dilaksanakan minggu ini. Jangan berniat untuk membantah lagi, ini perintahku" Kaito tercekat dengan cepat.

"paman, aku tidak bisa. Bagaimanapun ceritanya, aku harus mempertanggungjawabkan rumor ini-" Kaito terdiam, pandangan mata ayah Luka membuat suaranya tertahan.

"hanya rumor. Tidak lebih. Kau tidak bisa membodohiku anak muda. Membuat rumor meniduri anak gadis orang tidaklah bisa membuatku tertipu. Aku sudah memaksa gadis itu bersuara, dan aku telah dapatkan kebenarannya"

Mendengar kalimat itu, Kaito mengepalkan kesepuluh jarinya. Menahan geram karena telah dikalahkan ayah dari wanita yang dia cintai. Harusnya ayah Luka tidak harus melakukan hal seberlebihan ini dengan menyalahgunakan kekuasaanya kan? Kaito menggeram.

"kau apakan gadis itu?" entah karena apa, Kaito telah menatap mata pria tua itu dengan kesalnya. Kaito merasa dipermainkan, semua yang dia rencanakan dirusak oleh pria tua didepannya.

Rencana untuk segera melarikan perasaannya dari perasaan terdahulunya terhadap Luka. dia sudah janji pada Luka, janji untuk menentang perjodohan walau bagaimanapun caranya. Itu pun jika memang benar Luka sudah mencintai pria lain. Dan tampaknya Luka tak merespon apapun tindakan Kaito akhir – akhir ini. Terlihat dari banyaknya rumor yang sudah beredar tentang tertangkapnya figur aktor muda itu sedang bercumbu di salah mall di kota itu. Luka sama sekali tak berniat menanyakan kejelasannya pada Kaito.

"kau tidak perlu tahu bagaimana cara otakku berpikir. Kesepakatan telah ditetapkan. Luka.." Luka mengangkat kepalanya menatap ayahnya saat namanya terpanggil.

"menikahlah dengan Kaito, dan jangan membuat masalah dengan anak dari pasienmu itu" ayah Luka berpaling wajah, melangkah meninggalkan mereka. Meninggalkan Luka dengan berbagai rasa yang bercampur dibenaknya. Dan meninggalkan Kaito dengan perasaan kesal yang entah akan disebutnya apa untuk pria yang sudah berhasil menyudutkannya berkali – kali itu.

Luka tak perlu berpikir panjang, tentang bagaimana ayahnya bisa menebak apa yang terjadi antara dia dan si anak pasiennya. Entahlah, terkadang Luka ingin tertawa keras dalam hati. Menertawai ketidakberdayaannya, menertawai bagaimana bisa dia selalu merasa dikalahkan oleh orang – orang yang sudah mengganggu jalan hidupnya. Persetan.

Rumor yang sengaja diciptakan Kaito, bertujuan untuk membatalkan perjodohannya dengan Luka. Mengorbankan nama baiknya sendiri, yang beberapa waktu lalu sempat membaik, namun akhirnya dirusaknya kembali dengan sengaja. Dalam sekali aksi saja, Kaito sudah bisa membuat media menyebarkan rumor itu. Peraturan dari permainannya memang cukup sederhana. Kaito membayar gadis itu, memintanya melakukan apapun yang dia inginkan, dengan kesepakatan yang akhirnya disetujui kedua belah pihak. Gadis itu tak lah orang asing bagi Kaito, dia teman Lily dan satu sekolah saat SMA dengan Kaito, gadis yang dulu memang sempat menaruh rasa pada Kaito, namun tak lagi dia miliki sekarang. Walaupun awalnya gadis itu tidak setuju dengan permintaan Kaito, tapi dengan kesungguhan, Kaito sangat membutuhkan pertolongannya.

Kaito ingat, seberapa sedihnya gadis itu melihat dirinya sendiri. Memohon untuk menciptakan kesalahan agar nama baiknya tercemar. Bergitu berbeda dari Kaito yang dulu. Pria itu bahkan sempat berlutut padanya, berharap sang gadis mempertimbangkan permintaannya. Permintaan yang membiarkan Kaito rela mencumbui dirinya disetiap dimana CCTV berada dan yang akan memungkinkan media menemui celah dosa mereka.

"aku tak bisa melakukan hal sebodoh ini Shion-san.."

"aku tidak punya pilihan lain. Aku janji wajahmu tak akan tampak, tapi biarkan aku melakukan hal seperti itu denganmu.. aku janji nama baikmu akan kujaga. Aku hanya perlu menciptakan rumor ini untuk menghentikan semuanya"

"tapi, aku ragu tak akan ada yang bisa kau selesaikan setelah kau melakukan ini padaku Shion-san. Semua yang kau lakukan tidak bisa menyelesaikan masalah"

"aku mohon.. aku mohon..."

Luka berusaha untuk tidak terlarut dalam keegoisannya. Mendapati kesenjangan antara dirinya dan Kaito membuatnya semakin merasa tak nyaman untuk duduk disamping pria itu. Kaito terlihat tak pernah ingin membalas pandangannya, mengabaikannya walaupun Luka ingin sekali mereka bersuara. Rasanya, Kaito tengah menyimpan sesuatu yang seharusnya Kaito sendiri harus tahu bahwa tak ada yang bisa Kaito sembunyikan dari diri Luka.

Menyusuri setiap jalan yang sudah terasa sepi, Kaito hanya fokus pada kemudinya. Wajahnya terlihat begitu ketat dan kaku. Seperti ingin menyatakan dia tidak ingin diganggu. Siapapun, sekalipun itu Luka sendiri. Yang Luka lakukan disana hanya memandangi jalanan luar yang terasa begitu cepat lenyap dari pandangan matanya, lenyap tergantikan, lenyap tergantikan, begitu seterusnya. Hingga kelihatan hanya seperti goresan sinar yang sedang membias, hasil dari sinar lampu – lampu kota yang terhusap oleh kecepatan Kaito mengemudi. Luka merasa diabaikan.

Tiba dirumahnya sendiri, Luka menatap wajah datar Kaito, mengajaknya untuk singgah namun tampak Kaito tak meresponnya. Luka tahu kesal apa yang Kaito endapkan kini dalam hatinya. Kaito pasti tengah mendendam pada ayahnya sendiri. Luka mengakui ayahnya memang tak pernah menjanjikan kedamaian pada siapapun. Dan Luka memakluminya.

"mungkin, aku bisa membuatkan makan malam untukmu" Luka memandang wajah Kaito senduh. Namun sang lelaki tak berusaha merespon sedikitpun perkataan yang keluar dari bibirnya. Dia diabaikan. Untuk kesekian kalinya, Luka merasa teramat sangat tersakiti saat Kaito mengabaikannya. Dia juga tidak begitu mengerti entah karena apa. Kini wajah Luka yang sebelumnya terlihat ingin berharap Kaito mengiyakan ajakannya, berubah menjadi ekspresi yang tak terartikan. Terasa hampa.

"jadi.. kau mau langsung pulang?" Luka masih menatap wajah itu.

"ada yang ingin kutemui" Kaito tak juga memandang wajah yang tengah memandangnya.

"gadis itu?" Luka menebak, dan sayangnya tebakan sempurna miliknya itu mampu membuat Kaito memandang kearahnya. Mata mereka bertemu pandang. Sedetik saja, Luka merasa ada sesuatu yang terpancar dari sana, sebuah aura kelabu yang terlihat begitu menyakitkan, membiaskan warna kegelapan yang begitu ingin diberi terang. Luka terdiam sejenak.

"aku ingin mencoba mencintainya Luka.." Kaito mendesah kecewa, mewakili perasaan kecewanya pada dirinya. Karena dia tengah berusaha membohongi perasaannya sendiri. Dan Luka hanya diam mendengarkan. Kaito pernah bilang dia ingin melupakan dirinya.

"dan ayahmu merusak semuanya.." Kaito mengepalkan kembali kesepuluh jarinya. Pandangan mata Luka tergerak menikmati bagaimana angkuhnya kesepuluh jari itu bertaut, ada getaran yang begitu kuat yang berusaha ditahan Kaito disana. Sebuah dendam untuk ayahnya sendiri sedang dilihatnya dari orang lain.

"kau membenci ayahku?" Luka tak pernah jera memandang kedalam mata Kaito. Tak punya perasaan takut jika saja Kaito meluapkan emosinya pada dirinya sendiri. Getaran di tangan Kaito semakin menguat, Kaito menyunggingkan satu senyuman yang menakutkan dibibirnya, tak pernah sekalipun Luka melihat senyum menakutkan seperti itu dari wajah Kaito, tapi rasanya dia sama sekali tidak ingin berlalu dari hadapan Kaito.

"rasanya aku ingin membunuh ayahmu.." suara Kaito terasa berat, dan Luka tak terkejut mendengarkan kalimat itu keluar dari mulutnya. Luka melemah, dia mengatur langkah untuk mundur, menjauh dari Kaito tapi tak niat meninggalkannya.

Dipikiran Kaito saat ini hanyalah satu. Apa yang telah diperbuat ayah Luka pada gadis itu? memaksanya bicara dengan melakukan hal – hal kasar pada keluarganya atau dirinya sendiri kah? Kaito tidak tahu. Saat ini dia hanya ingin memaki dirinya sendiri karena telah melibatkan orang yang sama sekali tidak harus disalahkan dalam masalahnya sendiri. Dan untuk itu dia membenci ayah Luka. Memendam rasa dendam dari perasaan tak terlihat dari dirinya sendiri.

"masuklah..." Luka melangkah, meninggalkan Kaito ditempatnya. Membiarkan Kaito berharap Luka menjelaskan sesuatu dan mengikutinya turut melangkah kedalam rumah. Dan Luka berhasil membuat Kaito mengikuti langkahnya. Luka membiarkan pintu rumahnya terbuka, membiarkan Kaito menutupnya kembali, melewati ruang tamu yang terlihat gelap, Luka terus melangkah tanpa berniat menyalahkan lampu disana, dan Kaito tetap mengikuti. Kini, langkah mereka seirama menapaki setiap anak tangga, Kaito tahu kemana dia akan berhenti. Luka membuka pintu kamarnya, tetap membiarkan pintu terbuka, dan Kaito yang akan kembali menutupnya.

Kini didalam ruangan itu, mereka terdiam. Luka melepas rompinya, dan Kaito mencari tempat untuk duduk menunggu Luka. Melangkah mendekati lemari pakaian, Luka memandangi pakaian tidurnya, lalu memilih satu warna sewarna lautan kesukaannya. Dia menyukai warna biru, Kaito sudah tahu itu, tapi biru itu tidak pernah tentang dirinya.

Luka tak pernah merasa canggung melepas pakaianya didepan Kaito, dulu mereka tinggal seatap, dan lebih dari hanya sekedar menatap, Kaito bahkan melakukan lebih pada tubuhnya, dan itu tetap tak pernah membuat Luka canggung melucuti pakaiannya di depan pemuda itu. Kini, Kaito bisa melihat kini didepan matanya, sebuah ukiran indah dari hasil karya Tuhan, hanya dengan balutan pakaian dalam yang serasi warna dan paras, menutupi bagian paling intim dari indahnya tubuh wanita itu. Tidak ada yang berubah, Kaito masih bisa melihat indahnya tubuh itu masih tetap sama. Kulitnya yang begitu putih, seakan mampu memantulkan cahaya lampu yang menerangi ruangan itu.

"kita akan tetap menikah.." ucap Luka ditengah kesibukannya, meraih gaun tidur tipis yang sewarna lautan tadi dari sisi ranjangnya. Luka sadar akan ucapannya. Dia tidak sedang berada dalam keadaan mabuk. Sudah dua tahun Luka tak menyentuh minuman setan sejenis itu. Jadi, sepenuhnya Luka sadar dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Mengingat rumor tentang Kaito dan gadis itu. Membayangkan goresan kesal yang Kaito hadirkan beberapa waktu lalu diwajahnya saat ingin menemui gadis itu, Luka rasanya tidak senang. Kaito miliknya. Melihat Kaito dimiliki orang lain rasanya dia ingin bersikap egois sekali lagi. Melupakan Yuuma yang menjadi alasannya menolak perjodohan.

"dan jika kau ingin mencoba mencintai gadis itu, aku akan memberikanmu kesempatan. Jika kau mau, kita akan melakukan permainan dalam pernikahan kita kelak" pikiran Luka tengah tak menentu. Dia seakan tersesat akan ucapannya sendiri. Setengah dari dirinya merasa tak ingin Kaito melirik gadis lain, setengah lagi, dia juga tak ingin dimiliki Kaito sepenuhnya.

Kaito masih terdiam, matanya masih memandangi setiap gerak - gerik Luka yang tengah merapikan gaun tidur yang baru saja melekat ditubuhnya. Teramat tipis, hingga masih menampilkan setiap lekuk tubuhnya. Bagian bawahnya pun terlihat begitu minim, hingga Kaito masih dapat melihat paha putih bersih itu walau Luka masih dalam keadaan berdiri sekalipun.

"maksudmu?"

Luka memandang wajah Kaito, dan mulai tersenyum. Dia sudah lama merasa tertantang oleh permainan yang ingin diaturnya sendiri.

"jika kau membenci ayahku, balaskan padaku. Didalam pernikahan, kita memang akan menjadi suami istri. Tapi hanya kita yang tahu apa yang kita inginkan bukan? Kau bisa menggauli gadis lain jika itu inginmu. Aku tidak akan keberatan, mungkin. Dan jika memang kau telah memiliki anak dari mereka pun aku tidak akan keberatan. Aku tidak bisa mengekangmu. Itu bukan kuasaku. Akan kita buktikan pada mereka, bahwa pernikahanpun tidak akan ada gunanya. Kita turuti perintah mereka, dan kita menikah dengan peraturan kita. Itu sudah cukup adil untukmu kan?" Luka duduk disisi ranjang, menatap wajah Kaito yang tengah menghadapnya dari meja kerja miliknya sendiri yang diduduki Kaito. Ingin rasanya Luka berteriak. Dia tidak suka keangkuhan yang tiba – tiba menguasai dirinya. Berbicara seperti itu seolah dia memang sanggup menerima kenyataan bahwa kelak suaminya akan menjadi pria dari wanita lain. Jelas dia tidak sanggup. Luka adalah wanita pecemburu, juga punya prinsip. Dan punya keegoisan yang tinggi.

"jika itu cukup adil untukku, apa juga cukup adil untukmu?" Kaito menangkap satu ekspresi tak terduga dari wajah wanita itu. Ada senyum, dan itu terlihat menyedihkan. Kaito kenal siapa Luka, tapi untuk beberapa alasan, Kaito merasa dia belum mengenal Luka lebih banyak dari apa yang dia tahu.

"wanita tidak punya pilihan. Tapi jika itu berlaku untukmu. Kenapa tidak berlaku juga untukku?" Luka bangkit mendekati posisi dimana Kaito berada. Mendekatkan wajah satu sama lain, Luka menyamakan tingginya pada Kaito yang masih terduduk. Dia tersenyum, dia rindu aroma tubuh Kaito, dia rindu harum nafas Kaito yang dulu pernah mendesah diwajahnya. Dia rindu sentuhan dari pria itu, tapi dia tidak pernah bisa ingin mengakuinya. Dia punya harga diri yang cukup tinggi jika semua hal tentang dirinya harus dihadapkan dengan Kaito.

"ini permainan kita, Kaito-kun" Luka menempelkan ujung hidungnya dengan ujung hidung milik Kaito, mengesekkannya perlahan, hingga membuat matanya terpejam.

"kita akan memainkan sebuah permainan yang semua orang mungkin ingin memainkannya" bibir mereka nyaris bersentuhan. Kaito hanya memandang kedalam mata Luka yang kini telah terbuka. Tangannya, bergerak lembut menelusuri dada Kaito, perlahan membuka setiap kaitan kancing yang mengait disana, satu persatu, hingga semuanya terbuka. Dan Luka membiarkan tangannya bergerak menyusuri dada bidang berbulu milik Kaito. dan sejenak ada desahan yang keluar dari bibir Kaito, tepat didepan wajahnya, hingga membuat Luka tersenyum menggoda. Kaito rindu tatapan itu, rindu godaan itu. Dan dia mulai larut dengan setiap sentuhan intim yang tengah Luka mainkan diatas dadanya, hingga menyentuh putingnya.

Bibir Luka mungkin tak bisa mengakuinya. Tapi birahi yang diungkapkannya kini tengah mewakili sejauh mana dia menginginkan pria biru tampan itu. Tapi, ego-nya tertutupi gengsi dan membungkam bibirnya untuk tak mengakui.

Tangan Kaito tak ingin diam, dia memeluk pinggul Luka hingga menarik tubuh itu untuk menempel ditubuhnya, menarik satu kaki Luka agar terduduk dipangkuannya. Mereka saling berhadapan, Kaito sudah sepenuhnya mengarahkan tubuh Luka untuk duduk diatas kedua pahanya, menghadap kearahnya. Kaito membiarkan tangannya meremas punggung Luka, kulit halusnya terasa begitu menggoda dari dari balik gaun tipis itu. Sedangkan Luka sudah mengarahkan wajahnya diantara leher jenjang Kaito, mengecupnya bertahap, membiarkan lidahnya bermain disana, hingga membuat Kaito merasa tak berdaya. Kini Luka beralih mencumbui dada bidang Kaito, membiarkan bulu – bulu dada Kaito menggoda bibirnya. Kaito mendesah. Luka suka menyiksanya, Luka suka melakukan ini padanya, karena Luka memang lebih suka mendominasi permainan untuk dirinya sendiri. Luka bergerak mengarahkan bibirnya diatas puting Kaito, sebelum dia melakukan permainannya. Dia mencuri pandang untuk menikmati bagaimana ekspresi wajah Kaito yang sudah sangat terangsang karena tindakannya. Yang ada, Kaito hanya terpejam meredam gairah nafsu yang tidak ingin dibiarkannya keluar. Karena yang dia tahu, Luka tidak akan pernah mau membiarkan dirinya dicumbui pria lain, terutama dirinya. Luka adalah wanita terliar yang pernah Kaito kenal. Walaupun dari perjalanan hidupnya, Kaito jarang menemani gadis lain diluar sana. Kaito tidak mau merasakan sakitnya penolakan Luka yang sudah dirasakannya berkali – kali seperti yang lalu – lalu.

Luka tersungging dengan senyuman, wajahnya memang menggoda. Tangannya bergerak lembut, mengumpulkan helaian rambut merah muda miliknya yang terjatuh dan menariknya untuk terkumpul dibelakang telinganya. Lalu detik selanjutnya, Kaito mendesah cukup panjang saat tubuhnya merasakan, ada sentuhan di bagian sensitif tubuhnya. Dia bisa merasakan sesuatu yang basah menyapu putingnya. Lembut, dan menggelitik, namun begitu membuatnya merasakan kenikmatan. Luka memainkan lidahnya disana. Terkadang menjilat, menggigit kecil, dan mengecupnya panjang. Kaito sepenuhnya telah jatuh didalam jurang nafsu yang Luka siapkan untuknya. Sebab, saat ini Luka bisa merasakan bagian tubuh Kaito yang tersembunyi dibalik selangkangannya kini telah membesar diantara pangkuan milik Kaito untuknya.

"aku rindu melakukan ini padamu, Kaito-kun" Luka memandang wajah Kaito yang sudah terengah menahan nafsunya. Mengecup setiap inchi kulit wajah pemuda tampan itu perlahan. Hingga hanya bagian bibir saja yang belum dia singgahi. Luka sengaja membuat Kaito menunggu, terlihat begitu jelas ketika bibir pemuda itu terbuka menunggu Luka melumatnya. Tapi yang Luka lakukan hanya tersenyum disana.

"setelah pembicaraan kita malam itu, aku jadi teringat bagaimana masalalu kita siang itu" Luka membiarkan jari – jarinya mengusap bibir Kaito lembut. Mata mereka saling menatap.

"kau membuatku berdarah.." Luka menjilat telinga Kaito sambil berbisik. Dan merespon tindakan Luka, Kaito mempererat dekapannya dipunggung Luka.

"kau mengambil pengalaman pertama seorang gadis yang akhirnya menjadi kakak iparmu" Luka menggigit ujung hidup Kaito. Tangannya menyelusuri wajah tampan itu.

"..dan kau membuatku menjadi pecandu, kau yang membuatku liar, kau yang membuatku menjadi membencimu.." Luka menurunkan tangannya, membuka pengait dan resleting milik Kaito dan menyelipkan tangannya disana.

"..kau yang membuatku akhirnya memilih kakakmu.." Kaito mendesah saat tangan wanita itu mencengkram bagian tersembunyi diselangkangannya. Luka menahannya. Dan keadaan seakan berubah menjadi aneh.

"..kau yang membuatku tak bisa tetap bertahan mencintaimu, tapi kenapa kau terus menyiksa diri untuk tetap mencitaiku?! KAITO?!" suara Luka membesar, dia tak lagi mampu menahan kesakitan hatinya. Kaito tersentak saat wajah yang tadinya menggodanya kini mengeluarkan airmata, mengalir tanpa henti dan membasahi wajah juga dadanya. Luka mengigit bibir bawahnya, menahan entah seberapa besar perasaannya yang kini telah tertumpa. Tanpa lagi berniat untuk malu dihadapan Kaito, Luka menangis sejadi – jadinya.

"Luka..." suara Kaito terdengar berat dan tertahan.

"diamlah!" Luka menundukkan wajahnya, memeluk Kaito didepannya, dan membiarkan wajahnya ternggelam diantara leher dan dada Kaito.

Hal yang paling Luka hindari adalah, menjadi lemah dihadapan Kaito. Sejak dulu, bahkan pertama kali mereka bertemu. Luka bisa merasakan jika Kaito sering menjadi orang yang bisa membuatnya tertantang. Hingga sejak itu, tanpa dia sadari, dia tidak ingin dipandang lemah oleh Kaito. Dia tidak ingin Kaito melindunginya, dia ingin Kaito tahu jika dia juga bisa melampaui Kaito, mereka bisa berjalan beriringan, tanpa ada rasa yang harus disembunyikan. Dan tanpa sengaja, membiarkan Luka mendisiplinkan dirinya untuk tidak ingin terlihat lemah dihadapan pria itu hingga sekarang.

Kaito menggerakkan tangannya untuk mempererat pelukannya pada gadis itu, membiarkan tangan kanannya bergerak mengusap lembut rambut Luka. Dan sang wanita hanya terisak dipelukannya.

"karena kau selalu ada disampingkulah, makanya aku bisa bertahan untuk tetap menctintaimu" Kaito mengecup rambut puncak kepala Luka, membiarkan gadis itu membasahi tubuhnya dengan airmatanya. Bukannya merasa risih, Kaito malah menyunggingkan sebuah senyum diwajahnya. Senyuman yang takakan pernah bisa disaksikan Luka disana.

"..meskipun kau akan mencintai pria lain, aku mungkin tak akan bisa melupakan bagaimana perasaanku saat tengah mencintaimu" Kaito tak ingin melepaskan pelukan itu, dia tak ingin membiarkan Luka menjauh darinya malam itu. Sekali saja, Kaito begitu merindukan pelukan Luka, pelukan yang dia dapat dulu saat mereka tinggal bersama. Tapi rasanya pelukan yang dulu tak pernah senyaman ini, walau Kaito mengakui posisi mereka saat ini sangatlah tak nyaman, yang ada Kaito hanya bisa tertawa.

"aku mencintaimu Luka, tak pernah bisa mencintai gadis lain dalam hidupku" Kaito tak perlu bukti, apakah Luka sedang mendengarkan kalimatnya atau tidak. Didengar atau tidak didengar sekalipun, dia tetap ingin mengatakannya.

"bukan karena aku tak punya niat untuk membahagiakanmu makanya aku tidak pernah memperjuangkanmu. Karena aku ingin buktikan padamu, sejauh mana kau melangkah sekalipun, aku tetap akan menunggumu" Luka mendengarkannya.

"dan jika kau memilih menjauh sekali lagi pun, aku akan tetap menunggumu" Kaito tersenyum, dan saat itu Luka mengangkat wajahnya. Memandang dalam kewajah Kaito.

"aku akan tetap menunggumu, gadis kecilku" Kaito menghusap bekas – bekas airmata yang menodai pipi Luka disana. Senyumnya menenangkan, dan Luka hanya menatapinya.

"..dan aku akan bertanggung jawab telah membuatmu seliar ini" pemuda itu tertawa.

"aku cemas jika kelak membiarkanmu dengan hobi menggodamu seperti ini bersama pria lain, tak bisa kubayangkan mereka pasti tidak dapat menahan nafsu mereka untuk segera memakanmu" Luka ikut tertawa.

"karena hanya aku yang sama sekali tidak mempan digodai olehmu" Kaito mengecup kening Luka lembut.

"ya.., aku tahu.." Luka menyentuh kedua pipi Kaito dengan kedua tangannya. Mendekatkan wajahnya perlahan dan membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan, begitu menyenangkan.

"hanya kau yang tidak ingin menyakitiku.." Luka mengecup lembut bibir Kaito, dan pemuda itu membalasnya penuh penghayatan. Dia tidak pernah bisa berhenti mencintai wanita yang pernah menjadi istri kakaknya itu. Tidak akan pernah sejauh mana dia mencoba untuk berlari.

Kaito melepas kecupan Luka. Mereka terengah akibat cumbuan yang memaksa mereka untuk segera menghentikannya. Tapi saat kecupan itu terlepas, mereka hanya tertawa.

"mau coba ditempat lain, tuan?" Luka memasang tampang menggodanya. Dulu dia tidak pernah mau jika Kaito menyentuhnya. Tapi untuk kali ini dia merasa sangat rindu akan sesuatu yang sudah lama hilang dari batinnya.

"kau yakin Luka?" Kaito tersenyum menggoda Luka, dan wanita itu hanya tertawa manis.

"pastikan jika kau akan menjadi ayah dari anak – anakku kelak. Kau bisa membuktikannya?" Luka membiarkan Kaito membawa tubuhnya, dan merebahkannya perlahan diatas ranjang. Ranjang itu mengeluarkan bau yang sama harumnya dengan wangi tubuh Luka.

"jadi, apa kau bersedia menikah denganku?" Kaito mendindih tubuh Luka, menggodanya. Dan merasa menjadi berbeda dari dirinya yang biasa. Terlihat menggelikan hingga dia menertawakan dirinya sendiri disana.

"aku ingin punya banyak anak Kaito, laki – laki dan perempuan. Dan membesarkan mereka dengan cara yang berbeda seperti aku dibesarkan dulu. Aku ingin mencintai suamiku-ayah dari anak – anakku dengan sungguh – sungguh agar kelak dikemudian hari aku tidak berpikiran sama seperti apa yang dipikirkan ibuku dulu. Meninggalkan anak dan ayah dari anaknya hanya karena rasa cintanya berkurang. Lalu berpaling dengan pria lain yang bisa lebih menerima gejolak cintanya yang berlebihan."

"aku akan mencintai ibu dari anak – anakmu lebih besar dari pada mencintai anakmu sendiri" Kaito tersenyum. Membiarkan tangannya bermain di bibir Luka, dan Luka terkadang mengikuti permainannya.

"dan akan kupastikan, aku sanggup menerima godaan dari kesan liarmu seumur hidupku" Luka tertawa, digigitnya jari Kaito yang menguasai mulutnya. Membuat Kaito menarik tangannya cepat dan mengaduh sakit.

"kau mau membunuhku ya?" Kaito mencubit pipi Luka manja.

"mungkin aku juga memang tidak pernah bisa mencintai pria lain selain dirimu Kaito" Luka memandang Kaito serius. Dan tawa yang tadi sempat terdengar, kini berubah menjadi tatapan dari keduanya. Kali ini, bagaimanapun ceritanya, Luka tetap sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Hingga membuat Kaito tak mampu menjamah kembali kesadarannya. Dia terperangah heran. Melihat Kaito yang menegang, Luka mengangkat tangannya menyentuh bibir pemuda itu, tersenyum lembut penuh makna, perasaannya kali ini hanya ingin Kaito tetap memeluknya, tak ada yang lain.

"aku, tetap tak bisa lari darimu.." Luka mengecup bibir itu singkat, dan menghusapnya lembut.

"k-kau serius?" Kaito masih terpengaruh dengan ketidakpercayaannya. Luka mengucapkan cinta padanya? ini tidak bohongkan? Kaito sudah menunggu kalimat itu bertahun – tahun.

"beri aku kesempatan terakhir untuk membuktikannya" Luka mengusap punggung Kaito dalam pelukannya. Membuat Kaito tersadar, tapi ada sesuatu yang ingin dipastikannya.

"lalu, Yuuma, bagaimana?" Kaito memainkan jari – jarinya lembut dipipi Luka.

"dia sempat membuatku tertarik. Tapi.. kau mungkin lebih menarik." Luka tertawa.

"kau pandai menggoda ya?" Kaito mengecup bibir Luka lembut dan singkat.

"Kaito.." tatapan Luka lurus menelusuri apa yang tersimpan didalam mata Kaito.

"..paksa aku untuk tetap mencintaimu, sampai kapanpun. Apa syarat seperti itu bisa menjadikanku istrimu?" mendengar itu Kaito tertawa.

"kau akan kupaksa melahirkan lebih banyak anak lagi jika kau mulai bosan padaku" dan mendengar itu giliran Luka yang tertawa.

Kaito mendekap Luka lembut, memeluknya penuh perlindungan. Ada rasa bahagia dalam hatinya. Penantiannya selama bertahun – tahun, dan juga rasa sakit yang dia terima dulu kini tak lagi terasa. Luka menerima perjodohan itu, dan tak ada lagi alasan bagi Kaito untuk berlari dari kesempatan yang sangat dia impikan itu.

-][-

Rumornya masih beredar, Miku jelas tahu sepenuhnya apa misteri dibalik rumor tentang hubungan rahasia antara Kaito dan gadis tak diketahui itu. Kaito adalah pria baik, dan pasti ada konspirasi yang sengaja dibuatnya untuk mengalihkan perjodohan. Tapi biarpun begitu, apa dengan begini baik Kaito dan Luka bisa sepenuhnya lepas dari perjodohan yang sudah digembor – gemborkan itu?

Miku melangkah ke kamar Luka, tanpa ketukan terlebih dahulu, dia sudah membuka pintu kamar Luka, biasanya itu memang sudah menjadi kegiatan Miku, saat dia mendapati meja makan yang belum terhidang menu sarapan pagi buatan Luka. Yang artinya, mungkin Luka masih tertidur, dan dia hanya perlu membangunkannya.

Dua insan manusia, sedang tertidur, keduanya hanya dibalut selimut putih yang besar, menutupi tubuh mereka yang masih saling mendekap begitu nyaman. Kaito mendekap tubuh Luka, dan Luka membelakangi Kaito disana. Mereka masih terpejam. Dan Miku hampir tak percaya melihatnya. Tak ingin mencampuri urusan orang lain, Miku melangkah mundur. Dia kembali menutup pintu kamar itu pelan, tak ingin membuat sipemilik kamar yang sedang berdekapan dengan pria lain itu bangun dari tidurnya.

-][-

"kau mau kemana Yuu-chan?" Yuuma memandang wajah wanita paruh bayah dihadapannya. Wanita yang wajahnya masih sering mengisi layar lebar dinegeri itu. Yuuma sudah bersiap, dia sudah memikirkan segalanya untuk segera menemui Luka. Menjelaskan apa yang terjadi agar semuanya kembali seperti semula. Keyakinan Yuuma masih sama, dia mencintai Luka dan Luka juga mencintainya. Dia hanya ingin memastikan itu, hingga dia sudah bertekad untuk menemui Luka pagi ini.

"ayah memintamu untuk menemaninya meeting hari ini kan?" wanita itu memaksa Yuuma menjelaskan hal yang tidak diketahuinya.

"aku ada keperluan lain bu. Suruh ayah melakukannya sendiri saja" Yuuma bangkit dari tempatnya, melangkah meninggalkan ibunya yang masih menatapnya disana.

"kau mau kemana? Menemui Yukari-chan?"

"tidak. Aku ingin menemui Megurine Luka" wanita itu tak lagi bisa melihat bayangan anaknya yang sudah hilang saat pintu rumah itu tertutup.

Semenjak malam ulang tahun itu, Yuuma tak lagi pernah bertemu dengan Luka. tak lagi pernah dan itu membuatnya merasa kesal sendiri. Ingin rasanya menarik Luka dari keadaan mereka saat ini, membawanya lari dan menjalani hidup mereka yang lain, kehidupan baru yang begitu dia inginkan dengan orang tercintannya.

Yuuma tiba dirumah sakit dimana Luka bekerja. Masuk kedalam area lobbi, Yuuma bergegas bertanya pada bagian costumer disana.

"maaf tuan. Nona Megurine sudah tak lagi terdaftar menjadi petugas kesehatan dirumah sakit ini" kalimat itu membuat Yuuma terdiam bingung.

-][-

Kaito membuka matanya. Masih didapatinya seorang wanita yang masih tertidur dipelukannya. Begitu nyaman, membuatnya begitu merasa bahagia. Dan tanpa sadar, dia semakin mempererat pelukannya pada Luka. Membuat wanita itu akhirnya terjaga dari tidurnya.

"kau sudah bangun sayang?" Kaito menempatkan wajahnya dimana agar Luka langsung bisa melihatnya. Dan perlahan, walau sebelumnya sempat bingung, akhirnya Luka mengingat kejadian apa yang mereka lakukan semalaman.

"selamat pagi Kaito.." Luka membalikkan tubuhnya menatap Kaito. Mereka saling menatap, dalam diam. Masih dalam balutan selimut putih yang membungkus mereka.

"selamat pagi, gadis kecilku" Kaito mempernyaman posisinya. Mengikuti tindakan Luka yang menyelipkan kedua tangannya dibawah pipi diatas bantal tidurnya.

"tidurmu nyenyak?"

"entahlah.. badanku sakit semua" Luka tersenyum.

"kita tidak melakukan apapun semalaman ya, jangan berlebihan" Kaito tersenyum.

"ya, aku tahu. Dasar." Luka mengetuk kepala Kaito pelan, dan berusaha bangkit dari posisi tidurnya.

"kau tidak ada jadwal kerja hari ini Luka?" Kaito ikut bangkit dari posisinya. Memandangi Luka yang meraih gaun tidur yang semalam tertanggal dari tubuhnya entah karena alasan apa. Nyatanya, Luka semalaman tertidur hanya dengan pakaian dalam saja. Kaito juga sama.

"aku memutuskan berhenti jadi dokter" Luka selesai mengenakan gaun tidurnya. Namun pernyataan terakhirnya membuat Kaito tak percaya.

"kenapa? Aku tidak pernah tahu keputusanmu ini"

"aku sudah berniat untuk membantu Miku mengolah perusahaan. Juga, pada akhirnya pun aku yang akan mewarisi perusahaan milik ayahku kan?" Luka tersenyum hambar, dan Kaito tahu.

"jangan paksakan dirimu. Menjadi pegusaha itu tidak gampang." Kaito bangkit, meraih celana dan kemeja yang berceceran dilantai. Memakaikannya satu persatu.

"ya, menjadi dokter juga tidak gampang kok" Luka menatap Kaito tersenyum. Sejenak mereka tertawa.

"kita akan bilang apa pada Miku nanti?" Kaito memeluk Luka dari belakang, menggenggam tubuh wanita itu erat, dan menempelkan wajahnya pada leher wanita itu manja.

"bilang yang sebenarnya saja" Luka meraih kepala Kaito, mengelusnya asal dan tersenyum.

"aku bahagia Luka.." Kaito mengecup pipi Luka dari belakang.

"kenapa?"

"karena kau tidak lagi menganggapku musuhmu" Kaito tertawa.

"kau berlebihan.." Luka mengecup bibir Kaito yang masih memeluknya dari belakang.

-][-

Kaito mengekori Luka keluar dari kamarnya, melangkah turun kelantai bawah hanya dengan memakai celana saja, dengan bertelanjang dada. Sedikit rasa bangga untuk memamerkan kepada Miku bahwa dia dan Luka akhirnya berbaikan, itu yang Kaito rasakan saat ini. Senyumnya melebar, ada senandung kecil sesekali terdengar dari bibirnya. Dan Luka hanya mengabaikannya dengan senyuman. Rindu rasanya melihat tingkah kekanak – kanakan Kaito seperti dulu. Faktanya Kaito itu sebenarnya tipe orang yang berisik dan tak beraturan, bukan tipe pangeran dingin yang orang – orang lihat seperti sifatnya beberapa tahun belakangan ini.

Langkah Luka terhenti serentak dengan pandangan Miku dan Yuuma kearahnya. Kaito ikut terdiam menyaksikan semua yang berlangsung didepannya. Yuuma dan Miku sedang berbincang diruang tamu, berniat menunggu Luka turun dari kamar. Dan tanpa sadar, pemandangan yang cukup menjijikan bagi Yuuma terpampang didepan matanya. Kaito berpenampilan seperti itu? untuk alasan apa? Yuuma bangkit, mengatur langkah menghampiri Luka yang sedang berdiri didepan Kaito.

"selamat pagi, Yuuma-san" Kaito menarik tangan Luka, membiarkan Luka melangkah mundur kebelakangnya, hingga kini Kaito dan Yuuma lah yang saling berhadapan. Yuuma mendengus kesal, jelas sekali ada amarah yang terlihat diwajahnya. Amarah yang tak pernah ingin dia sembunyikan sebenarnya. Jujur saja, melihat Kaito berpenampilan seperti itu, rasanya Yuuma ingin sekali meninjukan tangannya kewajah pemuda itu. Apalagi saat dia juga menyadari Luka berpakaian yang begitu minim saat ini. Rasa cemburunya meluap.

"Luka-chan, aku ingin bicara padamu" Yuuma mengabaikan Kaito didepannya, tarikan tangannya memaksa Luka melangkah mendahului Kaito didepannya, kini menghadapnya. Kaito menggeram, tapi sebelum dia bergerak lagi, Luka dengan cepat menahannya. Tatapan lembut Luka, membuat Kaito melemah dan mengumpulkan kesabarannya.

"aku akan mendengarkanmu" Luka melepas genggaman tangan Yuuma pelan, selembut mungkin agar pemuda itu tidak merasa tersinggung oleh tindakannya. Dan Yuuma merasakan keanehan dari tindakan Luka padanya.

"aku mencintaimu. Aku yakin kau sudah tahu itu" Yuuma meyakinkan Luka dengan pernyataanya, dan Miku tampak serius memandangi mereka.

"maafkan aku Yuuma, tapi kita tidak punya kesempatan untuk menyatukan perasaan yang pernah kita miliki" Luka tersenyum kecut, yang pernah dia miliki. Walau sebentar dan seakan tak terkesan ada, Luka mengakui pernah ada perasaan sejenis cinta yang dia rasa untuk Yuuma. Tapi tetap saja Kaito yang selalu memonopoli perasaannya.

Yuuma tercengang menyedihkan. Perasaannya hancur, menjadi terlalu lemah untuk berdiri dengan kakinya sendiri.

"kau bahkan tidak pernah memberikanku kesempatan, Luka-chan. Lantas kenapa kau bilang bahwa kita tidak punya kesempatan untuk menyatukannya?" Yuuma mendekati Luka, mencengkram kedua lengan wanita itu, walau Luka sama sekali tak merasa tersakiti dengan genggaman penuh penekanan itu. sedangkan Kaito masih memaksa dirinya untuk tidak mencampuri urusan kedua insan itu saat ini.

"aku sudah mengambil keputusan untuk menjadi istri Kaito" Luka menahan suaranya, genggaman Yuuma dikedua lengannya membuatnya hampir mengeluhkan rasa sakit.

"kau bercanda Luka-chan" Yuuma memaksa Luka bicara lebih banyak lagi, dia butuh kepastian.

"a-aku serius Yuuma.." rasa sakit dilengannya mulai terasa. Yuuma tak lagi mau peduli, sedangkan Miku, ingin rasanya dia melepaskan Luka dari genggaman Yuuma. Dan bukan berarti Kaito tak merasakan kesal melihat itu didepan matanya.

"jawab aku? Kau tidak serius kan?" Yuuma menggeram, dia tidak mau mengakui kekalahannya.

"Yu-yuuma, aku.." Luka masih mampu menahan rasa sakitnya, walau Kaito tak lagi mampu melihat Yuuma terus menekannya.

"sudah cukup Yuuma-san-" perkataan Kaito terhenti saat Yuuma menghadiahi wajah tampan Kaito dengan tinjunya.

"lepaskan aku?!"

"ya Tuhan.." Miku spontan berteriak saat melihat Yuuma sudah meninju wajah Kaito keras, bibir Kaito berdarah, tapi Yuuma tak peduli. Sebelum Yuuma memukul Kaito sekali lagi, Luka langsung menahan tubuh itu dengan kedua tangannya.

"apa yang kau lakukan Yuuma?!" Luka mendorong tubuh Yuuma marah, kesal.

"kau mencintaiku kan? Kenapa kau mau menjadi istri si pria brengsek ini? Dia tidak cukup baik untukmu, kau lihat kan seberapa banyak scandal yang dibuatnya? Bahkan baru – baru ini fakta menguak bahwa dia sedang bersama wanita lain. Kau masih ingin menjadi istrinya? Aku masih lebih baik darinya!" Yuuma marah.

"tapi aku masih tetap mencintainya"

Nyeri di wajah Kaito menghilang seketika. Miku memandang Luka tak percaya, juga Yuuma pun menjadi diam tanpa kata.

"pukul aku jika kau marah dengan keputusanku. Jangan kau sakiti Kaito didepan mataku" Luka menatap wajah Yuuma tajam. Dia selalu merasa sakit jika melihat Kaito dianiaya. Dia tidak bisa menahan rasa sakit dihatinya saat melihat Kaito terluka.

"tapi aku mencintaimu, kau membuatku melupakan rasa sakit akan cinta selama ini, Luka-chan" Yuuma tak tahu harus berdialog apa. Dia kesal karena entah sudah kesekian kalinya dia merasa dicampakan oleh orang yang begitu amat dicintainya.

"untuk itu lah aku minta maaf Yuuma.." Luka menatapnya menyesal.

"...jika kau memang orang yang cukup baik untuk ku. Aku menyesal karena ada orang yang cukup buruk darimu telah kucintai dari dulu" Luka membayangkan Kaito, Kaito, dan Kaito dalam batinnya. Ada setitik kebahagiaan saat dia berani mengakui jika dia memang masih mencintai Kaito.

-][-

Semula pemberitaan tentang pengumuman perjodohan, lalu terganti dengan rumor cuplikan rekaman antara Kaito dan gadis lain yang tak terketahui. Sekarang, media dihadiahi sebuah kabar gembira dari kedua orang pewaris ternama, Megurine Luka dan Shion Kaito, calon suaminya.

Gakupo berdehem berkali – kali memandangi Kaito didepannya. Dia sebenarnya bahagia, tapi kesal juga. Melihat pemberitahuan itu, bisa dipastikan, project peran yang akan Kaito mainkan di film yang sudah disetujuinya pasti akan dibatalkan. Pundi – pundi uangnya akan kosong tak tersisa.

"jadi bagaimana?" Gakupo memasang tampang menakutkannya. Dia tidak rela uangnya melarikan diri karena pemberitaan itu.

"mau bagaimana lagi? Luka bisa marah jika tahu aku akan memainkan peran bugil di film yang kau setujui ini Gakupo" Kaito balas memandang Gakupo tajam.

"ini salahmu. Siapa yang tahu jika kau anak pewaris? Jika kau sanggup membayar semua denda dengan uangmu sendiri, aku tidak keberatan" Gakupo menarik kakinya, melipatnya dengan kakinya yang lain dan menyandarkan tubuhny nyaman di sandaran sofa yang didudukinya.

"aku bukan pewaris. Aku hanya menggantikan posisi kakakku yang lebih dulu mati dari ku" Kaito tak suka mendengar omong kosong orang lain tentang dirinya. Sejak dulu dia memang tidak suka keluarganya, sejak dulu hingga dia memutuskan untuk dibesarkan dipantiasuhan.

"oke.. oke.. terserahmu mau bilang apa" Gakupo tidak terlalu suka terlibat dengan kisah masalalu rekannya itu. Dia tidak tertarik seperti media diluar sana.

"tapi asal kau tahu, kita belum punya cukup banyak uang untuk denda pembatalan kontrakmu tuan..." ucapnya dengan kalimat terakhir yang terkesan seperti menyindir Kaito, dan alih – alih ingin marah, Kaito malah tersenyum memaklumi ucapan Kaito pada dirinya.

"sepertinya keadaan ini mulai memaksaku memikirkan masa depanku" Kaito tersenyum hampa, yang artinya dia harus mulai kembali kemana tempat dia mulanya berasal. Keluarga Shion.

"kapan hari pernikahan kalian?" Gakupo memandang Kaito lekat.

"dua hari lagi, semua urusan pernikahan, keluarga Shion yang mengaturnya" Kaito menjawab sederhana.

"akhirnya kau mendahuluiku sobat" Gakupo tersenyum lepas dihadapan Kaito.

"wanita ku telah siap, aku tak berniat membuatnya menunggu lagi" Kaito tertawa.

"ya, aku tahu bagaimana menyedihkannya perasaan menunggu. Setelah menikah, perjalananmu baru akan dimulai. Dan aku benar – benar tak pernah menyangka, kau akhirnya menikahinya juga" Gakupo, terkadang dia memang sering terlihat menyebalkan, tapi jauh didalam sana, dia memiliki perasaan yang terkadang membuat orang – orang nyaman berada didekatnya. Walau mereka dulunya tak pernah dekat, tapi Kaito paham, Gakupo adalah orang asing yang bisa menjadi teman baik untuknya.

"dan setelah itu mungkin giliranmu.." Kaito tersenyum, bedanya, Gakupo malah tertawa.

tbc~


akhirnya pairing sudah kelihatan.. fiuhhh... saya lelah ngejar jadwal magang, proposal skripsi, touring, dan nulis secara bersamaan .
makasih yg udah review... enak gak enak, saya udah harus pastiin cerita ini harus punya akhir. gak boleh terbengkalai. karena saya juga seorang reader dan selalu berharap ada akhir untuk menyejukkan jiwa *eaaakkk*

Luka disini... kyaaaaa... kesan liarnya udah mulai kelihatan. betul aku bilang kan... Luka tu bisa liar kalau sama Kaito *diobok2 Yuuma*