yey.. yey.. yey.. selesai PKL akhirnya saya bisa nyelesaiin 2 laman sekaligus. Yg satu FF sesat In Your Eyes dan satu lagi chapter 10 ff ini.
beneran lagi semangat nulis ni, jadi saya balap aja semuanya. saya berpikir setelah selesai di Tears of My Pain, saya bisa lanjut langsung ke In Your Eyes :D
dan sebenarnya mau buat FF di fandom lain, semangat nulis sich lagi tinggi2nya.. tapi saya takut kebanyakan upload tulisan, nanti endingnya jadi terbengkalai. jadi ya saya mau fokusin diri untuk satu judul aja dulu secara bertahap.
Hujan airmata turun ke jalan, membuat perjalanan yang indah
~Kesempatan~
Besok adalah hari dimana sebuah janji disucikan. Dihadapan Tuhan, para saksi maupun orang – orang yang ingin ikut mengabadikannya. Miku tak lagi ingin mempermasalahkan apa pilihan Luka untuk hidupnya sendiri. Baik Luka memilih Yuuma ataupun Kaito, dia hanya berharap jika Luka bisa hidup bahagia sesuai keinginannya. Karena Miku sendiri mengerti jika Kaito dan Yuuma adalah pria yang sama – sama memiliki kepribadian yang akan menjunjung tinggi kebahagiaan Luka diatas segalanya.
Miku menatap lembut kearah Luka yang balas menatapnya. Rasanya tak ingin membiarkan Luka pergi hari ini, besok adalah hari bahagia baginya. Jadi rasanya akan ada perasaan yang tidak enak jika membiarkan Luka pergi hari ini. Tapi tetap saja Luka memaksa.
"bagaimana jika kutemani? Tidak enak membiarkanmu keluar sendirian hari ini" Miku sengaja membuat paras sedih berlebihan khasnya. Dan itu membuat Luka tersenyum ringan.
"hanya sebentar. Tidak bakalan lama. Setelah urusan selesai aku akan pulang secepatnya" Luka meraih tas miliknya, dan menjepit diantara lengannya.
"kau yakin? Apa sepenting itu sampai kau tidak ingin memberitahukan padaku kemana kau hari ini?" Miku merasa masih tidak begitu rela. Luka memang misterius, semua orang tahu itu, tapi didepan Miku, harusnya Luka sudah mulai biasa terbuka tentang kepentingannya sendiri.
"justru jika kau tahu, ini tidak akan penting lagi" Luka tertawa.
"hanya tiga jam Luka.." Miku menarik tangan Luka manja, hari semakin malam, harusnya Luka tahu itu. "setelah tiga jam kau tidak juga kembali, aku tidak akan memaafkanmu. Perasaanku tidak enak jika melepaskanmu pergi malam ini, lihat jam berapa sekarang" Miku memaksa Luka memandang arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"baiklah, sebelum jam sepuluh pun mungkin aku sudah pulang" ucap Luka membalas kekhawatiran Miku dengan wajar. Entah bagaimana dia juga seakan bisa merasakan kekhawatiran Miku dalam dirinya.
Tetang kepentingannya malam ini, Luka tak bisa bilang kepada siapapun kemana dia akan menuju sekarang. Baik Kaito maupun Miku memang harusnya memang tidak perlu tahu jika Yuuma memintanya untuk menemuinya. Dalam percakapannya melalu telpon, Yuuma meyakinkan dia hanya ingin bicara empat mata dengan Luka. Dia ingin Luka menjelaskannya langsung, dari hatinya terdalam jika memang dia tidak terlalu ingin Yuuma berada disampingnya. Dan setidaknya untuk Luka sendiri ini adalah kesempatan yang tepat agar dia bisa sepenuhnya memastikan dirinya dan Yuuma jika hubungan yang sempat ada diantara mereka sebenarnya hanyalah sejenis bayangan kesepian, bukan perasaan cinta. Yuuma ingin menghilangkan sakit hatinya pada Yukari, dan Luka pun ingin mencari pelarian dari kisah cintanya yang selalu gagal karena sebenarnya dia tidak bisa mengusir jauh perasaan cintanya pada Kaito.
Luka tiba disana, sebuah tempat dimana dulu dia pernah singgah. Tempat yang sebenarnya telah dia lupakan namun kini teringat kembali. Belum dia memberi tanda akan keberadaannya didepan pintu apertemen itu, sesosok bayangan sewarna dirinya telah muncul dari balik pintu. Memakai pakaian rumahan biasa dengan celana pendek hitam sewarna malam dan mungkin sekelam hatinya. Yuuma telah berdiri tegak dihadapan Luka. sesaat saja mereka terdiam.
Wajah itu mendung, Luka bisa tahu. Yuuma mempersilahkan Luka duduk di ruang tamu apertemennya. Mengingatkannya pada kejadian beberapa masa lalu diantara mereka diruangan itu, disofa yang sama dimana Luka dulu duduk dan hampir tersungkur karena pengaruh obat perangsang yang Yuuma masukkan kedalam minumannya.
"kau mau minum apa?" Yuuma memandang Luka erat, terlalu erat sampai Luka memalingkan wajahnya canggung. Dan menanggapi pertanyaan Yuuma, Luka terdiam sejenak, memikirkan sesuatu yang sepertinya diartikan Yuuma berbeda.
"tenang saja, aku tidak akan mencampurkan minumanmu dengan obat perangsang lagi" Luka melihat senyuman kecut diwajah Yuuma, dan akhirnya dia percaya.
"akan kubawakan sekaleng bir dingin yang masih tersegel" Yuuma beranjak cepat, namun Luka menahannya.
"aku tidak minum bir-" tapi Yuuma mengabaikannya. Dia sudah melanjutkan langkahnya sebelum Luka menyelesaikan kalimatnya. Dan kembali dengan setengah lusin kaleng bir dingin yang masih terbungkus rapi, dan meletakkannya diatas meja dihadapan Luka.
"ini untuk menyambut pesta pernikahanmu besok, jangan terlalu menyiksa diri untuk tidak menikmatinya" Yuuma duduk disamping Luka, tidak terlalu dekat, mencoba menjaga jarak. Lalu tangannya bergerak mengoyak segel yang masih membungkus beberapa bir disana, dan memberikannya satu pada Luka saat dia sudah berhasil membuka penyegel ditutupnya.
"tapi aku tidak minum bir Yuuma" Luka menolak sopan. Takut jika ucapannya menyinggung perasaan Yuuma yang memang terlihat begitu kacau saat ini.
"tapi bukannya kau tidak lagi menjadi dokter sekarang?" Yuuma meneguk hampir setengah isi didalam kaleng yang tadinya ingin diberikannya pada Luka. Dan mengalihkan pandangannya menatap Luka disampingnya.
"aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya bir ini begitu menyegarkan Luka, kau benar – benar tidak ingin mencobanya?" Yuuma tersenyum kecut, sebenarnya dia ingin berteriak sejadi – jadinya karena tak lagi mampu menahan kesedihannya. Tapi yang ada, dia hanya mencoba jauh lebih tegar dengan senyuman menjijikan itu.
"bukan karena profesi ku aku berhenti minum Yuuma" Luka terkenang. Dia tidak bisa mengakui jika dia lemah terhadap alkohol, walaupun Lily bilang Luka adalah peminum yang handal. Tapi Luka berusaha menutupi kepura – puraannya saja. Alkohol adalah kelemahan terbesar Luka sejak pertama kali dia dan Kaito melakukan kesalahan pertama mereka. Luka tidak akan mabuk oleh alkohol walau dia minum berliter – liter banyaknya. Hanya saja dia akan lebih rentan terhadap sentuhan maupun rangsangan, baik dari pria dan wanita sekalipun. Dan sayangnya Luka tak begitu kuat menahan gejolak yang tersimpan didalam hatinya. Alkohol membuatnya lupa diri dan bergerak liar. Terhitung sebanyak apa kesalahan yang dia buat karena alkohol. Kesalahan antara wanita dan pria yang harusnya tidak terjadi begitu saja. Itulah penyesalan Luka selama ini. Dan untuk itu dia berniat, alkohol adalah minuman yang tidak boleh dicicipinya. Tidak untuk selamanya.
"lantas karena apa?" Yuuma meneguk lagi minuman dikalengnya. Habis tak tersisa, dan tangannya bergerak lagi mengambil kaleng yang tersegel satunya.
"tapi.. dari mana kau tahu aku berhenti menjadi dokter?" Luka mengalihkan topik pembicaraan mereka, berlari kemana saja terserah, asal jangan membahas kenapa dia tidak bisa akur dengan alkohol.
"apa yang tidak aku tahu tentangmu? Kau pikir aku seperti remaja ingusan yang hanya mengejar – ngejar cinta tanpa pemikiran?" Yuuma meneguk lagi minumannya.
"sejak aku memutuskan untuk jatuh cinta padamu, aku juga akan memutuskan mempelajari banyak tentangmu, tanpa kau tahu Luka" tatapan mereka bertemu. Ada amarah yang tersirat dari pandangan Yuuma, dan Luka mengerti akan itu.
"pantas saja, dulu obat yang kucampurkan padamu bisa membuatmu seliar itu, aku tak menyangka seorang Megurine Luka tak bisa mengalahkan nafsunya sendiri" Yuuma tak lagi memandang Luka, sebenarnya malu rasanya membiarkan Luka tahu bagaimana pemikirannya tentang Luka dan menceritakannya langsung, tapi entah mengapa kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Yuuma.
Dan Luka, dia menggigit bibir bawahnya ragu. Dia tidak bisa mengiyakan pendapat Yuuma tentang dirinya sendiri secara langsung, tapi didalam hati, dia bisa membayangkan semua yang Yuuma ucapkan memang benar mencerminkan dirinya. Tak cukup berani memandang Yuuma, Luka pun mencari objek baru untuk matanya selain wajah Yuuma.
Suasana mereka sekarang terkesan menjadi canggung. Luka terdiam, Yuuma juga. Apalagi hubungan diantara mereka sebenarnya sejak kemarin tengah menjadi hubungan aneh yang susah terjelaskan. Luka besok akan menjadi istri resmi dari pria lain, memikirkan itu saja kepala Yuuma menjadi terasa sakit tiada tara.
"Luka.." ucapannya membuat Luka kembali memandang wajah Yuuma. Namun bibirnya diam tak merespon. Yuuma masih menggantung ucapannya. Menimbang – nimbang bahasa apa yang cocok untuk dia sampaikan pada Luka.
"aku menyesal dulu tak sempat menidurimu"
Hening.
Yuuma meneguk minumannya dengan cepat, membuat suara tegukan dikerongkongannya seakan terasa begitu jelas terdengar karena kesepian yang tiba – tiba mencekam seisi ruang diantara mereka.
"kau mengubahku menjadi orang baik secepat yang tidak aku bisa. Tapi sekarang kau kembali mengubahku menjadi orang yang ingin membunuhmu secepat mungkin" Luka terdiam lagi, tidak tahu harus bicara apa. Matanya merayap keatas meja tempat dimana kaleng – kaleng bir itu diletakkan. Tak butuh kejeniusan, Luka sudah bisa menghitung berapa kaleng yang sudah kosong tak beraturan disana, Yuuma lah tersangkanya.
Melihat kekeadaan Yuuma yang semakin tak menguntungkan, rasanya Luka tidak butuh tiga jam untuk menghilang dari pandangan Miku seperti janjiya tadi. Yuuma sedang tidak bisa diajak bicara jika dibiarkan terus menerus seperti ini. Luka memiliki inisiatifnya sendiri, dia menarik lengan Yuuma untuk menatapnya agar dia bisa bicara secepatnya, dan bisa langsung pergi dari sana. Tapi yang Luka lihat hanyalah airmata, Yuuma menangis, dan wajahnya basah.
"ayah bilang, aku tak mungkin bisa mengejarmu" Yuuma terisak, ditariknya wajahnya agar Luka tak menyaksikan betapa menyedihkannya dirinya saat ini. Luka tertegun.
"padahal, aku begitu mencintaimu Luka" Yuuma menggerakkan tangan kanannya, mengusapkan kedua pipinya bergantian, menyeka airmata yang membuatnya terlihat lemah dan cengeng.
"dulu Yukari, sekarang giliranmu. Apa aku memang tak pantas bahagia? Begitu kah?" Yuuma mendesah kecewa. Diangkatnya wajahnya menatap langit – langit ruangannya. Terlalu banyak menunduk hanya membuat airmatanya semakin tertumpah.
"dulu Len, sekarang Kaito.." isaknya sesaat sebelum Luka mengeluarkan suaranya. Mendengar Kaito, mendengar kalimat terakhir Yuuma tentang Len dan Kaito, dia ingin menyela.
"kau salah Yuuma. Kaito lebih dulu ada dari kalian semua" Luka menahan getaran diseluruh tubuhnya. Berat untuk terbiasa mengakui jika sejak dulu Kaito tanpa dia sadar memang selalu ada bersamanya.
"dia lebih banyak melakukan apapun dari siapapun disepanjang hidupku. Aku mengenalnya sejak kecil. Aku dan dia dibesarkan di panti asuhan yang sama, kami tumbuh bersama, sebelum aku mengenal tentang apapun didunia ini, aku sudah mengenalnya lebih dulu. Jangan pernah salahkan Kaito yang selalu ada dihidupku. Jika kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan aku yang sudah masuk dalam hidupmu"
Ada sebuah goresan yang Luka rasakan saat kalimatnya terucap. Dia baru sadar, terlalu lama menyadari, sebesar itukah pengorbanan Kaito yang selalu berdiri disampingnya saat ini?
"kau sudah menyadari rasa cintamu padanya?" Yuuma memandang wajah Luka dengan tatapan yang membuat Luka merasa tertekan. Ya, Yuuma benar. Sayangnya Luka merasa jengkel.
"jika tidak ada yang mau kau bicarakan lagi, aku akan pulang"
Luka bangkit, Yuuma tak berniat sedikitpun menghentikannya. Biarkanlah. Terserah Luka mau apa, rasa sakitnya membuatnya terdiam bagai patung. Tak berkutik dan tak mampu merespon apapun.
"selamat berbahagia" terdengar lirih, sarat akan emosi yang tak terjelaskan. Gerakan tangan Luka bahkan jadi terhenti saat suara lemah itu menjamah pendengarannya. Begitu menusuk didalam hatinya. Disini, dirinya lah yang menjadi tersangka, dan Yuuma lah yang menjadi korban. Luka ingin menertawai dirinya dalam hati, sejak kapan dia menjadi wanita sekejam ini.
Yuuma tertawa kecil dalam kepedihannya.
"selamat berbahagia Luka" senyumnya semakin tampak, tampak menyedihkan.
Iba, hanya bermodalkan rasa iba. Akhirnya Luka memutar tubuhnya kembali melangkah kearah Yuuma. Dia tidak ingin Yuuma minum terlalu banyak lagi. Untuk saat ini, walau dia tahu Yuuma tidaklah dalam keadaan mabuk, tapi rasanya Luka tak tega melihat Yuuma meracau tentang dirinya. Luka menarik semua kaleng bir yang terletak dimeja, baik yang berisi maupun tidak. Yuuma tidak boleh mabuk demi apapun, dan Luka masih menaruh sedikit harap agar pria itu datang kepernikahannya esok, walau kadang dia tidak begitu meyakini harapannya.
"aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini Yuuma" Luka melangkah menuju dapur, mengambil segelas air putih dari lemari es dan memberikannya pada Yuuma.
"tak bisa kubayangkan apa yang akan kau lakukan dengan keadaan sesedih ini setelah kupergi nanti" Luka menatap Yuuma yang kini sudah balas menatap matanya.
Luka tak pernah bilang jika wajah pemuda dihadapannya ini tidak tampan. Bahkan dia pernah mengakui setampan apa wajah si pemuda yang kini seakan hanyut dengan tatapannya sekarang. Yumma memiliki wajah rupawan, berbeda dari wajah Kaito yang menegaskan kelelakiannya, wajah Yuuma terkesan cantik seperti wajah ibunya. Atau bisa dikatakan manis sebagaimana para remaja wanita menyebutnya. Yuuma memiliki kulit lebih merah dari Kaito, bibirnya lebih kecil dari Kaito. Tanpa sadar, Luka sudah menyentuhkan ujung jarinya ke bibir pemuda itu. Lalu saat Yuuma membalas respon sentuhan itu dengan bibirnya, Luka tersentak menyadarkan dirinya. Luka menarik tangannya cepat, mengalihkan pandangnya kearah lain selain wajah Yuuma. Pikirannya mulai sesak entah karena apa.
"kau bisa menyentuhku jika kau menginginkannya" ucap Yuuma hingga membuat Luka terpaksa menatap wajahnya.
"itu tidak akan membuatmu menjadi milikku jika kau melakukannya. Kau akan tetap menjadi istri Kaito esok hari. Aku sudah menyerah mendapatkanmu Luka" Yuuma tersenyum, tulus. Luka bisa merasakannya.
"kau sudah lebih baik sekarang" Luka memaksa dirinya sadar, Yuuma bukanlah pria yang dia inginkan. Ada Kaito yang sudah dia tetapkan menjadi calon suaminya.
"selama ada kau didepanku. Aku bisa berlaku lebih baik dari yang kau inginkan" Yuuma menarik wajah Luka lembut, ada sedikit keraguan, tapi dibulatkannya tekadnya untuk mengecup bibir wanita itu sesaat.
Hening sejenak.
Menanggapi respon Luka yang hanya diam penuh ketidakberdayaan, Yuuma menyulap sebuah senyum penuh seringaian diwajahnya. Sempurna, dia terlihat tampan saat ini.
Bergerak perlahan, Yuuma mendekatkan lagi bibirnya. Menargetkan bibir merah Luka yang masih terbuka. Lalu mengecupnya sekali lagi, tangannya sekaligus merangkul Luka dengan sigap, menempelkan tubuh diantara mereka berdua hingga tak berjarak.
Luka mengerang.
Didorongnya dada Yuuma perlahan, entah karena apa dia merasa malu pada dirinya sendiri. Kecupan Yuuma melumpuhkan logikanya. Dia seakan terhanyut, tapi batinnya menolak.
"jangan menggodaku Yuuma" Luka ingin mengutuki dirinya sendiri. Kenapa harus kalimat tak jelas seperti itu yang harus keluar dari mulutnya? Kenapa tidak mendorong tubuh Yuuma dengan keras, jika perlu menamparnya hingga Yuuma tak lagi punya keberanian untuk melecehkannya?
"aku tidak menggodamu" Yuuma membela dirinya, ada senyum indah yang tak bisa disembunyikannya dari wajahnya.
"jika kau ingin pergi. bukankah sedari tadi harusnya kau sudah melakukannya?"
Luka bisa merasakan harum nafas Yuuma, wajah pria itu sudah tak lagi berjarak dengan wajahnya. Yuuma menempelkan pipinya pada pipi milik Luka, tangannya menyentuh punggung Luka penuh dengan gairah tersembunyi. Jelas sekali, dia ingin Luka malam ini.
Kesempatan besar seperti ini tak akan datang dua kali. Yuuma paham situasi Luka saat ini seperti seekor anak ayam yang tersesat. Tak tahu harus berbuat apa. Dia tertahan oleh gairahnya yang mulai bangkit, atau bekas – bekas cintanya yang masih tersisa untuk Yuuma seakan menyebar setitik demi setitik menggelapi nafsunya.
"kalau begitu, aku akan pergi-" sebelum Luka mengangkat tubuhnya dan melepaskan diri dari jeratan tubuh Yuuma, pria itu lebih dulu menahan gerakannya. Tidak ingin terlepas lagi. Sungguh, Yuuma sudah terlalu ingin dipuaskan.
"ahh..." Luka tak mampu menahan teriakan kecilnya, saat tangan Yuuma langsung menekan pahanya, untuk tetap duduk dihadapannya. Teriakan kecil bercampur desahan yang disalah artikan Yuuma, membuat keinginan liarnya kini menguasai otak dan jalan pikirannya.
"keluarkan saja Luka, desahanmu membuat batinku ingin menjerit" Yuuma menaikkan sentuhan tangannya dipaha Luka, naik beberapa centi, lalu meremasnya pelan. Luka meringis, tidak sakit memang, tapi entah kenapa lidahnya tak bisa berhenti mengeluhkan suara yang semakin membuat Yuuma ketagihan ingin membuat Luka bersuara.
"ajari aku bermain seks sebagaimana kau melakukannya pada suamimu dulu" tangan Yuuma lainnya, sudah berpindah menjalari tekuk Luka, membuat Luka harus menggigit bibirnya sendiri. Luka sudah terbakar, ucapan – ucapan menjijikan Yuuma seakan bisa memancing nafsunya bangkit. Sayangnya saat nafsu Megurine Luka bangkit, tidak ada kata lain selain ingin melampiaskannya. Dan Yuuma sudah mengerti itu sejak dulu, sejak pertama dia mencumbu Luka.
"kau jauh lebih berpengalaman dariku, ayo.. kau kesepian kan?" Yuuma menyeringai saat matanya menemukan keberadaan Luka yang sudah memejamkan matanya, menggigit bibirnya, dan tak lagi tahu harus berbuat apa. Yuuma tersenyum penuh kemenangan.
"bayangkan bagaimana suamimu menyentuhmu.." Yuuma menggerakkan tangannya, menelusuri kulit tangan Luka, terlatih, penuh antisipasi, terlihat sekali jika dia memang sudah ahli.
"lalu bibirnya menjilati wajahmu, bibirmu, juga dagumu.." Yuuma membiarkan bibirnya tertempel disetiap kulit wajah Luka, dari mulai pipi, turun hingga rahang, hidung, bibir dan juga dagu Luka, lalu memberikan sedikit gigitan kecil disana. Luka mendesah, Yuuma menang. Satu dari dua bagian tersensiitf dari tubuh Luka dijajah, Luka kalah telak. Jika begini, sekuat tenaga pun dia mengantukkan kepalanya kesebuah dinding baja, tetap saja Luka tidak akan bisa menolak gairah nafsunya yang telah terbangkitkan oleh Yuuma. Jika saja Yuuma bergerak mengisap maupun menjilati satu persatu jari – jari Luka, bisa dipastikan, Luka akan lupa segala – galanya apapun yang terjadi.
"..dan menyentuh lembut payudaramu, apa kau tidak merindukannya?" tangan Yuuma sudah bergerak lancang merabai payudara Luka dari balik pakaiannya yang sudah kusut entah karena apa. Menekannya lembut, penuh sensasi sambil membisikkan sesuatu yang membuat Luka semakin terbayang – bayang, betapa kesepiannya dia setelah suaminya meninggal. Tubuhnya memang dijamah, tapi tak pernah terpuaskan. Luka menutupi gairahnya selama mungkin, sekuat yang dia bisa, karena biar bagaimanapun tidak ada yang boleh memuaskan gairahnya selain suaminya sendiri. Itu sudah pasti. Tapi malam ini, rasanya Luka lupa dia pernah menjadi istri seseorang, lupa akan prinsip yang terus di junjung tingginya, lupa jika besok dia sudah resmi menjadi istri kembali, istri dari seseorang yang cintanya selalu dia abaikan.
Yuuma bergerak bebas, melepas satu persatu pakaian Luka, sedangkan wanita itu, rasanya bernafas saja sudah sulit, apalagi melarikan diri. Luka sudah terjebak sepenuhnya.
"kau sudah begitu menginginkannya Luka, apa kau benar – benar telah kesepian terlalu lama? Kaito tidak memuaskanmu dengan baik? Tapi tenanglah. Aku ada disini"
Luka, mendengar nama Kaito terpanggil dari bibir Yuuma, membuatnya membuka mata. Kepalanya telah terasa berat. Tidak bohong jika dia memang benar – benar merasa kesepian, sudah berapa bulan dia tidak pernah terjamah, dia merasa kembali seperti seorang perawan, ingin dicumbui selama mungkin, sebanyak mungkin sampai dia merasa puas, sampai rasa laparnya hilang, Luka benar – benar mabuk walau tanpa alkohol sekalipun.
Bersama Kaito, Luka tidak pernah dirangsang seperti ini, dia yang selalu mendominasi permainan, dia akan menjadikan dirinya sebagai budak, dan Kaito ibarat raja yang ingin dipuaskan. Walau dalam arti yang berbeda, Luka lah yang sebenarnya bertingkah sebagai ratu diatas ranjang karena ingin mmonopoli Kaito seutuhnya. Dan Kaito harus meradang dengan ketidakberdayaannya.
Dan seoalah tak terlalu mengerti, Luka merasa begitu ingin menikmati setiap kecupan yang Yuuma hadirkan untuknya saat ini, dia terbuai, ingin melayang. Entahlah. Untuk saat ini dia sedang memikirkan Toukai dalam imajinasi sesatnya. Perasaan kesepian Luka selama ini seakan ingin terlepas oleh bayangan Toukai yang kini menggeluti tubuhnya, padahal pria itu adalah Yuuma.
Yumma memang pintar, tahu jika Luka benar – benar sudah terbuai oleh rangsangannya. Yuuma kembali bermain dengan kedua tangannya. Menelusuri setiap inchi kulit Luka dengan kulit – kulit tangannya. Memberikan sensasi logika tiada tara. Luka mendesah, matanya terpejam lagi dan lagi. Tak tahu kenapa, rasanya dia menurut saja saat Yuuma merebahkan tubuhnya diatas sofa, menindihnya perlahan sambil terus membuatnya terangsang dengan sentuhan dan kecupan yang Yuuma hasilkan.
"kau wanita yang seksi Luka.." Yuuma membiarkan nafasnya terhembus diwajah Luka.
"biarkan garirahmu lepas, kau ingin dijamah kan? Aku akan membantumu merasa puas. Lihat, payudaramu seakan ingin kuremas lebih dari ini, tubuhmu menginginkannya Luka.." Yuuma memandang tubuh setengah polos Luka didepan matanya, tepat didepan wajahnya. Semua terasa sangat jelas. Perlahan, Yuuma mengecupkan bibirnya didada Luka. Dan wanita itu menggeligat resah. Selanjutnya, Yuuma menjalar menuruni dada Luka, memaksa masuk melalui celah – celah penutup payudara milik wanita itu yang masih terpasang, menggigitnya kecil, dan Luka semakin terbakar.
"owh.., aku merindukan ini setelah sekian lama Luka" Yuuma menggerakkan tangannya menyusup diantara punggung Luka, melepas kaitan penutup payudaranya dan merosotkannya perlahan. Kini dia benar – benar takjub, Luka sepenuhnya telah terlihat begitu lezat baginya. Dia lapar, dan Luka tersaji untuk memenuhi rasa laparnya.
"beruntung sekali Kaito, aku benar – benar iri padanya" Yuuma langsung mengulum puting payudara Luka cepat, wanita itu mendesah panjang. Tubuhnya menggeliat, saat Yuuma memainkan lidahnya disana, memelintir putingnya berkali – kali, terkadang menggigit, menarik, apa saja, menggunakan lidahnya. Luka tak berdaya.
"ucapkan namaku Luka.. aku ingin mendengar kau menyuarakan namaku, ayo Luka.. katakan.." Yuuma mengangkat wajahnya memandang wajah Luka yang merah padam, kedua tangan wanita itu terperintah untuk memeluk tubuh Yuuma yang menindihnya tanpa dia sadari. Bibirnya memerah karena gigitan akan ulahnya sendiri. Luka berusaha melawan, tapi dia kalah sebelum berperang.
"Yuu-yuuma... ahh.. ahh... hmmm.. ap-apa yang ki-ita...lak-kukannn.. aahhh-" Yuuma langsung menutup bibir Luka dengan mulutnya, menerobos masuk dengan lidahnya. Begitu nikmat, walau awalnya Luka memaksa untuk tidak merespon, tapi gairahnya benar – benar tak mampu dia kalahkan. Yuuma mulai merasakan, perlahan namun pasti, gerakan Luka mulai liar membalas kecupannya. Tangannya pun mulai aktif menjamahi tubuh Yuuma, mendorong tengkuk pemuda itu untuk memperdalam kecupannya. Yuuma tersenyum dalam batin. Selama berciuman, ditelurusinya tubuh Luka, membuka pengait yang terdapat dicelana panjang sewarna cream yang Luka kenakan, membuatnya turun, dan menyentuh paha Luka dengan penuh penekanan.
"hmmm..." Luka mendorong tubuh Yuuma cepat, melepas kecupan panjangnya. Sialnya. Yuuma langsung kaget menatap Luka didepannya.
"hen-hentikan.." Luka memandang Yuuma dengan nafas terengah.
"...ak-aku tidak bisa.. melakukan ini padamu Yuuma" Luka mengumpulkan semua sisa kekuatannya yang tadinya entah melebur kemana. Namun Yuuma tak ingin diabaikan sekali lagi. Dia merapatkan diri kembali menindih Luka dibawahnya. Memandangnya kelam dengan penuh permintaan.
"sekali saja Luka, biarkan aku memuaskanmu sebelum suamimu menjamahmu" Yuuma kembali mengecup Luka didepannya.
"cu-cukup Yuuma. Aku tidak bisa" Luka menahan wajah Yuuma yang sudah hampir menyentuh bibirnya, tapi seberapa kuat pun Luka menahannya, Yuuma tetap berhasil memaksa mengecup bibir wanita itu dalam dekapannya. Menuruni lehernya, Luka mendesah, lagi.
Maafkan aku, apa yang sedang kulakukan? Aku menikmatinya? Maafkan aku.
"aku mencintai Kaito, sangat mencintainya.."
Yuuma menghentikan gerakannya mencumbui leher jenjang Luka, sudah ada beberapa tanda merah yang dia ciptakan disana. Ditatapnya wajah Luka yang sudah menoleh enggan menatap wajahnya. Ada sebutir airmata yang terlihat disana.
Kau mencintai seseorang, seharusnya aku yang menangis, bukan dirimu Luka.
"..sudah kucoba untuk mengabaikan perasaanku padanya sebanyak yang kubisa, tapi percuma. Aku tetap mencintainya.." Yuuma tak mau peduli, dibiarkannya tangannya bergerak menelusuri perut indah Luka, membiarkan kelembutan mendominasi kenikmatannya.
Tidak baik, untuk seseorang yang akan melangsungkan pernikahan, berpergian dimalam sebelum pernikahannya berlangsung. Harusnya Luka tahu itu, Miku sedang memandang resah kegelapan malam melalui jendela kamarnya saat ini. Sudah lewat pukul 10 malam, apa Luka lupa dengan janjinya? Sialnya, Miku tak mampu menahan kesalnya jika sudah seperti ini.
Mencoba ingin tahu, Luka sedang berada dimana sekarang, Miku meemutuskan untuk menghubunginya sekarang juga. Sejak tadi dia sudah menggenggam ponselnya, hanya saja masih butuh beberapa keyakinan untuk mengambil keputusan antara menghubungi Kaito atau Luka nya sendiri, dan sekarang keputusannya sudah bulat.
Saat jari tangannya fokus menyentuh layar ponsel mencari nama Luka disana, ada nama Kaito yang berkedip – kedip mengahului. Seketika wajah Miku berubah pucat, dia gugup.
"ha-haloo.." ucapnya berat, tangannya bahkan terlihat bergetar.
"Miku-chan, besok pagi, aku menyerahkan Luka padamu ya"
Miku bisa merasakan ada senyuman yang tampil diwajah Kaito saat mengucapkan itu, walau sebenarnya dia tidak bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, tapi dari nada bicaranya, dia bahagia.
"ah, i-iya.. serahkan padaku.." Miku memaksa sebuah senyum menarik ulas bibirnya, tapi tetap terasa tak nyata. Kaito menangkap suatu kejanggalan disana.
"ada apa? Ada masalah? Luka dimana? Jangan sampai dia tahu aku menelponmu. Ini urusan saudara ipar, kau harus bisa membedakannya" Kaito tertawa diujung kalimatnya. Geli sendiri memikirkan hal itu pada kehidupannya. Miku merespon sederhana.
"harusnya kau menelpon Luka calon istrimu dimalam sebelum pernikahanmu, bukan aku" Miku tertarik ingin tahu, apa Kaito tidak menelpon Luka sejak sore tadi? Dia tidak tahu Luka sedang tidak berada dirumah?
"aku takut mengganggunya. Dia mungkin akan gugup menyambut pernikahan kami besok. Jadi biarkan dia sendiri. Besok juga pasti ketemu kan?" Kaito menggaruk kepalanya canggung.
Biarkan dia sendiri? Tapi sekarang, entah dimana dia berada, bertemu dengan seorang pria yang sangat terobsesi padanya, apa yang kau lakukan Luka?
"maafkan aku Kaito-san, tapi Luka tidak-" disini.. ingin sekali Miku menyelesaikan kalimatnya. Tapi tunggu dulu, dia tidak ingin membuat semua orang khawatir, dia percaya pada Luka.
"ada apa?"
"tidak... tidak apa. Aku hanya merasa senang akhirnya dia jujur pada perasaannya sendiri" Miku tersenyum kecut, menyakitkan karena harus membiarkan pemuda diujung sana percaya pada keyakinannya sendiri.
"terimakasih Miku, ucapanmu barusan aku anggap sebagai ucapan selamat untuk pernikahan kami besok" Kaito membalasnya lembut.
"ya, selamat malam" dan Miku menutup sambungannya.
Jelas saja Miku merasa bersalah. Pokoknya dia harus menyuruh Luka pulang, apapun yang terjadi. Bukankah begitu?
Miku menyambungkan panggilannya pada ponsel Luka. Satu nada berlalu, nada kedua diabaikan, nada ketiga tetap tak direspon, Miku tetap menunggu.
Luka mengerang dibawah pelukan Yuuma, kini tubunya telah dibanjiri keringat yang tak lagi bisa dibedakan, siapa pemiliknya. Yuuma sudah sepenuhnya melepaskan seluruh pakaiannya. Tak satupun benang yang membungkus kulitnya. Sedangkan Luka, pakaian yang tersisa hanya pakaian dalam yang menutupi kewanitaannya saja. Jangan tanya pada Luka kenapa sekarang dia sudah terbaring diatas ranjang milik Yuuma, ranjang yang sama yang mereka gunakan saat pergaulan pertama mereka.
Yuuma yang mengangkat tubuh Luka keranjang didalam kamarnya. Meninggalkan pakaian Luka serta semua benda yang Luka bawa tadi di ruang tamu. Hingga ponsel Luka yang berdering sedari tadi pun tak lagi mampu mereka dengar.
Miku terjerat kesal mendalam, sudah berapa panggilan yang dia buat untuk Luka. tak ada jawaban, kekhawatirannya semakin tumpah berlebihan.
Luka meremas rambut Yuuma didalam dekapannya saat pria itu mengulum kedua payudaranya bergantian. Desahannya semakin hebat, entahlah, yang pasti Luka menikmatinya, dan melupakan segalanya untuk saat ini.
Turun kebawah, Yuuma menelusuri perut Luka kembali dengan kecupan – kecupan bibirnya, lalu turun menuju daerah kewanitaan wanita yang terbaring didepannya. Tangannya bergerak menarik turun penutup yang menghalangi pandangannya disana. Ditariknya celana dalam hitam Luka untuk lepas dari tubuhnya, dan melemparkannya entah kemana. Sebelum Yuuma kembali melanjutkan kegiatannya, dia tersenyum menyeringai sejenak menatapi ini lah yang dia inginkan. Perlahan, dibukanya kedua kaki Luka semakin lebar, awalnya Luka tidak menurut, tapi tidak butuh banyak waktu hingga akhirnya Yuuma memilih untuk menyentuh surga dunia milik Luka yang sudah tersaji didepan wajahnya. Hingga, Luka mau tak mau melemahkan kakinya, dan Yuuma tersenyum sempurna.
Sentuhan pertama, Luka mendesis pelan, sialnya Yuuma semakin bergairah karenanya. Yuuma membelai permukaan kewanitaan Luka perlahan, menyentuh bulu – bulu yang masih saja mengganggu pemandangannya disana. Lalu, tanpa diminta, Yuuma mengecup kewanitaan Luka dengan bibirnya. Nikmat, Luka merasakan ada sebuah kenikmatan yang merajai tubuhnya, tapi dia tidak cukup puas. Tubuhnya menuntut kepuasan yang lebih, jika hanya itu, Kaito sudah sering melakukannya.
"harummu berbeda Luka" Yuuma berbisik, entahlah hanya saja suaranya terdengar erotis untuk Luka. Menggoda dan membuat Luka semakin bergejolak.
Yuuma menjulurkan lidahnya menyapu kewanitaan Luka, dan sang wanita mengejang, menjepit wajah Yuuma yang masih menikmati basahnya kewanitaannya.
Yuuma menjulurkan lidahnya menyentuh kewanitaan itu lebih dalam, awalnya lembut penuh kenikmatan, lama kelamaan bergerak cepat, serasa ingin menyedot semua apa yang ditemukan lidahnya.
"Ahhh... Yuu-yuumaa.. hen-hentikannnn...hmmm.." Luka meremas sprei dikedua sisi tubuhnya. Walau bibirnya mengatakan berhenti, tapi tubuhnya benar – benar menikmatinya.
"ini belum seberapa Luka.." Yuuma menggigit bagian tersensitif Luka, memainkan clirotis wanita itu dengan lidahnya. Luka kembali mengerang.
"katakan padaku Luka, seberapa ingin kau menikmatinya" Yuuma mengangkat wajahnya, mendekatkan bibirnya kepipi Luka dan mengecupnya lagi lebih lama. Dia begitu menikmati bagaimana indahnya wajah Luka ketika tergoda, benar – benar berbeda dari apa yang sering dilihatnya. Kini wajah Luka memerah, begitu cantik dan rupawan.
"cu-cukup Yuuma..ahh.. ahh.." Luka terengah, tubuhnya terasa tak mau diperintah.
"tapi kita belum selesai.."
Selesai dengan ucapannya, Yuuma menarik tubuh Luka menempel lebih dekat padanya, lalu dia menegakkan tubuhnya, menargetkan daerah kewanitaan Luka untuk dinikmatinya. Yuuma sudah siap, persiapannya sudah matang. Dan dengan pasti dia mengarahkan kejantanannya yang sedari tadi tak sabar untuk memasuki apa yang diinginkannya.
Luka memaksa membuka matanya. Ada sesuatu yang dirasakannya menempel diantara selangkangannya, dikewanitaannya. Luka mengerang.
"le-lepaskan aku Yuuma.." ucapnya saat tahu, selanjutnya akan terjadi hal yang tidak diinginkannya. Luka ingat, ini adalah masa suburnya. Sumpah demi apapun, dia tidak ingin melakukan hal sebodoh ini dengan pria lain. Apalagi saat dia tahu Yuuma sama sekali tak memakai pelindung.
Tapi pemikiran Yuuma berbeda, ditindihnya tubuh Luka kembali, mengecup bibirnya walau Luka menolaknya mentah – mentah. Luka menggelengkan wajahnya, tak ingin Yuuma menangkap bibir miliknya dengan bibir milik pria itu, tapi sayangnya, saat dia berusaha menghindari wajah Yuuma, dia tidak menyadari Yuuma sudah mengarahkan miliknya dan mendorongnya cepat kekewanitaannya. Luka berteriak.
"arrrghhh... Yu-yuumaa.." ucapnya tertahan, saat Yuuma tetap memaksa miliknya menguasai ruang surga milik Luka. Terasa sempit, rasanya Yuuma baru saja memerawani seorang perawan malam ini.
Sakit, Luka bahkan sampai meninggalkan bekas gigitan dibibir bawahnya sendiri. Miliknya telah dimasuki, dan rasanya begitu perih. Ada airmata yang terjatuh disana, Yuuma mendengar Luka terisak, dan dia merasa teramat sangat bersalah. Didiamkannya miliknya didalam Luka, lalu tangannya bergerak menghusap airmata itu disana.
"kau benar – benar tak pernah melakukan hubungan intim dengan pria lain beberapa bulan ini Luka?" ucapnya tak percaya, awalnya dia meragukan keyakinan yang dia tahu, tapi rasanya tidak mungkin wanita seperti Luka tak pernah berhubungan dengan pria lain selang berapa lama. Luka punya gairah yang liar, tak ada kepercayaan bagi Yuuma jika Luka ternyata bisa menahan kebutuhannya itu.
"a-apa itupun harus kuberitahukan padamu?!..ahhh." Luka menatap wajah Yuuma tajam. Dia sudah melanggar prinsipnya sendiri. Bahkan Kaito tak diijinkannya memasuki dirinya, lalu Yuuma? Apa yang sudah Yuuma lakukan?
Yuuma menyesal, dia mencintai Luka dan seharusnya tak ingin membuat wanita itu menangis, tapi membiarkan kesempatanpun bukan lagi pilihannya. Digerakkannya perlahan benda miliknya diruang milik Luka, dan alhasil Luka mendesah kesakitan.
"tapi aku akan membayar rasa sakitmu dengan kenikmatan Luka, lihat saja" Yuuma mengecup kembali bibir Luka saat Luka ingin berkata. Dia sudah menjanjikan Luka kenikmatan, dan dia ingin mewujudkannya.
Dirorongnya miliknya sendiri secara berirama disana, pelan, lembut, ringan, tidak ingin membiarkan Luka merasakan sakit. Tapi dia tidak pernah paham hati dan perasaan Luka saat ini sudah lebih sakit dari apapun kini.
"hen-hentikan Yuuma..hmm.. ahh.." Luka tak bisa pungkiri, rasa sakit diantara selangkangannya kini mulai beralih menjadi sebuah kenikmatan yang perlahan merasuk kembali menguasai tubuhnya. Dia mendesah, tapi mulutnya masih ingin memaki Yuuma lebih banyak.
"cu-cukup Yuuma.. aahh..." Luka berusaha untuk sadar diri.
"ja-jangan kau ger-gerakan lagi... hmm,.. ahh.." tapi tubuhnya tak bisa menuruti perintahnya.
Yuuma tak lagi peduli, dia memompa lebih cepat dari semula, titik – titik kenikmatan mulai menguasai pikirannya, semakin cepat hingga membuatnya seakan ingin menyelesaikannya dengan penuh kenikmatan, nafasnya memburu, tidak peduli jika Luka memintanya berhenti atau tidak. Dia tetap ingin mencapai kenikmatan itu bersama Luka. Karena dia tahu Luka juga menikmatinya, walau terpaksa.
"a-aku a-akan keluar Luka.." Yuuma mendesah diatas wajah Luka, sambil terus mendorong tubuhnya.
"ja-jangan Yuuma.. ja-jangan ka-kau keluar..ahh.. ja-jangan didalammm-argghhhh..." terlambat, Yuuma tak lagi memiliki kekuatan untuk menarik miliknya sendiri. Pemuda itu terkulai lemah diatas tubuh Luka, miliknya masih menempel disana, membiarkan sisa – sisa cairannya memasuki milik Luka, sedangkan sang wanita tak merasa puas sedikitpun.
Luka mendorong tubuh Yuuma yang menindihnya dengan sisa kekuatannya. Dan Yuuma mengangkat wajahnya menatap wajah Luka disana. Goresan rasa kecewa terlihat disana.
"maaf Luka, terlambat untuk tidak mengeluarkannya didalam. Dan kau hebat juga, kau belum mendapatkan orgasme mu-" Yuuma terdiam, sebuah tamparan mendarat diwajah tampannya.
"lepaskan aku!" mata Luka memerah menahan tangis. Sudah tak ada lagi yang bisa dia sesali, karena dia cukup tahu diri tak ada lagi gunanya menyesali semua yang sudah dia lakukan dengan Yuuma.
"ya Tuhan.. ini masa suburku Yuuma.." Luka terisak, menarik selimut dari sisinya yang sudah hampir terjatuh kelantai, menutupi tubuhnya yang dia sendiri merasa jijik. Sedangkan Yuuma hanya terdiam.
"apa yang harus kau lindungi sebenarnya Luka? membiarkanku menghamilimu tidaklah sesuatu yang harus kau sesali. Aku akan bertanggugjawab jika itu-"
"diamlah brengsek?! Diamlah.. aku tak mau mendengar apapun darimu!" Luka menutup telinganya. Sial, dia benar – benar sakit hati pada Yuuma.
Didalam keheningan, Yuuma pun tak lagi punya keberanian untuk bersuara. Hanya suara isak tangis yang terdengar diantara mereka berdua. Yuuma menjepit seluruh rambutnya karena merasa tak lagi bisa dimaafkan oleh Luka, ditepi ranjang dia merasa hancur sendiri.
Tepat saat mereka sama – sama menyesali hal apa yang baru mereka lakukan. Ada suara ponsel yang memonopoli keadaan mereka. Milik Yuuma.
Dan Yuuma bergerak untuk meraih ponselnya yang masih tersimpan disaku celananya yang berserak diatas lantai.
"Miku..." Yuuma berbisik sendiri saat ada nama Miku diponsel miliknya. Miku memanggilnya. Luka merasa ada yang tak diinginkannya akan terjadi.
"ah, ha-hallo Miku-chan.." Yuuma merespon gugup, sambil pandangan matnya mengarah pada wajah Luka yang sudah memandangnya, ingin tahu.
"ya, Luka disini.." ucapnya pelan, tak berani menatap Luka. Lalu sesaat kemudian, dia memberikan ponsel itu pada Luka, rasanya Miku ingin bicara padanya.
"kau kemana saja Luka? sudah jam berapa ini? Kau janji akan kembali pukul sepuluh-"
"aku akan pulang Miku.." kalimat Luka langsung memutus ucapan Miku dan membuatnya terdiam. Dari nada suaranya bisa Miku pastikan ada seusatu yang tak beres dengan kakaknya.
"apa yang sedang kau lakukan disana Luka?" kalimat Miku terdengar seakan tahu ada sebuah kesalahan yang baru saja Luka lakukan dengan Yuuma. Miku bukan gadis bodoh, dia tak perlu belajar dengan seorang yang terpintar didunia untuk tahu ada yang sedang tidak beres disana.
"aku.. aku akan pulang.." Luka berusaha menahan emosinya. Airmatanya tinggal menunggu waktu, akan tertumpah tak tertahan.
"Luka..." Miku tak mau tahu. Dia harus tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi. Suara Luka terdengar berat dipendengarannya. Pasti ada yang tidak beres.
"apa Kaito tak menelponmu?" Miku mendesak Luka bicara, tapi wanita itu hanya diam.
"..dia menyuruhku untuk menjagamu sampai besok. Dan yang terjadi, kau tidak sedang berada didepan mataku, dia tidak tahu kau sedang berada dimana malam ini Luka. Yang dia tahu kau ada dirumah, dengan perasaan gugup menanti hari pernikahanmu besok. Dia bilang dia tidak ingin mengganggumu dan ingin membiarkanmu sendiri sampai besok, dia khawatir padamu"
Airmata Luka tertumpah sempurna, dia menutup mulutnya untuk tetap tidak terisak, dan Yuuma hanya memperhatikannya dengan perasaan bersalah. Tidak tahu apa yang membuat Luka sampai sekuat itu menahan tangisnya. Tapi Yuuma memang tulus merasakan iba.
"Luka.." ucap Miku lagi, karena mendapati tidak ada respon diujung sana.
"..pulanglah sekarang jika kau tidak mau Kaito mencemaskanmu. Urusanmu dan Yuuma sudah selesaikan?" Miku berharap penuh kali ini ada respon yang dia dengar dari mulut kakaknya.
"aku..a-aku akan pulang.." Luka mengusap airmatanya. Suaranya yang terlihat sedang menangis, bisa didengarkan Miku dengan jelas. Tapi entah kenapa Miku tak lagi ingin menanyakannya. Sepertinya ada sebuah ikatan yang membuatnya dan Luka saling mengerti.
"kau ada dimana, biarkan aku menjemputmu" ucap Miku bersikap menjadi jauh lebih dewasa.
"aku akan pulang sendiri.. aku tidak ingin merepotkanmu-"
"kau kakakku. Dan jika kau mau menyalahkanku karena peduli padamu. Salahkan pemilik darah yang mengalir ditubuh kita berdua. Katakan dimana dan aku akan datang menjemputmu sekarang!" perintah Miku cepat. Membuat Luka menyerah.
-][-
Miku cukup pintar. Dia tidak memberitahu Kaito apa yang sedang terjadi. Didalam mobil, fokus pada kemudinya, gadis itu hanya berharap tak ada sesuatu yang bisa menghalangi pernikahan Luka besok.
Miku memarkirkan mobilnya didepan gedung apertemen elit itu. Membiarkan petugas memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu masuk, karena dia memang tidak lama disana. Sebelum Miku tahu alamat itu, Yuuma yang memberitahukannya sebelum akhirnya panggilannya terputus. Luka menolak Yuuma menawarkan diri untuk mengantarnya, jangankan mengantar. Rasanya memandang wajahnya saja Luka sudah tak lagi ingin.
Pakaiannya kini telah rapi melekat ditubuhnya. Seperti tak terjadi apapun beberapa menit tadi. Semuanya kembali terlihat normal. Kecuali rasa nyeri yang terasa diselangkangan Luka. biar bagaimanapun, hampir belasan bulan dia tak pernah dijamah pria, membuat rasa nyerinya tetap ada.
Mereka berdua saling duduk berhadapan diruang tamu, berteman sunyi tanpa memandang. Tapi entah mengapa rasanya Yuuma ingin meminta maaf.
"maafkan aku Luka.." ucapnya berat, tak kuat. Dia sudah melukai perasaan seseorang yang sangat dicintainya.
"aku menyesal-" sekali lagi, Yuuma merasakan ada sesuatu yang begitu nyerih dipipinya. Dan saat dia mengangkat wajahnya ada sosok Luka yang sudah berdiri disana. Menatapnya dengan tatapan yang seakan bisa membunuhnya.
"jika kau ingin menamparku, lakukanlah" ucap Luka mengusap setitik airmata yang sudah terjauh entah untuk kesekian kalinya dipipinya.
"jangan perlakukan aku sebagai orang suci. Seolah akulah yang menjadi korban disini brengsek. Kau membuatku semakin membenci diriku sendiri" Luka menahan emosinya. Mendengar Yuuma meminta maaf hanya akan menambah kesan menjijikan untuk dirinya sendiri. Jika dia boleh jujur ini tidak sepenuhnya kesalahan Yuuma. Pria itu memang brengsek, tapi dia tidak sepenuhnya salah.
Suara bell, Yuuma mendongakkan kepalanya cepat menatap kearah pintu, lalu beralih menatap Luka yang sedang berusaha mengapus bekas – bekas airmatanya.
Lalu, saat Yuuma membukakan pintu, Miku langsung mendorong tubuhnya dan mencari sosok Luka secepat mungkin.
"ayo kita pulang.." Miku menarik tangan Luka cepat, tanpa ingin tahu bagaimana basahnya wajah kakaknya itu.
"selamat malam Yuuma-san.." Miku tak berniat menatap wajah Yuuma disana. Entahlah, rasanya dia sudah tahu apa yang terjadi pada keduanya.
"maafkan aku Luka, semoga tidak terjadi apapun padamu setelah ini" Yuuma membayangkan pernyataan Luka tentang masa suburnya tadi. Rasanya tak tega juga membuat Luka semenderita itu. Tapi dia akan bertanggung jawab jika kelak tumbuh janin disana.
Namun, sebelum pemikirannya hilang. Yuuma mendapati Miku sudah menamparnya keras. Luka terkejut.
"kau sudah merencanakan semua ini kan?" matanya menatap Yuuma tajam. Miku tak mampu menahan emosinya. Ditariknya baju Yuuma dan mengeratkan genggamannya kuat, entah kenapa emosinya tiba – tiba meluap.
"kau tahu dia akan menikah besok. Lalu kenapa kau menyuruhnya menemuimu sekarang? Dan sekarang kau sudah puas?" Luka menahan tangan Miku yang seraya ingin menampar Yuuma sekali lagi.
"apa yang kau lakukan? Miku." Kini kedua kakak adik itu saling menatap disana.
"maafkan aku" Yuuma menunduk pelan, namun mereka berdua mengabaikannya.
"Kaito mencemaskanmu Luka. Dan kau bersama pria lain yang terobsesi padamu" kesal Miku menumpuk. Memendam apa yang sedang dipikirkannya.
"tapi kenapa kau harus menamparnya? Apa yang kau ketahui?"
"ada bagusnya jika memang kau tidak ingin menjelaskan hal apa yang ingin kuketahui. Aku juga tidak ingin membayangkannya" Miku menarik tangan Luka sekali lagi. Tidak usah tanya kenapa Miku memiliki keyakinan begitu besar kini, ada tanda merah disekitar leher Luka dan itu sudah cukup membuktikan segalanya.
Didalam mobil, Miku dan Luka hanya terdiam. Tanpa kata, Miku terlalu kesal dengan segala bentuk tindakan Luka. Begitu juga dengan Luka, banyak hal yang kini sedang dipikirkannya. Apa yang baru saja dia lakukan dengan pemuda lain disaat dia akan menjadi istri pria lain besok? Apalagi saat membayangkan ketika Yuuma mengeluarkan seluruh cairannya didalam rahimnya. Rasanya Luka ingin memuntahkan isi perutnya. Bayangan wajah Kaito memenuhi pikirannya. Dia ingin menangis. Tapi ini adalah kesalahannya, sepenuhnya adalah kesalahannya.
"bagaimana caramu untuk menghilangkan tanda memar disekitar lehermu Luka?" Miku tak menatap Luka saat mengucapkan kalimat itu. Namun setelah mendengar Miku mengucapkan kalimatnya, Luka langsung mengangkat tangannya menyentuh bagian – bagian perih disekitar lehernya. Kini dia paham, kenapa Miku menampar Yuuma, gadis kecil itu sudah mengerti apa yang telah terjadi.
"aku tidak ingin tahu apa yang sedang terjadi antara kau dan Yuuma malam ini. Tapi berjanjilah padaku Luka. Besok, jangan sampai ada sesuatu yang membuat pernikahanmu dan Kaito batal. Apapun itu, jika tidak, aku akan membunuh diriku sendiri" Miku menggeram. Dan Luka langsung menatap kearah Miku tak percaya.
"kau bicara apa Miku? Jangan bicara seperti itu"
"lantas menurutmu aku harus bicara apa? Memujimu dengan tingkahlakumu malam ini? Jelaskan padaku bagaimana caranya menghilangkan tanda itu dari lehermu? Kau tahu pakaian apa yang besok kau kenakkan kan? Kau ingin orang berpikiran apa saat melihat tanda itu? apa Kaito akan tersenyum saat dia melihat wanitanya ditandai pria lain sebelum hari pernikahan kalian?" Miku menepikan mobilnya dipinggir jalan, dia sudah dilampaui emosi mendalam. Tidak baik meneruskan perjalanan saat dia sedang menahan emosi mendalam.
"Miku.." konyol rasanya jika Luka ingin memarahi Miku yang berani membentaknya. Karena dia sadar apa yang dikatakan Miku mengandung kebenaran yang mutlak.
"aku menyayangimu Luka, kau tidak tahu seberapa besar rasa sayangku padamu. Aku hanya ingin kau bahagia. Aku marah saat otakku harus berpikir hal aneh apa yang kau lakukan dengan Yuuma malam ini. Jaga perasaan Kaito yang sedang mencemaskanmu. Dia adalah suamimu besok, dan kau? Apa yang kau lakukan?" Miku tak mampu menahan tangisnya. Dia mendekap Luka disampingnya. Membiarkan wajahnya tertutup dalam dekapan sang kakak. Jelas saja dia khawatir.
Sesaat didalam diam, hanya isakan Miku lah yang terdengar dipendengaran Luka. Batinnya tersiksa. Dahulu dia melakukan kesalahan setelah pernikahannya, sekarang, dia mengulang membuat kesalahan sebelum pernikahannya. Kecemasan Miku terhadapnya memiliki arti yang tepat menunjukkan seberapa buruk tindakan yang telah diperbuatnya. Luka memaksa untuk memikirkan sesuatu untuk menghadapi Kaito besok.
"aku... akan mengatakan semuanya pada Kaito besok" Luka mendekap tubuh Miku erat, membuat kalimat yang terucap dari mulutnya menghentikan isakan gadis itu. Miku mengangkat tubuhnya dan menatap dalam kearah wajah Luka. Dia tidak salah dengar kan?
"aku akan jujur padanya besok. Dia tidak pernah tahu sejauh mana hubunganku dan Yuuma sejak pertama kali aku dan Yuuma bertemu. Dan besok sebelum pernikahan berlangsung, dia harus tahu semuanya. Sudah berapa kali Yuuma mencumbuku, dan sekaligus tentang hubunganku dengan Len dulu. Agar kelak, dia tidak salah paham dengan semua hubunganku dengan para pria yang pernah kulalui. Dia harus tahu semuanya, akan kupastikan dia mendengar semua yang kulalui saat dia tak ada disampingku" Luka memaksa senyum diwajahnya, dengan begitu dia memberikan sebuah pengharapan untuk dirinya sendiri. Walau Miku yang memandang merasa tak tahu harus menanggapinya bagaimana. Tapi jika pun keputusan Luka untuk mengungkap semua hubungannya dengan pria lain pada Kaito sudah bulat, bagi Miku mungkin itu adalah jalan terbaik.
"dan kupastikan besok aku akan tetap menikah dengannya.."
~tbc
wow.. akhirnya udah chapter 10..
project ke FF lain yang sudah jalan ampe chapter 1 yang sudah saya upload membuat saya seakan semangat mengerjakan ini hahaha..
Ide cerita selalu datang dengan sendirinya. sebenarnya dari cara saya mencintai character yang ada..
terimakasih yang review ya.. saya tetap sayang kalian :)
