Bodoh, apa kegilaan mu terhadap cinta telah membuatmu bodoh seperti ini?

Tears of My Pain

~Bodoh~

Detik demi detik berlalu dengan percuma. Rasa sesal dan ketidakpastian semakin menekan batinnya, merasuk melalui pemikiran – pemikiran negatif yang kini dia lamunkan. Luka meradang kecewa. Kecewa yang lebih besar kepada dirinya sendiri. Semenjak dia kembali dari tempat Yuuma, dia tidak bisa terpejam walau semenit saja. Tentu karena ada yang sedang dia pikirkan.

Miku menatap dalam kearah dimana cermin dihadapannya memantulkan bayangan dirinya. Wajah itu menampilkan keraguan. Mendalami parasnya sendiri, Miku tergerak untuk menampilkan senyumnya. Ada sesuatu yang sama dari apa yang dia lihat disana dengan apa yang dia lihat dari wajah kakaknya. Warna rambut mereka mungkin berbeda, tapi darah mereka sama, emosi mereka serupa, dan mungkin karena itu Miku pun terlalu memikirkan kakaknya. Memikirkan apa yang sebenarnya akan terjadi setelah ini. Semoga saja, hari ini akan baik – baik saja. Hari dimana sang kakak akan menikah untuk kedua kalinya.

Dipernikahan Luka yang pertama, Miku tak datang, atau bahkan tak tahu menahu. Luka menikah tanpa pemberitahuan, tidak ada pesta besar, tak ada pengumuman, semuanya terjadi begitu saja, hanya beberapa kerabat saja yang datang. Terkesan tertutup dan itu memang pilihannya. Bahkan saat itu Miku ingat, ibunya tidak datang, atau mungkin tidak tahu. Miku pernah sekali dikenalkan dengan suami pertama Luka, saat itu Luka memang sengaja datang berkunjung, menemui ibunya, diminggu pertama pernikahan mereka. Pria yang baik, Miku bisa menyimpulkannya. Dan pria itu memang serupa paras dengan calon suami kedua Luka yang akan dinikahinya hari ini. Dan Miku tahu, dia juga adalah pria yang baik, atau mungkin teramat baik. Pasti.

Miku selesai membasuh wajahnya, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, pemberkatan pernikahan kakaknya dijadwalkan pukul sebelas siang, masih ada beberapa jam lagi untuk berbenah, dan itu memang sudah Miku pastikan. Didalam pihak wanita, Miku yang bertugas membenahi segala yang diperlukan sang pengantin wanita, dari pakaian, dan urusan merias. Sedangkan hal lainnya, sudah diatasi oleh pihak pengantin pria.

Hari ini adalah hari pernikahan Luka, tapi untuk beberapa alasan yang tidak dia ketahui, hati Miku lah yang merasa berdebar – debar sejak dia terjaga tadi. Kekhawatirannya menyerupai seorang ibu yang akan melepaskan kehidupan sang putri bersama pria lain, dan memikirkan itu saja, ada tawa yang tersimpul diwajah Miku. Melangkah pelan, Miku sudah berdiri diambang pintu kamar Luka, dia harap tidak ada lagi paras yang tidak ingin dilihatnya diwajah kakaknya itu, mengingat apa yang telah terjadi semalam.

"kau sudah bangun Luka?" Miku merasa lega karena melihat Luka sudah berdiri diberanda kamarnya. Menatap kekosongan yang jelas terlihat dari sorot matanya. Dia tak bergeming saat Miku menyapanya. Membuat Miku mulai memikirkan hal aneh tentang sang kakak.

"aku akan membuatkan sarapan, kau ingin makan apa?" Miku memandang tenang punggung Luka, punggung yang entah kenapa terlihat begitu menyedihkan.

"aku tidak ingin makan Miku" ucap Luka masih tetap diposisinya. Miku khawatir.

"jika kau tidak sarapan, kau tidak akan tahan sampai makan siang nanti-"

"aku tidak ingin makan. Tolong tinggalkan aku sebentar saja" Luka menahan sesuatu yang tengah bergejolak didadanya. Rasa yang dia pikirkan saat itu seakan mampu meremas jantungnya.

"Luka..." antisipasi dari Miku, dia tahu saat ini seharusnya perintah Luka adalah mutlak, tapi dia mengabaikannya.

"Miku.." Luka mengarahkan pandangnya kearah Miku, berbalik. Kali ini Luka yang membuka suaranya, ingin berbicara sesuatu-mungkin, dan Miku telah siap mendengarkannya.

"aku ragu meninggalkanmu sendirian disini ketika aku menikah nanti"

Kalimat itu jelas saja membuat Miku terperangah heran tak percaya, jangan berpikir seperti itu Luka, Miku tidak akan merasa ditinggalkan bahkan setelah kau menikah nanti.

"jadi-"

"hentikan Luka.." Miku memotong cepat, jangan sampai Luka memikirkan hal lain hanya karena memikirkan kesendiriannya.

"kau tidak akan meninggalkanku. Kita masih bisa bersama kapanpun aku mau, bahkan saat kau tidak ada dihadapankupun aku tahu kita akan tetap bersama. Jangan memikirkan hal lain, aku sudah dewasa, umurku dua puluh tahun loh.." Miku memasang tawa diwajahnya, jujur saja dia memang sedih jika memikirkan hal itu, ditinggal oleh Luka dirumah sebesar itu, sendirian, rasanya begitu kesepian. Tapi mau bagaimana lagi? Semua yang bersaudara didunia ini tetap akan terpisahkan.

"tapi, kita baru saja bersama, rasanya aku tidak tega meninggalkanmu" Luka jujur.

"seperti yang aku bilang. Kau tidak akan meninggalkanku. Sudah, lupakan saja. Sekarang mandilah, hari ini pernikahanmu kan?" Miku melangkah lembut kearah Luka, menarik tangannya sambil menyembunyikan kedukaan yang mulai menguasai parasnya. Dia bersedih, tentu saja, seperti yang Luka katakan, mereka baru saja bersama, dan sekarang akan kembali terpisah, dan kenyataan itu lah yang sedari tadisudah lebih dulu dipikirkannya.

"dihari yang berbahagia ini, harusnya kita tak usah membahas hal yang menyedihkan lagi" sambil melangkah, Miku tak pernah mau tahu jika sudah ada airmata yang sudah membanjiri hatinya.

-][-

Suasana dihalaman Gereja terlihat lebih ramai dari pada suasana didalamnya. Semua orang, khususnya para pencari berita lebih mendominasi tempat, semua kamera sudah bersiap, kilat – kilat lampu kamera memenuhi pendangan dari beberapa sudut, walau jadwal pemberkatan akan berlangsung kurang lebih satu jam lagi, namun kesibukan disana bahkan sudah terjadi dari subuh pagi tadi. Di sisi – sisi lain, puluhan mobil sudah berjejer rapi, baik dari kalangan menengah juga dari kalangan tingkat atas, semua dihadiri oleh kaum elit. Dari rekan bisnis keluarga Shion maupun Megurine, semua berkumpul. Juga beberapa dari kalangan artis, rasanya pernikahan kali ini akan menyedot banyak perhatian dari masyarakat luas.

Rombongan Luka baru datang beberapa menit lalu, permintaan Luka sebelum tiba, dia tidak mau sorot kamera menangkap figurnya, hingga pihak Gereja menyarankan agar dia masuk melalui halaman belakang, dan itu berhasil mengecoh perhatian publik. Apalagi saat Kaito sendiri yang menunjukkan dirinya untuk mengalihkan perhatian.

Pria itu sengaja memberi waktu bagi para wartawan untuk mengerumuninya, melakukan sesi pertanyaan untuk melepas jenuh para pencari berita yang sudah dari tadi menunggu kehadirannya.

"selamat atas pernikahannya Shion-san.." ucap mereka bergantian, diselingi kilat lampu kamera yang menyala – nyala. Kaito hanya tersenyum santai, beberapa pengawal memang sengaja diatur Gakupo untuk menemani disisinya. Dengan pakaian serba putih yang melekat di tubuhnya, Kaito terlihat begitu tampan.

"terimakasih.." ucapnya singkat tanpa mengurangi senyum yang merekah diwajahnya.

"bagaimana anda menghadapi perjodohan ini tuan? Apa masih ada rasa keterpaksaan?" ucap seseorang dari mereka.

"tidak. Karena aku mencintai calon istriku" Kaito menjawab sempurna, namun bagi mereka itu jawaban yang tidak cukup memuaskan.

"tapi, bukankah beberapa hari lalu anda terjebak rumor dengan seorang wanita dikamar hotel?" lagi – lagi, semua pertanyaan itu tentu saja butuh jawaban kan?

"ah, maaf. Tentang itu.. maaf.." Kaito ingin menghindar, tapi runtutuan desakan tetap menahannya.

"tuan, apa karena calon istri anda ini adalah seorang pewaris dan putri tunggal dari seorang menteri, makanya anda meninggalkan kekasih anda demi status?"

Kini senyum diwajah Kaito sudah sepenuhnya memudar, dan Gakupo yang memang sedari tadi mengawasinya pun kini mengambil tindakan. Dia melangkah kearah kerumunan yang sudah mengerumuni Kaito, membuat sesak pikiran pemuda itu sebelum rasa sesaknya berubah menjadi penolakan dan makian.

"oke.. oke.. selesai sampai disini. Beri waktu bagi bintang acara kita untuk menyiapkan dirinya menghadapi rasa gugup untuk menyambut pernikahannya, tuan dan nona" ucap Gakupo langsung menarik Kaito dari hadapannya, dan memberi isyarat bagi kedua pengawal itu untuk mengiringi Kaito masuk kembali ke dalam ruangan.

Bersyukurlah Kaito memiliki manager sesigap Gakupo, dia memang bisa dihandalkan.

-][-

"Kaito-san.." langkah Kaito segera terhenti sesaat saat suara itu terdengar mengisi pendengarannya, dan saat dia berbalik, ada Miku yang sudah berdiri dihadapannya. Gadis itu terlihat manis dengan gaun putih pilihannya.

"Miku-chan., Luka mana?" ucapnya penuh rasa antusias, seakan lupa kesal tadi yang hampir menembus kesabarannya. Melihat Miku yang begitu cantik, rasanya dia juga ingin menjadi saksi atas kecantikan sang calon istri, kakak dari gadis yang sudah berdiri dihadapannya.

"aku datang mencarimu karena permintaan Luka.." ucap Miku dengan senyum, namun beberapa saat kemudian senyumnya terasa memudar.

"..dia ingin bicara padamu" lanjutnya.

"baiklah. Dimana dia sekarang?" Kaito masih tidak begitu paham raut apa yang sedang Miku tampilkan. Sesungguhnya gadis itu teramat sangat khawatir, bagaimana jika Kaito marah pada Luka saat Luka memutuskan untuk mengungkap semuanya?

"di halaman belakang." Ucapnya kemudian terdiam. Kaito langsung mengangguk memandang Miku.

"baiklah, aku akan menemuinya sekarang" ucapnya.

"tapi, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu terlebih dahulu" cegah Miku.

"ada apa? Katakanlah. Kau dan Luka sama pentingnya bagiku" Kaito tersenyum, dan senyuman itu seakan telah mematahkan keyakinan Miku, dia ragu dengan keputusan Luka.

"katakan padaku jika kau benar – benar mencintai kakakku, aku adalah adiknya, dan aku berhak tahu sebesar apa rasa cinta pria yang akan menjadi suaminya" ucap Miku ragu, dan mendapati kalimat itu selesai terucap dari mulut Miku, Kaito hanya tertawa. Diusapnya puncak kepala Miku dan tersenyum.

"dia adalah detakan jantungku, aliran darahku, desahan nafasku. Diadalah langit tempatku berlindung, bumi tempatku berpijak. Dia adalah air, udara dan kenangan. Menurutmu jika aku tak memiliki salah satu dari mereka, aku bisa apa?" Kaito memandang wajah Miku lembut. Ya, jika Luka diibaratkan dengan semua hal yang baru saja terucap dari bibir Kaito, tanpa semua hal itu, Kaito bisa apa?

"kau begitu mencintainya.." ucap Miku lembut. Namun Kaito menggeleng pelan.

"tidak. Aku membutuhkannya" ada senyum yang begitu indah yang bisa Miku lihat dari calon kakak iparnya. Dan barulah Miku yakin, keputusan Luka kali ini adalah keputusan yang paling tepat.

-][-

Segala jenis perasaan seharusnya bisa menyatu karena cinta, dikalahkan oleh rasa kasih sayang yang mendominasi hingga membuat segala hal begitu indah. Kaito sudah memutuskan, Luka lah yang dia butuhkan. Wanita itu mampu meredam egonya, menyatukan segala jenis rasa yang berkecamuk didalam dadanya, dan membungkusnya dengan kasih sayang.

Sosok wanita yang dia butuhkan itu kini sudah berdiri didepan matanya. Kaito melangkah pelan sebelum Luka tahu dia sudah tiba disana, ingin memeluk kekasihnya itu dan mengucapkan aku membutuhkanmu saat itu juga, namun sebelum angannya terpenuhi, Luka seakan tahu sudah ada harum akan kehadiran Kaito yang muncul dibelakangnya. Dan pemuda itu tersenyum memandang wajah kekasihnya.

-][-

Sulit bagi Luka untuk memilih kata, awal yang bagaimana yang harus dimulainya untuk segera mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan pada Kaito siang itu. Yang ada, mereka hanya berdiri berdampingan, menatap sebuah kolam kecil yang tidak ada kehidupan disana. Hanya terdiam, tapi bagi Kaito rasanya seperti itulah yang dia inginkan, asal berada disamping Luka, semuanya akan terasa indah.

"kau gugup Luka?" akhirnya Kaito membuka suara, masih ada sebuah senyum disana.

Gugup? Sejak semalam wanita itu memang merasa gugup, tapi bukan karena pernikahannya, tapi karena kesalahannya.

"..akhirnya kita menikah juga.." Kaito memandang tanpa arah apa yang terbentuk didepan matanya, tanpa memandang Luka, dia ingin membayangkan bagaimana wajah itu dalam hatinya.

"..kau tahu, saat pernikahanmu dengan Toukai dulu.." Kaito memberi jedah, Luka masih diam dan hanya tetap diam.

"sebenarnya aku tak rela.." lanjutnya dan dia tertawa.

"aku sadar, aku sebenarnya sudah mulai mencintaimu saat kau berumur lima belas tahun, mungkin. Dan setelah kita melakukan kesalahan itu bersama, disanalah aku mengerti jika aku tidak akan melepaskanmu. Tapi saat kau putuskan untuk menikah dengan Toukai, ada rasa sakit yang tak pernah bisa kujelaskan menjerat jiwaku" Kaito terbayang airmata yang pernah dia jatuhkan saat Luka dan Toukai mengucap janji mereka dihadapan Tuhan. Terlalu sakit untuk dikenang.

"dan sekarang.." kali ini Kaito berbalik menatap wajah Luka, membuat posisi mereka saling berhadapan. Luka terlihat begitu cantik dengan gaun biru bercampur bumbu – bumbu crystal disetiap permukaannya, seperti wanita dari negeri dongeng, begitu indah dan sangat indah. Kaito memandangi tubuh itu dari bawah keatas, begitu menawan, bagian atas gaun menampilkan leher jenjang Luka hingga menampilakan dua tanda yang menempel disana. Kini wajah penuh senyum itu berubah penuh tanya.

"kau terluka? Lehermu dan dadamu kenapa?" ucap Kaito khawatir, baru saja tangannya ingin menyentuh sesuatu itu, Luka mendahului untuk menyentuhnya lebih dulu. Menutupinya.

"ti-tidak, aku baik – baik saja" ucapnya dengan penuh dusta, baru kali ini Luka berbohong pada pria itu.

"kalau baik – baik saja. Kenapa kau menutupinya dengan plester luka?" Kaito khawatir. Sungguh, dia khawatir. Tapi dia tak pernah memikirkan hal lain dibalik kekhawatirannya. Dibalik alasan kenapa wanita begitu ingin menutupi sesuatu disana.

"aku.. aku hanya tidak hati – hati saat mencoba memakai beberapa kalung malam tadi" Luka menunduk kecewa, sebab dia masih ragu untuk menghadapi Kaito bagaimana.

"kau bohong Luka.." dan ucapan itu membuat Luka tercekat sejenak. Karena dia sadar, dia tidak akan pernah bisa membohongi pria yang sudah hidup begitu lama dengannya.

"katakan saja, ada apa. Kau tidak percaya padaku?" ucap Kaito tersenyum lembut, sungguh, Luka ingin menangis menatap senyum itu. Senyum yang sejak dulu ingin selalu dimilikinya, tak ingin disakitinya, tapi entah kenapa setiap jalan hidup yang sudah Luka tetapkan, selalu membuat senyum itu tetap bertahan.

"Kaito.. aku.." Luka ragu.

"katakan, aku akan mendengarkannya" pemuda itu terlihat begitu tulus.

"aku mencintaimu.." Luka mencoba untuk menguraikan isi hatinya secara perlahan. Dia ingin mengungkapkan semuanya saat ini juga.

"mungkin, sebelum aku bertemu dengan kakakmu.." Kaito tertegun, dia mendengarkan.

"tapi, keegoisanku menutup semua hal yang begitu kuinginkan. Sebelum kita menikah, aku ingin kau mendengar semua hal yang pernah kujalani, agar masalalu yang pernah kakakmu goreskan padaku seperti dulu tak terulang kembali" Luka mengangkat kedua tangannya, saling menggenggamnya erat didepan dadanya, dia butuh kekuatan, mengenang masalalu yang pahit itu tidaklah muda. Dan Kaito juga merasakan hal yang sama.

Kesalahan masalalu yang Luka ungkapkan mungkin memang karena kesalahan mereka berdua, tak pernah jujur pada Toukai tentang hal – hal yang pernah mereka jalani hingga membuat sebuah kesalahpahaman yang fatal dan berakhir pada penyesalan seumur hidup bukanlah keinginan Kaito untuk kehidupan barunya.

"kau benar.." Kaito memahaminya.

Luka mengangkat wajahnya menatap lurus pria itu. Ya, Luka tidak akan berbohong lagi, dia memang begitu mencintainya.

"jika kau tahu, ada banyak pria yang pernah menjalin hubungan denganku sejak dulu, apa kau tidak marah?" ada getaran ditangan Luka. Sakit untuk mengakuinya.

"berapa banyak?" Kaito menyulap senyum diwajahnya.

"Kaito, aku serius.." Luka menahan kesal akibat pertanyaan Kaito.

"berapa banyakpun itu, apa kau pernah mencintai mereka? Yang ingin aku tau, berapa banyak pria yang pernah merebut hatimu, bukan berapa banyak pria yang pernah berhubungan denganmu" Kaito meraih tangan Luka dan menggenggamnya erat, meskipun begitu getaran ditubuh Luka pun mulai hilang secara bertahap.

"mungkin hanya satu yang paling kucintai" sesaat Luka menyelesaikan kalimatnya, sebuah dekapan hangat kini melingkupi tubuhnya. Kaito mendekapnya erat, begitu erat. Disana.

"dan yang satu itu pasti aku.." ucapnya percaya diri.

"Kaito.." Luka mendekap erat tubuh pria itu, tak ingin membiarkannya melepaskan pelukannya.

"Luka, maaf jika aku selalu berada disisimu. Hingga membuatmu begitu mencintaiku" Kaito tertawa, tapi matanya memerah menahan airmata yang membuat hatinya terharu begitu dalam.

"tidak usah kita bicarakan sekarang Luka. Hari ini adalah hari yang paling berbahagia seumur hidupku. Aku tak mau mendengarkan hal aneh untuk saat ini, kita bisa bicara setelah kita menikah, perlahan demi perlahan. Karena saat itulah kita akan belajar bagaimana caranya untuk memahami satu sama lain, walaupun sebenarnya aku sudah memahamimu luar dalam" Kaito tertawa lagi, sebelum dia melepas dekapannya, disempatkannya untuk menghapus setitik airmatanya yang jatuh membasahi pipinya, dia tak mau terlihat lemah didepan Luka.

"aku mencintaimu Kaito..." namun Luka masih terus mendekap pria itu, membenamkan wajahnya dibahu sang lelaki.

"...maafkan aku telah mengabaikanmu begitu lama.." isaknya. Dan Kaito paham, inilah kebahagiaannya. Semua tentang Luka akan sepenuhnya menjadi hal yang paling dicintainya. Dia janji.

"sekarang, ikutlah denganku. Kita akan melangkah bersama, aku akan tetap berada disisimu, menggenggam erat tanganmu dan membuatmu selalu berada disampingku. Aku akan menjagamu, membuatmu merindukanku, mencintaiku lebih dari apa yang kau rasakan saat ini. Tidak akan kubiarkan kau menyesali keputusanmu menjadi seorang istri dari Shion Kaito, seorang bintang" Kaito tertawa, tangannya lembut mengusap pipi Luka.

"semua para istri didunia ini akan merasa iri padamu, kau akan menjadi istri yang paling beruntung. Aku janji, aku akan menjadi pecinta yang gila, apa kau bersedia dicintai oleh ku Luka?" Kaito menaruh harap dari tatapan nya akan wanita itu.

"sejak kapan kau suka bicara seperti ini?" Luka tertawa. Namun airmata nya mengalir karena bahagia.

"aku selalu ingin mengucapkannya padamu sejak dulu. Dan mulai sekarang, sepertinya kau harus mulai terbiasa dengan itu saat menjadi istriku nanti, karena setelah ini kita akan menjadi pasangan suami istri yang tidak tahu malu Luka, kau bersedia?" Kaito tertawa.

"ya, aku bersedia menjadi wanita gila yang tak tahu malu untuk menemanimu" dan saat ucapan itu berakhir, Luka menarik wajah tampan Kaito dan mengecup bibirnya. Hangat, penuh cinta, penuh hasrat, dan begitu indah, sampai tak ingin dilepaskannya.

Menatapi mereka, sesosok yang sudah berdiri sedari tadi menyaksikan pun kini berurai airmata dengan perasaan yang sama bahagianya.

"kau beruntung Luka-nee, dia akan menyerahkan segenggam dunia yang dia miliki untukmu, semua yang dia miliki hanya untukmu"

-][-

Pukul sebelas tepat. Semua orang, para undangan sudah berada diposisi mereka masing – masing, dari antara mereka, Gakupo dan Meiko duduk saling berdampingan, di belakang mereka ada Len yang tampak dengan senyumannya, dia sendirian, mungkin. Di sisi lain, ada Lily yang duduk berdampingan dengan Miku, tapi mereka masih belum saling mengenal. Disisi yang berbeda, ayah dan ibu Kaito, ayah Luka, terlihat juga para suster yang sempat bekerja sama dengan Luka, dari tatapan mereka sepertinya mereka sedang menatapi Len yang duduk seorang diri saja.

Lalu, ada Ted yang duduk berdampingan dengan Yukari, kini Oliver tak terlihat mengekor disisinya, karena tahu - tahu pria itu sudah duduk tepat di belakang Miku. Juga ada beberapa orang dari pihak panti asuhan tempat dimana Luka dan Kaito dibesarkan dulu, rindu rasanya melihat wajah – wajah pengasuh yang telah membesarkan dua orang anak yang kini menjadi orang – orang terhebat. Dan dari semua yang hadir, hanya satu yang sepertinya tak tampak disana, Yuuma.

Semua pelayan Gereja bergerak sesuai kebiasaan mereka, berdiri disisi pintu masuk Gereja dan mempesilahkan kedua pengantin memasuki ruang suci itu bersamaan.

Kita akan berjalan bersama.

Belum apa – apa Kaito sudah membuktikan ucapannya, dia sendiri yang meminta mengiringi Luka sebagai pengantinnya. Tidak ingin orang lain.

Musik pengiring di kumandangkan, semua undangan bangkit secara bersamaan, dan para wartawan tidak mau menyia – nyiakan moment terbaik ini dalam karier mereka.

Langkah pertama, pandangan mata Luka menangkap sosok Miku yang sudah berdiri di ujung sana, gadis itu hanya tersenyum, tapi airmatanya menetes. Di sebelahnya Lily melambai girang, senyumnya mengembang, bahkan suaranya memanggil – manggil Luka tanpa malu, Luka hanya tertawa.

Dilangkah berikutnya, Kaito memandang jelas kearah kedua orang tuanya, walau sebenarnya Kaito tak terlalu suka pada kedua orang itu, tapi dia tetap menampilkan senyumnya, lalu beralih pada ayah Luka, orang keras kepala yang paling dibenci sekaligus paling baik padanya, mungkin karena dia memberikan putri satu – satunya pada Kaito.

Dilangkah lainnya, Luka melihat Len dan Meiko disana, ada Gakupo juga. Awalnya ragu bagi Luka untuk tersenyum, namun pemuda itu lebih dulu melunturkan keraguannya. Len berdiri anggun, dengan tangan kanan terlambai elit, dan tangan satunya disimpannya dalam saku, senyumnya juga terlihat begitu bahagia, dan gerakan mulutnya yang terlihat lambat, seakan ingin mengucapkan kau cantik untuk Luka, dan Luka tersenyum membalasnya.

Tiba dilangkah terakhir, sepasang insan itu kini menunduk dihadapan pendeta. Dengan beberapa nyanyian rohani dan beberapa doa hingga kini saatnya pemberkatan sumpah janji.

"berdirilah.." ucap sang pendeta sebelum memberikan berkatnya. Luka dan Kaito berdiri.

"apa-apaan plester yang ada dilehernya itu?" Lily tak mampu menahan rasa penasarannya, dia berbisik sendiri dalam tanyanya, namun Miku mendengarnya. Miku memandang jauh kearah Luka, awalnya plester itu memang ada dua, namun yang satunya sudah dia lepaskan, dan meninggalkan satu tanda merah yang sebenarnya kini tak lagi terlalu mencolok, dan satu plester lagi masih menempel disana, diatas dadanya, dan Luka berusaha menutupinya dengan beberapa ornamen digaunnya. Sebenarnya tak lagi terlihat mencolok, tapi entah kenapa Lily bisa melampaui pandangan orang lain.

"kau mengenalnya? Tadi aku lihat dia melambai padamu" Lily menaruh perhatiannya pada Miku yang sedari tadi hanya terlihat tenang.

"aku adiknya.." ucapnya tersenyum, dan Lily kini terdiam sambil menutup bibirnya rapat – rapat.

Fokus pada kedua pengantin, kini pendeta menyuruh mereka berdua untuk saling menatap satu sama lain. Memberi kesempatan bagi mereka untuk saling memperhatikan wajah yang mereka pandang, dan suasana cukup hening sejenak.

"perhatikan wajah pasanganmu, tanyakan pada dirimu sendiri, dalam hati dan batin, apa benar kau mencintainya?" sang pendeta memberi intruksi sederhana untuk bagaimana cara memahami perasaan mereka masing – masing.

"apa kau yakin, wajah ini yang kau inginkan untuk kau nikmati setiap saat, mulai detik ini sampai ajal menjemput mu"

Kaito tersenyum, dan Luka tahu batinnya tengah terharu bahagia.

"baiklah, sekarang lihat kearahku" kini sang pendeta memulai tugasnya. Ditatapnya wajah Kaito lembut, ada senyum disana-diwajah sang pendeta, senyum yang penuh kasih, siapa saja pun akan merasa lega jika melihat senyum tulus itu.

"aku tanya padamu, bisakah kau berjanji untuk mencintai Megurine Luka, seorang waanita yang Tuhan pilihkan untuk menjadi teman hidupmu, dalam suka maupun duka, sakit dan sehat, jauh dan dekat, miskin dan kaya, dalam kesusahan dan kebahagiaan, setiap detik, setiap menit, dalam hitungan jam, hari, minggu, bulan maupun tahun, kau akan tetap mencintainya?"

"aku berjanji akan tetap mencintainya, membutuhkannya, menjadikannya terang dalam gelap, dan garam dalam hidupku juga nafas untuk diriku"

Bahagia, Miku menghapus sebulir airmata yang kini tengah mengaliri pipinya. Dia bahagia.

Mengakhiri dengan senyuman, kini sang pendeta memandang paras cantik Megurine Luka dihadapannya.

"apa kau mencintainya?" ucapnya lembut.

"ya.. aku mencintainya bapa.." Luka menjawab mantap.

"jika begitu, berjanjilah untuk tetap menjadi terang dalam gelapnya, garam dalam hidupnya dan nafas bagi dirinya seperti apa yang dia inginkan darimu. Tetaplah kalian saling menjaga, karena kalian telah disatukan untuk saling melengkapi didalam rindu dan juga duka. Berjanjilah"

"aku berjanji, Aku akan mencintainya, selama – lamanya"

Sang pendeta tersenyum. Sambil memberi perintah bagi sang pengantin untuk berlutut.

"sekarang. Kalian telah menjadi satu. Jiwa dan raga kalian telah disatukan didalam cinta, melalui campur tangan Tuhan yang mempertemukan kalian melalui takdir. Bersukacitalah karena Tuhan yang menjadi perancang dalam hidupmu. Sebab apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak dapat dipisahkan oleh manusia, kecuali maut. Janji yang kalian ucapkan, juga adalah janji yang Tuhan dengarkan. Dan percayalah Tuhan akan menjaga apa yang telah Dia rencanakan" ucap sang pendeta sambil menyentuh puncak kepala Kaito dan Luka bersamaan dengan kedua tangannya. Berkat yang indah telah mereka terima, dan sekarang mereka telah resmi disatukan didalam nama Tuhan.

"berdirilah.." sang pendeta mengangkat kedua tangannya, dan memberi perintah untuk kembali berdiri menghadapnya. Lalu mengambil sepasang cincin yang telah dia simpan, kemudian mendoakannya, lalu mengarahkannya kepada Kaito.

"sematkan tanda pengikat ini dijari wanita yang berada dihadapanmu, sebut namanya, dan katakan betapa kau mencintainya" ucap sang pendeta tersenyum hangat.

Kaito meraih sebuah cincin dari sarangnya, lalu meraih tangan kiri Luka dengan lembut sambil tertawa begitu bahagia. Dia tidak pernah tahu, mungkin ini adalah rasa paling membahagiakan yang pernah dia alami dalam hidupnya.

"Luka, dengan ini aku berharap-tidak.. aku meminta kepadamu, biarkan aku tetap mencintaimu" Luka tertawa memandang wajah Kaito, kebahagiaan yang dia rasakan kini seperti teramat sangat berbeda dengan pernikahan pertamanya dulu. Pernikahannya kali ini terasa begitu menyenangkan, mungkin karena Kaito lah yang berada dihadapannya sekarang.

Luka meraih satu – satunya cincin yang tersisa ditangan sang pendeta, dan mearih tangan kiri Kaito lembut serta menyematkannya.

"Kaito, cincin ini anggaplah sebagai diriku. Sebaliknya pun dengan cincin pemberianmu, telah kuanggap sebagai dirimu, dan aku akan menjaga apa yang telah Tuhan berikan padaku"

Riuh suara para undangan menggelegar dengan tepuk tangan. Mereka telah disahkan dihadapan Tuhan maupun para saksi. Para media pun terlihat tidak begitu ingin menyia-nyiakan moment istimewa yang tersaji gratis didepan matanya.

"sekarang, mungkin mereka ingin melihat pembuktian cinta kalian. Pengantin pria boleh mencium pengantin wanita sebagai tanda kasih sayangnya" ucap sang pendeta ramah.

"cium... cium... cium..." semua orang mulai bersorak, dengan tepukan tangan. Luka merasa tersipuh, wajahnya memerah menahan malu.

"ayooo Lukaaa! Cium Kaito sekarang!" ucap Lily paling berisik, mendengar itu mereka tertawa.

"Kaito.. cepat lakukan.." Gakupo tidak sabaran.

"Lukaa.. kau saja yang bertindak duluan.." Luka mengenal pemilik suara itu, diujung sana dia sudah meihat Len tertawa memandangnya. "..selamat bahagiaaa" lanjut pemuda itu dengan senyum.

Walau masih terlalu ragu, akhirnya Kaito menarik tubuh Luka, mendekapnya lembut serta menderatkan sebuah kecupan sayang dikeningnya. Melihat itu semua orang bersorak kecewa. Sebab yang mereka inginkan, sebuah kecupan yang lebih panas dari yang mereka lihat.

"huuuuuuhhhh..." semuanya serentak bersuara, dan Lily yang paling antusias.

"akan kujadikan kau satu – satunya milikku" ucap Kaito memandang Luka bahagia, sambil berbisik dan berharap.

-][-

Malam ini, semua orang merasa dipuaskan. Para undangan terlihat begitu bersuka cita. Semua orang turut bahagia atas status hubungan pernikahan antara kedua orang pewaris itu. Tapi alih – alih mengumpulkan informasi dari Luka, para pencari berita selalu dicegah oleh Gakupo dan orang – orangnya. Atas perintah Kaito, pemuda biru itu tidak mau istri tercintanya diusik oleh pertanyaan – pertanyaan dari kumpulan wartawan itu.

Selesai menemani para tamu undangan, Luka memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak, duduk disebuah meja yang cukup tersudut dari pandangan mata orang – orang. Sejenak berpikir, dia menyulap sebuah senyum di wajah cantiknya. Pakaiannya sudah bertukar dengan gaun malam yang lebih santai dari acara pemberkatannya tadi, warnanya tetap warna biru sewarna rambut Kaito, mungkin kini Luka menyadari, birunya Kaito lah yang membawanya kepada kecintaannya pada biru – biru lainnya. Dia tersenyum membayangkannya.

"selamat malam nyonya Shion" suara itu membuat Luka langsung memandang kearah Len yang kini sudah duduk dihadapanya, tanpa rasa canggung senyumnya pun mengembang.

"Len, selamat malam.." Luka membalas dengan senyuman.

"kau cantik Luka, juga sepertinya terlihat begitu bahagia.." Len menarik tubuhnya untuk bangkit dan meraih wajah kepala Luka cepat. Wanita itu tak begitu sigap menghadapi tingkah pemuda tampan itu yang tahu – tahu sudah mendaratkan sebuah kecupan dikeningnya.

"Len.."

Len tidak begitu peduli bagaimana ekspresi wanita itu, dia hanya tersenyum dan kembali duduk sambil memandang wajah Luka yang menahan kebingungan.

"aku merindukanmu, jadi jangan bantah tindakanku" senyumnya menguasai pandangan.

Dan wanita itu menyambutnya dengan sebuah senyuman lain yang datang darinya.

"kau merindukan orang yang salah.." Luka membalas tatapan intim Len padanya. Sengaja dengan tatapan yang menggoda.

"rasa rinduku tak pernah salah..." dan sedetik kemudian mereka berdua tertawa bersama.

-][-

Satu persatu para undangan bergerak meninggalkan tempat acara. Gadis itu menghela nafasnya lega, seraya melepaskan rasa penat, lelah dan canggung yang sedari tadi membebaninya. Menghadapi kehadiran khayalak ramai membuat energinya terkuras cukup cepat. Dan memilih untuk ikut mengistirahatkan tubuh, Miku memilih untuk duduk dibawah langit malam dengan selimutan bintang di halaman gedung, menyerupai taman dengan nuansa nyaman yang begitu dia dambakan. Miku melepas semua rasa lelahnya.

Membayangkan sang kakak yang mungkin malam ini tak akan lagi berada disisinya, sebenarnya Miku tidak rela, tapi apa boleh buat. Ini demi kebahagiaan sang kakak, dan doa terbesarnya adalah, jangan sampai kejadian masalalu Luka merusak semua kebahagiaan dimasa depannya. Dan saat mengingat masalalu, pikirannya Miku hanya tertuju pada kejadian di apertemen Yuuma malam kemarin. Dia khawatir.

"gadis cantik sedang mengasingkan diri dari kumpulan pemuda tampan itu terasa menyedihkan loh" Miku menoleh cepat keasal suara yang mengusik ketenangannya. Dan pemuda si pemilik suara itu hanya tersenyum dan tanpa perintah sudah membaurkan dirinya untuk duduk disampaing Miku yang masih menatapnya aneh.

"ada banyak pemuda tampan single disana, apa seorang gadis seperti mu tak mau menyusul kebahagiaan sang kakak untuk segera naik kepelaminan juga?" Oliver tersenyum disana. dan Miku hanya menatapnya dengan senyum lembut yang terasa sulit dia tampilkan.

"atau jangan – jangan kau sudah punya kekasih dan memilih untuk setia sambil memikirkan wajahnya ditempat sepi, meditasi?" Oliver menatap kembali wajah gadis itu. dan Miku yang sedari tadi hanya memasang tampang bingung tak mengertinya, kini tertawa sambil menutup mulutnya. Dia cukup terhibur dengan kehadiran Oliver, walau awalnya dia memang merasa kenyamanannya terganggu.

"memikirkan wajah siapa? Aku tak punya pacar ataupun selingkuhan" gadis itu melayangkan pandangnya kegelapnya langit. Mungkin karena sudah begitu lama dia tak pernah berbicara sedekat ini dengan seorang pemuda, sekarang Miku merasa begitu nyaman disisi Oliver.

"jika tidak punya, bagaimana kalau memikirkan tentang ku saja"

Pemuda itu tertawa.

Jujur saja, Oliver memang sudah tertarik dengan gadis disampingnya itu sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi dia ragu tentang ketersediaan Miku, karena dia sama sekali belum paham apapun dari Miku. Gadis yang membuatnya tertarik.

"tak usah dipikirkan, kau sudah ada didepan mataku" Miku tersenyum.

Dan mereka berdua terdiam.

Oliver sadar jika kepribadiannya akan menjadi lemah didekat wanita yang dicintainya. Dan dengan kejadian yang seperti itulah, Oliver harus rela kehilangan kesempatannya dalam menyatakan cinta pada gadis yang diminatinya. Tapi untuk Miku, Oliver merasa dia memiliki kesempatan cukup besar, Miku baik, juga pun begitu terlihat begitu pengertian. Apa Oliver siap untuk menerima kenyataan tentang bagaimana tanggapan Miku jika dia mengungkapkan perasaannya saat ini? Atau apa mungkin ini terlalu cepat? Tapi baik pemikiran Oliver sendiri, dia juga bukannya ingin langsung memikirkan untuk memiliki Miku sepenuhnya, Oliver hanya tidak mau kesempatannya untuk menyampaikan perasaan pada gadis itu menghilang dengan kehadiran pria lain yang lebih berani mengutarakan perasaan mereka.

"Miku-chan, apa aku bisa bicara sesuatu yang serius padamu?" Oliver mengambil keputusan sepihak, beranggapan Miku mungkin tidak terlalu ingin bicara berlama – lama dengannya dan menolak ajakan darinya. Pandangan Oliver malah menangkap sebuah senyuman diwajah Miku, dia ingin mendengarkannya.

"katakan saja, seserius apa orang sepertimu jika sudah berbicara" Miku tertawa lembut dan Oliver bisa merasakan, akibat senyuman itu, suhu tubuhnya meningkat dan jantungnya berdetak lebih cepat.

"a-aku takut kau marah" Oliver manarik wajahnya mengalihkan pandangan Miku agar tak melihat semerah apa wajahnya kini.

"-aku menyukaimu?- kau mau bilang itu kan?" Miku memandang Oliver dengan senyum termanisnya. Ada ronah merah disana, sifat gugup Oliver tertangkap begitu nyata, benar sedari tadi dipikirkan Miku, pria ini pasti menaruh perhatian padanya. Dan sebagai seorang gadis yang juga sering mendapat perlakuan sama dari pria – pria terdahulunya, Miku bisa langsung mengerti bahasa tubuh Oliver untuknya, tak cukup susah untuk menebak. Dan memikirkan tebakannya benar, Miku hanya tersenyum dihadapan Oliver.

"aku suka gerakan cepatmu untuk langsung berniat menyatakannya padaku" Miku menepuk bahu pemuda itu ringan. Ada sentuhan penuh arti yang mampu dimaknai Oliver disana. dan seperti mendapat kekuatan, Oliver pun memandang wajah gadis itu dengan mantap.

"ya, aku menyukaimu" wajahnya berubah serius menatap langsung kedalam mata Miku, menelusuri kemauan gadis itu, namun tak bisa Oliver pastikan satu hal pun yang bisa dia simpulkan dalam hatinya. Keinginan Miku susah untuk dia tebak.

"kenapa kau menyukaiku?" Miku menyandarkan punggungnya kesandaran kursi yang dia duduki, menimang keistimewaan apa yang Oliver suka dari dirinya yang terlihat begitu membosankan.

"mungkin karena sudah kita sudah ditakdirkan untuk saling membutuhkan"

Miku tertawa, tak bisa dia sembunyikan lagi bagaimana kalimat itu bisa menggeletiknya. Dan melihat tawa itu, Oliver menunduk malu dan mulai kehilangan kepercayaan dirinya.

"bicara takdir pada orang yang baru kau kenal itu tidak baik Oliver-kun" Miku mengusap setitik basah yang entah kenapa kini hadir diujung matanya, itu akibat tawa yang Oliver hadirkan untuknya. ".. kau lucu.. tapi mungkin,...aku suka" Miku menghentikan tawanya perlahan, Oliver menatapnya tak percaya.

"kau bilang apa?" ucapnya ingin mendengar lebih jelas.

"aku suka" Miku bangkit dari tempat duduknya. Membuang semua sisa gelitik yang sedari tadi membuatnya sanggup tertawa.

"aku suka pria lucu, dan menurutku tidak apa jika kau berniat mencoba menjalin hubungan denganku, tapi kau harus tahu, aku itu cukup sulit untuk dimengerti-"

Miku merasa ada sesuatu yang menarik tangannya, dan sebelum Miku mengerti apa yang baru saja terjadi, dia sudah mendapati ada sesosok wajah tampan yang kini mendekat dan mengecup bibirnya, hangat.

"jadi kita pacaran?" Oliver melepas kecupannya dan menatap Miku yang kini meronah karena tindakannya. Miku berdiri gugup, dia merasa malu dan juga.. bahagia. Entahlah.

"aku janji kan sebuah pelaminan untukmu dimasa depan, itu tawaranku" dan sebelum Miku mampu menimbang pernyataan Oliver sekali lagi dalam pemikiran jernihnya. Lagi – lagi dia mendapati pemuda itu mengecup bibirnya, mendekapnya lembut dan membuatnya membalas perlakuan hangat itu perlahan – lahan. Miku sadar, mungkin dia juga rindu dicintai oleh seorang pria dalam kesendiriannya. Terakhir kali pria itu adalah Len.

-][-

Malam pertama, itu yang sedari tadi Kaito pikirkan sejak dia dan Luka memasuki aperteman miliknya, tempat kecil yang mungkin baru bisa dihadiahkannya pada Luka sebagai tempat mereka tinggal. Walau sebelumnya orang tua Kaito memaksa anaknya itu untuk menerima hadiah pernikahan sebuah rumah cukup elit dikawasan yang elit pula, tapi Kaito menolak mentah – mentah. Dia tidak mau membahagiakan Luka menggunakan harta orang tuanya. Dan Luka mendukung keputusan Kaito suaminya. Tak apa tinggal diapertemen kecil, tapi bagi Luka, asal Kaito tetap memiliki harga diri untuk berniat membahagiakannya, itu sudah lebih dari cukup.

Luka rindu kehadirannya didalam apertemen kecil itu, dulu dia pernah tinggal disana, bersama Kaito. Menangis bersama, menyesal bersama, tertawa bersama, makan bersama, bahkan tidur bersama dengan pria yang kini sudah menjadi suaminya. Langkah kaki Luka terhenti didepan pintu kamar yang dia rindukan. Ranjang itu, adalah tempat dia dan Kaito dulu sering bercerita, kadang Luka suka menangis disana, dan Kaito dengan lembut mendekapnya, mendengar semua keluhan yang dia curahkan. Kadang juga, Luka sering memandangi Kaito dalam tidur, wajah pria itu selalu menampilkan kesan menarik saat tertidur. Dan diatas ranjang itu mereka pernah bercumbu berkali – kali, walau pada akhirnya Luka hanya akan menyesali apa yang sudah dia lakukan dengan pria yang dulu berstatus sebagai adik iparnya. Disana, pasti akan selalu tercium aroma tubuhnya dan Kaito, itu membangkitkan kenangannya.

"apa kau bisa membayangkan bagaimana dulu kita melakukannya disana?" Kaito datang, mendekap Luka dari belakang dan menempelkan pipinya dipipi Luka. Manis sekali. Matanya mengarah pada ranjang tempat dimana dia melepaskan kelelahannya, bayangan tentang mereka berdua saling menjamahpun segera tercetak jelas didepan mata mereka. Luka tertawa.

"aku selalu ingat apapun tentangmu walau itu selalu menjadi masalaluku" tangan Luka mendekap kedua tangan Kaito yang terpaut dipinggangnya.

"dan sekarang kau harus bersiap mengingat semua masadepan yang akan kau hadapi denganku" Kaito memandang Luka manis disana, membalikkan tubuh sang istri dan mengecup bibirnya lembut. Luka membalas, bisa dia rasakan lidah Kaito bermain meraih lidahnya, mengaitkannya dengan kesan sensual yang mampu membangkitkan gairahnya. Luka melemah, rasa cinta yang meluap untuk Kaito mengalahkan pertahanannya. Luka terbakar walau Kaito hanya mengecupnya disana.

Rasa lelah, penat yang sedari tadi membebani mereka kini tak lagi terasa. Kaito perlahan namun pasti sudah membawa langkah Luka mendekati tepi ranjangnya. Dan dengan hitungan detik, dia sudah pastikan Luka telah berbaring didepannya, dibawahnya. Nafasnya terengah saat bibirnya melepaskan kecupannya. Luka tak rela.

"kita lanjutkan besok saja ya, kau terlihat lelah malam ini" Kaito memandang mata Luka intim, lalu bangkit seraya ingin menyudahi apa yang baru saja mereka mulai. Namun mana Luka tega melepaskan suaminya itu dari pelukannya. Dia menarik Kaito lagi untuk menindihnya, dan memasang tampang cemberut disana.

"kau mau mengerjaiku?" ucapnya manja, tatapannya seakan ingin melahap Kaito didepannya. Dan suaminya tertawa, dia sengaja mengerjai Luka, dan itu membuat Luka berhasil meminta padanya.

"oh, kau punya tenaga untuk menerima cintaku malam ini?" ucap Kaito mencubit ujung hidung Luka manis, seakan ingin menumpahkan semua rasa cintanya untuk Luka malam ini. Tapi dia sadar mungkin Luka sudah cukup lelah menghadapi semua kesibukan tentang pernikahan mereka hari ini. Dan dia hanya ingin Luka beristirahat, masih banyak hari – hari panjang yang menunggu mereka dikemudian hari kan? Sejak hari ini dan kedepannya semua waktu adalah milik mereka.

Luka terdiam. Bukan karena ucapan Kaito yang baru dicernanya. Tapi Luka mengingat kejadian malam kemarin bersama Yuuma didalam otaknya. Memikirkan pemuda itu lebih dulu membenihinya, apa untuk sekarang dia sanggup membiarkan Kaito menidurinya?

Melihat ekspresi Luka yang seakan berubah secepat itu, Kaito mendekati Luka kembali dalam dekapannya.

"hei, ada apa?' Kaito mengusap lembut kulit wajah Luka disana. Luka membalas lemah dengan senyuman palsunya. Perasaannya menjadi sangat khawatir, namun dia tidak ingin Kaito tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Kaito tidak boleh tahu. Luka takut, Luka masih belum ingin sesuatu merusak indahnya hubungannya dengan Kaito, tidak untuk saat ini, Luka masih belum siap.

"ada apa Luka? kau marah padaku?" Kaito mengecup lembut pipi Luka, dan Luka memaksa dirinya untuk tidak memikirkan apa yang baru saja memberati pikirannya. Tidak saat didepan Kaito, karena Luka sadar dia tidak akan bisa mengelabuhi suaminya itu.

"ti-tidak. Tapi mungkin kau benar. Aku sedang lelah malam ini" Luka meraih wajah Kaito dan dielusnya manja. Wajah pria inilah yang harus menjadi serupa dengan paras anak yang akan dilahirkannya kelak. Tapi Luka takut, tidak ada yang tahu seberapa takut perasaan Luka saat ini. Dia takut jika memikirkan, apa Yuuma akan berhasil membuatnya mengandung benihnya?

"jangan ngambek sayang, aku tadi hanya bercanda kok. Aku hanya ingin kau yang memintaku melakukannya" Kaito tersenyum bangkit dari tidurnya, membuka piyama tidurnya perlahan, lalu menampilkan tubuh kekarnya disana. Luka bisa lihat tubuh itu lebih berisi dari milik suaminya, juga milik Yuuma. Luka langsung menggeleng cepat dalam batinnya saat dia tanpa sengaja membandingnya tubuh milik Kaito dengan milik pria yang kini tengah menghantui pikirannya. Ayolah Luka, jangan pikirkan Yuuma malam ini, atau Kaito akan membaca pikiranmu.

Kaito menindih Luka dalam dekapannya sekali lagi, mengulang hal manis yang ingin dia lakukan dimalam pertamanya dengan Luka. Walau rasanya Luka ingin menolak, tapi dia takut Kaito mencurigai ketidaktersediannya yang sebenarnya tiba – tiba datang saat bayangan Yuuma menghantuinya.

Kaito selalu membayangkan dirinya memiliki kesempatan untuk memonopoli tubuh Luka saat mereka bercinta dulu. Karena dia sadar sejak dulu istrinya itu tidak akan pernah mau mengijinkannya untuk bergerak semaunya. Kaito selalu ingin membuat Luka mendesah lebih panjang, dan yang paling ingin dilakukan Kaito adalah, merebut kembali kepercayaan Luka akan seseorang yang berhak memberikannya kepuasan. Tanpa Kaito sadar, sudah ada pria yang mendahului keyakinannya tentang Luka.

Kaito mengecup leher istrinya perlahan, Luka pasrah. Bibirnya mendesah, dia hanya harus berpura – pura bahwa dia menikmatinya. Turun menelusuri dada Luka, tangan Kaito bergerak untuk melepas pakaian yang sedang istrinya itu kenakan. Perlahan, dan pakaian Luka pun terlepas, hanya menampilkan siluet indah karya Tuhan yang tergambar dari lekukan tubuhnya.

"kali ini saja Luka..." Kaito menatap wajah Luka penuh penghayatan, begitu penuh kasih sayang dan perlindungan. "..biarkan aku yang memilikimu malam ini" ucapnya. Dan Luka tahu makna dari permintaan suaminya itu. Kaito ingin Luka hanya diam menerima setiap tindakan pria itu atas dirinya. Hanya diam, dan Kaito janji akan memuaskannya. Luka tersenyum dan menunduk penuh respon. Menanggapi respon yang diinginkannya dari Luka, Kaito pun tersenyum penuh semangat. Dia sudah dari dulu ingin memanjakan Luka dengan permainannya. Dan sekarang Luka mengijinkannya.

-][-

Miku mengerang penuh desahan. Oliver menjajah tubuhnya. Memberikan kenikmatan yang gadis itu rindukan. Hingga gadis itu hanya memejamkan mata menikmatinya. Pria itu sedang mencumbuinya dengan kecupan, menguasai tubuhnya, membuat peluh membanjiri tubuhnya. Miku terhanyut, sudah berapa lama dia tidak disentuh, dan kini Oliver yang baru beberapa jam lalu menjadi pacarnya bermaksud untuk memuaskan hasratnya. Miku bahagia. Di balasnya kecupan Oliver dibibirnya, dibiarkannya tangan pemuda itu bermain – main diseluruh tubuhnya, meremasnya, mendekapnya, terserah. Miku menikmati setiap sentuhan yang selalu pria hadirkan untuk kehidupan percintaannya. Miku selalu suka kepuasan yang akan dia dapatkan. Sejak dulu, dia memang suka mengoleksi kehangatan pria dalam hidupnya. Secara tak sengaja Miku sadar, dia memang membutuhkannya.

-][-

Kaito meremas payudara Luka penuh kelembutan, mendapat respon penuh sensual dari sang istri melalui desahan menggoda yang lolos dari bibirnya, Kaito melanjutkan perbuatan mesumnya untuk menjalari perut datar Luka dengan kecupan bibirnya. Dan saat Luka sedang sibuk mendesahkan kenikmatan yang dia rasakan, Kaito terhenti sejenak. Fokusnya tertuju pada perut Luka, tempat dimana kelak benihnya akan tumbuh, dan saat ini Kaito sedang berjuang menanamkan benihnya disana.

Dulu sempat Kaito berpikir, apa yang terjadi pada pernikahan Toukai dan Luka dulu, kenapa mereka tak memiliki anak walau kenyataannya mereka sudah menjalin hubungan suami istri selama lima bulan sebelum Toukai mengalami kecelakaan dan meninggal. Tapi, dari pada menanyakan itu pada Luka, Kaito hanya memendam keingintahuannya dalam hati. Namun sekarang, rasanya dia ingin mendapatkan kesempatan itu, kesempatan untuk memiliki seorang anak dari Luka.

"Luka, aku tak bisa membayangkan perutmu akan membengkak saat kau mengandung anak kita nanti" Kaito tertawa polos diwajahnya. Diusapnya lembut permukaan perut Luka penuh aura kebapakan, seakan dia sadar ada benih yang akan tumbuh disana, dan itu harus benihnya.

Luka meringis menahan perih dihatinya.

"kau tidak keberatankan kehilangan bentuk tubuh indahmu? Tapi kau tidak usah khawatir, dimataku kau tetap yang tercantik" Kaito mendekap Luka erat dan mendaratkan kecupannya didada Luka, menelusuri payudaranya dan mengulum bagian sensitif istrinya disana. Kaito tak pernah memandang dengan jelas ada beberapa memar tanda pria lain disana, dia mengabaikannya.

Mendapatkan kalimat seperti itu dari Kaito, rasanya Luka ingin menangis. Memikirkan Yuuma saja kepalanya sudah sakit, apalagi ucapan Kaito yang bergitu penuh impian untuk dirinya. Nafasnya terasa sesak tanpa sebab. Tak ingin memikirkan kemungkinan lain yang dia tidak tahu pasti, apa yang akan terjadi kedepannya. Luka bangkit meraih Tubuh Kaito, mendekapnya penuh hasrat dan gejolak. Dia ingin Kaito segera menyentuhnya, memuaskannya agar dia bisa melupakan semua kejadian akan Yuuma dipikirannya. Memastikan dengan jelas agar Kaito segera membenihinya. Membersihkan semua bekas pria lain yang masih melekat dalam tubuhnya.

"puaskan aku Kaito.." Luka berbisik menahan malu, tapi dia tidak ingin membuang – buang waktu. "sirami rahimku dengan cairan milikmu, aku menginginkanmu.. kau tahu kan? Kakakmu sudah lama meninggal, dan aku tak pernah terjamah setelah kejadian itu sampai sekarang" Luka berdusta, kemarin malam dia dijamah oleh pria lain, walau Luka tak juga terpuaskan. Tapi bukan itu masalah yang sedang dia pikirkan sekarang.

"Lukaa.." Kaito menarik wajah istrinya dan memandangnya iba. Dia tahu itu.

"aku sudah menunggu hari ini, hari dimana rasa hausku akan terpenuhi oleh suamiku sendiri, aku menginginkanmu Kaito, aku ingin kau memasukiku, memberiku kenikmatan dan membiarkan aku menjadi istri yang paling bahagia sesuai janji yang kau tawarkan" Luka merabai wajah Kaito, pipinya, hidungnya, alisnya dan bibirnya. Lalu perlahan mengecupnya lembut disana.

"sesuai keinginanmu, tuan putri" Kaito tersenyum merebahkan tubuh Luka, lalu mulai mencumbui wanita itu lagi dan lagi, disetiap sisi, sampai meninggalkan bekas merah tanda kepemilikannya dimana – mana, bercampur dengan milik Yuuma yang terdahulu. Kaito menarik tubuhnya memandang bagian kewanitaan Luka yang sejak tadi memang sudah tak tertutupi, disana dia bisa pastikan jika Luka tidak akan menolak untuk membiarkannya menyentuh seperti yang dulu – dulu, karena sekarang Luka lah yang memohon padanya, dan membayangkan itu Kaito benar – benar bahagia. Kaito meraih jemari Luka yang sudah meraih jemarinya. Wajahnya dicondongkannya kedepan, menyentuh milik Luka dan mengecup bagian intim itu dengan lembut dan perhatian. Luka mendesis saat dia merasakan bibir Kaito sudah menempel di kewanitaannya. Kaito mengeluarkan lidahnya membasahi daerah itu, sedangkan Luka berusaha mati – matian untuk menikmatinya, walau bayangan menjijikan tentang Yuuma itu masih selalu ada. Ada sebuah hantaman yang saling mendorong dalam batinnya.

Melepaskan tautan jari diantara mereka, Kaito menarik tubuh bagian bawah Luka untuk segera dimilikinya, siap memasukkan miliknya ke lubang kenikmatan sang istri, Kaito pun memasang intruski untuk Luka. Dan dengan tatapan penuh pengertian diantara mereka, Kaito pun bergerak memasukkan miliknya. Luka memejamkan matanya.

"ahhh... Kaitooo..." desahan Luka membuat Kaito merasa bahagia. Setelah dipastikannya miliknya telah terbenam ditubuh Luka sepenuhnya. Kaito pun menindih tubuh Luka dan memeluknya. Membiarkan benda mliknya mengadaptasi ruang baru yang pernah dimasukinya dulu, saat Luka berusia remaja.

"Luka, akhirnya kau menjadi milikku kembali" Kaito mengecup bibir Luka penuh cinta.

"aku..aku bahagia Luka, aku sangat bahagia.. kau mengijinkanku untuk memasukimu, itu sebuah kebahagiaan yang teramat sangat menyentuhku" tanpa Kaito sadar ada setitik airmata yang tampak tergenang di pelupuk matanya. Luka bisa menyaksikannya. Tergerak oleh rasa iba, Luka membiarkan tangannya meraih mata yang basah itu. Rasanya dia juga ingin menangis karena sebuah kebohongan yang dia pendam dari Kaito. Dia membohongi Kaito dengan kesalahan yang tak akan mungkin terampuni.

"kenapa jadi kau menangis sayang?" Luka mengelus lembut pipi Kaito. Terharu.

"karena aku sangat mencintaimu Luka, sangat.." ucap Kaito menahan rasa harunya.

"kalau begitu, lanjutkanlah. Biarkan aku menjadi milikmu seutuhnya" Luka memeluk tubuh Kaito didalam tubuhnya. Kulit mereka menempel, Kaito bisa rasakan payudara Luka yang lembut terganjal didadanya. Dalam posisi itu, dia menggerakkan tubuhnya untuk memompa miliknya kedalam tubuh istrinya. Luka mendesah nikmat.

"ahhh.. hmmm..." masih bisa dia rasakan sakit diantara selangkangannya, Luka masih belum terbiasa dimasuki.

"a-aku akan buktikan pada Toukai.. ahhh,, ahh.." Kaito terus memompa. Luka merasakan kenikmatan itu mulai menjarah tubuhnya. Berbeda dari permainan yang Yuuma berikan kemarin, walau pada akhirnya Luka mengakui dia juga menikmati permainan Yuuma malam itu.

"..jika aku lebih bisa membahagiakan istrinya.." Kaito tersenyum, dikecupnya lagi bibir Luka dan mereka membakar gairah mereka disana, tanpa mengurangi kecepatan pompa dibagian bawahnya.

Luka bukan wanita yang cepat mencapai klimaks kenikmatan saat sedang bercumbu. Dia susah mencapai kepuasan, untuk itu Luka sadar bahwa faktor itulah yang membuat dia menjadi liar dan selalu ingin memonopoli. Permainan Yuuma pada dirinya kemarin, tak meninggalkan kepuasan yang diinginkan Luka walaupun dia paham mengharapkan kepuasan dari pria itu adalah dosa. Tapi jika dia sudah terbakar nafsu, apakah masih sempat memikirkan hal lain selain rasa puasnya sendiri? Luka sempat kesal saat tahu Yuuma lebih dulu mencapai kepuasan dari pada dirinya, dan dari pada meminta Yuuma mengulang perbuatannya agar dia mencapai kepuasannya yang sangat diinginkannya, Luka lebih baik memilih mati atau menahan hasratnya dalam hati, walau tubuhnya memang menagih. Untuk itu, Luka ingin Kaito membalas semua keinginannya kemarin, memenuhinya dengan nafsu dan membuatnya merasa terpuaskan berkali – kali.

Luka sejak dulu malu jika harus jujur tentang kepuasan seksnya pada teman ranjangnya. Berharap mereka yang memahami kebutuhannya, Luka matian – matian menunggu kepekaan mereka. Tapi sampai saat ini pun Luka tidak pernah merasa pernah dipuaskan. Berbicara tentang Toukai, Luka sadar, permainan seks dengan Kaito malah lebih menjanjikan. Tapi alangkah nistanya jika sebagai istri maupun sebagai wanita Luka masih sempat memikirkan hal tersebut.

Kini fokus pada pria yang sedang mencumbunya malam ini, Luka mendekap tubuh Kaito erat, titik – titik kenikmatan mulai dirasakannya perlahan dari setiap dorongan dan pompaan yang Kaito ciptakan menyentuh mulut rahimnya. Luka tidak mau tertinggal, dinikmatinya setiap gerakan Kaito, terkadang diraihnya wajah Kaito dan mengecup bibirnya. Kaito yang bisa merasakan hasrat liar Luka pun turut membantu Luka untuk mencapai kepuasannya, pria itu menggerakan tangannya menggapai kedua payudara Luka, lalu bangkit dari dekapan Luka untuk lebih bisa bergerak bebas menjamahi seluruh tubuh istrinya. Luka menurut.

"ini tidak seperti saat pertama kita melakukannya kan Luka?" Kaito sengajak mengajak Luka bicara, membayangkan pengalaman pertama mereka dulu. Agar Luka bisa membangkitkan gairahnya lebih lepas seperti yang sudah Kaito tebak jika Luka masih belum bisa menikmati permainannya. Luka memang susah untuk ditaklukan. Dan Kaito tidak ingin dianggap cacat karena tak bisa memenuhi kepuasan Luka, sang istri.

Mendengar kalimat Kaito, Luka membuka matanya dan memandang Kaito yang masih bergerak memompa diatas tubuhnya. Luka tersenyum. Kenangan itu, tak akan bisa dia lupakan.

"ti-tidak.. ahh.." Luka memaksa bibirnya berbicara, sambil menahan desahan yang lolos dari bibirnya.

"bu-bukankah ini sama seperti saat..hhmm.. per-pertama kali kita melakukannya.. ahh.." Luka meraih pantat Kaito dan mendorongnya. Dia sudah berhasil menumpukkan kenikmatan itu dalam benaknya dan perlahan – lahan semua kenikmatan itu mulai menelanjangi tubuhnya.

"saat itu, ki-kita melakukannya sa-saat kau sedang mabuk.." Kaito tersenyum memandang Luka disana. Dan Luka ingat.

"dan ka-kau... menarikku kedalam pelukanmu saat aku membantu tubuhmu berdiri untuk masuk kekamarmu, dirumah ayahmu" Kaito tersenyum. Dibiarkannya Luka terbakar oleh kenangan itu, biar saja agar Luka mencapai kepuasannya sendiri. Dan saat itu juga Kaito merasa ada sesuatu dudalam tubuhnya yang seakan ingin mendesak keluar, tapi bagaimana dengan Luka?

"Lu-luka.. aku ingin keluar.." Kaito menahan hasratnya mati – matian sebelum Luka menemukan kepuasannya. Dan saat merasakan ada sesuatu yang kaito tahan disana. Luka membantu Kaito ikut serta menggerakan pinggulnya. Kini mereka bergerak berlawanan, Saling dorong dan tarik. Dan disaat itu juga kini Luka merasa jika dia pun akan menemui titik paling peka dalam kenikmatannya.

"te-teruss.. ahh.. Kaito.. a-aku mohon... ja-jangan berhenti.. ahhh.. ahh.. aku juga.. a-akan.. keluarr.. ahhhhh..." Luka merasakan cairan Kaito memenuhi rahimnya.

"Lukaaaa..." teriak Kaito saat titik orgasmenya tercapai.

"aahhh... hhhmmm... ahh.. ahh.. Kai..to.." Luka mendekap tubuh Kaito yang sudah terjatuh dipelukannya. Lelah pria itu sama dengan rasa lelah yang menjarah tubuhnya. Mereka berdua mencapai kenikmatan diwaktu yang bersamaan. Luka merasa bahagia.

Rasa hangat diantara selangkangannya, cairan yang terasa mengalir didalam rahimnya membuat Luka tersenyum bahagia. Namun didalam benaknya. Apakah milik Kaito atau Yuuma yang akan tinggal disana?

~TBC


bagi yang bisa kritik dengan pedas.. tolong kritik saya..

harapan saya semoga Luka mengandung anak dari lelaki yang dicintainya hikss :'(