Tears of My Pain
~Terulang~
Indahnya sebuah pernikahan, adalah sesuatu yang paling Luka idam – idamkan dalam hidupnya. Dulu, dia pernah menikah, dengan pernikahan yang awalnya penuh kebahagiaan. Dia mencintai suaminya dan suaminya pun sama mencintainya. Tapi tidak ada yang menyangka jika pernikahan yang begitu amat ingin dijaganya harus berakhir dengan hal yang sekalipun tak pernah dia bayangkan. Saat itu Luka dan suaminya sedang dalam masa pertengkaran. Pernikahan mereka hanya bertahan bahagia selama beberapa minggu, dan sisanya sang suami menerornya dengan pertanyaan penuh curiga. Bahwa dia berselingkuh.
"mungkin, malam ini aku akan pulang larut lagi"
Luka memandang wajah suaminya senduh. Pernikahan mereka baru berlangsung lima minggu dan Luka sudah mendapati kenyataan bahwa Toukai sudah mengabaikan malam – malam mereka bahkan lebih dari beberapa hari terakhir.
Luka menarik kursi, mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk dihadapan sang suami. Mempersiapkan sarapan pagi sebelum dia dan suami berpisah karena pekerjaan mereka masing – masing. Sebenarnya Luka ingin sekali menyampaikan rasa kesepiannya. Tapi entah mengapa rasanya bibirnya terlalu berat untuk berucap. Memilih untuk memendam perasaannya dalam hati.
"banyak laporan yang harus segera kuselesaikan. Dan ini benar – benar menyita waktuku" Toukai meraih segelas air dan meneguknya habis sekaligus. "jika kau kesepian, panggil Kaito untuk menemanimu malam ini" lanjutnya sambil bangkit berdiri dan meninggalkan Luka dengan pandangan tajam kearahnya. Ucapannya berhasil membuat perasaan Luka hancur dalam seketika. Toukai mengabaikan tatapan mata sang istri, melangkah meraih tas kerjanya yang sudah tergeletak rapi diatas sofa. Beberapa malam terakhir, pembicaraan mereka hanya tentang Kaito, Kaito dan Kaito. tentu saja Luka tak bisa banyak bicara.
"hari ini aku juga ada jam malam" Luka meninggalkan sarapan paginya yang belum sempat disentuhnya. Rasa sakit akan kecurigaan sang suami padanya beberapa hari ini membuatnya tak bisa makan maupun minum. Bisa - bisanya Toukai bertanya sejauh apa dia dan Kaito pernah berhubungan dulu, sebelum Luka resmi menjadi seorang istri. Itu membuat Luka menelan ludah kecewa.
"dan kau bisa mengajak Kaito untuk menemani jam malammu disana"
Kalimat itu membuat bening di kedua mata Luka hampir jatuh menetes. Langkahnya terhenti, dan entah kenapa rasa penyesalan akan pernikahanpun kini membayangi pemikirannya.
"dan jika pun kelak kau mengandung nanti, aku ragu apa aku harus menganggap anak itu sebagai darah dagingku atau darah daging adikku" airmata itu menetes tak lagi mampu terbendung.
Luka menarik nafasnya berat, mimpi itu menghantuinya. Mimpi yang pernah menjadi kenyataan dalam hidupnya. Kenyataan yang paling ditakutinya. Diliriknya sisi kiri tubuhnya, pria yang sudah menjadi suaminya beberapa minggu terakhir ini masih tertidur pulas disisinya. Wajahnya terlihat bahagia. Tapi Luka tak yakin jika kebahagiaan itu bisa terus berada disisinya.
Beberapa minggu ini, Luka selalu mendapat mimpi buruk, mimpi yang tercipta dari kekhawatirannya. Walaupun dia tidak mendapati kecurigaan Kaito tentang dirinya sama seperti yang Toukai lakukan dulu pada pernikahan mereka. Tapi bayang – bayang rasa bersalah selalu bisa muncul kapan saja, terlebih saat rasa cinta Kaito terlalu besar untuknya. Saat dimana setiap Kaito mencumbunya, Luka selalu merasa rasa bersalah itu membelit dadanya, membuatnya terasa sakit dan begitu berdosa. Sayangnya Kaito tak pernah absen mencumbu dirinya setiap malam, dan oleh sebab itu juga rasa bersalah itu pun menumpuk semakin jelas dalam ingatannya.
Perhatian Kaito, perlindungannya, rasa cintanya yang begitu besar membuat Luka bahagia. Rasa syukur akan selalu ada setiap dimana Kaito selalu memeluknya dengan manja. Rasa syukur itu tak akan pernah bisa berkurang saat Kaito selalu memandang lembut wajahnya, menyentuhnya perlahan dan selalu memanjakannya. Rasa syukur itu tak akan pernah dia sesali saat Kaito selalu bisa membuatnya nyaman dan aman. Luka selalu bersyukur atas apapun yang telah dimilikinya. Atas semua yang sudah Kaito berikan untuknya. Tapi Luka selalu punya keyakinan kecil dalam sisi gelap hatinya bahwa mungkin, atau bisa saja kebahagiaan itu akan lenyap seketika saat semua kenyataan akan tindakan bodohnya terungkap oleh waktu. Dan Luka sadar bagaimanapun caranya dia tidak akan bisa bersembunyi dari upah dosa yang sudah dia lakukan dulu, dibelakang Kaito.
ini sudah minggu kesembilan, batin Luka dalam hati, mengingat ada rutinitas bulanan yang sudah tak lagi dia rasakan selama dua bulan terakhir, tentu saja setelah sembilan minggu pernikahannya dengan Kaito, atau bisa jadi, setelah sembilan minggu dia dan Yuuma melakukannya.
-][-
Entah sejak kapan Miku mulai terbiasa dengan hobbi uniknya. Saat Oliver memilih untuk menghabiskan malam dengannya, Miku selalu terbangun lebih cepat hanya untuk memperhatikan betapa polosnya wajah Oliver saat tertidur. Wajah itu kini menjadi wajah yang selalu ingin dirindukannya, yang kini bisa membuatnya mulai berpikir bahwa dia ingin memiliki kehidupan yang sama bahagianya dengan sang kakak.
Saat tahu seberapa dalam hubungan percintaan antara Miku dan Oliver, Luka sendiripun tak terlalu ingin mencampuri keputusan sang adik. Dia tahu Miku sudah dewasa dan sudah bisa memutuskan segala hal tentang kehidupannya. Meski sang kakak tahu sudah berapa lama Miku dan Oliver tinggal bersama, Luka tetap tak begitu ingin menasehati Miku tentang segala hal yang akan menjadi kemungkinan untuk masa depan hubungan mereka. Karena Luka tahu bahwa posisinya sama sekali tidak pantas untuk memberikan arahan kepada sang adik. Yang Miku ingat saat dia memberitahu bahwa Oliver dan dirinya sedang berada ditahap yang serius, Luka hanya bilang "aku bukan kakak yang baik, bukan juga anak yang baik ataupun wanita yang baik. Tapi sebagai seorang kakak yang memiliki seorang adik, aku hanya berharap hidupmu jauh lebih baik dari hidupku".
Luka tak peduli tentang bagaimana latar belakang pemuda yang sudah menjadi pacar Miku beberapa minggu terakhir ini, yang Luka tahu, Oliver memang pemuda yang baik. Dia punya selera humor yang tidak buruk dan sesekali bisa membuat Luka tertawa mendengarnya. Juga Luka merasa Oliver memang sangat pantas mendampingi Miku kemanapun. Disaat dimana mereka sering bertemu, sesekali Oliver memang selalu terlihat bertanggung jawab. Dia pemuda yang baik, bahkan begitu menyenangkan. Mereka berempat sering bertemu dan Oliver adalah pemuda dengan humor yang paling menonjol diantara mereka.
"lebih baik kau segera mengajak Miku-chan kepelaminan, O-san" begitu Kaito sering memanggil Oliver. Dengan wajah memerah, Miku berusaha menenangkan perasaannya. Dia selalu merasa bahwa pembicaraan tentang pernikahaan membuatnya terlalu gelisah. Entahlah.
"aku hanya tinggal menunggu persetujuannya, Kaito-sama. Jika dia memang ingin segera dinikahi. Aku akan melamarnya malam ini juga" ucap Oliver begitu antusias. Sambil sesekali mencuri pandang kearah Miku yang pura – pura tidak peduli dengan pembicaraan mereka berdua.
"sudah sedekat ini pun kau masih terus memanggilku dengan panggilan menjijikkan seperti itu. tak bisa kah kau memanggilku dengan sebutan biasa?" Kaito meraih sekaleng bir yang menjadi bahan jamuan mereka diatas meja. Dengan beberapa cemilan kecil tentunya. Saat Kaito sedang tidak ada pekerjaan dari Gakupo, dan saat itu juga Luka sedang tidak sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai pemimpin perusahaan ayahnya. Kaito lebih suka menghabiskan malam mereka di rumah Luka yang terdahulu, dirumah dimana Miku dan Oliver kini tinggal bersama, dirumah dimana sang istri dulu pernah menggodanya. Kenangan akan wajah penuh godaan dari Luka dimalam itu masih terlihat begitu jelas di bayangan Kaito, dan dia tersenyum.
"biar bagaimanapun kau tetap pewaris SEGA Group, aku tetap tak bisa mengabaikan statusmu" Oliver berusaha untuk tidak merubah status apapun diantara mereka. Dan Kaito selalu lelah mendengar pengakuan yang sama dari pemuda itu.
"tak terasa usia pernikahan kalian sudah hampir sepuluh minggu, tapi dimataku, entah mengapa kalian baru saja menikah kemarin" Miku memandang Kaito penuh rasa kagum, tiba – tiba dia merubah topik pembicaraan mereka. Tidak heran jika dia tiba – tiba mengatakan itu, karena setiap bertemu Luka, Kaito selalu tanpa malu mendekapnya. Dan seperti yang Miku saksikan malam ini juga, tanpa sungkan Kaito masih saja terus mendekap Luka disampingnya. Mengaitkan jari – jarinya di jari – jari Luka, tak ingin lepas. Tapi, alih – alih merespon pujian itu dengan senyum kebahagiaan, tiba – tiba nafas Luka terasa berat mendengarnya. Dia takut pembicaraan akan berlanjut kearah lain yang paling ingin dihindarinya.
"setiap malam berbulan madu dan bermesraan memang baik untuk pernikahan" ucap Oliver tanpa segan dengan Luka yang sudah menatapnya. Oliver memang tak pernah mau peduli dengan ucapan yang bisa saja membuat orang menjadi canggung karenanya. Dan mendengar itu Kaito hanya menampilkan senyumnya. Ditariknya jemari Luka semakin erat dan memandang istrinya penuh tawa.
"ya, aku memang ingin segera menjadi ayah" Kaito tersenyum, namun Luka sukses terdiam. Dia... takut. "tapi rasanya, kami masih harus sabar menunggu" Kaito kembali menarik wajahnya memandang Oliver dan Miku bergantian, senyumnya belum memudar.
"belum ada tanda – tanda jika kau sedang mengandung, Luka-san?" ucapan Oliver membuat detakan jantung Luka semakin melemah. Raut wajah penuh kegelisahan itu memikat pandangan Miku. Dan sesaat sang adik tahu, Luka sedang tak ingin membahasnya.
"aku... ingin ketoilet..." Luka memilih untuk melarikan diri. Membuat semua orang disana merubah tatapan mereka menjadi tatapan penuh tanya.
"aku ikut" ucap Miku sesaat setelah langkah Luka berlalu dari tempatnya. Dan para lelaki disana terdiam tanpa kata.
Luka tak bersuara sedikitpun saat Miku sudah berada dibelakangnya. Memandanginya dalam diam, dan penuh ketelitian. Mereka selalu saja terlihat seperti memiliki ikatan batin yang begitu dalam, dan saat ini Miku jelas tahu, Luka sedang menutupi sesuatu yang mungkin sudah lebih dulu dia ketahui. Luka menbasuh wajahnya dalam keraguan, untuk saat ini dia hanya berharap Miku telah menghilang dari posisinya, dan berhenti memandangnya dengan tatapan ingin penjelasan seperti itu. Tapi kenyataannya Miku tetap betah memandangi Luka disana.
"kau menutupi sesuatu?" Miku mulai bersuara saat Luka membalikkan tubuhnya. Kegiatan membasuh wajah telah selesai dan mau tak mau dia tetap akan berhadapan dengan Miku yang masih menjaganya.
"aku hanya merasa tidak enak badan" ucap Luka asal, agar Miku tak terlalu menuntut jawaban darinya. Tapi sayangnya Miku tetap tertarik ingin tahu.
"kau sedang hamil?" ucap Miku spontan tanpa mempedulikan kedua bola mata Luka seakan telah membulat sempurna atas pertanyaannya.
"kau bicara apa?" Luka mendengus kesal, berusaha menampik kepanikan dari raut wajahnya.
"aku pikir rasa tidak enak badanmu mungkin karena kau sedang mengandung" ucap Miku tanpa menurunkan ekspresi wajah penuh rasa ingin tahunya.
"jangan membahas masalah ini, Miku. Aku sedang tidak ingin membicarakannya" Luka melangkah meninggalkan Miku, berpapasan dengan tubuh gadis itu dan beralih dengan langkah penuh ketidakpastian dalam pikirannya.
"tapi kau tidak punya orang lain selain aku yang akan mendengar semua hal yang kau khawatirkan, Luka" Miku membuat langkah Luka terhenti.
"tapi aku sedang tak ingin membicarakan apapun denganmu" Luka memutuskan untuk menutup dirinya. Meski dengan Miku sekalipun.
"sayangnya, aku adikmu. Dan aku berhak tahu apapun tentangmu-" mata Miku terbuka lebar saat melihat gerakan tubuh Luka yang terlihat berbeda, wanita itu menutup kedua mulutnya dengan cepat, dan punggungnya terlihat sedang melakukan gerakan seperti orang tersedak disana.
"Luka.?" Miku memanggil nama itu penuh dengan rasa penasaran, dan seseorang yang namanya sedang terpanggil kini terjatuh diatas lantai, tangannya tetap sigap menutup mulutnya.
"Luka? ada apa? Kau baik – baik saja?" ucap Miku menghampiri sang kakak yang sudah dalam keadaan lemah bertumpuh diatas lantai.
"aku.. ti-tidak apa – apa.." ucap Luka mengabaikan rasa mual yang berasal dari perutnya. Namun, sekalipun dia punya cukup kemampuan untuk membendung rasa mualnya, tapi tetap saja dia ingin memuntahkan sesuatu dari dalam sana. Miku berusaha membantu Luka bangkit dari sana, membawanya kembali kedalam toilet dan membiarkan posisi terbaik untuk Luka agar segera membuang rasa mualnya. Dengan tangan yang masih terus setia mendekap sang kakak.
"apa kau memakan sesuatu yang tidak baik hari ini?" Miku menepuk – nepuk punggung Luka yang masih terus berusaha memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya. Luka menggeram kuat jari jemari Miku yang bertaut dengan jemarinya. Pikiran negaitf pun menguasai dirinya.
"ting..galkan aku sendiri, Miku.." ucap Luka lemah. Dan Miku kesal akan permintaannya.
"kau sedang tidak baik. Apa perlu kupanggilkan Kaito untuk menemanimu?" Miku memandang wajah tak berperasaan Luka disana.
"tidak. Jangan panggil dia. Biarkan aku sendirian" Luka melepaskan genggaman tangan Miku ditangannya. Beberapa kali lagi, Miku masih bisa melihat Luka memuntahkan apa yang tak tampak disana.
"atau jangan – jangan, kau sedang hamil. Luka?!" Miku membelalakkan matanya, dengan kemungkinan yang paling tepat untuk keadaan Luka saat ini. Wajahnya berubah antusias.
"tidak salah lagi. Kau sedang hamil Luka, seharusnya kau tahu itu. Sudah berapa lama kau tidak datang bulan? Sebagai seorang dokter, kau bodoh karena tidak tahu jika mungkin kau sedang hamil-"
"diamlah!"
Miku terdiam oleh satu kata yang keluar dari mulut Luka. Wanita merah muda itu tak mampu lagi membendung kegelisahaannya. Keyakinan Miku membuat penyesalannya mengambil ahli emosinya. Dan Miku tak begitu paham kenapa Luka setakut ini akan kemungkinan yang harusnya jelas – jelas akan terjadi.
Luka bangkit, tangannya meraih tissu yang menggantung disana, membersihkan mulutnya. Lalu berusaha bangkit dari sana.
"Luka?" ucapan Miku nyaris tak terdengar. Dan Luka terdiam, menyembunyikan ekspresi yang tak ingin ditunjukkannya pada Miku.
"maafkan aku, aku hanya sedang tidak nyaman dengan pikiranku" Luka masih menahan rasa mual di dalam perutnya. Jika memang tebakan Miku benar tentang kehamilannya, apa Luka sanggup menghadapi kenyataan yang dia sendiri tidak tahu anak siapa yang sedang dikandungnya saat ini.
Miku memaksa senyum terbentuk di bibirnya. Mungkin Luka masih terlalu sensitif dengan pengalaman pertama dalam hidupnya ini, dan Miku bermaksud untuk segera memakluminya.
"tidak apa. Tapi aku sarankan kau harus segera menyampaikan berita baik ini pada Kaito, kau dengar ucapannya tadi kan? Dia sangat antusias dengan kehamilanmu ini Luka"
Keheningan merajai keadaan mereka sesaat, sebelum akhirnya Luka memandang Miku dengan tatapan yang membuat Miku terdiam ragu.
"aku mohon Miku. Lupakan apapun yang terjadi hari ini. Biarkan ini menjadi rahasia kita" Luka tak sanggup memikirkan apapun yang terjadi di masadepan pernikahannya kelak.
Miku terdiam, jelas saja dia terperangah.
"aku masih tidak tahu anak siapa yang mungkin sedang berdiam di dalam rahimku ini, bagaimana mungkin aku bisa mempertanggungjawabkan semuanya pada Kaito" tanpa sadar, airmata itu mengalir di pipinya. Getaran disekujurnya terasa jelas terlihat, Miku sampai tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Apa kejadian malam itu dengan Yuuma benar – benar berdampak separah ini? Apa Luka benar – benar melakukannya? Miku tak ingin mempercayainya.
"jadi, kau sudah yakin jika kau memang sedang mengandung?" Miku berucap pelan, amat pelan hingga dia sendiri tak begitu yakin suaranya mampu menggapai indra pendengaran Luka.
"aku memang sedang memikirkannya akhir – akhir ini, sejak kejadian itu. Aku tidak lagi datang bulan" Luka menundukkan kepalanya. sakit untuk mengakuinya, tapi mungkin Miku benar, di kehidupannya kali ini, mungkin hanya Miku yang bisa mendengarkan semua yang ingin dibicarakannya.
"kejadian dimana Yuuma menidurimu? Atau Kaito?" Miku melangkah mendekatkan dirinya pada Luka, mendekapnya dari belakang, seakan ingin memberikan ketegaran.
"keduanya..." Luka terisak sambil menutup wajahnya. Dia tidak kuat mengkhianati semua hal yang sudah dimilikinya saat ini. Terkadang Luka pernah memikirkan hal paling kejam di dunia ini, jujur saja dia pernah memikirkan untuk mengorbankan anak yang dia kandung jika kenyataannya anak itu memang sedang dia miliki. Lalu membunuhnya dalam kandungan. Tapi tetap saja Luka benar – benar tidak sanggup. Biar bagaimanapun dia masih tidak yakin akan kenyataan yang menyita seluruh perhatiannya kini.
"aku tak menyangka jika kau benar – benar melakukannya pada Yuuma malam itu, Luka? melihat ketakutanmu saat ini, apa mungkin Yuuma memang sudah berhasil membenihimu? Aku mohon, untuk saat ini jangan memikirkan hal lain. Biar bagaimanapun anak yang kau kandung ini adalah anakmu. Pikirkan hal itu" Miku meraih tubuh Luka dan mendaratkan tubuh itu didalam dekapannya. Getaran ketakutan yang mengaliri tubuh Luka kini seakan bisa dia rasakan.
"kalian lama sekali?" Kaito bangkit berdiri setelah melihat ketidakberdayaan Luka disamping Miku saat itu. Ada yang berbeda dari raut wajahnya. Dan Kaito menyadarinya dengan cepat disana.
"Luka sedang tidak enak badan, mungkin" Miku sepakat untuk tetap mengunci mulutnya. Dan berangsur duduk di sisi Oliver yang juga kini memasang tampang khawatirnya.
"kau masih sanggup Luka? atau kita pulang saja" Kaito membantu Luka untuk duduk disisinya.
"Miku-chan, ambilkan obat yang bisa membuatnya membaik" Oliver ikut merasakan ketidaknyamanan yang Luka hasilkan. Dan sebelum Miku bangkit untuk menuruti perintah Oliver yang kelihatan ada benarnya, Luka segera mencegah dengan cepat.
"tidak usah Miku, untuk saat ini, obat tidak akan berguna untukku" Luka memandang Miku dengan tatapan tak terartikan, walau Miku tak begitu mengerti awalnya, namun ada senyum kecil saat akhirnya Miku sadar, Luka tidak ingin menciderai kandungannya. Terlepas dari kenyataan dia memang hamil atau tidak, yang pasti Luka mungkin masih peduli dengan kandungannya.
"kalau begitu bagaimana jika kita pulang saja, kau butuh istirahat" Kaito memandang Miku dan Oliver bergantian, ingin berpamitan. Dan Oliver membantu untuk membopong Luka disana.
"hati – hati Kaito-sama. Sepertinya Luka-san butuh cukup istirahat" Oliver memandang Kaito lembut,
"ah, terimakasih O-san, Miku-chan juga. Maaf malam ini tidak bisa berlama – lama" ucap Kaito penuh permintaan maaf.
"Luka, jika teradi apa – apa, kau bisa menghubungiku" Miku mengecup lembut pipi Luka dari balik kaca jendela mobilnya. Luka tersenyum getir. Sebelum akhirnya mereka berpisah disana.
"apa ada sesuatu yang terjadi saat kalian di toilet tadi, Miku-chan?" Oliver memandang wajah Miku yang masih menatap lurus kearah dimana mobil yang membawa Luka menghilang.
"entahlah. Aku juga tidak paham" ucapnya lemah, seakan tidak peduli dengan apapun yang kini sedang berada disekitarnya. Masih terasa disetiap kulitnya, getaran ketakutan Luka yang baru ini dia saksikan seumur hidupnya. Bodohnya, Miku merasa masih tidak bisa mempercayai bahwa Luka benar – benar telah memberikan semua yang harusnya dia berikan pada Kaito, lebih dulu kepada Yuuma. Sialan, Miku menggeram mengingatnya.
-][-
Setiap orang pasti punya masalalu, tentu saja Yuuma juga memiliki keadaan disaat dimana dia bisa mengingat masalalu akan masa kecilnya. Pemandangan akan beberapa bocah yang bermain di hadapannya membuatnya harus rela memutar kembali memori lampaunya. Saat dimana dia merasa terlahir sebagai anak yang paling beruntung didunia. Memiliki keluarga yang lebih bisa membuatnya bahagia secara materi, ayah yang begitu menyayanginya dan juga ibu yang suka memanjakannya. Yuuma tumbuh sebagai anak yang selalu berkecukupan, apa yang dia inginkan akan selalu bisa dia dapatkan. Juga orang tuanya pun tak terlalu berniat mengekang apa yang mereka inginkan dari Yuuma kecil sejak dulu. Hingga tanpa sengaja Yuuma hidup hanya dengan kemauannya sendiri, kesenangannya sendiri dan semaunya. Bahkan semuanya berlanjut saat Yuuma memulai hidupnya menjadi pemuda dewasa. Yuuma tak pernah sadar berapa banyak pengalaman yang sudah dilaluinya dalam hidup. Bahkan wanita pun bukanlah hal yang tak bisa digapainya. Berapa banyak dia ingin kepuasannya terpenuhi, Yuuma selalu bisa memenuhinya dengan kemauannya sendiri. Tapi didalam hidupnya, hanya ada dua wanita yang bisa membuatnya merasakan bermacam – macam perasaan, dan dari kedua itu, hanya satu yang membuatnya merasa tak berarti apa – apa sekarang. Luka, wanita itu adalah wanita pertama yang membuat Yuuma merasa bahwa dia seakan tak berarti apa – apa. Dan wanita yang kini tengah berdiri didepan Yuuma saat ini adalah satu dari dua wanita yang pernah membuat perasaan campur aduk dalam hidupnya. Yumma berdiri menampilkan senyum getir saat Yukari sudah berdiri di hadapannya, menutup pemandangan akan bocah – bocah yang kini bermain tenang disana.
"lama tak melihatmu" Yukari tersenyum lembut, menghampiri pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu. Duduk disamping sang pria dan ikut menatap kearah dimana tadi pandangan Yuuma terfokus.
"maaf jika mengganggu jam kerjamu" Yuuma berucap lemah dan tenang. Membuat Yukari seakan tak percaya dengan kepribadian orang yang dulu suka bersikap semaunya dalam hidupnya.
"apa beberapa hari terakhir ini kau memang sedang belajar bagaimana caranya meminta maaf pada orang lain?" Yukari menutupi senyum yang mengembang diwajahnya. Paras cantiknya kini tak lagi mampu membuat Yuuma berdetak dan menginginkannya, entah karena apa.
"mungkin, karena sudah kehilangan segalanya, aku jadi seperti ini" kini Yuuma yang memaksa sebuah senyum diwajahnya. Dan itu terlalu menyedihkan bagi pandangan Yukari. Ego Yuuma seakan sudah luntur entah kemana.
"maafkan aku, Yuuma" Yukari menatap wajah Yuuma senduh, dan Yuuma tak begitu terlalu peduli.
Hembusan angin siang itu, bukan alasan bagi keduanya untuk terdiam. Yukari maupun Yuuma seakan sama – sama lupa untuk apa mereka bertemu hari ini. Setelah beberapa bulan tak bertemu, rindu dalam hati Yuuma akan Yukari pun seakan benar – benar sirna. Terlebih karena memang Yukari sudah bersuami sejak setengah tahun lalu, dan Yuuma baru tahu akhir – akhir ini. Atau memang karena tak ada lagi sisa cinta Yuuma untuknya.
"beberapa minggu ini, ada sesuatu yang sedang kupikirkan" Yuuma masih betah memandangi tempat dimana para bocah tadi bermain, namun sekarang tak ada siapapun disana. Yukari masih menunggu Yuuma melanjutkannya.
"apa dulu aku pernah menghamilimu?" Yuuma menundukkan kepalanya, saat Yukari mendengar ucapan itu dengan tatapan terkejutnya.
"maaf jika pertanyaanku terlalu menjijikan untukmu" Yuuma mengelah nafasnya berat. Dan Yukari menyulap sebuah senyum untuk menutupi kecanggungannya. Pertanyaan yang aneh, tapi mungkin inilah yang ingin diketahui Yuuma. Terlihat begitu jelas jika wajahnya menyimpan beberapa masalah saat ini.
"jika kau tak keberatan mengulang kembali kenangan kita, apa aku harus mengingatkanmu saat – saat bagaimana kita melakukannya?" Yukari merasa cukup nyaman membahas masalalunya. Dan Yuuma hanya diam tak menanggapi, walau dia ingin tahu.
"tapi, jika kau ingin tahu kenyataannya. Jika hamil sekalipun aku akan meminta pertanggungjawabanmu loh" Yukari tertawa, dan itu berhasil menarik sebuah senyum diwajah tampan pria yang sedang duduk disisinya.
"apa menurutmu aku akan bertanggungjawab?" Yuuma menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman itu. Memandang jauh kearah langit biru yang seakan mampu menampung semua hal yang sedang dipikirkannya.
"ya, aku pikir kau pasti akan bertanggungjawab jika itu adalah wanita yang kau cintai. Dan karena saat itu aku adalah wanita yang kau cintai, mungkin aku bisa berpikir bahwa kau memang sengaja ingin menghamiliku agar aku bergantung padamu" Yukari menghela nafasnya lega. Setidaknya tidak ada sesuatu yang ingin dia tutupi saat ini.
"apa ada seorang wanita yang mengalami nasib yang sama denganku, Yuuma?" pertanyaan Yukari membuat nafas Yuuma tertahan, namun sedetik kemudian dia berusaha menenangkan dirinya secepat mungkin. Bagi Yukari, Yuuma bukanlah hal baru yang harus dipelajarinya lagi. Dia sudah kenal pria itu sejak lama.
"yang ingin ku tahu. Apa aku berhasil menghamilinya atau tidak. Dan takutnya, sampai matipun aku tak akan bisa bertanggungjawab" Yuuma mengangkat tangannya, menorehkannya dibawa langit seakan ingin menggenggam apa yang jauh disana.
"apa aku mengenalnya? Mungkin aku bisa bicara dengannya" Yukari menatap Yuuma bersikap lembut dan dewasa.
"kau mungkin mengenalnya" Yuuma hening sesaat.
"Megurine Luka?"
Dan tebakan Yukari membuat Yuuma mengangkat tubuhnya cepat, membenarkan posisi duduknya dan menatap Yukari dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa wanita itu menebaknya setepat itu.
Yukari berusaha mengingat sedetail apa masalalunya dengan Yuuma dulu. Walau mungkin Yukari mencintai pria itu dengan setengah hati, tapi tetap saja nafsu yang dirasakannya saat Yuuma mencumbunya adalah murni sebuah birahi yang harus segera dipuaskannya. Untuk itu, dia tidak pernah menolak jika harus bercinta dengan Yuuma saat mereka berpacaran dulu. Bercinta dengan Yuuma mungkin menjadi salah satu kenangan terbaik untuk Yukari, pria itu bisa sangat memanjakannya kapanpun dia mau, dan Yukari suka saat seperti itu. Sayangnya, dia masih belum ingin Yuuma menanam benih dalam tubuhnya. Yuuma selalu menolak saat dimana Yukari mengkomsumsi obat – obatan untuk menghambat kehamilan. Jadi, tanpa sepengetahuannya, Yukari mengosumsinya.
"jangan katakan tebakanku benar, Yuuma" Yukari segera melenyapkan ingatannya akan masalalu dengan pria itu saat pria itu menunjukkan tatapan tidak percayanya pada Yukari.
"dari mana kau tahu?" ucap Yuuma sama terkejutnya.
Yukari menggelengkan kepalanya tak percaya, jadi tebakannya benar? Apa hubungan Yuuma dan Luka sudah sedekat itu? lalu kenapa Luka menikahi Kaito?
"aku hanya menebak Yuuma" ucap Yukari tanpa menghilangkan keterkejutannya.
"sial!" Yuuma mengumpat dirinya sendiri. Harusnya ini hanya akan menjadi rahasianya dengan Luka kan? Tapi walaupun Yukari tahu, sebenarnya Yuuma tak perlu khawatir rahasia sepenting ini akan terbongkar. Yukari bukanlah wanita jahat yang harus dia takutkan.
"aku harap kau tidak memberi-" nafas Yuuma terhenti seketika, dan tatapannya tajam melewati wajah Yukari dihadapannya.
"wow. Sepasang mantan, berjumpa" suara yang begitu Yukari kenal, dan wanita itu membalikkan tubuhnya cepat seakan ingin mengutuki dirinya sendiri.
"Ted...?" ucapnya pelan, tak berdaya.
"dan seorang Megurine Luka, dihamili mantan kekasih dari istriku?" ucapan Ted membuat jantung Yukari dan Yuuma berhenti berdetak seketika itu juga. Senyumnya tampak mereka, dengan gerakan santai dia menatapi kedua wajah pucat pasi itu bergantian.
"ini berita baik kan? Ayolah, hanya ingin kalian juga tahu. Megurine Luka juga adalah mantan kekasihku" pria itu tersenyum manis. "jadi mungkin aku akan tertarik dengan berita ini" ucapnya tak berdosa.
"dan berita buruknya..." Ted melangkah mendekati kedua orang yang sedang diam tak berdaya disana tanpa ragu. Menatapnya bergantian entah untuk yang keberapa kali, dan kembali menyeringai dengan senyuman.
"berita buruknya. Aku adalah sepupunya yang terbuang"
Mendengar ucapan itu, Yukari menelan ludahnya penuh dengan kecemasan. Saat kau tahu seperti apa seringaian seorang Kasane Ted, kau akan tahu neraka itu sekejam apa.
Yukari pernah mendengar sebuah dendam yang Ted simpan dalam hidupnya. Ibu Ted dan ibu Luka adalah kerabat dekat. Keluarga Ted dibuang jauh oleh keluarga ibunya Luka dan perasaan dendam itu menjadi sebuah hal yang menjadi motivasi Ted untuk membalas dendam pada keluarga ibu Luka seumur hidupnya. Sayangnya Ted tak pernah tahu dimana keberadaan ibu Luka, dan satu – satunya yang akan Ted lakukan adalah menimpahkan penderitaan keluarganya pada Luka, satu – satunya dari keluarga ibunya yang tersisa. dan Yukari tak pernah meragukan senyuman licik suaminya itu saat sedang berambisi pada sesuatu, dan mungkin bagi kedamaian semua pihak, berita ini akan menghancurkan semua orang yang terkait, tapi bagi Ted, dia tidak mau peduli.
"Ted-kun, ini tidak seperti yang kau dengar. Aku dan Yuuma hanya sedang membahas hal lain yang bersangkutan dengan Megurine Luka, dan apa yang baru saja kau ucapkan tadi itu tidak benar" Yukari bangkit menghampiri Ted diposisinya. Ini tidak baik. Sungguh tidak baik.
"jangan khawatir begitu sayang" Ted menarik Yukari kedalam pelukannya. Lalu memandang Yuuma yang masih menatapnya tajam menahan amarah.
"tidak ada salahnya seorang istri mendukung suaminya kan?" senyuman itu membuat Yuuma tak lagi mampu menahan kekesalannya. Dengan cepat, diraihnya tubuh Ted dan menerjangnya penuh dengan emosi pada kepalan tinju tangannya. Yukari berteriak spontan, dan Ted berhasil mendarat sempurna di atas tanah. Tawanya masih ada. Jika menyangkut harga diri Luka, tak usah di ragukan lagi seberapa besar kekesalan Yuuma kini. Apalagi saat tahu kenyataan jika seperti inilah laki – laki yang akhirnya menjadi suami Yukari. Rasanya Yuuma tak rela membiarkan Yukari menjadi istri pria menjijikkan seperti pria yangkini sedang terkapar didepannya.
"hentikan Yumma!" suara Yukari yang terdengar panik kini menghentikan langkah Yuuma ditempatnya, sekaligus menghentikan aura membunuh yang kini Yuuma tahan sekuat mungkin. Biar bagaimanapun, Ted tetaplah suaminya.
"jangan pukul dia lagi. Aku mohon!" ucap Yukari memandang Yuuma penuh harapan. Ted tidak pandai berkelahi, dan Yuuma bukanlah tandingannya.
"pukul aku pecundang!" Ted masih sanggup memandang remeh kearah Yuuma yang kapan saja siap untuk membunuhnya. Mengabaikan pembelaan sang istri pada dirinya. Ted suka memancing orang bertindak kasar padanya.
"sialan kau!" kali ini, Yuuma mengabaikan teriakan Yukari yang sudah menarik tangannya dari tubuh Ted. Meninjunya sekali lagi, dan lagi hingga pria itu terkapar disana. jika saja Yukari tidak menarik tubuh Yuuma menjauh dan memeluknya penuh permintaan, mungkin Yuuma bisa saja menjadi pembunuh saat itu juga.
"hentikan Yuuma! Aku mohon, hentikan!" isak Yukari terisak dipunggungnya. Yuuma mendorong tubuh lemah Ted yang sudah bersimbah darah disana. sialnya jika tidak ada Yukari, mungkin dia sudah menjadikan mantan kekasihnya itu menjanda sekarang.
"aku akan membunuhnya jika dia berani menyakiti Luka, Yukari" ucap Yuuma berlalu dari sana. Meninggalkan Yukari yang masih menatap suaminya histeris dan tak berdaya.
-][-
Sejak kepulangan Luka malam itu dari kediaman Miku, Kaito selalu mendapati Luka dalam keadaan yang terlihat mngkhawatirkan. Luka jadi cenderung suka termenung seorang diri, bersikap dingin dan mengabaikan semua perhatian Kaito padanya. Mungkin Luka memang tidak enak badan atau apapun, tapi Kaito tetap tidak bisa membiarkan Luka seorang diri dirumah saat dia harus memenuhi panggilan shooting untuk filmnya. Untuk itu, Kaito menyuruh Gakupo datang kerumahnya saat mereka harus merapatkan sesuatu untuk membahas masalah projek terbaru mereka.
Dan kini, disinilah Gakupo duduk berdampingan dengan Meiko dan berhadapan dengan Kaito di ruang tamu. Sesaat yang lalu, Kaito sempat tak enak diri dengan Meiko yang mungkin rela merepotkan diri untuk menyiapkan minuman untuk mereka saat Kaito memberitahu jika Luka sedang terbaring sakit dikamarnya.
"maaf jika aku merepotkanmu Sakine-san" ucap Kaito menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ya, rasanya tidak enak saja membiarkan tamumu melayanimu. Dan Meiko hanya tersenyum sopan didepannya.
"jangan sungkan begitu, Kaito. Justru kamilah yang tidak enak, jika kami tahu istrimu sedang tidak enak badan. Mungkin kami bisa membawakan sesuatu untuknya" ucap Gakupo tenang.
"apa dia sudah makan?" Sakine memandang wajah Kaito ingin tahu.
"tadi, aku membelikannya bubur. Dan mungkin sebentar lagi aku akan kembali membelinya. Aku tidak begitu paham merawat orang sakit. Jadi-"
"apa kau sudah membawanya kerumah sakit?" Meiko terdengar khawatir dari nada bicaranya.
"dia bilang dia tidak apa – apa. Dan karena dia seorang dokter, dia bilang percuma jika memeriksakan diri" Kaito mengingat penolakan Luka kemarin untuk memeriksakan dirinya.
"apa dia sudah minum obat?" kini Gakupo yang menimpali.
"aku tidak tahu kenapa. Tapi dia bilang, dia tidak butuh obat. Tapi meskipun begitu aku tidak tahu harus berbuat apa" Kaito merasa tak berdaya, dia tidak pernah merawat orang sakit, dan saat Luka sakit, dia semakin tak paham untuk berbuat apa. Saat keheningan membalut mereka, Meiko berdiri dari posisinya dan memandang Kaito penuh harap.
"jika kau tidak keberatan. Biar aku yang mengurusnya, mungkin aku bisa membuatkan bubur hangat untuknya, agar kalian bisa rapat dengan tenang. Lagipula, aku juga tidak akan paham jika hanya mendengarkan ucapan kalian nanti. Dan jika kau mengijinkan, mungkin aku harus memasuki kamarmu untuk mengunjunginya Shion-san" ucap Meiko penuh penuturan. Wanita yang berstatus kekasih Gakupo itu memang memiliki kepribadian yang begitu dewasa. Dan mendengar ketersediaan dari Meiko, Kaito kini bisa mengulas senyum bahagia disana.
"maaf merepotkanmu Sakine-san" Kaito tak bisa berhenti tersenyum saat itu.
Abaikan betapa tak senangnya Meiko dulu pada kepribadian Luka. Abaikan juga betapa malangnya dulu kehidupan Len saat Luka memilih untuk meninggalkannya. Bagi Meiko, semua hal yang terjadi pasti memiliki sesuatu yang tersembunyi yang bisa dijadikan makna. Apalagi saat ini, mendengar Luka sedang sakit, rasanya simpati Meiko pun timbul. Anggap saja ini balasan dari apa yang ditinggalkan Luka pada Len adiknya. Karena akibat perpisahaan dari Luka, Len yang sekarang mulai bersikap lebih dewasa.
Meiko selesai membuat bubur dan siap untuk mengantarkannya, setelah sebelumnya Kaito menunjukkan posisi kamar mereka dilantai dua apertemen kecil itu. Disetiap langkahnya, Meiko menyadari suatu hal yang terjadi pada kehidupan wanita merah muda itu kini. Wanita itu memang tidak pernah suka memamerkan seberapa banyak kekayaannya. Apertemen kecil seperti ini, apakah cocok untuk kehidupan tuan putri?
Perlahan, Meiko mengetuk pintu yang sudah berdiri kokoh didepannya. Tidak ada jawaban dari balik sana setelah beberapa kali ketukan terdengar. Berinisiatif, Meiko memutar knop pintu dan mendorongnya pelan. Melangkah masuk keruangan itu dan menutup kembali pintu dengan lembut disana, tanpa ingin membuat seorang wanita yang terbaring disana terjaga dari tidurnya.
Meiko menelusuri pandangannya ketubuh Luka yang terbaring lemah, sebelum dia akhirnya meletakkan pelan nampan berisi bubur diatas meja disisi ranjang Luka.
"Megu-" dia berusaha mengoreksi panggilannya. "Luka-san.." ucapnya menyentuh lembut pundak Luka yang tak tertutupi selimut. Mengguncang lembut.
"aku membawakan sesuatu yang hangat untukmu" ucap Meiko duduk ditepi ranjang setelah Luka terjaga dan berusaha memfokuskan padangannya. Cukup kaget juga mendapati kenyataan bahwa sosok Meiko kini tengah duduk memandangnya. Seseorang yang sejak dulu tak pernah menyukainya. Luka mengangkat tubuhnya, dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Pakaian tidur tipis masih melekat ditubuhnya, terlihat jelas jika wanita ini sama sekali tak beranjak sejak pagi dari tidurnya.
"maaf jika aku lancang memasuki kamarmu. Tapi sebelum masuk, Kaito sudah mengijinkanku untuk membawakan makanan ini untukmu" Meiko mengarahkan pandangannya kearah mangkuk yang sudah terletak anggun di sisi ranjang. Dan Luka mengikuti pandangan wanita itu. Asap yang masih mengepul menandakan betapa hangatnya bubur itu.
"maaf, jika Kaito memaksamu menyiapkan bubur hangat itu untukku" Luka mengubah sebuah senyum diwajah lelahnya. Sekedar ingin menghargai usaha seseorang yang selalu saja tidak suka padanya. Meiko meraih mangkuk hangat itu dan menyerahkannya pada Luka, tapi alih – alih menerima, Luka malah menolaknya dengan sopan. Untuk saat ini, dia tidak ingin rasa mual seperti kemarin – kemarin mengocok perutnya. Paling tidak jangan dihadapan Meiko. Wanita ini pintar. Tentu saja.
"Aku tidak menaruh sesuatu kedalam makananmu" ucap Meiko menatap Luka tenang. Ucapannya memang terasa menyakitkan, tapi Luka tak merasa tersinggung karenanya.
"aku sedang tidak berselera, aku akan lebih merasa bersalah jika aku memuntahkan semua yang kumakan dan membuatmu tersinggung" Luka menyandarkan pungungnya di atas kasur, rasa mual itu kini kembali merajainya. Mati – matian, Luka menahan agar dia tidak merasa ingin muntah dihadapan Meiko. Untuk kali ini saja. Tapi, mungkin kenyataan harus lebih pahit dari keinginannya. Detik itu juga, Luka kembali merasa mual dan mengatur langkah untuk berlari secepatnya kedalam toilet kamarnya. Meiko hanya memandangnya iba.
"ini mungkin karena kau tidak makan apapun sejak tadi Luka-san" ucap Meiko menghampiri Luka, melihat seberapa lelahnya wanita itu menahan mual diperutnya. Luka mengabaikannya.
"aku membawakan beberapa obat yang Shion-san titipkan untukku. Minumlah, dia bilang kau tidak mau meminum obat darinya" Meiko bergerak mundur saat Luka berusaha bangkit dari posisinya. Rasa mualnya mulai meringan dan dia bisa berdiri disana.
"a-aku tidak bisa meminum obat" Luka meraih tissu membersihkan mulutnya. Nafasnya masih terasa berat, dan Meiko mengurungkan niatnya untuk kembali memaksa. Saat Luka sudah mengatur langkah untuk keluar dari kamar mandi, Meiko pun mengatur langkah untuk mengikutinya. Namun tanpa sadar kakinya tersandung tempat sampah disana, semua isi bertaburan keluar, Meiko bergerak cepat memungut semua sampah dan meletakkannya kembali keposisi semula, namun ada suatu yang kini menarik perhatian Meiko dari salah satu yang dia temukan disana. Sebuah alat pendeteksi kehamilan, dan dua garis disana menunjukkan sesuatu yang sama sekali tak mampu Meiko tahan untuk tak dia tanyakan secara langsung pada Luka.
"kau sedang hamil Luka-san?" pertanyaan dari Meiko membuat langkah Luka terhenti.
"maaf, tapi aku menemukan ini didalam tumpukkan sampahmu" ucap Meiko saat Luka berbalik, dan dia memerkan sesuatu di tangan kirinya. Luka tak bisa berkata apapun saat ini.
"seharusnya kau bilang pada Shion-san jika kau sedang hamil. Dia pikir kau sedang tidak enak badan. Dia menyuruhku untuk membuatmu meminum obat ini, dan sekarang aku tahu alasan kenapa kau tidak mau meminumnya" Meiko melangkah mendekatkan dirinya pada Luka yang masih diam seribu bahasa.
"i-itu.." Luka tak mampu mengeluarkan suaranya untuk saat ini.
"ini berita baik. Seharusnya suamimu berhak tahu akan semua ini" Meiko terlihat antusias, namun tidak untuk Luka.
"aku masih belum bisa memberitahukannya" Luka mundur beberapa langkah, mengambil posisi untuk duduk ditepi ranjang.
"kenapa?"
"aku masih belum siap memiliki seorang anak" ucapnya berdusta. Tak ada pilihan lain, tidak mungkin dia membiarkan dunia tahu jika dia masih belum tahu anak siapa yang dikandungnya.
-][-
"seharusnya kau tak usah banyak bicara dengannya seperti itu Ted-kun" Yukari menatap wajah penuh luka suaminya. Yuuma benar – benar tidak main – main dengan pukulannya.
"kau membela siapa? Dia atau suamimu?" Ted meringis kesakitan saat Yukari megolesi kembali beberapa lebam biru diwajah Ted dengan salap.
"ini tidak ada hubungannya dengan Megurine Luka. Harusnya kau tahu itu" ucap wanita itu ingin membujuk suaminya. Namun tampaknya Ted tidak terlalu ingin mengurusinya.
"aku mendengar semua pembicaraan kalian, dan kau mau aku percaya dengan ucapanmu?" Ted menatap wajah istrinya tajam.
"..dan aku tak menyangka jika mantan kekasihmu itu benar – benar melakukannya" Ted mengubah pandangannya kearah lain selain wajah sang istri.
-][-
"aku bukan orang yang berhak memberitahukan kebahagian ini pada suamimu. Jadi anggap saja aku tidak pernah tahu. Tapi usulku, segera beritahu berita baik ini pada suamimu sebelum dia tahu dari orang lain" ucap Meiko sebelum meninggalkan Luka yang masih tak tahu harus berucap apa didalam kamarnya.
Luka menghempaskan tubuhnya penuh kecewa. Seandainya dia bisa mengulang waktu. Dia ingin melakukan sesuatu pada masalalunya agar dia tidak terperangkap seperti ini dimasa muda.
Ted meraih ponselnya diatas meja. Ancaman Yuuma bukanlah sesuatu yang harus ditakutinya. Tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya. Tidak sama sekali. Saat Ted sudah memiliki ambisi, tak ada yang bisa merusak keinginannya.
Luka memutar tubuhnya saat mendengar suara ponsel yang terdengar diatas meja tempat dimana Meiko meletakkan buburnya. Saat matanya menangkap kontak dengan nama Kasane Ted disana, Luka ragu ada sesuatu yang baik yang akan dia terima dari mulut pria itu.
"Megurine-san.." Ted memastikan Luka telah mendengar suaranya dibalik sana. Dan sebelum Luka berhasil mengeluarkan suaranya, Ted melanjutkan ucapan yang membuat Luka tercengang detik itu juga.
"selamat atas kehamilanmu. Yuuma akan menjadi seorang ayah dari anak yang dikandung oleh seorang istri dari pria lain" bisa Luka rasakan betapa derasnya aliran darahnya kini mengalir menelusuri tubuhnya. Jantungnya berdetak kian cepat, berpacu tidak normal, saat mulut Ted mengucapkan sebuah kenyataan yang teramat sangat ditakutinya. Hanya karena ini adalah seorang Kasane Ted, mungkin Luka menjadi begitu tak berdaya karenanya. Sebab Luka sendiri tahu, bagaimana jika seorang Kasane Ted sudah berbicara, dia adalah pria dengan mulut paling sampah sedunia. Luka mengenalnya, mereka pernah saling mengenal dekat.
"a-apa maksudmu?" Luka ragu untuk bertanya, tapi jujur saja dia tidak ingin Ted terlalu yakin dengan ucapan menjijikannya itu.
"tak usah takut. Aku hanya ingin memastikan jika Yuuma tak mengarang cerita untuk mendapatkanmu kan?" Ted memastikan Yukari tak mendengar pembicaraannya dengan Luka saat ini juga.
"jaga mulutmu Kasane-san. Atau aku akan membuat perhitungan denganmu!" Ted menyeringai mendengar ancaman Luka, sejak dulu dia tahu jika seorang Luka tak pernah bisa mengancam orang lain, namun kali ini, rasanya Ted mengetahui sesuatu. Luka memang sedang ketakutan sekarang.
"ketakutanmu membuat semuanya terlihat jelas sayang. Baiklah, aku hanya ingin memberimu ucapan selamat, itu saja" Ted menutup panggilan telponnya.
"Kasane-san!? Kasane-san?..!" teriak Luka, sambil menahan rasa kesal yang telah menyelimuti benaknya.
SIAL! Batinnya sambil melempar ponselnya tak tentu arah. Luka frustasi, rahasia yang sudah sampai dimulut seorang Kasane Ted akan menjadi masalah besar, sekalipun itu hanya berita remeh yang tak berharga. Tapi kali ini, Luka memang sudah saatnya bertindak. Demi apapun, dia tidak ingin Ted merusak hidupnya. Merusak apapun yang paling ingin dihindarinya.
"kalau begitu, kami permisi dulu Shion-san" Meiko tersenyum memandang Kaito, begitupun Gakupo. Namun saat mereka akan meninggalkan posisinya. Luka menyuarakan panggilannya atas Kaito. Dan mereka saling memandang.
"Luka.." ucap Kaito melemah, memandang penampilan Luka yang mungkin telah berubah rapi membuatnya ingin bertanya. Namun segera dia urungkan saat Luka langsung menarik tangannya.
"kau ingin kemana?" ucap sang suami penasaran. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Luka menatap kedalam matanya.
"ada yang sesuatu yang ingin kusampaikan padamu. tapi..." Luka terdiam, rasa mual didalam perutnya masih tetap terasa, namun sekuat tenaga dia mengabaikannya.
"...aku ingin menemui seseorang terlebih dahulu" lanjutnya ragu.
Kaito, tidak pernah mendapati keganjilan seperti ini didalam tatapan Luka padanya. Rasanya ada sesuatu yang sang istri sembunyikan, namun Kaito tahu ada saat dimana Luka tak akan mau berbicara saat Kaito ingin mengetahui sesuatu darinya.
"tapi, bukankah kau sedang sakit? Kalau memang sesuatu yang penting, aku bisa menemani-"
"biarkan aku sendiri. Mungkin aku bisa meminta Miku menemaniku" potong Luka cepat.
"ba-baiklah" Kaito terlihat ragu mengiyakanya.
Sebenarnya Luka masih tak begitu paham dengan keputusannya. Dia tidak mengerti mengapa dia begitu marah pada dirinya sendiri untuk saat ini. Dia tidak punya rencana apapun saat dia mengatur langkah kakinya meninggalkan rumah. Luka tak paham kesimpulan apa yang membayangi kepalanya. untuk saat ini, rasanya dia ingin melenyapkan kandungannya. Tapi setiap kepalanya memikirkan hal tersebut, ada rasa sakit yang membuatnya menderita.
Satu hal yang Luka sesalkan saat ini adalah, kenapa Yuuma tega membiarkan Ted mengetahui semua hal yang seharusnya dirahasiakannya.
Kesehatan Luka tak mendukungnya untuk menaiki kereta, oleh karena itu dia memilih untuk menggunakan taksi. Kepalanya masih terasa sakit, rasa mualnya masih ada dan itu benar – benar telah menambah deritanya. Diraihnya ponsel didalam tasnya, dan satu – satunya seseorang yang harus diajaknya bicara kali ini hanyalah Yuuma.
"Luka?" suara Yuuma terdengar lembut dari ujung sana.
"aku ingin bicara padamu, Yuuma" Luka menahan nada bicaranya. Untuk saat ini, berusaha tenang adalah satu – satunya hal yang paling dibutuhkannya.
Hari sudah menjelang sore hari, kebetulan Yuuma sudah tak lagi terlihat sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai salah satu karyawan diperusahaan sang ayah. Disandarkan tubuhnya saat dia berusaha merindukan suara Luka dari ujung sana, dia rindu dengan wanita itu. Sangat rindu.
"saat ini aku sedang berada di kantor, jika kau mau mungkin aku bisa menemuimu ditempatmu-"
"aku sedang dalam perjalanan menuju apertemenmu" Yuuma tak lagi mendengar suara lain selain suara nada terputus di ponselnya. Perasaaan campur aduk pun memenuhi pemikirannya. Dengan cepat Yuuma membenahi meja kerjanya, ada seseorang menunggunya, seseorang yang sangat dia rindukan sejak lama.
Sejujurnya Luka tidak lagi sanggup untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Dia hanya sedang berusaha sekuat mungkin dengan semua sisa – sisa kemampuannya. Apalagi kemungkinan untuk bertemu dengan Yuuma adalah yang paling dinantikannya. Jika dia masih memiliki kekuatan lebih dari ini, rasanya Luka ingin sekali mengajar pria itu saat bertemu nanti.
Luka masih tetap menunggu di depan pintu apertemen Yuuma, menanti dengan sabar, penuh dengan ketidakjelasan perasaan. Apa dia masih sanggup untuk memandang wajah pria itu?
TBC~
an : kalau salah mohon maaf, saya diburu waktu ngupdatenya.
