Tears of my Pain
~Hitam Putih~
"ibu..."
Harusnya, seorang anak berusia delapan tahun tak harus tahu banyak berbagai macam hal. Hiduplah sesuai usia dan pemikiran. Tapi Kasane Ted diusia mudanya berbeda dari kebanyakan anak sebayanya. Dia terlalu banyak tahu macam hal, dan itu membuatnya tumbuh dengan pemikiran pribadinya hingga dewasa.
"namanya Luka, berteman akrablah dengannya Ted-kun"
Ted mengangkat kepalanya memandang wanita itu penuh bahagia. Lalu, dialihkannya pandangannya kepada seorang bocah cantik yang kini tertawa memandangnya.
"tante, Luka-chan lucu sekali, berapa umurnya?"
Wanita itu tersenyum.
"dua tahun, kau lebih tua enam tahun darinya, untuk itu jadilah seorang kakak yang baik"
"tentu saja. Aku akan menyayangi Luka seperti adikku sendiri. Iyakan Luka-chan?"
Bocah laki-laki itu tersenyum hangat memandang Luka kecil yang kini sudah menariknya untuk bermain. Tawa yang begitu jenaka pun terdengar dari keduanya.
-][-
"Ted-kun, ajak main Luka-chan. Ibu dan tantemu mau bicara" Ted memandang wajah ibunya paham. Ini adalah pertemuannya yang kesekian kali dengan Luka. Gadis kecil itu adalah gadis yang begitu dia sayangi, ingin rasanya memiliki adik sejak dulu, tapi hingga sekarang Ted tak pernah mendapatkannya. Jadi, tidak ada salahnya jika dia begitu menyayangi Luka yang kini sudah menarik – narik bajunya.
"Luka-chan, main sama nii-chan ya" serunya bahagia.
"aku tidak punya pilihan lain. Bukan kuasaku untuk memutuskan apapun di keluarga kita, mengertilah" samar – samar, meski cukup jauh, tapi kalimat itu cukup mampu terdengar olehnya. Masih bermain dengan Luka, Ted tetap bisa mendengar kalimat itu keluar dari mulut tantenya.
"tapi, hanya kau dan suamimu yang bisa membantuku saat ini, apa kau tidak kasihan jika membayangkan Ted kehilangan ayahnya?" kini suara ibunya yang gantian terdengar.
Ted masih tersenyum kala Luka kini bermain didalam pelukannya.
"aku mohon, jangan bawa – bawa dia dalam urusan ini"
"tapi aku perlu suamimu untuk menjamin suamiku agar dia tidak dinyatakan bersalah, kita masih dalam garis keturunan yang sama. Tega kah kau membiarkan suamiku dipenjara?"
Luka tertawa saat Ted mengacak – acak rambutnya, namun tawa itu tak lagi bisa dia nikmati saat pembicaraan itu mulai diresapinya.
"aku tetap tidak bisa" kini ibu Luka bangkit dari posisi duduknya. Pembicaraan mereka semakin serius dan terdengar menakutkan bagi Ted.
"suamimu terbukti bersalah dan kami tetap tidak bisa melakukan apapun untuk membelanya. Jangan egois, pikirkan juga pengaruh ayahnya Luka jika dia membantu suamimu terbebas dari tuduhan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia kan?"
Ted kecil, bisakah dia mendengar semua ini sambil terus memasang wajah tersenyumnya untuk Luka?
"kau yang egois!" kini suara ibunya terdengar basah dan meninggi, ada getaran yang begitu menyedihkan yang dia bisa dengar terselip disana.
"aku saudarimu, kita ini masih terhubung oleh darah yang sama. Kau bisa saja menyuruh suamimu membela suamiku, tapi kenapa kau tidak mau? Tidak ada salahnya kan membiarkan Megurine jatuh? Bukankah sejak dulu kau tidak pernah mencintainya? Kau hanyalah pelacur yang ingin bersembunyi dengan topeng yang suamimu sediakan, kau-"
"tutup mulutmu!"
Ted meraih tubuh Luka dan mendekapnya takut, semua yang harusnya tidak dia dengar, kini jelas terdengar. Memandang Luka yang masih saja tersenyum padanya, membuatnya sedikit lebih tegar. Walau perlahan Luka pun seakan menyadari ada yang berbeda dari nii-channya saat ini.
"sekalipun aku tidak pernah mencintainya, tapi aku tidak ingin dia jatuh karena pembelaannya pada suamimu. Dia punya impian yang mulia, dan aku ingin melihat dia bahagia. Dan dengan membela seseorang yang bersalah seperti suamimu, aku tak yakin dia bisa menggapai apa yang dia inginkan saat ini"
"kau munafik, saudariku" itu adalah ucapan terakhir yang Ted dengar keluar dari mulut ibunya, sebelum dia melihat ada bayangan seorang pria yang datang menghampirinya. Luka berangsur turun dari pangkuan Ted, saat pria itu datang. Dengan senyum ceria, diraihnya pria itu dan bergelut dalam dekapannya.
"papa..." Luka tertawa.
"kapan kau dan ibumu datang?" pria itu duduk disamping Ted, sedangkan Ted hanya diam tak bersuara. Sejak kapan pria ini berada disini? Sudahkah dia dengar semua kalimat yang juga telah didengar Ted sejak tadi?
"siang tadi paman" Ted menundukkan kepalanya menyimpan cemas.
"mereka ada didalam?" pria itu tersenyum lagi, sesaat tanpa menunggu jawaban dari Ted, dia bangkit melangkah keruangan yang tak jauh dari mereka, tempat istrinya berada. Mengajak Ted ikut serta menjumpai ibunya yang juga berada disana.
"maaf jika kemunafikanku membuatmu tak senang. Tapi, selama aku masih bernafas, tak akan kubiarkan siapapun mengganggu kebahagiaannya. Dan jika memang Ted harus kehilangan ayahnya, biarlah. Pria seperti itu tak cocok menjadi seorang ayah yang baik untuk anakmu"
Apa yang terpikir jika seseorang mengatakan hal seperti itu tentang ayahmu? Didepanmu?
Mereka mungkin tidak akan sadar jika sudah ada tiga orang yang berdiri disana sebelum Luka bersuara memanggil ibunya.
"mamaaaa..." Luka memaksa turun dari pangkuan sang ayah dan berlari kearah ibunya. Mata kedua suami istri itu terhubung beberapa detik sebelum suara sang istri menginterupsi keadaan.
"k-kau sudah pulang?" dan sambil merangkul Luka, wanita itu memandang gelisah wajah suaminya yang terlihat menggandeng tangan Ted disana.
"tidak baik membiarkan anak – anak mendengarkan pertengkaran kalian" pria itu melangkah, mengajak Ted ikut serta dan menghampiri ibunya.
"selamat sore, nee-san" ucapnya sopan lalu menyerahkan Ted kesisinya. Berangsur dari sana, dilangkahkan kakinya menghampiri istrinya yang kini memasang wajah penuh rasa bersalah.
"dia kakakmu, jika kita bisa membantu suaminya, lakukan saja"
"kau tidak mengerti, pria itu-"
"bagaimana jika Luka yang kehilangan ayahnya?"
Pria itu tersenyum, mengusap puncak kepala Luka yang kini tengah berada didalam dekapan istrinya. Memberi sebuah perandaian pada istrinya, jika saja.
"dan bagaimana jika Luka yang kehilangan ibunya karena perbuatan bodohmu?" itulah yang istrinya ucapkan sebelum dia menepis keras tangan suami dari kepala putrinya dan meninggalkan semua yang berada disana dalam diam. Membawa Luka dan semua emosi yang tersimpan didalam dadanya.
Ted hanya memahami dalam tatapan kecilnya, kepergian wanita itu, sikap wanita itu membuatnya tersadar akan suatu hal, jika mungkin dia sudah mulai dewasa memahami apapun yang tengah terjadi disana. Dia memahaminya.
"maafkan sikap kerasnya, tentang suamimu, biarlah menjadi tanggung jawabku. Nee-san"
Dan Ted tak pernah lupa akan semua hal yang telah terjadi saat itu. Semua hal yang mengubah apapun dalam hidupnya. Pertolongan ayah Luka, memang membuat ayahnya terbantu dan terlepas dari tuduhan satu, tapi tetap saja terjerat dalam tuduhan kedua, ketiga maupun keempat. Hingga ibunya mengalami frustasi yang jauh lebih berat. Saat berusia sebelas tahun, Ted datang menghampiri kediaman Luka. Ibunya butuh pertolongan, dan dia tak punya siapapun untuk dimintai tolong. Berharap paman baik hatinya akan membantunya kali ini, tapi percuma saja. Setibanya Ted disana, semua hal sudah berubah. tantenya tak lagi berada disana, dan sang paman tak lagi dalam keadaan sebaik yang dia tahu. Apa mungkin ini semua karena permintaan ibunya saat itu? Apa ini semua karena salah ayahnya yang tak tahu terimakasih itu? Semuanya sudah menjadi lebih sulit dari apapun. Jika saja tantenya masih ada disana, mungkin pamannya masih akan membantunya. Lalu salah siapakah semua ini? Jika saja tantenya masih berada disana, mungkin saja ibunya tak akan meninggal dengan keadaan paling tragis seperti ini. Lalu siapakah yang harus disalahkan? Apa ini salah ayahnya? Atau ibunya? Atau tantenya?
"lama menunggu?"
Malam itu, siapa saja pun akan terpesona karena uraian rambutnya yang begitu berwarna. Matanya pun seakan sanggup berbicara. Ted menggerakkan tubuhnya memberikan tempat bagi gadis itu untuk duduk disampingnya.
"lumayan, dua jam mungkin" pria itu tertawa, dan Luka juga. Ditengah taman, berselimut malam, sepasang insan sedang bertanya dalam diam. Sudah lima minggu Ted berada di kota itu, tersisa dua minggu lagi sampai akhirnya dia harus kembali ke kotanya tempat tinggalnya. Ada urusan pekerjaan yang mengharuskannya tinggal disana untuk beberapa minggu. Dan semua waktu yang terlewat diusahakannya untuk selalu bersama Luka, gadis kecil yang dulu teramat disayanginya.
"kapan pulang?" Luka memandang Ted dalam hening. Pemuda itu memang cukup tenang baginya.
"kau ingin mengusirku?" Ted tersenyum memandang Luka yang kini hanya menggerakkan tubuhnya untuk lebih rileks duduk disana.
"percuma" ucap sang gadis yang kini memandang bintang – bintang malam itu.
Ted membuka pintu ruangannya. Sebuah kamar sederhana di hotel yang sederhana pula. Luka menyusul melangkah dibelakangnya. Sebentar matanya memeriksa setiap sudut yang dianggapnya menjadi ruangan yang cukup rapi bagi seorang pria.
"malam ini menginap?" Ted mengambil beberapa kaleng bir dari dalam lemari pendingin dan menyerahkan satu bagian pada Luka yang kini sudah menyamankan dirinya duduk ditepi ranjang Ted. Sebab hanya itulah satu – satunya tempat yang bisa dia duduki disana. walau matanya masih merayap – rayap menikmati keheningan ruangan itu.
"kau cukup rapi juga ya?" Luka tersenyum meraih sekaleng bir itu dari tangan Ted dan meneguknya nyaris tak tersisa. Melihat kehebatan Luka dalam hal minum, Ted selalu punya caranya sendiri untuk mengangguminya.
"bagi seorang gadis, kau cukup jago minum Luka" Ted melepas lapisan kemejanya, melemparkannya kesegala arah dan duduk disamping Luka.
"sebenarnya aku benci alkohol. Tapi kau suka memaksaku, apa boleh buat" Luka merebahkan tubuhnya, menarik nafas dalam dan membuangnya panjang.
Sampai saat ini, bukannya Luka tidak tahu seberapa besar rasa dendam Ted pada ibunya. Ted yang menceritakan semuanya, tanpa ada perasaan yang ingin pria itu tutupi. Bahkan beberapa hari lalu, Ted pun mengungkapkan perasaannya pada Luka, dan Luka hanya tersenyum menanggapinya. Meskipun begitu, bukannya takut, Luka malah tidak pernah menolak jika Ted memintanya berjumpa.
"Kasane-san" Luka mengarahkan pandangannya menatap wajah Ted yang kini sudah menatapnya dalam diam.
"..sampai kapan kau memendam rasa benci pada ibuku?" tanyanya tenang, tanpa ragu.
"sampai dia tahu bagaimana rasanya aku kehilangan kebahagiaanku, Luka" Ted meneguk lagi minumannya, menghabiskan semua yang tersisa didalam sana dan ikut berbaur dalam pembaringan bersama Luka, mereka berdua saling menatap langit – langit kamar dalam diam. Tak ada yang berkata, tak ingin merusak keadaan yang ada.
"jadi, apa yang akan kau lakukan jika kau tak pernah lagi bertemu dengannya?" bahkan diapun tak lagi bisa memiliki ibunya sepenuhnya saat ini.
"masih ada kau Luka, masih ada kau yang bisa kusakiti, kan?" Ted tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah Luka yang kini hanya menatap hampa kekosongan dalam diamnya.
"apa kau bisa?" Luka menoleh dan mendapati tatapan Ted yang kini begitu dalam untuknya. Wajah mereka begitu dekat, Ted bisa merasakan aroma nafas Luka, sedikit bau bir yang bercampur padu dari hembusan nafas dari mereka berdua. Ada sensasi yang merayapi mereka disana.
"panggil aku Ted, Luka" Ted mengubah posisinya, menghadap Luka, sedang tangannya meraih wajah gadis itu dan menyentuh bibirnya. Begitu mesra dan intim.
"kenapa?" Luka meraih tangan itu dan menggenggamnya hangat.
"karena aku mencintaimu" dan sesaat sesudah kalimat itu keluar dari mulutnya, Ted sudah menuntun bibirnya untuk mengecup bibir gadis yang dicintainya. Hangat, pernuh dengan aroma. Luka membalasnya, membiarkan tangannya meraih seluruh tubuh Ted dan mendekapnya. Masih saling melumat, Ted meneggerakkan tubuhnya untuk berangsur menindih tubuh Luka, dari bibir, berpindah membasahi leher putihnya, membiarkan Luka mendesah erotis dalam dekapannya.
"anggap saja sebagai pembalasan dendammu pada ibuku" Luka melepaskan cumbuan Ted dan menatap pria itu dengan nafas penuh desahan. Gairahnya bangkit bersamaan kecupan panas yang Ted antarkan, ingin menikmati, ingin mengakhiri. Walau dia tahu hal bodoh seperti ini tak akan merubah apapun dari perasaan dendam Ted pada ibunya, tetap saja, Luka sudah terlanjur terlena dengan sensasi nafsu luar biasa yang sudah berhasil menyentuhnya.
"tidak.." Ted masih menindih Luka, namun dibukanya pakainnya sendiri perlahan dan melucutinya satu persatu hingga tak ada yang tersisa.
"ini aku anggap sebagai balasan cintamu padaku" ucap Ted kembali mencumbu Luka, membiarkan tangannya merayap melepaskan pakaian gadis itu perlahan, dalam gairah hingga mereka sama – sama tak berbusana malam itu. Sama – sama polos.
"Luka.. ahhh" Ted bisa merasakan betapa hangat Luka memeluknya. Betapa lembut dada terkasihnya menempel didadanya. Luka adalah gadis pertamanya, ini adalah pengalaman pertama bagi seorang Kasane Ted dalam bercinta, tapi ketidakpengalamannya bukanlah hal yang mengganggu bagi Luka yang mungkin sudah lebih dari berkali – kali melakukannya. Luka bisa menjadikannya sebagai penguasa, walau untuk malam ini saja.
"satu hal yang kumohonkan padamu, Kasane-san" Luka masih berusaha menyeimbangkan rasa sakit dan nikmat yang secara bersamaan menyerangnya saat dirasakannya milik Ted sudah memasuki dirinya. Ini bukan pertama kali dia melakukannya, tentu saja. Tapi rasa sakit itu jelas masih tetap ada.
"katakan Luka, katakan.." kini Ted merasakan genggaman Luka semakin kuat pada punggungnya saat di gerakkannya perlahan miliknya didalam sana.
"j-jangan pernah, ahh.." Luka meringis saat satu hentakan lumayan keras diberikan Ted padanya. "k-keluarkan cairanmu didalamku" lanjutnya penuh usaha. Kenikmatan yang Ted berikan padanya, membuatnya terlalu larut dalam permainan. Ted tersenyum.
"sebagai balasannya, akan kubuat kau menangis malam ini"
Luka terdiam saat kembali Ted mengunci bibirnya. Memaksanya bercumbu. Bagi Luka, tidak perlu ada rasa untuk melakukannya. Tapi bagi Ted, dia berusaha melimpahkan semua perasaan sayangnya pada sang adik kecilnya itu malam ini. Meski dendam itu masih akan tetap ada, mungkin sampai selamanya. Tapi biarlah malam ini, cinta dan nafsu yang berbicara diantara mereka.
ma, bisakah aku memaafkanmu?, batin Luka, sambil menikmati segala sensasi yang dia terima.
Sekali lagi. Malam itu, bukan malam pertamanya bercumbu, tapi malam itu adalah malam pertamanya membiarkan seseorang yang menaruh dendam pada ibunya, untuk membuatnya menikmati gairah.
~Hitam Putih~
kenapa, hitam dan putih selalu berdampingan?
Terdiam, melamun, dan merenung. Hanya itulah yang terlihat lebih sering dilakukan oleh Luka akhir – akhir ini. Bahkan rasanya senyum Kaito, perlakuan dan perlindungan dari sang suami tak lagi bisa membawa sifat hangat Luka yang dulu. Walau Luka yang dulu memang bukan tipikal wanita ceria yang suka berekspresi, tapi tetap saja Luka yang dulu dan yang sekarang terasa jauh lebih berbeda.
Kaito mendekatkan dirinya, ke tempat dimana Luka masih fokus dengan beberapa lembar data – data perusahaan yang dipandanginya. Malam sudah larut, dan ini sudah yang keberapa kalinya Luka membiarkan Kaito kesepian seperti ini. Di dalam hati, bukan karena ingin bercumbu, maka Kaito mendekatkan dirinya pada Luka, bukan juga karena ingin Luka menemaninya berbagi gairah maka Kaito menatap wajahnya. Tapi karena Kaito merasa jika Luka seakan ingin menghindarinya, dan karena itulah maka Kaito merasa amat kesepian sekarang.
Memberanikan diri untuk menyebut nama sang istri, dengan hati – hati Kaito menyentuh lembut pundak Luka. "ini sudah larut Luka, beberapa hari lalu kau baru saja terbaring sakit kan?" ucapnya berharap Luka tak tersinggung dengan perhatiannya, walau Luka memang tidak pernah melakukannya. Memandang wajah sang suami, Luka menampilkan satu senyum sederhana disana. Kalau Luka bisa jujur pada Kaito, Luka hanya ingin Kaito tidak terlalu mengkhawatirkannya, karena rasa peduli seperti itu seakan telah membuat Luka tersiksa.
"besok pagi aku ada pertemuan dengan beberapa kolega dari perusahaan lain, aku harus menyiapkan datanya" Luka menarik kembali tatapannya, dia tidak ingin tenggelam karena pesona Kaito yang terlalu peduli padanya. Kaito mendesah.
"bukankah itu harusnya pekerjaan sekretarismu? Jangan memaksakan diri, aku tidak bisa mengontrol diriku jika melihatmu sakit lagi, sayang" Kaito kini mendekatkan wajahnya, mensejajarkan tingginya setara dengan Luka yang sedang duduk, memandang wajahnya, menyelami seberapa dalam hal yang tidak lagi bisa dia cari tahu dari sang istri, Kaito seakan merana.
"Kaito.., aku.." ucapan Luka terhenti saat dirasakannya tangan Kaito sudah mendekapnya begitu erat. Erat penuh perlindungan padanya, tapi entah kenapa Luka seakan ingin menangis karenanya.
"aku mencintaimu Luka, sejak dulu, jangan lupakan itu" Kaito membenamkan wajahnya pada bahu Luka, merasakan harum tubuh itu, membiarkan wajahnya menggapai leher indah sang istri dan terdiam disana. Luka menahan keperihan itu dalam batinnya. Keperihan yang seakan sudah merebut semua kebahagiaannya sejak dulu.
"aku.. tahu," Luka mengangkat tangannya membalas dekapan sang suami. Aku tahu Kaito, aku tahu, batinnya lagi. "lalu, kenapa kau seakan ingin menghindari ku sekarang?" Kaito mengangkat wajahnya memandang tepat ke kedua iris biru sang istri.
"aku tidak pernah menghindarimu" Luka ragu untuk merespon, tapi dia tidak mau Kaito terlalu paham dengan apa yang dia rasakan kini.
"jika lelah, kau bisa ceritakan padaku Luka, jika demi mu, apapun akan kulakukan. Dari dulu, aku tidak terlalu suka kau memilih untuk memimpin perusahaan ayahmu. Apa karena hal ini kau terlalu banyak berpikir? Aku tidak ingin melihat istriku jauh lebih baik dari ku, aku tidak ingin kau terlalu serba bisa dariku Luka, aku ingin kau tetap diam dirumah, menungguku pulang, menyiapkanku makanan, biar aku saja yang bekerja, aku ingin membiayai hidupmu dengan upaya dan kerja kerasku sendiri, jika memang pekerjaan sebagai seorang aktor tidak bisa memberi kecukupan untuk keluarga kita, demi mu, aku akan kembali pada kedua orangtua ku dan mengambil ahli perusahaan yang mereka berikan padaku. Jangan menyiksa dirimu Luka, aku takut" Kaito membelai wajah sang istri begitu lembut, tatapan senduh, desakan rasa khawatir itu terlihat begitu jelas dari wajah Kaito.
Ingin rasanya Luka menangis saat ini, membohongi Kaito lebih banyak bukanlah keinginannya. Jika saja Kaito tahu yang sedang dia pikirkan saat ini adalah semua hal yang sudah menjadi aib bagi kehidupan mereka, apa Kaito masih akan tetap melindunginya seperti ini? Berkali – kali Luka menyesali kebodohannya, tapi meskipun begitu semua akan sama saja, tidak akan ada yang berubah. Namun, jika memang tak akan ada yang berubah walau dia akhirnya memutuskan untuk memberitahukan kenyataan yang sedang dia jaga baik – baik pada Kaito terutama, dia akan memilih untuk mengatakannya. Tapi memikirkan mungkin dia memang bisa menjaga rahasianya, mungkin Yuuma juga bisa menutup mulutnya, lalu bagaimana dengan Kasane Ted? Itulah yang Luka pikirkan sekarang. Walau fakta kehamilannya bisa dia katakan pada Kaito sekarang juga, tapi bagaimana dengan rumor yang Kasane tahu bahwa Yuuma mungkin salah satu pria yang harus bertanggung jawab padanya.
Ini adalah pagi dimana Kaito harus rela meninggalkan Luka, dari hasil pertemuannya dengan Gakupo di hari – hari yang lalu, Kaito memang harus terima konsekuensinya, dia adalah seorang aktor dan ini bukanlah hal yang harus dia sesali, saat akhirnya dia harus menerima kenyataan jika dia harus pergi meninggalkan Luka dalam beberapa minggu nanti untuk terbang ke negeri orang. Luka selesai dengan sarapan yang baru selesai disajikannya. Di meja makan, Kaito sudah duduk diam sambil memandangi wajah Luka yang masih terlihat sibuk dengan kegiatan dapurnya.
"Luka, apa tidak apa jika aku meninggalkanmu beberapa minggu nanti sendirian?" Luka mencoba tersenyum, walau dia juga tidak yakin untuk melepaskan kepergian Kaito, dia tetap tersenyum. Belum ada yang bisa diputuskannya, dan menyembunyikan kehamilannya masih merupakan jalan terbaik sebelum dia memikirkan hal lain nanti. Mungkin setelah Kaito kembali.
"jika kau takut aku akan sendirian, bisa kupastikan aku tidak akan sendirian Kaito" Luka menarik kursinya, duduk berhadapan dengan sang suami dan meja makanlah pemisahnya.
"aku akan menyuruh Miku-chan untuk menemanimu, atau lebih baik kau tinggal saja dengannya untuk beberapa hari, agar aku tidak terlalu cemas memikirkanmu" Kaito masih menaruh rasa khawatir berlebihan tentang Luka, memancing Luka tersenyum tulus padanya.
"kau tidak usah takut, semua orang bisa memperhatikanku jika mereka mau. Kau lupa siapa aku, dan siapa ayahku" Luka rindu suasana hangat seperti ini, sangat rindu berbicara senyaman ini pada suaminya.
"baiklah.. baiklah" Kaito tertawa jenaka, siapa saja pun bisa memperhatikan Luka, siapa saja. Kaito hampir lupa siapa yang menjadi istrinya kini, seorang putri dari seorang menteri, Kaito memang sudah hampir lupa, karena kehidupan Luka yang dia lihat memang terlalu jauh dari kemewahan yang orang – orang bayangkan.
Selesai sarapan, Kaito bersiap untuk pergi meninggalkan Luka, meninggalkan Jepang untuk pekerjaannya. Hanya ada Gakupo yang menemaninya disana nanti. Walau harapan untuk bisa membawa Luka adalah impiannya, tapi Gakupo melarangnya. Kaito mendekap Luka erat, memberikan satu kecupan cukup hangat pada bibir sang istri, dan dibalas Luka sama hangatnya.
"maaf jika aku tidak bisa mengantarmu ke bandara Kaito" Luka menahan tubuh Kaito yang mungkin akan lepas dari dekapannya, masih menatap wajah sang suami begitu damai disana.
"aku yang harus minta maaf, Gakupo tidak mengijinkanku untuk membawamu bersamaku" Kaito mengecup lagi pipi Luka singkat dan membelainya. "jangan dirimu baik – baik Luka, jangan sakit lagi" Kaito mengusap lembut surai merah muda sang istri.
"kau juga, usahakan makan yang teratur, dan-" lagi – lagi, Kaito menghentikan ucapan Luka dengan kecupannya. Dia begitu tak rela meninggalkan wanita itu, sangat tidak rela.
"baik, bu dokter" bisik Kaito sebelum mereka terpisah. "aku akan menyempatkan diri untuk menelponmu jika ada waktu. Jika tidak, aku akan lebih sering mengirim email padamu" Kaito masih melambai terus – menerus sampai Gakupo cukup kesal dan menarik tubuhnya untuk segera masuk kedalam mobil. Luka tertawa.
"jaga dirimu baik – baik, nyonya Shion" Gakupo pamit dan segera mengemudikan mobilnya untuk segera menghilang dari pandangan Luka saat Luka sudah melambai kepada mereka berdua. Sekarang tinggallah Luka, masih dengan sekelemit masalah batin yang membungkus dan menghantuinya. Namun, saat memikirkan hal – hal itu, Luka mengalihkan perhatiannya cepat saat dia melihat ponselnya menyala di atas sofa ruang tamunya. Luka ingat dia ada pertemuan penting hari ini, pertemuan cukup penting karena Luka lah satu – satunya yang mereka harapkan untuk hadir disana, rapat tentang investasi dana yang Luka cetuskan untuk pembangunan rumah sakit di daerah – daerah yang masih belum memiliki fasilitas kesehatan yang lengkap. Tapi, saat mendapati nama Kaito menyala – nyala di layar lebar ponselnya, Luka pun bertanya – tanya.
"apa ada yang ketinggalan?" Luka langsung bertanya dengan cepat.
"ada, aku meninggalkan cintaku di hatimu" ucap Kaito dengan sebuah senyuman yang tak bisa menghilang cepat dari wajahnya. Gakupo yang mendengar dan melihat senyum itu seakan ingin menendang Kaito keluar dari mobilnya karena terlalu risih melihatnya.
Luka tersenyum.
"aku akan menjaganya" sang istri menjawab mantap.
"kau bisa menepati janjimu Luka?" Kaito terdengar cukup serius disana.
"cepatlah kembali, jika kau merindukanku nanti"
"sekarangpun aku sudah merindukanmu, kau tidak apa – apa jika nanti akan ada adegan panas dengan artis lain saat aku bekerja nanti?" Kaito ingin membuat Luka terkesan cemburu padanya.
"aku yakin kau bisa menjaga apa yang menjadi milikku Kaito" senyum Kaito semakin mengembang, dibiarkannya Gakupo mendengar kalimat terakhir yang Luka ucapkan padanya, membuat dia semakin bangga dengan keberadaannya.
"kau dengar itu, Gakupo-san? Seberapa bahagianya memiliki istri seperti Luka" ucap Kaito sesudah dia menutup telponnya, dan Gakupo cukup senang melihat tingkahnya. Paling tidak dia memahami bagaimana kebahagiaan Kaito yang saat ini seakan sedang berdendang dalam rindunya.
Oliver memandang Miku penuh detakan, wajah sang terkasih kini terlihat begitu cerah dari biasanya. Tampil begitu cantik dan memukau, begitu hidup dan menggairahkan dimata Oliver. Hingga pemuda itu seakan tak mampu menahan tangannya untuk mendekapnya disana.
"Oliver-kun, jangan sembarangan. Kau tahu kan kita sekarang berada dimana?" Miku menepis tangan Oliver yang sudah mendekapnya erat dipinggulnya. Oliver seakan tak mau peduli dimana mereka sedang berdiri, terhimpit oleh belasan orang dalam keadaan terdesak di dalam lift, sepertinya bukan suatu alasan untuk Oliver menabur senyum pada Miku. Menuju lantai yang sudah ditetapkan sebagai tempat pertemuan di perusahaan itu.
Semua orang yang berpenampilan cukup formal berjalan menuju arah yang sama, perwakilan dari beberapa perusahaan yang di undang. Ada sekitar enam perusahaan yang menjadi sponsor utama, jug sebagai panitia pelaksana yang bertanggung jawab, dan perusahaan milik Luka adalah salah satunya. Dan ada belasan perusahaan lain yang turut diundang untuk merekrut mereka dalam negosiasi. Dan saat ini semua dari perwakilan perusahaan datang untuk mempertemukan ide mereka dalam pertemuan.
Luka memandang dua rekannya, lebih tepatnya sekretaris dan penasehat perusahaan yang akan mendampinginya dalam pertemuan. Semua orang mungkin tak akan percaya melihat kemunculannya, apalagi jika mereka sudah tahu bahwa Luka hanya memiliki pengetahuan dalam ilmu kedokteran, dan jika mereka melihat Luka lah yang menjadi pembicara di pertemuan ini, mungkin mereka akan meremehkannya lebih dari apa yang mereka inginkan. Disisi – sisi lain, beberapa kamera dari media cetak dan elektronik sudah berkumpul, mereka memang diundang, atau lebih tepatnya mereka mungkin akan datang tanpa di undang sekalipun. Sebab ini adalah proyek besar yang satu – satunya terjadi berdasarkan misi kemanusiaan, dan yang cukup menarik adalah, mereka bisa melihat kemunculan Luka disana.
Miku duduk bersebelahan dengan Oliver, mereka tidak memiliki meja untuk mewakili perusahaannya sendiri, sebab mereka hanya para undangan, begitu juga dengan perusahaan yang Oliver wakili, SEGA group sama sekali tak turut serta dalam pembentukan panitia pelaksananya. Masih mengulur waktu untuk mengumpulkan semua para undangan, Miku memperhatikan enam meja dari enam nama perusahaan yang turut serta sebagai sponsor utama didepan mereka. Tentu perusahaan yang Luka pimpin adalah salah satunya, dan satunya lagi, Miku cukup tahu perusahaan milik siapa itu, dan saat memikirkan siapa orangnya, Miku sudah melihat pria berambut sewarna dengan Luka sudah memasuki tempat pertemuan. Miku menelan ludahnya resah.
Yuuma duduk di meja yang nama perusahaannya tertera dengan jelas, menghadap pada para undangan yang memang diatur sebaik mungkin agar mereka saling berhadapan. Miku bisa lihat seberapa tegas Yuuma memasang wajahnya, dia memang tampan, Miku akui itu, tapi meskipun begitu, memikirkan bagaimana nasib Luka karena perbuatannya, Miku mungkin sudah menaruh rasa benci padanya.
"ada apa? Kau terlalu tegang dalam pertemuan ini" Oliver menyentuh lembut tangan Miku, seakan paham ada aura membunuh yang kekasihnya itu miliki saat ini, membalas sikap Oliver, Miku hanya tersenyum padanya.
Miku masih larut dalam pikirannya sampai dia mendengar suara riuh dan tepuk tangan mengisi ruangan, sudah ada desakan reporter disana, kilauan kilat kamera pun memenuhi pandangan, seakan tahu ini ulah siapa, Miku menyebutkan nama Luka dalam hatinya, dan sang kakakpun terlihat. Miku tersenyum cukup lega.
"apa kabar nona? Bagaimana kehidupan rumah tangga anda?"
"apa ini adalah debut pertama anda sebagai pebisnis?"
"maaf, saya sedang terburu – buru" ucap Luka, tanpa memandang, menampilkan senyum pudarnya, senyum tak bernyawa miliknya. Dan kerumunan reporter itu tiba – tiba menghilang sesaat petugas keamanan datang mengamankan. Luka duduk di tempat dimana nama perusahaannya tertera, berdampingan dengan sang sekretaris yang sejak tadi selalu berada disisinya. Dan saat keberadaannya sudah ada disana, pertemuanpun dimulai. Mengabaikan kehadiran Yuuma seperti mereka tak pernah mengenal sebelumnya, Miku mendesah tak berarti.
Selama pembicaraan – pembicaraan dalam pertemuan diutarakan, Miku tak pernah bisa berkosentrasi dengan apapun yang mereka bicarakan disana. Bukan hanya matanya, namun mata semua orang rasanya tak pernah berhenti memandang Luka dan Yuuma yang tampak begitu hidup memperdebatkan ide dari proposal milik mereka masing – masing. Mereka tidak sedang bertengkar, hanya sedang berargumen, mungkin orang yang melihat tanpa mengenal mereka akan berpikir mereka adalah orang – orang yang berkompeten untuk perusahaan masing – masing, tapi bagi Miku yang tahu kebenarannya, mereka terlihat seperti sedang berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri. Miku menangkap jelas, bagaimana lembutnya Yuuma memandang jauh kedalam mata Luka saat berbicara, walau senyumnya tak terlihat, tapi Miku tahu seluruh jiwanya memuja Luka saat itu. Miku juga bisa menangkap jelas raut wajah tak terartikan Luka saat memandang Yuuma dihadapannya, selalu ada saja gelagat tersembunyi yang tak bisa disembunyikannya dari Miku seorang.
Oliver menundukkan kepalanya, berbisik pada Miku, debat argumen kedua orang itu mungkin sudah menguasai pikirannya juga.
"sebagai pendatang baru di dunia bisnis, aku rasa Luka-san cukup hebat menghadapi persoalan seperti ini, belum lagi pemuda itu cukup luwes menjadi lawan bicaranya" ucapnya berbisik, walau terlihat Miku tak ingin merespon sebab matanya masih tetap memperhatikan mereka disana, tapi dia mendengar semua ucapan Oliver yang hanya ditunjukkannya padanya.
Meiko menggenggam erat alat tulisnya, dia ada disana karena pekerjaannya sebagai seorang reporter, tapi bukan itu yang membuatnya terdiam, melainkan pemikirannya yang juga seakan ikut terpana dengan keberadaan Luka dan pria yang dia kenal bernama Yuuma didepan matanya. Percakapan mereka terlalu kaku sebagai seorang yang mungkin bisa dibilang dekat atau lebih. Meiko bukannya tidak tahu sejauh apa hubungan kedua orang itu dulu, walau dia tak pernah melihat, tapi Len tidak mungkin membohonginya. Yang dia tahu dari Len, Luka mencintai pria lain yang tak lain adalah Yuuma saat mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka secara dewasa. Urusan keyakinan kenapa akhirnya Luka dan Kaito menikah, Meiko pun punya pemikirannya sendiri. Dia tahu siapa Kaito dan Luka sejak dulu, dan perjodohan yang diumumkan ayah Luka mungkin salah satu pengaruh yang kuat akan pernikahan mereka. Jadi, Meiko sekalipun tak pernah berniat bertanya akan pernikahan Luka dan Kaito meskipun dulu dia sempat mendengar Luka dan Yuuma memiliki hubungan. Tapi saat ini, rasanya ada sesuatu yang asing yang tampak merajai pikirannya. Apa mereka berdua memang selalu terlihat asing seperti ini?
Oliver mengulurkan tangannya meraih Miku bangkit dari kursinya. Pertemuan selesai, dari semua undangan yang hadir, beberapa perusahaan yang diundang ikut berpartisipasi dalam proposal yang Luka terangkan, tentu saja proposal yang juga disetujui oleh keenam perusahaan yang menjadi panitia pelaksana. Sedangkan Miku, dia sama sekali tidak berminat, sebab sejak dulu dia memang tidak terlalu suka menjiwai pekerjaannya secara berlebihan.
Beberapa orang terlihat sibuk meninggalkan ruang pertemuan, namun beberapa reporter malah mengerumuni beberapa orang penting disana secara bergantian. Mereka memang punya peran untuk mengemukakan opini mereka, Luka juga, tentu saja. Tapi terkadang pertanyaan dari seorang reporter bisa menjadi pertanyaan yang terlalu menyulitkan baginya.
"apa alasan anda mengajukan proposal ini, Megurine-san?" beberapa dari mereka masih memanggil namanya dengan nama ayahnya, tapi Luka tak terlihat ingin mempermasalahkannya. Sesaat Luka menjawab pertanyaan itu, Yuuma menyempatkan diri untuk melirik kearahnya berkali – kali, rindu rasanya menatap Luka dengan senyuman. Tapi dia harus menahan perannya.
"apa menjadi seorang pengusaha jauh lebih menguntungkan dari pada menjadi seorang dokter?" dari beberapa pertanyaan, Luka cukup kesal mendengar pertanyaan ini, tapi dia tetap tidak tahu bagaimana caranya menghindari pertanyaan dari mereka, tetap saja dijawabnya, dan setelah pertanyaan satu selesai, pertanyaan lain pun menyusul.
Disisi lain, Meiko terlihat cukup maksimal mewawancarai beberapa petinggi dari perusahaan lain, harusnya dia juga mewawancarai Luka, ini juga bagian dari pekerjaannya. Tapi rasanya dia tidak begitu ingin, atau mungkin sedang memikirkan kesempatan paling bagus untuk berbicara dengannya. Tapi saat memikirkan kesempatan itu, Meiko merasa ada sentuhan cukup keras dibahunya, Meiko menoleh.
"selamat siang, lama tidak berjumpa, Sakine-san" kini, Meiko melihat ada bayang wajah penuh senyuman yang begitu dikenalnya.
"Kasane-san?" nama itu keluar begitu saja, nama itu terucap dengan sendirinya. Mungkin Meiko tidak pernah berpikir jika dia akan bertemu dengan Ted disini, atau mungkin, bukannya tidak kepikiran bertemu, tapi setiap mereka berada dimasa dan tempat yang sama, mereka berdua tidak pernah saling bertegur sapa seperti ini kecuali dipertemukan. Ted tahu andil Meiko cukup besar di media sosial, dulu Meiko pernah menulis artikel tentangnya, dan Meiko cukup tahu jika Ted bukanlah orang yang suka dijadikan objek dalam pemberitaan. Tapi meskipun begitu, Meiko tak pernah menunjukkan kegentarannya, itulah kenapa Meiko begitu diakui di dunianya.
"anda terlihat tak tertarik dengan pemberitaan – pemberitaan ini, tidak ikut berburu?" Ted memasang senyumnya, dan Meiko bisa melihat ada beberapa luka yang menghiasi wajahnya.
"ah, ini.." Ted menunjuk beberapa luka itu, seakan tahu Meiko memperhatikannya. "ada sedikit insiden, dan tenang saja, ini tak cukup hebat dijadikan berita.." ucapnya mendekatkan diri ke posisi Meiko. Dia tersenyum.
"..sebab aku punya berita yang lebih menarik" lanjutnya seakan tak mengurangi senyum di wajahnya. Meiko terkenal dengan ketajaman ilustrasi didalam beritanya, juga ketajaman instingnya saat membuat berita, Meiko tidak terlalu suka memburu hal yang sedang terjadi dimasyarakat, dia seperti dewi yang selalu tahu semua hal yang menjadi misteri orang lain, dan Ted pernah membaca mahakarya Meiko saat wanita itu membuat artikel tentang Megurine Luka dulu, semua tentang Megurine Luka, dia umbar dalam satu media dan menjadi trend topik yang berkepanjangan, walau Meiko tidak pernah menyertakan gambar Luka disana, tapi tetap saja, artikel yang Meiko buat tentang putri tunggal sang menteri yang misterius itu cukup menyedot pandangan publik. Dan dari sana, Ted juga Meiko sering bertemu, hingga pada akhirnya mereka juga seakan terikat dengan hubungan tak enak satu sama lain. Ted tahu jika Meiko mungkin cukup membenci Luka, sangat tahu sebab Meiko lah yang mengumbar semua aib Luka dulu pada Kasane, tapi memandang keadaan sekarang, rasanya Meiko cukup menyesal dulu pernah melakukannya.
"apa maksudmu?" Meiko sebenarnya tak begitu tertarik. Apapun yang berasal dari Kasane Ted saat ini bukanlah sebuah ketertarikan lagi padanya. Tapi sepertinya pria itu terlalu berkeinginan untuk mendesaknya.
"berita berharga tentang Yuto Yuuma, pewaris VY2" mungkin, Meiko harus mempertimbangkan penolakan yang akan diungkapannya. Dia tidak pernah punya kesempatan membuat apapun yang bersangkutan dengan pewaris itu, tidak pernah. Tapi, baginya mungkin sudah terlalu pantang menerima sesuatu dari Ted, untuk itu dia memutuskan untuk tak ingin tahu apapun sekarang. Apalagi keadaan begitu ramai, Meiko tidak ingin disalahkan.
"maafkan aku, aku tak berminat-"
"tidak usah takut, terserah jika kau terlihat tidak peduli atau peduli, bisa kau siapkan rekaman untukku?" Ted mendesak semakin kuat, Meiko tak tahu harus berbuat apa, tapi mungkin ide bagus nya memang seperti ini, mungkin setelah mendengarkan Ted bicara, maka semuanya akan berakhir, Meiko tidak mau terlihat dengan orang seperti dia saat ini, dan dengan begitu Meiko pun bisa menguasai rekaman itu dengan kemauannya. Kuasa ada ditangannya jika pun dia tidak terlalu suka apapun yang Ted ucapkan kelak. Sekarang hanya harus bersandiwara untuk menuruti kemauan pria ini.
"tak usah takut, mungkin ini tak semenarik berita yang sering kau dapatkan, tapi aku rasa ini berita yang cukup penting untuk kau dengar" Ted melihat Meiko sudah mengeluarkan alat rekamnya, diraihnya alat itu cepat dan menghidupkannya.
"dengarkan baik – baik" ucap Ted merapatkan posisinya kehadapan Meiko begitu intim, hingga Meiko memilih untuk mundur beberapa langkah, diraihnya tangan Meiko yang menggenggam perekam itu lebih dekat kemulutnya, sedangkan matanya tajam memandang Meiko disana. Disisi lain, Miku tanpa sengaja melihat mereka dari kejauhan, dia cukup kenal dengan kedua orang yang kini cukup intim berdiri disana, dan langkahnya pun kini menuju kesana.
"Miku-chan, kau mau kemana?" Miku tak mendengar ucapan Oliver, bukan tak mendengar, tapi mungkin dia tidak terlalu ingin mengalihkan pandangannya kearah lain sebelum kedua orang diujung sana menghilang karena kesalahannya, dan memilih untuk tetap memanggil, Oliver pun mengikuti langkahnya.
Disisi lain, Yuuma masih mengikuti kemana arah Luka berjalan, menunggui semua orang disana mengalihkan perhatian hingga dia bisa menarik tangan Luka ketempat lain dan berbicara padanya. Dan kesempatan yang dia tunggu itu seakan datang lebih cepat dari panjangnya harapannya. Setelah melihat keadaan, Yuuma langsung menarik tangan Luka dan menariknya kesudut ruangan, ditempat dimana tak ada orang yang mungkin memperhatikan mereka disana. Luka sedikit kaget saat dia merasa ada tarikan cukup keras ditangannya, namun saat warna rambut pria itu terlihat dalam pandangannya, dia seperti tak bisa berbuat apa - apa. Yuuma memojokkan tubuh Luka menempel di dinding, dan menahan dengan tubuhnya, memandang wajah wanita itu dalam saat mata Luka pun mengikat penglihatannya.
"aku merindukanmu" ucap Yuuma berbisik lembut di telinga Luka, dan Luka hanya bisa mendorong tubuh Yuuma lebih jauh darinya.
-][-
"mungkin aku harap ini akan menjadi rahasia kita saja, Yuto Yuuma, akan segera menjadi seorang ayah" Ted tersenyum, parasnya memang rupawan, tapi Meiko bukan tercengang oleh karena itu, tapi lebih karena ucapan yang baru saja dia dengarkan.
"apa maksudmu?" Meiko tak paham, dia benar – benar tak menyangka.
"istri dari Shion Kaito calon pewaris SEGA Group sedang mengandung anak dari Yuto Yuuma, pewaris VY2, apa kau paham?" Meiko merasa darah disekujur tubuhnya mengalir terlalu cepat. Dia merinding, kalimat yang disertai senyuman Ted membuatnya seakan mati rasa. Dan sesaat setelah itu, Miku dan Oliver menghentikan langkah kakinya secara bersamaan. Bayangan dari kedua orang itu, sukses membuat Meiko mendorong keras tubuh Ted yang mendekapnya erat tadi.
"apa yang kau katakan tadi?" kini Oliver bisa merasakan, mungkin dia memang bisa memastikan dalam posisi yang bagaimana Miku yang kini disampingnya. Jelas sekali jika gadis itu cukup terkejut mendengarnya. Bukan karena dia baru tahu, tapi mungkin karena dia tidak pernah tahu jika selain dia dan Luka, ada orang lain yang tahu tentang ini.
"hei, katakan padaku, apa maksudmu?" Miku melangkah spontan kearah Ted, dia menahan kemarahan dalam dirinya, seluruh tubuhnya menegang, jangan katakan jika ini akan menjadi akhir untuk semua kehidupan Luka. Miku memandang Ted penuh tanya, senyum sinis Ted menjadi sesuatu yang begitu ingin dia singkirkan saat ini juga dari pandangannya.
"Miku-chan, tahan dulu, kita bisa bicarakan ini baik – baik" Oliver menahan langkah Miku dengan genggaman di lengannya, tapi Miku tak peduli, dia tetap melangkah dan memandang Ted dengan tajam.
"kau, gadis yang tinggal bersama dengan Megurine-san kan?" Ted mengabaikan tatapan tajam Miku padanya.
"katakan padaku, apa maksudmu mengatakan itu, jawab?!" desak Miku, menarik kemeja Ted dan seakan ingin sekali melahap pria itu dan membuatnya terdiam selamanya.
"Miku-chan, lepaskan dia. Semua orang sedang memandangimu" Oliver tetap menahan Miku, melihat keadaan disekitar, sudah banyak mata yang memandangi kearah mereka. tapi entah kenapa Miku tak berpikir sehat akan itu.
"Kasane-san, pergilah. Kau bisa merusak suasana diruangan ini" tak bisa melarang Miku, Oliver melangkah mendekati Ted, rekannya. Tapi pria itu seakan tak mau peduli.
"kau ingin aku mengulangi ucapanku?" Ted berucap sambil tangannya menepis genggaman Oliver, dan tatapannya lekat seakan ingin menertawai Miku disana, Miku makin menggeram.
-][-
"apa kau sudah makan Luka? makan apa?" Luka menolehkan wajahnya, Yuuma menatapnya terlalu lekat, juga posisinya terlalu dekat dengannya. Yuuma bukannya tidak tahu ketidaknyamanan yang Luka tunjukkan, tapi rasanya dia suka melihat sifat Luka yang seperti itu, dan ingin selalu menggodanya seperti itu.
"jaga kesehatan Luka, kau sedang hamil. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada anak kita, tapi walaupun ku nasehati juga percuma, kau masih lebih mengerti apapun tentang kesehatanmu sendiri" Yuuma masih menaruh senyum diwajah tampannya. Harum tubuh Luka begitu kuat merasuk di penciumannya.
"aku harus pergi, Yuuma"
"apa kau sudah pergi untuk memastikan kehamilanmu Luka?" Yuuma mengabaikan ucapan Luka.
Dan mendengar itu, Luka terdiam. Belum ada keputusan yang diambilnya.
"hari ini aku kosong. Jika kau mau, aku akan menemanimu"
Luka mengangkat kepalanya seketika, memandang Yuuma menahan kesal, sepertinya ucapan itu terlalu menyebalkan baginya. "jangan gila! Semua orang mengenalku sekarang, apa yang akan mereka ucapkan saat tahu aku memeriksakan kandunganku bersama orang lain selain suamiku?"
"aku hanya ingin bertindak sebagai calon ayah yang baik untuk anakku kelak" Yuuma masih memandang dalam kewajah Luka, tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik mereka seakan terhanyut dala perasaan masing – masing.
"diamlah" Luka menarik pandangannya, terlalu lama menatap pria itu membuat perasaannya berkecamuk tak nyaman.
"Luka..." Wanita itu mengabaikan seberapa lembut namanya dipanggil. Selembut bagaimana Kaito memanggilnya. Jika saja Kaito yang memanggilnya saat ini, ingin rasanya Luka mengangkat kepalanya dan memandang si pemilik suara. Tapi dia tahu, Yuuma lah yang kini sedang berada didepannya, menghimpitnya. Dan rasanya aroma tubuh Yuuma pun begitu mudah diingatnya, dan hangat tubuhnya pun masih begitu jelas terasa.
"kapan kita menemui orangtuaku?" ucap Yuuma sengaja ingin memonopoli pandangan Luka padanya, sebab dia tahu jika Luka mungkin akan mengangkat kepalanya saat pertanyaan itu sampai di akal sehatnya. Yuuma tidak mau tahu, cara apapun akan dilakukannya agar Luka mau memandangnya saat ini.
"apa maksudmu?" Luka mengangkat tangannya, meraih lengan Yuuma yang menahannya tubuhnya dan mencengkramnya kuat. Pertanyaan itu membuatnya takut, begitu takut dan terbebani.
"mereka harus tahu jika kau sedang mengandung cucu mereka" Yuuma mendekatkan wajahnya pada wajah Luka seakan berbisik. Luka menjauh.
"Yuuma.." amarah diwajahnya, Yuuma bisa lihat itu dengan jelas. Bencilah padaku, Luka. kau berhak membenciku, bencilah padaku lebih besar lagi, Yuuma membatin.
"atau, aku yang akan mengajak mereka ke rumahmu?" lanjutnya lagi, pura – pura tak mau peduli seberapa besar kekesalan Luka saat ini.
Hening sejekan menguasai pikiran mereka, desahan nafas Luka terasa begitu hangat oleh Yuuma. Apakah diam saja sudah cukup untuk memaksa Yuuma menjauh darinya saat ini? Rasanya, dimaki pun Yuuma tetap tidak peduli, tapi untuk saat ini, bahkan bertengkarpun Luka sedang tak punya kekuatan.
"beri aku kesempatan Yuuma..." Yuuma tak pernah menduga jika ucapan selemah itulah yang akan keluar dari yang dia cinta. Senyum diwajah Yuuma memudar seketika.
"beri aku kesempatan untuk bahagia dengan Kaito, a..aku.." Luka tak pernah tahu sejak kapan matanya menjadi basah, suaranya pun menjadi begitu berat dan nyaris tak terdengar. Ditundukkannya kepalanya saat akhirnya Yuuma pun tergerak cepat membuat jarak antara tubuhnya dan Luka, memandangnya penuh haru dan rasa bersalah.
Luka terisak. Yuuma mengulurkan tangannya untuk meraih wajah basah itu dan meletakkannya didadanya. Mendekapnya, merasa bersalah. Diredamnya suara isakan itu, tak ingin dengar.
"aku tidak ingin melihatnya menangis, Yuuma. maafkan aku.., ma-maafkan aku.." kini Yuuma tak lagi mampu menahan hasratnya. Didekapnya Luka begitu penuh perlindungan dengan kedua tangannya, dengan seluruh tubuhnya.
"aku pun tak ingin melihatmu menangis, Luka. maafkan aku, aku hanya bercanda. Aku hanya ingin kau menatapku. Aku... minta maaf".
Bagaimana mungkin Yuuma bisa melepaskan wanita yang begitu sangat dicintainya? Dan Yuuma pun merasa jika Luka yang sebenarnya pun masih menaruh sebagian rasa untuknya. Namun Yuuma juga berusaha memaksa untuk memahami jika sebagian lagi adalah milik Kaito.
Meiko tiba dirumahnya. Wajahnya terlihat frustasi. Dihempaskannya tubuhnya setelah melempar tasnya kesegala arah. Hari ini dia benar – benar hampir gila. Belum lagi masalah kepergian Gakupo yang akan meninggalkannya berminggu – minggu, masalah lain pun seakan ingin menyita pikirannya. Meiko tak habis pikir, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Ted pagi tadi. Sial, berusaha untuk tidak mau peduli dengan ucapan dan pengakuan itu, tapi tetap saja pikirannya masih tertuju kearah sana.
"kau sudah pulang, nee-chan?" Meiko segera bangkit saat diluar pintu sana dia mendengar adiknya menanyakan kepulangannya. Melangkah kearah pintu sambil menjawab "ya, baru saja" lalu dibukakannya pintu itu untuk menemui sosok yang begitu disayanginya.
"aku akan memasak sedikit makanan untuk makan malam" Len tersenyum lembut sambil mengangkat dua kantung di kedua sisi tangannya. Berusaha memamerkan pada kakaknya apa yang sedang dia punya saat ini.
"manis sekali" ucap Meiko menyentuh lembut wajah Len.
Bagaimana bisa dia membenci Luka saat ini saat dia tahu, Len yang sekarang begitu berbeda dari Len yang dia kenal dulu. Sejak mengenal Luka, Len memang mengalami perubahan sikap, walau keputusan Luka memang membuatnya murka saat itu, tapi pada akhirnya inilah perubahan dari Len yang bisa Meiko nikmati.
Ditatapnya tanpa henti wajah Len, meski pemuda itu sedang sibuk dengan beberapa bahan masakannya, namun tidak ada niatan Meiko untuk membantunya.
"kau sangat cocok dengan apron itu Len" Meiko tertawa, saat dilihatnya Len bergaya dengan benda yang menempel di tubuhnya itu. memang terlihat sangat cocok.
"aku ingin jadi suami yang sayang istri kelak, nee-chan" ucap Len kembali dengan kegiatan masak – memasaknya. Meiko mendengarkan.
"apalagi jika aku pandai masak. Aku ingin membuatnya bahagia dengan memasak makananku setiap hari" Len menoleh singkat untuk menunjukkan senyum putihnya pada Meiko. Ya, dia sudah berubah.
Sekarang tak ada lagi Len yang dia tahu suka bermain wanita saat dulu. Padahal dulu Len tidak begitu suka memasak, namun kini? Meiko harus berterimakasih pada siapa kali ini?
"apa Megurine-san adalah istri yang pernah kau idamkan?" Meiko menyesal telah menanyakan hal itu, tapi saat dilihatnya Len menoleh lagi memandangnya dengan senyuman, Meiko jadi penasaran.
"dia sudah menjadi istri orang lain sekarang, Nee-chan" ucapnya tanpa beban.
"tapi kau masih mencintainya?"
Meiko bisa lihat gerakan tangan Len melambat. Dia menarik nafasnya cemas.
"masih sich, tapi tidak begitu berharap. Aku bahagia jika dia bahagia. Aku tidak ingin mengganggunya lagi"
Punggung itu, punggung yang Meiko lihat sekarang ini mungkin akan menjadi punggung yang selalu ingin menjaga dan dijaganya. Dia sangat menyayangi Len sebesar apapun, meskipun pemuda itu bukanlah saudara kandungnya.
"apa menurutmu, Megurine-san adalah wanita baik? Apa dia tipe wanita yang setia pada pasangannya?" Meiko mengalihkan pandangannya kearah lain, dia dan Len sekarang saling membelakangi, Len berada di dapur dan Meiko menyandarkan dirinya di sofa ruang tamu. Dapur dan ruang tamu memang tak terlalu jauh.
"dia tipe yang setia koq. Dia tidak akan mengkhianati pasangannya, meskipun dia tak mencintainya. Tapi dia sanggup mengkhianati perasaannya. Itu yang aku tahu" Len selesai dengan bahan – bahan makanannya. Didekatinya meja makan dan mulai menyusun menu disana. "kenapa?" tanyanya disela kegiatannya.
"aku mendengar kabar jika dia sedang hamil, dan Yuuma lah yang terkait didalamnya"
Tanpa sadar, Len meletakkan piring terakhirnya di meja dengan sedikit lebih kasar. Membuat Meiko menoleh memandangnya. Ditemukannya Len dengan tatapan tajam memandang kearahnya.
"kau serius nee-chan?" tanyanya penasaran. Dilepasnya apronnya dan meletakkannya diatas meja lalu melangkah mendekati Meiko ditempatnya.
"ikutlah denganku" dan Meiko sudah menarik tangan Len untuk mengikutinya melangkah menuju kamarnya. Sebaiknya Len memang lebih baik mendengarnya langsung dari rekaman yang tadi dia dapatkan.
"Luka..."
Sesaat setelah nama itu terucap dari bibirnya, Yuuma hanya mampu melihat seberapa dalam kegelisahan yang terlihat jelas dari kedua mata sang wanita. Luka tak menjawab, bibirnya membisu, bisa Yuuma rasakan seberapa berat setiap desahaan nafas yang Luka hasilkan. Menepis ketidakberdayaannya, Luka menarik diri untuk mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Dia takut, gelisah dan merasa tak lagi memiliki kepercayaan diri. Berada disisi Yuuma, membuatnya begitu tak berdaya. Yuuma sadar akan itu. Diabaikannya rasa rindu yang begitu ingin meloncat dari dadanya. Melangkah mundur menjauh sang terkasih, Yuuma pun berdiri dari posisi duduknya, memandang Luka dari kejauhannya. Yuuma mencoba bertahan akan rindunya.
"aku takut Yuuma..." sejak tadi, hanya itu yang ingin Luka ucapkan. Namun rasanya kalimat singkat itu begitu sulit lolos dari bibirnya. Luka menutup wajahnya kedalam pelukan lututnya sendiri. Yuuma hanya memandangnya gelisah disana.
"aku... takut..." suara itu kini nyaris tak terdengar.
"aku ada disini Luka, kau tak akan pernah kutinggalkan" Yuuma mengulurkan tangannya, berusaha untuk meraih keberadaan Luka yang berada jauh dari jangkauannya. Tapi Luka tak melihat seberapa bodoh tindakan itu. Seberapa bodoh Yuuma karena begitu merindukannya.
Melihat kemunculan Luka beberapa saat tadi di depan apertemennya, dengan wajah penuh amarah dan kebencian, Yuuma bisa merasa jika dia mungkin akan menjadi objek paling menderita karena Luka. Mungkin Luka akan memukulnya, menamparnya atau apapun itu untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi, dari semua kemungkinan yang Yuuma pikirkan, tak ada satupun yang terjadi pada dirinya.
Sesaat, setelah Yuuma menampakkan dirinya, Luka pun menangis dalam kepedihannya. Melihat kehadirannya Yuuma didepan matanya kini, mungkin membuat Luka begitu terluka hingga wanita itu menangis dengan segala kelemahannya. Yuuma meraih tubuh lemah itu, tanpa bicara apapun, segera digiringnya Luka masuk keapertemennya, mempersilahkan wanita itu duduk, dan menyediakan minuman untuknya. Yuuma sadar kenapa Luka bisa berada disini, karena dia yakin, jika pun Luka kini telah memiliki perasaan padanya sekalipun, tidaklah mungkin wanita itu akan menemuinya. Walaupun itu memang tidak akan mungkin terjadi, tidak akan mungkin Luka memiliki sebuah rasa padanya. Tidak mungkin.
Yuuma menyesali tindakannya yang kini menyebabkan Luka terpuruk, menyesali kenapa orang seperti Kasane Ted harus tahu semua rahasia mereka. Dan menyesali kenapa untuk saat ini dia tak bisa mendekap Luka ditempatnya dan memberikan wanita itu ketegaran sedikitpun.
"Luka..." hanya itu lah hal yang bisa membuat bibir Yuuma berucap, nama dari wanita yang sangat dicintainya.
"aku mencintaimu..." dan kesesakan itulah yang begitu ingin Yuuma keluarkan sedari tadi, berharap bisa membebaskan dirinya sendiri dari keterpurukan cintanya.
"aku tak akan membiarkanmu memikirkan hal ini sendirian, aku yang membuat kesalahan, dan aku akan memperbaiki semua yang telah kukacaukan-"
"kesalahan bukanlah hal yang bisa diperbaiki begitu saja Yuuma!" mendengar setiap ucapan dari Yuuma, akhirnya membuat Luka mengangkat kepalanya, memandang pria itu tajam.
"lalu apa, Luka? Setidaknya, biarkan aku mempertanggungjawabkan hal apa yang telah kulakukan padamu. Biarkan aku melakukan sesuatu yang benar sekali saja dalam hidupku Luka, sesulit itukah?" Yuuma membalas tatapan tajam Luka padanya, dia mendekat, dan mata mereka saling menatap. Yuuma tahu, seharusnya disaat seperti ini dia tidak harus menunjukkan kemarahannya didepan Luka, untuk menjaga guncangan emosi yang tersimpan dibenaknya. Namun, kini Yuuma tak lagi bisa berpikiran jernih untuk tidak membalas emosi Luka dengan emosi miliknya.
"maafkan aku.." Yuuma menunduk saat wajah wanita itu kembali menunduk didepannya. Mereka berdua berusaha keras untuk tidak lagi terpancing amarah. Dan Yuuma sadar dialah yang paling bisa disalahkan dalam keadaan tidak enak ini. Luka kembali terisak, disembunyikannya lagi wajahnya didalam pelukannya, dia tak ingin memandang wajah Yuuma, dia begitu kecewa kenapa hanya dengan memandang wajah itu saja membuatnya semakin tak berdaya.
"aku mencintaimu Luka.." lagi – lagi, setelah keheningan menguasai mereka sementara, Yuuma mengucapkan hal yang sama sekali tak berarti apapun saat ini. Tapi, mungkin hanya itulah yang Yuuma miliki. Dia tidak pandai membuat Luka mempercayai setiap ucapannya, hanya kalimat setulus itulah yang mungkin bisa membuat Luka mengakuinya.
"aku.. tahu.." dan Luka merespon kalimat tulus itu dengan suara yang nyaris tak terdengar. Yuuma terdiam mendengar suaranya.
"tapi, itu tak akan membantu apapun untuk sekarang ini Yuuma"
Luka kini termenung di dalam kamarnya. Malam itu, tak ada pembicaraan yang berarti dengan Yuuma yang bisa membuatnya menemukan jalan keluar dari apa yang dia hadapai saat ini, memang. Tapi Luka harus rela mengakui betapa banyak kegelisahaannya yang mulai berkurang saat Yuuma tetap saja bersikap terlalu memperhatikannya, walau terkadang pria itu bisa membuatnya ingin berteriak karena kegelisahan yang sengaja dipermainkannya. Luka masih belum bisa memastikan kapan dia akan memberitahukan Kaito tentang kehamilannya. Meski sekarang suaminya itu sedang meninggalkannya. Dia masih belum bisa memutuskannya. Tapi meskipun begitu, saat ini, tak ada lagi niatan Luka untuk menyalahkan kandungannya. Luka menggerakkan tangannya pelan merayapi tubuhnya, menyentuh perutnya, rasa sesal dan penuh perasaan bersalahpun secara mendadak menyerang batinnya. Dia menyesal karena pernah memikirkan untuk menyingkirkan kandungannya, saat – saat yang lalu.
"aku akan menuruti semua ucapanmu Luka.." Yuuma tak berniat sedikitpun mengalihkan pandangannya dari wajah lembut Luka. Mendampinginya setiap langkahnya saat mereka akan menuju ke stasiun untuk mengantar Luka. Luka hanya terdiam.
"tapi, aku tidak ingin kau melarangku untuk selalu memperhatikan kesehatanmu dan juga kesehatan calon bayimu, karena biar bagaimanapun itu juga adalah anakku" Yuuma berbicara tegas. Dan Luka hanya terdiam, masih terdiam.
Langkah mereka tetap seirama didalam malam, beberapa kata yang keluar dari mulut Yuuma, tak sepenuhnya bersautan dengan kalimat Luka. Tapi, meskipun begitu, Yuuma tidak pernah berniat berhenti untuk berbicara.
Inilah janji Yuuma saat malam dia menemui pria itu di apertemennya, saat malam Ted mengacaukan seluruh keyakinannya. Tapi membayangkan siang tadi, Yuuma bahkan sanggup membuatnya menangis kesal, apa dia harus percaya lagi?
"aku pun tak ingin melihatmu menangis, Luka. maafkan aku, aku hanya bercanda. Aku hanya ingin kau menatapku. Aku... minta maaf"
Kesal atau marah, entah kenapa Luka tetap tak bisa membenci Yuuma, walau dia berusaha semampunya. Apa karena kandungannya? Inikah permintaan seorang anak yang ingin kedua orang tuanya berbaikan? Kini Luka bahkan ingin segera terpejam saat batinnya memikirkan hal sejauh ini dalam benaknya.
Malam, bawa aku bertemu dengan dia yang berada dalam hatiku, dalam mimpi, batinnya.
tbc
Apron itu sebenarnya ada dua makna, satu bermakna sama dengan celemek. satu lagi istilah dalam dunia penerbangan, ada di bandara.
untuk plot fanfic. sorry. saya sudah memberi peringatan jika ini mengandung tema NTR dan alur maju - mundur.
terlalu bertele - tele? saya akui. Tapi saya suka nulisnya.
silahkan ,
