©Hiro Mashima

Story: me

WARN: Alur waktu lambat._.v (?)

Previous Chapter:

"Aku akan berbelanja dulu membeli bahan." Lucy membalikkan badannya menghadap Natsu. "Apa menu untuk besok?"

"Hmm.." Natsu memasang pose berpikir. Lalu ia menunjukkan grin-nya. "Okonomiyaki ala kantin!"


"O-Okonomiyaki?" Lucy tergagap mendengar permintaan Natsu yang terdengar mustahil baginya. Ala kantin, pula! Semua orang termasuk nenek-nenek pun pasti tahu kalau yang di kantin itu buatan para chef profesional. Sedangkan Lucy? Memasak saja bagaikan memeluk gunung!

"Bagaimana?" Natsu membuyarkan lamunan Lucy.

"Gak mau." Lucy berkacak pinggang. "Ganti yang lain."

"Kenapa?"

"S-su..sah.. nggak! M-maksudnya gak pantes buat bento!"

Natsu mendengus, ternyata gadis ini keras kepala juga, ya. Pantas saja susah di deketin. Kalau begini caranya, rencana membuat Lucy feminin bisa terganggu oleh sikapnya itu. Dipaksa, nanti 'jurus' karatenya malah keluar.

"Baiklah, baiklah, kita ganti menjadi ramen," tawar Natsu, masih dengan menu kesukaannya. "Menurutku itu lebih gampang."

"Gampang? Gampang dengkulmu!"

"Lalu kau mau apa? Mi rebus?" Natsu sengaja merendahkan Lucy, membuat empat sudut siku-siku—yang entah keberapa kalinya muncul di dahi Lucy.

"Enak saja! I-itu sih aku bisa! Tapi kamu kasian makan bento pake mi rebus!" gadis itu memalingkan wajahnya. Natsu hampir saja terbahak mendengar kepolosan, oh, maksudnya alasannya. Alasannya yang kadang out of the blue atau sekedar ngeles.

"Terlalu perhatian," ia mendengus geli. Lucy benar-benar ingin melayangkan tinjunya. "Sudahlah, ramen saja. Bukankah aku akan mengajarimu dulu," giliran Natsu yang menarik pergelangan tangan Lucy, tetapi ini lebih lembut. Berbeda dengan Lucy. Gadis itu tersentak, kerinduannya akan kelembutan mendesak dirinya untuk tersenyum.

Ia mengingat masa-masa itu lagi.

Senyuman Lucy hilang. Tidak, tidak. Sampai kapanpun ia berusaha menolak semua kelembutan yang datang padanya. Ia harus kuat, seperti yang ibunya selalu ajarkan.

Tetapi, anehnya, alih-alih ingin menarik tangannya dari genggaman Natsu, ia.. tidak mau. Ia ingin terus seperti ini. Bukan hanya kelembutan yang ia dapat, kehangatan pun menjalari dirinya. Ada apa ini? What is this feeling?

"Luce," sekali lagi Natsu membuyarkan lamunan Lucy.

"A-ah, ya?"

"Ayo, masuk. Kenapa melamun terus?"

Lucy tersenyum samar. "Betsuni." Ia melangkah masuk duluan ke supermarket tersebut, dan mengambil keranjang. Natsu mengikutinya, dan bagaikan guru, ia memberi tahu bahan-bahan membuat ramen.

Tidak perlu waktu yang lama mereka berbelanja, soal bayaran, serahkan pada Lucy—anak dari keluarga Heartfillia—the wealthiest family in Magnolia. Ehm, walau begitu, Lucy bukan anak yang manja. Cuma sikap boyish-nya saja yang membuatnya tidak begitu mengerti apa peran wanita dalam rumah tangga.

Natsu, kau harus mengajarinya. Atau..uhuk, sepertinya kebalik. Natsu lebih cocok menjadi ibu rumah tangga. Eh tunggu, Natsu bukan bences.

Berjalan beriringan dan kadang gelak tawa dari keduanya, mengundang perhatian dan tatapan iri dari pasangan-pasangan lainnya. Mereka memang terlihat cocok. Yah, itupun kalau lupa dengan godaan versus alibi dari Lucy.

Dan di balik itu semua, siapa yang tahu bahwa sepasang mata di balik kacamata hitam tengah mengawasimereka dari awal?

Lucy mendorong pintu rumahnya dengan tangan kanannya selagi tangan kirinya memegang banyak plastik belanjaan. Mengucapkan 'tadaima' dengan lantang, walaupun ia tahu tidak ada siapa-siapa di rumah. Layla dan Jude masih di kantor masing-masing, dan biasanya pulang malam. Paling lama sih, tengah malam.

"Tidak ada siapa-siapa?" gumam Natsu heran. "Kau sama sepertiku, Luce. Orang tuaku selalu pulang malam."

"Orang tuamu? Igneel-san dan Grandine-san? Bukankah mereka sekantor dengan orang tuaku?" Lucy bertanya balik sembari melangkah ke dapur. Para pembantunya sedang cuti, dan inilah kesempatan emas Lucy. Orang tuanya tidak memperbolehkan Lucy 'bekerja'. Tidak pantas, alasannya.

"Benarkah? Aku tidak tahu," kata Natsu sambil mengeluarkan bahan-bahan dari plastik. "Eh, hei. Kita tidak membeli kue ikan ya?" ujarnya setelah mengecek ulang bahan yang telah di beli.

"Kue ikan? Yang mana?" Tanya Lucy polos.

"Yang.. engh.." Natsu jadi bingung menjelaskan, ia tersenyum grogi. "Yang.. warnanya putih, kecil.. dan.. ada lingkaran berwarna merah di dalamnya?"

Lucy tampak memproses. Loading... Lalu ia meninju telapak tangannya sambil tersenyum bangga. "Aku punya di kulkas! Tenang saja!" Ia menunjukkan grin-nya, seperti mencuri trademark Natsu.

"Kau tidak ganti baju?" Natsu lalu duduk di sebuah kursi di dekat meja makan. "Aku akan menunggu." Ia bersandar dengan kedua tangan di belakang kepala—pose orang santai.

"Kau pengertian sekali, terima kasih~" goda Lucy sambil membuka bergo jaketnya. Rona merah tipis muncul di pipi Natsu, lalu matanya melebar melihat Lucy mulai membuka jaketnya. "K-kau ganti baju di sini?" tanyanya panik.

Lucy terdiam sejenak. Ia hanya berniat membuka jaket saja, tiba-tiba ia menyeringai.

"Ah, ya, kenapa?" tanya Lucy sok polos. Jaket kuning tanpa lengan itu kini terlepas, dan sekarang tangannya bergerak ke kancing kemejanya. Natsu mengamati Lucy dengan hati-hati, seringai semakin melebar di wajah Lucy.

"B-Bodoh!" Natsu memalingkan wajahnya yang blushing parah. Panas, panas, panas. Apakah ini hanya Natsu atau rumah Lucy memang panas?

Tep, tep, tep. Obviously, Lucy sedang mendekatinya.

Ia berbalik, melihat dua buah kancing atas Lucy sudah terbuka. Gadis itu menyeringai—seperti berniat menggoda. Natsu menelan ludahnya sendiri. Kuatkan imanmu Natsu, batinnya. Mata onyx-nya mengamati kancing selanjutnya yang terbuka. Natsu memalingkan wajah lagi, tetapi Lucy membalikkan wajahnya lagi secara paksa.

"Kau takut?" bisik Lucy tepat di telinga, membuat Natsu merinding. Menyadari Lucy sudah membuka atasan seragamnya, Natsu menutup matanya dan berpaling.

"L-Lucy, serius kau sudah b-buka—"

"Pffft! Bodohahaha," gelak tawa memenuhi indra pendengaran Natsu. Natsu membuka matanya, tetapi belum berani berpaling. Ia bukan cowok murahan yang mudah menyentuh cewek seenak jidat, tapi mendengar Lucy tertawa bebas seperti itu, ia merasa ia ada yang aneh.

"Natsu bodoh! Otakmu benar-benar kotor!" tawa Lucy mereda. "Aku selalu memakai tanktop di balik seragamku, seperti sekarang." Mendengar itu, Natsu menoleh dan mendapati Lucy mengenakan tanktop jingga dengan tali berenda yang tampak girly. Ah, apa ini bisa dibilang sisi femininnya? Natsu berharap lebih pada penampilannya.

Tapi, tetap saja. Lekukan tubuhnya terbentuk, dan menurut Natsu, Lucy sangat.. ehm seksi, dan Natsu tak bisa menghilangkan blush di pipinya. Mata hitamnya menatap lekat-lekat Lucy yang merasa risih dilihat seperti itu. Menyadari perlakuannya, ia memalingkan wajahnya untuk kesekian kalinya.

"Ne, Natsu," panggil gadis itu. Natsu berdiri dari kursi, menghampiri Lucy yang tengah menggumpal seragamnya dengan cuek lalu melemparnya ke keranjang pakaian kotor. Membuat Natsu slight sweatdropped.

"Ya?"

Lucy melebarkan grin-nya. "Waktunya memasak."


Detik demi detik berlalu. Jarum jam meramaikan kesunyian di antara keduanya. Yah, tidak terlalu sunyi, karena Lucy dan Natsu yang notabene tidak menyukai kecanggungan, pasti keduanya mencoba memulai percakapan.

Tuk, tuk, tuk. Bunyi batang sayuran yang tengah di potong Lucy di atas talenan. Ia memotongnya sangat hati-hati—maklumlah, masih junior. Natsu yang tengah merebus mi-nya, tampak gregetan dengan cara memotong Lucy yang menurutnya 'Oh-sangat-anti-mainstream.'

Lucy tampak kaget dengan tangan kekar yang hendak menuntun tangannya dari belakang. Ia menoleh ke arah Natsu, lalu kaget untuk kedua kalinya. Wajahnya dengan Natsu hanya beberapa inci saja. Seketika ia merasa deja vu, dan pipinya memerah.

"A-apa?"

"Mengajarimu, sayang~" oh, baiklah. Lucy menyesal telah 'menggoda' Natsu tadi, dan sekarang ia akan kena batunya lagi. Tapi, entah kerasukan setan apa, Lucy malah mengangguk pelan.

Tangan Natsu yang lebih besar dari tangannya yang mungil mulai menuntun cara memotong sayuran. Lucy memperhatikan baik-baik. Natsu melepaskan tangannya, dan Lucy mengulangi metode Natsu. Metode ini membuatnya memotong lebih mudah dan cepat.

"Gunakan bagian pisau yang lebih lebar untuk memotong selagi bagian tajamnya kau gunakan sebagai tumpuan.. ah, entahlah bagaimana aku menjelaskannya, yang penting kau sudah lihat tadi," Natsu menunjukkan grin-nya. "Maaf, aku tidak mahir di pelajaran Bahasa."

"Ngomong-ngomong, darimana kau belajar memasak?" tanya Lucy antusias, menoleh sebentar kepada Natsu yang tengah meniriskan mi yang sudah matang.

"Seperti yang kau tahu, orang tuaku sibuk sama seperti orang tuamu. Di rumahku tak ada pembantu, jadi biasanya Wendy adikku yang memasak. Aku tidak ingin Wendy melakukannya sendirian, dan ia mengajariku," jelas pemuda itu panjang lebar. "Dan itu sejak SMP."

"Wow. Kau berbeda denganku.." Lucy berkata pada dirinya sendiri. "Sedangkan aku mempunyai pembantu tetapi tidak dapat memasak. Walaupun aku pernah beberapa kali memasak sebelum kau mengajariku." Raut kesedihan muncul di wajah Lucy, sedangkan Natsu tampak simpati.

"Aku tak pernah membantu ibuku seperti itu," katanya—hampir berbisik, bulir air mata berada di pelupuk matanya. Ia tersenyum pahit, "hingga ia mengajariku segalanya."

Terdiam sejenak. Natsu masih mengira-ngira siapa 'ia' yang disebutkan Lucy. Tetapi firasat di dalam hatinya tidak ingin menanyakannya.

"Daijoubu, Luce. Kau sudah berusaha semampumu. Kau sudah membantu orang tuamu secara tidak langsung, kau melakukan yang terbaik di kelas selama ini," Natsu tersenyum lembut. Sungguh, dia sama sekali tak bisa menangani wanita yang menangis, siapapun itu, termasuk Lucy.

Lucy mengangkat kepalanya, dan tersenyum lebar. Cepat-cepat ia menyeka air mata sebelum terlanjur keluar. "Tenang saja! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tak akan menangis! Menangis itu cengeng."

Natsu menghela napas lega. "Lagipula menangis itu melampiaskan perasaan. Itu wajar."

"Tetapi aku benci perempuan yang menangis sesenggukan, apalagi karena hal sepele," komentar Lucy sambil mengeluarkan kue ikandari kulkasnya.

"Dan aku yakin kau pasti pernah," Natsu menunjukkan grin-nya, membuat syaraf kemarahan di dahi Lucy tampak. "S-sok tahu! Aku.." ia terdiam, tak tahu ingin menjawab apa. Natsu terkekeh, "Aku..?" Lucy menggeram, ia memegang pisau di tangannya dengan erat, lalu memotong kue ikan sambil memelototi Natsu.

Alih-alih mendapati kue ikan terpotong, ia malah merasakan perih di jari telunjuknya.

"W-Whoa!" mata karamel Lucy melebar, jari telunjuknya mengeluarkan sesuatu yang menjijikkan di matanya, berwarna merah kental. Bulir air mata kembali hadir di ujung matanya, terlalu perih.. ia baru merasakan hal ini pertama kali. Mungkin inilah yang dikuatirkan Layla sehingga tidak memperbolehkan ia ke dapur. Ia mengira, apa Natsu, ibunya dan pembantunya sering seperti ini?

Yang Lucy tau sekarang, ia hanya bisa mengibas-ngibaskan telunjuknya. "Ittai ittai ittai ittai ittai ittai ittai ittai ittai ittai ITTAI!" Natsu yang tengah mengeluarkan nori alias rumput laut dari plastik belanja tampak kaget.

"Luce, kenapa? Teriris?" tanyanya tenang. Lucy geram, bagaimana bisa ia setenang itu?

"I-iya! Lalu ini bagaimana?"

"Itu luka kecil."

"Itu tidak menjawab pertanyaanku!"

"Basuh pakai air," sesaat kemudian Natsu sudah sibuk dengan nori. Lucy menghela napas, Natsu benar-benar tenang—seperti ia sudah terbiasa saja—atau memang? Dia berpengalaman memasak sebelum Lucy, mungkin ini wajar.

Membasuh jarinya di wastafel, Lucy hendak membuka mulut, tapi Natsu mendahului, "gak usah pake di apa-apain lagi. Nanti lukanya sembuh sendiri dan akan menutup." Lucy memiringkan kepalanya, "Gak pake obat merah?" lalu dibalas gelengan Natsu.

Melanjutkan memotong kue ikan, Lucy tersenyum kecil. Natsu tidak semenyebalkan yang ia kenal.

"Lain kali hati-hati ya sayang~" ujarnya, membuat syaraf kemarahan kembali muncul di dahi Lucy. Ia menarik kembali pemikirannya tadi; Natsu itu menyebalkan.


Pagi itu. Lucy terbangun tepat di atas meja makan—dengan posisi tidur wajah yang terbenam di antara lipatan lengannya. Melihat jam, pukul 05:12. Eh? Apa?

"Kenapa aku tidur di sini?" Lucy mencerna apa yang berada di sekelilingnya. Tumpukan dua mangkuk bekas ramen yang belum di cuci. Dan Natsu di depannya yang juga tidur dengan posisi yang sama sepertinya.

Ia mengingat-ingat kembali. Tadi malam, setelah makan malam bersama Natsu—yang tentu saja ramen buatan Natsu, ia mendapat telepon dari ibunya, dan Natsu juga mendapat telepon dari Grandine. Selesai menelepon, Natsu mendapat berita yang sama dengannya—orang tua mereka kedatangan tamu terhormat dan takkan pulang selama beberapa minggu. Setelah itu, mereka tertidur.

He?

"HE? APA? BERARTI AKU SENDIRIAN DI RUMAH?!"

"Ada apa Luce?" tanya Natsu dengan suara khas orang baru bangun tidur. Rambut pink-nya tampak lebih acak-acakan. Ia menguap sembari mengucek matanya.

"K-kau.. nanti tinggal di mana?" Lucy bertanya panik.

"Huh? Aku?" Natsu menunjuk dirinya sendiri.

"Bukan, Loke!"

"Hiee? Kenapa kita mengungkit-ungkit Loke-sensei bukankah ia bersama Aries-sensei?"

"Bodoh..." Lucy menepuk jidatnya yang tertutup poni blonde-nya. "Tentu saja kau! Orang tua kita takkan pulang untuk beberapa minggu, jadi kau akan tinggal di mana?"

"Umm.. di rumahku?" jawab Natsu ragu. "Tapi Wendy sedang ada study tour bersama sekolahnya. Jadi aku sendirian," lanjutnya, berupa gumaman. Lucy mengangguk kecewa. Sungguh, ia ingin mengajak Natsu tinggal bersamanya, tapi kau tahu Lucy, gengsi. Dan itu tidak wajar seorang cewek yang mengajak seorang cowok. Tentu kita tahu itu 'berbahaya', walaupun Natsu itu orang baik-baik. Tapi bagaimanapun juga, Natsu itu cowok.

"Aku juga sendirian," gumam Lucy. "Tapi tidak apa-apa! A-aku kan sudah biasa sendiri! Hahaha.." Lucy mengibas-ngibaskan tangannya dengan nada seriang mungkin. Natsu mengernyitkan alisnya, lalu menunjukkan grin-nya.

"Apa kau memintaku untuk tinggal bersamamu?"

Lucy terhenyak. "T-tidak kok! Siapa yang mau tinggal bareng orang kayak kamu! A-aku mending nginep di rumah Levy!" tolak Lucy mentah-mentah—padahal dalam hatinya sih, mau. Tiba-tiba dia ingat kalau Gajeel sering datang ke rumah Levy.

"Jujur saja~" Natsu menghampirinya, lalu mendekatkan wajahnya.. lagi. Lucy menatap mata onyx Natsu lurus. Pendekatan wajah seperti itu, takkan mampu menipunya lagi. Ujung-ujungnya, dahinya di sentil, lalu digoda, dan replay! Selalu begitu.

"Aku berani bertaruh kalau kau akan menyentilku. Aku tak akan tertipu lagi." Sahut Lucy jutek. Natsu mendengus geli.

"Bagaimana kalau aku ingin menciummu?"

"A-apa?" Lucy kaget. Oke, pertanyaan retoris itu memang agak.. yah. Lucy mencari kebohongan dari mata Natsu. Tidak ada? Oke. Dia benar-benar pintar berbohong.

"Jangan bercanda, a-aku tak akan percaya," balas Lucy, berusaha menyembunyikan nada kegugupan saat berbicaranya.

"Sungguh, aku benar-benar –" Natsu memelankan suaranya, ia memiringkan kepalanya dan mulai memejamkan setengah matanya. Tangannya menangkup wajah Lucy yang memerah, saat ia melihat Lucy menutup matanya dengan alis terpaut, ia langsung menjauhkan wajahnya. "—ingin menjahilimu," Natsu melanjutkan kalimatnya lalu tertawa berguling-guling. "Pffftt! Lihat! Wajah mesummu sama seperti di kantin!"

Lucy membuka matanya dengan aura gelap menguar dari tubuhnya. Baiklah, mode second Erza akan keluar. Ia menjitak kepala Natsu. "Masih beruntung aku berutang budi padamu untuk memasak bento," Ia menghentakkan kakinya, lalu berjalan ke tangga menuju lantai dua. Ia berhenti sejenak, "k-kau harus tinggal di rumahku, kau mengerti? S-supaya kau bisa membantu memasak! Jangan kegeeran!" serunya tanpa menoleh ke belakang.

Natsu menatapnya dengan bingung, lalu mendengus geli. "Sial kau Levy, bagaimana pun juga sifatnya takkan berubah."


On the way to Fairy Tail Academy. Kini Natsu sedang berjalan beriringan bersama Lucy karena rumah mereka satu jalur. Gosip hangat kembali menyebar.

"Lihat, Natsu dan Lucy yang sering bertengkar itu, sekarang ke sekolah bersama!"

"Apa mereka jadian?"

"Mereka terlihat cocok, kau tahu?"

"Natsu milikku!"

"Lucy-sama pasti memilihku daripada pink bodoh itu!"

—dan bla bla bla. Typical Lucy, ia hanya menganggap itu anjing yang menggonggong sedangkan ia dan Natsu adalah kafilah yang berlalu, tanpa mempedulikan anjing-anjing itu. Hee, 'anjing' di sini sepertinya terlalu merendahkan ya?

Sebenarnya Natsu ingin menonjok orang yang menggunjing tentang status mereka.

"Hei, Flame-brain, akhirnya dapat cewek juga."

"Juvia ikut senang."

Natsu dan Lucy terhenti, memandang dua sosok berbeda gender di depan mata mereka dengan kaget. "Gray?! Juvia?!" pekik Lucy. Ia menyandarkan lengannya di baju Juvia. Juvia terkekeh, "Apa kabar Lucy-san? Juvia mendengar kau sudah bersama Natsu."

"H-Hah?! Kata siapa?" pekik si blonde. Juvia mengedikkan bahunya, "gosip."

"Jangan percaya. Mana mungkin aku mau dengan gadis tsundere sepertinya," Natsu menunjuk Lucy dengan jempolnya, membuat gadis itu cemberut. "Hey!" mengabaikan Lucy, ia menyeringai pada Gray, "Aku yakin lomba memahat esmu gagal."

"Cih! Kata siapa?" seru Gray tidak terima. "Aku juara dua, dan kau? Tidak mengikuti lomba satu pun sejak kelas 11?" ia menjulurkan lidahnya. Natsu tampak berapi-api.

"Itu karena di kelas 10 lomba yang kuikuti terlalu banyak!" balasnya, padahal di kelas 10 ia hanya mengikuti satu lomba. "Aku memberi kesempatan pada yang belum—termasuk kau, Stripper!" bersamaan dengan kalimat terakhir, Gray menjerit norak mendapati seragamnya yang telah hilang.

"Bagaimana lomba renangmu?" tanya Lucy antusias. Juvia Lockser—anak pindahan dari Phantom Lord Academy, memang hebat dalam berenang. Karena itu sejak di sini, ia populer. Dan karena itu sejak di sini pula, Gray menderita karena di stalk.

"Bagus, Juvia menang piagam emas," jawabnya senang. Setelah memberi ucapan selamat, ia menyadari para OSIS yang menemani peserta lomba kemarin, belum terlihat batang hidungnya. "Erza mana? Maksudku, para OSIS?"

"Oh, mereka sedang rapat di lantai dua," jawab Gray yang sudah berpakaian lengkap. Lucy prihatin, pagi-pagi sudah rapat, seperti orang yang sudah kerja saja—sibuk. Lebih baik bersantai di rumah sambil membaca novel ~

Mereka pun ke kelas beriringan—Natsu dan Gray berdebat, sedangkan Juvia dan Lucy mengobrol sambil sesekali bercanda.

"Levy belum datang?" gumam Natsu begitu masuk ke kelas. Lucy menoleh heran, "Tumben sekali mencari Levy?" ujarnya dengan nada tidak suka. Siapa yang tahu bahwa sahabatnya nanti dalam bahaya? Ayolah, kita sedang membicarakan Natsu.

"Eh? Tidak! Oh iya, mana bento-ku? Jangan bilang kau lupa membuatnya," Natsu mengalihkan pembicaraan. Lucy menoleh cuek, tapi tiba-tiba mata karamel Lucy melebar, bento-nya—!

"B-Bento-nya..!" Lucy tampak kaget. Ia membuka resleting tasnya dan tampak mencari-cari sesuatu. Entah kenapa Natsu malah khawatir. Makan apa dia nanti siang? Ia lupa membawa uang, sial. Seingatnya juga ia tidak melihat Lucy memasak saat pagi.

"Luce?" mendengar nada khawatir Natsu, Lucy menyeringai. Ia mengambil sebuah bungkusan plastik dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Mata Natsu melebar, alisnya terpaut.

"Tadaaa..!" Lucy menirukan backsound ala show-show di TV saat ada yang mendapat kejutan. Natsu menghela napas, bisa-bisanya ia tertipu dua kali oleh gadis ini. Oke, ia baru tahu kalau Lucy bisa sejahil dirinya. Image luarnya sejak kelas 10, selalu cuek dan agak tertutup, kecuali ke teman dekatnya.

Jika sifat asli Lucy keluar saat bersama Natsu.. berarti Natsu termasuk teman dekat? Refleks Natsu tersenyum bangga seperti seorang idiot.

"Nih, semoga sakit perut ya!" ujar Lucy cuek. Natsu mengambil kotak bento yang dibungkus plastik hitam itu. Kenapa gak sekalian dibungkus pake koran atau kertas kado? Batin Natsu. "Kapan kau membuatnya?"

"Saat kau sudah pulang ke rumah," jawab Lucy, merogoh sebuah novel dari dalam tasnya, sesaat kemudian ia sudah di dunianya sendiri. Natsu terdiam, merogoh ponselnya dan mencari-cari sebuah nama di daftar kontaknya.

'Levy McGarden,' batinnya. Ia mengetik dengan cepat di keyboard Qwerty itu sambil sesekali melirik ke Lucy yang asik membaca novel.

To: Levy McGarden

Aku mempunyai hint sisi feminin -nya. Rambut panjang, shampo yang sepertinya khusus perempuan(?), dan oh hei! Dia sangat sensitif dengan yang namanya 'romance'! Dan entahlah, saat aku menjahilinya, dia sering blushing. Apa menurutmu itu hint sisi feminin-nya? Dan sebenarnya dia suka memakai tanktop yang lumayan girly.

Bukannya aku mau melapor, tapi bantu aku, sejauh ini masih kemungkinan kecil dia akan menjadi feminin. Tanggung jawab! Kau yang menyuruhku!-_-

-Natsu, Si Keren melebihi Ice Princess

'Send', batin pemuda itu kesekian kalinya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Levy yang baru datang tengah menyeringai kepadanya. Levy tampak mengetik sesuatu dengan kecepatan super dan tiba-tiba ponsel Natsu berbunyi.

From: Levy McGarden

Bodoh! Jika sering blushing belum tentu feminin tapi dia menyuuuuukaimu! *gulung lidah* :p

Natsu menggeram pelan, rona merah tipis muncul di pipinya. Ia mengetik lagi, dan ponsel Levy berbunyi.

From: Natsu Pinkie Head

Apa-apaan?! Jelas-jelas katanya pas SMP dia punya pacar!

Levy melirik Natsu yang tengah menunggu balasan darinya.

From: Levy McGarden

Aku ini temannya sejak SMP-_- iya, dia emang punya. Tapi udah putus karena suatu kejadian. Hei, pinkie head! Jangan berani-berani kau bertanya tentang hal itu kepadanya! Atau aku akan menjepitmu dengan novelku yang paling tebal.

Giliran Natsu yang melirik Levy. Cepat-cepat ia mengganti nama kontak Levy, karena kesal di ancam seperti itu. Dijepit buku? Hah! Seorang Natsu takkan jatuh karena hal kecil seperti itu.

To: Levy Tukang Kebun

Siapa yang mau nanya? :p Kalau begitu beritahu rencanamu untuk membuat Lucy feminin? Wahai tukang kebun~?

Hape Levy berbunyi.

To: Natsu Pinkie Head

Tukang kebun?! Walaupun namaku McGarden jangan bilang aku tukang kebun!-_- Bagaimana kalau kita beritahu Erza untuk membuat pesta dansa(?) Dia kan OSIS Kesiswaan. Lucy tidak bisa berdansa. Dan yang berdansa itu feminin(?) Entahlah! Menurutmu bagaimana?

Natsu menyeringai membacanya.

To: Tukang Kebun Kutu Buku

Hmm.. pesta dansa? Kita baru saja memulai semester Ganjil kelas 11! Itu rencana B. Aku punya rencana A. Bagaimana kalau membuat sebuah drama seorang gadis yang feminin untuk pelajaran Seni + Sastra? Dan Lucy akan menjadi gadis itu.

Levy mendengus, sebelum membalas ia mengganti nama kontak Natsu.

To: Natsu Needs To Be Geplaked

Yaudah ngga usah nanya dong-,- Tapi idenya kece juga. Nanti akan kuberitahu Erza dan Jellal.

Send, batin Levy. Oh, Mira-chan! Dengan begini, mereka akan menjadi semakin dekat!

From: Natsu Needs To Be Geplaked

Ngomong-ngomong, mantannya Lucy namanya siapa? Sekedar ingin tahu, jangan salah paham.

Levy tertawa kecil. Berharap lebih boleh, kan?

To: Natsu Needs To Be Geplaked

Bilang aja cemburu :p Baiklah, dasar Tuan Kepo. Namanya Sting Eucliffe. Jangan ungkit-ungkit dia lagi oke?

Natsu mengangguk mengerti, kemudian ia menaruh hapenya kembali dalam saku. Sting, eh? Kalau ia tidak boleh mengungkitnya, pasti Sting telah membuat Lucy sakit—sakit hati. Jika bertemu dengannya, ia tidak sabar ingin meninju wajahnya hingga rata.

Ia mendengar Lucy tengah menutup bukunya. Gadis itu melirik Natsu dan Levy bergantian dengan wajah curiga.

"Natsu.. Levy-chan.. sibuk SMS-an! Pfffttt..!" Lucy menutup mulutnya untuk menahan tertawa. "Levy-chan, bagaimana dengan Gajeel? Pasti dia kecewa sekali."

"A-apa yang kau katakan! Aku sudah memiliki Gajeel! Kalian-lah yang perlu dipertanyakan," Levy melirik Natsu yang tengah bersiul sambil menatap ke atas, seolah tidak tahu apa yang di bicarakan. Sebelum Lucy hendak membuka mulutnya kembali, ia terkejut Ur-sensei tiba-tiba masuk ke dalam kelas.

"Ohayou!" ujarnya dengan suara lembutnya yang energik. "Kita akan kedatangan murid baru, jadi tolong perhatiannya!" Ur-sensei menoleh ke pintu. Tampak seorang pemuda berambut blonde menyeringai dengan pose kerennya—kedua tangan di saku.

Rata-rata gadis-gadis di kelas langsung menjerit dengan mata berbentuk love, kecuali mayoritas yang masih waras—termasuk Levy dan Lucy. Mata karamel Lucy membesar, mimpi apa dia semalam? Apa salahnya terhadap Dewi Fortuna? Saat bertemu dengan dewi keberuntungan itu, ia bersumpah dalam hati akan membunuhnya!

"L-Luce? Kau kenapa?" tanya Natsu khawatir. Lucy menggeleng lemah, ia menunduk dan tangannya tampak mencengkram wajahnya sendiri. Berusaha membendung air mata yang akan keluar. Aku... kuat.

"Perkenalkan, Sting Eucliffe," sahutnya, melirik ke Lucy lalu menyeringai. Refleks mata Natsu juga ikut melebar. Speak of the devil! Orang yang baru ia bicarakan benar-benar ada! Ia mengingat sampai mati, takkan membicarakan orang yang tak ia kenal.

Levy juga tampak tegang, ia menatap sahabatnya Lucy dengan khawatir. Tiba-tiba, Lucy berdiri dan menghadap ke Ur-sensei, "Toilet." Lalu di balas anggukan guru itu. Cepat-cepat gadis itu melewati Sting yang menyeringai kepadanya, tanpa menatap mata pemuda itu. Secara komik, efek slow motion terlihat saat ia melewati Sting.

Natsu menyilangkan kedua lengannya di dada. Jadi.. ini mantannya? Yang telah membuatnya sakit hati, kan? Dan jika seseorang sakit hati, ia akan menangis, kan? Apa yang harus para cowok lakukan? Natsu sekarang tahu jawabannya. Tak berpikir panjang, ia juga berdiri dari kursinya lalu menghadap guru muda itu.

"Ur-sensei. Toilet."


A/N: Aloha, Yama's back~ Maaf baru apdet, lagian internet Yama agak lemot :'( kalian boleh membenci saya. Bales review dulu ya :)

Audrey Naylon: benar! Abis selama ini cengeng *di urano metria* ini next chappie semoga memuaskan :) – : makasih :) – himiki-chan: di sini natsu ceritanya emang bisa masak, agak kebalik dari Lucy. Tapi bukan berarti Natsu bences yak(?) ini next chappie semoga memuaskan :) – RyuuKazeKawa: iya.. ini lanjutannya :) – Nnatsuki: makasih^^ masakan Lucy, mungkin di chap depan XD – Khairul Dreyar: makasih XD ini next chappie – karinalu: arigatou XD tapi karena ini masih ada sisi femininnya.. mungkin gak se-Edo Lucy :) ini lanjutannya^^ - Hanara VgRyuu: makasih^^ ini lanjutannya – Reka Amelia: mungkin ga sampe belasan chapter, belum dipertimbangkan. Kayaknya masih agak lama :) – Jim: arigatou, ini lanjutannya – sadsa: makasih, tapi Natsu bukan bad boy loh, ngegodanya cuma ke Lucy aja XD – Guest/Santika Widya: Okee, ini dia XD – pidachan99: makasih^^ tsundere itu, kayak suka ngebantah gitu, gengsi(?) entah author bingung ngejelasin XD – azalya dragneel: iya, haha ngga alay kok. Yama juga kadang alay(?) #jeduagh. #bukan itu masalahnya

That's all, thanks for your review, maaf bukan bales di PM bagi yang punya akun XD di luar negeri ada OSIS gak sih? Anggap aja ini ala Indo XD Leave a review ya ~ (?)