The Vague Heart
Disclaimer of Masashi Kishimoto
Story By Rina Apple
Warning : Cerita abal-abal, penuh typo
ΩΩΩ
Summary :
Haruno Sakura, cantik, kaya, cerdas, dan memiliki segalanya, suatu malam menghabiskan waktu di sebuah bar dan pagi harinya ia terbangun di kamar sebuah apartement. Kesal dan marah terhadap orangtuanya yang menjodohkannya dengn pria asing, sakura memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya dan menjadi orang lain untuk menenangkan diri. Bagaimana kehidupan Sakura ketika mengetahui bahwa lelaki pemilik apartemen tempat ia bangun adalah seorang duda yang dingin, arogan, dan tidak lagi tertarik terhadap wanita?
Part II : New life
Sasuke POV
Setelah aku menuntaskan masalah dengan perempuan itu, aku bergegas ke rumah sangat merindukannya, putri kecilku yang manis. beberapa hari ini Kaa-san dan Tou-san memonopoli Sarada, hingga di apartemen aku sangat kesepian dan memilih menghabiskan malamku di Bar. Kubelokkan mobil ku menuju halaman rumah orangtuaku, kubuka pintu dan kulangkahkan kaki menuju ke ruang makan, tampak putriku sedang duduk menunggu sarapan yang disiapkan oleh Kaa-san.
"pagi sayang" ucapku mengecup pipi Sarada secara tiba-tiba. Ia tampak terkejut, namun beberapa detik kemudian, wajahnya langsung ceria dan tersenyum padaku.
"pagi Papa" Sarada balas mencium pipiku. "apakah Papa hari ini menjemput Sarada pulang?"
Aku tersenyum, "tentu saja Sayang, hari ini Papa juga akan mengajak Sarada pergi ke suatu tempat"
"kemana ?"
"rahasia" jawabku sambil kuhempaskan tubuhku di kursi samping Sarada yang tampak mengunyah sandwichnya. Lalu pandanganku beralih ke arah depan. Tou-san sedang membaca Koran pagi nya, Kaa-san yang sedang membuat sarapan, oh, ini masih kurang, dimana baka Aniki ku?
"kaa-san, aku tidak melihat Aniki"
Kaa-san berbalik dan memandangku, "Itachi sedang berlibur Sasuke, dia bilang untuk merayakan bulan madunya yang kedua"
"bulan madu kedua, he?" aku terkekeh mendengar. Yang benar saja, Aniki dan istrinya bukan pengantin baru lagi, jadi untuk apa bulan madu lagi?
"terkadang itu perlu, seharusnya kau meniru kakakmu. Carilah pasangan dan berikan Sarada seorang Ibu"
"Kaa-san,,,,," Lirihku melirik Sarada
"Ada yang salah?" Kaa-san menaikkan alisnya. "lagi pula, bulan madu bukan hanya untuk pasangan muda saja, jadi tidak ada salahnya dengan bulan madu kedua. Kalau ada kesempatan, kaa-san juga ingin bulan madu lagi, bukan begitu, Fugaku?" Ucap Kaa-san melirik Tou-san yang masih fokus dengan korannya.
Kutahan tawaku melihat kerlingan Kaa-san dan Tou-san yang menjadi salah tingkah. Begitulah mereka, Kaa-san yang lembut dan Tou-san yang dingin.
"ehm,, Kaa-san, Tou-San, aku akan menjemput Sarada" kualihkan pandangan ke gadis kecilku, " Sarada, ayo kita pulang"
Sarada mengangguk dan membenahi dirinya. Ia tampak manis hari ini, oh tidak, bukan hari ini saja, Putri ku memang manis disetiap waktu.
Tanpa berkata apapun, Sarada menuju ke arah Kaa-san dan Tou-san, lalu mencium pipi mereka. "Sarada pulang dulu, Jii-san"
"iya Sayang. Ingat ya, jangan sampai telat makan, jaga kesehatan, dan jangan lupa untuk sering kerumah jii-san" ucap Kaa-san yang tampak tidak rela melepas Sarada pergi.
Sarada mengangguk. "jaa ne, " kugenggam tangan Sarada lalu kami berdua melangkah meninggalkan rumah.
ΩΩΩ
SAKURA POV
Setelah lelaki itu pergi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Seumur hidup aku belum pernah menyentuh pekerjaan rumah sedikitpun! Bagaimana bisa dengan yakinnya aku menawarkan jadi pembantu? Sekali lagi aku bingung dengan diriku. Tasku sepertinya tertinggal di bar, dompet, uang, handphone, kartu identitas, semmuanya tertinggal. Untuk bagian itu, aku sedikit merasa lega, setidaknya untuk beberapa saat, orang suruhan ayahku tidak akan menemukanku. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri, setidaknya terperangkap disini lebih baik daripada menghadapi kedua orangtuaku.
Kuikat rambut panjangku dan kusisingkan lengan bajuku. Oh, aku lupa. Aku masih mengenakan dress malamku yang berwarna tosca selutut dan tanpa lengan. Aku segera melakukan pekerjaanku. Menyapu lantai, mengepel, mencuci dan membersihkan perabotan yang ada. Sepertinya lelaki itu termasuk lelaki yang perfeksionis, semua barangnya tertata rapi, dan rumahnya tidak terlalu kotor.
Setelah itu, aku membuka lemari es. Bukankah lelaki itu menyuruhku memasak? Oh, jangan remehkan aku soal itu, meski aku seorang putri yang kaya raya, namun aku mahir dalm hal memasak. Senyumku yang semula merekah, mengingat kemahiranku memasak, langsung luntur melihat apa yang ada di dalam lemari ea. Tidak ada bahan makanan yang berarti, dan banyak sekali tomat disini. Ya Tuhan, masakan apa yang bisa kubuat jika bahannya saja terbatas seperti ini, dan hanya tomat? Kugelengkan kepalaku dan mulai memasak dengan bahan seadanya. Sup tomat sepertinya bukanlah hal yang buruk.
Ketika aku sedang menyiapkan sup tomatku di meja makan, tiba-tiba saja aku mendengar suara pintu yang terbuka. Mungkin saja lelaki itu sudah pulang. Kuputar tubuhku, dan aku langsung terhenyak melihat pemandangan di depanku. Lelaki itu sedang menggendong seorang gadis kecil dipunggungnya, dan baru kali ini aku melihatnya tersenyum lembut. Aku terus memandanginya, tanpa menyadari jika lelaki dan gadis kecil tiu balik memandangku.
"apa lihat-lihat" aku yang semula terpana langsung menekuk wajahku begitu mendengar suara laki-laki itu menyapaku dingin.
"siapa?" tanyaku menunjuk gadis kecil yang telah diturunkan oleh lelaki itu.
"ini anakku, Uchiha Sarada. Selain menjadi pembantu kau juga menjadi pengasuhnya" jelas lelaki itu
"anak mu?" oh, aku masih tidak menyangka dengan kenyataan ini. Lelaki ini masih muda, bahkan aku yakin umurnya mungkin hanya terpaut sekitar 3 atau 4 tahun dariku, dan sekarang dia bilang gadis kecil ini adalah anaknya?
"ada masalah?" lelaki itu menaikkan sebelah alisnya.
"eh,,, tidak. Hanya saja, aku tidak menyangka kau punya seorang putri" jawabku kikuk. Aku mengalihkan pandanganku kepada gadis kecil ini. "ne, Sarada, mulai sekarang aku akan menjadi pengasuhmu. Panggil saja aku Bibi Sakura"
"hai" sepertinya Sarada memiliki sifat seperti ayahnya. Minim emosi. Tanpa berkata sepatah apapun, Sarada berjalan menuju meja makan. Mata onixnya menjelajahi meja makan. Oh yeah, semoga saja dia menyukai sup tomat, jangan salahkan aku yang hanya membuat masakan tiu, salahkan lelaki ini yang tek memberi stok persediaan makanan di lemasi es nya.
"kau membuat makanan?" Tanya lelaki itu membuyarkan lamunanku
"ah ya. Aku hanya menemukan tomat di lemari es mu, jadi aku membuat sup tomat. Seharusnya kau mengisi lemari es mu dengan banyak bahan makanan, bukannya makanan siap saji seperti itu. Itu kurang sehat untuk dirimu dan Sarada "
"aku tau" lelaki itu berjalan menyusul Sarada ke meja makan. " aku harap makanan ini tidak membunuhku"
"kau tidak akan menyesal memakannya, Tuan,,,," aku tidak melanjutkan kata-kataku. Aku baru menyadarinya. Lelaki ini, lelaki yang telah membawaku ke apartemennya, menjadikanku pembantu dan pengasuh anaknya, dan aku tidak mengetahui namanya? Ya Tuhan,,,,,,
"kau belum memberitahu namamu. Bukankah kita harus berkenalan secara formal? Sekarang, aku pekerjamu, kan?"
Lelaki itu menatapku datar. "Sasuke. Uchiha Sasuke"
"kau tidak ingin tahu namaku?" aku tidak percaya ini. Aku sudah dengan sopan menanyakan namanya, dan lelaki ini tidak membalas menanyakan namaku? Oh my,,,,, sedingin apa lelaki ini? Selama ini tidak ada lelaki yang mengacuhkanku seperti ini, setiap lelaki yang baru bertemu denganku, pasti akan tertarik denganku dan mereka akan berusaha untuk menarik perhatianku. Tapi, lelaki ini?
"Sakura. Kau mengatakan namamu Sakura, ketika kau berkenalan dengan Sarada tadi" suara lelaki itu masih datar
Ah ya, aku ingat itu. Tapi setidaknya aku ingin Sasuke sedikit menunjukkan minatnya padaku. Ohh, hell! Pemikiran apa ini? Bagaimana aku bisa mengharapkannya tertarik padaku? Dia sudah punya anak! Apa yang akan diaktakan istri Sasuke jika tahu aku tertarik pada suaminya? Kurasa aku butuh sedikit istirahat.
"ini enak" itu suara Sarada. Aku segera menghampiri Sarada dan memberikan senyumku padanya.
"benarkah?" Sarada mengangguk. " apakah lebih enak dari masakan ibu mu?" tiba-tiba saja wajah Sarada menjadi muram. Tatapan onixnya yang semula datar, kini menggelap. Tiba-tiba saja kau merasa telah berbuat hal yang salah. Tapi aku tidak mengerti. Oh, ayolah, apanya yang salah? Aku hanya menanyakan hal candaan khas anak kecil. aku tidak salah, kan?
"aku ke kamar dulu" sarada mendorong piringnya yang telah kosong dan beranjak menuju ke kamarnya.
"Sara,,,,"
"ehm. Sebaiknya kau jangan ganggu Sarada dulu" suara berat Sasuke menyelaku. " dia butuh waktu"
"apakah aku berbuat kesalahan?" aku masih saja tidak mengerti.
"hn. Aku mau ke kamar juga" sasuke pun beranjak ke kamanya.
Sekarang tinggalah aku disini. Ada yang salah disini. Ada yang salah dengan keluarga ini. Mereka terlalu tenang dan tanpa emosi. Kalau Sasuke aku tidak peduli. Tapi, Sarada? Dia masih kecil, seharusnya ia menjadi anak yang ceria dan penuh senyum. Dia seperti dewasa sebelum waktunya. Seharusnya, dia,,,,, oh God! Kenapa aku begitu peduli dengan mereka?
ΩΩΩ
Akhirnyaaa,,,,, bisa update juga! Makasih semuanya yang udah review! Saran kalian sangat membantu!
Chapter 2 ini, aku udah berusaha membenahi penulisanku yang ancur badai di chapter 1 kemarin. Semoga, semuanya makin suka ma fanfic abal-abal ini.
Sekali lagi makasih udah mampir,,,,,,,,
TTD : Rina Apple.
