A/N: Halo. *cough* updatenya lama ya?._. enggak ah? #ngecek kalender #jegerrr. Berhubungan sekolah Yama sering minta dibakar(?).. jadi, ah. Maklumi saja. Mungkin saya coba apdet dua minggu sekali...
Yey, Sting dateng. But.. no, wait! Baca dulu baru mengambil keputusan! XD #tendanged kemunculan Lisanna..? ga ada niat sih._. dan, Lucy menangis?! Lihat saja bener ato kagak! XD
Anyways.. enjoy :B
Disclaimer: I do not own Fairy Tail
Previous Chapter:
Natsu menyilangkan kedua lengannya di dada. Jadi.. ini mantannya? Yang telah membuatnya sakit hati, kan? Dan jika seseorang sakit hati, ia akan menangis, kan? Apa yang harus para cowok lakukan? Natsu sekarang tahu jawabannya. Tak berpikir panjang, ia juga berdiri dari kursinya lalu menghadap guru muda itu.
"Ur-sensei. Toilet."
"Layla, kau yakin meninggalkan Lucy sendiri di rumah?" Jude Heartfilia, ayah Lucy dan suami Layla Heartfilia, duduk di sebuah sofa di dalam cottage yang mereka sewa, dan cottage itu mempunyai dua kamar, cocok untuk empat orang. Layla tersenyum ala fangirl.
"Tentuu~ aku yakin Natsu mau menemaninya seperti dulu~"
"Aku bangga dengan Natsu," Igneel Dragneel, ayah Natsu dan Wendy itu menepuk-nepuk dadanya sambil meminum jusnya. Grandineey Dragneel tertawa kecil seperti gadis-gadis sekolahan.
"Jika saja si pirang itu tidak menganggu! Jude, kau jahat! Bagaimana bisa kau membolehkan Lucy berpacaran dengan Stang itu!" Grandine melempar bantal sofa ke arah Jude dengan aura mematikan yang melebihi Erza.
"Ma..maafkan aku," ujar Jude pelan. Layla dan Igneel sweatdrop, "namanya Sting, bukan Stang."
"Itu masa lalu. Setelah masa SD dan SMP berpisah, akhirnya di SMA mereka bertemu!" Layla mencoba memberitahu hal positifnya. "Tapi.. aku merasa bersalah.. membohongi mereka. Kita cuti untuk beberapa minggu.. dan membiarkan mereka berduaan?! Jika ada sesuatu terjadi dan Lucy kehilangan keperawanannya—"
"Whoa, whoa, Layla, aku akan memenggal diriku sendiri!" seru Grandine. "Natsu bukan tipe seperti itu. Aku mendidiknya dengan baik."
"Maksudmu, aku," Igneel menunjuk dirinya sendiri. "Aku ayah yang hebat."
"Aku ibu yang lebih hebat dari seorang ayah."
"Ayah lebih hebat."
"Ibu."
"Ayah."
"Ibu."
"Ayah."
"Ayah."
"Ibu."
"Kau mengakuinya!" Grandineey dan Layla lalu berpelukan lebay. Jude sweatdrop, dan Igneel duduk di pojokan menyadari kebodohannya.
'Keluarga ini sudah aneh, bagaimana jika ditambah dengan Lucy dan Natsu?' pikir Jude, tersenyum kecil.
Natsu berlari keluar kelas menuju ke toilet. Seketika ia berhenti. Menepuk jidat, lalu menggerutu, "apa aku harus ke toilet perempuan?! Dan, apa yang harus aku lakukan jika Lucy benar-benar menangis?! Kenapa aku lupa?" Oh shit, batinnya. Tiba-tiba firasatku tidak enak..
PRANG! BUK! TAK!
"Apaan tuh?" gumam Natsu heran, ia berlari kecil ke arah sumber suara. Terdengar suara seperti kaleng menggelinding, logam jatuh, bahkan..kaca? Hey, siapa yang berani membuat kegaduhan seperti itu?! Apa dia tidak takut OSIS akan mendengarnya dan.. Jreng~ tamatlah riwayatnya di tangan Erza.
"Who's there?!" teriak Natsu sok Inggris. "M-maksudku.. siapa disana?!"
Orang itu tidak menjawab, Natsu terus berlari ke sumber suara, suara itu terdengar semakin jelas, dan yang membuat Natsu shock berat, yaitu..
"L-LUCY?!"
Gadis blonde dengan jaket kuning tanpa lengan dengan bergo menutup rambutnya, menoleh. Ah, dari ciri-ciri di atas, kita bisa tahu bahwa itu memang Lucy. Lucy tampak terengah-engah, dan mesin minuman di depannya sudah rusak berat. Kacanya pecah, kaleng/botol minuman berada dimana-mana—bahkan ada yang isinya sudah meluap keluar, membuat lantai becek. Belum puas dengan amarahnya, Lucy menendang vending machine itu sangat keras, tidak mempedulikan Natsu.
"Lucy," Natsu mencoba memanggil lagi. Lucy masih mengabaikannya, kini targetnya adalah minuman-minuman yang berserakan. Ia menginjaknya hingga isinya muncrat ke mana-mana.
Ini.. sisi yang lebih seram dari Mirajane dan lebih kasar dari Erza! Natsu menelan ludahnya sendiri, tanpa sadar memegang lehernya. Lucy cocok jadi OSIS Kedisiplinan..
"Sting sialan Sting sialan Sting sialan Sting sok ganteng.. SIAL!" Lucy terus menggerutu dan menginjak-injak botol dan kaleng minuman tak berdosa itu. Natsu tersenyum grogi. Ia.. salah. Lucy sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia takkan menangis. Tapi..
Ia malah marah-marah.
Lucy menargetkan mesin minuman itu lagi. Menggunakan jurus jitu karatenya, ia memecahkan kaca mesin itu—lagi. "SIALAN!" begitu seterusnya hingga Natsu bisa makan popcorn sambil menontonnya.
Natsu melangkah ke belakang Lucy dan menepuk pundaknya. Lucy menoleh heran, tetapi wajahnya masih terlihat marah. Natsu menghela napas, menunjukkan grin-nya yang sempat membuat Lucy merona sedikit, dan yang membuat Lucy kaget, Natsu ikut menendang kaca mesin tersebut.
"N-Natsu.. apa yang kau—"
"Aku akan membantumu," hanya itu yang Natsu jawab, lalu ia melanjutkan aksinya 'menghancurkan' benda itu. "Ayo Luce! Ucapkan semua kemarahanmu! Seperti, AKU LEBIH KEREN DARIPADA ICE PRINCESS!" teriaknya bersemangat. Mata karamel Lucy melebar, ia akhirnya tertawa kecil.
"Yosh!" Lucy meninju bagian yang belum rusak. "STING SIALAN! LIHAT SAJA AKU AKAN MEMBUNUHMU MALAM INI!" dan giliran Natsu yang terkekeh. "TAPI GRAY LEBIH KEREN DARI NATSU!" Lucy menjulurkan lidahnya. Natsu tersenyum menantang. "Hei! LEVY LEBIH PINTAR DARI LUCY!" balasnya tak mau kalah. Lucy nyengir. Lalu ia mengucapkan sebuah kalimat yang tak pernah diharapkan Natsu untuk keluar dari mulut gadis itu,
"NATSU LEBIH KEREN DARI STING!" setelah memaksimalkan pukulan terakhirnya, ia tersenyum lembut, dan pipinya agak memerah. Ia menghadap Natsu—masih tersenyum—dan tentu saja dibalas cengiran Natsu.
Hangat.
Itu yang dirasakan Natsu sekarang. Lucy tengah memeluknya, erat. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya. Tanpa berpikir panjang, Natsu membalas pelukan Lucy. Mereka menyandarkan dagu mereka di bahu masing-masing. Keduanya menutup mata. Posisi mereka terus seperti itu—saling menikmati rasa hangat yang menjalar tidak karuan. Perasaan geli di perut mereka—bagaikan ribuan kupu-kupu keluar dari situ. Mengabaikan tempat mereka sekarang. Dan sebuah bisikan terima kasih dari Lucy, mampu membuat seorang Natsu tersenyum lebar.
Mengapa ia bisa merasa sebahagia ini?! Lebih bahagia daripada menemukan seekor naga!
Lucy melepaskan pelukannya duluan –yang agak membuat Natsu kecewa-, lalu derap kaki orang berlari terdengar. Panik, ia menarik Natsu untuk bersembunyi ke dalam ruangan terdekat. Sialnya, gudang sekolahlah yang paling dekat. Tak punya pilihan, mereka masuk ke ruangan berdebu itu dan membuka pintunya sedikit.
"Siapa yang berani menghancurkan mesin minuman ini?!" terdengar suara Erza. Natsu dan Lucy langsung berkeringat dingin. Ouch.
"Tenanglah, Erza." Jellal tampak menenangkan Erza dengan senyum hangatnya. Erza membalas senyumannya dan tampak merona merah. Double Ouch. Erza... blushing?
"Apa aku tidak salah lihat?!" bisik Lucy, mengucek-ngucek matanya.
"Aku tahu!" jawab Natsu layaknya seorang jenius yang menemukan penemuan baru. "Itu para OSIS—apalagi ada Erza!"
"Dan rumor ia menyukai Jellal itu nyata! Kyaa, Mira, kau harus melihat ini!"
Natsu sweatdrop, "bukan itu yang kita bicarakan."
"Kurasa kita harus mengecek tiap kelas apakah ada yang membolos. Jika ya, kita interogasi mereka," saran Jellal sebagai Ketua OSIS dengan ide jeniusnya. Anggota-anggota OSIS mengangguk, mereka mulai berpencar ke semua kelas, kecuali Jellal dan Erza. Dan, disitulah mereka, tinggal berdua.
"Oooh~ ini mencurigakan!" Lucy masih saja membahas hal itu. Mirajane benar-benar telah menularkan virus match maker -nya! Natsu prihatin pada pasangan yang menjadi target Mirajane. Semoga mereka tidak menderita. Sayang sekali. Padahal ia dan Lucy adalah salah satu target Mirajane.
"Jellal," bisik Erza dengan nada manja. Triple Ouch! Erza ternyata seorang yang manja?! Ini di depan Jellal! Dan reaksi Jellal masih tersenyum lembut! "Aku sengaja menyuruh mereka agar kita mempunyai waktu berdua."
"Jellal ngemeng epe?!" Natsu terlihat shock, sepertinya ia mulai tertarik dengan apa yang terjadi. Lucy juga makin memfokuskan matanya, ia berusaha tidak mengedip, agar tidak melewatkan satu kejadianpun.
"Aku tahu," Erza masih berbisik. "Sekarang kita memang sibuk sebagai OSIS."
"Daijoubu, kau masih bisa berkunjung ke rumahku, dan sebaliknya," hibur Jellal lalu mengecup dahi Erza setelah menyingkirkan poni scarlet-nya. Erza tambah memerah, dan Jellal tertawa kecil. "Tidak akan ada yang melihat."
"A-aku.. hanya masih belum terbiasa," Erza mengakui, menunduk malu.
"Benarkah? Bukankah kita sudah berpacaran selama satu bulan dan kau belum terbiasa?" tanya Jellal heran. Erza menggeleng, tak tahu menjawab apa. Ia tampak memainkan sweater merah yang melapisi seragamnya.
"SATU BULAN?!" Natsu dan Lucy berteriak bersamaan, mendengar fakta 'terlarang' dari Jellal.
Tiba-tiba Jellal menoleh ke arah gudang, "kau dengar sesuatu, Erza?" dan Erza mengangguk. Ekspresinya berubah serius dan kuat seperti biasa. "Siapa disitu?"
Seketika Natsu dan Lucy terdiam dan mematung untuk sementara. Hening. Bahkan Jellal dan Erza tidak terdengar bersuara. Natsu mulai berani bergerak lagi, begitu juga Lucy. Lucy mengintip keluar melalu celah pintu yang terbuka sedikit, lalu matanya menemui mata coklat milik Erza.
"GYAAAAAAAAAAAA!"
"Sumimasen," Hibiki—salah satu anggota OSIS, mengetuk pintu kelas 11-C. Setelah dibuka, tampak Ur-sensei yang tampak kaget, lalu tersenyum, "Ya, Hibiki-kun?"
"Apa.. di kelas anda ada yang..membolos?" tanya Hibiki ragu-ragu. Seluruh siswa mengernyitkan alis, kecuali Levy yang berkeringat dingin. Sepertinya ia mulai tahu arah pembicaraan tersebut. Bagaimana tidak? Ia mendengar teriakan Lucy dan Natsu tentang.. Sting atau Gray atau keren atau sialan atau apalah yang sedang mereka teriakkan. Jangan lupa dengan bunyi kaleng minuman, atau sebuah objek yang di tendang. Bahkan kaca pecah.
Prediksi Levy, Lucy tengah melampiaskan amarahnya pada suatu benda sampai benda itu benar-benar hancur. Levy menghela napas.. typical Lucy. Ini sudah pernah terjadi saat SMP. Sekarang 'penyakitnya' kambuh lagi.
"Tidak, hanya.. ada yang ke toilet," jawab Ur-sensei bingung. Hibiki menjentikkan jari, wajahnya terlihat lebih serius, "mungkin itu alasan mereka untuk membolos!"
"Tunggu tunggu," Gajeel mengangkat suara, membuat wajah Levy cerah. "Kita tahu flame brain membolos sudah biasa, tapi.. bunny girl?!" dan murid-murid lain menyetujui.
"Betul! Lucy tak pernah membolos!" dukung Gray, membuat Juvia cemburu. Matanya berkilat berbahaya, "Lucy-san kembali menjadi Love rival." Dan Gray merinding merasakan aura gelap Juvia.
"Ah, semua bisa terjadi kalau ada si pinky itu. Pikirkan baik-baik, mungkin saja Heartfillia-san terpengaruh?" Sting mengutarakan pendapatnya. Fangirls terbarunya menjerit norak, membuat syaraf kemarahan seluruh laki-laki di kelas muncul di dahi mereka.
"Ya, ya, ya," jawab Levy malas, "Hei, Sting. Kau diam saja."
Sting menoleh ke Levy dan matanya melebar sebentar, "Whoa.. si kutu buku juga satu sekolah bersama mantanku ya? Lama tak bertemu, bookworm! Kita bisa menjadi teman lagi suatu saat.." suaranya terdengar bersahabat, tetapi Levy hanya menggumam 'tch', menganggap itu hanya akting.
"Siapa yang kau sebut kutu buku, blonde freak?" seru Gajeel tidak terima. Gray sweatdrop, "Pertama, kau juga sering memanggil Levy seperti itu. Kedua, kau mulai lagi menjuluki orang."
"Diamlah, es lilin!" seru Gajeel.
"Besi karatan!"
"Underwear prince!"
"Metal head!"
"GYAAAAAAAAAAAA!"
Hening seketika. Teriakan seorang perempuan—tentunya, dan Levy mengetahui bahwa itu adalah Lucy. Apa.. ada anggota OSIS yang 'menangkapnya?' Semoga bukan Erza, batin Levy. Maaf, Levy. Doamu justru berkebalikan dengan kondisi sebenarnya.
"Itu Lu-chan!" Levy menyuarakan pikirannya.
"Love rival!" seru Juvia, semuanya sweatdrop. Tanpa pikir panjang, Gajeel, Levy, Gray dan Juvia keluar menerobos Hibiki yang memasang wajah bingung. Kini ia ditatap satu kelas dengan wajah ngapain-masih-disitu-lebih-baik-menyusul-mereka. Hibiki menggaruk leher belakangnya, lalu berlari keluar.
"L-Lucy? Apa yang kau lakukan di gudang?" tanya Erza kaget, sedangkan Jellal menatap mereka horror. Ouch. Pembicaraannya dengan Erza terdengar! Rahasia yang mereka sembunyikan dengan rapi, terdengar! Apalagi oleh Lucy yang dekat dengan Mirajane. Dan.. Natsu! Si mulut ember!
Ini benar-benar hari terburuk Jellal.
"Jangan bilang kau.." Jellal menunjuk Lucy dan Natsu yang menatap satu sama lain lalu nyengir jahil. "Betul! Kita mendengarnya!"
"..." Hening. Wajah Erza dan Jellal memerah.
"Tenang saja, aku takkan memberitahu siapa-siapa, ya kan Luce?" Natsu merangkul Lucy yang tertawa kecil. Tapi Lucy-lah yang akan memberitahu Mira.
"Betul!" balas Lucy. "Tapi.. mengapa kalian menyembunyikan status kalian?" tanyanya kepo, didukung anggukan Natsu yang childish. Jellal menatap Erza sebentar, Erza mengangguk. "Sebenarnya.. kami—"
"Flame-brain! Beraninya kau mengajak bunny-girl ke jalan yang sesat!" suara Gajeel menginterupsi. Natsu, Lucy, Erza, dan Jellal menoleh ke Gajeel, Levy, Gray dan Juvia yang tampak terengah-engah.
"Aku? Mengajak? Lucy? Jalan sesat?" Natsu menunjuk dirinya sendiri.
"Tidak, ...Gajeel! Janganh... percaya.. Sting!" sahut Levy yang tengah mengatur nafasnya. Gajeel mengernyitkan alisnya—maksudnya, piercing -nya(?). Lucy mendongakkan kepalanya mendengar nama 'Sting'. Tetapi ia menunduk lagi, poninya menutup wajahnya.
"Oh tidak.." gumam Levy.
"STING SIALAN STING SIALAN STING SIALAN!" Lucy berlari ke mesin minuman yang sudah bobrok itu, lalu beraksi lagi. Menendang, meninju, dan menghancurkan yang belum hancur. Kalau bisa, ia banting hingga retak!
"Lu-chan!" Levy menjerit.
"AKU BELUM PUAS, LEVY! BIARKAN AKU MEMBUNUHNYA!"
"Erza-san, Jellal-san!" Hibiki tiba-tiba datang bersama beberapa anggota OSIS. Dan, sosok yang paling Lucy benci datang dari belakang. Sting Eucliffe. Levy menelan ludahnya.
"Apa yang kau lakukan disini, blonde freak?" geram Gajeel yang akhirnya mengerti bahwa penyebab Lucy menghancurkan mesin minuman tersebut adalah Sting. Sting mengedikkan bahu, tanpa basa-basi ia berjalan menuju Lucy.
"S-Sting..m-menjauh dariku!" Lucy mundur beberapa langkah, dan Sting maju. "Jangan coba-coba mengambil hakku lagi!"
"Heartfillia-san, kau boleh membenciku. Aku hanya.. ingin minta maaf," jawab Sting pelan. "Maafkan aku, atas perwakilan ayahku juga." Sting membungkuk, membuat semua orang disitu syok apalagi Levy dan Lucy.
Seorang Sting ... meminta maaf!
Lucy tidak menjawab, terlalu bingung apa yang telah terjadi pada Sting. Sting yang ia kenal, selalu mempertahankan harga diri dan.. licik, dan otomatis, seorang STING tidak meminta maaf!
"Bohong.." gumam Lucy. "Di kelas.. kau menyeringai padaku.."
Sting menghela napas lalu tertawa kecil, "Kau tidak bisa membedakan seringaidan cengiran ya? Ah, dosaku terlalu banyak bagimu ya, blondie?"
Lucy menatapnya datar. "...terserahlah, jika kau melakukan hal yang sama, aku benar-benar akan membunuhmu." Lucy menyeringai. "Dulu aku tak pernah menyukaimu, kau tahu?"
"Aku tahu, aku tahu. Kau sudah mengatakannya 100 kali sejak kita berpacaran," gerutu Sting. "Tetapi.. aku masih menyukaimu, bagaimana ini?" Sting mengakui, sedangkan wajah Lucy tetap datar, tak ada belas kasih yang ia berikan.
Semua yang menonton diam, tak berani berbicara. Lagipula mereka tidak mengerti masa lalu antara Sting dan Lucy. Apalagi Natsu. Entah mengapa ia agak lega bahwa Lucy tidak menyukai Sting. Tapi.. yang ia khawatirkan sekarang, bagaimana kalau Lucy menerima Sting? Bagaimana kalau Lucy memaafkan Sting, lalu berpacaran dengan Sti—
Natsu tidak bisa membayangkannya! Dadanya terasa sesak! Tetapi ia sama sekali tidak mengerti, mengapa ia mengkhawatirkan kisah cinta Lucy? Bukankah itu hidup Lucy? Apa hubungannya dengan dirinya?
"...maaf, aku tidak menyukaimu. Aku masih menyukai orang yang sama sejak dulu." Semua orang yang menonton mulai penasaran siapa orang yang dimaksud Lucy. Levy terlihat paling kaget, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Sting dan Lucy..? Apa peristiwa yang sebenarnya terjadi? Apa.. Lucy berbohong padanya?
Natsu tiba-tiba merasa ingin menonjok orang yang disukai Lucy, entah mengapa.
"...begitu ya?" Sting terkekeh. "Tidak apa-apa. Lagipula, ini hari terakhir kita bertemu. Aku tidak benar-benar sekolah di sini, aku hanya ingin menemuimu untuk.. yah, kau tahu. Aku akan belajar ke Amerika."
"Dasar orang kaya," gumam Lucy. Ekspresinya melembut, lalu ia tersenyum untuk pertama kalinya kepada Sting, "Aku yakin masih banyak cewek disana yang bisa kau sukai! Seperti, Yukino mungkin." ia menyemangati. Sting nyengir mendengar nama Yukino, "Yah!" Memasukkan tangannya ke saku celana, ia berbalik menuju kelas. Yukino.. benar juga. Dia juga lumayan tipeku.
Para anggota OSIS memberi jalan, dan Natsu masih terdiam di tempatnya.
"Hei pinkie. Jaga Lucy baik-baik atau aku akan melemparmu ke jurang," bisik Sting di telinga Natsu yang membuatnya melompat kaget. Sting terkekeh lalu menghilang dari belokan koridor.
Masih hening. Lucy membungkuk dan mengambil sampah botol/kaleng minuman yang berserakan. Membuangnya ke tempat sampah terdekat, lalu ia berkacak pinggang.
"Bisa.. mohon bantuannya?" tanyanya, melirik ke Gray, Juvia, Levy, Gajeel, Erza, Jellal, dan terakhir.. Natsu. Lucy merasa ada perubahan drastis pada Natsu. Pemuda itu yang biasanya blak-blakan dan sebagainya, menjadi pendiam. Apalagi setelah Sting datang tadi.
Dan biasanya, Natsu-lah yang pertama kali selalu membantu Lucy—belakangan ini.
Teman-teman Lucy mengangguk pelan, lalu mulai membantu membereskan sampah-sampah yang berserakan. Semuanya diam, tanpa berbasa-basi bahkan Levy! Lucy tidak mengerti, apa ia melakukan hal yang salah?
Natsu sendiri tidak membantu, ia mengedikkan bahu lalu berjalan ke kelas sendirian.
Ia tidak mengerti, rasanya dadanya panas dan ia tidak merasa ingin melakukan apa-apa. Natsu tidak mengerti, mengapa ia merasa sangat.. putus asa? Whoa, ini adalah Natsu yang kita bicarakan.
Di otaknya, suara Lucy menggema, Aku masih menyukai orang yang sama sejak dulu. Siapa kira-kira orang itu? Pasti pemuda itu sangat beruntung, apalagi disukai Lucy sejak dulu, berarti.. sejak SMP hingga sekarang. Bayangkan sudah berapa tahun?
Menghela napas, ia membuka pintu kelas dan tidak tampak keberadaan Ur-sensei. Ia baru ingat, tadi bel berbunyi. Pelajaran pertama sudah selesai. Sekarang pelajaran kedua... Natsu tidak mau tahu pelajaran apa sekarang. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya mengenai Lucy.
Dan saat Lucy masuk ke dalam kelas, ia juga tidak banyak bicara. Begitu juga Levy, Gajeel, Gray, Juvia, Jellal, dan Erza. Teman sekelas yang melihat geng khas kelas 11-C, terlihat heran. Dimana kehebohan mereka?
Sting tak terlihat, tasnya juga tidak ada. Lucy berasumsi bahwa ia sudah pulang. Tch, orang kaya. Rela membayar seragam dan biaya lainnya hanya untuk sekolah satu hari di sini, demi meminta maaf pada Lucy?!
Lucy menganggap itu so sweet.. tapi, yah. Ia tidak menyukai Sting. Tolong digaris bawahi.
"Natsu?" suara Lucy terdengar lembut. Natsu menoleh lambat-lambat ke arah Lucy dan menggumam 'apa'. Lucy menghela napas, "kau..baik-baik saja..kan?" tanyanya ragu-ragu. Natsu menatapnya dengan mata yang agak melebar, ekspresinya seperti anak anjing yang kebingungan. Mau tidak mau Lucy tertawa kecil.
"Hei, jangan menertawaiku," katanya kekanak-kanakan. "Aku..tidak apa-apa, walaupun aku tidak tahu pasti."
"Dasar aneh," gumam Lucy. "Tapi aku tidak menyukaimu seperti ini. Cerialah!" Lucy menyilangkan kedua lengannya di dadanya. "Sangat bukan Natsu jika kau pendiam."
Natsu memalingkan wajahnya, "Tentu saja. Kau sudah menyukai seseorang sejak dulu." Sekarang ia benar-benar terlihat childish, ia sedang cemberut. Lucy menahan tawanya.
"Bukan itu maksudku~" seru Lucy. "Kau itu—tunggu, apa katamu? Hooo, seorang Natsu cemburu?" gadis blonde itu mulai tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja. Natsu mendengus dengan wajah memerah, "Aku tidak cemburu!"
"Lalu apa? Dengan sikapmu tadi kau cemburu!"
"Aku..aku..hanya.."
"Hoho, siapa yang tsundere sekarang?"
"Bicaralah pada cermin, nona," gerutu Natsu.
"Dengar Natsu. Tentang menyukai seseorang sejak dulu itu.." Lucy menggantungkan kalimatnya. "..ermh.. aku.. berbohong pada Sting! Ya! Supaya dia tidak mengejarku!"
Masih kekanak-kanakan, mata Natsu berbinar dan wajahnya lebih cerah, ia mengangguk-ngangguk. "Lebih baik kau memberi tahuku jika kau sudah menyukai seseorang," ujarnya. "Jika kau memilih orang yang salah, aku akan menghabisi orang itu!"
Lucy sweatdrop, "Ahaha, tenang saja.."
"Dasar bunny girl, secepat itu dia membuat flame brain kembali normal," dengus Gajeel yang tengah mengunyah permen karet. Levy tersenyum, "Mereka saling menyuuuukai!"
"Sebaiknya begitu. Karena, Gray-sama hanya milik Juvia." Mata Juvia berbentuk hati saat melihat ke arah Gray yang berkeringat dingin. Gray tertawa grogi.
"Erza, Erza~!" panggil Levy kepada pacar rahasia Jellal tersebut. "Bagaimana kalau kita membuat drama untuk pelajaran Seni dan Sastra?! Kita bisa membuat tiket untuk orang diluar sekolah! Lalu kita tentukan harganya, labanya 1/3% untuk sekolah dan sisanya untuk kita! Guru Seni dan Sastra juga akan berterima kasih, lalu kita—"
"Ya, Levy, aku setuju," Erza memotong celotehan Levy, mengingatkannya pada Mirajane. "Aku akan berbicara pada Bacchus-sensei dan Cana-sensei. Mengingat mereka berdua adalah guru mata pelajaran terkait dan mereka punya hubungan, ini akan menjadi gampang." Lanjutnya dengan kata-kata formalnya seperti biasa. Typical Erza.
"Pastikan tattoo guy—" Gajeel terhenti saat ia di-glare Erza, "m-maksudnya Jellal tau tentang ini, walaupun aku tidak akan ikut di drama bodoh." Disambut anggukan Gray.
"Oho, Gajeel, kau IKUT," Erza mengeluarkan aura mematikannya. "..dan Gray? Bagaimana denganmu?"
"Aye ma'am!" Gray berkeringat dingin. Lalu ia mendapati Juvia mendekat padanya dengan ekspresi yang menyeramkan..bagi Gray.
"Juvia ingin menjadi putri raja dan Gray-sama adalah pangeran Juvia!"
"Apa? Tidak mungkin!"
"Gray-sama~! Penolakanmu sungguh indah!"
"Menjauhlah!"
Semua yang menonton sweatdrop.
"Luce ~ untuk apa kita ke supermarket? Bukankah bahan masakan kita masih ada?" tanya Natsu malas. Ia dan Lucy akan memasak bersama lagi, di rumah Lucy tentunya. Natsu sendiri 'dipaksa' untuk menginap di rumah Heartfilia heiress itu, tapi dengan alasan membantu Lucy memasak. Tentu, itu hanya alasan Lucy.
"Aku tidak minat memasak, aku mau mi instan! Mi rebus!" omel Lucy seperti ibu-ibu hamil yang ngidam macam-macam.
"Ah.. baiklah, ayo," Natsu juga ingin mengakui ia malas memasak, jadi disinilah ia di depan kasir sambil membawa dua bungkus Fioremie (A/N. Kalo di Indonesia adanya Ind*mie, berarti di Fiore.. Fioremie XD). Ia memilih rasa kesukaannya, rasa pedas dan Lucy memilih Fioremie yang kuah.
...Kenapa kita malah membahas mie instan? (A/N. Maaf, author lagi pengen mie tapi tidak tercapai XD)
Pulang ke rumah Lucy, memakan mie pilihan mereka sambil sesekali bercanda, atau Natsu yang menjahili Lucy lagi. Mereka berdua merasakan déja vu.
"Aku.." Lucy dan Natsu berkata, menatap satu sama lain. Terkekeh bersamaan, mereka berkata lagi, "Kau duluan." Berkata bersamaan lagi, "Baiklah." Lalu Lucy mencoba berdehem agar perkataan mereka tak sama lagi.
"Kau tahu.. aku merasa kita pernah melakukan ini sebelumnya," ujar Lucy, menyuap mie ke dalam mulutnya. Natsu mengangguk setuju.
"Ya.. aku.. juga berpikir begitu," jawabnya. "Tetapi.. bukan di rumahmu, tapi di suatu tempat," lanjutnya. Lucy mengernyitkan alis, tampak berpikir keras.
"Apa..menurutmu kita berada di sebuah.. restoran?"
"Ah.. ya, sepertinya."
"Kenapa pemikiran kita bisa sama?" tanya Lucy heran.
"Mungkin kita pernah bertemu dulu," jawab Natsu asal, menyuap mie ke dalam mulutnya dengan sumpitnya. Lucy terdiam sejenak. "Kau bercanda?"
"Iya," jawab Natsu lagi.
"Menurutku kau serius. Ceritakan yang kau ingat."
"Ingat? Apa menurutmu itu bagian dari memoriku?" tanya Natsu heran. Ia tidak mengerti arah pembicaraan ini, ia pernah menemui Lucy? Apa Lucy adalah teman masa kecilnya? Ia baru mengenal Lucy sejak kelas 1 SMA. Ia tidak terlalu mengingat teman TK-nya. Is it even possible bahwa Lucy adalah teman TK-nya?
"Bisa jadi," Lucy menyuap mienya lagi dengan sumpit.
"Jadi, aku tersesat di mall dan orang tuaku menghilang. Sepertinya Wendy belum lahir. Lalu aku menemuimu dan orang tuamu, lalu.. kita makan bersama di restoran?" jelas Natsu dengan nada bertanya. Apa itu khayalannya saja? Tapi ia merasa itu benar-benar terjadi.
"...Ah." hanya itu yang Lucy jawab. "Aku ingat."
Natsu terbatuk, "apa?" jadi itu benar-benar terjadi?!
"Kita pernah bertemu! Seingatku usiaku masih 4 tahun.." seru Lucy semangat, ia tersenyum lebar. Natsu menatapnya dengan mata lebar, ia pernah mengenal Lucy!
"Jadi.. itu kau.." gumamnya. "Saat kita bertemu, kita tidak mengetahui nama masing-masing." Lalu Natsu menunjukkan toothy grin-nya. Ia bertemu kembali dengan Lucy, seperti takdir saja. Ah, itu memang takdir. Entah mengapa Natsu merasa sangat bahagia. Teganya ia melupakan Lucy!
Lucy tersenyum hangat. "Bahkan kita saling mengenal saat TK.. sayangnya kita beda kelas!" lalu ia menceritakan pengalamannya dengan Natsu dulu yang sudah lama terlupakan.
"Ah! Aku ingat!" dan begitu selanjutnya.
Lucy dan Natsu tidak sabar menunggu reaksi teman-temannya nanti. Tapi, sepertinya mereka lupa bahwa masih ada Mirajane dan Levy...
A/N: Muahaha, masih ada suspense di sini. Jangan khawatir, pasti akan di jawab di chappy-chappy selanjutnya. REVIEW CORNER! :3 thanks for your review!
Audrey Naylon – wkwk, syukurlah(?) arigatou ne. Karinalu – terima kasih *bow*^^ tukang kebun.. saya jadi ketawa sendiri. Entah mengapa saat itu kepikiran di otak saya XD. Hasegawa AI – Hoho, pertanyaan anda tentang Lucy menangis sudah terjawab di chappy tadi XD. Azalya dragneel – tenang saja. Sting tidak menganggu NaLu bermesraan~ yah, semoga di Jepang beneran ada OSIS(?). Himiki-chan – muahaha Natsu banci?! #digebuk Lucy. Lucy mesum ya? Itu Cuma ngegoda Natsu doang.. mehehe(?). Aku ingin membuat Natsu seperti Rin Okumura bisa masak~ KYAA RIN OKUMURA KAU KECE KALEE #fangirling #dibantai #abaikan. Reka Amelia – okee, ini next chappy nya, arigatou ^^. – iya, chap pertama emang selalu pendek dulu sebagai preview. Maaf, saya orang sibuk. #plak arigatou, minimal dua minggu sekali gapapa kan? *puppy eyes*. RyuuKazekawa – Lisanna? Oho, kau mengingatkan saya. Aku ganiat masukin Lisanna sih.. tapi belum tentu juga. Soalnya agak nyesek kalo bikin NaLu diganggu Lisanna yang gak bersalah..(?). ghinapink – mereka gak ke toilet kok XD mudah mudahan gak hiatus.. amin. Salahkan sekolah. #plak yap, itu tadi next chapnya. Ren – Sting kan emang penganggu, jadi wajar #devil laugh#. RukamI Aiko – Lucy Ashley? Gak juga sih. Soalnya masih ada sisi femininnya.. dan edo Lucy itu terlalu brutal(?). Iya, nanti dibanyakin kok momennya XD. Sykisan – whoa.. jealous kenapa? Tenang saja, Juvia belum mendapatkan Gray. Silakan Graynya diambil #wooi. Salam kenal jugaa :D. nshawol566 – arigatou^^ ini next chapnya. Umm.. lanjutin fanficmu yang judulnya 'Fanfiction' dong XD penasaran~
Yay. Bersediakah nunggu dua minggu? XD arigatou. See u in next chap~
