A/N. Cuma pengen ngomong kalo sekarang belum tentu bisa apdet 2 minggu sekali.. gomen. Disclaimer: I dont own Fairy Tail.. if i do, NaLu would be official!

.

Lucy mengerjapkan matanya berkali-kali. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah sinar matahari yang menyilaukan di sebuah ruangan bernuansa biru—Wallpaper biru, koleksi tas berwarna biru, dan sebagainya. Lucy mengerlingkan mata lagi, memandang ke sekeliling lagi. Lama-lama ia merasa familiar dengan ruangan ini.

"Ini.. ini kamarku," gumam Lucy beberapa detik kemudian, memijat alisnya. "Kenapa di sini hangat sekali?"

"Oh.. kau sudah bangun?" terdengar sebuah suara yang tanpa menoleh pun Lucy sudah tahu. Lucy menyimpulkan dialah sumber hangatnya. Ah, penghangat ruangan gratis di pagi hari! Natsu menguap secara kekanak-kanakan, lalu memandang wajah horror Lucy dengan heran. "Apa?"

"Kau..." Lucy mendesis, melirik tangan Natsu yang melingkar di pinggangnya, dan Natsu menelan ludahnya. "APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU?! Dasar mesum! Untung saja aku masih memakai pakaianku! Apa ayahmu tidak mengajarimu tentang privasi orang lain?! Bagaimana kalau ada kesalahpahaman?! Apa kau akan bertanggung jawab? Bayangkan jika Mira melihat ini! Kita bisa masuk ke majalah Sorcerer! Lalu orang tua kita bahkan Wendy membacanya, lalu kita—"

Natsu memasang wajah tidak mengerti.

"Aku tidak mengerti," dengus Natsu masih kekanak-kanakan. Belakangan ini Natsu memang selalu terlihat kekanak-kanakan. Tetapi itulah bagian dari Natsu, bagian yang Lucy sukai termasuk Natsu. Lucy tersenyum kecil.

'Hee, aku menyukai itu tentang Natsu?! Sialan.. apa yang ku pikirkan? Dia Cuma teman... masa kecil.'

"Oh.. kalau..begitu.. aku.. akan mandi dulu.. iya, mandi! Jangan mengintip!" Lucy tertawa grogi sambil menggaruk kepala belakangnya, tetapi saat di kalimat terakhir, aura gelap muncul. Saat ia mau bangun, sesuatu seperti menahannya. "Eh.. bisa lepaskan tanganmu?"

Mereka terdiam di posisi seperti itu.

"T-t-t-tentu! M-m-maaf!" Natsu tergagap dengan wajah memerah. Lucy tersenyum samar, ia menyambar HP dari meja belajarnya, menyambar handuk, menyambar baju seragam, dan membuka pintu kamar mandi, bukan disambar. Kenapa? Karena tidak bisa.

'Dasar tukang sambar..' Natsu menyipitkan matanya. Kemudian, HP-nya di kantong berbunyi, dua SMS masuk. Natsu mengecek SMS pertama dari Lucy Tsundere dan SMS kedua dari Levy Tukang Kebun.

From: Lucy Tsundere

Oi! Mau nanya.. Kenapa kau tidur di kamarku? Kenapa tidak tidur di kamar ayahku? Jawab yang cepat, dasar pinky head.

Natsu mengetik dengan cepat, lalu mengirimnya selagi menyeringai nakal. Natsu tertawa geli mendengar bunyi HP Lucy dari kamar mandi.

To: Lucy Tsundere

Karena.. tidur di sampingmu serasa lebih indah.

Natsu hampir terbahak mendengar jeritan Lucy dari kamar mandi, "SIALAN NATSU! JAWAB YANG SERIUS!"

"Ya, ya! Alasannya, kau tidak memberi tahuku aku tidur dimana dan aku tidak tahu kamar ayahmu!" balas Natsu agak berteriak. Lucy menghela napas, "Oh ya.. ini baru hari kedua kau ke rumahku," tetapi setelah itu ia malah mendengar suara air mengalir. Lucy kalau sudah mandi, pasti lupa segalanya, pikirnya.

Natsu teringat ada pesan dari Tukang Kebun kesayangan si pierching itu. Natsu membukanya dan membacanya, tentu saja. Natsu menghela napas setelah membaca. Dasar Tukang Kebun songong.. Lihat saja nanti, setelah drama itu, Lucy akan berperilaku seperti seorang Putri!

From: Levy Tukang Kebun

Hei, pinky! Kaulah satu-satunya yang isi pesanku berbeda dari yang lain, Yah.. lagipula kau yang mengusulkan drama itu. Tumben.. otakmu berisi juga. (Natsu: Hei! Memangnya seorang Tukang Kebun otaknya berisi?!) Aku sudah memberitahu Erza dan rencananya ia dan Jellal akan memberitahu Bacchus dan Cana-sensei. Makanya, kelas 11-C disuruh datang lebih awal! Atau, Erza akan meremukkan tulangmu.

Selamat tinggal di sekolah.

N.B. Karena 'sampai jumpa' sudah terlalu mainstream, maka aku bilang selamat tinggal

Natsu mengetik balasannya dengan ogah-ogahan.

To: Levy Tukang Kebun

Ya ya ya terserah apa kata tukang kebun.. aku heran kenapa seorang tukang bengkel (Gajeel) mau dengan tukang kebun.. jangan-jangan anak kalian nanti tukang salon.

Selamat datang di sekolah.

N.B. anti-mainstream.

Kurang dari 7 detik HP-nya berbunyi lagi.

From: Levy Tukang Kebun

HEI! MAU MENGAJAK RIBUT, FLAME-HEAD? Ini dari TUKANG BENGKEL!

Sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

Bunyi pintu kamar mandi dibuka, dan tampaklah seorang Lucy mengenakan seragamnya. Auranya gelap, dan ia melempar selembar handuk ke arah Natsu. "Cepat bersiap, pemalas. Aku tak mau Erza menerorku."

.

Di kelas, geng khas 11-C sudah berkumpul. Gajeel, Levy, Gray, Juvia, Erza, dan Jellal.

"Hei, dimana flame-head dan bunny-girl. Semuanya sudah berkumpul," gerutu Gajeel yang tengah mengemut sendok logam. Penyakit barunya ini susah di sembuhkan, seperti kebiasaan Gray melepas bajunya tanpa sadar.

"Tapi, itu baru 14 detik yang lalu," ujar Levy.

"Kau menghitungnya?" Jellal sweatdrop.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka—maksudnya terbanting dengan keras. Dua manusia berbeda gender tampak beragumen (jangan lupa dengan napas terengah-engah karena habis berlari) seperti suami-istri yang bisa membuat Mirajane masuk ke mode fangirl.

"Apa yang membuat kalian lama!" Erza memarahi Lucy dan Natsu yang datang terengah-engah. Lucy merasa kakinya seperti jelly, rasanya ia tak mampu berdiri lagi. Jarak dari rumah ke sekolah memang agak jauh. Ia sering ditawari naik mobil oleh ibunya, tetapi ia menolak. Alasannya, melatih karatenya. Entah apa maksudnya, tapi Lucy sendiri bingung. Ia tidak punya alasan yang kuat. Ia ingin berjalan kaki.. seakan-akan semestinya begitu, seakan-akan hanya itu takdir Lucy.

Dan biasanya ia berjalan kaki, bukan berlari kaki seperti sekarang.

"Mhe..memangnyah.. kita telat berapa jam?!" seru Natsu yang masih mengatur nafasnya. Lucy sudah duduk di lantai dan di datangi Levy dengan tergopoh-gopoh.

"Kalian telat.." Erza melihat jam tangannya. "23 detik!" lalu hening.

"Itu tidak telat!" raung Lucy dengan nada putus asa.

"Hmph! Ash brain selalu berpacaran hingga lupa waktu," Gray menggelengkan kepalanya, tetapi bibirnya menyunggingkan seringai nakal.

"Apa kau bilang ice prick?!"

"Kau tuli ya, flame head?!"

"Siapa yang tuli, ice head?!"

"Kau menantangku, fire mouth?!"

"Kemarilah, ice brain!"

"Kalian bertengkar?" desis Erza. Lalu ia disuguhkan pemandangan Natsu dan Gray saling merangkul dan bercengkrama. "T-tidak! Kita latihan drama bertengkar, siapa tahu ada adegan itu!" seru Gray. "Iya kan, sahabatku?" lalu dibalas 'aye!' oleh Natsu.

"Baiklah, mulai saja pemberitahuannya!" kata Natsu dengan wajah cerah. Ia menyeringai pada Levy, dan Levy balas menyeringai.

"Ne, ada apa dengan seringai itu?" Mirajane tiba-tiba muncul dari belakang Natsu. Semuanya bergidik begitu melihat matchmaker itu. Hanya Levy saja yang menjerit senang dan menghambur ke pelukan Mirajane.

"Mira-chaaaaan~" ia memeluk Mirajane erat, dan tanpa diketahui, ia membisikkan sesuatu `ke telinganya. Gajeel yang merasa iri—atau cemburu?, menggigit sendok logam yang ia emut dengan keras. Tiba-tiba sendok itu patah dan tertelan oleh Gajeel..

Setidaknya itu hanya khayalan seorang Gajeel yang tengah patah hati.. XD

"Ehm, baiklah, begini." Erza memasang wajah dan suara tegas. "Seluruh kelas 11 akan mengadakan drama, gabungan dari pelajaran Seni—pelajaran Cana-sensei—dan Sastra—pelajaran Bacchus-sensei. Kelompoknya sudah di tentukan, aku mempersilahkan Jellal-koi—"

'Jellal-KOI?!' semua menjerit di dalam hati. Erza memanggilnya Jellal-KOI?! Dan tentunya kecuali Natsu dan Lucy yang tengah menyeringai lebar. Jellal dan Erza mengirim death glare 'bocorkan-rahasia-lalu-kalian-harus-menikah.'

"—m-maksudku Jellal untuk mengumumkan anggota kelompok kita." Wajah Erza sudah semerah tomat, dan Jellal berusaha untuk menahan tawanya. Di mata Mirajane, itu sudah termasuk drama. Matanya berbentuk hati dan ia merasa ingin berteriak sehingga terdengar ke langit ketujuh.

"Uhuk. Sebenarnya aku tidak usah menyebutkannya.. karena, kita semua satu kelompok. Oh iya... dengan Laxus juga, sayangnya Levy tidak punya nomor HP-nya, jadi ia tidak mengirim SMS padanya," ujar Jellal, memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Mirajane merasa tersedak udara saat mendengar nama Laxus.

Mata Juvia berbentuk hati, "Gray-samaaaa kita satu kelompok!" lalu memeluk Gray erat sehingga membuat wajah Gray menjadi ungu.

"Nh-nhapasss...ku..!"

"Jadi, drama tentang apa ini?" tanya Natsu dengan wajah pura-pura tidak tahu, yah sebenarnya ia hanya mengetahui peran Lucy sebagai apa, dan menurutnya itu sudah lebih dari cukup, karena pada dasarnya drama ini untuk membuat Lucy feminin. Ia melirik ke arah Levy.

"Oh, itu! Aku sudah menulis naskahnya!" Levy berseru dengan semangat. "Dan aku tidak tahu apa peran yang harus kalian mainkan. Jadi, kalian harus mengambil salah satu kertas dari wadah ini!" Levy sendiri mengambil satu gulungan, membukanya dan tersenyum lebar. "Mira-chan, tolong dibagikan?"

Mirajane mengambil wadah berisi gulungan kertas tersebut, lalu menyodorkannya pada Erza. Erza berdoa sebentar di dalam hati, lalu mengambil salah satu gulungan. Ia membukanya pelan-pelan, lalu menghembuskan nafas lega.

Giliran Gajeel. Ia mengambil dengan cuek, lalu saat membukanya, ia menggerutu tidak jelas. Levy mengira apa peran yang di ambil kekasihnya itu.

Erza melihat Jellal dengan khawatir apa peran yang akan ia mainkan saat Jellal mengambil salah satu gulungan kertas. "Eh? Lumayanlah." Gumam Jellal, lalu kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Erza menghembuskan napas lega, dan ia lupa bahwa Mira memperhatikannya dengan senyum polos-nya.

Sekarang giliran Gray. Ia mengambil salah satu gulungan kertas, lalu membacanya. Sesaat kemudian ia ada di pojokan ruangan terdekat.

Juvia mengambil salah satu gulungan kertas dengan semangat. "Semoga Juvia menjadi putri dan Gray-sama adalah pangeran Juvia!" setelah ia membacanya, ia berteriak ala fangirl dan langsung menghampiri Gray di pojokan ruangan.

"Nah, Natsu, giliranmu," Mirajane tersenyum, senyum yang tak bisa digambarkan. Natsu bergidik, ia tahu senyuman itu. Pertanda buruk. Berharap yang terbaik, Natsu mengambil gulungan kertas yang tersisa. Mana untuk Lucy? Mirajane dan Laxus juga tidak ada.. Pikirnya heran.

Membacanya, Natsu tersenyum lebar. Peran ini akan ia cintai seumur hidup!

"Hei, mana untukku?" tanya Lucy heran. Levy pura-pura terhenyak, tangan mungilnya menutupi mulutnya. "Wah wah! Aku lupa! Ada Mirajane dan Laxus juga! Hmm.. baiklah. Aku akan membuatnya dulu.. dan jangan mengintip!"

"Okeey~!" jawab Mira dengan riang. Lucy menatapnya curiga.

Kurang dari semenit, Levy kembali dengan tiga gulungan kertas di tangannya. Ia menuju ke Mirajane, dan gadis yang merupakan model majalah Sorcerer itu memilih gulungan di tangan kiri Levy.

"Aku akan memilih ini untuk Laxus juga," Mirajane kemudian mengambil lagi selembar gulungan. Dan sekarang tinggal satu gulungan. Levy berjalan ke arah Lucy yang menatap Mirajane curiga. "Lu-chan.. maaf, ini yang terakhir."

Lucy mengambilnya dan membacanya. Matanya melebar, dan ia bergumam 'sial'. Natsu menyeringai puas. Rencananya akan berhasil! Lihat saja, tukang kebun..

"Kita harus merahasiakan peran kita," kata Erza, "mengingat Laxus belum datang dan membaca perannya, kurasa tidak adil jika kita sudah memberitahu peran kita. Kita harus menunggu Laxus!"

'Wow, terima kasih banyak, Erza,' pikir Levy sarkastis, ia memasang wajah kecewa, tetapi Mirajane menepuk bahunya.

"Tenang saja, semua indah pada waktunya," bisiknya bijak. Levy menyunggingkan senyum. "Aku tahu."

.

Sekarang adalah waktu istirahat, dan seperti biasa, semuanya berkumpul di kantin. Levy, Gajeel, Gray, Juvia, Erza, Jellal dan Mirajane duduk di sebuah meja panjang. Absennya dua manusia berambut pink dan kuning mengundang kecurigaan Gajeel.

"Hei.. setelah aku perhatikan—bukannya aku peduli, Pinky head dan bunny-girl terlihat lebih dekat belakangan ini," Gajeel memecahkan keheningan di antara mereka yang tengah makan. "Maksudku, yah. Mereka dari dulu memang dekat, tapi.. sekarang, jauh, jauh dari kata 'zona teman.'" Levy hampir saja tersedak burger yang tengah ia makan dan buku yang ia baca hampir jatuh.

"Shrimp¸kau tidak apa-apa?" tanyanya. "Bukannya aku khawatir.." cepat-cepat ia menambahkan.

"T-t-tidak."

"Waah, benar juga." Jawab Mirajane tiba-tiba yang tengah meminum susu diet. "Itu membuatku nostalgia.." lanjutnya tidak nyambung. Di otaknya, sebuah rencana tiba-tiba muncul.

"Memangnya kau pernah bertemu dengan mereka?" tanya Gray penasaran sambil menjilat es krimnya. Mirajane mengangguk, tetapi pandangannya benar-benar seperti orang yang tengah bernostalgia.

"Ya.. mereka dan Lisanna dulu cukup dekat," jawab sang model.

"Lisanna-san? Bukankah dia teman masa kecil Natsu-san?" tanya Juvia yang mulai tertarik (selain hal tentang Gray). Gajeel juga mulai tertarik, tetapi ia berusaha memasang wajah bosan.

"Tetapi sebenarnya Natsu lebih dekat ke Lucy.. Lisanna sering menceritakan tentang Lucy dan Natsu dulu. Bahkan ia bilang mereka akan menjadi pasangan yang imut! Hmm.. aku mengira anak semuda dia sudah tahu hal begituan. Dia baru TK! Yah, walaupun lebih muda satu tahun dari NaLu," jawab Mira dengan mata berbinar. Semuanya sweatdrop (mengabaikan kata 'NaLu' yang asing di telinga mereka), 'karena kau itu match-maker dan mempengaruhinya.'

"Aku tidak tahu kalau Natsu dan Lucy teman masa kecil!" seru Levy semangat. "Kisah yang mengharukan sekali. Mereka berpisah saat SMP, dan SMA bertemu lagi!" Levy mulai berfantasi tentang sebuah buku yang isinya kisah cinta Natsu dan Lucy. Atau mungkin, dialah penulisnya!

"Ralat, sejak SD," kata Mira. "Saat SD hingga SMP, Natsu, Lucy, Lisanna berpisah. Tetapi sekarang, saat SMA, Lisanna sekolah bersama Elfman," jelasnya, menghela napas. "Aku ingin tahu apakah NaLu masih mengingat masa kecil mereka!"

"NaLu?" tanya Jellal yang sedari tadi diam.

"Natsu dan Lucy!" Mira tersenyum polos.

"Apa ada yang aku lewatkan?" Erza yang baru saja membeli strawberry cake entah kapan, duduk di sebelah Jellal. Jellal tertawa kecil, "hanya tentang Natsu dan Lucy."

"Oh, mereka," si rambut merah menyuap kuenya. "Mereka sangat cocok. Kapan mereka bisa bersama?"

Levy dan Mirajane langsung melirik satu sama lain, lalu Mira mengangguk. "Oh, aku sudah menyusun rencanaku!" seru Mirajane semangat. Ia mulai menceritakan rencananya tentang membuat Lucy feminin. Levy ikut menjelaskan rencana Natsu tentang drama ini dan pesta dansa kelak. Juvia terus bergumam tentang love rival tidak akan mendapatkan Gray-sama-nya, tapi diabaikan Gray.

"Whoa.. flame-brain punya otak," komentar Gray tidak percaya. Erza mengangguk-ngangguk, ia tampak berpikir. "Kalau begitu, kita juga harus punya rencana saat drama nanti," katanya, nada bicaranya semangat, tetapi seakan jika dilanggar, tulangmu akan patah. Gajeel yang tidak terlalu berminat itu tidak jadi protes.

"Bagus. Serahkan padaku, naskahku termasuk dari rencana!" jawab Levy.

"Program 'NaLu Harus Bersama', dimulai!" seru Erza, menyuap kuenya lagi. Semua sweatdrop. Tetapi setidaknya seorang Erza setuju. Ini akan menjadi mudah, mengingat ia adalah seorang anggota OSIS.

Tapi mereka tidak tahu penampilan Erza di panggung nanti.. Jellal sweatdrop sendiri.

"Tunggu, mana Laxus?" tanya Mira tiba-tiba.

Levy berusaha melawan seringai di bibirnya. "Erm, dia tidak masuk. Mungkin dia akan masuk besok." Dan tiba-tiba Levy punya ide untuk menjadi matchmaker di antara Laxus dan Mira. Itu sama dengan membunuh dua burung dengan satu batu!

Dan, pasangan yang mereka bicarakan datang.

"Yo!" sapa Natsu riang, seperti biasa.

"Darimana kalian? Dari toilet terdekat?" goda Gray dengan seringai. Oh, betapa senangnya ia menggoda dua pasangan—kelak—itu. Itu akan menjadi kebiasaan barunya, selagi ia melupakan keadaannya yang sedang bertelanjang dada.

"A-a-a-apa maksudmu?" Lucy tergagap, wajahnya memerah.

"Iya, memangnya kenapa?" tanya Natsu heran. Semuanya terhenyak. Jadi itu benar...? Lalu mereka melihat Lucy me-Lucy Kick Natsu.

"Jangan membuat salah paham, bodoh! Kita memang dari toilet, tapi membersihkan toilet!" teriak Lucy dengan wajah masih memerah. "Jadi, si bodoh ini membuat masalah dengan Pak Tua—"

"Tunggu, siapa Pak Tua?" potong Gajeel.

"Makarov-sensei," Levy menghela napas.

"—dan akhirnya ia disuruh membersihkan toilet sanitasi. Ia memaksaku untuk membantunya. Akhir dari cerita," Lucy menyilangkan lengannya di depan dadanya. Mirajane yang berfantasi tinggi, agak tidak percaya dengan penjelasan Lucy. Pasti ada sesuatu yang terjadi! Tetapi, mengingat seorang Lucy tidak pintar berbohong, ia menurunkan harapannya.

Sebelum ada lagi yang berbicara, bel berbunyi.

.

Waktu pulang.

Mirajane menangkap pemandangan Natsu dan Lucy yang berjalan bersama ke arah yang sama. Mira menahan mode fangirl-nya. "Insting matchmaker tidak boleh di remehkan." Bisiknya dramatis. "Levy-chan harus tahu."

"Aku sudah tahu, Mira." Levy balas berbisik di sebelahnya, membuat Mira hampir serangan jantung. "Semua sudah tahu."

"Betul. Kami menanggapi program ini dengan serius," dukung Erza dengan cara bicaranya yang formal. Oh, betapa inginnya Gajeel kabur. Menjadi makcomblang sangat tidak jantan!—menurut Elfman.

"Juvia akan menggunakan teknik penguntit milik Juvia untuk menguntit mereka," Juvia mengusulkan dengan kalimat yang tidak efektif—typical Juvia.

"Bagus, Juvia!" puji Gray, untuk pertama kalinya tersenyum tulus pada blunette itu. Juvia memerah dan menghambur ke pelukan Gray dengan mata berbentuk hati. "...ralat."

.

Natsu dan Lucy berjalan dalam keheningan yang nyaman. Sayangnya mereka tidak tahu kalau beberapa orang menguntit mereka. Mereka menyamar dengan berpakaian aneh dan menjaga jarak. ("Hei, ini kan arah rumah Lu-chan," kata Levy. Semuanya langsung menyeringai curiga.)

"Hei, peran apa yang kau mainkan nanti?" tanya Natsu penasaran selagi berjalan beriringan di sebelah Lucy (Para penguntit langsung kaget—apalagi Erza. "Ia melanggar! Biarkan aku menghukumnya!" Erza mendesis, tapi berhasil di kendalikan Jellal). Lucy yang tengah membaca bukunya, segera menutupnya dan menoleh ke arah Natsu. "Bukankah tidak boleh diberitahu?" ia balik bertanya. ("Aku bangga pada Lucy!" kata Erza, semua sweatdrop)

"Ayolah Luce.. aku kan teman masa kecilmu," Natsu menyenggol lengan Lucy dan wajah Lucy agak memerah (Mirajane hampir berteriak ala fangirl, "NaLu mengingat masa kecil mereka! NaLu mengingatnya! Mereka mengingatnya!"). Ada apa dengan Lucy yang belakangan ini selalu blushing? Dan di mata Natsu itu sangat manis—

Apa yang aku pikirkan, Natsu hampir saja menampar pipinya sendiri.

"Bukan berarti aku harus menurutimu." Jawaban Lucy berhasil membuat seorang Natsu berpikir—lagi. ("Lucy! Jangan diberitahu!" desis Erza lagi, tapi setelah di bekap Jellal, seorang Erza memerah di hadapan yang lain, membuat Mira curiga.)

"Kalau begitu, beritahu sifat dari peranmu."

"...yandere." (Erza tidak berkata-kata.)

Hening. Termasuk para penguntit. (Levy yang pertama berdehem, "..apa?")

Natsu mencerna jawaban Lucy. Yandere? Kenapa bukan feminin? Apa Levy salah memberi gulungan? Hei, apa dia mau drama ini menjadi drama pembunuhan?!

"..Kau serius?" tanyanya akhirnya. ("Setuju! Dia serius?" ujar Mira dan Levy bersamaan. Gray meng-'sssh'-kan mereka.)

"Seratus persen."

"Benarkah?" ("Iya! Benarkah?!" seru Mira dan Levy, tapi Gajeel menutupi suara mereka dengan pura-pura batuk.)

"Dua ratus persen!" seru Lucy, berjalan lebih cepat dan membuka bukunya lagi. Natsu mengikutinya dari belakang dalam diam. Ia akan membicarakan ini dengan Levy nanti. Seorang Levy jarang salah kan?—jika mengingat kualitas otaknya. Sial, Natsu tak bisa berpikir terlalu jauh. Ia benci berpikir, ia masih ingin menikmati hidup, tahu.

"Natsu! Natsu! Lihat ini lihat ini!" teriak Lucy. Para 'penguntit' mulai penasaran.

"Hum?" Natsu menghampiri Lucy yang tengah berjongkok di dekat bangku taman kota. Ya, rumah Lucy memang dekat dengan taman kota, jadi jangan heran. Natsu mengingat dulu sebelum pindah ke Magnolia—saat ia, Lucy dan Lisanna masih di Hargeon—ia sering bermain di sebuah taman kota. Yah, walaupun lebih sering bersama Lucy.

"...ini bukan waktu bernostalgia," bisiknya, melakukan face-palm. ("Oooh~ dia bernostalgia! Manis sekali!" jerit Mira, lagi-lagi ditutupi Gajeel—sekarang dibantu Jellal—pura-pura batuk.)

Lalu Natsu melihat tiga ekor kucing berwarna putih, hitam dan biru—hee, BIRU?! Natsu mengucek-ngucek matanya. Biru? Ini adalah abad ke-21, tidak mungkin! Pasti itu di cat! Ya, pasti ada anak nakal yang mengecatnya..

"Itu... kenapa bisa warna biru?" tanyanya polos. Lucy hampir terbahak melihat wajah polos—kekanak-kanakan Natsu. ("Bodoh," bisik Gray.)

"Lalu.. rambutmu kenapa bisa pink?" jawab Lucy cuek, ia sudah bermain dengan kucing biru itu. (Seluruh penguntit tak bisa menahan tawa mereka. "Muahaha.. jawaban yang bagus Lucy!" seru Gray. "Aku benar-benar bangga pada Lucy!" dukung Erza. Hei, dibanggakan oleh ERZA memang membanggakan.)

"Hei! Ini alami!"

"Begitu juga kucing ini jika ditanya, bodoh," Lucy mendengus geli. ("Betul..dia bodoh," jawab semua penguntit.)

Natsu tampak merengut, lalu mengambil kucing berwarna hitam yang terlihat sangat kalem. "Hei.. ini mirip Gajeel." (Seluruh penguntit melirik kucing itu dan Gajeel secara bergantian, lalu terbahak. "Dasar..flame brain," dengus Gajeel.)

"Kita berikan ke Gajeel saja!" usul Lucy jenius. ("A-apa?! Aku tidak mau!" bela Gajeel. Saat Levy memberikan puppy eyes, Gajeel mengalah.) "Aku mau kucing biru ini—atau mungkin kau saja! Dan.. bagaimana dengan kucing putih ini? Si biru sepertinya sangat menyukai si putih.."

"Tapi si putih menyukai si hitam," gumam Natsu, melanjutkan. ("Natsu galau..." gumam Gray sok simpati.) "Baiklah, ayo kita ambil."

Kucing biru sangat nyaman di pelukan Lucy, membuat Natsu sedikit cemburu. (Beneran, cemburu kok sama kucing.) si kucing putih tampak mengikuti dari belakang, sedangkan kucing hitam dengan wajah poker face itu mengikuti dengan kalem.

Para penguntit melihat Natsu membaca sesuatu dari HP-nya, lalu cepat-cepat ia memberitahu Lucy. "Luce, Wendy sudah pulang.." katanya. ("Memangnya pulang darimana?" tanya Mira penasaran.)

"Oh? Benarkah? Kalau begitu, aku mau main ke rumahmu!" seru Lucy tersenyum lebar. Natsu membalas dengan cengirannya, dan mereka merubah rute perjalanan ke arah rumah Natsu.

.

Entah bagaimana para penguntit sudah berhasil berada di dekat jendela ruang tamu rumah Natsu.

"Serius, aku malas mengikuti mereka," geram Gajeel yang tengah mengemut garpu logam yang entah darimana. Ia di death-glare oleh Erza, dan Gajeel hampir saja tersedak garpu. Jellal menatapnya seolah mengatakan 'jangan-membuat-masalah-atau-Erza-akan-membunuhmu' tetapi secara simpati.

"Sssh, lihat, mereka sudah masuk!" bisik Mirajane. Ah, ya. Gajeel ingat, Mira-lah yang mengakibatkannya 'terjerumus' dalam kisah cinta bunny-girl dan flame-brain. Jika tidak mengingat Mira juga bisa menjadi monster, Gajeel pasti sudah kabur.

"Tadaima, Wendy, kau ada di dalam?" seru Natsu. Suara langkah kaki yang cenderung terburu-buru terdengar. Lalu seorang Wendy yang berumur 14 tahun itu, tampak. Lucy tak bisa berhenti menatapnya, hingga kini masih mengira bagaimana perbedaan sifat antara Natsu dan Wendy bisa menjadikan mereka kakak-beradik!

"Uhn! Okaerinasai.. dan oh, Lucy-san? Senang bertemu setelah sekian lamanya.." Wendy tersenyum manis. Lucy mau tak mau bersikap lembut di hadapannya.

"Wendy-chan!" Lucy ikut tersenyum manis, membuat Natsu, Gray, dan Gajeel tak bisa melepaskan pandangan mereka padanya. Kecuali Jellal, karena dia setia(?). (Levy berdehem dengan aura horror, Gajeel menelan ludahnya. Juvia juga melakukan hal sama, Gray ikut berkeringat dingin—tunggu, ia tak mengerti, kenapa dia juga ikut takut?) "Bagaimana study tour-mu?"

Wendy bercerita dengan riang. Ia mempercayai Lucy seperti kakaknya sendiri. Sangat nyaman bisa berbagi cerita ke sesama perempuan yang ia percaya. Dan entah mengapa tiba-tiba ia nyeletuk, "Natsu-nii dan Lucy-san berpacaran ya?"

Keduanya batuk dengan wajah memerah, Wendy tertawa kecil. Lucy menolak mentah-mentah—bagaimanapun juga dia tsundere. Natsu diam saja sambil mendukung celotehan Lucy. ("Itu kesempatan untuk bilang ya! Natsu dasar bodoh! Oh tidak.. Lucy juga!" geram Mirajane frustasi. Levy sweatdrop.)

"Oh! Lucy-san—"

"Panggil saja Lucy-nee," potong Lucy tersenyum lagi (para penguntit melihat Natsu mencuri pandang ke arah Lucy saat ia tersenyum). Mata Wendy berbinar senang.

"—Haha, Lucy-nee, aku punya oleh-oleh untukmu," lanjutnya.

"Aku juga!" Lucy menunjuk kucing berwarna putih yang tampak bercengkrama dengan kucing hitam. Sedangkan kucing biru entah bagaimana bersama dengan Natsu. "Kucing putih ini untukmu."

Kucing biru tampak sedih dan melompat ke arah kucing putih yang tengah di angkat Wendy. Ia mengeong, tapi kucing putih menjulurkan lidahnya (semua orang termasuk para penguntit mengucek mata. Itu adegan ajaib!)

"Charle.." bisik Wendy. Kucing putih itu menatapnya, tapi dari matanya ia terlihat senang. "Baiklah, Charle! Namamu Charle!"

"Natsu, menurutmu siapa nama kucing biru ini?" tanya Lucy. Natsu yang berpikiran simpel itu hanya menjawab, "Happy."

"..." semua orang menatapnya (termasuk para penguntit) seakan-akan ia menciptakan nama terindah. "Apa?" tanya Natsu cuek.

"Tidak, hanya.. baru menyadari bahwa kau itu bodoh," kata Lucy. Natsu memalingkan wajahnya dan menghadap ke Happy, "tidak juga! Dia suka nama itu! benarkan Happy?"

Happy melompat ke kepala Natsu dan anehnya, ia melakukan cengiran persis seperti Natsu. Lagi-lagi semua mengucek mata. ("Gajeel! Aku mau memberi nama kucing kita!" bisik Levy semangat. "Terserah," jawab Gajeel. "Baiklah.. Pantherlily!" seru Levy. Jellal bergumam tentang kreatifnya anak-anak jaman sekarang. Sedangkan Erza mengangguk-anggukkan kepalanya.)

Pantherlily tampak kalem sekarang, ia mendengkur di atas sofa di samping Charle dan Happy.

"Jadi.. Wendy, apa oleh-olehnya?" tanya Natsu, walaupun ia tahu kalau oleh-olehnya buat Lucy. Lucy menatap botol yang berada di tangan Wendy dengan antusias.

"Mengingat Lucy-nee senang berendam—" (Gajeel, Gray, dan Natsu menahan nosebleed, wajah Lucy memerah) "—aku membelikan sabun aroma vanilla ini—Oops!" Botol itu terbuka, dan terjatuh ke atas Charle, Pantherlily dan Happy.

Sinar kuning terang menyilaukan mata muncul, dan tahu-tahu saat mereka membuka mata, Happy, Charle dan Pantherlily berdiri—ya, berdiri dengan dua kaki.

"Aye..? kenapa kalian seperti habis melihat hantu?" tanya Happy polos.

"Hmph," Charle melipat kedua lengannya di depan dadanya. Sedangkan Pantherlily melihat ke sekeliling dengan bingung.

Kemudian kita bisa mendengar jeritan orang-orang yang berada di situ.

Tbc.

A/N: Gomen, seperti yang saya katakan, belum tentu apdet dua minggu sekali. Hmm.. bingung mau ngomong apa(?) karena ibu saya bisa jadi Erza kedua dan.. saya pun menjadi Happy kedua(?) jadi no review corner this time.. tapi saya menghargai semua reviewer.. makasih banyak yo!(?) Oh ya, rencananya saya mau bikin one-shot NaLu juga #curhat. Yo weis, see u next chap.