The Vague Heart
Disclaimer of Masashi Kishimoto
Story By Rina Apple
Warning : Cerita abal-abal, penuh typo
ΩΩΩ
Summary :
Haruno Sakura, cantik, kaya, cerdas, dan memiliki segalanya, suatu malam menghabiskan waktu di sebuah bar dan pagi harinya ia terbangun di kamar sebuah apartement. Kesal dan marah terhadap orangtuanya yang menjodohkannya dengn pria asing, sakura memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya dan menjadi orang lain untuk menenangkan diri. Bagaimana kehidupan Sakura ketika mengetahui bahwa lelaki pemilik apartemen tempat ia bangun adalah seorang duda yang dingin, arogan, dan tidak lagi tertarik terhadap wanita?
PART IV :BECAUSE NARUTO
SASUKE POV
Ake merebahkan tubuhku di sofa ketika Sakura dan Sarada pergi. Aku masih ragu dengan perempuan itu. Namun, tatapan matanya tampak meyakinkan. Tidak, tidak, aku tidak boleh cepat mempercayai seorang perempuan. Mereka merepotkan dan pembawa masalah. Apalagi perempuan itu adalah seorang jalang. Kenapa aku bisa membiarkan Sarada pergi dengan jalang itu?
Ting tong ting tong
Aku beranjak menuju ke arah pintu ketika mendengar bel berbunyi. Aku mengumpat dalam hati. Siapa yang bertamu dihari libur seperti ini?
"Temeeee…!"
Sebelum mengenali siapa tamu yang telah menggangguku, tiba-tiba saja tubuhku sudah diterjang oleh sosok yang sangat kukenal. Oh, tentu saja aku mengenalnya. Hanya si bodoh ini yang tidak pernah lelah menggangguku.
"apa yang kau lakukan, baka!" ucapku ketus sambil mendorong tubuhnya.
"tolong aku, temee,,,,"
Aku mendecih dan melangkah menuju ke dapur mengambil dua kaleng soda dan duduk di sofa sebelah Naruto. Kuberikan satu kaleng soda ke Naruto, lalu kuteguk soda milikku. "apa yang kau inginkan?" aku tidak suka basa-basi, dan cara Naruto membujukku sangat membuatku muak.
"Hinata-chan,,,,"
"marah lagi?" aku memotong perkatannya. Ini memuakkan. Naruto lagi-lagi mengadu tentang istrinya.
Naruto meneguk sodanya lalu mengangguk dengan lesu. " karena tadi malam aku pulang denagn keadaanku yang mabuk, dia menuduhku selingkuh dengan wanita lain. Aku sudah menjelaskannya, tapi dia tidak percaya dan malah menangis. Aku tidak bisa melihatnya menangis, karena itu aku bingung dan aku tidak tahu harus kemana kecuali ke apartemenmu teme"
Oh, curhatan yang sangat membosankan. Sudah berapa kali hal ini terjadi? Dan sudah berapa kali Naruto datang hanya untuk mengadukan ini?
"mungkin dia sedang dalam siklus bulanannya" jawabku asal
"tapi dia tidak biasanya seperti ini"
"mungkin saja dia hamil" ucapku makin tidak peduli dengan masalah Naruto
"ha,,,, mil?" wajah naruto yang semula panik, kini berubah pucat.
"aku hanya asal bicara" ralatku cepat ketika melihat wajahnya yang makin pucat. Oh ayolah, aku hanya bercanda. Kenapa Naruto menjadi sangat pucat? "dia tidak mungkin hamil" tambahku cepat-cepat.
"tiga hari yang lalu, Hinata-chan muntah-muntah. Dia menjadi sangat manja dan berisik, itu mengangguku karena itu aku agak keras padanya. Dia sangat sensitive dan sering menuduhku. Ya tuhan! Kenapa aku tidak menyadarinya?" Naruto memegang kepalanya tampak frustasi. "aku,,,, apa yang harus aku lakukan , Teme? Aku telah menyakitinya"
"pulang"
"ha?"
"pulang dan minta maaf padanya. Katakana kalau kau mencintainya dan tidak akan melakukan hai ini lagi" aku tidak percaya ini. Aku menasehati naruto tentang hati, tapi aku sendiri seperti ini. Konyol sekali.
"terimakasih teme,,,," Naruto kembali menerjangku dan menumpahkan soda diatas celanaku. Oh shit! Kenapa aku harus memiliki sahabat idiot seperti ini?
"ya tuhan! Maafkan aku teme! Aku akan membersihkannya" dengan panik Naruto berusaha membersihkan tumpahan soda di bagian atas celanaku.
"hentikan baka!" aku berusaha menjauhkan tangannya dari celanaku.
"biarkan aku membersihkanyya" ini menyebalkan. Naruto tidak akan berhenti sebeblum pekerjannya selesai. Aku malas membuang tenagaku untuk melakukan hal-hal tidak penting seperti ini.
Tiba-tiba saja pintu terbuka. Aku menoleh dan mendapati Sakura dan sarada berdiri di depan pintu. Tangan mereka bergandengan. Ini hal yang sedikit mengganggu. Gadis ku bukanlah jenis yang cepat akrab dengan orang baru. Aku melirik ke arah Sakura , mata emeraldnya terbuka lebar dan ia terpaku dengan pemandangan di depannya, dan sialnya pemandangan itu adalah diriku dan Naruto dalam posisi konyol seperti ini. Sangat memalukan.
"wah Sarada-chan!" si kuning bodoh ini tidak menyadari situasi dan dengan santainya menyapa Sarada.
"hai paman Naruto"
Aku melihatnya. Tangan sakura makin erat menggenggam tangan Sarada. Aku merasa ada yang aneh disini, dan aku ingin tau apa yang mereka lakukan tadi.
"sarada,,,," Ketika Sarada akan mendekat kearahku, tiba-tiba saja Sakura mencekal tangan Sarada dan membawanya ke kamar. Aku menahan geramanku! Apa yang jalang bodoh itu lakukan? Dia pikir dia siapa melakukan tindakan seperti itu!
Dengan cepat aku menyusul mereka, dan sebelum tangan sakura menyentuh pegangan pintu, tanganku sudah terlebih ddahulu mencekal tangannya. Aku masih saja menahan amarahku. Disini ada Sarada, dan aku tidak ingin membuatnya takut karena kemarahanku.
"apa yang kau lakukan?" ucapku dingin mengintimidasi. Sepertinya Sakura terpengaruh oleh intimidasiku, Ia tampak takut, tangannya yang berada dalam genggamanku bergetar. "aku bertanya padamu"
Mata sakura yang semula memancarkan ketakutan, kini berubah menjadi berani. Sepertinya ia telah menemukan keberaniannya. Dengan kasar dihempaskannya tanganku yang semula mencekal tangannya. Ia memandangku tajam dan berkata "kau menjijikkan"
Habis sudah. Wanita jalang sialan ini sudah membuatku melampaui batas amarahku. Dia tidak tahu dengan siapa ia tengah berhadapan. " kau pikir siapa dirimu mengatakan hal itu"
"siapa aku? Oh ya, itu tidak penting siapa aku atau siapa dirimu sekarang, yang penting disini adalah apa yang kau lakukan bersama kekasih mu disini? dihadapan Sarada! Itu adalah hal yang paling menjijikkan disini!"
Aku hanya diam. Sakura adalah tipe wanita berisik dan menjengkelkan. Semakin kau meladeninya, maka ia akan semakin memojokkanmu. Cara menangani wanita seperti ini hanyalah diam, anggap ia sebagai angin lalu. Namun, ini masalah lain dan Sakura adalah pengecualian karena dia benar-benar menggores egoku. Ego seorang Uchiha. Dan apa yang baru saja ia katakan? Aku bermesaraan dengan kekasihku? Aku tidak pernah memiliki seorang kekasih dalam hidupku!, oh, shhiiittt! Jangan-jangan yang dimaksud Sakura disini adalah Naruto! Jadi, Sakura mengir aku adalah seorang gay!
"kau tidak tahu apa-apa" aku masih mempertahankan nadaku sedingin mungkin. Berani-beraninya wanita bodoh sialan ini mengira aku adalah seorang gay.
" tidak tahu apa- apa katamu? Kau dan kekasih mu bermesraan di depan ku dan Sarada! Demi tuhan Sasuke, apa yang kau pikirkan? Sarad masih kecil, seharusnya ia diberi contoh sesuatu yang baik, bukan pemandangan menjijikkan seperti yang kau lakukan bersama kekasihmu!" Sakura masih saja berkata dengan nada yang keras.
"ehm,,, ano,, maaf,,,," itu suara sumber masalahku disini. si bodoh Naruto. "sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi disini, tapi, aku ingin pamit pulang" oh, tentu saja Naruro sangat bodoh dan idiot. Apa ia tidak tahu jika apa yang dikatakan Sakura tadi?
Aku menghela nafasku dan mencoba meredamkan emosiku. "pulanglah" aku menatap Naruto sekilas
"yosh! Aku juga ingin berterimakasih padamu teme, setelah Hinata-chan tidak marah lagi aku akan mentraktir ramen sepuasnya! Saranmu sangat membantu! Oh ya, sekali lagi aku juga minta maaf telah menumpahkan soda di celanamu, aku pulang dulu, jaa,,,"
Setelah Naruto keluar dari apartemen, kualihkan fokusku pada wanita sialan ini. Matanya masih tajam memandangku. Oh, ternyata ia mencoba mengintimidasiku, dia pikir dia siapa? Berani-beraninya ia menantang seorang uchiha!
"Sarada, cepat kembali ke kamarmu" aku mengalihkan perhatianku pada Sarada, dengan patuh, Sarada melangkahkan kakinya menuju ke kamar, setelah aku yakin Sarada telah berada di kamarnya, aku kembali mengalihkan fokusku ke Sakura.
"aku ingin mengingatkanmu tentang posisimu disini. kau hanya seorang pembantu dan pengasuh dan kau tidak ada hak untuk menceramahi ku " suaraku masih datar dan dingin.
"tapi, seharusnya Sarada diberikan bimbingan yang bagus, bukan seperti,,,,"
"kau tidak tahu apa-apa" aku memotong ucapan Sakura. Dia fikir selama ini aku tidak memberikan yang terbaik untuk putriku? " kukatakan sekali lagi. Jika kau ingin tetap berada disini, jalankan saja tugasmu dan berhenti mencampuri urusanku dan Sarada, aku tidak membutuhkan seorang jalang yang sok peduli"
Sakura tampak melebarkan matanya. Mungkin saja ia shok dengan apa yang baru saja didengarnya. aku tau, aku mungkin sedikit kejam dengan mengatakan hal ini, namun aku benar-benar tidak menginginkan seseorang lain masuk ke dalam territory pribadiku.
"aku,,, aku hanya ingin yang terbaik untuk Sarada,,," kurasa Sakura sedikit gugup. Bagus, kurasa intimidasiku berpengaruh padanya,
"lakukan saja tugasmu" lagi-lagi aku memotong peerkataan tidak pentingnya itu. Aku sedang tidak ingin berbasa-basi, apalagi dengan seorang wanita. Aku merebahkan tubuhku diatas sofa, kupandang Sakura yang tengah menahan amarahnya, ia terus saja meremas ujung kaosnya dan menggigit bibir sexy nya. Oh, apa yang baru saja aku pikirkan? Sejak kapan aku berfikir bibir wanita itu sexy? Sialan!
" jangan berdiri seperti orang bodoh dan cepat buatkan aku makanan "ia tampak tersentak mendengar ucapanku yang tajam. Dengan langkah yang lebar, ia menuju ke dapur dan beberapa saat kemudian aku mendengar suara sayuran yang terpotong. Dasar wanita bodoh, pasti ia sedang menahan kesal sekarang. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyumku dan mulai menutup mataku. Mungkin ini akan menjadi menarik.
ΩΩΩ
Huaaaaa,,,,,,, maaf banget buat yang udah nungguin fanfic ini! Baru bisa update!
Baut yang penasaran siapa ibunya Sarada, kayaknya aku bakalan bahas itu kalau udah ada konflik asmara sasusakunya. Aku juga gak mau terlalu nonjolin tentang ibunya sarada di fanfic ini, tapi tetap aja bakalan aku bahas nanti.
Untuk yang udah mampir, terimakasih banyak. Review kalian sangat membantu!
