A/N: Ada NaLu moment lho! Greget kalo kelamaan XD. Enjoooy !
Previous Chapter:
Sinar kuning terang menyilaukan mata muncul, dan tahu-tahu saat mereka membuka mata, Happy, Charle dan Pantherlily berdiri—ya, berdiri dengan dua kaki.
"Aye..? kenapa kalian seperti habis melihat hantu?" tanya Happy polos.
"Hmph," Charle melipat kedua lengannya di depan dadanya. Sedangkan Pantherlily melihat ke sekeliling dengan bingung.
Kemudian kita bisa mendengar jeritan orang-orang yang berada di situ.
.
Chapter 5
.
"K-k-kenapa bisa?" tanya Wendy pada dirinya sendiri. Matanya melebar, wajahnya masih menatap horror tiga 'makhluk' di depannya. Tak berbicara, ia memungut botol yang tergeletak di atas sofa, lalu membaca label yang tertempel. Tangan mungilnya menutupi mulutnya dengan ekspresi syok.
"O-oh.. jadi aku salah.."
"Kenapa, Wendy-chan?" tanya Lucy yang masih menenangkan detak jantungnya. Wendy tampak menghela napas panjang, lalu berkata pelan,
"M-maafkan aku ... itu seharusnya botol untuk kaasan.. ia membutuhkannya untuk penelitian laboratoriumnya."
Lucy terdiam. Ia tahu Grandine bekerja sekantor dengan Igneel juga orang tuanya, tapi ia juga hebat dalam bidang kedokteran. Natsu sering bercerita kalau ibunya itu suka bereksperimen yang aneh-aneh. Entah mengapa Grandine tidak menjadi dokter. Saat Lucy bertanya dulu, Grandine menjawabnya sembari tertawa, "Aku tak mau berpisah terlalu lama dengan keluargaku!"
'Bullshit,' pikir Lucy setelah itu. 'Natsu bilang kan mereka sering pulang malam.' Tapi Lucy memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
"Lucccyyy.. kau melamun!" tegur Happy yang tiba-tiba tengah berguling di pahanya. Lucy tersenyum kecil, Happy juga bisa manja.
"Cairan ajaib apa itu? Seharusnya kau tahu, karena kau sering masuk diam-diam ke lab. Grandine-san bukan?" ujar Lucy setengah bercanda ke arah Wendy. Natsu langsung menegakkan kepalanya ke arah Lucy.
"Wendy diam-diam ke mana?" potongnya kaget. "Kenapa aku tidak diajak?"
"Natsu-nii pernah hampir membakar lab. Kaasan," celetuk Wendy dengan wajah tanpa dosa. Di dalam hati Natsu menjerit 'itu aib! Itu aib!' sembari memalingkan wajahnya malu dari Lucy. Wendy tertawa kecil,
"Ah, lupakan itu. Dan ya, itu cairan untuk menghidupkan kembali tanaman yang hampir mati dalam waktu beberapa jam. Cairan itu disebut Chemical X777, karena cairan ini dibuat pada tahun X777," jelas Wendy dengan pengetahuan yang tak pantas untuk anak seusianya. Lucy menatap botol yang berada di tangan anak itu dengan antusias. Dunia ini sudah berubah drastis, eh? Para ilmuwan menjadi semakin hebat ...
"Tampaknya efek cairan ini sensitif pada makhluk yang masih hidup dan sehat," lanjut Wendy, menghentikan pemikiran Lucy.
Lucy hanya mengangguk sambil menggumam 'oh'.
"Apa yang ingin kaasan lakukan dengan Chemicilia 7X77 itu?" tanya Natsu penasaran, cuek dengan pengejaan Chemical X777. Ia tengah memakan Ben Cabe yang dihidangkan di meja ruang tamu khusus untuk tamu. Yah.. pengganti permen(?).
"Pertama, itu Chemical X777. Kedua, kaasan mau meningkatkan fungsinya menjadi bisa menghidupkan orang mati." Jawab Wendy dengan senyum polosnya. Natsu, Lucy dan para kucing (baca: Exceed) menatapnya seakan ia sudah gila.
"Dasar kaasan, eksperimennya makin ngaco saja," komentar Natsu akhirnya yang tengah memakan Ben Cabe level 15(?!). Wendy tiba-tiba berdiri sambil meletakkan botol Chemical X777 di meja. Happy menatap botol itu dengan wajah 'lapar'. "Umm.. jika aku boleh permisi, aku akan mengambil oleh-oleh Lucy-nee.. Charle, mau ikut?" tawarnya pada kucing putihnya yang baru.
"Boleh, sekalian menelusuri rumah ini. Selamat tinggal kucing jantan," ujar Charle, menoleh sedikit ke Happy yang sudah menangis di paha Lucy. Pantherlily? Lucy dan Natsu sweatdrop melihat kucing hitam itu tengah melakukan push-up, lalu dilanjutkan dengan sit-up. Lucy menyipitkan matanya, mengapa kucing itu tampak ber..otot?
"Mataku!" desis Lucy dramatis.
"Ini dia, Luigi berpikir mesum lagi," Natsu menyeringai jahil.
"Namaku Lucy! Dan aku tidak mesum!" bela gadis pirang itu.
"Akui saja."
"Tidak."
"Ya."
"Tidak."
"Ya."
"Tidak! Ah terserahlah Tuan Dragneel!" gerutu Lucy akhirnya. Ia mendengus, lalu meraih sebuah Ben Cabe level 10. Sembari memakannya, ia merasakan Happy sudah berhenti menangis. Natsu juga sedang makan Ben Cabe. Pantherlily (Lucy belum mengetahui namanya jadi ia menamainya kucing hitam) masih melakukan ritual gym-nya. Wendy tidak ada. Hening.
"Jadi..." ia memecahkan keheningan yang canggung itu, tanpa menoleh ke arah Natsu. "Kau tinggal bersama Wendy sekarang?" tanyanya, tetapi pemuda itu hanya mengedikkan bahu.
"Entahlah." Jawabnya singkat. "Kau rindu? Khawatir? Takut ada monster dari toiletmu?"
"Sialan. Siapa yang mau merindukanmu?" semprot Lucy ketus, memakan bubuk Bon Cabe lagi. Natsu menyeringai nakal,
"Kamu."
"ARGH, diam."
"Luccyy.. aku tinggal di mana?" terdengar suara cempreng Happy (khas orang habis menangis.. oh ini bukan orang. Tapi kucing.). Ia masih nyaman di paha Lucy. Sang empunya paha berpikir sebentar sambil mengelus leher kucing itu.
"Hm.. kau pilih mana, di rumahku atau di sini?" tanyanya lembut. Natsu langsung menegakkan kepalanya ke arah Lucy. Intonasinya sangat keibuan, pikirnya senang. Apa ini termasuk sisi femininnya? Dia pasti menjadi istri yang baik.. lalu ia menepuk jidatnya pelan, apa yang kupikirkan tentang si tomboy itu?!
"Apa di rumahmu banyak ikan?" seru Happy girang.
"Umm-hmm. Berbeda di sini, keluarga Dragneel sering memakan daging." Lucy melirik Natsu yang bersiul sambil melirik ke atas. Dalam hati ia menggerutu, 'Ikan kan juga daging! Daging ikan!"
Tetapi Lucy tidak habis pikir kenapa tubuh Natsu termasuk ideal?
"Aku mau di rumahmu!" ujar Happy akhirnya.
"Aye sir!" sorak Lucy, lalu Happy naik ke kepala Lucy. Ia menggeliat, "lagipula, bukankah kau akan terbiasa?" tanyanya.
"Terbiasa apa?" Lucy balas bertanya.
"Keluarga Dragneel suka memakan daging. Kau akan terbiasa."
"Eh, kenapa?" sebenarnya apa yang kucing ini mau ucapkan?
"Karena kau akan menjadi bagian dari mereka!" ucapnya polos. Lucy dan Natsu menatap satu sama lain, lalu menjauh dengan serempak. Lucy berusaha menutupi wajahnya yang memerah, takut dijahili Natsu lagi. Tetapi, ia tak tahu, bahwa Natsu juga melakukan hal yang sama?
"U-untuk apa aku bersama orang yang tidak bisa memasak?" elaknya. Lucy mengirim death-glare. Keduanya melupakan botol Ben Cabe yang sudah tergeletak tak berdosa di lantai.
"Aku bisa, hanya perlu belajar! Aku sudah menghapal beberapa resep!" belanya, "untuk apa aku termasuk bagian dari orang yang bodoh sepertinya?!" ia membalas. Natsu juga membalas glare-nya.
"Seperti yang kau bilang, aku juga belajar," Natsu membela tetapi lebih tenang. "Untuk apa aku bersama cewek yang seperti cowok?!"
"Kenapa harus ada orang berambut pink?"
"Uhh.. buluku biru," potong Happy.
"Kau sendiri kenapa pirang?"
Lalu mata onyx dan karamel bertemu, saling mengirim glare. Kita bisa melihat ada arus listrik yang menghubungkan keduanya.
"Jika kalian terus membohongi diri sendiri, kalian akan repot," suara berat tiba-tiba menginterupsi. Heartfillia dan Dragneel celingak-celinguk, mencari asal suara. Sosok itu menghela napas, "aku di bawah."
"Kucing hitam?! Kupikir kau bisu—" lalu Natsu dilempari sebuah barbel lima kilogram.
"Enak saja!" Empat sudut siku-siku muncul di dahi Pantherlily. "Itu karena kau dan pacarmu cerewet jadi aku harus berbicara!"
"Kami tidak pacaran!" seru Natsu dan Lucy bersamaan.
"Mereka saling menyuuuukai!" Happy menggulung lidahnya sambil tertawa. Pantherlily melanjutkan push-up-nya dengan satu tangan.
"Diam, baka neko!" seru Lucy.
"Bagus, sekarang ia persis dengan Levy," gumam Natsu, menutupi wajahnya dengan tangan kanannya—facepalm.
"Eeh, kalian sangat imut bersama," tiba-tiba Wendy datang dengan sebotol sabun yang kali ini ia sudah cek labelnya dengan teliti. Lucy dan Natsu hanya diam, tetapi memerah mendengar pernyataan Wendy. Ada apa dengan orang-orang yang selalu menggoda mereka?
"A-ah, k-kalau begitu, aku pulang dulu ya, Wendy! T-terima kasih! Jaa ne!" buru-buru Lucy keluar dari ruang tamu The Dragneels diikuti Happy dan Pantherlily yang membawa barbel entah darimana. Dan ia tidak tahu, bahwa Happy membawa Chemical X777.
Sementara ia berjalan pulang, Lucy berpikir keras tentang jeritan lain yang ia dengar tadi.
"Hime! Hime!" panggil sebuah suara yang sangat familiar di telinga Lucy. Sensei ter-playboy se-Galaksi Bima Sakti (Chota Beem(?) LOL). Loke Leonel dan 'korban' PDKT-nya, Aries Ram.
"Loke-sen—maksudku guru playboy-ku?!" Lucy pura-pura kaget. "Atau bisa ku sebut kepala pelayan keluarga Heartfillia?" lalu ia menoleh pada Aries. "Aries-sensei."
"H-hime, s-sumimasen, sudah kubilang panggil saja Aries," jawab Aries malu-malu.
Loke membungkuk dengan hormat. Aries mengikutinya.
"Maafkan kami sudah berlibur terlalu lama."
"Yah, lama sekali." Jawab Lucy. "Aku punya tamu kecil di sini. Bisa buatkan dia ikan?" Mata besar Happy langsung berbinar haru. "Luccy~ kau baik sekali!"
"Bagaimana denganku?" tanya Pantherlily dengan nada terluka.
"Ya, ya, dia juga," jawab Lucy cuek. Saat kedua ekor kucing itu masuk ke dalam rumah keluarga Heartfillia, Lucy baru connect. "KENAPA APA KUCING HITAM?!"
Mengabaikan ekspresi Loke dan Aries yang melihat dua ekor kucing yang bisa berbicara, Lucy melenggang masuk like a boss. Ia menyeringai pada ekspresi ketakutan Loke, "ceritanya panjang."
"Lebih baik segera kau ceritakan, nona!"
.
Setelah kepergian Lucy, Wendy membuka suara.
"Niisan, kau menyukainya kan?" katanya tiba-tiba. Natsu yang tengah berjalan ke kamarnya, terhenti. Tanpa menoleh, ia menjawab,
"Wendy, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Ayolah, niisan. Berhenti berbohong pada diri sendiri!" desak gadis berambut biru yang di ponytail itu. Natsu menghela napas panjang.
"Baik, baik. Aku tidak tahu!" jawabnya putus asa. "Aku tidak tahu perasaanku sendiri. Aku.. tidak tahu." Dengan itu, ia berjalan dengan gontai ke kamarnya. Wendy menggelengkan kepalanya, tersenyum kecil.
"Kau benar-benar menyukainya." Lalu ia nyengir-nyengir sendiri, mengingat ada jeritan lain dari tamu tak diundang saat Chemical X777 tumpah ke para kucing. Ia harus menginterogasi Mirajane!
.
"Hahh.. hahh.. hahh.." Mirajane, Levy, Juvia, Erza, Jellal, Gajeel dan Gray terengah-engah sehabis 'pelarian' dari tempat kejadian perkara(?). Siapa yang takkan menjerit jika ada 'penampakan' di rumah Natsu? Tentu saja Gajeel! Ya, ia tidak menjerit. Hanya berlari. Iya, berlari—kabur. Makanya, seluruh penguntit mengikutinya.
Gajeel punya alasan tersendiri, sebenarnya. Jeritan yang lain bisa menjadi masalah—terdengar oleh Lucy, siswi yang notabene cerdas. Apa perjuangan mereka akan berhenti di sini saja? Ia gak mau. Maksudnya gak mau Mirajane mengamuk.
Setelah menenangkan napas masing-masing, Juvia membuka suara.
"Itu bukan sabun, Juvia yakin."
"Sabun macam apa yang bisa mengubah tiga ekor kucing menjadi bisa berbicara?" seru Gray frustasi. "Pasti itu salah satu ramuan ibu flame head!" tebaknya asal.
"Jangan pedulikan soal kucing!" sahut Jellal. "Jeritan kalian bisa saja di dengar oleh Lucy." Perkataannya bagaikan melempar anak panah lalu kena sasaran.
Lalu semuanya diam.
"Tunggu, kalian? Memangnya kau diam ya?" gerutu Levy. Jellal nyengir bangga,
"Tentu saja! Seorang laki-laki tidak menjerit!"
"Kau mengingatkanku pada Elfman," komentar Mirajane sweatdrop. "Pokoknya, besok tidak ada yang boleh bertingkah yang mencurigakan. Aku dan Erza harus menghukum yang melanggar," ia menoleh sebentar pada Erza, "ya kan Erza?" lalu ia mengangguk. Walaupun nada suaranya bagai malaikat, tetapi ada setan yang tersembunyi.
"Sebaiknya besok kita latihan drama, sepulang sekolah," usul Erza. Gajeel yang mau protes, terhenti melihat tangan Erza sudah mengepal.
"Haik, haik~!" dukung Mira dengan suara yang dinyanyi-nyanyikan. "Levy-chan, pastikan kau membuat adegan terbaik untuk pasangan kita!"
"Beres."
Dan kelompok 'penguntit' itu berpencar karena malam hampir tiba.
.
Malam itu, di kamar Lucy. Happy menggeliat di atas sofa sebagai tempat tidurnya kelak. Sedangkan Pantherlily sedang ikut membaca salah satu novel Lucy.
"Lushii," rengek Happy, memecah keheningan. "Aku masih lapar."
Lucy yang tengah membaca novel di ranjangnya, menoleh sambil sweatdrop. "Happy! Kau baru saja membuat Loke kewalahan! Dia sudah membuat tiga mangkuk ikan JUMBO untukmu!"
"T-tapi.."
"Tidak, tidak, aku mau tidur saja," tolak Lucy, ia menaruh novelnya di meja sampingnya, lalu menyalakan lampu tidur. "Oyasuminasai."
Hening.
"Lushii, bisa kau matikan lampu tidur itu? Aku tidak bisa tidur," pinta Happy, membuat tubuhnya senyaman mungkin di dalam selembar selimut tipis. Lucy menghela napas lalu menjawab sangat pelan. "Apaa?" seru Happy. Lucy menggumamkan sesuatu lagi. "Apaa?" Happy masih tidak dengar. Lalu Lucy berkata pelan lagi—"APAA?!" potong Happy tidak sabaran. Empat sudut siku-siku muncul di dahi Lucy.
"AKU BILANG AKU TAKUT GELAP, KUCING!" teriaknya kali ini. Happy tidak menjawab apa-apa, melainkan berbisik, "maaf."
Lucy menolehkan kepalanya dengan kaget, "kau.. tidak menertawaiku?"
"Kenapa?" suaranya terdengar heran.
"Karena.. kupikir, itu memalukan. Kenapa kau tidak tertawa?"
"Hmm.. karena aku pernah merasakannya."
"Jadi, kalau kau belum pernah merasakannya, kau tertawa?"
"Tidak! Karena kita teman, aye!" jawabnya riang dengan suara cemprengnya yang khas. Lucy tersenyum lebar, terharu. Teman. Yah.. ia mempunyai teman-teman yang luar biasa di sekolah, dan sekarang seekor kucing telah menganggapnya teman. Sekarang ia bisa mempunyai teman dekat baru selain Levy dan Nats—
'Natsu?' pikirnya, terhenyak.
Tiba-tiba, lampu mati. Lampu tidur kesayangannya, mati. Semuanya menjadi gelap, dan kamarnya hanya diterangi sinar bulan yang redup. Happy dan Pantherlily—atau 'kucing hitam' tampaknya sudah tidur, kini Lucy-lah yang terjaga sendirian. Ia mencoba menekan tombol power di lampu itu, tetapi hasilnya nihil. Apa terjadi pemadaman lampu? Hei, keluarganya membayar tagihan listrik dengan rutin!
"H-Happy.. jika ini l-leluconmu.. ini sama sekali t-tidak lucu!" geram Lucy, tetapi ia hanya dijawab dengan suara jangkrik.
"K-kalau begitu.. k-kucing hitam?! Apa ini u-ulahmu?!" suara Lucy semakin mengecil, dan terdengar seperti bisikan. Masih tidak ada jawaban, melainkan suara dengkuran kecil yang menggema di ruangan itu. Lucy memeluk dirinya sendiri, dan ia tampak seperti bola.
"T-tolong.. aku takut gelap.."
Pintu kaca yang mengarah ke balkon terbanting keras—untung saja kacanya tidak pecah. Angin malam yang dingin bagai menusuk kulit Lucy, walaupun sudah terbungkus selimut. Salahkan sendiri kegemarannya dalam memakai tanktop dan celana pendek.
Siulan angin terdengar, diiringi dengan langkah kaki seseorang.
'P-pencurikah?' pikir Lucy, 'jika tidak sedang mati lampu begini, pasti langsung kuhajar!' ia terhenyak, 'jangan-jangan itu hantu...'
Yang benar saja, Lucy si sabuk hitam takut pada hantu.
"S-s-s-siapa di s-situ?!" Lucy merasa suaranya sudah setegar Erza, tapi hasilnya sama seperti tadi. Bisikan. Sosok itu tampak menutup pintu kaca Lucy yang memang jarang dikunci, contohnya hari ini. Lucy mengutuk dirinya sendiri untuk itu.
"Luce? Kau kenapa?"
Suara familiar itu langsung tercerna di otak Lucy. "Natsu?"
Sosok berambut pink itu tampak berlari tergopoh-gopoh ke arah Lucy. Entah mengapa, Lucy merasa dirinya lebih tenang karena kehadiran Natsu. Pipinya seketika memanas. Di novel romance-nya, adegan ini adalah adegan yang diimpikan tiap perempuan!
"Luce, kenapa? Kau terlihat seperti bola," komentar Natsu, duduk di ranjang Lucy. Lucy terdiam, haruskah ia menceritakan ketakutannya pada gelap? Bisa-bisa ia ditertawai.
Tidak! Karena kita teman, aye!
"Lucy?"
"A-aku.." Lucy menelan ludahnya. "..takut gelap."
Hening. Tidak ada suara tawa Natsu. Lucy hampir saja tersenyum dan bersyukur bahwa Natsu juga menganggapnya teman—
"MUAHAHAHAHA!" nyatanya, seorang Natsu tengah tertawa berguling-guling di lantai kamar Lucy.
"S-sialan, diam, bodoh!" bentak Lucy dengan wajah yang benar-benar memerah. Salah, salah, salah. Apa Natsu bahkan menganggapnya teman? Menertawakan penderitaan orang lain.. ah, Levy-chan juga pernah melakukannya, sih. Ia sendiri juga pernah. Apa ini karma?
Lalu, bagaimana dengan yang dikatakan Happy?
"Aku membencimu, Natsu!"
Natsu menghentikan tawanya, lalu menatap Lucy dengan heran. Lucy bertaruh bahwa ia sedang menautkan alis. "Huh? Kenapa?"
Lucy meratapi kerja otak Natsu, "kau menertawai penderitaan orang lain. Kau bukanlah temanku. Jika kau mau menjadi musuhku, silahkan." Sekarang pernyataannya terdengar seperti Juvia yang selalu menganggapnya love rival.
"Heh heh," Natsu nyengir kuda. "Kata siapa aku temanmu?"
Jleb.
"Kalau begitu, KELUAR—"
"Aku sahabatmu, bukankah begitu?" Natsu bangkit dari duduk lesehannya di lantai, berjalan menuju Lucy. Lucy masih terdiam, rasa sakit di dadanya mulai menghilang. Dasar Natsu, sepertinya hanya dia saja yang bisa membuat perasaan Lucy bercampur-aduk bagai adukan semen(?).
"Kalau begitu, kenapa kau menertawaik—"
"Karena seorang sahabat itu berbeda dari teman," Natsu berbaring di sebelah Lucy. "Jika seorang teman menghibur temannya yang menderita, seorang sahabat menertawainy—"
"Teorimu aneh sekal—"
"—maksudku, seorang sahabat menyelesaikan masalah sahabatnya dengan jalan yang berbeda," suara Natsu semakin lembut, dan Lucy dapat merasakan tangan kekar Natsu berada di pinggang rampingnya. Mata karamel Lucy melebar, wajahnya dengan Natsu hanya berjarak beberapa inchi saja.
"Aku menyelesaikan masalahmu, dengan berada di sampingmu," Natsu menarik pinggang Lucy sehingga posisi mereka benar-benar dekat. Sekarang wajah Lucy semakin memanas—mendidih kalau bisa.
"Apa menurutmu itu tugas seorang teman?"
"Hmm, tidak," Lucy tersenyum. Natsu semakin mendekatkan wajahnya, napas hangatnya menerpa bibir Lucy. Jantungnya berdetak semakin kencang—ia tidak tahu kalau Natsu juga merasakan hal yang sama. "Kau sahabatku sejak kecil... kan?"
"Mm-hmm."
Lucy turut berpartisipasi dalam proses pendekatan wajah, lalu ia berhenti, "Natsu, jika ini termasuk dalam leluconmu, aku akan melemparmu keluar dari jendela."
"Lelucon apa?" Lucy dapat mendengar nada kejahilan Natsu.
"Urusai." Lalu Lucy mendaratkan bibirnya di ujung bibir Natsu, membuat mata onyx pemuda itu melebar. Lucy Heartfillia—jangan lupa boyish—menciumnya. Ah, walaupun itu di ujung bibir, pemuda itu merasa melayang. Tapi ada rasa tidak puas juga sih..
Lucy menjauhkan wajahnya yang memerah, dan secepat kilat mengubur wajahnya di leher Natsu.
"Pertama, tidak usah berkomentar. Kedua, temani aku tidur. Ketiga, jika kau melanggar, aku akan mendorongmu dari tempat tidur ini."
"Kalau mencium orang jangan tanggung-tanggung," Natsu mengabaikan death-glare yang diberikan Lucy. "Harusnya kau menciumku di bib—"
BRAK. Dan benar saja, Natsu jatuh terjungkal dari tempat tidur.
"Dasar.." ia mengelus-elus kepalanya lalu duduk di pinggir ranjang Lucy. Ia menatap wajah tentram Lucy yang tampaknya sudah tidur. 'Setelah mendorongku dari tempat tidur lalu ia bisa langsung tidur secepat itu?' Natsu sweatdrop. Lalu ia memperhatikan bibir merah Lucy bagaikan buah ranum. Natsu menelan ludahnya. Ia hampir saja merasakan kelembutan bibir gadis itu kalau saja Lucy tidak menciumnya duluan!
Tapi tetap saja.. ia bersyukur.
Tunggu—sejak kapan seorang Natsu memikirkan kelembutan bibir orang lain?!
Menghela napas, ia berbaring di sebelah Lucy—lagi, lalu memeluk gadis Heartfillia itu. Ia membiarkan kepala pirang Lucy bersandar di dadanya yang berbalut T-Shirt, dan menutup mata. Menunggu alam mimpi untuk menyambutnya.
Yang tak ia tahu, Lucy tersenyum di dalam tidurnya.
.
"Baik, sekarang kita sudah berkumpul, sebaiknya kita memulai kegiatan ini dengan memberitahu peran masing-masing." 'Yang Mulia' Erza Scarlet membetulkan letak kacamatanya dengan tangan kanannya—tangan yang baru saja menggebuk Natsu dan Gray yang mencoba kabur dari latihan drama. Mereka sedang berada di lapangan basket indoor, menunggu kehadiran Mirajane dan Laxus. Karena itulah Erza yang mengambil alih kuasa.
"Aye!" seru Natsu dan Gray bersamaan.
"Ini dia, Happy kedua." Gumam Lucy. Wendy juga akan datang menyaksikan latihan mereka, tetapi ia datang terlambat. Ia tengah menyiapkan bekal yang cukup bagi semua. Kecuali untuk Natsu, apakah ada kata 'cukup' di otak pemuda itu?
"Happy ya.." gumam Levy. "Bagaimana kabar Pantherlily?" tanyanya.
"Siapa Pantherlily?" Lucy balik bertanya.
"Itu lho, kucing hitam, yang mau kau berikan padaku," jawab Levy, tak menyadari tatapan kaget Gajeel, Erza, Jellal, Gray, dan Juvia. Cepat-cepat ia menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Lucy curiga. Apakah jeritan yang ia dengar saat di rumah Natsu adalah jeritan mereka?
"E-eh.. eh.. s-sebenarnya.." Levy memeras otak, jawaban apa yang dapat mengelabui Lucy. "Aku.. kebetulan ingin menanyakan sesuatu padamu, jadi aku mengikutimu hingga ke rumah Natsu! K-karena.. saat kupanggil, kau tidak dengar!"
'Apa Levy mau menyalahkan dirinya sendiri?' pikir Gajeel khawatir. Gajeel memang selalu mengkhawatirkan Levy, tapi rasa gengsi mendorongnya untuk tidak mengungkapkan rasa itu.
"Ah, benarkah? Maaf kalau begitu. Apa.. itu benar-benar penting?"
Levy menelan ludahnya lagi. Tiba-tiba, lampu bohlam menyala di samping kepalanya,
"Anu.. bisa kau ceritakan kejadian sebenarnya antara kau dan.. Sting?"
Rasanya Levy ingin bersembunyi di dalam lubang terdalam hingga ia tidak terlihat. Ia sadar resiko yang akan diterimanya. Lucy akan membencinya, keluar dari drama, mengacaukan rencananya membuat Natsu dan Lucy bersama—
Yang ia dengar malah gelak tawa Lucy.
"Levy-chan, ternyata itu saja?"
"Eh?"
"Ayo, ikut denganku." Dengan itu ia menarik lengan Levy keluar dari lapangan basketindoor itu. "Erza, kami minta waktu sebentar. Sekalian kau menunggu Mirajane dan Laxus, bagaimana, hm?"
Bagai robot, Erza mengangguk. Hanya ini yang bisa ia lakukan sebagai ucapan terima kasih pada Levy. Levy McGarden, Sang Penyelamat Program 'NaLu Harus Bersama'! XD
"Bagus! Arigatou, kami takkan lama!" lalu terdengar suara 'blam' dari pintu yang dibanting.
"Bagus, walau waktu latihan berkurang, terima kasih Levy," gumam Erza pada dirinya sendiri. Ia melihat Natsu dan Gray yang bersiul sambil berjalan ke arah pintu. "Dan aku tidak bisa memaafkan orang yang mau menguping."
"Ayolah, Erza! Aku tahu kalau kau juga penasaran!" bujuk Gray. Natsu mengangguk mengiyakan. "Hm! Kita masih punya waktu satu bulan untuk drama!" dukungnya.
"Kau berani melanggarku?" suaranya mencekam.
"Jellal-san, lakukan sesuatu," bisik Juvia yang tiba-tiba berada di belakang Jellal. Jellal sempat merinding.
"K-kenapa aku?"
"Hanya mengikuti firasat Juvia," Juvia beralasan, walaupun ia juga tidak yakin. "Bujuk Erza-san. Karena menurut Juvia, Erza-san menurut pada Jellal-san."
"Ehm.. baiklah." Jellal tidak bisa berbohong lagi, pertama, ia penasaran dengan cerita Lucy, kedua, Erza memang lebih bersikap lembut padanya.
Ah, indahnya diperlakukan spesial oleh pacar sendiri.. XD
Sementara Juvia menarik perhatian Gray dan Natsu, Jellal Fernandes beraksi. Ini bisa menjadi tontonan menarik bagi Gajeel, tapi Juvia sudah merencanakan semuanya. Ia menarik Gajeel—sesama mantan Phantom Lord—untuk menjauh.
"Erza," bisik Jellal ke telinga Erza. Erza terlonjak kaget, wajahnya memerah.
"J-Jellal, jangan melakukan hal yang mencurigakan." Erza balas berbisik.
"Hmm.. bagaimana ya?" Jellal menautkan jarinya dengan jari tangan Erza. "J-Jellal..!"
"Aku hanya menasihatimu, untuk mengikuti kata hatimu," bisiknya lagi. "Kau penasaran dengan cerita Lucy, kan?"
Kepala merah Erza mengangguk pelan, lalu Jellal terkekeh. "Tuh kan? Jadi.. kau tahu apa yang harus kita lakukan?" Erza mengangguk lagi. "Bagus."
"KALIAN SEMUA CEPAT IKUTI AKU!" tiba-tiba pintu kayu itu terbanting keras, menampilkan Mirajane yang menyeret Laxus. Laxus berada di genggamannya tak berdaya, dan semuanya heran bagaimana Laxus yang keras kepala itu bisa kalah di tangan Mirajane?
"Kurasa ini tentang Lucy!" ujar Erza semangat, semua sweatdrop dengan perubahan mood anggota OSIS itu. "Ikuti Mirajane." Lalu bagaikan rombongan bebek, mereka berlari tergopoh-gopoh mengikuti Mirajane. Erza mengikuti dari belakang.
Hmm.. kayak lagi menggembala ya?
"Ssssttt.." Mirajane berhenti di depan toilet wanita.
"Dari semua tempat, kenapa di sini?" gerutu Natsu.
"Diam," desis Mirajane lagi, matanya berkilat-kilat. Natsu langsung mingkem.
"Maaf, Levy-chan.. aku berbohong padamu saat itu," terdengar suara Lucy dari dalam toilet. Toilet wanita memang sedang sepi, jadi hanya terdengar suara Lucy dan Levy saja.
"Yang penting, kau tidak keberatan menjelaskan yang sebenarnya," balas Levy.
"Baik.. jadi sebenarnya—"
"Kenapa kalian berkumpul di depan toilet wanita?" tanya suara berat dari bawah. Semua mata menuju ke arah Laxus yang duduk lesehan, lalu Mirajane membekap mulut Laxus.
"Oh, ya, Laxus. Kau belum tahu permasalahan antara Lucy dan Sting, kan? Jadi pergilah dulu," Mirajane tersenyum malaikat. Laxus memalingkan wajah. "Ya, ya, terserah. Lagipula nanti kau datang menyeretku lagi." Lalu ia beranjak pergi. Mirajane menghela napas.
"Levy-chan, kau mendengar sesuatu?" tanya Lucy.
Para penguntit season dua mematung.
"Umm.. tidak. Lanjutkan." Suara Levy terdengar gugup.
"Pssst, Mira. Bukannya kau juga tidak tahu hubungan antara Lucy dan Sting?" bisik Gray heran.
"Aku mengetahuinya dari 'asisten'ku, Levy! Aku bahkan meminta Eve untuk menggantikanku menjaga perpustakaan demi 'adegan' ini," jawab Mirajane bangga. Gray menghela napas, ia mengakui tidak ada yang bisa mengalahkan Mirajane dalam mendapat informasi.
"Ssstt.." bisik Erza, lalu semuanya menyiapkan telinga mereka baik-baik, bagaikan baru menyadari fungsi sebenarnya dari telinga.
Dan Lucy mulai bercerita, tanpa gangguan siapapun. "Jadi, sebenarnya ..."
.
Tbc!
A/N: Yay! Akhirnya update juga! XD Gomen.. lama banget ya?-_- Bad news. Saya belum tentu bisa apdet cepet bulan depan.. karena Maret itu makin sibuk *nangis darah. Jadi, my lovely reviewer, bisakah mengikuti fic ini dengan setia?(?) YAMA SAYANG KALIAN SEMUA..MUAHAHAHA *ditendang ke jurang*
REVIEW CORNER From Chap 4 (Skip if you don't want to read): RyuuKazekawa: Muahaha, siapa yang tahu pemikiran Natsu. Gak bisa update soon nih. Yang penting, update. *digebuk*. zuryuteki: haha, setuju, menguntit itu SERU! Semua patut coba! XD oneshot nya jelek ah, jangan di baca *pundung di pojokan*. Nih, chappy 5! XD. karinalu: keluarga tukang.. entah darimana aku dapet ide gaje(?). Peran drama mereka kayaknya di chappy depan(?). anaracchi: arigatou XD jengjeng ternyata itu bukan sabun. Silahkan, tadi kelanjutannya XD. Himiki-chan: yap, sekarang judulnya Boyish Trouble /anehnyaa/. Arigatou, tadi lanjutannya^^. 7th ChocoLava: makasih..ini lanjutannya^^. Reka amelia: apakah jadi feminin? Nanti spoiler dong.. baca aja ya XD. KisasaKaguya: Arigatoooou~ XD LaxusMira? Sebenarnya, aku pengen FreedMira. Tapi Freed-nya jadi guru sih(?). Tapi gapapa. STAY TUNE EAAAK! *capslock ikut jebol*. Kou Keehl: arigatou sudah mereview tiga kali XD. ini lanjutannya :). Fi-chan nalupi: sip! Arigatou! Tadi udah ada moment NaLu dari semua moment kan(?) /apasih/. Tetep ikutin fic ini XD
Arigatou bagi semua yang meripiw :') gomen yang ga dibales di chap 3. See ya next chap! NEXT CHAP: THE REAL DRAMA!
