The Vague Heart
Disclaimer of Masashi Kishimoto
Story By Rina Apple
Warning : Cerita abal-abal, penuh typo
ΩΩΩ
Summary :
Haruno Sakura, cantik, kaya, cerdas, dan memiliki segalanya, suatu malam menghabiskan waktu di sebuah bar dan pagi harinya ia terbangun di kamar sebuah apartement. Kesal dan marah terhadap orangtuanya yang menjodohkannya dengn pria asing, sakura memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya dan menjadi orang lain untuk menenangkan diri. Bagaimana kehidupan Sakura ketika mengetahui bahwa lelaki pemilik apartemen tempat ia bangun adalah seorang duda yang dingin, arogan, dan tidak lagi tertarik terhadap wanita?
PART V : DINNER
SAKURA POV
Aku masih saja merasa kesal dengan tuan arogan yang sudah seminggu ini menjadi benar-benar berbeda dengan lelaki kebanyakan. Oh, oke, jangan berfikir positif dulu, berbeda disini yang kumaksud yaitu, bagaimana seorang gay bisa memiliki seorang anak? Apakah dia berhubungan dengan seorang wanita? Tapi, dia gay kan? Seorang gay tidak mungkin menyukai wanita, dan itu artinya Sasuke tidak mungkin menyukaiku. Uh, yeah! Kenapa aku harus kesal dengan bagian itu?
"jangan terus melamun, atau sebentar lagi jarimu akan terpotong" Suara maskulin Sasuke menyadarkanku dari melihat ke bawah, dan ya, benar yang dikatakan Sasuke, jika dia tidak meyadarkanku, mungkin sebentar lagi jariku akan terkena pisau. Aku menoleh kebelakang dan mendapati ia tengah duduk dimeja makan. Aku terus memandangnya, oh, oke, aku akui dia benar-benar tampan dan sexy meski hanya memakai celana piyama dan kaos hitam polosnya, tapi kenapa dia harus menjadi gay?
"jangan hanya memandangiku dan cepat buatkan aku makanan!" oh, dia kembali mengeluarkan suara tajamnya. Bisakah dia sedikit ramah?
"bisakah kau bicara baik-baik dan tanpa emosi?"
Sasuke memincingkan matanya dan memandangku tajam. "kau tahu peraturannya disini, Sakura. Cepat selesaikan tugasmu dan jangan membantah"
"aku hanya meminta kau untuk bicara baik-baik" aku masih kukuh dengan pendirianku. Demi Tuhan! Sesulit itukah permintaanku?
"lakukan tugasmu atau kau keluar dari sini" nada final Sasuke membuat mulutku terkunci. Kata-kata 'keluar dari sini', seperti mantra yang ampuh untuk membuatku diam dan tidak bisa membantahnya. Dengan kesal aku mebalikkan tubuhku menghadap ke kompor dan segera menyelesaikan masakanku. Selama proses memasak aku selalu melirik ke arah Sasuke yang dengan santainya duduk dimeja makan sambil melihat tablet nya. What the hell! Lelaki ini benar-benar,,,,, Arrrgghhhhh!
ΩΩΩ
Malam ini aku sengaja tidak memasak karena Sasuke akan mengajakku dan Sarada makan diluar. Kami akan dinner disebuah restoran yang mewah. Sepanjang sore ini aku tak hentinya memasang wajah ceriaku, baru seminggu aku meninggalkan kehidupanku, tapi rasanya sudah bertahun-tahun aku meninggalkannya. Aku rindu kebiasaanku menghabiskan waktuku berjam-jam di salon, shopping tiap tiga hari, atau clubbing ke bar langgananku. Aku rindu kehidupan mewahku, dan dengan dinner ini, aku mungkin bisa sedikit mengobatinya. Aku memakai gaun yang kupakai pertama kali aku menginjakkan kaki di apartemen ini, karena aku merasa hanya gaun ini yang cocok untuk dipakai dinner.
"Bibi Sakura, apakah kau sudah siap? Papa sudah menunggumu" ucap Sarada dari balik pintu kamarku
"sebentar lagi" aku menyelesaikan pulasan bedak terakhirku dan memandang diriku sendiri di cermin. Oh yeah! Ini baru benar-benar diriku.
Ketika aku keluar kamar , mata Sasuke dan Sakura langsung tertuju melihatku. Aku yakin, mereka pasti akan terpesona melihatku. Tapi tunggu! Kenapa ekspresi mereka seperti itu? Sarada tampak menahan tawa hingga ia menutupi mulutnya dengan sebagian tangannya, lalu Sasuke malah tersenyum miring seperti mengejekku! Oh, hell! Apa mereka mengira aku ini seorang badut?
"apa ada yang salah?" aku benar-benar tidak tahu kenapa Sasuke dan Sarada tampak geli melihatku.
"Bibi Sakura mau kemana?" suara polos Sarada menggangguku. Tentu saja aku akan dinner, kan?
"kita akan dinner, kan?"
"hn. Kita hanya akan makan ramen dengan Dobe dan keluarganya" ha? Hanya makan ramen? Sasuke tidak salah bicara kan? Aku sampai menganga tak percaya! Yang benar saja! Aku jelas-jelas mendengar Sasuke tadi sore berkata jika kami akan dinner!
"tapi kau bilang,,,,,"
"aku bilang tidak usah memasak karena malam ini kita akan makan diluar, tapi aku tidak pernah mengatakan kalau kita akan makan di restoran mewah"
Aku kembali terdiam dengan kata-kata Sasuke. Aku akui itu memang benar. Tapi, kan ?ya tuhan! Kenapa aku harus sesial ini?
"aku sarankan, gantilah dengan baju yang biasa saja"
Aku kembali melirik ke arah gaunku sendiri dan membandingkan dengan yang tengah dipakai oleh Sasuke dan Sarada. Sasuke hanya memakai celana kain hitamnya dan kaos polos berwarna biru dongker, ia tampak dewasa dan sekali lagi sexy, Sarada bahkan hanya memakai piyamanya dan diselimuti oleh sweater berwarna pink salem. Tampilan mereka benar-benar santai, dan apabila aku tetap nekat memakai gaunku, aku benar-benar terlihat salah tempat. Dengan gontai, aku melangkah kembali ke kamarku dan segera mengganti gaunku dengan baju yang benar-benar sederhana. Uhh, kenapa aku harus sesial ini?
ΩΩΩ
Disinilah aku sekarang. Duduk disalah satu kursi dengan meja bundar raksasa yang dikelilingi oleh 6 kursi dengan 6 mangkuk ramen dimeja. Aku melirik Sasuke yang tengah meminum segelas ocha dengan tenang, ia tampak sangat menikmatinya. Ketika aku tengah mengamatinya, tiba-tiba saja mata Sasuke melirik kearahku. Ia memincingkan matanya, tampak tidak suka ketika aku kepergok memperhatikannya.
"apa yang kau lihat?"
"ti,,,tidak ada" sial. Kenapa aku jadi gugup seperti ini?
"teme! Jangan galak-galak dengan Sakura-chan! Nanti dia bisa kabur!" aku mendongakkan wajahku dan melihat Naruto mengomeli Sasuke dengan mulut penuh dengan ramen. Yacks! Bisakah ia makan dengan benar?
"Na,,, Naruto-kun, jangan berbicara ketika makan" aku melirik wanita anggun disamping Naruto. Wanita yang bernama Hinata ini, adalah istri Naruto. Aku kembali bingung. Bukankah Naruto itu adalah kekasih Sasuke? Kenapa ia bisa memiliki seorang istri? Oh, dan jangan lupakan bocah kecil berambut kuning yang duduk di sebelah Hinata, tentu siapa saja yang melihat Naruto dan bocah itu, pastiakan mengira jika mereka berdua adalah anak dan ayah.
"hehehe,,, maaf Hinata-chan! " Naruto meringis mendengar teguran dari istrinya, lalu dengan lembut Hinata menyeka ramen yang belepotan disisi bibir Naruto dengan tisu. Aku melihanya. Saat melakukan itu, wajah Hinata benar-benar merah , Naruto pun tampak salah tingkah setelahnya.
"cih! Aku datang kesini bukan untuk melihat adegan murahan seperti itu dobe!" seru Sasuke kesal.
"apa? Bilang saja jika kau iri Teme!" Naruto pun tampaknya tak mau kalah dengan Sasuke. Hubungan mereka aneh, apakah mereka selalu bertengkar?
"jangan bercanda Dobe! Siapa yang minggu lalu merengek meminta saranku?" ucap Sasuke menyeringai ke arah Naruto. Sepertinya itu pukulan telak untuk Naruto, karena ia langsung diam dan melanjutkan melahap ramennya.
"ehmm,,, ano,,, untuk itu Sasuke-san, aku ingin berterima kasih padamu, Naruto-kun sudah menceritakan semuanya padaku"
Sasuke hanya mengangguk samar menanggapi kata-kata terimakasih dari Hinata, dan Hinata pun tampak biasa saja menerimanya, terlihat jika mereka sudah tahu kebiasaan pribadi masing-masing. Aku jadi penasaran, apakah mereka telah kenal sejak lama?
"em,, jadi, apakah kalian bertiga sudah kenal sejak lama?"Tanyaku pada mereka bertiga, namun mataku tertuju pada Hinata.
"kami sudah berteman sejak kami duduk di bangku senior high school, em, mereka, maksudku Naruto-kun dan Sasuke-san adalah sahabat karib" jawab Hinata sambil melirik Naruto yang kini tengah memasang cengirannya.
"kau tahu Sakura-chan? Teme dulu sangat terkenal dikalangan para gadis, sampai-sampai setiap hari lokernya selalu penuh dengan surat cinta dan hadiah"
"benarkah?" oh, aku merasa sangat tertarik sekarang. Aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Sasuke, dan jujur saja, selama ini aku sangat penasaran akan dirinya.
Naruto menganngguk. "tapi sayang sekali, Teme tidak pernah memperdulikan gadis-gadis itu dan malah selalu menempel padaku hingga banyak yang mengira kami ini adalah pasangan gay"
Benar, kan? Mereka adalah pasangan gay! Tapi, kenapa mereka berdua bisa memiliki anak?
"kami bukan pasangan gay, Sakura-chan!" Naruto berseru jengkel ketika melihatku diam. Sial, apa dia bisa membaca pikiranku?
"aku dan Hinata-chan berpacaran sejak kami pertama kali masuk sekolah dan kau bisa lihat sendiri sekarang aku sudah mempunyai Boruto, dan juga seorang lagi yang sekarang ada di perut Hinata-chan" lanjut Naruto masih dengan nada yang kesal.
"umm,, oke. Aku percaya" aku sedang tidak ingin berdebat dengan Naruto sekarang. Aku ingin mengetahui tentang Sasuke.
"bagaimana dengan Sasuke? Apakah dia juga mempunyai pacar?" tanyaku mengalihkan topik.
"teme tidak pernah pacaran. Dia itu selalu memasang wajah datar dan tidak pernah menghiraukan para gadis yang menyukainya"
Tidak pernah pacaran? Lalu bagaimana dengan ibu Sarada? Aku merasa ganjil pada bagian itu. Dan itu terasa sangat aneh dan menggangguku.
"sudah cukup, Dobe. Hentikan membicarakan diriku "
Aku memalingkan wajahku dan melihat Sasuke memandang kami dengan pandangan tidak suka. aku membalas pandangannya dengan pandangan tajamku. Dia fikir hanya dia yang bisa memandang tajam orang lain? Aku juga bisa melakukannya. Aku adalah seorang Haruno, dan aku tidak akan takut dengan gertakan seperti itu.
"hentikan itu" suara sasuke terdengar berbahaya, entah kenapa aku langsung memutus kontak pandangan kami ketika mendengar suaranya. Ini tidak mungkin! Aku, tidak mungkin takut padanya, kan?
"ayo pulang" Sasuke bangkit dan langsung menggenggam tangan Sarada, " Dobe, terimaksih ramennya" ucap Sasuke sekilas dan langsung melangkahkan kainya keluar dari kedai ramen ini. Akupun langsung bangkit dari dudukku dan mengikuti Sasuke, namun sebelum pergi aku membalikkan tubuhku dan mengatakan terima kasih pada Naruto dan Hinata.
"lamban" ucap Sasuke ketika aku berhasil mengejarnya dengan nafas yang terengah. Mendengar itu, kekesalanku muncul kembali. Dasar lelaki ini! bisakah ia lembut sedikit? Benar-benar menyebalkan!
ΩΩΩ
Setelah sampai dirumah, Sasuke langsung membawa Sarada ke kamarnya dan menidurkan Sarada. Terkadang, aku merasa heran dengan Sasuke, ia bisa menjadi orang yang sangat dingin, namun akan menjadi pribadi yang hangat ketika bersama Sarada, dan entah kenapa, melihatnya aku juga ikut merasakan hangat. Seperti sekarang ini, ketika Sasuke tengah membacakan cerita dongeng dan mengecup dahi Sarada ketika gadis kecil itu sudah terlelap.
Tiba-tiba saja aku jadi merindukan kedua orangtuaku. Apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka akan marah jika aku nanti kembali? Pertanyaan-pertanyaan itu beberapa hari ini selalu menghantuiku. Kurasa aku mulai merindukan mereka, namun aku belum bisa menemui mereka. Tidak untuk saat ini.
aku berjengit kaget, ketika tiba-tiba saja menyadari sasuke berada di dapur dan hanya berjarak kurang lebih 3 meter dariku. wangi maskulinnya sangat dominan di ruangan ini. tiba-tiba saja aku merasa gugup.
"apa ada yang kau inginkan?" sial. Kenapa masih saja gugup?
"kenapa kau gugup?"
"apa? Aku tidak gugup!" aku membantah perkataan Sasuke, meski kenyataannya itu benar.
"apa kau masih mengira jika aku ini adalah seorang gay?" ha? Aku tidak menyangka jika Sasuke akan membahas ini. selama ini ia diam dan tidak memberikan pembelaan apa-apa tentang prasangka ku tentang dirinya yang seorang gay. Namun, mendengar penjelasan Naruto dan melihat fakta-fakta yang ada aku mulai percaya jika Sasuke bukan gay. Tapi, tetap saja, pernyataan Sasuke sangat penting disini.
"kau tidak pernah membantahnya"
"dengar. Aku bukanlah orang yang berisik seperti Naruto yang akan mudah menjelaskan hal seperti ini padamu, kukira dengan melihat semua fakta yang ada kau akan mengerti, jika seorang gay tidak mungkin akan memiliki seorang anak. Apa kau pikir laki-laki bisa hamil?"
Oh, fakta itu. Tentu aku mengerti, namun entah kenapa tetap saja, posisi Naruto dan Sasuke saat itu sangat terasa ganjil.
"Naruto menumpahkan sodanya di celanaku, dan saat itu ia tengah membersihkannya" Sasuke seperti dapat membaca fikiranku. Jadi seperti itu kejadiannya. Aku mulai mengerti sekarang, jadi itu hanyalah salah paham dan mungkin juga hasil dari imajinasiku yang terlalu berlebihan. Namun, entah kenapa masih saja ada yang kurang disini.
"kau masih belum juga percaya?" Tanya Sasuke lagi.
"entahlah. Aku tau semua fakta itu memang benar, dan penjelasanmu mengenai kejadian itu juga bisa diterima. Tapi, entah kenapa, aku merasa masih ada yang sedikit mengaganggu" jawabku sejujur mungkin.
"apa aku harus membuktikannya padamu?" Sasuke makin mendekat. Kini jarak kami tidak kurang satu meter.
"membuktikan apa?" sial. Apa aku gugup lagi sekarang? Aku merasa udara disini menjadi panas, padahal tidak ada yang mengubah temperatur AC.
"Membuktikan jika aku bukan seorang gay" ucap Sasuke pelan.
Entah sejak kapan, jantungku jadi berdebar sangat kencang, ketika menyadari Sasuke sangat dekat denganku sekarang. Kami tidak pernah sedekat ini sebelumnya. aku mendongak dan melihat mata hitamnya.
"ba,, bagaimana caranya?" akhirnya kata-kataku keluar. Aku merasa tidak akan bisa berkata apa-apa untuk melawan kegugupanku. Dan ketika aku berhasil mengeluarkan suaraku, aku merasa terkejut dengan diriku sendiri.
"seperti ini" aku sudah tidak bisa mendengar kata-kata Sasuke ketika tiba-tiba saja tangannya dipundakku dan bibirnya berada diatas bibirku. Dengan lembut ia menyapukan bibirnya dan semakin menekan bibirku, dengan satu gerakan ia berhasil membuka bibirku dan bibirnya dengan ahli menjelajahi setiap ruang dimulutku. Bukan hanya bibirnya, lidah Sasuke juga ikut menjelajahi setiap rongga mulutku. kami berciuman cukup lama, sampai aku hampir kehabisan nafas, lalu, Sasuke melepaskan ciuman kami, dengan segera aku langsung menghirup udara , namun belum lama aku menghirup udara, Sasuke kembali menciumku, dan kini ia lebih liar, meskipun aku bukan ahli, namun aku berusaha untuk mengimbanginya, lidahku yang semula pasif, kini mengikuti gerakan lidahnya yang semakin liar, bahkan tanganku yang semula diam, kini sudah berpindah ke leher Sasuke. Entah sudah berapa lama kami berciuman, namun Sasuke belum ada tanda-tanda akan mengakhirinya. Aku mengerang cukup keras ketika Sasuke sekali lagi menghisap lidahku, dan tiba-tiba saja Sasuke melepaskan ciumannya.
Kami berdua terengah ketika bibir kami tak lagi menyatu. Aku yang memang tidak berpengalaman, langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Jantung sialanku ini juga sedari tadi tidak pernah mengurangi getarannya , bahkan makin hebat.
"kukatakan sekali lagi. Aku ini bukan seorang gay" kupandangi Sasuke yang makin menjauh dan menghilang dibalik pintu kamarnya. Setelah Sasuke pergi, aku langsung terduduk dilantai, kaki ku seperti jelly sehingga terasa tidak kuat lagi menyangga tubuhku, aku pun memegang jantungku yang kian berdetak kencang. Dan entah kenapa, aku merasa di dalam perutku ada ribuan kupu-kupu yang terbang.
Aku merasa,,,,,,, seperti meleleh. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini ini, tersa asing bagiku. Kuusap bibirku dengan jari, bibir ini, beberapa saat yang lalu, bibir Sasuke ada di atas bibir ini. aku menginginkannya. Aku menginginkan bibir itu lagi. Aku menginginkan Sasuke. Demi Tuhan! Fikiran apa itu tadi? Apakah kini aku menjdi seorang gadis yang mesum? Atau apakah aku telah,,,,, uh, uh, tidakk!
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mengusir pemikiran bodoh itu dari kepalaku. Aku kembali mengingat ciuman tadi dan merenung. Aku,,,,,, tidak mungkin jatuh cinta dengan Sasuke, kan?
ΩΩΩ
SASUKE POV
Hari ini aku merasa sangat kacau. Meskipun banyak pekerjaaan yang telah menumpuk di meja, namun fikiranku tidak ada disini. bahkan, ketika menghadiri rapat para pemegang saham, aku masih saja merasa tidak tenang. aku memikirkan kelakuan bodohku yang telah mencium Sakura. Selama hidupku, aku tidak pernah dengan sengaja mencium seorang perempuan, dan pertama kali aku melakukannnya aku melakukan dengan seorang jalang. Aku hanya kesal dengan pemikiran bodohnya yang mengira aku ini adalah seorang gay, padahal fakta aku bukan seorang gay, sudah ada di depannya. Namun, mencium Sakura untuk membuktikan bahwa aku bukan seorang gay, tidak ada dalam rencanaku.
"apa terjadi sesuatu? Kau kelihatan gelisah" aku mendongak dan melihat Itachi datang dan duduk di sofa.
"tidak ada yang terjadi" elakku membuang pandanganku keluar.
"kau bukan pembohong yang baik jika di depanku, Sasuke" Itachi bangkit dan menghampiriku. " apa terjadi sesuatu dengan keponakan kecilku?"
"ck, sudah kubilang tidak ada yang terjadi"
"ya,,,, aku hanya mengkhawatirkan Sarada yang membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Seharusnya kau meneruskan hidupmu dan mencari seorang ibu untuk Sarada"
aku membenci ini. kenapa semua orang menceramahiku soal ini? aku baik-baik saja, dan aku bisa membesarkan Sarada seorang diri dengan baik. Lagipula sekarang ada Sakura yang menjadi pengasuh Sarada.
"hn. Sarada sudah memiliki pengasuh untuk mengurusnya ketika aku sedang sibuk, jadi kau tidak usah khawatir" ucapku pelan
Itachi memincingkan matanya menatapku. " pengasuh? Ini aneh, kau dulu sangat membenci seorang pengasuh"
"mereka tidak seburuk yang aku pikirkan"
"apakah ini pengasuh yang istimewa?" Tanya Itachi menggodaku.
Aku memutar mataku bosan. Itachi memang seperti ini. ia sangat senang menggodaku jika sudah melibatkan seorang wanita. Dia sudah mengenalku dan ia seharusnya tahu, jika aku tidak akan tertarik dengan seorang wanita. Setidaknya tidak untuk sekarang.
"jangan bercanda"
"ayolah Sasu-chan, aku tau kau masih normal dan kau juga tertarik dengan seorang wanita. Jadi, siapa pengasuh ini" sial. itachi makin gentar menggodaku. Aku berusaha menghindarinya dengan memalingkan wajahku.
"sudah kubilang bukan siapa-siapa. Berhenti mengurusiku dan urus saja urusanmu sendiri" ujarku kasar tanpa menatapnya.
Itachi menghela nafasnya. " kau masih saja tidak berubah. Ya, mungkin saat perayaan ulang tahun kaa-san nanti, kau akan mengajak Sarada dan pengasuh itu juga. Kurasa kaa-san akan senang jika mendengar ini"
Sial. Aku lupa ulang tahun kaa-san yang tinggal beberapa minggu lagi. Dan apa maksudnya dengan kaa-san akan senang mendengar jika Sarada memiliki pengasuh? Damn it! Itachi akan menceritakan ini semua kepada kaa-san dan pada akhirnya kaa-san akan memaksaku untuk mengenalkannya pada Sakura? Tidak, ini tidak boleh terjadi.
"kau tidak akan melakukannya" ucapku dingin sambil menatap itachi tajam.
Itachi terkekeh pelan. "aku menantikannya. Jaa,,,,,"
Aku menatap kepergian Itachi dengan menahan geramanku. Ini menjadi sulit jika kaa-san mengetahui tentang Sakura. Aku tidak bisa mengatakan jika Sakura adalah seorang jalang yang sedang memerlukan pekerjaan jadi aku menampungnya, aku juga tidak bisa mengatakan jika Sakura adalah sorang gadis baik-baik, karena jika aku mengatakan hal itu, maka kaa-san akan memaksaku untuk mendekatinya.
Aku menghentikan lamunanku ketika mendengar dering ponselku. Aku mengernyit ketika menatap nomor yang tertera di ponselku. Ini adalah nomor telpon tempat Sarada sekolah. Apa yang telah terjadi? Dengan cepat aku mengangkatnya dan langsung mendengar suara guru Sarada,
"Halo Uchiha-san"
"ada apa?" tanyaku langsung
"Sarada kembali berkelahi dengan Boruto. Sekarang mereka berdua ada di alam kantorku, aku juga sudah menghubungi Namikaze-san, jadi tolong secepatnya datang kemari"
"Hn. Aku akan segera kesana" aku segera menutup telepon itu dan bergegas menuju ke sekolah Sarada. Aku memacu mobilku dengan cepat dan terus memikirkan Sarada. Berkelahi lagi dengan Boruto? Ya tuhan,,,,,,, ini sudah yang keberapa kali?
ΩΩΩ
Yuhuuuu!
Akhirnya bisa update chapter 5!
Maaf kalo lama updatenya, karena kalo nulis nungguin mood dulu! Hehe,,,,
Maaf juga kalo adegan kissingnya gak banget! Jujur aja, Rina palinng gak ahli kalo disuruh bikin adegan kayak gitu, tapi pengen banget bisa bikin adegan kayak gitu, !
Buat yang udah review makasih banyak ya,,,,
Mudah-mudahan kalian gak bosen buat ngikuttin cerita ini.
Ttd
Rina Apple
