A/N: Moshi-moshi! Saya kembali setelah ujian yang menjengkelkan #plak. Untuk Nnatsuki: Tenang saja, walau peran Lucy yandere, nggak bakalan yandere banget(?). Fairy tail itu, ngga pernah ada benernya(?). Jadi tenang aja. Spoilernya, dramanya bakal acak-acakan. Except momen NaLunya. Mungkin(?)

IMPORTANT: GOMEN! DRAMA AKAN ADA DI CHAPTER DEPAN KARENA KALAU DI GABUNG KEPANJANGAN! GOMEN, REALLY GOMEN! :((( you okay with that? :(((

Disclaimer: I do not own Fairy Tail.

So, K-On! #nyasar anime

.

Previous Chapter:

"Levy-chan, kau mendengar sesuatu?" tanya Lucy.

Para penguntit season dua mematung.

"Umm.. tidak. Lanjutkan." Suara Levy terdengar gugup.

"Ssstt.." bisik Erza, lalu semuanya menyiapkan telinga mereka baik-baik, bagaikan baru menyadari fungsi sebenarnya dari telinga.

Dan Lucy mulai bercerita, tanpa gangguan siapapun. "Jadi, sebenarnya ..."

.

"Jadi, sebenarnya.. seperti yang kau tahu, ayahku menjodohkanku dengan Sting. Sejak kelas tiga." Lucy mulai bercerita, efek api berkoar di sekitarnya. Levy sempat mundur satu langkah. "Dan si brengsek itu kan playboy. Karena ayah itu keturunan Tuan Crab.. ya.. akhirnya ia setuju dengan tawaran Ayah Sting yang kaya raya. Katanya juga sih.. Sting menyukaiku nggak main-main. Jude Crab percaya aja."

"Jude Crab?"

Levy sempat sweatdrop mendengar Jude adalah keturunan Tuan Crab. Ilustrasi: Jude akan berteriak "UANG!" dengan mata berbentuk lambang Yen manakala mencium, melihat, dan merasakan keberadaan uang. Kurang apalagi keluarga Heartfillia yang mempunyai taman seluas sebuah KOTA?

Levy mengibaskan tangannya untuk menghapus ilustrasi sebelumnya, "Jadi, intinya, ayahmu menjodohkanmu dengan Sting karena gila uang." Ia menyimpulkan.

"Iya.. itu maksudku." Lucy tersenyum grogi. "Tetapi.. kau tahu, aku tidak pernah menyukainya. Karena sesuatu. Ya. Dulu, aku mengatakan padamu bahwa aku putus dengan Sting karena ia selingkuh. Nyatanya.."

Para penguntit season dua memasang telinga baik-baik. Kecuali Gajeel. Ya.. ia penasaran sih, tapi.. apa salahnya jika seorang cowok mencoba keren dan menjadi gentlemen karena nggak ikutan mencampuri urusan orang lain?

Demi Mavis, ia melakukan ini karena ada Levy. Mungkin.

Agak penasaran juga sih.

"Nyatanya?" Levy mengulangi kata terakhir yang terucap dari mulut Lucy.

"Akuyangmemutuskannya." Lucy mengucapkannya dengan sangat cepat. Andai saja Levy tahu kalau mengucapkannya membuatnya merasa seperti seorang brengsek.

"Apaa?" Bagus, Levy.

"Aku..yangmemutuskannya."

"Haaah?" Bagus, Levy, sial.

"Aku yang memutuskannya!"

"Oh. Tunggu, apa?" Bagus, Levy, sial..an.

"Bagus Luce! Kau memang tidak cocok dengan si bau itu!" komentar Natsu memecah keheningan. Sebuah kipas melayang sempurna ke atas kepalanya. Natsu sempat akan protes, tapi saat ia melihat ke samping.. "Diam," desis Erza, satu paket dengan aura berwarna ungu. Natsu menelan ludah.

'Geez.. Jellal. Kenapa tu anak bisa betah sama Erza?'

"Kenapa kau memutuskannya? Maksudku.. bagaimana dengan ayahmu?"

Wajah Lucy mendadak memerah, "Eh.. itu.." ia sempat akan menolak memberi tahu Levy, tapi.. tidak ada yang bisa menahan sepasang puppy eyes. "Ah. Baiklah, tapi jangan tertawa, oke?"

"Hu'um!" Levy mengangguk semangat.

"Aku.. menyukai seseorang.. sejak dulu."

Sebuah panah melesat ke dada kiri Natsu, dengan dramatis ia terduduk. Ia mencengkram seragam di dada kirinya.

"Oho, flame-brain sakit hati," komentar Gray.

"Urusai, es lilin."

Sedangkan Mirajane tampak sedang mencatat sesuatu layaknya seorang wartawan.

"Eeeh?! Siapa?!" jerit Levy semangat. Ia akan tertawa bahagia jika Lucy menjawab 'Natsu'. Ia tidak peduli jika Lu-chan sedang out of character! Sedangkan orang yang dibicarakan semakin menundukkan kepala, menyembunyikan wajah merahnya, "N.."

"N?!" mata para penguntit dan Levy langsung berbinar. Sekali lagi, kecuali Gajeel. Ia tetap mempertahankan harga diri seorang laki-laki sejati. Ah.. apa kabar Elfman?

"N..Nggg.. Summer."

"..."

'N ITU TERNYATA 'NGG'?!' semua berteriak dalam hati.

"Summer ya.." Natsu merasakan sebuah panah menancap lagi di dadanya. "Oi, oi.." Gray sweatdrop.

"Siapa itu?" harapan Levy mulai pupus, tapi, rasa penasarannya tetap kuat. Seorang Lucy memainkan kedua jari telunjuknya, dan dengan malu-malu menjawab, "seseorang yang kukenal di dalam mimpi.."

Keheningan.

"Bunny-girl terlalu banyak diceritakan dongeng," komentar Gajeel.

"Summer? Mimpi?" Natsu tampak mengingat-ingat sesuatu, sedangkan Mirajane sebagai sang wartawan menyeringai dengan antusias, "kau mengingat sesuatu?" Respons yang diberikan Natsu hanya terdiam sejenak, dengan pose berpikir, ia bergumam. "Aku.."

"Aku?"

"Aku tidak mengerti." dan seorang Erza tengah bersiap-siap dengan kipasnya.

"Ehem, oke, jadi.." berdehem, Levy mengetuk-ngetuk permukaan wastafel dengan jari telunjuknya, "kau memberitahuku bahwa Sting selingkuh padahal kau yang memutuskannya hanya karena Summer—kenalanmu di mimpi?" Sang Tukang Kebun menyimpulkan.

"Ah.. begitulah."

"Kuulangi dari awal. Ayahmu menjodohkanmu dengan Sting karena gila uang, lalu kau memberitahuku bahwa Sting selingkuh padahal kau yang memutuskannya hanya karena Summer—kenalanmu di mimpi?" Sang Tukang Kebun menyimpulkan kembali. Lucy mengangguk, 'hahh.. ini memalukan. Masa lalu yang kelam.'

Tiba-tiba ruangan menjadi gelap. Lucy dan Levy terduduk, keduanya di sorot lampu senter (entah bagaimana), terima kasih pada Mirajane. Interogasi, dimulai.

"Lalu, apa kau membenci Sting?"

"Yah.. nggak juga."

"Kenapa?"

"Karena nyatanya ia masih playboy."

"Bagaimana dengan Yukino?"

"Oh, dia. Saat Sting ke sini, aku sudah memberitahunya bahwa Yukino mungkin bisa menjadi tipenya."

"Hmm, begitu." Levy menghela napas. "Bukannya mereka nanti LDR?"

Lucy sempat terdiam, lalu Levy mengetuk-ngetuk pergelangan tangan kirinya, bagai memberi isyarat 'waktu-terus-berjalan.'

"Kudengar Yukino juga mau pindah ke Amerika. Masalah selesai," Lucy mengedikkan bahu. Levy sweatdrop, 'ini dia Lu-chan yang kutahu.' Lalu ia kembali menghela napas.

"Ceritakan, bagaimana kau bisa menyukai kenalanmu di.. err.. mimpi?"

Wajah Lucy memerah lagi, lalu mulai bercerita dalam satu tarikan nafas, "saat aku tidur tiba-tiba seorang laki-laki yang seumuran denganku muncul dan menyebut dirinya 'Summer' dan aku tak bisa melupakan rambutnya yang pink dan ia selalu menghiburku lalu kami bersahabat lalu aku menyukainya.. entah kenapa." Ia menarik nafas lagi, kali ini berbicara lebih pelan, "saat Sting muncul.. ia menghilang."

Dari luar, semua penguntit menatap Natsu, tetapi Natsu hanya bisa menatap pintu toilet dengan mata selebar-lebarnya. Hal ini tidak dilewatkan oleh Mirajane, yang kini tersenyum angelic, tapi sebenarnya menyembunyikan sisi demonic-nya.

"Lu-chan.." bisik Levy. "Apa.. kau masih menyukainya?"

"Aku tidak tahu. Apa inti untuk menyukai seseorang yang fiksi? Aku benar-benar bodoh, ne?" Lucy tersenyum pahit. Ruangan kembali terang, lalu terlihat Levy yang tersenyum semangat sambil mencengkram bahu Lucy.

"Aku yakin, kau akan bertemu dengan Summer!"

Lucy nyengir, memamerkan kedua taringnya, "mungkin. Jika Mavis mengizinkanku. Lagipula, aku tidak pernah bisa melihat mukanya. Jadi.. aku hanya bisa melihat rambutnya."

"Ngomong-ngomong.. Lu-chan..?" Levy tiba-tiba tersenyum licik. "Jangan-jangan, Summer itu Natsu.."

Wajah Lucy refleks memerah, sambil mengibas-ngibaskan tangan, ia setengah berteriak, "Tidak mungkin! Bukankah saat SMP aku tidak mengenal Natsu?!" yang Lucy tidak tahu adalah, Levy dkk. sudah mengetahui bahwa Natsu dan Lucy—Lisanna, jika dihitung, adalah sahabat masa kecil.

"Ne, Levy-chan. Bagaimana kalau nanti malam kau 'menjemput' kucing hitammu, oh, maksudku, dengan Gajeel?" tawar Lucy, selagi ia berjalan menuju pintu keluar toilet. Levy mengangguk semangat, "Baiklah! Tunggu aku sekitar jam tujuh, ya!"

Lalu terdengar suara ricuh—gubrak, krak, "Ittai!", plak, dan sebagainya dari luar. Lucy mulai sweatdrop. "Kenapa ribut sekali?"

Ia berlari keluar dari kamar mandi wanita dan menyaksikan Erza tengah menggebuki Natsu. Yang lain tampak sweatdrop karena Erza menyerang Natsu dengan tiba-tiba. Lucy berteriak, "Oi! Oi! E-Erza, kenapa kau menghabisi Natsu?—tunggu, tepatnya, apa yang kalian lakukan di sini?"

Erza menoleh dan membetulkan letak kacamatanya (yang menimbulkan efek bersinar), "Aku, Erza Scarlet, sebagai orang yang mengetahui ada tindakan kejahatan di sini, sebagai orang yang berwenang, sebagai orang yang berada di jalan kebenaran, aku harus menghukum Natsu."

"Erza ternyata orang yang penting sekali," komentar Gray pelan, sweatdrop.

"Tunggu, kenapa hanya aku?" jawab Natsu tergeletak lemas dari bawah. Efek asap menguar dari kepalanya.

"Karena.." Erza terdiam, mencari alibi yang tepat. Ia menyembunyikan tangan kanannya ke belakang lalu mengepalkannya—memberi isyarat seseorang harus membantunya untuk mencari alasan. Jellal, yang tiba-tiba memakai kacamata entah darimana, membetulkan kacamata (sehingga menimbulkan efek bersinar), lalu berbicara dengan pede,

"Aku, Jellal Fernandes, sebagai orang yang memuja Erza, sebagai orang yang mendukung Erza, sebagai orang yang mengikuti Erza di twitter, harus menjelaskan kronologinya."

"Jellal ternyata termasuk orang yang penting sekali," komentar Gray lagi.

"Silahkan, Master Jellal," Erza dan Lucy membungkuk hormat. Levy yang bingung, ikut membungkuk.

"Jadi," Jellal mulai mondar-mandir, satu tangannya di kacamata dan satu lagi di saku celana, "Natsu dan Gray—"

"Kenapa aku?" Gray dan Natsu berbisik bersamaan.

"—ingin bertaruh yang berani masuk ke toilet wanita."

"Untuk apa?" Lucy mulai meng-glare Natsu dan Gray yang berkeringat dingin.

"Karena mereka ingin mengejar seekor kupu-kupu yang masuk!" ujar Jellal, di sampingnya tertera ilustrasi Gray dan Natsu yang berlomba mengejar kupu-kupu di padang bunga.

"..."

"Sungguh, Natsu? Hanya karena itu?" Lucy sweatdrop. "Haaah~ kalian kekanak-kanakan sekali. Kalau tujuanmu untuk mengintip wanita, aku pasti sudah membunuhmu!" ia mengeluarkan aura ungu.

"A..aye sir!" jawab Natsu dan Gray sekenanya. Erza mengangguk-ngangguk bangga, "baiklah.. ayo, kita latihan drama!" matanya seketika berbinar. Gajeel menghela napas panjang, "aku menyesal masuk ke sekolah ini." Sedangkan Juvia sudah men-stalk Gray-sama-nya lagi.

Saat yang lain sudah pergi duluan, Levy menarik Gajeel ke belakang rombongan. "Katakan, Gajeel, apa yang sebenarnya terjadi!"

Gajeel menelan ludahnya, jika ia berbohong, Levy dengan mudah akan mengetahuinya. Hell, Levy itu cerdas, lebih cerdas dari Lucy, jika boleh jujur. Dan jika ia membuat Levy marah, ia akan merasakan wrath Erza ketiga.

"T-tidak ada, kok, shrimp."

Levy hanya menatapnya tajam, lalu mengangkat sebuah dompet tebal nan besar dari sakunya. Ia tersenyum horror (dengan efek bayangan yang dihasilkan dari sorotan senter dari dagu). Gajeel menelan ludahnya untuk kedua kali, ia ingat kemarin—iya, kejadiannya fresh from the oven(?), ia pergi ke rumah Levy sambil membawa seplastik penuh pakaian kotor.

"Mau ngapain ke sini?" tanya Levy dengan masker berwarna hijau di wajahnya. Gajeel hanya nyengir, "Gihii, mau minta tolong cuciin baj—" belum selesai, ia sudah mendapat pukulan telak dari dompet nista itu.

Jadi, sebaiknya ia jujur saja. Dan berbohong saat Levy tidak membawa dompet itu.

"Kau mau yang jujur?" tanya Gajeel sok cool, Levy memutar bola matanya. "Flame-brain, ice-prick, rain-woman, bull-head, tattoo-guy, demon-angel, dan aku, ingin menguntit kalian seperti kemarin. Selesai, yaaay." Gajeel mengatakan 'Yaay' dengan suara datar dan hampir membuat Levy tertawa.

"Uhuk. Jadi, flame-brain itu Natsu, ice-prick itu Gray, rain-woman itu Juvia, bull-head itu Erza, tattoo-guy itu Jellal, demon-angel itu.. Mirajane." Levy 'membenarkan' perkataan Gajeel, "sebenarnya dari mana kau mendapat semua julukan itu?" ia sweatdrop.

"Bikin sendiri, gihii." PLAK. Bohong tidak bohong, Gajeel tetap mendapat pukulan telak dari dompet itu.

"Dasar bodoh! Yang kalian lakukan itu melanggar hak privasi manusia!" Levy hampir berteriak, kalau saja ia lupa bahwa ada Lucy di depan. Gajeel menggaruk kepala belakangnya yang tertutup rambut hitamnya, "bull-head-lah yang memaksa."

"...Oh." Erza? Sudahlah, Levy kalah. "Lagipula, kenapa kalian kepo banget sih?"

"Gak tau. Kan kubilang dipaksa Erz—bull-head. Tadinya sama si Mira."

Levy menghela napas. Ia belajar, ia benar-benar harus hati-hati dengan Mirajane, dalang dari semua ini. Haaah~ ia tahu, makcomblang itu seru, tapi.. apa ini kelewat batas?

"Tidak, kok!" Mirajane menjawab dengan senyum malaikatnya. Levy mengedipkan mata, "huh?"

"Makcomblang ini sudah direncanakan dengan baik olehku, Levy. Serahkan semua padaku!" Mira menyatukan kedua tangannya sambil tersenyum manis. Levy menghela napas, dan tahu-tahu ia sudah ada di depan pintu lapangan basket indoor. Drama, ya? Levy merasakan dirinya bersemangat. Ia merasakan mulutnya membentuk grin.

"Baiklah, kita akan memulai latihan di pimpin oleh Levy!" Erza mengumumkan sambil berkacak pinggang. Ia melirik Levy, sedangkan sang bluenette maju ke depan sambil memegang selembar kertas.

"Terima kasih Erza. Sekarang, aku ingin kalian menyebutkan peran kalian satu-satu. Aku sendiri menjadi penjaga perpustakaan."

"Tunggu, Levy! Aku panggil Laxus dulu!" Mirajane ngebut keluar sehingga menghasilkan asap. Yang lain berdoa agar Laxus selamat.

"Ah, oke. Dimulai dari Juvia, apa peranmu?" Levy menunjuk Juvia, ia menyiapkan pulpen untuk menulis di kertas yang ia pegang. Juvia langsung blushing sambil melirik Gray, "J-Juvia, m-menjadi.. Ratu. Dan Raja-nya adalah Gray-sama."

"Bagaimana kau tahu peran Gray?" tanya Jellal heran.

"Juvia tidak sengaja melihat kertas gulungan Gray-sama.. maafkan Juvia," Juvia menunduk dan merasa bersalah. Levy tersenyum grogi, "T-tidak apa-apa, Juvia.. lagipula, itu tidak sengaja! B-bagaimana denganmu Jellal?"

Jellal menghela napas, "Lumayan lah."

"Iya, perannya apa?" tanya Natsu tidak sabar.

"Ya.. lumayan."

"Apanya?" tanya Erza.

"Perannya."

"Lumayan kenapa?" tanya Lucy.

"Lumayan aja, gak ada alasan khusus."

Erza men-death glare Jellal seakan mengatakan 'jika-kau-mempermainkanku-aku-akan-melemparmu-dari-jendela.'

"B-baiklah, aku.. jadi peramal."

"Ngobrol doong," Gray menepuk pundak belakang Jellal. Jellal tersenyum grogi.

"Oke, sekarang, Gajeel? Apa peranmu?" Levy tersenyum manis. Gajeel mendengus pasrah, sebelum bergumam, "supir pribadi Raja." Lalu Natsu ikut mendengus, "Seharusnya metal-face menjadi tukang bengkel."

Levy hampir menahan tawanya mengingat SMS Natsu tentang keluarga masa depannya dengan Gajeel. Tukang kebun + tukang bengkel = anak tukang salon. Sialan Natsu, mentang-mentang namanya 'McGarden'.

"B-baiklah, kalau Erza?"

"Aku menjadi chef di kerajaan." Ia tersenyum tenang dan berwibawa, typical Erza.

"Minna! Aku kembali!" BRAK! Terdengar pintu yang dibanting (yang membuat semuanya déja vu), dan tampaklah seorang Mirajane yang tengah menyeret Laxus, si keras kepala.

"Ungh..ergh," Laxus menggumam nggak jelas, terlihat tiga garis ungu vertikal di bawah matanya. Levy sweatdrop, "se-selamat datang Laxus.. walaupun caranya tidak menyenangkan," ia menggumamkan kalimat terakhir. "Apa peranmu, untuk drama ini?"

Laxus tampak berdiri terhuyung-huyung. "Na..narator." air mukanya kembali normal, strong dan cool seperti biasa. Kalau menurut Natsu, sih, menyebalkan.

"Aku juga," Mirajane buru-buru mengatakan sebelum Levy bertanya.

"Baiklah, yang tersisa adalah—"

"AKU!" Natsu mengepalkan tangannya ke udara, "tentu saja peranku lebih keren dari ice-prick dan," ia tertawa meremehkan, "metal-face, yang menjadi supir. Pffft."

Empat sudut siku-siku muncul di dahi Gray dan Gajeel.

"Cuacanya cerah sekali ya?" komentar Lucy.

"Hei! Jangan mengacuhkanku!" empat sudut siku-siku juga muncul di dahi Natsu. "Aku akan menjadi pembantai naga api!" ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

"Cih, itu saja," gerutu Gray dan Gajeel bersamaan. Padahal dalam hati bersumpah untuk mem-bully Natsu.. nanti. Iya, nanti. Seorang pria takkan menarik perkataannya! Terima kasih pada kata-kata mutiara dari Elfman.

"Akui saja, ice-princess! Kau cemburu!"

"Untuk apa?!"

"Peranku yang hebat~"

"Dibandingkan denganmu, sebagai raja, aku bisa menghukummu mati!"

"Aku akan membakarmu menjadi abu!"

"Hah! Coba saja!"

"DIAM KALIAN!" raung Erza. "Ne, Lucy.. apa peranmu?" tanyanya, walaupun mereka sudah tahu sifat dari peran Lucy. Terima kasih pada hobi menguntit mereka.

Lucy langsung mengedipkan matanya, "Huh? Oh, peranku? Putri Raja yang yandere. Itu sangat memalukan," ia menggelengkan kepalanya.

"Ne, kalau kita sudah tahu peran kita, bagaimana kalau kita mulai dengan adegan pertama?" usul Levy. Dari belakang, Juvia mendorong sebuah kursi khas sutradara dan menyodorkan topi khas sutradara beserta kacamata hitam. Levy duduk berpangku paha, dan di tangannya ia mengenggam speaker.

Ia menyeringai, "kita mulai sekarang.."

.

Hari sudah menjelang malam dan sedari tadi Lucy hanya diam memikirkan perkataan Levy. Kini ia sedang berjalan ke arah rumahnya tanpa Natsu. Pemuda itu akan tinggal di rumahnya bersama Wendy. Ah.. Lucy juga tak bisa menyalahkan sih. Mana mungkin Natsu mau meninggalkan adiknya yang masih polos itu?

Tunggu.. kenapa Lucy malah mengkhawatirkan Natsu? They have their own life, y'know.

'Ngomong-ngomong, Lu-chan.. Summer itu.. Natsu, kan?'

"Baka janai yo?" gerutu Lucy, menghentakkan kakinya selagi berjalan ke rumahnya. "Aku tahu Summer berambut pink, tapi kan bukan cuma Natsu saja yang berambut pink! S-seperti.. Chelia—teman Wendy! Ya! Tapi.. dia kan perempuan.." ia merasakan wajahnya memanas, jika Natsu benar-benar Summer ...

O.M.G. Jika itu benar, ia sudah mencium seorang SUMMER di u-ujung b-bib—

"JANGAN PIKIR UNTUK MENYELESAIKAN KALIMAT ITU, LUCY!" ia berteriak sendiri dengan wajah merah, mengakibatkan burung-burung gagak yang hinggap di kabel listrik langsung terbang.

Lucy menenangkan dirinya. "Summer itu.. fiksi. Fiksi. Fiksi. FIKSI!" ia jadi kesal sendiri. Ia membuka pintu gerbang rumahnya yang wah, tiba-tiba sesuatu yang biru muncul. "Luccccyy~" Happy tiba-tiba melesat terbang ke arahnya, dengan air mata buatan. "A-ada monster di dalam kamarmu!"

"Haah?! Bagaimana bisa?!" Lucy sweatdrop. Tanpa basa-basi ia berlari ke kamarnya yang terbuka lebar. Hawa dingin mematikan membuat bulu kuduk Lucy merinding. "I-ini.. s-serius?"

Ia mengintip ke dalam pelan-pelan ...

tetapi nyatanya tidak menemukan apa-apa. Ia menghela napas, "ayolah, Happy. Tidak ada apa-ap—"

"P-puun puun!"

"—pa.." Lucy menoleh lambat-lambat ke bawah. Keringatnya mengucur deras, dan ia menemukan boneka Plue-nya berjalan gemetaran ke arahnya. Happy menunjuk Plue dengan tangan(?)nya, "L-Lushyy.. itu monsternya!"

Mata Lucy berbentuk hati, "KAWAIIII~!" ia berlari ke arah Plue, meninggalkan Happy yang berdiri di pintu. "Eh?" ia bingung.

"Plue, kenapa kau bisa hidup?" ia memeluk Plue sekuat tenaga, membuat Plue menjadi biru. Happy tersenyum grogi, "sebenarnya.. aku membawa Chemical X777 dari rumah Natsu.. lalu aku menyiram monster itu. Tiba-tiba ia hidup!"

Lucy menatap Happy tajam. "Kau.. tidak meminta izin pada Wendy?"

Happy berkeringat dingin menyadari kesalahannya dalam berkata, lalu melesat keluar dari jendela Lucy. Dari kejauhan suaranya samar-samar terdengar, "NATSUUU ... LUCY JAHAT KEPADAKU!"

Hening.

Lucy menghela napas, "dasar kucing." Lalu ia tersenyum manis pada Plue, "ne, Plue! Malam ini kau akan menemaniku tidur bukan?" lalu di balas dengan anggukan Plue. Sambil bersenandung lagu heavy metal, ia menyambar sebuah handuk dan menuju ke kamar mandi.

.

Natsu Dragneel berjalan tanpa tujuan sambil memasukkan kedua tangannya di celana. Lalu ia menghela napas. Ia tidak pernah mengira bahwa membuat Lucy feminin itu begitu sulit. Sialan si tukang kebun. Yah, yah. Sebenarnya ia tahu kalau membuat Lucy feminin itu juga.. seru.

Kalau saja tidak dihitung dengan kesialan yang ia terima seminggu penuh!

Pertama, memakan bento buatan Lucy. Ia ingat pertama kali Lucy belajar memasak karena masalah sepele: okonomiyaki yang terlempar ke wajahnya. Argh. Lalu besoknya, ia memakan bento buatan Lucy—ramen, setelah sebuah kejadian dramatis antara Lucy dan Sting. Dan yang ia tahu, setelah itu ia pergi ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya.

Sial Lucy dengan perkataannya, "Nih, semoga sakit perut, ya!"

Yang kedua, ia dan Lucy harus menyisihkan uang saku mereka untuk membayar mesin minuman yang dirusak Lucy—dan dirinya sendiri. Hei! Itu kan untuk menghibur Lucy! Dan alhasil, ia kan di bilang lebih keren dari Sting!

Yang ketiga, Wendy membuat tiga ekor kucing tak berdosa menjadi exceed. Itulah yang sedari kemarin Charle bicarakan. Psh, kucing betina saja cerewet banget. Dan yang membuat Natsu kaget, exceed bisa terbang.

Yang keempat, ia harus ikut bermain di drama bodoh. Yah, walaupun perannya keren—super keren malahan—tetapi Lucy mendapatkan peran yang salah. Apa? Yandere? Yang benar saja. Entah mengapa ia mempunyai firasat buruk tentang kelancaran drama mereka nanti.

Yang kelima, keganasan Erza kedua. Atau Erza sendiri. Ah, terserahlah. Contohnya tadi, setelah Levy menyebutkan bahwa Summer adalah dirinya, Erza langsung menggebukinya. Mengapa? Jika ia mengatakan bahwa Gray dan Natsu bertaruh hanya demi kupu-kupu, bullshit. Erza beralasan bahwa Natsu (yang ia yakini Summer) sudah meninggalkan Lucy saat Lucy membutuhkannya—setelah Sting muncul.

"Sebagai anggota OSIS kedisiplinan, aku harus menghukummu!"

Dan sampai sekarang ia tidak mengerti mengapa Erza bisa begitu manja terhadap Jellal. Ah ya, yang lebih penting, apa alasan mereka merahasiakan hubungan? Apa karena Mirajane?

Yang keenam, sejak Wendy datang untuk mengantarkan bento buatannya tadi, ia tak henti-hentinya senyum-senyum sendiri kepada dirinya dan Lucy. Apa itu tidak aneh?! Lalu setelah semuanya bubar, Natsu tidak secuek yang orang kira untuk tidak menyadari Wendy tinggal berdua dengan Mirajane.

Dan di rumah, Wendy-nya yang polos kini selalu menggodanya dengan Lucy.

"Jika Lucy-nee memintaku untuk memanggilnya dengan sufiks '-nee', berarti ia akan menjadi kakak iparku!"

"Natsu-nii, kejarlah Lucy-nee sebelum di ambil."

"Natsu-nii, Lucy-nee limited edition, lho."

"Natsu-nii, Lucy -nee—"

"Natsu-nii—"

"NATSU-NII, NATSU-NII!" teriak Natsu frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya. "Lucy-nee, Lucy-nee! Psh!" ia mendengus kesal. Lalu ia melihat rumah Lucy. Ia tersenyum lebar, "Kebetulan sekali aku lapar! Lebih baik aku memanjat jendela kamarnya!"

Tanpa ketahuan Loke atau Aries, ia memanjat dengan cekatan sebuah pohon yang dahannya menjulur ke balkon kamar Lucy. Ia mendarat dengan mulus, lalu membuka pelan-pelan pintu kaca yang selalu lupa Lucy kunci. Ia berjalan mengendap-ngendap lalu terhenti, saat mencium bau lavender yang harum.

Setelah ditelusuri, ia sadar bahwa Lucy sedang mandi.

Intip.. atau.. tidak?

Sebelum Natsu melanjutkan pemikirannya, pintu kamar mandi sudah terbuka, menampilkan Lucy hanya dengan selembar handuk. Natsu buru-buru sembunyi di sebelah lemari pakaian Lucy, dan ia hampir menepuk kepalanya kalau,

Lucy,

Mencari,

Baju,

Di,

Lemari,

Pakaian.

Dan untuk 2 menit, for Mavis' sake, ia harus menutup mata, baik agar tidak nosebleed, atau mendapat Lucy kick.

Terdengar bunyi lemari di tutup, dan itu menandakan bahwa Lucy sudah selesai berpakaian. "Haah~ sebentar lagi Levy mau datang, sebaiknya aku membereskan kamar. Ngomong-ngomong, kucing hitam, kau mau makan?" Natsu mendengar Lucy berbicara.

"Boleh." lalu terdengar bunyi pintu di buka dan di tutup. Ah, Luce sudah keluar.

Natsu keluar dari tempat persembunyiannya lalu melompat bebas ke atas tempat tidur empuk Lucy. Di mana Lucy tidur. Natsu membenamkan wajahnya di bantal Lucy yang tercium bau Lucy. Hmm.. sangat harum. Harumnya sama saat ia tidur di samping Lucy, setelah Lucy menciumnya.

Blush..

Bunyi pintu di buka dan masuklah seorang Lucy dengan handuk di kepalanya. Ia membawa semangkuk makanan khusus kucing dan dengan muka datar, ia menerjang mangkuk itu. Lucy tertawa kecil, lalu matanya melebar melihat sesosok pink tidur di tempat tidurnya.

"Yo, Luce," sapa Natsu tersenyum grogi, wajahnya masih memerah. Lucy hampir saja melancarkan Lucy kick-nya tetapi malah menahan napasnya ketika Natsu langsung menariknya ke tempat tidur. "N-Natsu.."

"Sshht.." Kini ia berada di bawah dan Natsu di atas. Natsu sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya, mengapa ia tiba-tiba menarik Lucy? Apa ia ingin mencium wangi Lucy yang harum itu?

"Luce," bisik Natsu. "Kau wangi." Yang ia tahu, kini ia mendekatkan wajahnya ke arah Lucy. Lucy sendiri tampak panik, dan merasakan panas mulai menjalar ke pipinya. Natsu tersenyum lembut,

"Tidak apa-apa, bukankah aku adalah sahabatmu sendiri?"

Mata karamel Lucy melebar dan bagai kerasukan setan, ia mulai menutup matanya, begitu juga mata onyx Natsu yang mulai menyembunyikan kehadirannya. Bibir mereka setengah terbuka sebagai antisipasi,

Sedikit lagi..

"Lu-chan, boleh aku mas—" mata coklat Levy melebar ketika membuka pintu kamar Lucy. Loke yang ada di belakangnya juga hampir terkena serangan jantung—"NATSU! SEJAK KAPAN KAU ADA DI SITU?!"

Dan Natsu langsung melompat dari tempat tidur.

Haahh, ia menghela napas. Not a chance...

.

Tbc

.

A/N: Ano, apdetnya ngga kelamaan kan?(?) Abis Maret sibuknya kamfret banget(?). And yaay~ otanjoubi omedetou for myself! XD thanks for reading, ini ngetiknya malem-malem dan mataku udah kayak... aaaah I need sleep(?). makasih banyak yang udah nge review ataupun yang baca tapi ngga review.

Oya, coba tebak, berdasarkan peran drama GaLeNaLuGrUviaLaMiJErza, apa cerita drama mereka? :p well, just for fun.. yang berhasil nebak.. hmm, maunya di kasih apa(?).

Oh well, tinggalkan keluh kesah kalian tentang chap/fic ini di kotak review^^